analisis penilaian risiko kerja operator

of 143/143
No. Dok.: FM-GKM-TI-TS-01-06A; Tgl. Efektif : 01 Des 2015; Rev : 0; Halaman : 1 dari 1 ANALISIS PENILAIAN RISIKO KERJA OPERATOR HIGH CRANE STUDI KASUS: PT. PELINDO I MEDAN (PERSERO) TUGAS SARJANA Diajukan untuk Memenuhi Sebagian dari Syarat-syarat Memperoleh Gelar Sarjana Teknik Oleh ANITA NANDA SARI 120403174 DEPARTEMEN TEKNIK INDUSTRI F A K U L T A S T E K N I K UNIVERSITAS SUMATERA UTARA MEDAN 2017 UNIVERSITAS SUMATERA UTARA

Post on 04-Oct-2021

1 views

Category:

Documents

0 download

Embed Size (px)

TRANSCRIPT

No. Dok.: FM-GKM-TI-TS-01-06A; Tgl. Efektif : 01 Des 2015; Rev : 0; Halaman : 1 dari 1
ANALISIS PENILAIAN RISIKO KERJA OPERATOR
HIGH CRANE STUDI KASUS: PT. PELINDO I
MEDAN (PERSERO)
TUGAS SARJANA
Oleh
120403174
D E P A R T E M E N T E K N I K I N D U S T R I
F A K U L T A S T E K N I K
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
2 0 1 7
KATA PENGANTAR
Puji dan syukur penulis ucapkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa yang
telah memberikan rahmat dan karunia-Nya kepada penulis sehingga penulis dapat
menyelesaikan tugas sarjana ini.
Tugas sarjana ini merupakan salah satu syarat untuk mendapatkan gelar
sarjana teknik di Departemen Teknik Industri, khususnya program studi reguler
strata satu, Fakultas Teknik, Universitas Sumatera Utara. Adapun judul untuk
tugas sarjana ini adalah “Analisis Penilaian Risiko Kerja Operator High Crane
Studi Kasus: PT. Pelindo I Medan (Persero)”
Sebagai manusia yang tidak luput dari kesalahan, maka penulis menyadari
masih banyak kekurangan dalam penulisan tugas sarjana ini. Oleh karena itu,
penulis sangat mengharapkan saran dan masukan yang sifatnya membangun demi
kesempurnaan laporan tugas sarjana ini. Semoga tugas sarjana ini dapat
bermanfaat bagi penulis sendiri, perpustakaan Universitas Sumatera Utara, dan
pembaca lainnya.
JANUARI, 2017
Syukur dan terimakasih penulis ucapkan yang sebesar-besarnya kepada
Tuhan Yang Maha Esa yang telah memberikan kesempatan kepada penulis untuk
merasakan dan mengikuti pendidikan di Departemen Teknik Industri USU serta
telah membimbing penulis selama masa kuliah dan penulisan laporan tugas
sarjana ini. Terimakasih juga kepada kedua orang tua yang tiada hentinya
mendukung penulis baik secara moril maupun materil sehingga laporan ini dapat
diselesaikan. Penulis menyadari tidak dapat membalas segala kebaikan dan kasih
sayang dari keduanya, oleh karena itu izinkanlah penulis memberikan karya ini
sebagai ungkapan rasa terima kasih sebesar-besarnya kepada Ayahanda Salmin
dan Ibunda tercinta Fatimah .
dan bantuan dari berbagai pihak, baik berupa materil, spiritual, informasi maupun
administrasi. Oleh karena itu sudah selayaknya penulis mengucapkan terima kasih
kepada:
1. Dr. Eng Ir. Listiani Nurul Huda, M.T. selaku Dosen Pembimbing I atas
waktu, bimbingan, pengarahan, dan masukan yang diberikan kepada penulis
dalam penyelesaian Tugas Sarjana ini.
2. Ir. Khawarita Siregar, M.T. selaku Ketua Departemen Teknik Industri
Universitas Sumatera Utara, yang telah memberi izin pelaksanaan Tugas
Sarjana ini.
3. Ir. Ukurta Tarigan, M.T. selaku Sekretaris Departemen Teknik Industri
Universitas Sumatera Utara, yang telah memberi izin pelaksanaan Tugas
Sarjana ini
4. Ibu Dr.Ir. Juliza Hidayati, MT dan Bapak Ir. Ukurta Tarigan, MT sebagai
Dosen Pembanding yang telah bersedia untuk meluangkan waktu dan
memberikan kritik dan saran serta membimbing penulis untuk
penyempurnaan laporan tugas sarjana.
5. Pak Barman Simangunsong, Pak Said, dan Kak Yuni yang memberikan izin,
bimbingan dan fasilitas selama di PT Pelindo I sehingga memudahkan penulis
dalam mengumpulkan data.
6. Kakak penulis yaitu Zulfatmamin Narsih dan keponakan tersayang Keyza
Amira Fanesa yang mendukung dan memberikan semangat selama
perkuliahan di Departemen Teknik Industri.
7. Sahabat terdekat penulis yaitu Tri Rahmadani SP, Dodi Irawan, dan Fahmi
Permana Arrasyid yang telah memberikan semangat dan mendukung serta
mendoakan penulis.
8. Adik-adik terdekat penulis yaitu Indah Aprilla, Rizky Hasbi Indriyani,
Anggie Eka Putri, Adelina Putri Noer, Khairunnisa Rizki Ginting, M. Sofyan
Bahrum Juniardi, Egi Sahrahmatan, dan Cyintia Yolanda Pardede yang telah
memberikan dukungan dan semangat dalam penyelesaian tugas sarjana ini.
9. Rekan-rekan seperjuangan TA di PT. Pelindo I Medan (Persero), Adella
Sirait dan M. Tuah Affandi yang telah banyak memberi kenangan, motivasi,
dan saran kepada penulis dalam menyelesaikan laporan ini.
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
10. Seluruh dosen Departemen Teknik Industri, Fakultas Teknik, Universitas
Sumatera Utara yang telah memberikan pengajaran selama perkuliahan yang
menjadi bekal penulis dalam meyelesaikan penulisan tugas sarjana ini.
11. Staf pegawai Teknik Industri, Bang Nurmansyah, Bang Ridho, Bang Mijo,
Kak Dina, Kak Rahma dan Kak Ani, terimakasih atas bantuannya dalam hal
penyelesaian administrasi untuk melaksanakan tugas sarjana ini.
12. Sahabat-sahabat pejuang dalam grup Buruh Wanita yaitu Jennifer ST, Adella
Ris Daina Sirait, Dian Labora ST, Mutiara Natasa Sembiring ST, dan Gretty
Margaretha yang senantiasa memberi dukungan moril dan bantuan tenaganya
selama masa di perkuliahan dan membantu dalam penyelesaian laporan ini.
13. Seluruh keluarga Laboratorium Sistem Produksi USU yaitu Ibu Ir. Rosnani
Ginting, MT, Bapak Ikhsan Siregar, ST, M.Eng, Ibu Dr. Ir. Juliza Hidayati,
MT yang selalu mengingatkan dan mendukung penulis untuk segera
menyelesaikan tugas sarjana dan rekan-rekan asisten SISPRO 2012 yaitu
Abdul Kadir Batubara ST, Rahmawati Putri, Jovianto Trisila ST, Rizky
Marini Rambe ST, Claudia Ursula ST, Eric Hertanto ST dan Conan Yuwono
Lauden ST yang telah menjadi bagian keluarga yang tidak terlupakan serta
adik-adik 2013 yaitu Jessica Tanuwijaya, Siti Soraya Faiza Nasution, Jeremia
Jepta Sinuraya, Robby Apriandi Sugara, Muhammad Bayu Noviza, M.
Dwiky Cahyo, Cyintia Yolanda Pardede dan Meutia Fadilla yang telah
mendukung dan mendoakan penulis.
14. Teman-teman terdekat penulis yaitu Dika Ayu Hardianti, Lailan Rahmadani,
Febry Eudina, Meirin Catherina, Khairini Wijaya, Tioni Rohana, Yulianti
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
Irawati ST, dan Tengku Henny Kartika yang saling mendukung dan
memberikan semangat selama menyelesaikan tugas sarjana ini.
15. Teman-teman DUABELATI yang merupakan teman-teman stambuk 2012
Departemen Teknik Industri Fakultas Teknik Universitas Sumatera Utara.
16. Dan seluruh pihak yang telah membantu penulis yang tidak mungkin
disebutkan satu per satu, hanya Tuhan Yang Maha Esa yang dapat membalas
kalian semua, Amin.
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
untuk menilai dan mengintegrasikan pertimbangan profesional mengenai
kemungkinan kondisi yang tidak sesuai dengan standar kesehatan dan
keselamatan kerja sesuai PP No.50 Tahun 2012. Penilaian risiko (risk
assessment) yang dilakukan bertujuan untuk mengidentifikasi potensial
bahaya yang terdapat dalam suatu lingkungan kerja sehingga dapat dilakukan
pengendalian terhadap bahaya yang terjadi.
Pada penelitian ini berfokus penilaian risiko operator crane yang berkeja
pada ketinggian yaitu operator container crane di PT. Pelindo I Medan (Persero)
untuk mengidentifikasi potensi bahaya yang dapat mengakibatkan kecelakaan
kerja yang mungkin terjadi pada operator. High crane operator adalah operator
container crane yang bertugas untuk memindahkan peti kemas dari kapal ke
dermaga dan menyusun peti kemas sesuai dengan blok yang disediakan. Penilaian
program dilakukan untuk menilai kesesuaian program risk assessment perusahaan
dengan Sistem Manajemen Keselamatan dan Kesehatan Kerja (SMK3) sehingga
dapat dilakukan perbaikan indikator yang tidak sesuai standar pada tahun-tahun
berikutnya. Berdasarkan penilaian dan pencegahan risiko yang dilakukan
perusahaan diperoleh ternyata masih banyak terjadi kecelakaan kerja sehingga
dilakukan penilaian kembali mengenai risk assessment perusahaan dan
mengidentifikasi potensi penyebab kecelakaan kerja dengan penilaian langsung
menggunakan formulir identifikasi bahaya yang telah diterapkan oleh perusahaan.
Akibat potensi bahaya yang tinggi sehingga terjadi kecelakaan kerja sebanyak 8
kejadian selama waktu 3 tahun terakhir.
Hasil penilaian yang diperoleh bahwa pencapaian penerapan program risk
assessment yang dilaksanakan perusahaan untuk menjamin keselamatan operator
container crane antara lain pencapaian penerapan program risk assessment sudah
berjalan dengan baik dan dipatuhi oleh seluruh karyawan pada perusahaan. Pada
proses risk assessment yang dilakukan pengkategorian risiko bahaya untuk menilai
bobot dari risiko. Berdasarkan identifikasi bahaya dari 9 potensi bahaya yang
terjadi di perusahaan dinilai 2 aktivitas risiko bahaya dengan kategori sangat
tinggi.
High Crane Operator
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
KATA PENGANTAR ........................................................................ iv
1.2. Rumusan Masalah ....................................................................... I-7
1.6. Sistematika Penulisan Laporan ................................................... I-11
II GAMBARAN UMUM PERUSAHAAN ........................................... II-1
2.1. Sejarah Perusahaan ...................................................................... II-1
2.3. Organisasi dan Manajemen ......................................................... II-4
2.3.1. Struktur Organisasi Perusahaan ....................................... II-4
2.3.2. Uraian Tugas dan Tanggung Jawab ................................ II-6
2.3.3. Jam Kerja dan Shift .......................................................... II-11
III LANDASAN TEORI .......................................................................... III-1
3.2. Crane ......................................................................................... III-2
3.2.4. Hydraulic Crane .............................................................. III-4
3.2.5. Hoist Crane ..................................................................... III-5
3.2.6. Jip Crane ......................................................................... III-5
3.3. Operator High Crane ................................................................... III-7
3.4. Penialaian Risiko (Risk Assessment) ........................................... III-9
3.4.1. Rencana Penilaian Risiko Perusahaan ............................. III-11
3.5. Pendekatan Risk Assessment ....................................................... III-14
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
3.8. Perhitungan Tingkat Kehilangan/Kerugian (Loss Rate) Kerja ... III-21
3.9. Keselamatan Kerja ...................................................................... III-24
3.9.2. Pengertian Kecelakaan Kerja dan Macam Kecelakaan
Kerja ................................................................................ III-28
3.10. Pengendalian Kecelakaan Akibat Bahaya pada Container Crane III-36
3.10.1. Terjatuh dari Ketinggian ................................................. III-36
3.10.2. Jatuh Tertimpa Benda ...................................................... III-37
3.10.3. Cidera Akibat Peralatan ................................................... III-38
3.10.4. Kelelahan ......................................................................... III-38
3.11. Sistem Manajemen Keselamatan dan Kesehatan Kerja (SMK3) III-40
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
4.2 Objek Penelitian .......................................................................... IV-1
4.3 Jenis Penelitian ............................................................................ IV-2
4.4. Kerangka Konseptual .................................................................. IV-2
4.5 Prosedur Penelitian ...................................................................... IV-4
4.6 Variabel Penelitian ...................................................................... IV-6
4.6.1. Variabel Independen ........................................................ IV-7
4.6.2. Variabel Dependen .......................................................... IV-7
4.7 Metodologi Penelitian ................................................................. IV-7
4.7.1. Instrumen Penelitian ........................................................ IV-9
V PENGUMPULAN DAN PENGOLAHAN DATA............................ V-1
5.1. Pengumpulan Data ...................................................................... V-1
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
Kecelakan Kerja Perusahaan ............................. V-1
5.1.2. Identifikasi Bahaya ............................................................ V-15
5.1.3.1. Pengkategorian Risiko pada Aktivitas
Operator Bekerja pada Ketinggian 40 Meter ...... V-24
5.1.3.2. Operator Naik Ke Container Crane Secara
Manual Menggunakan Tangga ............................ V-27
ke Dermaga ......................................................... V-30
5.1.5. Rencana Pengendalian Risiko .......................................... V-40
VI ANALISIS PEMECAHAN MASALAH ........................................... VI-1
6.1. Analisis ........................................................................................ VI-1
6.1.2. Analisis Identifikasi Bahaya ............................................ VI-7
6.1.3. Analisis Kategori Potensi Bahaya dan Penilaian Risiko .. VI-7
6.1.4. Analisis Tingkat Kerugian (Lost Rate) ............................ VI-9
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
6.2. Pembahasan ................................................................................. VI-13
Perusahaan ....................................................................... VI-13
6.2.3. Pembahasan Kategori Potensi Bahaya dan Penilaian
Risiko ............................................................................... VI-16
6.2.5. Pembahasan Pengendalian Risiko .................................... VI-19
VII KESIMPULAN DAN SARAN ........................................................... VII-1
7.1. Kesimpulan.................................................................................. VII-1
3.1. Jenis Kategori Risiko Crane ............................................................ III-6
3.2. Pengoperasian High Crane .............................................................. III-8
3.3. Kriteria Kategori Risiko ................................................................... III-11
3.4. Pengkodean Risk Assessment ........................................................... III-14
3.5. Kategori Risiko Berdasarkan Nilai Risiko ....................................... III-15
3.6. Kategori Bahaya............................................................................... III-16
3.8. Kategori Kerugian Materil ............................................................... III-23
3.9. Klasifikasi Jenis Kecelakaan Berdasarkan Penyebab ...................... III-30
4.1. Pengamatan yang Dilakukan di Perusahaan ................................... IV-6
4.2. Kuesioner Penilaian Risk Assessment ............................................. IV-10
4.3. Formulir Identifikasi Bahaya .......................................................... IV-12
5.1. Pengelompokkan Pernyataan untuk Setiap Indikator ..................... V-4
5.2. Hasil Rekapitulasi Kuesioner Indikator Penggunaan Alat
Pelindung Diri (APD) ..................................................................... V-5
5.4. Hasil Rekapitulasi Kuesioner Indikator Upaya Pencegahan
Terjadinya Keadaan Darurat ........................................................... V-7
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
5.7. Indikator Penilaian Disiplin dan Pengawasan ................................. V-10
5.8. Hasil Rekapitulasi Kuesioner Indikator Prosedur Keselamatan
dan Kesehatan Kerja ....................................................................... V-11
Kerja ................................................................................................ V-13
5.12. Hasil Identifikasi Bahaya ................................................................ V-17
5.13. Formulir Identifikasi Bahaya .......................................................... V-18
5.14. Formulir Identifikasi Bahaya .......................................................... V-22
5.15. Bobot Kemungkinan Terjadi ........................................................... V-24
5.16. Standar Penilaian Risiko Akibat List Rusak ................................... V-25
5.17. Standar Penilaian Risiko Akibat Sepatu Licin ................................ V-26
5.18. Standar Penilaian Risiko Akibat Tidak Ada APD Khusus ............. V-27
5.19. Standar Penilaian Risiko Akibat Kondisi Tangga ........................... V-28
5.20. Standar Penilaian Risiko Akibat Tangga Licin ............................... V-29
5.21. Standar Penilaian Risiko Akibat Tidak Ada Pegangan Tangga ...... V-30
5.22. Standar Penilaian Risiko Akibat Operator Tidak Konsentrasi ........ V-31
5.23. Standar Penilaian Risiko Akibat Komunikasi Buruk ...................... V-32
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
5.25. Kategori Risiko ............................................................................... V-33
5.26. Penilaian Risiko .............................................................................. V-34
5.28. Data Kecelakaan PT. Pelindo I Medan (Persero)............................ V-37
5.29. Peralatan Pendukung Operator ........................................................ V-38
5.30. Aktivitas Pengendalian dengan Cara Rekayasa Engineering ......... V-40
6.1. Pencapaian Program Risk Assessment Perusahaan ......................... VI-2
6.2. Hasil Identifikasi Bahaya ................................................................. VI-7
6.3. Penilaian Risiko ............................................................................... VI-8
6.5. Fasilitas Pendukung Operator .......................................................... VI-10
6.6. Rencana Pengendalian Risiko .......................................................... VI-12
6.7. Indikator Penilaian Risiko Kecelakaan Kerja Perusahaan ............... VI-14
6.8. Tindakan Pencegahan ...................................................................... VI-15
6.10. Penjabaran Potensi Bahaya Tinggi .................................................. VI-16
6.11. Tindakan untuk Mengurangi Tingkat Kerugian .............................. VI-18
6.12. Pengendalian Risiko......................................................................... VI-19
1.2. Angka Kecelakaan Operator Crane ............................................. I-3
2.1. Struktur Organisasi PT. Pelabuhan Indonesia I ........................... II-6
3.1. Container Crane .......................................................................... III-3
3.2. Tower Crane ................................................................................ III-3
3.3. Truck Crane ................................................................................. III-4
3.4. Hydraulic Crane .......................................................................... III-4
3.5. Hoist Crane .................................................................................. III-5
3.6. Jip Crane .................................................................................... III-5
4.2. Kerangka Konseptual Penelitian .................................................. IV-3
4.3. Metodologi Penelitian .................................................................. IV-4
4.7. Metodelogi Penelitian .................................................................. IV-8
5.2. Grafik Persentasi Penilaian Pencegahan Keadaan Darurat .......... V-7
5.3. Grafik Persentasi Penilaian Disipllin dan Pengawasan ................ V-9
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
5.6. Grafik Pencapaian Program Risk Assessment ............................. V-15
5.7. Grafik Rekapitulasi Kategori Risiko ............................................ V-36
6.1. Penilaian Risiko ........................................................................... VI-8
6.2. Fluktuasi Denyut Nadi Operator Sebelum dan Sesudah Bekerja . VI-10
6.3. Grafik Bobot Penyebab Kecelakaan ............................................ VI-17
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
2. Formulir Identifikasi Bahaya .............................................. L-2
3. Form Tugas Akhir ............................................................... L-3
4. Surat Penjajakan .................................................................. L-4
5. Surat Balasan ....................................................................... L-5
7 Lembar Asistensi ................................................................. L-7
untuk menilai dan mengintegrasikan pertimbangan profesional mengenai
kemungkinan kondisi yang tidak sesuai dengan standar kesehatan dan
keselamatan kerja sesuai PP No.50 Tahun 2012. Proses penilaian risiko
seharusnya dapat memberikan suatu cara untuk mengorganisir dan
mengintegrasikan pertimbangan profesional dalam pengembangan jadwal
pelaksanaan audit untuk keselamatan dan kesehatan kerja (PP No.50 Tahun,
2012).
Penilaian risiko adalah pemeriksaan yang cermat dari apa yang terdapat
dalam pekerjaan yang bisa menyebabkan kerugian kepada operator, sehingga
dapat menilai tindakan pencegahan atau harus berbuat lebih banyak untuk
mencegah kerugian (Deshmukh, 2006). Penilaian risiko (risk assessment) yang
dilakukan bertujuan untuk mengidentifikasi potensial bahaya yang terdapat
dalam suatu lingkungan kerja sehingga dapat dilakukan pengendalian terhadap
bahaya yang terjadi. Potensi bahaya adalah salah satu problematika yang ada
di perusahan karena merupakan sumber resiko yang berpotensi
mengakibatkan kerugian baik material, lingkungan, maupun manusia.
Potensial kecelakaan pada lingkungan kerja dapat disebabkan oleh faktor
manusia, faktor lingkungan kerja, faktor beban kerja yang diberikan, dan
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
faktor tata cara kerja. Risiko kecelakaan kerja yang terjadi merupakan
tanggung jawab banyak pihak antara lain pekerja, manajemen perusahaan,
pemerintah dan masyarakat sekitar perusahaan. Berdasarkan teori yang
dikemukakan oleh International Lobour Organization (ILO,1999) terdapat 5
potensi bahaya pada operator crane. Potensi bahaya dapat dilihat pada Gambar
1.1.
Gambar 1.1. Penilaian Risk Assesssment
Berdasarkan gambar diatas bahwa penilaian risiko (risk assessment)
dilakukan dengan mengidentifikasi potensi bahaya yaitu terdapat 5 bahaya
yang dilakukan penilaian, yaitu bahaya kecelakaan, bahaya fisik, bahaya
bahan kimia, bahaya biologi, dan penilaian ergonomi, psikososial, faktor
organisasi. Dalam penelitian ini dilakukan penilaian terhadap 2 potensi bahaya
yaitu bahaya fisik dan bahaya kecelakaan. Faktor bahaya fisik adalah faktor di
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
I-3
dalam tempat kerja yang bersifat fisika antara lain faktor lingkungan kerja,
kondisi peralatan yang digunakan, dan cara kerja operator. Sedangkan faktor
bahaya kecelakaan yaitu kategori ini berkaitan dengan masalah atau kejadian yang
memiliki potensi menyebabkan cidera dengan segera. Cidera tersebut biasanya
disebabkan oleh kecelakaan kerja. Ini biasanya terjadi ketika risiko yang tidak
dikendalikan dengan baik. Saat prosedur kerja aman tidak tersedia atau sebaliknya
tetapi tidak ditaati dengan baik oleh operator.
Berdasarkan penelitian sebelumnya yang dilakukan Division of
Occupational Safety and Health data statistik ditemukan bahwa jumlah
kejadian kecelakaan yang pernah terjadi mengenai operator crane dari tahun
1997-2006. Berikut adalah data kecelakaan yang pernah terjadi pada
pelabuhan yang menimpa operator crane pada dapat dilihat pada Gambar 1.2.
Sumber: ILO (International Lobour Organization, 1999)
Gambar 1.2. Angka Kecelakaan Operator Crane
Tahun 1997; 97
Tahun 1998; 93
Tahun 1999; 80
Tahun 2000; 90
Tahun 2001; 72
Tahun 2002; 80
Tahun 2003; 62
Tahun 2004; 87
Tahun 2005; 85
Tahun 2006; 72
dikutip dari Division of Occupational Safety and Health menemukan bahwa
kecelakaan yang dialami operator crane dengan jumlah kecelakaan tinggi dan
terjadi setiap tahun. Kecelakaan tidak hanya terjadi di Indonesia tetapi juga di
beberapa negara lainnya yang mengoperasikan alat crane. Sehingga penilaian
risiko sangat diperlukan untuk mengidentifikasi dan melakukan pengendalian
risiko untuk mengurangi angka kecelakaan yang terjadi.
Beberapa studi telah dilakukan berkaitan dengan penilaian risiko kerja
antara lain mengemukakan bahwa penelitian menggunakan metode Job Safety
Analysis untuk mengidentifikasi potensi bahaya pengelasan listrik, penilaian
risiko serta pengendaliannya pada perusahaan pembangkit listrik (Winiarto,2013).
Identifikasi risiko K3 (Keselamatan dan Kesehatan Kerja) yang berkaitan dengan
kegiatan proyek pembangunan Ruko Orlens Fashion Manado menggunakan
metode Job Safety Analysis (JSA) (Sepang, 2013). Penilaian risiko dengan
menggunakan matriks penilaian risiko Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui
nilai risiko potensi bahaya kerja dan kategori potensi bahaya kerja di perusahaan
serta mengetahui faktor penyebab terbesar terjadinya kecelakaan kerja di
perusahaan. Penelitian ini menggunakan pendekatan metode Hazard Identification
Risk Assessment (HIRA) dan Fault Tree Analysis (FTA) (Susihono, 2013).
Roor risk assessment dan Healthcare Failure Mode and Effect Analysis
(HFMEA) digunakan untuk mengevaluasi Sistem Manajemen Keselamatan dan
Kesehatan Kerja (SMK3) perusahaan dan mendapatkan penyebab dari unsafe
behaviour (Lucktya, 2012). Penilaian risiko menggunakan teknik kriteria hirarki
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
Penilaian metode memungkinkan pemilik fasilitas tenaga listrik dan kepentingan
lainnya untuk lebih memilih penilaian jenis risiko tertentu tergantung pada jenis
fasilitas (pembangkitan, transmisi dan distribusi) dan mengamankan tingkat
keamanan yang diperlukan (Rehak, 2014). Pendekatan penilaian risiko suara
dapat menyebabkan tidak hanya untuk risiko manajemen yang lebih baik tetapi
untuk melakukan anitisipasi prediksi kecelakaan risiko pekerjaan dan insiden dan
akhirnyanya untuk melakukan pencegahan (Lucian, 2015).
PT. Pelabuhan Indonesia I (Pelindo) Medan adalah Badan Usaha Milik
Negara (BUMN) sektor Perhubungan Laut yang bergerak dalam bidang
pengusahaan jasa kepelabuhanan, berkedudukan dan berkantor pusat di Medan.
Pada penelitian terdapat permasalahan yaitu risiko kerja yang operator container
crane tinggi yang mengakibatkan angka kecelakaan kerja tinggi sehingga
perusahaan mengalami kerugian. Pada penelitian ini berfokus untuk penilaian
risiko terhadap high crane operator.
High crane operator adalah operator container crane yang bekerja
menjalankan container crane untuk memindahkan peti kemas dari kapal menuju
dermaga pelabuhan dan memindahkan peti kemas dari dermaga menuju kapal.
Operator bekerja mengoprasikan crane pada ketinggian lebih dari 40 m dari atas
permukaan tanah, upaya operator menuju ke kabin operator pada ketinggian
dengan menggunakan anak tangga dan tanpa dilindungi oleh alat pelindung diri
khusus sehingga meneybabkan risiko bahaya tinggi yang dapat dialami oleh
operator.
upaya mengurangi kecelakaan kerja. Pencegahan yang dilakukan belum diterapkan
dengan sangat baik akibat ditemukan bahwa masih banyak terdapat kecelakaan
dengan jumlah 8 kejadian kecelakaan selama 3 tahun terakhir, yaitu pada tahun
2016 terjadi 3 kejadian kecelakaan, pada tahun 2015 terjadi 2 kejadian kecelakaan,
dan pada tahun 2014 terjadi 3 kejadian kecelakaan. Berdasarkan angka kecelakaan
yang tinggi pada perusahaan maka dilakukan penilaian risiko (risk assessment)
pada perusahaan. Penilaian pertama yang dilakukan adalah penilaian program
pencegahan kecelakaan kerja yang telah diterapkan PT. Pelindo I Medan
(Persero), penilaian ini menggunakan kuesioner dengan 5 indikator penilaian
antara lain:
3. Disiplin dan pengawasan program risk assessment.
4. Prosedur keselamatan dan kesehatan kerja.
5. Publikasi keselamatan kerja.
assessment perusahaan dengan Sistem Manajemen Keselamatan dan Kesehatan
Kerja (SMK3) sehingga dapat dilakukan perbaikan indikator yang tidak sesuai
standar pada tahun-tahun berikutnya. Berdasarkan penilaian dan pencegahan risiko
yang dilakukan perusahaan diperoleh ternyata masih banyak terjadi kecelakaan
kerja sehingga dilakukan penilaian kembali mengenai risk assessment perusahaan
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
langsung menggunakan formulir identifikasi bahaya yang telah diterapkan oleh
perusahaan. Formulir identifikasi bahaya bertujuan untuk mengidentifikasi bahaya
yang terjadi yaitu bahaya kecelakaan dan bahaya fisik yang terdapat pada
perusahaan, sehingga perlu dilakukan pencegahan dan pengendalian terhadap
bahaya yang mungkin terjadi.
ketinggian yang dialami operator container crane yang mengakibatkan
kecelakaan kerja yang terdapat di PT. Pelindo I Medan (Persero) sehingga
dibutuhkan analisis penilaian terhadap program risk assessment perusahaan
dan mengidentifikasi potensi bahaya yang terjadi sehingga dapat dilakukan
perbaikan program risk assessment dan pengendalian bahaya untuk
mengurangi kecelakaan kerja pada perusahaan.
1.3. Tujuan Penelitian
menilai program pencegahan kecelakaan kerja pada perusahaan dan
mengidentifikasi potensi bahaya sehingga dapat dilakukan perbaikan program
pencegahan dan pengendalian terhadap potensi bahaya guna mengurangi
angka kecelakaan kerja.
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
diterapkan perusahaan dibandingkan dengan audit Sistem Manajemen
Keselamatan dan Kesehatan Kerja (SMK3).
2. Mengidentifikasi risiko kerja yang menjadi penyebab kecelakaan kerja
berdasarkan aktivitas yang dilakukan operator container crane.
3. Menentukan dan membobotkan kategori risiko dari setiap potensi bahaya
berdasarkan aktivitas yang dilakukan operator container crane.
4. Menghitung tingkat kerugian (Loss Rate) yang dialami perusahaan akibat
kecelakaan yang terjadi pada operator container crane.
5. Memberikan usulan untuk pengendalian potensi bahaya dengan pendekatan
risk assessment pada operator container crane.
1.4. Manfaat Penelitian
1. Bagi Mahasiswa
perusahaan.
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
oleh perusahaan yaitu penilaian risk assessment untuk mengurangi
kecelakaan kerja
yang mungkin terjadi untuk mengurangi kecelakaan kerja dan kerugian
perusahaan.
Mempererat kerjasama antara perusahaan dengan Departemen Teknik
Industri, Fakultas Teknik USU dan sebagai tambahan informasi yang dapat
digunakan untuk perkembangan ilmu pengetahuan
1.5. Batasan dan Asumsi Penelitian
Batasan masalah yang digunakan yaitu:
1. Penelitian dilakukan di PT. Pelindo I (Persero) Medan yaitu pada Terminal
Peti Kemas Domestik Belawan (TPKDB).
2. Identifikasi penilaian program pengendalian risiko yang diterapkan
perusahaan terhadap operator container crane.
3. Jumlah operator yang diamati berjumlah 20 orang operator container
crane.
container crane yang berjumlah 20 orang.
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
5. Penilaian risiko yang dilakukan yaitu pada operator yang mengoprasikan
container crane.
6. Berdasarkan 5 jenis potensi bahaya yang dinilai menggunakan risk
assessment hanya dilakukan 2 penilaian yaitu bahaya fisik dan bahaya
kecelakaan kerja.
1. Program pengendalian risiko diterapkan oleh PT. Pelindo I Medan
(Persero) tidak mengalami perubahan selama pernelitian berlangsung.
2. Tidak terjadi penambahan jumlah operator container crane selama
penelitian berlangsung.
3. Operator yang diamati adalah operator yang bekerja dalam kondisi
normal,serta sehat secara jasmani dan rohani pada operator container crane.
4. Semua peralatan yang digunakan dalam proses produksi, berada dalam
kondisi normal.
1.6. Sistematika Penulisan Laporan
mendasari penelitian dilakukan, perumusan permasalahan, tujuan penelitian,
manfaat penelitian, batasan dan asumsi yang digunakan dalam penelitian.
Bab II Gambaran umum Perusahaan PT. Pelindo I (Persero).
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
Bab III Landasan Teori, berisi teori mengenai container crane, risiko
kerja, penyebab kecelakaan kerja, pengendalian risiko, program SMK3, dan teori
lain yang mendukung penelitian.
penelitian, pengumpulan data primer dan sekunder, metode pengolahan data, blok
diagram prosedur penelitian, pengolahan data, analisis pemecahan masalah
sampai kesimpulan dan saran.
Bab V Pengumpulan dan Pengolahan Data, dalam bab ini menjelaskan
tentang jenis-jenis data, baik data primer maupun data sekunder. Data primer pada
umumnya dikumpulkan melalui observasi dan wawancara yang dilakukan secara
langsung. Data sekunder dikumpulkan dengan mencatat data yang sudah tersedia.
Bab VI Analisis Pemecahan Masalah, dalam bab ini menjelaskan tentang
analisa yang dilakukan terhadap data termasuk pengoperasian konsep ilmiah yang
digunakan dalam metode pendekatan serta teori-teori yang dijadikan landasan
dalam pemecahan masalah.
Bab VII Kesimpulan dan Saran, berisi kesimpulan yang diperoleh dari
hasil pemecahan masalah dan saran-saran yang bermanfaat bagi perusahaan.
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
Sejarah berdirinya PT (Persero) Pelabuhan Indonesia I dimulai sejak
zaman penjajahan Belanda, dimana pada saat itu bernama “Haven Bedriff” dan
nama ini digunakan hingga tahun 1950. Pada tahun 1951 berubah nama menjadi
“Jawatan Pelabuhan” hingga tahun 1956. Kemudian pada tahun 1956 berganti
nama menjadi “Perusahaan Pelabuhan Negara”.
Pada tahun 1961, berdasarkan Peraturan Pemerintah Nomor 128 dirubah
namanya menjadi “Perusahaan Pelabuhan Daerah I”. Pada tahun 1964, sistem
organisasi kepelabuhan dirubah, dimana penguasa pelabuhan adalah Komandan
Pelabuhan yang membawahi Syahbandar dan Perusahaan Negara Pelabuhan.
Kemudian berdasarkan Peraturan Pemerintah Nomor 1 tahun 1969, Penguasa
Pelabuhan berubah namanya menjadi Badan Pengusahaan Pelabuhan (BPP).
Berdasarkan Peraturan Pemerintah Nomor 4 tahun 1985 dibentuk
“Perusahaan Umum Pelabuhan I” yang membawahi pelabuhan-pelabuhan di
Daerah Istimewa Aceh, Propinsi Sumatera Utara, dan Propinsi Riau. Kemudian
berdasarkan Peraturan Pemerintah Nomor 56 tahun 1991 dengan Akte Notaris
Imas Fatimah, SH, Perusahaan Umum Pelabuhan I berubah menjadi “PT.
(Persero) Pelabuhan Indonesia I”.
Terminal Peti Kemas Domestik Belawan Belawan merupakan salah satu
unit pelaksana teknis dari PT. (Persero) Pelabuhan Indonesia I yang melaksanakan
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
II-2
pengusahaan dan pelayanan jasa bongkar muat peti kemas yang berlokasi di
daerah Gabion Belawan.
2013 pada areal hasil pengerukan seluas ± 30 hektar, dan diresmikan
pemakaiannya oleh Presiden Soeharto pada tanggal 17 Maret 2013. Pelayanan
Terminal Peti Kemas Domestik Belawan Belawan dilaksanakan secara bertahap
baik organisasinya maupun tingkat pelayanannya dimulai dengan dibentuknya
organisasi Divisi Terminal Peti Kemas Domestik Belawan di bawah Cabang
Belawan dan mulai beroperasi melayani bongkar muat dengan crane kapal pada
tanggal 10 Februari 2013 dan beroperasi secara penuh sebagai Terminal Peti
Kemas Domestik Belawan setelah dilengkapi 2 unit container crane (alat yang
mengangkut peti kemas dari kapal ke dermaga dan sebaliknya) pada Maret 2013.
Seiring dengan perkembangan permintaan pelayanan peti kemas yang
terus meningkat dan dalam rangka terus berbenah menyongsong pasar bebas serta
tuntutan perkembangan lingkungan internal dan eksternal perusahaan yang
mengharuskan manajemen harus lebih luwes dalam mengambil keputusan,
meningkatkan efektifitas, efisiensi dan peningkatan mutu pelayanan yang
diberikan suatu Terminal Peti Kemas Domestik Belawan, maka dirasakan sangat
mendesak dan perlu untuk dilakukannya suatu perubahan struktur organisasi dan
manajemen, memutus rantai birokrasi, pemberian otonomi yang lebih luas kepada
Terminal Peti Kemas Domestik Belawan.
Berdasarkan Surat Keputusan Direksi PT. (Persero) Pelabuhan Indonesia I
Nomor : OT.09/I/I/PI-98 tanggal 16 Januari 1998 ditetapkan struktur organisasi
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
dan manajemen Unit Usaha Terminal Peti Kemas Domestik Belawan Belawan.
Dengan demikian resmilah Divisi Usaha Terminal Peti Kemas Domestik Belawan
memisahkan diri dari Pelabuhan Cabang Belawan dan berubah status menjadi
pelabuhan cabang atau unit usaha mandiri dari PT. (Persero) Pelabuhan Indonesia
I dengan nama unit Terminal Peti Kemas Domestik Belawan Belawan disingkat
menjadi TPKDB.
Terminal Peti Kemas Domestik Belawan Belawan merupakan salah satu
unit pelaksanaan teknis dari PT. (Persero) Pelabuhan Indonesia I yang
melaksanakan pengusahaan dan pelayanan jasa bongkar muat peti kemas PT.
(Persero) Pelabuhan Indonesia I sendiri merupakan Badan Usaha Milik Negara
(BUMN) yang memiliki kewenangan untuk mengelola pelabuhan umum yang
berada pada 4 (empat) propinsi Nanggroe Aceh Darussalam, Propinsi Sumatera
Utara, Propinsi Kepulauan Riau dan Propinsi Riau. Adapun pelabuhan-pelabuhan
andalan yang diusahakan adalah Pelabuhan Belawan, Dumai, Tanjung Pinang,
Lhokseumawe, Pekanbaru serta Terminal Peti Kemas Domestik Belawan
Belawan.
Sampai dengan tahun 2014 telah ditetapkan oleh direksi PT. (Persero)
Pelabuhan Indonesia I bahwa divisi Terminal Peti Kemas Domestik Belawan
Belawan memisahkan diri dari Pelabuhan Belawan dan memiliki status setingkat
cabang atau unit bisnis yang memiliki nama Unit Usaha Terminal Peti Kemas
Domestik Belawan Belawan, hal ini sesuai dengan perkembangan lingkungan
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
II-4
internal dan eksternal PT. (Persero) Pelabuhan Indonesia I serta tuntutan untuk
meningkatkan efektifitas, efisiensi dan meningkatkan mutu pelayanan yang
diberikan oleh Terminal Peti Kemas Domestik Belawan.
Perkembangan trafik bongkar muat meningkat dari tahun ke tahun.
Perkembangan ini tidak dapat dipisahkan dari kondisi dan potensi hinterlandnya
yang kaya dengan komoditi hasil perkebunan, pertanian, dan industri. Jenis
komoditi domestik dominan melalui Terminal Peti Kemas Domestik Belawan
adalah karet, sayur, kertas, plywood, kayu, dan kopi. Sedangakan untuk impor
(Belawan International Container Terminali) adalah alat mesin, elektronika,
bahan industri, dan makanan ternak.
2.3. Organisasi dan Manajemen
individu yang saling berinteraksi menurut pola terstruktur dengan cara tertentu
sehingga setiap anggota organisasi mempunyai tugas dan fungsi masing-masing,
serta sebagai suatu kesatuan yang mempunyai tujuan tertentu, kemudian
mempunyai batasan-batasan yang jelas sehingga organisasi dapat dipisah secara
tegas dan jelas dengan lingkungannya.
Dalam suatu organisasi dengan segala aktivitasnya, terdapat hubungan
diantara orang-orang yang menjalankan aktivitas tersebut. Makin banyak kegiatan
yang dilakukan dalam suatu organisasi makin komplek pula hubungan-hubungan
yang ada. Untuk itu perlu dibuat suatu bagan yang menggambarkan tentang
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
fungsi. Bagan yang dimaksud dinamakan bagan organisasi atau struktur
organisasi. Struktur organisasi ini menjadi dasar suatu organisasi dalam
melakukan pembagian kekuasaan (authority) dan tanggung jawab (responsibility)
terhadap tiap anggota yang ada dalam suatu organisasi.
Adapun bentuk struktur organisasi PT. (Persero) Pelabuhan Indonesia I
adalah organisasi garis dan staf. Dalam organisasi garis dan staf secara formil
yang berhak memberikan perintah hanyalah pimpinan, sedang staf hanyalah
sebagai pembantu pimpinan dengan tugas perencanaan, memberikan nasehat dan
lain-lain yang serupa dengan itu. Tetapi dalam organisasi yang besar atau
mempunyai ruang lingkup tugas yang luas, beranekaragam dan kompleks, tidak
mungkin lagi bagi seorang pimpinan mengambil keputusan dan perintah dalam
segala hal, oleh karena itu pimpinan mendelegasikan beberapa wewenangnya
kepada staf sesuai bidang pekerjaannya masing-masing. Dalam hal yang demikian
staf menandatangani keputusan, perintah, instruksi dan lain-lain atas nama
pimpinan.
Pada umumnya dalam tipe atau bentuk organisasi garis dan staf, biasanya
staf akan memberikan arahan dan nasehat kepada para pelaksana dalam
melakukan suatu pekerjaan atau pengawasan pekerjaan. Sedangkan staf khusus
memberikan petunjuk-petunjuk teknis pekerjaan menurut bidang dan kemampuan
para pekerja masing-masing, untuk dilaksanakan oleh para pekerja. Pekerja tidak
berhubungan langsung dengan pimpinan melainkan melalui perantara staf yang
telah diberikan wewenang dan tanggung jawab.
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
Adapun bagan struktur organisasi di PT. (Persero) Pelabuhan Indonesia I
yang bertipe garis dan staf dapat dilihat pada Gambar 2.1.
GENERAL
MANAGER
WAKIL
MANAJEMEN
2.3.2. Uraian Tugas dan Tanggung Jawab
Untuk menggerakkan suatu organisasi dibutuhkan personil yang
memegang jabatan dalam organisasi, dimana masing-masing personil mempunyai
tugas dan wewenang serta tanggung jawab yang sesuai dengan jabatannya.
Tanggung jawab yang diberikan harus seimbang dengan wewenang yang
diterima. Adapun tugas dan tanggung jawab untuk masing- masing pada bagian
PT. Pelabuhan Indonesia 1 adalah:
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
mengendalikan operasi kapal dan lapangan, pelayanan operasi CFS serta
pelayanan gate, produksi dan pendapatan, melaksanakan pengembangan usaha
dan promosi, menyiapkan peralatan, mengelola perbengkelan dan instalasi listrik
serta air, keuangan, urusan umum, data dan informasi serta melaksanakan
perencanaan dan pengawasan mutu pelayanan dalam rangka pelaksanaan
manajemen mutu
operasi pelayanan operasi kapal dan lapangan, pelayanan CFS Serta pelayanan
Gate. Manager divisi operasi membawahu dinas-dinas dengan tugas sebagai
berikut:
Dinas perencanaan dan pengembangan operasi mempunyai tugas pokok
melaksanakan perencanaan dan pengendalian kegiatan operasi kapal dan
lapangan, CFS dan melaksanakan administrasi perencanaan dan pengendalian
operasi, supervisi dan evaluasi kegiatan operasi serta kinerja operasi dan
pengendalian operasi, supervisi dan evaluasi kegiatan operasi serta kinerja
operasi.
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
komunikasi dan reefer plug.
3. Manajer Divisi Komersial
administrasi trafik, produksi dan pendapatan pengembangan usaha dan operasi.
Manager divisi komersi membawahi dinas-dinas dengan tugas sebagai berikut:
a. Dinas Administrasi Trafik, Produksi dan Pendapatan
Dinas Administrasi trafik, produksi dan pendapatan mempunyai tugas pokok
melaksanakan verifikasi, penotaan, administrasi lalu lintas head truck, produksi
dan pendapatan.
Dinas pengembangan usaha dan promosi mempunyai tugas pokok
merencanakan dan melaksanakan pengembangan usaha dan promosi
4. Manajer Divisi Teknik
mengendalikan kegiatan perawatan, pengadaan, baik peralatan maupun fasilitas
serta instalasi listrik dan air.
Manajer divisi teknik membahwai dinas-dinas dengan tugas sebagai berikut:
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
perbengkelan.
pengendalian AMDAL (Analisa Mengenai Dampak Lingkungan)
5. Manajer Divisi Keuangan
mengendalikan kegiatan akuntansi keuangan dan perbendaharaan.
Manajer divisi keuangan membawahi dinas-dinas dengan tugas sebagai berikut:
a. Dinas Akuntansi Keuangan
pembukuan biaya dan pendapatan, laporan per segmen, analisis dan evaluasi
biaya per unit kegiatan usaha segmen
b. Dinas Perbendaharaan
penyimpanan surat-surat berharga.
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
Mempunyai tugas pokok merencanakan dan melaksanakan administrasi
umum, tata usaha, rumah tangga, kepegawaian serta urusan hokum dan keamanan.
Manajer divisi umum membawahi dinas-dinas dengan tugas sebagai berikut:
a. Dinas Kepegawaian
administrasi kepegawaian, pengembangan dan pendidikan, kesejahteraan,
kesehatan serta keselamatan kerja karyawan.
b. Dinas tata Usaha dan Rumah Tangga
Dinas tata usaha dan rumah tangga mempunyai tugas pokok melaksanakan dan
mengendalikan administrasi dan perkantoran kerumah tanggaan, pengadaan,
penyaluran, pemeliharaan peralatan kantor dan kendaraan dinas serta
penanganan dan pengkajian masalahan humum serta pengamanan terhadap
daerah kerja.
7. Divisi Pelayanan Kapal
Adapun Tugas dan tanggung jawab divisi pelayanan kapal adalah sebagai berikut:
a. merencanakan, melaksanakan dan mengendalikan pelayanan labuh, tambat,
pemanduan dan penundaan.
8. Divisi Pelayanan terminal
Adapun tugas dan tanggung jawab divisi pelayanan terminal adalah sebagai
berikut:
dengan pihak internal dan eksternal perusahaan.
b. merencanakan, melaksanakan dan mengendalikan kegiatan perencanaan dan
pengendalikan operasi, pelayanan operasi, pelayanan pemadam kebakaran dan
rupa-rupa.
2.3.3. Jam Kerja dan Shift Karyawan
PT. Pelabuhan Indonesia I TPKDB menerapkan 8 jam kerja yang terdiri
dari 3 shift kerja. Adapun pembagian waktu shift kerja karyawan adalah sebagai
berikut :
Tahun 2001 tentang Penyelenggaraan dan Pengusahaan Angkutan Laut, kegiatan
bongkar muat adalah kegiatan bongkar muat barang dari dan/atau ke kapal
meliputi kegiatan pembongkaran barang dari palka kapal ke dermaga di lambung
kapal atau sebaliknya (stevedoring), kegiatan pemindahan barang dari dermaga
dilambung kapal ke gudang lapangan penumpukan atau sebaliknya (cargodoring)
dan kegiatan pengambilan barang dari gudang/lapangan menggunakan truk atau
sebaliknya (receiving/delivery). Kegiatan pelabuhan peti kemas yaitu perpindahan
arus barang angkutan darat ke angkutan laut dengan sistem angkutan full
container dengan kegiatannya antara lain:
1. Peti kemas diangkut oleh angkutan darat (trailer) sampai ke pelabuhan
kemudian peti kemas diangkut dengan container crane diletakkan di
lapangan penumpukan.
2. Peti kemas diangkat dan ditata untuk menunggu kapal pengangkutnya
menggunakan container crane.
3. Setelah kapal pengangkut datang dan siap di dermaga, peti kemas dari
lapangan penumpukan tadi diangkat dengan container crane diletakkan ke
atas head truck (HT) diangkat ke apron dermaga kapal tersebut bersandar.
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
III-2
4. Dengan menggunakan gantry crane, peti kemas diangkat dari HT dan
dimasukkan ke kapal.
5. Setelah barang tersebut diangkut ke kapal, kapal meninggalkan dermaga
menuju Negara atau daerah yang dituju.
3.2. Crane
Crane adalah suatu alat pengangkat dan pemindah material yang bekerja
dengan perinsip kerja tali, crane digunakan untuk angkat muatan secara vertikal
dan gerak kearah horizontal bergerak secara bersama dan menurunkan muatan ke
tempat yang telah ditentukan dengan mekanisme pergerakan crane secara dua
derajat kebebasan. Jenis-jenis crane antara lain:
3.2.1. Crane Stasioner
Crane stasioner yang dapat diputar atau crane putar yang diam ditempat
umumnya merupakan crane yang tetap dengan tiang miring yang dapat berputar
pada sumbu vertikal. Crane jenis ini yang sekarang sangat populer adalah Tower
Crane. Di dalam proyek konstruksi bangunan bertingkat, Tower Crane sangat
cocok dipakai untuk pelayanan bangunan bertingkat (high rise building) untuk
melayani daerah konstruksi sesuai luas lahan. Tower Crane menjadi sentral atau
alat yang paling utama karena dalam proyek gedung bertingkat, Tower Crane
digunakan untuk mengangkat muatan secara horisontal maupun vertikal,
menahannya apabila diperlukan, dan menurunkan muatan ke tempat lain yang
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
pejalan (travelling).
Tower Crane merupakan pesawat pengangkat material/mesin yang biasa
digunakan pada proyek kontruksi. Tower Crane terdiri dari beberapa bagian yang
dapat dibongkar pasang ketika digunakan sehingga mudah untuk dibawa kemana
saja. Tower Crane biasanya diangkut secara terpisah menggunakan kendaraan
(trailer) ke tempat proyek kemudian dipasang kembali di tempat proyek. Dan
pemasangan Tower Crane termasuk cukup lama karena banyak bagian-bagian
yang harus dipasang termasuk pembuatan pondasi Tower Crane.
Gambar 3.2. Tower Crane
Mobile Crane (Truck Crane) adalah crane yang terdapat langsung pada
mobile (Truck) sehingga dapat dibawa langsung pada pada lokasi kerja tampa
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
yang dapat dipasangkan ketika beroperasi, ini dimaksukkan agar ketika beroperasi
crane menjadi seimbang.
pheneumatik (udara) untuk dapat bekerja. Namun secara khusus Hidraulik crane
adalah crane yang biasa digunakan pada perbengkelan dan pergudangan dll, yang
memilki struktur sederhana. Crane ini biasanya diletakkan pada suatu titik dan
tidak untuk dipindah-pindah dan dengan jangkauan tidak terlalu panjang serta
putaran yang hanya 180 derajat. Sehingga biasanya pada suatu
perbengkelan/pergudangan terdapat lebih dari satu Crane.
Gambar 3.4. Hydraulic Crane
berjalan diatas rel khusus yang yang dipasangi pada langit-langit tersebut. Rel-rel
tadi juga dapat bergerak secara maju-mundur pada satu arah.
Gambar 3.5. Hoist Crane
3.2.6. Jip Crane
Jip crane adalah pesawat pengangkat yang terdiri dari berbagai ukuran, jip
crane yang kecil biasanya digunakan pada perbengkelan dan pergudangan untuk
memindahkan barang-barang yang relatif berat. Jip crane memilki sistem kerja
dan mesin yang mirip seperti Hoist Crane dan struktur yang mirip Hidraulik
Crane.
Berikut adalah kriteria berdasarkan jenis risiko pada alat crane dapat
dilihat pada Tabel 3.1.
Jenis Risiko Kriteria Crane
loadchart yang disyaratkan oleh klien atau otoritas setempat
High Risk 1. Pengangkatan melebihi atau sama dengan 75% dari
kapasitas crane sesuai loadchart. Pengangkatan dengan
berat beban 20 ton atau lebih.
2. Pengangkatan dimana crane mengangkat ke atau dari air
(seperti di pelabuhan).
1000 liter.
lifting gear.
melewati plant yang beroperasi
tiang pancang)
menggang-gu operasi crane yang lain.
10. Pengangkatan pada kemiringan pembuatan beton,
pembuatan panel atau pembuatan balok girder/beam
untuk jembatan. Pengangkatan pemancangan pada crane
tower
pengaturan yang tidak standard (gin pole)
12. Pengangkatan menggunakan alat angkat spesial (spreader
lift / spreader beam) Pengangkatan dimana outrigger
crane tidak dapat keluar penuh
Critical Risk 1. Pengangkatan lebih dari 90% dari kapasitas crane sesuai
load chart
3. Pengangkatan dimana crane ditempatkan diatas LCT
/Tongkang
(Jembatan)
adalah sebagai berikut:
a. Crane yang akan digunakan harus memiliki pengesahan pemakaian yang
dikeluarkan oleh kemenakertrans.
c. Perawatan secara berkala harus dilaksanakan sesuai dengan petunjuk
pabrik pembuat.
potensial mobile crane.
b. Memiliki Surat Ijin Operasi (SIO) yang dikeluarkan oleh kemenakertrans.
c. Sehat secara fisik maupun mental
3. Pemilihan Crane :
1) Kondisi permukaan tanah.
3) Bahaya-bahaya potensial yang mungkin terjadi, misal instalasi pipa
bertekanan, kabel listrik TT, dll.
4. Menentukan jenis, kapasitas angkat dan batas-batas kerja crane.
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
Kegiatan Syarat
harus mempunyai permukaan landasan
crane dan berat beban.
rintangan dan lalu lalang orang.
4) Lokasi pengoperasian harus bebas dari
bahaya-bahaya potensial.
Pemeriksaan sebelum
dan harus berfungsi.
(bila tidak dioperasikan dapat dilakukan
perbaikan / penyetelan komponen).
bahan bakar selama engine hidup.
4) Dilarang melakukan service selama engine
jalan.
kabin.
digunakan sewaktu-waktu,periksa secara
sesuai dengan aslinya.
dan fungsi semua control daerah operasi
harus bebas dari lalu lintas orang.
2) Pasang semua penumpu dengan sempurna
dan sepatu diletakkan pada landasan yang
rata. Kemiringan 3º dapat mengurangi
kapasitas crane ≥50%.
dan panjang boom yang tidak tertera pada
daftar beban.
kecepatan angin > 20 MPH.
dengan ujung boom.
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
Kegiatan Syarat
ABA dll) jaraknya harus selalu dijaga
dengan ujung boom pada saat menurunkan
dan memanjangkanuntuk menghindari
blocking).
digunakan untuk pengangkatan awal dari
barang.
lebih dari satu crane, kapasitas crane harus
sama dan gunakan panjang boom yang sama
serta gerakan yang sama. Posisi masing-
masing crane antara boom dan pengikatan
barang harus selalu tegak lurus.
10) Pastikan beban tidak berat sebelah
3.4. Penilaian Risiko (Risk Assessment)
Penilaian risiko (Risk Assessment) adalah langkah penting dalam
melindungi pekerja dan perusahaan, serta mematuhi hukum. Hal ini membantu
fokus pada risiko yang benar-benar masalah di tempat kerja yang memiliki
potensi untuk menyebabkan kerugian yang nyata. Dalam banyak kasus, langkah-
langkah sederhana dapat mudah mengendalikan risiko, misalnya memastikan
keberihan dan penggunaan peralatan sehingga melakukan pekerjaan tidak
tergelincir, atau cidera ketika melaksanakan pekerjaan. Untuk sebagian besar, itu
berarti langkah yang sederhana, mudah dan efektif untuk menjamin aset yang
paling berharga yaitu tenaga kerja yang harus dilindungi.
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
Penilaian risiko adalah pemeriksaan yang cermat dari apa yang terdapat
dalam pekerjaan yang bisa menyebabkan kerugian kepada operator, sehingga
dapat menilai tindakan pencegahan atau harus berbuat lebih banyak untuk
mencegah kerugian. Pekerja dan lain-lain memiliki hak harus dilindungi dari
kerusakan yang disebabkan oleh kecelakaan yang terjadi. Kecelakaan dan
kesehatan yang buruk dapat merusak kehidupan dan mempengaruhi bisnis juga
jika kerugian, mesin rusak, peningkatan biaya asuransi atau harus pergi ke
pengadilan. Secara hukum diperlukan untuk menilai risiko di tempat kerja
sehingga menerapkan pencegahan di tempat rencana untuk mengendalikan risiko.
Bahaya adalah sesuatu yang dapat menyebabkan kerusakan, seperti bahan kimia,
listrik, bekerja dari tangga, dll. Risiko adalah kesempatan tinggi atau rendah,
bahwa seseorang bisa dirugikan dan bahaya lain, bersama dengan indikasi tentang
bagaimana serius kerugian yang bisa terjadi. Langkah-langkah dalam penetapan
risk assessment:
tingkat risiko yang terkait dengan masing-masing. Untuk melakukan ini harus
menentukan konsekuensi potensial dari risiko jika itu terjadi dan potensi
kemungkinan ini terjadi. Berikut kriteria risiko yang mungkin terjadi dapat dilihat
pada Tabel 3.3.
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
Kategori Kriteria
Ringan
2. Sampai dengan empat hari waktu yang hilang dari pekerjaan
3. Jumlah kecil liputan media cetak lokal (< satu minggu)
Sedang
1. Perawatan oleh rumah sakit atau masuk ke rumah sakit
dan/atau empat atau lebih hari waktu hilang dari pekerjaan
2. Liputan media yang negatif terus-menerus dalam liputan
nasional dan internasional
undang
memerlukan perawatan medis atau paramedis (misalnya listrik
insiden dengan tidak ada cedera)
8. Tidak terkendali dari terkena bahan kimia
Berat 1. Gangguan/Cacat permanen (tidak dapat kembali bekerja)
2. Liputan media negatif nasional dan/atau internasional
3. Gangguan jangka menengah untuk kegiatan utama (Minggu)
4. Penyelidikan oleh Badan Pengawas dengan penuntutan,
dilaksanakan usaha dan/atau mungkin tuduhan pidana atau
perdata
6. Tidak terkendali dari kimia berbahaya
Sangat
Berat
4. Jangka panjang penghentian kegiatan utama
5. Penyelidikan mengakibatkan pelanggaran legislatif yang besar
dan tindakan hukum resultan tuntutan pidana, perdata
6. Jangka panjang kerusakan lingkungan yang luas
3.4.1. Rencana Penilaian Risiko Perusahaan
Rencana penilaian yang dilakukan PT. Pelindo I Medan (Persero) yaitu
dengan cara menyediakan tim identifikasi. Tim Identifikasi Bahaya melakukan
identifikasi sumber bahaya dari setiap kegiatan/produk/jasa yang ada, dengan
menggunakan form Identifikasi Bahaya, Penilaian & Pengendalian Risiko.
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
a. Potensi Bahaya adalah menerangkan keadaan/kondisi personel yang tidak
sesuai dengan standar/norma K3 yang berpotensi menimbulkan bahaya.
b. Penyebab maksudnya apa yang menyebabkan potensi bahaya tersebut
terjadinya, yang bisa dikarenakan fasilitas tidak tersedia, keadaan tidak
sesuai standar, kompetensi personel yang kurang atau Prosedur dan
Instruksi Kerja yang tidak tersedia.
c. Kejadian maksudnya kejadian berbahaya yang dapat terjadi akibat
adanya potensi bahaya yang tidak segera diperbaiki.
d. Kerugian/kecelakaan adalah akibat/dampak dari kejadian, baik kerugian
karena rusaknya asset atau kecelakaan/penyakit akibat kerja pada tenaga
kerja.
Konsekuensi/keparahan dan pembobotan untuk kemungkinan terjadi.
b. Dibuat 5 peringkat untuk pembobotan konsekuensi/ keparahan dengan
simbol tingkatan menggunakan angka yaitu 1 sampai 5, kemungkinan
terjadi dibuat 5 tingkatan juga dengan simbol tingkatan menggunakan
abjad yaitu A sampai E.
c. Lalu beri definisi atau batasan dari masing-masing peringkat bobot
tersebut pada form standar definisi pembobotan.
d. Buat matrik antara konsekuensi/keparahan dengan kemungkinan terjadi.
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
adalah nilai risiko yang disesuaikan dengan standart penilaian risiko.
f. Berdasarkan nilai risiko, dibuat 4 kategori risiko yaitu kecil, sedang,
tinggi dan sangat tinggi
3. Penilaian Risiko.
a. Semua kegiatan kerja, pelaksana kerja, alat kerja, dan tempat kerja, di
identifikasi dan dilakukan penilaian terhadap risiko yang mungkin
ditimbulkan.
untuk mempermudah pelaksanaannya dibuat kolom berikutnya setelah
identifikasi bahaya.
c. Dalam penilaian risiko ada beberapa kolom yang terdiri dari :
1) Bobot Konsekuensi/keparahan yaitu bobot nilai yang diberikan
dengan memperkirakan konsekuensi/ keparahan dari
kerugian/kecelakaan yang timbul bila kejadian terjadi, dan bila telah
ada sarana pengendalian bahaya maka berapa prakira
konsekuensi/keparahan yang dapat terjadi bila sarana tersebut saat
ini masih berfungsi dengan baik
2) Bobot Kemungkinan terjadi yaitu bobot nilai yang diberikan dengan
memprakirakan seberapa besar kemungkinan kejadian tersebut dapat
terjadi.
kemungkinan terjadi.
risiko.
d. Setelah semua kolom terisi maka akan diketahui seberapa besar risiko
yang terjadi bila potensi bahaya dibiarkan dan tidak segera diperbaiki.
e. Selain melihat risikonya, maka Tim Identifikasi Bahaya juga melihat
peraturan dan persyaratan K3 yang belum terpenuhi berkaitan dengan
potensi bahaya.
bobot ditempatkan pada kemungkinan terjadinya kecelakaan atau kejadian.
Hazards yang dikatakan fatal jika berdampak yang parah (severe). Studi analisa
resiko dimana Angkatan Udara Amerika Serikat telah menetapkan “Risk
Assessment Codes (RAC)”. Sistem RAC mempertimbangkan 4 level keparahan
Kecelakaan dan 4 level Kemungkinan Kecelakaan, seperti yang ditunjukkan
dalam Tabel 3.4. berikut.
Bobot Kemungkinan Terjadi
Tidak Parah 1 1A 1B 1C 1D 1E
Sedikit Parah 2 2A 2B 2C 2D 2E
Cukup Parah 3 3A 3B 3C 3D 3E
Parah 4 4A 4B 4C 4D 4E
Sangat Parah
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
B: Kemungkinan terjadi kecil
C: Kemungkinan terjadi ada
D: Kemungkinan terjadinya besar
Tingkat keparaha
Nilai Risiko Kategori Risiko
1D,2C,3A,3B Sedang
1E, 2D, 2E, 3C, 4A, 4B, 5A Tinggi
3D, 3E, 4C, 4D, 4E, 5A, 5B, 5C, 5D, 5E Sangat Tinggi
3.6. Bahaya (Hazards)
Menurut L. M. Deshmukh dalam bukunya yang berjudul Industrial Safety
Management: Hazards Indentification and Risk Control, bahaya (hazard) adalah
“A source or situation with potential to cause harm in term of human injury or ill
health, damage to the environment or a combination of these” Hazards berupa
kondisi pasif yang dapat bersal dari dalam ataupun luar sistem, produk, fasilitas
atau proses produksi itu sendiri, dimana ketika terjadi kontak maka akan berubah
menjadi hazards yang berkondisi aktif yang dapat menyebabkan kecelakaan kerja.
Hazards primer atau utama adalah hazards yang biasa secara langsung dan segera
menyebabkan:
3. Degradasi kapabilitas fungsional (terhentinya operasi dalam pabrik).
4. Kerugian material.
Berikut beberpa kategori bahaya (hazards) dalam industry dapat dilihat pada
Tabel 3.6.
No Bahaya Penyebab
1 Bahaya Fisik a. Operator crane bekerja dalam semua kondisi, termasuk
kondisi buruk yaitu ketika hujan maupun sangat panas
b. Paparan radiasi yang kuat
c. Paparan kebisingan dan getaran dari mesin (listrik,
diesel, bensin atau lainnya)
ketinggian.
berat atau besar, dan lantai yang basah)
c. Sengatan listrik yang disebabkan oleh kerusakan
instalasi dan peralatan, atau oleh kontak bahan logam
dengan arus listrik
Potensi bahaya yang mengakibatkan risiko langsung pada keselamatan.
Kategori ini berkaitan dengan masalah atau kejadian yang memiliki potensi
menyebabkan cidera dengan segera. Cidera tersebut biasanya disebabkan oleh
kecelakaan kerja. Ini biasanya terjadi ketika risiko yang tidak dikendalikan dengan
baik. Saat prosedur kerja aman tidak tersedia atau sebaliknya tetapi tidak diikuti.
Faktor-faktor yang berkontribusi terhadap penyebab kecelakaan dapat
dikelompokkan menjadi lima kategori:
1. Faktor manusia: Tindakan-tindakan yang diambil atau tidak diambil, untuk
mengontrol cara kerja yang dilakukan
2. Faktor material: Risiko ledakan, kebakaran dan trauma paparan tak terduga
untuk zat yang sangat beracun, seperti asam
3. Faktor Peralatan: Peralatan, jika tidak terjaga dengan baik, rentan terhadap
kegagalan yang dapat menyebabkan kecelakaan
Sebuah penilaian risiko kerja berfokus pada tugas-tugas pekerjaan sebagai
cara untuk mengidentifikasi bahaya. Mengkaji hubungan antara pekerja, tugas,
alat dan lingkungan kerja. Setelah mengidentifikasi bahaya yang tidak terkendali
penting untuk mengambil langkah langkah untuk menghilangkan atau mengurangi
risiko ke tingkat yang dapat diterima. Pada proyek-proyek konstruksi yang lebih
besar, penilaian risiko kerja dapat disebut Job Hazard Analysis (JHA).
Mengidentifikasi bahaya dan menilai risiko, terlepas dari ruang lingkup atau
beban kerja yang diberikan harus diselesaikan sebelum pekerjaan dimulai.
Dokumen ini menyajikan salah satu cara untuk melakukan penilaian risiko di
tempat kerja. Pimpinan didorong untuk meneliti berbagai metode penilaian risiko
di tempat kerja dan memilih satu yang paling cocok untuk kebutuhan tempat kerja
sesuai dengan lingkungan kerja. Untuk menilai risiko di tempat kerja dan dengan
peralatan, pengguna harus mengikuti empat langkah berikut:
1. Langkah 1: Identifikasi bahaya.
2. Langkah 2: Evaluasi risiko, mengidentifikasi yang mungkin potensi bahaya
dan bagaimana dampak dari bahaya yang terjadi
3. Langkah 3: Tentukan dokumen dan melaksanakan langkah-langkah
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
Orang yang memenuhi syarat harus mampu mengidentifikasi bahaya yang
ada dan yang akan datang dalam lingkungan atau kondisi kerja, dan harus mampu
mengembangkan dan menerapkan sistem penilaian dan dan mengurangi bahay
yang mungkin terjadi. Dalam proses identifikasi bahaya harus melibatkan
karyawan dan seluruh pekerja yang terliat dalam lingkungan kerja. Pekerja
mungkin memiliki informasi yang berguna tentang bagaimana pekerjaan
dilakukan dan memiliki saran untuk tindakan pengendalian yang efektif. Ini akan
membuat penilaian risiko kerja memproses lebih menyeluruh dan efektif.
Pimpinan bertanggung jawab untuk memastikan bahwa Penilaian dilakukan
dengan benar. Disarankan bahwa pimpinan dapat menunjukkan melalui
dokumentasi tertulis:
1. Penilaian risiko kerja yang tepat dibuat.
2. Penilaian risiko kerja dievaluasi yang mungkin akan terpengaruh oleh potensi
bahaya.
keparahan bahaya dan kemungkinan terjadinya.
4. Langkah-langkah pengendalian yang wajar dan risiko yang tersisa (jika ada)
dikurangi ke tingkat yang dapat diterima.
5. Karyawan terlibat dalam proses.
3.7. Kecelakaan Kerja
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
kejadian yang tidak terencana dan tidak terkendali akibat dari suatu
tindakan atau reaksi suatu objek, bahan, orang, atau radiasi yang
mengakibatkan cidera atau kemungkinan akibat lainnya (Sumber:
Heinrich, Petersen, dan Roos, 1980). Menurut (AS/NZS 4801: 2001)
kecelakaan adalah semua kejadian yang tidak direncanakan yang
menyebabkan atau berpotensial menyebabkan cidera, kesakitan, kerusakan
atau kerugian lainnya (Sumber: Standar AS/NZS 4801: 2001). Kecelakaan
kerja menurut Peraturan Menteri Tenaga Kerja No. 03/Men/98 adalah
suatu kejadian yang tidak dikehendaki dan tidak diduga semula yang dapat
menimbulkan korban manusia dan atau harta benda. Sementara menurut
OHSAS 18001:2007 Kecelakaan kerja didefinisikan sebagai kejadian
yang berhubungan dengan pekerjaan yang dapat menyebabkan cidera atau
kesakitan (tergantung dari keparahannya) kejadian kematian atau kejadian
yang dapat menyebabkan kematian. Pengertian ini juga digunakan untuk
kejadian yang dapat menyebabkan kerusakan lingkungan atau yang
berpontensi menyebabkan merusak lingkungan. (Sumber: Standar OHSAS
18001:2007). Berdasarkan beberapa pengertian tersebut di atas, maka
dapat disimpulkan bahwa kecelakaan akibat kerja adalah suatu kejadian
yang tidak diduga, tidak dikehendaki, dan dapat menyebabkan kerugian
baik jiwa maupun harta benda yang terjadi disebabkan oleh pekerjaan atau
pada waktu melaksanakan pekerjaan serta dalam perjalanan berangkat dari
rumah menuju tempat kerja dan pulang ke rumah melalui jalan yang biasa
atau wajar dilalui.
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
Berbagai macam jenis cidera akibat kecelakaan kerja dan tingkat
keparahan yang ditimbulkan membuat perusahaan melakukan
pengklasifikasian jenis cidera akibat kecelakaan. Tujuan pengklasifikasian
ini adalah untuk pencatatan dan pelaporan statistik kecelakaan kerja.
Banyak standar referensi penerapan yang digunakan berbagai oleh
perusahaan, salah satunya adalah standar Australia AS 1885 1 (1990).
Berikut ini adalah pengelompokan jenis cidera dan keparahannya yang
digunakan di Queensland yakni salah satu Negara bagian di Australia,
pengelompokan tersebut dibagi menjadi:
1. Cidera fatal (Fatality)
akibat kerja
2. Cidera yang menyebabkan hilang waktu kerja (Loss Time Injury)
Adalah suatu kejadian yang menyebabkan kematian, cacat
permanen atau kehilangan hari kerja selama satu hari kerja atau
lebih. Hari pada saat kecelakaan kerja tersebut terjadi tidak
dihitung sebagai kehilangan hari kerja.
3. Cidera yang menyebabkan kehilangan hari kerja (Loss Time Day)
Adalah semua jadwal masuk kerja yang mana karyawan tidak bisa
masuk kerja karena cidera, tetapi tidak termasuk hari saat terjadi
kecelakaan. Juga termasuk hilang hari kerja karena cidera yang
kambuh dari periode sebelumnya. Kehilangan hari kerja juga termasuk
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
III-21
hari pada saat kerja alternatif setelah kembali ke tempat kerja. Cidera
fatal di hitung sebagai 220 kehilangan hari kerja dimulai dengan hari
kerja pada saat kejadian tersebut terjadi.
4. Tidak mampu bekerja atau cidera dengan kerja terbatas (Restricted duty)
Adalah jumlah hari kerja karyawan yang tidak mampu untuk
mengerjakan pekerjaan rutinnya dan ditempatkan pada pekerjaan lain
sementara atau yang sudah di modifikasi. Pekerjaan alternatif termasuk
perubahan lingungan kerja pola atau jadwal kerja.
5. Cidera dirawat di rumah sakit (Medical Treatment Injury)
Kecelakaan kerja ini tidak termasuk cidera hilang waktu kerja, tetapi
kecelakaan kerja yang ditangani oleh dokter, perawat atau orang yang
memiliki kualifikasi untuk memberikan pertolongan pada kecelakaan.
6. Cidera ringan (First Aid Injury)
Adalah cidera ringan akibat kecelakaan kerja yang diatangani
menggunakan alat pertolongan pertama pada kecelakaan setempat,
contoh luka lecet, mata kemasukan debu dan lain-lain.
7. Kecelakaan yang tidak menimbulkan cidera (Non Injury Incident)
Adalah suatu kejadian yang potensial, yang dapat menyebabkan
kecelakaan kerja atau penyakit akibat kerja kecuali kebakaran,
peledakan dan bahaya pembuangan limbah.
3.8. Perhitungan Tingkat Kehilangan/Kerugian (Loss Rate) Kerja
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
dengan proses produksi, kerugian yang timbul dapat pula berupa gangguan
proses produksi dan penurunan profit. Sementara itu, kerugian yang dapat
timbul pada manusia dapat berupa injury maupun kesakitan, seperti gangguan
mental, saraf, atau efek sistemik akibat pajanan (ANSI Z16.2.1962, Rev.1962
dalam Bird dan Germain (1990)). Kerugian yang timbul sebagai akibat
kecelakaan bervariasi, mulai dari kerugian yang tidak signifikan hingga
kerugian besar yang menimbulkan kematian pekerja. Bird dan Germain (1990),
tipe dan tingkat kerugian yang terjadi tergantung pada kondisi serta tindakan-
tindakan yang telah dilakukan untuk meminimalisasi kerugian yang timbul.
Dalam hal ini, upaya meminimalisasi kerugian yang dapat dilakukan
diantaranya pertolongan pertama yang memadai dan medical care, upaya
pemadaman kebakaran yang cepat dan efektif, perbaikan perlengkapan dan
fasilitas yang rusak, penanganan keadaan darurat yang efisien, serta
rehabilitasi yang efektif agar pekerja dapat kembali bekerja dalam kondisi
baik. Untuk mencegah terjadinya kecelakaan dan meminimalisasi kerugian
yang muncul, sangatlah perlu untuk memperhatikan aspek manusia sebagai
pelaku kegiatan produksi di tempat kerja. Menurut (Mubarak,2007) menyatakan
bahwa kehilangan adalah situasi aktual atau potensial ketika sesuatu (orang atau
objek) yang dihargai telah berubah, tidak ada lagi atau menghilang. Dalam
perhitungan loss rate kerja, perhitungan dilakukan dengan menggunakan tiga
parameter. Adapun tiga parameter tersebut sebagai berikut:
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
Tabel 3.7. berikut.
Konsekuensi/Keparahan Definisi/Batasan
pengendalian bahaya yang ada berfungsi dengan baik.
Sedikit Parah
kepala. Korban tidak terluka parah karena
pengendalian bahaya yang ada berfungsi dengan baik
Cukup Parah Luka tergores cukup dalam, terbakar ringan, terkilir
serius, korban panik, sesak nafas.
Parah
gegar otak, terkilir serius, patah tulang ringan, tuli,
sakit/radang kulit, asma, shock berat, cidera tulang
belakang yang serius, cacat minor permanen.
Sangat Parah Sekali
penyakit fatal akut, kematian.
2. Tingkat Kerugian Materil
3.8. berikut.
Konsekuensi/Keparahan Definisi/Batasan
pengendalian bahaya yang ada berfungsi dengan baik.
Sedikit Parah
5 Juta karena pengendalian bahaya yang ada berfungsi
dengan baik.
Cukup Parah Aset rusak ringan/kerugian Rp. 5 Juta < X < 25 Juta.
Parah Aset rusak sedang / kerugian Rp 25 Juta < X < Rp 50
Juta.
juta < X < Rp. 100 juta .
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
bersifat (spesifik), penentuan kebijakan pemerintah atas praktek-praktek
perusahaan di tempat-tempat kerja dan pelaksanaan melalui surat panggilan,
denda dan hukuman-hukuman lain. Secara filosofis, Kesehatan dan Keselamatan
Kerja (K3) diartikan sebagai suatu pemikiran dan upaya untuk menjamin
keutuhan jasmani maupun rohani tenaga kerja, pada khususnya, dan manusia pada
umumnya, hasil karya dan budaya menuju masyarakat adil dan makmur.
Sedangkan secara keilmuan K3 diartikan sebagai suatu ilmu pengetahuan dan
penerapannya dalam usaha mencegah kemungkinan terjadinya kecelakaan dan
penyakit akibat kerja. Keselamatan kerja merupakan sarana utama untuk
pencegahan kecelakaan seperti cacat dan kematian akibat kecelakaan kerja.
Keselamatan kerja dalam hubungannya dengan perlindungan tenaga kerja adalah
salah satu segi penting dari perlindungan tenaga kerja. (Suma’mur, 1992).
Keselamatan kerja yang dilaksanakan sebaik-baiknya akan membawa iklim yang
aman dan tenang dalam bekerja sehingga sangat membantu hubungan kerja dan
manajemen. (Suma’mur, 1992). Pengertian keselamatan dan kesehatan kerja
menurut Keputusan Menteri Tenaga Kerja R.I. No. Kep. 463/MEN/1993 adalah
keselamatan dan kesehatan kerja adalah upaya perlindungan yang ditujukan agar
tenaga kerja dan orang lainnya di tempat kerja /perusahaan selalu dalam keadaan
selamat dan sehat, serta agar setiap sumber produksi dapat digunakan secara aman
dan efisien.
1. Perencanaan
mempengaruhi keselamatan dan produksi juga tingkat perencanaan lokasi,
fasilitas untuk produksi dan untuk menyimpan material dan peralatan lantai,
penerangan, ventilasi dan pencegahan kebakaran. Masalah keselamatan kerja
harus benar benar diperhatikan pada waktu perencanaan dan bukan dipikirkan
kemudian sesudah perusahaan berdiri. Maka dari itu ahli keselamatan kerja harus
sudah ikut aktif dalam fase perencanaan. Adanya masukan-masukan dari
pengawasan kerja sangat membantu. Prinsip-prinsip yang biasanya dapat diikuti
oleh seseorang pimpinan perusahaan dalam perencanaan dan efisiensi produksi
seperti menyediakan tempat yang luas bagi mesin dan peralatannya, menciptakan
keadaan aman untuk bekerja.
2. Pakaian kerja
Pakaian kerja termasuk alas kaki sering kali tak memadai untuk melakukan
pekerjaan. Tenaga kerja kadang-kadang bekerja dan berpakaian tua yang sudah
tidak layak pakai. Keadaan ini merugikan dilihat dari keselamatan juga
menunjukan suatu mutu kehidupan yang rendah. Jika pakaian kerja mungkin cepat
rusak karena pekerjaan yang berat, keadaan udara lembab dan pekerjaan penuh
kotoran, pengusaha harus menyediakan jenis pakaian yang cocok, pemakaian alas
kaki juga harus diperhatikan karena pemakaian alas kaki yang salah seperti
berhak tinggi dan licin akan mengakibatkan terpeleset atau terjadinya kecelakaan.
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
III-26
Dan alas kaki dan pakaian harus dibuat senyaman mungkin untuk tenaga kerja.
Dalam hal penetapan pemilihan atau penggunaan pakaian kerja, perlu
diperhatikan faktor-faktor dibawah ini:
sebesar mungkin.
b. Pakaian kerja harus pas betul tanpa bagian-bagian atau tali yang longgar dan
kantong. Jika ada haruslah sedikit mungkin jumlahnya dan sedikit mungkin
ukurannya.
c. Pakaian longgar atau sobek dan kunci berantai atau arloji berantai tidak boleh
dipakai di dekat bagian-bagian mesin yang bergerak.
d. Pakaian berlengan pendek lebih baik dari pakaian berlengan panjang yang di
gulung lengannya keatas.
e. Benda-benda tajam atau runcing, bahan-bahan eksplosif atau cairan- cairan
yang dapat terbakar tidak boleh dibawa dalam kantong pakaian.
f. Pekerja yang meghadapi debu-debu yang dapat terbakar, eksplosif atau
beracun tidak boleh memakai baju berkantong, memiliki lipatan- lipatan,
dan lain-lain yang mungkin menjadi tempat berkumpulnya debu.
3. Peralatan perlindungan diri
Peralatan perlindungan diri sangat dibutuhkan agar kejadian kecelakaan kerja
tidak terjadi. Dan beberapa kriteria dasar yang harus dipenuhi oleh semua jenis
peralatan perlindungan, mungkin hanya dua yang penting, yaitu:
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
a. Apapun sifat bahayanya, peralatan atau pakaian harus memberikan cukup
perlindungan terhadap bahaya tersebut.
b. Peralatan atau pakaian tersebut harus ringan dipakainya dan awet, dan
membuat rasa kurang nyaman sekecil mungkin, tetapi memungkinkan
mobilitas, penglihatan dan sebagainya maksimum. Peralatan perlindungan ini
dapat berupa:
2) Alas kaki pengaman
a. Kesilauan langsung.
c. Bayang-bayang gelap.
e. Ventilasi dan pengaturan suhu
Ventilasi merupakan suatu cara meniadakan debu-debu yang eksplosif
seperti debu serbuk kayu di udara. Uap-uap diudara dapat diturunkan
kadarnya sampai batas aman oleh ventilasi umum atau dapat mencegah
terjadinya keadaan terlalu panas atau terlalu dingin sehingga pekerja
f. Kebisingan
pada daya kerja adalah timbulnya gangguan pada konsentrasi sehingga
dapat menyebabkan kecelakaan.
International Labour Office (1989), kecelakaan merupakan
kejadian yang tidak terencana dan terkontrol, yang disebabkan oleh
manusia, situasi/ faktor lingkungan, atau kombinasi dari faktor-faktor
tersebut yang mengganggu proses kerja, yang dapat (ataupun tidak)
menimbulkan injury, kesakitan, kematian, kerusakan properti, atau
kejadian yang tidak diinginkan. Menurut OHSAS 180001 : 2007, incident
didefinisikan sebagai kejadian yang terkait pekerjaan, dimana suatu
cidera, sakit (terlepas dari tingkat keparahannya), atau kematian terjadi,
atau mungkin dapat terjadi.
a. Kecelakaan langsung.
b. Kecelakaan tak langsung.
mesin cepat rusak, lingkungan tercemar.
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
jauh dibawa ke Poliklinik.
b. Kecelakaan sedang
Korban biasanya dibawa ke Poliklinik setelah itu jika perlu diberi waktu
untuk istirahat.
c. Kecelakaan berat
Korban dibawa ke Rumah Sakit yang telah bekerja sama dan paling
dekat dengan perusahaan.
yang diakibatkannya.
(1962) adalah sebagi berikut:
a. Terjatuh.
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
i. Jenis-jenis termasuk kecelakaan yang belum masuk klasifikasi tersebut.
2. Klasifikasi menurut penyebab.
Tabel 3.9.
No Klasifikasi
2. Mesin penyalur.
4. Mesin-mesin pengolah kayu.
2 Berdasarkan
alat angkat
dan angkut
2. Alat angkutan di atas rel.
3. Alat angkutan yang beroda kecuali kereta api.
4. Alat angkutan udara.
5. Alat angkutan air.
6. Alat-alat angkutan lain.
2. Dapur pembakar dan pemanas.
3. Instalasi pendingin.
dikecualikan alat-alat listrik (tangan).
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
No Klasifikasi Jenis
5. Amputasi
12. Mati lemas.
16. Lain-lain.
mengakibatkan kecelakaan dan menyatakan bagaimana suatu benda atau zat
sebagai penyebab kecelakaan menyebabkan terjadinya kecelakaan, sehingga
sering dipandang sebagai kunci bagi penyelidikan sebab lebih lanjut.
Klasifikasi kecelakaan berguna untuk menemukan sebab-sebab
kecelakaan. Upaya untuk mencari sebab kecelakaan dapat dilakukan dengan
analisa kecelakaan. Analisa kecelakaan tidak mudah, oleh karena penentuan
sebab-sebab kecelakaan secara tepat adalah pekerjaan sulit. Kalsifikasi kecelakaan
yang bersifat jamak adalah pencerminan kenyataan bahwa kecelakaan akibat kerja
jarang sekali disebabkan oeh suatu, melainkan berbagai faktor.
3.9.4. Faktor-faktor Penyebab Kecelakaan Kerja
Salah satu penyebab kecelakaan kerja adalah lingkungan atau tingkah laku
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
III-32
pekerja, dimana terdapat kondisi yang tidak aman atau tindakan pekerja yang
tidak sesuai standar. Studi yang telah dilakukan untuk mengetahui situasi apa saja
yang dapat mengakibatkan kecelakaan, maka hasilnya memperlihatkan bahwa
frekuensi kecelakaan bervariasi berdasarkan pada faktor pekerja, jadwal kerja,
situasi sosial, faktor pekerjaan lainnya. Sehingga faktor-faktor penyebab
kecelakaan kerja dapat digolongkan menjadi empat bagian yaitu:
1. Faktor Manusia
membutuhkan penanganan yang khusus ditinjau dari aspek tenaga,
keluwesan, ketahanan, fisik dan mental serta aspek psikologi dan aspek
sosial dan moral. Faktor manusia dalam kecelakaan merupakan konsepsi
klasik dalam usaha keselamatan kerja. Adapun faktor yang menjadi penyebab
kecelakaan kerja dari manusia antara lain:
a. Kurangnya pengetahuan dan keterampilan dalam bekerja.
b. Gangguan psikologis seperti kebosanan, jenuh, benci dan tidak bergairah.
c. Usia pengalaman.
e. Sikap kerja yang tidak baik sehingga menimbulkan kelelahan,
membosankan dan kelainan fisik.
mengganggu dan sebagainya.
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
mengalami eksploitasi yang berlebihan, serta dapat menimbulkan akses
negatif dan dapat pula menimbulkan penyakit. Faktor yang menyebabkan
terjadinya kecelakaan pada lingkungan kerja antara lain:
1) Kebisingan.
3) Suhu dan kelembaban yang tidak baik.
4) Tata ruang yang tidak terencana dengan baik.
5) Penerangan kurang cukup
Sistem kerja mesin dan peralatan merupakan pusat perhatian dalam
menghasilkan tingkat kerja yang diinginkan. Dalam operasinya tidak
jarang mesin danperalatan merupakan potensi yang dapat menimbulkan
kecelakaan. Keamanan dimulai dengan keamanan alat, keamanan mesin,
keamanan proses dan keamanan lingkungan bukanlah suatu hal yang
menjadi salah satu pertimbangan, tetapi pengamanan mekanik dan
perbaikan rekayasa teknik adalah merupakan faktor penting dalam
pencegahan kecelaakaan. Faktor-faktor yang menjadi penyebab
kecelakaan kerja dari mesin dan peralatan antara lain:
a) Tidak tersedianya sarana keselamatan kerja pada mesin.
b) Tidak tersedianya peralatan perlindungan diri.
c) Mesin, peralatan dan perlengkapan kerja tidak terawat dengan baik.
d) Letak mesin dan peralatan tidak teratur.
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
Dalam suatu tempat kerja bahan merupakan benda yang menjadi pusat
pengerjaan atau pengolahan. Dalam setiap industri maka bahan yang
harus diolah dalam beraneka ragam dalam sifat fisik dan kimia. Untuk
jenis bahan yang berbeda memerlukan penanganan yang berbeda pula.
Dalam hal ini diperlukan perancangan alat material handling
(penanganan material) yang sesuai dengan sifat fisik dan kimianya.
8) Faktor tata cara kerja
Faktor yang menyebabkan terjadinya kecelakaan antara lain :
a. Prosedur kerja yang kurang baik.
b. Sikap kerja yang tidak baik.
c. Tidak mengikuti aturan atau prosedur kerja yang aman.
d. Prosedur kerja yang sulit dilakukan.
3.9.5. Pencegahan-pencegahan Kecelakaan Kerja
Menurut Anton, Thomas J (1989) pada bukunya Occupational Safety and
Health Management menyatakan bahwa mencegah kecelakaan kerja,
merupakan upaya yang paling baik, bila dibandingkan dengan upaya lainnya.
Kecelakaan akibat kerja dapat dicegah dengan:
1. Peraturan perundangan, yaitu ketentuan-ketentuan yang diwajibkan
mengenai kondisi kerja umumnya, perencanaan, konstruksi, perawatan dan
pemeliharaan, pengawasan dan sebagainya.
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
4. Riset medis, tentang pengaruh fisiologis dan patologis lingkungan, dan
keadaan fisik lain mengakibatkan kecelakaan.
5. Penelitian psikologis, penyelidikan tentang pola kejiwaan yang
menyebabkan terjadinya kecelakaan.
sebab kecelakaan, mengenai siapa saja dan lain-lain.
7. Pendidikan, khususnya di bidang keselamatan kerja
8. Penelitian bersifat teknik, meliputi sifat dan ciri bahan berbahaya, pengujian
alat pelindung, penelitian tentang peledakan, desain peralatan dan
sebagainya.
antara lain bagi pekerja baru.
10. Penggairahan, yakni penggunaan berbagai cara penyuluhan atau pendekatan
lain untuk menumbuhkan sikap selamat.
11. Asuransi, berupa insentif finansial, dalam bentuk pengurangan biaya
premi, jika keselamatan kerjanya baik.
12. Upaya lain di tingkat perusahaan, yang merupakan ukuran utama efektif
atau tidaknya penerapan keselamatan kerja.
Upaya pencegahan perlu dilakukan pula dalam mencegah terjadinya penyakit
akibat kerja, antara lain berupa:
1. Identifikasi bahaya kesehatan di tempat kerja, yakni untuk mendeteksi
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
2. Evaluasi bahaya kesehatan, melalui pemantulan lingkungan kerja dan
pengujian biomedis, antara lain melalui pengambilan contoh udara di ruang
kerja, pemeriksaan darah dan sebagainya.
3. Pengendalian bahaya kesehatan, baik pada sumber bahaya, media
perantara, maupun pada pekerjanya sendiri.
4. Pemeriksaan kesehatan awal, berkala maupun khusus, untuk mengetahui
kondisi kesehatan pekerja dan menilai pengaruh pekerjaan pada kesehatannya
5. Tindakan teknis, berupa perbaikan ventilasi, penerapan isolasi substitusi dan
sebagainya.
6. Penggunaan alat pelindung diri, misalnya masker, sarung tangan, tutup
telinga, kaca mata dan sebagainya.
7. Penerangan, pendidikan, tentang kesehatan dan keselamatan kerja
3.10. Pengendalian Kecelakaan akibat bahaya pada Container Crane
Menurut lembar informasi (2015) tentang bahaya yang terjadi pada
pengoprasian container crane di pelabuhan terjadi berbagai macam kecelakaan
dan cara pengendalian yang harus dilakukan. Berikut jenis-jenis bahaya dan
pengendalian yang sering terjadi pada container crane di pelabuhan antara lain
sebagai berikut:
pemangkasan, terpal dan wadah memukul, mengamankan beban, mengakses
kapal, bekerja di kapal atau bekerja pada mesin-mesin berat.
1. Perlindungan harus di tempat pada semua terbuka tepi mana ada risiko jatuh
dari ketinggian.
2. Terjatuh melalui bukan di memegang atau dari kargo harus dicegah.
3. Semua akses atau hukuman "cambuk" kandang harus tepat dilindungi dengan
penjaga rel dan papan kaki dan memiliki kuat gerbang atau pintu.
4. Didokumentasikan petunjuk untuk penggunaan yang aman mereka harus
tersedia. Sedapat mungkin, menghindari kebutuhan untuk orang-orang
5. Tindakan tepat dan aman sistem kerja harus di tempat untuk mencegah jatuh
dari ketinggian dan memastikan kepatuhan terhadap Bagian 4 keselamatan,
Kesehatan dan kesejahteraan di tempat kerja.
3.10.2. Jatuh Tertimpa Benda
Sementara melaksanakan operasi bongkar muat dan susun dan sambil
menyimpan barang ada risiko benda terjatuh. Peti kemas mungkin longgar dan
salah atau buruk tersampir atau ditumpuk. Fitting dan perlengkapan yang
digunakan selama proses pemindahan dapat terjatuh. Beban atau objek mungkin
runtuh atau jatuh menjadi tidak stabil selama transportasi atau bongkar dimuat.
1. Menerapkan sistem kerja yang aman di tempat untuk memastikan bahwa
container crane dapat mengangkat dengan aman.
2. Semua mengamankan peralatan, seperti twistlocks dan memukul Bar, harus
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
memadai diperiksa dan dipelihara.
3. Beban harus tepat aman terutama sela