artikel lkti ambar

Click here to load reader

Post on 18-Sep-2015

25 views

Category:

Documents

5 download

Embed Size (px)

DESCRIPTION

artikel lkti

TRANSCRIPT

SENI REOG SEBAGAI MEDIA APRESIASIDAN KREASI SISWA DALAM PELAJARAN SENI BUDAYA YANG BERBASIS KEARIFAN LOKALDI SMK NEGERI PRINGAPUS KABUPATEN SEMARANG

dalam rangka mengikuti Lomba Karya Tulis Ilmiah yang diselenggarakan oleh PPs Unnes tahun 2013

OlehSri Ambarwangi

SEKOLAH MENENGAH KEJURUAN NEGERI PRINGAPUS JUNI 2013

Juara 1 Lomba Karya Tulis Ilmiah Nasional, dalam rangka Dies Natalis XVI Unnes 2013

0

SENI REOG SEBAGAI MEDIA APRESIASI DAN KREASI SISWA DALAM PELAJARAN SENI BUDAYA YANG BERBASIS KEARIFAN LOKALDI SMK NEGERI PRINGAPUS KABUPATEN SEMARANG

Abstrak

Tulisan ini merupakan hasil kajian dan pelaksanan pembelajaran di lapangan dari penulis terutama dalam pelaksanaan pembelajaran Seni Budaya di SMK. Tujuan penulisan ini untuk menunjukan bahwa dengan pembelajaran yang berbasis pada budaya lokal tujuan pembelajaran yang sesuai dengan kurikulum dapat tercapai. Bahkan, budaya lokal yang juga terkandung kearifan lokal lebih dirasakan secara langsung oleh siswa. Seni reog yang dikenal di sekitar kecamatan Pringapus Kabupaten Semarang dapat digunakan sebagai media untuk membelajarkan seni siswa terutama dalam kegiatan apresiasi dan ekspresi. Nilai-nilai yang ada dalam seni reog dapat disampaikan secara konseptual di kelas, maupun secara langsung melalui kegiatan apresisi dan ekspresi oleh siswa berupa kegiatan pertunjukan di lingkungan sekolah. Siswa dapat dengan mudah menerima materi pembelajaran dan dapat dengan ekspresif saat menyajikan pertunjukan itu. Nilai-nilai yang ada dalam penyajian seni itu bersifat sosial, keagamaan, nasionalisme, maupun budaya. Para siswa dapat menyajikan seni reog dengan antusias dan ekspresif karena permainan itu sudah ada sejak lama di lingkungannya dan bahkan mereka sendiri banyak yang menjadi pelaku seni/penari di lingkungan tempat tinggalnya. Seni reog sudah menjadi bagian hidupnya yang memiliki peran sebagai aktualisasi diri, sarana ekspresi, sosial , dan budaya. Sebagian di antara mereka merasa bangga menjadi salah satu bagian dalam pertunjukan di tempat tinggalnya sehingga mereka pun tidak merasa malu menyajikan seni itu di sekolah.

1. Pendahuluan

Kurikulum KTSP Seni Budaya untuk Sekolah Menengah Kejuruan non seni sebenarnya sudah mengakomodasi pemberian kesenian lokal untuk bisa diberikan dalam pembelajarannya. Pelaksanaannya pun sudah diberikan kebebasan bagi satuan pendidikan untuk mengembangkan sesuai dengan keadaan, sarana, dan lingkungan setempat. Dalam Standar Kompetensinya terutama dalam bidang seni musik dan tari pun sudah mengakomodasi pembelajaran seni sebagai bagian dari pembelajaran estetika yaitu yang meliputi apresiasi, kreasi, dan ekspresi seni. Yang menjadi masalah dalam pembelajaran di sekolah adalah banyaknya guru yang menafsirkan sendiri-sendiri pelaksanaannya. Bahkan banyak yang hanya memberikan konsep- konsep seni Barat yang disebabkan gurunya berlatar belakang seni Barat, tanpa ada

10

kesempatan bagi siswa untuk memahami konsep itu untuk apa dan bagaimana mengekspresikannya. Sehingga, tujuan pembelajarannya pun tidak tercapai.Kekurangpahaman dalam mengimplementasikan ditambah dengan latar belakang pendidikan seni yang berbeda dengan konsep yang ingin dicapai dalam kurikulum menyebabkan banyaknya penafsiran yang berbeda tersebut. Bisa dimaklumi jika guru yang berlatarbelakang pendidikan musik Barat yang sudah tertanam sistem notasi Barat harus mengajarkan musik tradisi Jawa dengan sistem notasi yang juga sangat berbeda. Namun demikian, bukan berarti guru harus berhenti untuk mencari inovasi baru agar pelaksanaan pembelajaran seni tradisi setempat yang memang harus diberikan berhenti pula. Karena, tujuan pembelajaran sesuai dengan standar kompetensi di sekolah harus mencakup apresiasi, ekspresi dan kreasi. Dan, untuk mencapai itu sebenarnya banyak cara bisa dilakukan oleh guru, baik yang dilakukan di kelas maupun di luar kelas.Pembelajaran seni tradisi yang berasal dari seni lokal adalah salah satu cara yang bijak jika masyarakat sekitar memiliki seni tradisi tersebut. Sumber belajar yang berupa seni tradisi lokal yang berlimpah di sekitar tempat belajar (sekolah) bisa digunakan dalam pembelajaran. Tentu ini juga akan memudahakan guru dalam memberikan materi karena biasanya siswa juga berasal dari daerah di sekitar tempat belajar. Ini akan lebih baik dibandingkan memberikan materi belajar musik Barat yang sulit dimengerti yang disebabkan prasarana maupun latar belakang siswa yang mungin tidak homogen sehingga menyulitkan memberikan musik-musik Barat yang sebenarnya asing bagi mereka.SMK Negeri Pringapus adalah sebuah SMK yang terletak di desa Jatirunggo Kecamatan Pringapus, yang wilayahnya berbatasan dengan kabupaten Boyolali, Kabupaten Grobogan dan Kota Salatiga. Selama beberapa tahun penulis mengalami kesulitan dalam membelajarkan seni siswa. Siswa masih belum menerima secara baik saat diberikan materi seni musik terutama dalam konsep-konsep seperti notasi balok, harmoni, melodi dan sebagainya yang bergramatikal Barat. Demikian juga dalam pengelolaan pembelajaran praktik musik. Mungkin ini disebabkan lingkungan

latar belakang siswa yang masih asing dengan materi tersebut. Sebaliknya, mereka cukup antusias jika diajak diskusi tentang musik/seni tradisi daerah setempat sepertireog.

Seni reog adalah jenis kesenian yang tumbuh subur sejak puluhan tahun lalu sampai sekarang di daerah kabupaten Semarang yang berbatasan dengan Kabupaten Boyolali, Kota Salatiga, dan kabupaten Grobogan. Seni reog mirip dengan kuda lumping, jaran kepang, dan jathilan. Reog di kabupaten Semarang tidak semegah pertunjukan reog di Ponorogo, namun memiliki kekhasan sendiri, menyesuaikan tradisi lokal yang ada di daerah tersebut. Sampai saat ini jika ada pertunjukan selalu dipadati oleh ratusan penonton, bahkan ribuan.Kesenian reog bisa tetap eksis dan tetap disukai masyarakat pendukungnya karena ada penyebabnya. Penyebabnya bisa karena masih fungsional baik sebagai hiburan maupun fungsi lain seperti keperluan sosial-budaya maupun ritual. Inilah yang menggugah penulis untuk mengkaji untuk menjadikan seni reog ini sebagai media untuk apresiasi dan ekspresi termasuk kreasi siswa SMK Pringapus. Keinginan penulis untuk mengkaji karena selama reog ini disajikan di lingkungan sekolah selalu diikuti secara antusias siswa baik sebagai pemain/penari maupun sebagai penonton. Bahkan, menurut keterangan mereka, di antara mereka sudah menjadi pelaku seni reog di daerah tempat tingalnya. Penulis pun menelusuri kegiatan kesenian mereka di tempat tinggalnya terutama dalam kesenian reog. Sehingga bisa dipetik nilai-nilai lokal yang bisa diberikan saat digunakan sebagai media pembelajaran. Kesenian reog yang sudah lama tumbuh dan sudah menjadi bagian dari kehidupan berekspresi masyarakat setempat, diyakini mengandung nilai-nilai positif yang bisa digunakan dalam dunia pendidikan. Nilai-nilai yang diyakini dan akhirnya menjadi bagian bahkan pedoman dalam bermasyarakat ini yang sering disebut lokal wisdom (kearifan lokal) akan memudahkan materi ini sebagai media dalam pembelajaran seni.Sesuai dengan karakternya pelajaran Seni Budaya memiliki kekhasan sendiri dan memiliki tujuan khusus. Pendidikan seni di sekolah (selain sekolah seni) bukan untuk menciptakan seniman. Pelajaran seni juga bukan untuk mencerdasakan seperti

halnya pelajaran yang bersifat logika-matematika. Tujuan khusus itu seperti untuk memperhalus rasa dan budi, moral, dan memperkuat rasa kebangsaan. Di samping itu secara psikologis seni dapat membantu sifat lembut, halus dan rasa solidaritas seseorang sesuai dengan sifat seni yang dimainkannya atau digelutinya (Dewantara,1977; Ardipal, 2010; Cambell, 2001).

Nilai-nilai yang terkandung dalam seni tradisi yang diyakini baik karena telah hidup puluhan tahun dapat menjadi media yang tepat bagi siswa untuk berekspresi dan berkreasi jika bisa dikelola dengan baik dalam proses pembelajarannya. Pengelolaan ini bisa menyangkut pemilihan waktu maupun pokok bahasan yang tepat, penentuan strata/kelas, dan bagian-bagian materi pertunjukan yang sesuai. Bagian-bagian yang kurang diterapkan di sekolah bisa diseleksi tanpa menghilangkan substansi utama dalam seni reog tersebut. Inilah yang terus penulis kaji dalam pelaksanaan pembelajaran seni tradisi lokal khususnya seni reog di SMK Negeri Pringapus.

2. Kajian Teori

2.1 Peran Pendidikan Seni di Sekolah

Seni musik dalam KTSP SMK adalah bagian dari mata pelajaran Seni Budaya termasuk seni lain seperti seni rupa, seni tari dan seni teater. Dalam latar belakang pada standar kompetensinya pelajaran ini memiliki tujuan antara lain: (1) Memahami konsep dan pentingnya seni budaya, (2) Menampilkan sikap apresiasi terhadap seni budaya, dan (3) Mengekspresikan kreativitas melalui seni budaya (Depdiknas, 2006).Seni Budaya memiliki kekhasan atau keunikan tersendiri yang tidak dimiliki mata pelajaran lain sehingga cara pembelajarannya pun berbeda dengan yang lain. Pendidikan seni sangat bermanfaat bagi kebutuhan perkembangan siswa. Dalam pendidikan seni, untuk mencapai kebermaknaan ini dikenal dengan pendekatan belajar dengan seni, belajar melalui seni, dan belajar tentang seni. Kegiatan dengan pendekatan ini adalah untuk memberikan pengalaman estetik dalam bentuk

kegiatan berkreasi atau berekspresi, dan berapresiasi. Belajar dengan seni mengandung makna bahwa dalam aktivitas belajar apa pun kita bisa melibatkan seni di dalamnya. Misalnya, belajar sambil mendengarakan musik. Belajar melalui seni bermakna bahwa seni bisa digunakan sebagai sarana untuk mempelajari hal-hal atau bidang yang lain. Misalnya, dalam mempelajari lagu, di samping belajar musik kita juga bisa sambil mempelajari sastra, sejarah, nasionalisme, sosial, agama dan lain- lain. Konsep ini menganut pendapat yang dipopulerkan oleh H. Read (1970) yang d