bab 1 pendahuluan a. latar belakang rahmiyati...آ  afektif bipolar (gb), gangguan obsesif...

Download BAB 1 PENDAHULUAN A. Latar Belakang RAHMIYATI...آ  afektif bipolar (GB), gangguan obsesif kompulsif

Post on 27-May-2020

1 views

Category:

Documents

0 download

Embed Size (px)

TRANSCRIPT

  • 1

    BAB 1

    PENDAHULUAN

    A. Latar Belakang Masalah

    Electro Convulsif Therapy (ECT) merupakan terapi penunjang untuk

    mengobati berbagai gangguan jiwa, yang masih digunakan hingga saat ini.

    Electro Convulsif Therapy adalah perlakukan dengan melakukan serangan

    pada otak menggunakan listrik.1 Terapi ini menggunakan aliran listrik melalui

    elektroda dan dipasang pada kepala sehingga menyebabkan kejang. Dokter

    psikiatri sering menggunakan Electro Convulsif Therapy untuk mengobati

    pasien gangguan jiwa karena hasilnya sangat efektif dan proses

    penyembuhanya lebih cepat. Indikasi dilakukan Electro Convulsif Therapy

    pasien dengan gangguan jiwa menurut pedoman American Psychiatric

    Association (APA) dalam Dian Sita Hapsari dan Suksmi Yitnamurti (2014),

    pada tahun 2001 dan kumpulan data serta consensus sebelum

    dipertimbangkan untuk Electro Convulsif Therapy pasien harus memenuhi

    tiga kriteria meliputi: diagnosis gangguan bipolar, depresi mayor atau mania

    persisten dengan atau tanpa gejala psikotik, gangguan skizoafektif,

    skizofrenia, keparahan gejala dan derajat gangguan fungsional yang dialami

    pasien yaitu berat atau ada agitasi ekstrim dan berkelanjutan, sedang dengan

    gejala telah ada bertahun–tahun, pasien berada pada situasi yang mengancam

    kehidupan berupa kelemahan akibat kurang makanan, resiko bunuh diri atau

    1 James W. Kalat, 2010, Biopsikologi, Jakarta: Salemba Humanika, hlm 288

  • 2

    membunuh dan kurangnya respon pengobatan yaitu kegagalan untuk

    merespon pada setidaknya dua uji coba psikofarmakologi yang adekuat.2

    Sedangkan indikasi dilakukan Electro Convulsif Therapy menurut Keputusan

    Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor Hk.02.02/Menkes/73/2015

    Tentang Pedoman Nasional Pelayanan Kedokteran Jiwa yaitu: skizofrenia

    katatonik dan skizofrenia refrakter, tendensi bunuh diri berulang, gangguan

    afektif bipolar (GB), gangguan obsesif kompulsif. 3

    Electro Convulsif Therapy dapat dilakukan segera bila pasien gangguan

    jiwa tidak menunjukan perbaikan dengan pengobatan farmokologi, jika terapi

    Electro Convulsif Therapy menunjukan perbaikan maka dokter psikiatri dapat

    melakukan kembali terapi tersebut. Tindakan Electro Convulsif Therapy

    mempunyai efek samping dan resiko, untuk mencegah adanya hal-hal yang

    tidak diinginkan dokter psikiatri melakukan tindakan Electro Convulsif

    Therapy harus melaksanakan praktik kedokteran sesuai dengan Standar

    Operasional Prosedur (SPO) yang telah dibuat oleh rumah sakit sehingga

    meminimalkan terjadinya hal-hal yang tidak diinginkan dan perlunya dokter

    psikiatri memberikan informasi kepada pasien atau keluarga pasien terkait

    tindakan yang akan dilakukan. Electro Convulsif Therapy juga mempunyai

    beberapa efek samping yaitu dapat menyebabkan kesehatan dan fisik karena

    obat anestesi dan obat relaksasi otot dapat berefek pada jantung, trauma fisik

    dan nyeri, kejang yang berlangsung lama dan kematian, resiko kerusakan

    2 Dian Sita Hapsari dan Suksmi Yitnamurti,”Elektro Konvulsi“, 2014, Jurnal Psikiatri, volume 3,

    No 1 Tahun 2014, ISSN 2355-2409, hlm 3 dan 4 3 Lihat Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor Hk.02.02/Menkes/73/2015

    Tentang Pedoman Nasional Pelayanan Kedokteran Jiwa

  • 3

    memori ingatan. Pasien atau keluarga pasien harus diberikan informasi

    tentang resiko hilang ingatan untuk sementara tergantung kondisi pasien dan

    kerusakan pada alat Electro Convulsif Therapy, sebelum melakukan tindakan

    ECT alat harus dipersiapkan terlebih dahulu dan di cek kembali apakah dapat

    digunakan atau alatnya mengalami kerusakan karena akan mempengaruhi

    dengan hasil terapi yang tidak optimal.

    Efek sampingnya dari tindakan adalah gangguan memori sementara, sakit

    kepala, nyeri otot, henti nafas, detak jantung/irama jantung tidak teratur, patah

    tulang atau fraktur. Untuk meminimalkan terjadinya resiko dapat dilakukan

    pemberian anestesi sebelum dilakukan tindakan Electro Convulsif Therapy

    yang dikenal dengan Electro Convulsif Therapy Premedikasi dengan aliran

    arus listrik terkendali yang telah diperhitungkan secara medis, Electro

    Convulsif Therapy (ECT) termasuk tindakan medis yang beresiko dilakukan

    secara tim, sehingga sebelum melakukan tindakan Electro Convulsif Therapy

    harus meminta Informed Consent terlebih dahulu pada pasien atau keluarga

    pasien. Dokter harus meminta persetujuan kepada keluarga pasien karena

    sebagai perlindungan hukum bagi pasien, persetujuan tindakan medis disebut

    Informed Consent. Informed Consent adalah suatu izin (consent) atau

    pernyataan setuju dari pasien yang diberikan dengan bebas dan rasional,

    sesudah mendapatkan informasi dari dokter dan sudah dimengerti olehnya.4

    Pemberian informed consent harus diberikan oleh dokter yang merawat

    pasien, kemudian dokter berkewajiban memberikan informasi secara lengkap

    4 J. Guwandi, 1994, Informed Consent & Informal Refusal, Jakarta: Fakultas Kedokteran

    Universitas Indonesia, hlm 1

  • 4

    kepada pasien atau keluarga pasien dengan bahasa yang mudah dipahami

    sehingga informasi yang diberikan dapat tersampaikan dengan baik. Peraturan

    yang mengatur tentang Informed Consent adalah Undang-Undang Nomor 29

    Tahun 2004 Tentang Praktik Kedokteran dan Peraturan Menteri Kesehatan

    Nomor 290 Tahun 2008 Tentang Persetujuan Tindakan Kedokteran dan

    menjelaskan “Semua tindakan medik yang akan dilakukan terhadap pasien

    harus mendapat persetujuan”.5

    Tindakan medis yang diberikan pada pasien dapat diberikan setelah

    pasien menyetujui dan menerima penjelasan Informed Consent yang diberikan

    sekurang-kurangnya mencakup diagnosis dan tata cara tindakan medis, tujuan

    tindakan medis yang dilakukan, alternatif tindakan lain dan risikonya,

    komplikasi terhadap tindakan serta prognosis terhadap tindakan yang

    dilakukan.6 Tetapi pasien dengan gangguan jiwa tidak cakap hukum untuk

    melakukan persetujuan tindakan kedokteran karena mengalami gangguan

    mental sehingga tidak mampu membuat keputusan secara bebas.7 Walaupun

    Orang Dengan Gangguan Jiwa tidak berkompeten memberikan persetujuan

    tetapi dalam rekam medis harus ada tanda tangan pasien. Karena sudah diatur

    dalam Undang–Undang Republik Indonesia Nomor 18 tahun 2014 tentang

    kesehatan jiwa bahwa, “Persetujuan tindakan medis secara tertulis dilakukan

    oleh Orang Dengan Gangguan Jiwa yang bersangkutan”. Dalam hal Orang

    5 Lihat Undang-Undang Nomor 29 Tahun 2004 Tentang Praktik Kedokteran Pasal 45 ayat (1) dan

    Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 290 Tahun 2008 Tentang Persetujuan Tindakan Kedokteran

    Pasal 2 ayat (1) 6 Undang-Undang Nomor 29 Tahun 2004 Tentang Praktik Kedokteran Pasal 45 ayat (3) 7Lihat Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 290 Tahun 2008 Tentang Persetujuan Tindakan

    Kedokteran Pasal 1 butir (7)

  • 5

    Dengan Gangguan Jiwa dianggap tidak cakap dalam membuat keputusan,

    persetujuan tindakan medis dapat diberikan oleh suami/istri, orang tua, anak,

    atau saudara sekandung yang paling sedikit berusia 17 (tujuh belas) tahun,

    wali atau pengampu atau pejabat yang berwenang sesuai dengan ketentuan

    peraturan perundang-undangan. Dalam penentuan kecakapan Orang Dengan

    Gangguan Jiwa untuk mengambil keputusan dalam memberikan persetujuan

    tindakan medis dilakukan oleh dokter spesialis kedokteran jiwa atau dokter

    yang memberikan layanan medis saat itu.8

    Pasien berhak mendapatkan informasi dan penjelasan dari dokter yang

    merawatnya tentang penyakitnya, pengobatan dan alternatif atau cara yang

    lain yang dapat menyembuhkan penyakitnya. Sebelum dokter memberikan

    tindakan medis, dokter harus menjelaskan informasi tindakan. Pasien

    mempunyai hak untuk mengetahui apa yang akan dilakukan terhadap dirinya

    dan pasien pun dapat menolak apa yang dianjurkan oleh dokternya. Jika

    tindakan dokter itu ternyata tidak berhasil maka dokter harus memberi

    penjelasan kepada pasien. Ini sudah dianggap termaksuk hak asasinya sebagai

    pasien dan sebagai manusia. Sebagai manusia ia berhak menentukan

    pilihanya. Pasien dapat menolak rencana pengobatan yang telah dibuat oleh

    dokter atau tidak, hal ini adalah haknya untuk menentukan (The right to

    selfdeternation atau Autonomy). 9

    8 Lihat Undang–Undang Republik Indonesia Nomor 18 Tahun 2014 Tentang Kesehatan Jiwa Pasal

    21 ayat (2), ayat (3), ayat (4) 9J.Guwandi, 1992, Trilogi Rahasia Kedokteran, Jakarta:Fakultas Kedokteran Universitas

    Indonesia, hlm 17-18

  • 6

    Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 36 Tahun 2009 Tentang

    Kesehatan, dijelaskan “setiap orang berhak untuk mendapatkan informasi dan

    edukasi tentang kesehatan yang seimbang dan bertanggung jawab dan setiap

    orang berhak memperoleh in