bab 1 dan 2.docx

Download BAB 1 dan 2.docx

Post on 28-Dec-2015

23 views

Category:

Documents

8 download

Embed Size (px)

DESCRIPTION

fjohtihmbitioyyyyyyyyyyyyyyyyyyyyyyygkorkgroyktryojtiiiiiiiiyhotiytooooooooooooooooooooooyitooooooooo

TRANSCRIPT

HUBUNGAN PENGETAHUAN, SIKAP, DAN TINDAKAN TERHADAP KEJADIAN SKABIES PADA SANTRI DI PONDOK PESANTREN AL FALAH ABU LAM U ACEH BESAR

18

BAB IPENDAHULUAN1.1. Latar BelakangSkabies adalah penyakit kulit yang disebabkan oleh infestasi dan sensitisasi terhadap Sarcoptes scabei var hominis (Sungkar, 2008). Penyakit ini terus menjadi masalah kesehatan masyarakat yang terutama terjadi pada daerah-daerah miskin (Leone, 2007). Prevalensi di seluruh dunia telah di perkirakan sekitar 300 juta setiap tahun. Skabies dapat terjadi pada semua umur, jenis kelamin, kelompok etnis, dan tingkatan sosial ekonomi (Katz, 2005). Prevalensi skabies dibeberapa negara berkembang dilaporkan 6-27% populasi umum dan insiden tertinggi pada anak usia sekolah dan remaja. Berdasarkan pengumpulan data Kelompok Studi Dermatologi Anak Indonesia (KSDAI) tahun 2001, dari 9 rumah sakit di 7 kota besar di Indonesia, jumlah penderita skabies terbanyak adalah Jakarta yaitu 335 kasus di 3 rumah sakit (Mansyur, 2007).Data pola penyakit di provinsi Nanggroe Aceh Darussalam menunjukkan bahwa penyakit menular masih merupakan masalah kesehatan masyarakat seperti demam berdarah, malaria, dan penyakit infeksi lainnya termasuk skabies. Dari hasil pencatatan dan pengumpulan data di puskesmas propinsi NAD melalui formulir SP2TP (Sistem Pencatatan Pelaporan Terpadu Puskesmas) yang dikumpulkan pada tahun 2006 menunjukkan jumlah kunjungan dengan penyakit skabies sebanyak 5.889 kunjungan (Dinkes NAD, 2006).Banyak faktor yang menunjang perkembangan penyakit ini, antara lain sosio ekonomi yang rendah, hygiene yang buruk, lingkungan yang tidak saniter, perilaku yang tidak mendukung kesehatan, kepadatan penduduk, hubungan seksual yang sifatnya promiskuitas, kesalahan diagnosis dan perkembangan dermatografik dan ekologik, penyakit ini dimasukkan dalam penyakit akibat hubungan seksual (Handoko, 2007; Marufi, 2005).Skabies sebagai salah satu penyakit berbasis lingkungan dan perilaku merupakan masalah kesehatan yang juga sering ditemukan di pondok pesantren. Pondok Pesantren dilihat dari segi kondisi lingkungan pondok serta perilaku kesehatan santri mempunyai resiko yang cukup besar terhadap penularan penyakit. Menurut berbagai laporan tingkat kepadatan penduduk cukup tinggi, yaitu 1 kamar tidur dengan luas 15 m2 dihuni sampai 15 orang. Hal ini belum memenuhi standar hunian kamar yaitu 3 m2/tempat tidur/orang (Andayani, 2005). Sikap santri sangat penting peranannya dalam pencegahan skabies di lingkungan Asrama yang membutuhkan kebersihan perorangan serta perilaku yang sehat. Sikap yang dimiliki oleh santri diharapkan dapat berpengaruh terhadap perilaku mereka guna mencegah terjadinya skabies di lingkungan Pondok tempat mereka tinggal. Tidur bersama, pakaian kotor yang digantung atau ditumpuk di kamar merupakan salah satu contoh perilaku yang dapat menimbulkan skabies (Nugraheni, 2008). Kebersihan diri dan lingkungan sangat bermanfaat untuk diri pribadi dan juga membuat orang lain menjadi sehat. Karenanya setiap santri wajib ikut ambil bagian dalam usaha pemeliharaan kebersihan dalam rangka meningkatkan kesehatan diri pribadi dan orang disekitarnya (Entjang, 2000)Dampak yang sering muncul pada santri yang menderita skabies antara lain terganggunya proses belajar dan timbulnya perasaan malu karena pada usia remaja adanya penyakit ini sangat mempengaruhi penampilan dan juga akan mempengaruhi penilaian masyarakat tentang pondok pesantren yang kurang terjaga kebersihannya. Rasa gatal yang ditimbulkannya terutama waktu malam hari, secara tidak langsung ikut mengganggu kelangsungan hidup terutama tersitanya waktu untuk istirahat tidur, sehingga kegiatan yang akan dilakukannya disiang hari juga ikut terganggu. Jika hal ini dibiarkan berlangsung lama, maka efisiensi dan efektifitas kerja menjadi menurun yang akhirnya mengakibatkan menurunnya kualitas hidup (Sudirman, 2006).Untuk meningkatkan derajat kesehatan santri perlu adanya upaya meningkatkan pengetahuan para santri tentang kesehatan, khususnya mengenai penyakit menular seperti skabies sehingga diharapkan ada perubahan perilaku kebersihan perorangan. Berdasarkan permasalahan yang telah penulis uraikan maka dipandang perlu untuk melakukan penelitian tentang hubungan perilaku terhadap kasus skabies pada santri di Yayasan Dayah Daruzzahidin Aceh Besar Tahun 2010.

1.2. Perumusan Masalah Berdasarkan latar belakang yang telah diuraikan, permasalahannya adalah bagaimana hubungan perilaku terhadap kasus skabies pada santri di Yayasan Dayah Daruzzahidin Aceh Besar Tahun 2010.

1.3. Tujuan dan Manfaat1.3.1. a. Tujuan Umum Untuk mengetahui hubungan perilaku terhadap kasus skabies pada santri di Yayasan Dayah Daruzzahidin Aceh Besar Tahun 2010.b. Tujuan Khusus1. Untuk mengetahui gambaran perilaku para santri di Yayasan Dayah Daruzzahidin Aceh Besar Tahun 2010.2. Untuk mengetahui gambaran kejadian skabies di Yayasan Dayah Daruzzahidin Aceh Besar Tahun 2010.

1.3.2.Manfaata. Bagi Dunia Medis1. Untuk mengetahui faktor-faktor yang berperan terhadap kejadian skabies sehingga diharapkan para santri ikut berperan aktif dalam mencegah penularan penyakit skabies.2. Sebagai bahan yang dapat diangkat dalam penyuluhan kesehatan bagi komunitas yang menderita skabies agar dapat menurunkan prevalensi penularan skabies.

b. Bagi Pengelola Pesantren1. Menjadi acuan dalam membuat suatu aturan yang berkaitan dengan penularan skabies di lingkungan pesantren.2. Memperbaiki pengelolaan asrama yang lebih memperhatikan kebersihan lingkungan dan penyediaan fasilitas-fasilitas yang menunjang kesehatan para santri.

c. Bagi SantriMampu menanamkan perilaku tentang kebersihan diri dan lingkungan sekitar dengan melakukan upaya-upaya pencegahan penularan penyakit skabies di asrama sehingga terbebas dari penularan penyakit.

d. Bagi PenelitiMenambah pengetahuan mengenai hal- hal yang berkaitan dengan infeksi skabies dan cara pencegahan yang tepat.

1.4. HipotesisTerdapat hubungan antara perilaku terhadap kasus skabies pada santri di Yayasan Dayah Daruzzahidin Aceh Besar Tahun 2010.

BAB IITINJAUAN KEPUSTAKAAN2.1.Skabies2.1.1. DefinisiSkabies adalah penyakit kulit yang disebabkan oleh infestasi dan sensitisasi terhadap Sarcoptes scabei var hominis (Sungkar, 2008). Scabies berasal dari bahasa latin yang berarti keropeng, kudis, dan gatal (Brown, 2005). Penyakit ini disebut juga the itch, seven year itch, Norwegian itch, gudikan, gatal agogo, dan penyakit ampera (Maskur, 2000).

2.1.2.EtiologiSarcoptes scabiei termasuk filum Arthopoda, kelas Arachnida, ordo Ackarina, superfamili Sarcoptes. Pada manusia disebut Sarcoptes scabiei var. hominis. Terdapat pula jenis Sarcoptes scabei var animalis seperti pada kucing, anjing, babi, dan kuda yang dapat menular pada manusia namun tidak dapat berkembang biak dalam tubuh manusia (CDC, 2009; Condoro, 2009).Secara morfologik merupakan tungau kecil, berbentuk oval, punggungnya cembung dan bagian perutnya rata. Tungau ini transient, berwarna putih kotor, dan tidak bermata. Ukurannya yang betina berkisar antara 330 450 mikron x 250 350 mikron, sedangkan yang jantan lebih kecil, yakni 200 240 mikron x 150 200 mikron. Bentuk dewasa mempunyai 4 pasang kaki, 2 pasang kaki di depan sebagai alat untuk melekat dan 2 pasang kaki kedua pada betina berakhir dengan rambut, sedangkan pada yang jantan pasangan kaki ketiga berakhir dengan rambut dan keempat berakhir dengan alat perekat (Handoko, 2007).

Gambar 2.1. Sarcoptes scabiei (Stoffle, 2004)

2.1.3.Siklus HidupSarcoptes scabiei mengalami empat tahap dalam siklus hidupnya: telur, larva, nimfa dan dewasa. Setelah kopulasi (perkawinan) yang terjadi di atas kulit, yang jantan akan mati, kadang-kadang masih dapat hidup dalam terowongan yang digali oleh yang betina. Tungau betina yang telah dibuahi menggali terowongan dalam stratum korneum, dengan kecepatan 2-3 milimeter sehari dan sambil meletakkan telurnya 2 atau 4 butir sehari sampai mencapai jumlah 40 atau 50, Telur berbentuk oval dan panjang 0,10-0,15 mm. Bentuk betina yang telah dibuahi ini dapat hidup sebulan lamanya, biasanya telur akan menetas dalam waktu 3-5 hari, dan menjadi larva yang mempunyai 3 pasang kaki. Larva ini dapat tinggal dalam terowongan, tetapi dapat juga keluar. Setelah 2 -3 hari larva akan menjadi nimfa yang mempunyai 2 bentuk, jantan dan betina, dengan 4 pasang kaki. Seluruh siklus hidupnya mulai dari telur sampai bentuk dewasa memerlukan waktu antara 8 12 hari (CDC, 2009; Handoko, 2007).Infestasi terjadi ketika tungau betina menggali terowongan ke dalam kulit dan bertelur. Setelah dua atau tiga hari, larva yang muncul akan menggali terowongan baru, kemudian menjadi dewasa, dan mengulangi siklus ini setiap dua minggu (Johnston, 2005).

Gambar 2.2. Siklus hidup skabies (CDC, 2009)

2.1.4.PatogenesisKelainan kulit dapat disebabkan tidak hanya oleh tungau skabies, tetapi juga oleh penderita sendiri akibat garukan. Gatal yang terjadi disebabkan oleh sensitisasi terhadap sekret dan ekskret tungau yang memerlukan waktu kira-kira sebulan setelah infestasi. Pada saat itu kelainan kulit menyerupai dermatitis dengan ditemukannya papul, vesikel, urtika dan lain-lain. Dengan garukan dapat timbul erosi, ekskoriasi, krusta dan infeksi sekunder. Kelainan kulit dan gatal yang terjadi dapat lebih luas dari lokasi tungau (Handoko, 2007).

2.1.5.Cara PenularanPenyakit skabies dapat ditularkan melalui kontak langsung maupun kontak tidak langsung. Secara langsung (kontak kulit dengan kulit) misalnya berjabat tangan, tidur bersama dan hubungan seksual sedangkan kontak tidak langsung (melalui benda) misalnya melalui handuk, pakaian, sprei, bantal, dan lain-lain. Penularan biasanya oleh Sarcoptes scabiei betina yang sudah di buahi atau kadang-kadang oleh bentuk larva (Handoko, 2007).Bentuk transmisi yang paling dominan adalah kontak langsung kulit dengan kulit. Transmisi secara seksual juga da