bab i & ii

Download BAB I & II

Post on 06-Dec-2015

6 views

Category:

Documents

1 download

Embed Size (px)

DESCRIPTION

text

TRANSCRIPT

BAB IPENDAHULUAN

A. LATAR BELAKANGSetiap individu pada dasarnya selalu menginginkan untuk dapat hidup sehat baik fisik maupun psikis. Namun pada kenyataannya, individu selalu dihadapkan pada permasalahan kesehatan seperti mengalami suatu penyakit. Jenis penyakit yang diderita bentuknya beraneka ragam, ada yang tergolong penyakit ringan dan ada pula yang tergolong penyakit berat dan berbahaya. Penyakit yang tergolong berat dan berbahaya biasanya membutuhkan waktu yang cukup lama dalam proses penyembuhannya, diperlukan pula tenaga dan biaya yang cukup besar sehingga tidak jarang dapat mengganggu kondisi emosional dan lama kelamaan dapat menimbulkan tekanan secara psikologis. Salah satu penyakit yang tergolong berat yaitu penyakit CKD atau yang biasa disebut gagal ginjal kronik (Azahra, 2013).CKD atau gagal ginjal kronik terjadi apabila kedua ginjal sudah tidak mampu lagi mempertahankan lingkungan dalam yang cocok untuk kelangsungan hidup. Kerusakan pada kedua ginjal bersifat ireversibel. Begitu banyak kondisi klinis yang bisa menyebabkan terjadinya gagal ginjal kronis. Penyebab tersebut bisa berasal dari ginjal itu sendiri dan bisa dari luar ginjal (Muttaqin, 2011). Hilangnya fungsi ginjal secara progresif disebabkan oleh eksaserbasi nefritis, obstruksi saluran kemih, kerusakan vascular akibat diabetes mellitus dan hipertensi yang berlangsung terus-menerus (Baradero, 2008). Akan tetapi, apapun sebabnya respon yang terjadi adalah ginjal tidak mampu lagi mempertahankan metabolisme serta keseimbangan cairan dan elektrolit sehingga terjadi penumpukan sisa metabolisme (toksik uremik) di dalam darah (Muttaqin, 2011).Kasus gagal ginjal kronik di dunia semakin meningkat dengan peningkatan lebih dari 50%. Pada tahun 2015, diperkirakan penyakit ini dapat menyebabkan kematian hingga 36 juta penduduk di dunia (Republika, 2009). Menurut United State Renal Data System (USRDS) (2012), di Amerika Serikat penyakit gagal ginjal kronik meningkat prevalensinya sebesar 20-25% setiap tahunnya. Sementara itu, gagal ginjal kronik menempati sepuluh besar angka kejadian tertinggi penyakit tidak menular di Indonesia dengan angka kejadian pada tahun 2013 sebesar 0.2%. Sumatera Barat merupakan salah satu provinsi di Indonesia yang memiliki prevalensi kejadian gagal ginjal kronik pada tahun 2013 yang cukup tinggi yaitu sebesar 0.2% (RISKESDAS, 2013).Berdasarkan data yang diperoleh dari rekamedis Rumah Sakit Ahmad Muchtar Bukittinggi, jumlah pasien pada tahun 2015 yang mengalami gagal ginjal kronik yaitu sebanyak 1.056 orang. Data dari bulan januari sampai maret 2015 adalah sebanyak 232 orang.Penyakit CKD atau gagal ginjal kronik merupakan suatu penyakit yang memerlukan perawatan dan penanganan seumur hidup. Seminar tantang asuhan keperawatan pada klien dengan CKD di RSUD Dr. Achmad Mochtar Bukittinggi.

B. Rumusan MasalahBagaimana asuhan keperawatan pada pasien dengan CKD?

C. Tujuan Penulisan1. Tujuan UmumDapat memberikan asuhan keperawatan pada klien dengan CKD di RSUD Dr. Achmad Mochtar Bukittinggi.2. Tujuan Khususa. Mampu menguasai konsep penyakit CKD.b. Mampu melakukan pengkajian, menganalisa, menentukan diagnosa keperawatan, membuat intervensi keperawatan, mampu melakukan perawatan dan mengevaluasi tindakan keperawatan yang sudah diberikan.c. Mampu memberikan tindakan keperawatan yang diharapkan dapat mengatasi masalah keperawatan pada kasus tersebut.d. Mampu mengungkapkan faktor-faktor yang menghambat dan mendukung serta permasalahan yang muncul dari asuhan keperawatan yang diberikan.D. Manfaat1. Bagi rumah sakitSebagai masukan bagi Rumah Sakit dalam meningkatkan asuhan keperawatan bagi pasien dengan CKD.2. Bagi mahasiswaMengaplikasikan ilmu yang telah diperoleh di bangku pendidikan sehingga dapat menambah wawasan mahasiswa di lapangan.

4

14

BAB IITINJAUAN PUSTAKA

A. GAGAL GINJAL KRONIK1. Definisi Gagal Ginjal KronikGagal ginjal kronis adalah suatu sindrom klinis yang disebabkan penurunan fungsi ginjal yang bersifat menahun, berlangsung progresif dan cukup lanjut, hal ini terjadi bila laju filtrasi glomerular kurang dari 50 mL/min (Suyono, et al, 2006).Gagal ginjal kronis merupakan gangguan fungsi renal yang progresif dan irreversibel dimana kemampuan tubuh gagal untuk mempertahankan metabolisme dan keseimbangan cairan dan elektrolit sehingga terjadi uremia. (Smeltzer & Bare, 2001).Gagal ginjal kronik adalah didefinisikan sebagai nilai laju filtrasi glomerulus (GFR) yang berada di bawah batas normal selama > 3 bulan. (Davey, 2005).

Gambar 2.1 Kidney Disease(Yulianti Mega, 2013)Gagal ginjal kronik adalah kegagalan fungsi ginjal untuk mempertahankan metabolisme serta keseimbangan cairan dan elektrolit akibat destruksi struktur ginjal yang progresif dengan manifestasi penumpukan sisa metabolit (toksik uremik) di dalam darah (Muttaqin, 2011).Dari beberapa pengertian diatas dapat disimpulkan bahwa gagal ginjal kronis adalah kondisi dimana ginjal tidak mampu mengeluarkan sisa-sisa metabolik dan kelebihan air dari darah yang disebabkan oleh hilangnya sejumlah nefron fungsional yang bersifat irreversible.2. Etiologi Gagal Ginjal KronikBegitu banyak kondisi klinis yang bisa menyebabkan terjadinya gagal ginjal kronis. Akan tetapi, apapun sebabnya, respon yang terjadi adalah penurunan fungsi ginjal secara progresif. Menurut Muttaqin (2011), kondisi klinis yang memungkinkan dapat mengakibatkan GGK bisa disebabkan dari ginjal sendiri dan di luar ginjal.a. Penyebab dari ginjal1) Penyakit pada saringan (glomerulus): glomerulonefritis.2) Infeksi kuman: pyelonefritis, ureteritis.3) Batu ginjal: nefrolitiasis.4) Kista di ginjal: polcytis kidney.5) Trauma langsung pada ginjal.6) Keganasan pada ginjal.7) Sumbatan: batu, tumor, penyempitan/ striktur.b. Penyebab umum di luar ginjal1) Penyakit sistemik: diabetes mellitus, hipertensi, kolesterol tinggi.2) Dyslipidemia.3) SLE.4) Infeksi di badan: TBC paru, sifilis, malaria, hepatitis.5) Preeklamsia.6) Obat-obatan.7) Kehilangan banyak cairan yang mendadak (luka bakar).Banyak penyakit dapat menyebabkan gagal ginjal kronis, termasuk glomerulonefritis (30%), nefritis interstisial dan nefropati refluks (20%), penyakit ginjal polikistik (10%), diabetes mellitus (10%), hipertensi/ penyakit renovaskular (10%), uropati obstruktif, dan penyakit-penyakit lain yang tidak diketahui (20%) (Davey, 2005).3. Patofisiologi Gagal Ginjal KronikMenurut Baradero (2008) fungsi normal dari ginjal adalah mempertahankan keseimbangan natrium dan air, pengaturan tekanan darah, ekskresi zat sisa metabolisme nitrogen, ekskresi kalium dan asam, dan fungsi hormonal dalam bentuk produksi eritropoietin serta metabolisme vitamin D.Gagal ginjal kronis dimulai pada fase awal gangguan, keseimbangan cairan, penanganan garam, serta penimbunan zat-zat sisa masih bervariasi dan bergantung pada bagian ginjal yang sakit. Sampai fungsi ginjal turun kurang dari 25% normal, manifestasi klinis gagal ginjal kronik mungkin minimal karena nefron-nefron sisa yang sehat mengambil alih fungsi nefron yang rusak. Nefron yang tersisa meningkatkan kecepatan filtrasi, reabsorpsi, dan sekresinya serta mengalami hipertrofi (Baradero, 2008).Seiring dengan makin banyaknya nefron yang mati, maka nefron yang tersisa menghadapi tugas yang semakin berat sehingga nefron-nefron tersebut ikut rusak dan akhirnya mati. Sebagian dari siklus kematian ini tampaknya berkaitan dengan tuntutan pada nefron-nefron yang ada untuk meningkatkan reabsorpsi protein. Pada saat penyusutan progresif nefron-nefron, terjadi pembentukan jaringan parut dan aliran darah ginjal akan berkurang. Pelepasan renin akan meningkat bersama dengan kelebihan beban cairan sehingga dapat menyebabkan hipertensi, hipertensi akan memperburuk kondisi gagal ginjal, dengan tujuan agar terjadi peningkatan filtrasi protein-protein plasma. Kondisi akan bertambah buruk dengan semakin banyak terbentuk jaringan parut sebagai respon dari kerusakan nefron dan secara progresif fungsi ginjal menurun drastis dengan manifestasi penumpukan metabolit-metabolit yang seharusnya dikeluarkan dari sirkulasi sehingga akan terjadi sindrom uremia berat yang memberikan banyak manifestasi pada setiap organ tubuh (Baradero, 2008).Baradero (2008) menyatakan beberapa respon gangguan yang terjadi yaitu :a. Ketidakseimbangan cairanMula-mula ginjal kehilangan fungsinya sehingga tidak mampu memekatkan urin (hipothenuria) dan kehilangan cairan yang berlebihan (poliuria). Hipothenuria tidak disebabkan atau berhubungan dengan penurunan jumlah nefron, tetapi oleh peningkatan beban zat tiap nefron. Hal ini terjadi karena keutuhan nefron yang membawa zat tersebut dan kelebihan air untuk nefron-nefron tersebut tidak dapat berfungsi lama. Terjadi osmotic diuretic, menyebabkan seseorang menjadi dehidrasi.Jika jumlah nefron yang tidak berfungsi meningkat, maka ginjal tidak mampu menyaring urin (isothenuria). Pada tahap ini glomerulus menjadi kaku dan plasma tidak dapat difilter dengan mudah melalui tubulus, maka akan terjadi kelebihan cairan dengan retensi air dan natrium.b. Ketidakseimbangan natriumKetidakseimbangan natrium merupakan masalah yang serius dimana ginjal dapat mengeluarkan sedikitnya 20-30 mEq natrium setiap hari atau dapat meningkat sampai 200 mEq per hari. Variasi kehilangan natrium berhubungan dengan intact nephron theory. Dengan kata lain, bila terjadi kerusakan nefron, maka tidak terjadi pertukaran natrium. Nefron menerima kelebihan natrium sehingga menyebabkan GFR menurun dan dehidrasi. Kehilangan natrium lebih meningkat pada gangguan gastrointestinal, terutama muntah dan diare. Keadaan ini memperburuk hiponatremia dan dehidrasi.Pada GGK yang berat keseimbangan natrium dapat dipertahankan meskipun terjadi kehilangan yang fleksibel pada nilai natrium.orang sehat dapat pula meningkat di atas 500 mEq/hari. Bila GFR menurun di bawah 25-30 ml/menit, maka ekskresi natrium kurang lebih 25 mEq/hari, maksimal ekskresinya 150-200 mEq/hari. Pada keadaan ini natrium dalam diet d