askep jiwa pk

Download ASKEP JIWA PK

Post on 20-Jul-2015

165 views

Category:

Documents

0 download

Embed Size (px)

TRANSCRIPT

ASUHAN KEPERAWATAN JIWA PADA KLIEN DENGAN PERILAKU KEKERASANA. Pengertian 1. Kekerasan adalah kekuatan fisik yang digunakan untuk menyerang atau merusak orang lain. Tindakan ini merupakan tindakan yang tidak adil dan sering menyebabkan cedera fisik. 2. Penganiayaan adalah tindakan sengaja yang menyababkan cedera fisik, penderitaan jiwa, atau keduanya. 3. Kekerasan domesetik (kekerasan dalam keluarga) adalah pola perilaku mengancam atau memaksa dari satu anggota keluarga atau orang terdekat pada anggota keluarga yang lain. Perilaku tersebut meliputi penganiayaan fisik, pengabaian, penganiayaan psikologis, penganiayaan ekonomi dan penganiayaan seksual. 4. Penyiksaan atau pelaku penyiksaan adalah orang yan menciptakan kekerasan atau menyiksa orang lain, dan korban adalah orang yang menjadi kambing hitam, target, atau penerima penganiayaan atau kekerasan. 5. Perilaku Kekerasan adalah suatu keadaan emosi yang merupakan campuran perasaan frustasi dan benci atau marah. Hal ini didasari keadaan emosi secara mendalam dari setiap orang sebagai bagian penting dari keadaan emosional kita yang dapat diproyeksikan ke lingkungan, ke dalam diri atau secara destruktif (Yosep Iyus, 2007. dikutip dari Patricia D. Barry. 1998: 140). 6. Perilaku kekerasan dan agresif biasanya episodic dan adalah alat untuk mengekspresikan perasaan marah, takut, atau ketidakberdayaan terhadap situasi (Brunner&Suddarth, 2001).

B. Penyebab 1. Faktor Predisposisi Berbagai pengalaman yang dialami tiap orang yang merupakan factor predisposisi, artinya mungkin terjadi/mungkin tidak terjadi perilaku kekerasan jika factor berikut dialami oleh individu : Psikologis, kegagalan yang dialami dapat menimbulkan frustasi yang kemudian dapat timbul agresif atau amuk. Masa kanan-kanak yang tidak menyenangkan yaitu perasaan ditolak, dihina, dianiaya atau sanksi penganiayaan. Perilaku, reinforcement yang diterima pada saat melakukan kekerasan, sering mengobservasi kekerasan dirumah atau diluar rumah, semua aspek ini menstimulasi individu mengadopsi perilaku kekerasan. Sosial budaya, budaya tertutup dan membalas secara diam (pasif agresif) dan control social yang tidak pasti terhadap pelaku kekerasan akan menciptakan seolah-olah perilaku kekerasan diterima (permisive). Bioneurologis, banyak pendapat bahwa kerusakan system limbic, lobus frontal, lobus temporal dan ketidakseimbangan neurotransmitter turut berperan dalam terjadinya perilaku kekerasan. 2. Faktor Presipitasi Secara umum, seseorang akan berespon dengan marah apabila merasa dirinya terancam. Ancaman tersebut dapat berupa injuri secara psikis, atau lebih dikenal dengan adanya ancaman terhadap konsep diri seseorang. Ketika seseorang merasa terancam mungkin dia tidak menyadari sama sekali apa yang menjadi sumber kemarahannya. Oleh karena itu baik perawat maupun klien harus bersama-sama mengidentivikasikannya. Ancaman dapat berupa internal atau internal. Contoh stressor eksternal: serangan secara psikis,

kehilangan hubungan yang dianggap bermakna, dan adanya kritikan dari orang lain. Sedangkan stressor internal : merasa gagal dalam bekerja, merasa kehilangan orang yang dicintai dan ketakutan terhadap penyakit yang diderita. Bola dilihat dari sudut perawat-klien, maka factor yang mencetuskan terjadinya perilaku kekerasan terbagi dua yakni: o Klien: kelemahan fisik keputusasaan, ketidak berdayaan, kurang percaya diri. o Lingkungan: rebut, kehilangan orang/objek yang berharga, konflik interaksi social. 3. Mekanisme Koping o Jika klien merasa jengkel/marah, klien tampak gelisah, mondar-mandir dan bingung. o Jika keinginan klien tidak terpenuh, maka klien tampak marah, mengamuk dan berteriak-teriak. 4. Perilaku Perilaku yang ditunjukkan klien pada kasus kekerasan : o Ekspresi wajah tegang, mata merah, muka merah, pandangan liar. o Tangan dikepalkan dan gemetar. o Rahang mengatup tidak mau diajak berkomunikasi. o Gelisah. o Nada suara meninggi. o Kehilangan kendali/control diri. o Meengancam melukai diri sendiri dan orang lain. o Menyerang orang lain dan lingkungan. o Mencederai orang lain dan lingkungan. C. Rentang Respon Perilaku Adaptif Maladaptif Adaptif Maladaptif

Asertif

frustasi

pasif

Agresif

Amuk/PK

Perilaku kekersan adalah suatu keadaan dimana seseorang melakukan tindakan yang dapat membahayakan secara fisik, baik kepada diri sendiri maupun kepada orang lain. Sering disut juga gaduh gelisah atau amuk diman seseorang marah berespon terhadap suatu stressor atau gerakan motorik yang tidak terkontrol. Kegagalan yang menimbulkan frustasi dapat menimbulkan respon pasif dan melarikan diri atau respon melawan dan menantang. Respon melawan dan menantang merupakan respon yang maladaptif yaitu agresif kekerasan. Perilaku yang ditampakkan dimulai dari rendah sampai tinggi, yaitu: Agresif: memperlihatkan permusuhan, keras dan menuntut, mendekati orang lain dengan ancaman, memberi kata-kata ancaman tanpa niat melukai. Umumnya klien masih dapat mengontrol perilaku untuk tidak melukai orang lain. Kekerasan: sering juga disebut gaduh gelisah atau amuk. Perilaku kekerawsan ditandai dengan menyentuh orang lain secara menakuttkan, memberi kata-kata ancaman, melukai diertai melukai pada tingkat ringan, dan yang paling berat adalah meluaki/merusak secara serius. Klien tidak mampu mengendalikan diri. D. Tanda dan Gejala Pada pengkajian awal dapat diketahui alasan utama klien dibawah ke rumah sakit adalah perilaku kekerasan dirumah. Kemudian perawat dapat melakukan pengkajian dengan cara: Observasi: muka merah, pandangan tajam, otot tegang, nada suara tinggi, berdebat. Sering pula tampak klien memaksaan kehendak: merampas makanan, memukul jika tidak senang. Wawancara: diarahkan pada penyebab marah, perasaan marah, tanda-tanda yang dirasakan klien. Korban kekerasan sering memiliki tanda-tanda fisik akibat penganiyaan, dan setelah jangka waktu tertentu dapat terlihat tanda-tanda perilaku dan psikologis.

Tanda-tanda fisik penganiyaan 1. Korban anak-anak Perkembangan terhambat Memar, bilur Terkilir, dislokasi, fraktur Luka baker akibat rokok Luka baker akibat cairan panas/ api Cedera internal Kotoran, kutu hewan, kutu rambut pada anak

2. Wanita yang dianiaya Cedera kepala, leher dan bahu Mata memar Cedera selama kehamilan Terkilir, dislokasi, fraktur Memar, bilur Bekas luka berbentuk benda yang digunakan untuk mencederai Berulang kali berkunjung ke fasilitas layanan kesehatan, terutama UGD Keluhan nyeri tanpa cedera jaringan

3. Korban lansia Kurang gizi atau dehidrasi Bau feses atau urine Kotoran, kutu hewan, kutu rambut pada orang tersebut Dekubitus, luka, ruam kulit Hematoma, bekas cengkeraman pada lengan

E. Penanganan Pertimbangan umum

Pengobatan korban penganiayaan bergantung pada factor-faktor yang mempengaruhi klien, seperti jenis penganiayaan yang diderita, adanya cedera fisik, usia dan kondisi fisik koraban, serta keunikan lingkungan keluarga korban iti sendiri. Pengobatan UGD Sejak tahun 1991, lembaga yang diagreditasi oleh JCAHO diharuskan menerapkan standar kekerasan domestic dalam prosedur UGD mereka Layanan intervensi kritis Bermanfaat dalam merespon masalah langsung dalam jangka pendek yang terjadi akibat penganiayaan. Kerjasama dengan berbagai tiem kesehatan sangat penting untuk memberikan pengobatan yang kontinu o lembaga kesehatan anak, bertanggung jawab melindungi anak-anak dari bahaya dan kejahatan. System hokum dapat diberlakukan dengan memberikan hak asuh anaksementara atau permanen kepada individu tertentu (kerabat atau orang tua angkat) yang akan memberikan asuhan yang aman. o wanita yang dianiaya dapat dirujuk ke rumah perlindungan atau penampungan darurat untuk memastikan perlindungan diri dan anak-anak mereka. o lembaga layanan social masyarakat, termasuk lembaga khusus lansia, dapat memberikan berbagai layanan untuk memastikan keamanan dan bantuan bagi korban tindak kekerasan. Layanan kesehatan jiwa Dapat diberikan pada keluarga yang mengalami kekerasan o Dukungan terapeutik dengan memberikan konseling individu atau kelompok untuk korban kekerasan o Konsweling individu untuk penganiaya atau pelaku kekerasan o Terapi keluarga untuk memutuskan siklus penganiayaan. Pencegahan

o Pencegahan

primer,

dapat

dilakukan

dikomunitas

dengan

mengidentifikasi keluarga yang berisiko tinggi terhadap kekerasan dan dengan mempromosikan program penyuluhan dan layanan yang dapat meningkatkan fungsi keluarga o Pencegahan sekunder, meliputi deteksi dini dan pengobatan kekerasan interpersonal. F. Asuhan keperawatan 1. Pengkajian a. Identifikasi data pengkajian yang mengindikasikan kemungkinan penganiyaan Lakukan pemeriksaan menyeluruh untuk menentukan sifat dan keparahan cedera fisik korban. Kaji ciri-ciri perilaku dan fisiologis dari penganiyaan.

b. Wawancarai klien untuk memvalidasi penganiyaan yang telah terjadi Gunakan protocol kelembagaan untuk pengkajian, dan pastikan

dimasukkannya factor-faktor sebagai berikut : Pastikan privasi untuk pengkajian dengan mengajukan pertanyaanpertanyaan pada klien jauh dari orang yang dicurigai melakukan penganiyaaan. Hal ini akan meningkatkan rasa percya klien. Gunakan bahasa yang sesuai dengan tingkat usia dan perkembangan klien. Ajukan pertanyaan-peertanyaan yang sederhana, langsung dan tidak mengancam. Bila memungkinkan, buat catatan yang cermat tentang percakapan dengan klien dan keluarga. c. Identifikasi aspek perilaku keluarga yang berkaitan dengan kekerasan domestic

Apakah terdapat kurang perhatian terhadap anak-anak atau lansia yang dicurigai mengalami penganiyaan? Apakah terdapat ketidakkonsistenan antara sifat dengan keparahan cedera dengan penjelasan dari korban atau keluarga korban mengenai apa yang telah terjadi?

Apakah ada keterlambatan dalam mencari Bantu untuk mengatasi cedera? Apakah interaksi anatara klien dan keluarganya adanya konflik? Apakah