bab 32 narasi

Click here to load reader

Post on 25-Jun-2015

209 views

Category:

Documents

10 download

Embed Size (px)

TRANSCRIPT

BAB 32 PERCEPATAN PEMBANGUNAN INFRASTRUKTUR

I. SUMBER DAYA AIRA. KONDISI UMUM Sesuai dengan Undang-undang No. 7 Tahun 2004 tentang Sumber Daya Air, maka pengelolaan sumber daya air di Indonesia diarahkan untuk melakukan konservasi sumber daya air, pendayagunaan sumber daya air, dan pengendalian daya rusak air. Konservasi sumber daya air ditujukan untuk menjaga kelangsungan keberadaan daya dukung, daya tampung, dan fungsi sumber daya air, pendayagunaan sumber daya air dilakukan melalui kegiatan penatagunaan, penyediaan, penggunaan, pengembangan, dan pengusahaan sumber daya air dengan mengacu pada pola pengelolaan sumber daya air yang ditetapkan pada setiap wilayah sungai, sedangkan pengendalian daya rusak air dilakukan secara menyeluruh yang mencakup upaya pencegahan, penanggulangan, dan pemulihan. Untuk melaksanakan amanat Undang-undang No. 7 Tahun 2004 tentang Sumber Daya Air tersebut, pada tahun 2005, pembangunan sumber daya air dilakukan melalui empat program, yaitu: (1) pengembangan, pengelolaan, dan konservasi sungai, danau, dan sumber air lainnya; (2) pengembangan dan pengelolaan jaringan irigasi, rawa, dan jaringan pengairan lainnya; (3) penyediaan dan pengelolaan air baku; serta (4) pengendalian banjir dan pengamanan pantai. Untuk memenuhi kebutuhan air irigasi pada tahun 2005, telah dilakukan berbagai upaya, yaitu: (1) Rehabilitasi jaringan irigasi seluas 413.640 hektar yang tersebar di berbagai propinsi (di antaranya Batanghari Sumatera Barat, Bekri Rumbia Lampung, Komering Sumatera Selatan, dan di Propinsi-propinsi NTB, NTT, Sulawesi Selatan, Sulawesi Tenggara, Sulawesi Utara, Gorontalo, dan Sulawesi Tengah) serta di Propinsi NAD seluas 7.165 ha, perluasan/fungsionalisasi jaringan irigasi dan pembangunan jaringan irigasi dan pembangunan jaringan baru seluas 124.496 ha, dan suplesi jaringan irigasi air tanah seluas 692 ha di Propinsi Sumatera Barat, Lampung, Bali, NTB, NTT, dan Gorontalo; (2) Rehabilitasi rawa seluas 63.796 ha; (3) Pencetakan sawah seluas 6.626 ha, serta pengadaan tanah seluas 772 Ha; 4) Pemantapan kondisi, rehabilitasi, dan pembangunan waduk, antara lain Waduk Nipah di Jawa Timur, Waduk Keuliling di NAD, Waduk Ponre-Ponre di Sulawesi Selatan, dan persiapan Waduk Jatigede di Jawa Barat. Dalam rangka pengendalian daya rusak air telah dilakukan operasi dan pemeliharaan (O&P) sungai sepanjang 487 km dan normalisasi sungai sepanjang 79,5 km, pembangunan prasarana pengendali banjir sepanjang 102 km, pembangunan check dam sebanyak 10 buah, pembangunan pengaman pantai sepanjang 56,70 km, pembangunan 2 buah bendung karet di Provinsi NAD, pelaksanaan launching Gerakan Nasional Kemitraan Penyelamatan Air (GN-KPA) dalam rangka mengimplementasikan upaya konservasi yang merupakan salah satu pilar UU No.7 Tahun 2004 tentang Sumber DayaFormatted: Font: 12 pt Formatted: French (France)

Air, melalui Pilot Project yang dikonsentrasikan pada beberapa DAS kritis, yaitu: Cimanuk (dalam rangka pembangunan Waduk Jatigede), Citarum, Ciliwung (pengendalian banjir di DKI Jakarta), Citanduy (pengendalian sedimentasi Segara Anakan), Brantas dan Bengawan Solo (dalam rangka pengendalian sedimen dan konservasi DAS hulu). Untuk memenuhi kebutuhan air baku bagi masyarakat, kegiatan yang telah dilakukan adalah: (1) Pembangunan 71 unit prasarana air baku berupa sumur bor di Propinsi Jawa Barat, Kalimantan Barat, Jawa Timur, DI Yogyakarta, NTB, NTT, Lampung, Kalimantan Selatan, dan Gorontalo; (2) Pemantapan saluran air baku (Klambu Kudu untuk Kota Semarang, Saluran Pelayaran untuk Kota Surabaya); (3) Pembangunan 7 buah bendung untuk penyediaan air baku di Propinsi Banten, Jawa Barat, dan NAD; (4) Pembangunan 18 buah embung untuk air baku di Propinsi Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, Kalimantan Tengah, Kalimantan Timur, Sulawesi Selatan, dan NAD. Dalam rangka penanganan bencana alam telah dilakukan perbaikan Bendung Kalibumi (luas potensi lahan 6.000 ha), perbaikan jalan inspeksi saluran dan lining di Saluran primer DI di Nabire, pembangunan dan rehabilitasi jaringan irigasi 1.831 ha dan penyediaan prasarana air baku di Alor, pembersihan puing, rehabilitasi dan rekonstruksi prasarana irigasi dan penanggulangan bencana gempa dan tsunami NAD, perbaikan prasarana irigasi dan penanggulangan akibat bencana gempa bumi di Pulau Nias. Dengan terbitnya Undang-undang No. 7 Tahun 2004 tentang Sumber Daya Air, maka telah dilakukan sosialisasi di beberapa tempat serta penyiapan peraturan perundangan turunannya. Meskipun telah dilakukan upaya-upaya di atas, masih terjadi ketidakseimbangan antara kebutuhan dan pasokan air, baik untuk air minum, rumah tangga, pertanian, maupun sektor-sektor ekonomi yang produksinya tergantung pada air sehingga daya saingnya menurun karena biaya produksi yang meningkat. Banjir dan kekeringan masih terjadi di beberapa daerah, sebagai bukti bahwa masalah yang terkait dengan pengelolaan sumber daya air masih memerlukan perhatian yang lebih besar. Pada tahun 2006, kegiatan yang dilakukan dalam program pengembangan, pengelolaan, dan konservasi sungai, danau, dan sumber air lainnya meliputi: (1) Penatagunaan sumber daya air untuk mengetahui peta pemanfaatan sumber daya air guna penyusunan program pembangunan; (2) Operasi dan pemeliharaan waduk, embung, dan situ di beberapa lokasi; (3) Rehabilitasi dan pengamanan 60 situ, serta waduk, embung, dan bangunan penampung air lainnya antara lain di Sumatera, Sulawesi dan Jawa termasuk wilayah Jabodetabek; (4) Pembangunan 9 waduk dan 60 embung, situ-situ dan bangunan penampung air lainnya antara lain di Sulawesi, Nusa Tengara, Bali, dan beberapa daerah di Jawa dengan prioritas pada daerah tertinggal dan rawan air. Upaya-upaya tersebut dilakukan untuk meningkatkan ketersediaan dan pemanfaatan air bagi masyarakat dengan prioritas utama untuk kebutuhan pokok masyarakat dan pertanian rakyat secara lebih efisien, efektif, dan berkelanjutan.

Formatted: Font color: Auto, French (France) Formatted: French (France)Deleted: Deleted:

II.32-2

Pada program pengembangan dan pengelolaan jaringan irigasi, rawa, dan jaringan pengairan lainnya dilakukan kegiatan: (1) Operasi dan pemeliharaan jaringan irigasi sekitar 2,3 juta hektar dan jaringan irigasi rawa sekitar 800 ribu hektar; (2) Rehabilitasi jaringan irigasi sekitar 240 ribu hektar dan jaringan irigasi rawa sekitar 110 ribu hektar terutama pada daerah lumbung padi nasional; (3) Fungsionalisasi jaringan irigasi sekitar 110 ribu hektar terutama di luar Jawa dan menyelesaikan pembangunan jaringan irigasi yang sedang berjalan. Dengan optimalnya fungsi jaringan irigasi yang telah ada, diharapkan dapat meningkatkan pelayanan irigasi untuk mendukung program ketahanan pangan. Kegiatan pembangunan dalam program penyediaan dan pengelolaan air baku yang dilakukan selama tahun 2006 berupa: (1) Pembangunan prasarana air baku berupa saluran pembawa dengan prioritas pada wilayah strategis, daerah tertinggal dan rawan air baik wilayah perkotaan dan perdesaan antara lain di Kalimantan Timur, Kalimantan Tengah, Kalimantan Barat, Sulawesi Utara, Sulawesi Selatan, Bali, dan kawasan timur Indonesia lainnya, serta Lampung, Bangka Belitung, dan beberapa daerah di Yogyakarta, Jawa Barat, Jawa Tengah dan Jawa Timur serta di daerah rawa; (2) Pembangunan pompa/sumur air tanah; (3) Operasi dan pemeliharaan prasarana air baku; dan (4) Rehabilitasi prasarana air baku. Hasil yang diharapkan dari program ini adalah meningkatnya kinerja prasarana air baku, sehingga air baku bagi masyarakat perdesaan, masyarakat miskin perkotaan, dan kebutuhan lain di wilayah strategis dapat tersedia secara tepat kualitas, kuantitas, dan waktu. Melalui program pengendalian banjir dan pengamanan pantai, dilakukan upayaupaya: (1) Pembangunan prasarana pengendali banjir di wilayah padat penduduk, wilayah strategis dan daerah kegiatan ekonomi masyarakat untuk mengurangi dampak bencana banjir, terutama di Sumatera Utara, Sumatera Barat, Riau, Sumatera Selatan, Lampung, Sulawesi Utara, Gorontalo, Sulawesi Selatan, Bali, Nusa Tenggara Barat, Banten, dan Jakarta; (2) Peningkatan kapasitas pengaliran sungai dilakukan melalui normalisasi sungai-sungai di daerah rawan banjir; (3) Pembangunan prasarana pengaman pantai yang diprioritaskan pada pulau-pulau kecil dan daerah perbatasan untuk mengamankan keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) antara lain di Bali, Kepulauan Riau, Kalimantan Barat, Sulawesi Utara, Jawa Bagian Selatan, dan Jawa Bagian Utara. Untuk mendukung semua program di atas, masyarakat juga diberdayakan dalam pengelolaan dan pengembangan sumber daya air melalui perkumpulan petani pemakai air (P3A) yang mencakup organisasi, teknis, dan administrasinya. Penyusunan dan penyelesaian peraturan pemerintah dan peraturan pelaksanaan dari Undang-undang No. 7 Tahun 2004 tentang Sumber Daya Air terus dilakukan agar lebih memberikan kejelasan hak, peran, dan tanggung jawab stakeholder yang terlibat dalam pengelolaan sumber daya air. Upaya lainnya adalah perkuatan Balai-Balai Pengelolaan Sumber Daya Air di wilayah sungai. Pengelolaan sumber daya air memerlukan koordinasi yang baik di tingkat nasional, provinsi, kabupaten/kota atau tingkat wilayah sungai. Untuk pada tahun 2006 persiapan pembentukan wadah koordinasi tersebut terus dilaksanakan. Selain itu, pengelolaan sumber daya air memerlukan ketersediaan data yang cepat, tepat, dapat II.32-3

Formatted: Font color: Auto, French (France)

Deleted: Deleted:

dipertanggungjawabkan, dan dapat diakses dengan mudah oleh seluruh stakeholder, yang diusahakan melalui pengembangan sistem pengelolaan data dan informasi sumber daya air Indonesia. Semua kegiatan non fisik di atas tercakup dalam program penataan kelembagaan dan ketatalaksanaan.Formatted: French (France)

Walaupun telah dilakukan upaya-upaya di atas, masih diperlukan upaya lanjutan agar manfaat pengelolaan sumber daya air dapat lebih dirasakan oleh masyarakat secara adil dan berkelanjutan. Peng