Apa Kata Mahasiswa

Download Apa Kata Mahasiswa

Post on 19-Oct-2015

42 views

Category:

Documents

0 download

Embed Size (px)

DESCRIPTION

Apa Kata Mahasiswa

TRANSCRIPT

<ul><li><p>Hasil Kajian Partisipasi &amp; Kolaborasi Mahasiswa </p><p>Kesehatan di Indonesia</p><p>HPEQ-Project DIKTIKementerian Pendidikan dan Kebudayaan</p></li><li><p>MAHASIS</p><p>WA KESEHATAN IN</p><p>DONESIA</p><p>: KIN</p><p>I DAN NANTI</p><p>2</p><p>Untuk mahasiswa,Untuk INDONESIA</p></li><li><p>Hasil Kajian Partisipasi &amp; Kolaborasi Mahasiswa Kesehatan di Indonesia</p></li><li><p>bab 1.bab 2.bab 3.bab 4.</p><p>Mahasiswa Kesehatan Indonesia: Kini dan Nanti</p><p>IPE: Kotak ataukah Bulat?</p><p>Mau Ke Mana Kita??</p><p>Few Steps for Big Impacts</p><p>Kolaborasi Interprofesi, Bukan Utopia Belaka</p><p>Partisipasi : Bukan Party Biasa!</p><p>hlm. 1</p><p>bab </p><p>bab </p><p>5.6.</p><p>hlm. 12hlm. 20hlm. 38hlm. 45hlm. 55</p></li><li><p>1.</p><p>Apa yang terpikir pertama kali saat mendengar kata-kata mahasiswa kesehatan? </p><p>Tahukah teman-teman siapa saja yang termasuk dalam mahasiswa kesehatan?</p><p>Kini dan Nanti</p></li><li><p>MAHASIS</p><p>WA KESEHATAN IN</p><p>DONESIA</p><p>: KIN</p><p>I DAN NANTI</p><p>6</p><p>MAHASIS</p><p>WA KESEHATAN IN</p><p>DONESIA</p><p>: KIN</p><p>I DAN NANTI</p><p>D E K L A R A S I M A H A S I S W A : Awal dari Sebuah Tujuan Mulia</p><p>Mahasiswa kesehatan adalah mahasiswa yang kelak menjalani profesi sebagai tenaga kesehatan, dengan profesionalisme dan kode etik masing-masing profesi. Siapa saja yang termasuk? Ada mahasiswa kedokteran, keperawatan, kedokteran gigi, kebidanan, kesehatan masyarakat, farmasi, gizi, dan lain-lain. Sampai saat ini, jumlah mahasiswa kesehatan di Indonesia terus bertambah, seiring dengan makin banyaknya jumlah institusi pendidikan ilmu kesehatan. </p><p>Pernah nggak teman-teman bayangkan jika seluruh mahasiswa kesehatan dari berbagai profesi tersebut duduk, merencanakan, dan melaksanakan sesuatu bersama-sama? Tentu akan menjadi suatu hal yang luar biasa bukan?</p><p>Berangkat dari mimpi dan tekad untuk bersama-sama memperjuangkan pendidikan profesi kesehatan yang lebih baik, berkumpullah perwakilan mahasiswa dari delapan organisasi mahasiswa ilmu kesehatan sebagai representasi tujuh profesi kesehatan. Organisasi mahasiswa tersebut antara lain Center for Indonesian Medical Students Activities (CIMSA), Ikatan Senat Mahasiswa Kedokteran Indonesia (ISMKI), Ikatan </p></li><li><p>MAHASIS</p><p>WA KESEHATAN IN</p><p>DONESIA</p><p>: KIN</p><p>I DAN NANTI</p><p>7</p><p>D E K L A R A S I M A H A S I S W A : Awal dari Sebuah Tujuan Mulia</p><p>Lembaga Mahasiswa Ilmu Keperawatan Indonesia (ILMIKI), Persatuan Senat Mahasiswa Kedokteran Gigi Indonesia (PSMKGI), Ikatan Mahasiswa Kebidanan (IMABI), Ikatan Senat Mahasiswa Farmasi Seluruh Indonesia (ISMAFARSI), Ikatan Senat Mahasiswa Kesehatan Masyarakat Indonesia (ISMKMI), dan Ikatan Lembaga Mahasiswa Ilmu Gizi Indonesia (ILMAGI).</p><p>Mahasiswa dari ketujuh profesi kesehatan itu atas dukungan Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi (Ditjen Dikti), Kementrian Pendidikan Nasional (Kemendiknas) melalui Health Professional Education Quality (HPEQ) Project telah menyatakan Deklarasi Mahasiswa Ilmu Kesehatan Indonesia Tentang Peran Mahasiswa Ilmu Kesehatan Dalam Pendidikan Ilmu Kesehatan pada tanggal 19 November 2010 lalu di Jakarta. Deklarasi ini sekaligus menandai dimulainya berbagai aktivitas yang digalang oleh HPEQ Student (terdiri dari perwakilan kedelapan organisasi mahasiswa di atas).</p><p>Eitss,, tunggu dulu. HPEQ? Pendidikan tinggi ilmu kesehatan? Peran mahasiswa? Hayo.. teman-teman sudah tahu hal tersebut apa belum? </p><p>Kalau belum, nggak perlu bingung apalagi sampai kebawa galau. Semuanya sudah pernah dibahas secara jelas dalam buku Mahasiswa Kesehatan Harus Tahu. Buku ini juga merupakan salah satu produk HPEQ Student dan telah terbit pada tahun 2011 lalu tepatnya pada saat 2ndInternational HPEQ Conference di Bali. </p><p>Seperti judulnya, sebagai mahasiswa kesehatan teman-teman harus tahu tentang isi buku ini. Jadi yang belum pernah membaca buku ini, sebaiknya buru-buru baca aja, deh! Jangan sampe temen-temen mati penasaran kalo belum baca buku ini. Hehehe..</p><p>Oh ya, buku tersebut tidak bisa teman-teman dapatkan di toko buku, apalagi lewat loper koran. Teman-teman bisa download secara cuma-cuma melalui website www.hpeqstudent.org</p><p>Nah, kalau teman-teman sudah baca buku tersebut di atas, pasti teman-teman sudah kenal dengan sosok Farrel, Fitri, dan Mischka yang ada dalam buku tersebut? Farrel, Fitri, dan Mischka adalah gambaran mahasiswa yang telah menyadari bahwa sebagai mahasiswa kita punya peran dalam sistem </p></li><li><p>MAHASIS</p><p>WA KESEHATAN IN</p><p>DONESIA</p><p>: KIN</p><p>I DAN NANTI</p><p>8</p><p>pendidikan tinggi di Indonesia. Sudah bukan saatnya lagi kita berdiam diri saat kita mendapati pendidikan yang kita jalani saat ini masih belum sesuai dengan apa yang seharusnya kita peroleh. </p><p>Akan tetapi karena mereka telah tergolong sebagai mahasiswa senior, bisa dibilang kesadaran tersebut sudah hampir terlambat. Untung saja mereka berhasil meneruskan kesadaran ini kepada adik-adik tingkat di bawah mereka</p><p>Salah satu adik tingkat Farrel yaitu Dude, seorang mahasiswa kedokteran semester 5 dan aktivis organisasi, saat ini sedang giat-giatnya untuk mengajak teman-temannya agar lebih peduli terhadap pendidikan yang saat ini sedang dijalani. Apalagi dapat dikatakan saat ini mahasiswa angkatan Dude lah yang sedang memegang jabatan dalam organisasi. Hal ini Dude benar-benar sadari sehingga inilah kesempatan emas untuk menyuarakan aspirasi mereka kepada petinggi kampus seperti dekan dan ketua jurusan.</p><p>Hingga suatu ketika Dude bertemu dengan Nay, mahasiswa dari program studi (prodi) kebidanan semester 3. Meskipun satu fakultas, keduanya jarang bertemu. Ini karena Nay lebih banyak aktif di organisasi internal mahasiswa kebidanan saja sedangkan Dude aktif dalam organisasi multiprofesi seperti BEM fakultasnya.</p><p>Sebagai mahasiswi yang kuliah dengan beasiswa penuh dari kampusnya, Nay sangat ingin untuk bisa sungguh-sungguh kuliah sehingga nantinya dapat menjadi lulusan yang bermanfaat bagi almamater. Itulah mengapa Nay sangat kritis terhadap masalah-masalah akademik seperti cara mengajar dosen, kesesuaian materi kuliah dengan kompetensi yang harus dicapai, dan ketersediaan fasilitas praktikum.</p><p>Beberapa kali Nay dan teman-teman mencoba membuat forum diskusi dan semacamnya. Namun forum tersebut kurang efektif karena aspirasi hanya sampai ke level ketua prodi saja. Padahal dalam membuat kebijakan, ketua prodi juga harus melibatkan dekanat.</p><p>Selain Dude dan Nay, ada teman kita Intan, seorang mahasiswa ilmu gizi semester 3. Saat ini Intan sedang asyik </p></li><li><p>MAHASIS</p><p>WA KESEHATAN IN</p><p>DONESIA</p><p>: KIN</p><p>I DAN NANTI</p><p>9</p><p>mempelajari lebih dalam tentang pendidikan interprofesi setelah membaca beberapa referensi, termasuk hasil sharing dengan kakak-kakak kelasnya yang mengikuti konferensi HPEQ. </p><p>Intan menyadari bahwa bidang kelimuannya sangat luas dan dapat berkolaborasi dengan berbagai profesi kesehatan lainnya seperti dokter, perawat, apoteker, bidan, ahli kesehatan masyarakat, dokter gigi, dan lain-lain. Ia merasa sangat bermanfaat bila mahasiswa dari berbagai profesi kesehatan bisa belajar bersama-sama sehingga mampu memperluas pengetahuan.</p><p>Sayangnya, Intan masih bingung apa yang harus ia lakukan untuk bisa membantu mewujudkan IPE. Terlebih ia kurang akrab dengan mahasiswa dari prodi lainnya karena tidak ikut dalam organisasi.</p><p>Pada kenyataannya, mengoptimalkan peran mahasiswa dalam sistem pendidikan ilmu kesehatan tidak semudah membalikkan telapak tangan, apalagi mengedipkan mata. Setidaknya hal itu sudah dialami oleh Nay dan Intan. Mereka berdua sudah sadar bahwa peran mahasiswa itu penting, namun terbentur dalam dua hal yang berbeda. Jika Nay terbentur oleh masalah birokrasi kampus, Intan terbentur pada masalah mendasar yaitu bingung cara memulai untuk berperan. Apakah di antara teman-teman ada yang mengalami hal serupa dengan Intan dan Nay?</p><p>Meskipun banyak kendala dalam upaya kita untuk bisa berperan dalam sistem pendidikan, jangan sampai tekad kita surut. Ingatlah bahwa mahasiswa adalah agen perubahan atau bahasa kerennya agent of change. Kalau bukan kita yang memperjuangkannya pendidikan kita, siapa lagi coba?</p><p>M e n g o p t i m a l k a n Peran Mahasiswa,</p></li><li><p>MAHASIS</p><p>WA KESEHATAN IN</p><p>DONESIA</p><p>: KIN</p><p>I DAN NANTI</p><p>10</p><p>Sistem pendidikan profesi kesehatan yang baik nantinya akan menghasilkan lulusan berupa tenaga kesehatan yang profesional dan sesuai dengan kompetensi yang dibutuhkan masyarakat </p><p>Salah satu bentuk perjuangan yang telah dilakukan mahasiswa melalui HPEQ Student adalah melakukan kajian mahasiswa dalam hal pendidikan. Kajian ini bukan sembarang kajian lho, karena dilakukan secara nasional mulai dari teman-teman kita di Sumatera, Jawa, Kalimantan, Sulawesi hingga Bali. Dapat dikatakan sampel kajian ini merepresentasikan seluruh mahasiswa kesehatan Indonesia.oleh HPEQ Stu</p><p>Ada dua kajian yang dilakukan oleh HPEQ Student, apa aja? Yang pertama adalah kajian tentang partisipasi mahasiswa dalam sistem pendidikan tinggi ilmu kesehatan. Kajian ini dilakukan untuk melihat seberapa jauh sih keterlibatan atau partisipasi mahasiswa dalam perencanaan, pelaksanaan, pengawasan, dan evaluasi sistem pendidikan mereka masing-masing. </p><p>Yang kedua adalah kajian tentang interprofessional education (IPE) atau pendidikan kolaborasi interprofesi. Kajian ini dilakukan untuk melihat bagaimana persepsi serta kesiapan mahasiswa serta dosen terhadap IPE yang akhir-akhir ini sedang jadi trending topic dalam sistem pendidikan ilmu kesehatan di Indonesia. </p><p>Kenapa sih HPEQ student sampai repot-repot bikin kajian? Mendingan juga mikirin skripsi, pendidikan kliniknya atau mungkin ikutan kompetisi karya ilmiah. </p><p>Jangan skeptis dulu, guys! Hasil dari kajian ini diharapkan bisa membuka wawasan teman-teman semua tentang bagaimana pendapat, persepsi, atau sikap mahasiswa tentang partisipasi dan kolaborasi. Kira-kira bagaimana pendapat, </p></li><li><p>MAHASIS</p><p>WA KESEHATAN IN</p><p>DONESIA</p><p>: KIN</p><p>I DAN NANTI</p><p>11</p><p>persepsi, dan sikap teman-teman sendiri tentang kedua hal tersebut? </p><p>Dari hasil kajian tersebut kita juga bisa merencanakan kegiatan-kegiatan lain yang bertujuan untuk semakin meningkatkan kualitas pendidikan ilmu kesehatan di Indonesia. Kajian semacam inilah yang dapat membatu para mahasiswa termasuk Dude, Nay, dan Intan dalam mengoptimalkan peran mereka.</p><p>Satu hal yang perlu kita sadari bersama bahwa upaya yang kita lakukan saat ini mungkin tidak langsung memberi dampak nyata dalam waktu singkat. Butuh proses hingga pada akhirnya mahasiswa kesehatan dapat benar-benar mampu berperan penuh dalam mendukung sistem pendidikan ilmu kesehatan. Anggap saja saat ini kita tengah melakukan suatu investasi untuk kebaikan pendidikan adik-adik kita mahasiswa kesehatan di waktu mendatang. Ibaratnya jika tidak bisa terwujud pada mahasiswa kini, hal tersebut harus terwujud pada mahasiswa kesehatan nanti. Setuju tidak?</p><p>Hmm, sudah siap untuk tahu apa kata mahasiswa kesehatan Indonesia tentang partisipasi dalam dunia pendidikan dan pendidikan kolaborasi interprofesi? Dude, Nay, dan Intan sudah nggak sabar lho buat tahu tentang kedua kajian tersebut. Kita jangan sampai kalah, dong! Langsung saja yuk kita kupas tuntas hasil dari kedua kajian tersebut. Selamat membaca!</p></li><li><p>2.</p></li><li><p>PARTIS</p><p>IPASI: BUKAN P</p><p>ARTY</p><p> BIA</p><p>SA!</p><p>13</p><p>Mendengar kata party, nggak peduli itu birthday party, wedding party, atau farewell party, pasti yang terbayang di pikiran kita adalah sebuah acara di mana semua orang bersemangat untuk ambil bagian, bertemu dengan banyak orang, makan bareng, dan semua pulang dengan hati senang (apalagi anak kost, party berarti jatah uang makan hari itu bisa diamankan, lumayan.. ^^). </p><p>Ada yang masih inget nggak, jaman kecil dulu, setiap kali ada temen atau tetangga yang mengadakanpesta ulang tahun, ada sebuah kalimat yang nggak pernah absen di kartu undangan. Tiada kesan tanpa kehadiranmu,. Kalimat ini bukan sekedar format wajib untuk bikin kartu undangan, tapi thats the point! Coba bayangkan, apa sih artinya sebuah party di gedung mewah dengan makanan yang enak tapi cuma 2 orang yang hadir dan itupun yang seorang sahabat si tuan rumah dan yang seorang lagi terpaksa datang karena jatah uang bulanannya udah habis? </p><p>Itu juga yang kurang lebih akan dibahas banyak dalam bagian tentang partisipasi ini, lebih spesifiknya tentang partisipasi mahasiswa kesehatan dalam tata kelola sistem pendidikan tinggi di Indonesia. Kalau dilihat dari skalanya, ibarat sebuah pesta, ini party tingkat nasional, lho! (Bilang wow yuuk..!). Emang sih, di sini acaranya bukan makan-makan, menyanyi, menari, apalagi dugem, tapi percaya deh, apa yang kita lakukan saat kita berpartisipasi dalam tata kelola sistem pendidikan adalah investasi yang jelas manfaatnya untuk masa depan, supaya nantinya produk dari sistem pendidikan yang tercetak pun berstatus high quality. Nah, untuk partisipasi yang satu ini, kalimat tiada kesan tanpa kehadiranmu berlaku mutlak dan nggak bisa diganggu gugat. So, why dont be a part of this party?</p><p>2.</p></li><li><p>PARTIS</p><p>IPASI: </p><p>BUKAN P</p><p>ARTY</p><p> BIA</p><p>SA!</p><p>14</p><p>Kenapa kita harus berpartisipasi?</p><p>Tata kelola sistem pendidikan di sebuah negara itu nggak sesederhana game Plants VS Zombies di mana semuanya tinggal diletakkan dan diatur sedemikian rupa supaya goal kita tercapai. Saking kompleksnya orang pasti memilih dikutuk jadi batu daripada harus memikirkan atau mengatur semua hal itu sendirian. Inilah mengapa teman-teman mahasiswa kesehatan harus berpartisipasi dalam tata kelola sistem pendidikan, jangan sampai satu per satu orang menjadi batu gara-gara nggak kuat menanggung beban yang terlalu berat ini. Karena terlalu pahit, kita tidak akan membahas contoh-contoh pengalaman yang disebabkan karena kurangnya partisipasi mahasiswa di sini ya. Contoh-contoh tersebut bisa dibaca di buku Mahasiswa Kesehatan Harus Tahu.</p><p>Saya Berpart is ipasi Karena Saya Mempunyai Bargaining Power</p><p>Tanpa bermaksud menjadikan buku ini seserius diktat kuliah, kami ingin memaparkan bahwa ada peraturan yang mengatur tentang perlunya keterlibatan mahasiswa di dalam tata kelola pendidikan di negara kita. Namanya juga mahasiswa, bukan siswa biasa, teman-teman dianggap sudah cukup dewasa dan memiliki kapasitas sebagai pemberi masukan untuk perbaikan sistem pendidikan. Keren nggak tuh!</p><p>Mahasiswa mempunyai peran penting dalam setiap aktivitas tri dharma perguruan tinggi (penelitian, pendidikan, dan pengabdian masyarakat) yakni sebagai agent of change, agent of development, dan agent of social control. Tolong tetap fokus ya, jangan keliru dengan agen-agen rahasia yang ada di film Men In Black. Jaman dulu kala, peran serta atau partisipasi mahasiswa masih hanya sebatas objek dari pendidikan itu sendiri. Padahal sesuai dengan undang-undang yang berlaku saat ini yaitu Undang-Undang Republik </p></li><li><p>PARTIS</p><p>IPASI: BUKAN P</p><p>ARTY</p><p> BIA</p><p>SA!</p><p>15</p><p>Indonesia Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional ayat 8, mahasiswa dinyatakan berhak berperan serta atau berpartisipasi dalam perencanaan, pelaksanaan, pengawasan, dan evaluasi program pendidikan.</p><p>Sejauh Mana Sih Mahasiswa Indonesia Sudah Berpartisipasi?</p><p>DIKTI melalui HPEQ Student telah melakukan penelitian tentang pola partisipasi mahasiswa dalam penataan sistem pendidikan kesehatan di Indonesia. Maksud dari diadakannya penelitian ini adalah untuk mengetahui sejauh mana mahasiswa Indonesia telah mampu dan mau berpartisipasi untuk melakukan banyak perbaikan dalam sistem pendidikan kesehatan di Indonesia. </p><p>Sejumlah 1.046 mahasiswa yang mewakili 240 institusi penyelenggar...</p></li></ul>