bab 1 - bab vii (1)

Download bab 1 - bab VII (1)

Post on 04-Aug-2015

482 views

Category:

Documents

10 download

Embed Size (px)

TRANSCRIPT

BAB 1 PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang Masalah Masalah kesehatan adalah masalah yang sangat kompleks yang paling berkaitan dengan masalah-masalah yang lain diluar kesehatan itu sendiri, dengan demikian pemecahan masalah kesehatan yang ada di masyarakat, tidak hanya dilihat dari segi kesehatan itu sendiri, tetapi harus dilihat dari seluruh segi yang ada pengaruh terhadap masalah sehat sakit atau kesehatan tersebut. Banyak faktor yang mempengaruhi, baik kesehatan individu maupun kesehatan masyarakat (Soekidjo Notoatmojo, 2007) . Kesehatan lingkungan sangat berhubungan dengan pola atau perilaku kesehatan untuk

masyarakatnya, oleh karena itu

perlu dilakukan promosi

meningkatkan kesadaran masyarakat untuk berperilaku dengan pola hidup sehat. Apabila faktor lingkungan tidak sehat karena tercemar serta berakumulasi dengan perilaku manusia yang tidak sehat dapat menunjang pertumbuhan mikroorganisme yang dapat menyebabkan infeksi atau terpaparnya penyakit pada manusia seperti penyakit dermatitis. Dermatitis adalah peradangan kulit ( epidemis dan dermis ) sebagai respon terhadap pengaruh eksogen dan endogen, menimbulkan kelainan klinis berupa efloresensi polimorfik ( eritema, edema, papul, vesikel, skuema, lenifikasi ) dan gatal. Tanda polimorfik tidak selalu timbul bersamaan, bahkan mungkin hanya beberapa ( oligomorfik ). Dematitis cenderung residif dan menjadi kronis ( Djuanda dan Sularsito, 1999 ) Di Indonesia, dari bulan Januari hingga Juni 2001 terdapat 2.122 pasien alergi dengan 645 pasien (30,40%) menderita dermatitis kontak. Di RSUP H. Adam Malik Medan, selama tahun 2000 terdapat 731 pasien baru di poliklinik alergi dimana 201 pasien (27,50%) menderita dermatitis kontak. Dari bulan Januari hingga Juni 2001 terdapat 270 pasien dengan 64 pasien (23,70%) menderita dermatitis kontak. Walaupun demikian, kasus dermatitis sebenarnya diperkirakan 10-50 kali lipat dari data statistik yang terlihat karena adanya kasus yang tidak dilaporkan. Selain itu, perkiraan yang lebih besar tersebut juga diakibatkan oleh semakin meningkatnya perkembangan industri ( Keefner, 2004 ).1

Prevalensi

penyakit

dermatitis

di

Provinsi

Banten

5,3%.

(www.litbang.depkes.go.id, 13 Mei 2011) Propinsi Banten mempunyai 4 wilayah Kabupaten / kota. Di antara wilayah tersebut, Kabupaten Pandeglang merupakan Kabupaten yang mempunyai prevalensi penyakit dermatitis tinggi pada tahun 2006 terdapat 44.612 kasus, pada tahun 2007 terdapat 41.436 kasus dan pada tahun 2008 terdapat 50.319 kasus (Profil kesehatan Kabupaten Pandeglang) Salah satu puskesmas di Kabupaten Pandeglang yang prevalensi penyakit dermatitisnya tinggi adalah puskesmas Pagadungan pada bulan Januari November 2010 terdapat sebanyak 2.578 kasus dermatitis, dimana di Desa Cigadung sendiri terdapat 46 kasus.

1.2 Perumusan masalah Berdasarkan latar belakang diatas maka perumusan masalah pada penelitian dalam rangka menyusun Laporan Kegiatan Pengalaman Belajar Lapangan II ini adalah masih tingginya angka kejadian penyakit dermatitis sebanyak 2.578 di

Wilayah kerja Puskesmas Pagadungan Kecamatan Karangtanjung tahun 2011.

1.3 Tujuan Penelitian 1.3.1 Tujuan Umum Diketahuinya faktor-faktor apa sajakah yang berhubungan dengan kejadian penyakit dermatitis di Desa Cigadung Kecamatan karang Tanjung tahun 2011. 1.3.2 Tujun Khusus 1 Diketahuinya kejadian penyakit dermatitis di Desa Cigadung Kecamatan Karangtanjung Kabupaten Pandeglang tahun 2011. 2 Diketahuinya distribusi frekuensi faktor individu (pekerjaan, pendidikan, kebersihan pribadi) di Desa Cigadung Kecamatan Karangtanjung tahun 2011. 3 Diketahuinya distribusi frekuensi faktor lingkungan (pengelolaan sampah, ketersediaan air bersih) di Desa Cigadung Kecamatan Karangtanjung tahun 2011.

2

4

Diketahuinya hubungan antara faktor individu (pekerjaan, pendidikan, kebersihan pribadi) dengan kejadian penyakit dermatitis di Desa Cigadung Kecamatan Karangtanjung tahun 2011.

5

Diketahuinya hubungan antara faktor lingkungan (pengelolaan sampah, pengelolaan air bersih) dengan kejadian penyakit dermatitis di Desa Cigadung Kecamatan Karangtanjung tahun 2011.

1.4 Manfaat Penelitian

1.4.1

Bagi Puskesmas Pagadungan Diperolehnya masukan tentang faktor pendidikan, pekerjaan, penyediaan

sarana air bersih, pengelolaan sampah, personal hygiene (kebersihan pribadi) pada masyarakat yang berpengaruh terhadap kejadian penyakit penyakit dermatitis, sehingga dapat memberikan upaya penanganan lebih lanjut dalam hal pengendalian penyakit dermatitis di wilayahnya. 1.4.2 Bagi STIKes Faletehan 1. Menambah kepustakaan ilmu kesehatan masyarakat khususnya dibidang kesehatan lingkungan yang berhubungan dengan kejadian penyakit dermatitis. 2. Menjalin kerja sama yang sinergis antara STIKes Faletehan dengan Puskesmas Pagadungan.

1.4.3

Bagi Mahasiswa Sebagai bahan untuk menambah wawasan dan mengaplikasikan ilmu

pengetahuan yang kami peroleh, khususnya mengenai penyakit yang berhubungan dengan kejadian penyakit dermatitis.

1.5

Ruang Lingkup Penelitian PBL II (Pengalaman Belajar Lapangan) ini dilakukan penelitian tentang

faktor-faktor yang berhubungan dengan kejadian dermatitis di Kelurahan Cigadung wilayah kerja puskesmas Pagadungan Kecamatan Karangtanjung Kabupaten Pandeglang tahun 2011. Objek penelitian ini adalah seluruh penduduk di kelurahan

3

Cigadung sejumlah 11.088. Penelitian akan dilakuakan selama 2 (dua) minggu terhitung mulai tanggal 23 Mei 4 Juni 2011. Data yang diperlukan pada PBL ini berupa data primer dan sekunder. Data primer diperoleh melalui wawancara dengan responden dengan menggunkan kuesioner. Data primer pada PBL ini terdiri dari wawancara dan kuesioner, sedangkan data sekunder diperoleh dari profil Puskesmas dan Kecamatan.

4

BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Dematitis Dermatitis adalah peradangan kulit ( epidemis dan dermis ) sebagai respon terhadap pengaruh eksogen dan endogen, menimbulkan kelainan klinis berupa efloresensi polimorfik (eritema, edema, papul, vesikel, skuema, lenifikasi) dan gatal. Tanda polimorfik tidak selalu timbul bersamaan, bahkan mungkin hanya beberapa (oligomorfik). Dematitis cenderung residif dan menjadi kronis. (Djuanda Suria dan Sri Adi Sularsito, 1999)

2.1.1 Etiologi Penyebab dermatitis dapat berasal dari luar ( eksogen ), misalnya bahan kimia, fisik ( contoh : sinar ), mikro organisme ( bakteri, jamur ), dapat pula dari dalam ( endogen ), misalnya dermatitis atopik. Sebagian lain tidak diketahui tidak pasti.

2.1.2 Patogenesis Banyak macam dermatitis yang belum diketahui patogenesisnya, terutama fator endogen. Yang telah banyak dipelajari adalah tentang dermatitis kontak, baik yang tipe alergi maupun iritan primer.

2.1.3 Gejala Klinis Pada umumnya penderita dermatitis mengeluh gatal, kelainan kulit tergantung pada stadium penyakit, batasnya dapat tegas dapat pula tidak tegas, penyebaran dapat setempat, generalisata, bahkan universalis. Pada stadium akut kelainan kulit berupa eritema, edema, vesikel atau bula, erosi dan eksedusi, sehingga tampak basah ( madidans ). Stadium subakut, eritema berkurang, eksudat mengering menjadi krusta. Sedang pada stadium kronis tampak lesi kering, skuama, hiperpegmentasi, lekinefikasi, dan dapul, mungkin juga terdapat erosi atau ekskorisasi karena garukan, stadium tersebut tdak selalu berurutan, bisa saja sejak awal suatu dermatitis memberi gambaran klinis berupa kelainan kulit stadium kronis. Demikian pula jenis efloresensinya tdak selalu harus polimorfi, mungkin hanya oligomorfi.5

2.2 Dermatitis Kontak Dermatitis kontak ialah dermatitis yang disebabkan oleh bahan (substansi) yang menempel pada kulit. ( Suria Djuanda Dan Sri Adi Sularsito, 1999 )

2.2.1 Jenis Dikenal dua macam jenis dermatitis kontak yaitu dermatitis kontak iritan dan dermatitis kontak elergik; keduanya dapat bersifat akut maupun kronis.

2.2.1.1 Dermatitis Kontak Iritan Dermatitis kontak iitan terjadi karena kulit berkontak dengan bahan iritan. Bahan iritan adalah bahan bahan yang pada kebanyakan orang dapat mengakibatkan kerusakan sel bila dioleskan pada kulit pada waktu tertentu dan untuk jangka waktu tertentu.

2.2.1.2 Epidiomiologi Dermatitis kontak iritan dapat diderita oleh semua orang dari berbagai golongan umur, ras, dan jenis kelamin. Jumlah penderita dermatitis kontak iritan diperkirakan cukup banyak, namun angkanya secara tetap sulit diketahui. Hal ini disebabkan antara lain oleh banyak penderita dengan kelainan ringan tidak datang berobat.

2.2.1.3 Etiologi Penyebab munculnya dermatitis jenis ini ialah bahan yang bersifat iritan, misalnya bahan pelarut, detergen,minyak pelumas, asam, alkali, dan serbuk kayu. Kelainan kulit yang terjadi selain ditentukan oleh ukuran molekul, daya larut, konsentrasi, vehikulum, serta suhu bahan iritan tersebut, juga dipengaruhi oleh faktor lain. Faktor yang dimaksud yaitu: lama kontak kekerapan (terus menerus atau berselang), adanya oklusi menyebabkan kulit lebih permeabel, demikian pula gesekan dan trauma fisis. Suhu dan kelembapan lingkungan juga ikut berperan. Faktor individu juga berpengaruhi pada dermatitis iritan, misalnya perpedaan ketebalan kulit diberbagai tempat menyebabkan perbedaan permeabilitas; usia (anak di bawah 8 tahun lebih mudah teriritasi); ras (kulit hitam lebih tahan daripada kulit putih); jenis kelamin (insidens dermatitis kontak iritan lebih tinggi pada wanita);6

penyakit kulit yang pernah atau sedang dialami (ambang rangsang terhadap bahan iritan turun), misalnya dermatitis atopik.

2.2.1.4 Patogenesis Kelainan kulit timbul akibat kerusakan sel yang disebabkan oleh bahan iritan melalui kerja kimiawi maupun fisik. Bahan iritan merusak lapisan tanduk, denaturasi keratin, menyingkirkan lemak lapisan tanduk, dan mengubah ikat air kulit. Kea