bab 6 kebijakan fiskal & moneter

Click here to load reader

Post on 20-Nov-2014

3.149 views

Category:

Education

5 download

Embed Size (px)

DESCRIPTION

 

TRANSCRIPT

  • 1. KEBIJAKAN FISKAL DAN MONETER A. PERAN PEMERINTAH Di negara manapun juga, baik yang beraliran sosial maupun berbasis kapitalis atau gabungan dari dua sistem ekonomi tersebut, pemerintah mempunyai peran sangat penting di dalam ekonomi. Walaupun dalam praktiknya di banyak negara intervensi pemerintah sangat luas, bahkan menguasai atau memonopoli ekonomi, seperti di China (walaupun sekarang sudah jauh berkurang dibandingkan 20 tahun silam), Korea Utara, Myanmar, dan Kuba, dimana jumlah perusahaan milik negara (BUMN) jauh lebih banyak daripada jumlah perusahaan swasta, tetapi pada prinsipnya tugas pemerintah di dalam ekonomi hanyalah sebagai stabilisator, fasilisator, stimulator, dan regulator, sedangkan pelaku ekonomi sepenuhnya diserahkan kepada swasta. Tugas pemerintah ini direalisasikan lewat berbagai macam kebijakan, peraturan, dan perundangundangan dengan tujuan untuk mendorong atau menggairahkan ekonomi pada saat ekonomi sedang lesu dan mengeram laju ekonomi pada saat sedang memanas, terutama untuk mencegah inflasi yang tinggi. Dalam kata lain, tugas pemerintah adalah untuk menjaga stabilitas ekonomi dan sekaligus mendorong pertumbuhan ekonomi pada tingkat tertentu yang menciptakan kesempatan kerja penuh, yang berarti mengurangi/menghilangkan pengangguran dan kemiskinan. Kebijakan ekonomi makro secara garis besar dapat dibedakan menjadi kebijakan fiskal dan kebijakan moneter, seperti juga ekonomi dapat dibagi menjadi dua sektor, yakni sektor riil dan sektor moneter. Sektor rill menghasilkan barang dan jasa, disebut juga sisi produksi dari ekonomi. Sektor ini dapat lagi dibagi menurut kelompok kegiatan atau subsektor, seperti pertanian, pertambangan, industri, dan lain-lain. Sedangkan, sektor moneter boleh dikatakan merupakan hasil dari sektor rill dalam bentuk uang atau sisi moneter dari ekonomi. Pertumbuhan dan stabilitas sektor rill dipengaruhi oleh pemerintah lewat kebijakan fiskal dan di Indonesia kebijakan ini adalah tanggung jawab Menteri Keuangan. Sedangkanpertumbuhan dan stabilitas sektor moneter dipengaruhi oleh pemerintah lewat kebijakan moneter yang sepenuhnya adalah tanggung jawab Bank Indonesia. Keserasian antara kedua kebijakan tersebut sangat penting karena akan menciptakan suatu stabilitas di dalam ekonomi dengan pertumbuhan yang berkelanjutan.B. KEBIJAKAN FISKAL 1. Teori dan Model Di Indonesia, kebijakan fiskal mempunyai dua prioritas. Prioritas pertama adalah mengatasi defisit anggaran pendapatan dan belanja negara (APBN) dan masalah-masalah APBN lainnya. Defisit APBN terjadi apabila penerimaan pemerintah lebih kecil daripada pengeluarannya. 1 Prioritas kedua adalah mengatasi masalah stabilitas ekonomi makro, yang terkait dengan antara lain pertumbuhan ekonomi, tingkat inflasi, kesempatan kerja, dan neraca pembayaran. Mekanisme kerja dari pengaruh dari kebijakan fiskal terhadap ekonomi akan mudah dipahami di dalam konteks ekonomi makro dengan bantuan sebuah modal ekonomi tertutup (tanpa hubungan ekonomi luar negeri)2 yang sederhana dari Keynes yang terdiri atas sejumlah persamaan, seperti berikut ini. Y=C+I+G(6.1)

2. C = cYd + Ca S = s.Yd; s = (1-c) Yd = Y T T = tY I = Ia G = Ga S=I T=G(6.2) (6.3) (6.4) (6.5) (6.6) (6.7) (6.8) (6.9)Di mana persamaan (6.1) adalah definisi pendapatan nasional. Pada saat permintaan agregat (AD) sama dengan penawaran agregat atau produksi (AS) atau pada saat ekonomi domestik tertutup seimbang, nilai dari pendapatan nasional (GDP) sama dengan nilai total dari konsumsi swasta , pembentukan modal tetap bruto atau investasi (I), dan pengeluaran pemerintah (G). Persamaan (6.2) menggambarkan fungsi konsumsi, yang mana nilai konsumsi ditentukan oleh pendapatan bersih setelah dikurangi pajak (Yd) dan konsumsi otonom (Ca), yakni bagian dari konsumsi yang ditentukan di luar model atau tidak dipengaruhi oleh tingkat atau perubahan pendapatan. Koefisien c (suatu persentase) menandakan bahwa tidak semua pendapatan digunakan untuk konsumsi. Artinya, sisa dari pendapatan atau (1-c) adalah tabungan (S), seperti di persamaan (6.3). Persamaan (6.4) adalah pendapatan bersih setelah dikurangi pajak; persamaan (6.5) mencerminkan pendapatan pemerintah dari pajak yang ditentukan selain oleh tingkat pendapatan (dari wajib pajak), juga oleh besarnya tarif pajak (t); persamaan (6.6) adalah investasi yang sifatnya otonom; persamaan (6.7) adalah pengeluaran pemerintah yang juga sifatnya berdiri sendiri, tidak ditentukan oleh model (ekonomi), tetapi oleh kebijakan fiskal, dan dua persamaan terakhir mencerminkan keseimbangan ekonomi domestik tertutup, yakni pada saat dana tabungan sama seperti dana yang dibutuhkan untuk investasi di dalam negeri (persamaan (6.8)) dan jumlah pemasukan pajak sama dengan jumlah pengeluaran pemerintah (persamaan (6.9)). Persamaan (6.5) dan persamaan (6.7) mencerminkan kebijakan fiskal,sejak T dan G merupakan dua instrumen dari kebijakan tersebut. Secara agregat, sisi pendapatan dari APBN diwakili oleh T3 dan sisi pengeluarannya oleh G. Jika pengeluaran lebih besar daripada penerimaan (G>T), maka APBN dalam kondisi defisit, sebaliknya jika pendapatan melebihi pengeluaran (G0) atau/ dan mengurangi tarif pajak pendapatan (t