analisis penilaian kewajaran saldo piutang (studi

of 31/31
ANALISIS PENILAIAN KEWAJARAN SALDO PIUTANG (STUDI KASUS PADA KOPERASI KARYAWAN XYZ) ABSTRAK Oleh: WENDRA MARTHA NPM : 0811031058 Tlpn : 085269467876 Email : [email protected] Pembimbing I : Drs. A. Zubaidi Indra, M.M., C.P.A. Pembimbing II : Harsono Edwin Puspita, S.E., M.Si. Tujuan penelitian ini adalah untuk menilai kewajaran saldo piutang yang tercantum dalam neraca per 31 Desember 2010, dan untuk menilai keefektivitasan internal control piutang. Penelitian ini dilakukan terhadap satu salah koperasi karyawan yang dimiliki PT. PLN (Persero) Tbk., yaitu pada Koperasi Karyawan XYZ. Data-data yang digunakan adalah gambaran umum koperasi, laporan sisa hasil usaha dan neraca per 31 Desember 2010, faktur-faktur penjualan dan pinjaman, data-data terkait lainnya selama satu tahun (Januari-Desember 2010) serta daftar anggota dan debitur. Dari hasil pengujian dan perhitungan yang dilakukan peneliti atas nilai piutang pada Koperasi Karyawan XYZ dengan menggunakan metode statistikal sampling, maka disimpulkan bahwa dari pembagian kuesioner atas sistem pengendalian intern piutang, serta observasi langsung oleh penulis dan analisis dengan menggunakan sistem tabulasi dengan attribute sampling diperoleh hasil bahwa sistem pengendalian internal control piutang pada Koperasi Karyawan XYZ telah berjalan dengan baik. Dengan menggunakan prosedur variabel sampling dalam melakukan pengujian terhadap saldo piutang pada Koperasi Karyawan XYZ diperoleh bahwa saldo piutang yang tercantum dalam neraca sudah sewajarnya. Hal ini dikarenakan setelah dilakukan perhitungan, saldo piutang yang tercantum dalam neraca sebesar Rp 1.396.835.456,00 berada di dalam interval presisi dan selisih antara saldo piutang dengan nilai audit adalah sebesar Rp 186.191.972,36 berada dibawah tingkat taksiran kekeliruan maksimum yang dianggap material dalam populasi, yaitu sebesar Rp 189.205.128,48. Kata kunci: internal control, kewajaran, statistikal sampling, attribute sampling, variabel sampling, dan piutang.

Post on 20-Jan-2017

226 views

Category:

Documents

1 download

Embed Size (px)

TRANSCRIPT

  • ANALISIS PENILAIAN KEWAJARAN SALDO PIUTANG

    (STUDI KASUS PADA KOPERASI KARYAWAN XYZ)

    ABSTRAK

    Oleh:

    WENDRA MARTHA

    NPM : 0811031058

    Tlpn : 085269467876

    Email : [email protected]

    Pembimbing I : Drs. A. Zubaidi Indra, M.M., C.P.A.

    Pembimbing II : Harsono Edwin Puspita, S.E., M.Si.

    Tujuan penelitian ini adalah untuk menilai kewajaran saldo piutang yang

    tercantum dalam neraca per 31 Desember 2010, dan untuk menilai keefektivitasan

    internal control piutang. Penelitian ini dilakukan terhadap satu salah koperasi

    karyawan yang dimiliki PT. PLN (Persero) Tbk., yaitu pada Koperasi Karyawan

    XYZ. Data-data yang digunakan adalah gambaran umum koperasi, laporan sisa

    hasil usaha dan neraca per 31 Desember 2010, faktur-faktur penjualan dan

    pinjaman, data-data terkait lainnya selama satu tahun (Januari-Desember 2010)

    serta daftar anggota dan debitur.

    Dari hasil pengujian dan perhitungan yang dilakukan peneliti atas nilai

    piutang pada Koperasi Karyawan XYZ dengan menggunakan metode statistikal

    sampling, maka disimpulkan bahwa dari pembagian kuesioner atas sistem

    pengendalian intern piutang, serta observasi langsung oleh penulis dan analisis

    dengan menggunakan sistem tabulasi dengan attribute sampling diperoleh hasil

    bahwa sistem pengendalian internal control piutang pada Koperasi Karyawan

    XYZ telah berjalan dengan baik.

    Dengan menggunakan prosedur variabel sampling dalam melakukan

    pengujian terhadap saldo piutang pada Koperasi Karyawan XYZ diperoleh bahwa

    saldo piutang yang tercantum dalam neraca sudah sewajarnya. Hal ini dikarenakan

    setelah dilakukan perhitungan, saldo piutang yang tercantum dalam neraca sebesar

    Rp 1.396.835.456,00 berada di dalam interval presisi dan selisih antara saldo

    piutang dengan nilai audit adalah sebesar Rp 186.191.972,36 berada dibawah

    tingkat taksiran kekeliruan maksimum yang dianggap material dalam populasi,

    yaitu sebesar Rp 189.205.128,48.

    Kata kunci: internal control, kewajaran, statistikal sampling, attribute sampling,

    variabel sampling, dan piutang.

  • ANALYSIS ASSESSMENT OF ACCOUNT RECEIVABLES FAIRNESS

    (CASE STUDY ON KOPERASI KARYAWAN XYZ)

    ABSTRACT

    By:

    WENDRA MARTHA

    NPM : 0811031058

    Tlpn : 085269467876

    Email : [email protected]

    Pembimbing I : Drs. A. Zubaidi Indra, M.M., C.P.A.

    Pembimbing II : Harsono Edwin Puspita, S.E., M.Si.

    The purpose of this study is to assess the fairness of account receivables is

    included in the balance sheet as of December 31, 2010, and to assess the

    effectiveness of internal control of account receivables. The research was

    conducted on a cooperative employee owned one PT. PLN (Persero) Tbk.,

    Koperasi Karyawan XYZ. The data used is an overview of the cooperative, the

    report of net income and balance sheet as of December 31, 2010, sales invoice and

    loans, other relevant data for one year (January to December 2010) as well as a

    list of members and borrowers.

    From test results and calculations on the account receivables at Koperasi

    Karyawan XYZ by using statistical sampling methods, can be concluded from the

    distribution of questionnaires for internal control systems of account receivables

    and direct observation by the author and also the analysis by using attribute

    sampling system with a tabulation system. The results that internal control system

    of account receivables at Koperasi Karyawan XYZ have been going well.

    By using variable sampling procedures in a test of account receivables on

    Koperasi Karyawan XYZ, that the amounts listed in the balance sheet had been

    already fair. This is because after the calculations, the account receivables on the

    balance sheet is Rp 1.396.835.456,00 which is in the interval precision, and the

    difference between on the account receivables and audit value is Rp

    186.191.972,36 which is to be below the estimated maximum error in the

    population considered to be material, Rp 189.205.128,48.

    Key words: Internal control, fairness, statistical sampling, attribute sampling,

    variable sampling, and account receivables.

  • BAB 1

    PENDAHULUAN

    1.1 Latar Belakang

    Pada kegiatan pinjaman dan kegiatan penjualan kredit pada koperasi, umumnya

    terdapat tenggang waktu antara saat penyerahan barang atau jasa dengan

    penerimaan pembayaran, dimana akan disertai dengan syarat-syarat kredit yang

    telah ditetapkan oleh koperasi. Penjualan secara kredit dan pinjaman kepada

    anggota merupakan suatu upaya untuk meningkatkan efektivitas dan efisiensi

    koperasi dalam pemanfaatan sumber daya yang ada, karena dengan penjualan dan

    pinjaman yang semakin meningkat, diharapkan laba juga akan meningkat. Dalam

    penjualan kredit dan kegiatan pinjaman dari anggota, saat penyerahan barang atau

    jasa, koperasi menerima tanda bukti penerimaan barang atau jasa dari pembeli

    ataupun anggota yang sekaligus merupakan pernyataan untuk melakukan

    pembayaran di kemudian hari. Bukti inilah yang menimbulkan piutang dari pihak

    penjual (Saputri, 2012).

    Koperasi sudah seharusnya menjaga keefektivitasan dalam mengelola piutangnya.

    Sebab, apabila terjadi sedikit saja kesalahan dalam pencatatan piutang, maka akan

    berakibat buruk terhadap kinerja yang dikelola oleh koperasi tersebut.

    Untuk itu perlu adanya akuntan publik, akuntan publik dalam tugasnya sebagai

    auditor akan memberikan jasa kepada kliennya. Jasa yang diberikan berupa jasa

    atestasi kepada kliennya mengenai kewajaran dari laporan keuangan sebuah

    entitas bisnis. Jasa atestasi menurut Mulyadi (2002:5) terdiri atas auditing,

    pemeriksaan, review, dan prosedur yang disepakati. Pada auditing,auditor

    menerbitkan laporan tertulis berisi pendapat atau opininya mengenai apakah

    laporan keuangan historis tersebut telah disusun berdasarkan prinsip-prinsip

    akuntansi yang berlaku secara umum. Dalam pemeriksaan, auditor diminta oleh

    klien melakukan pemeriksaan terhadap informasi keuangan profekstif dan

    pemeriksaan atas pengendalian internal control yang telah diterapkan.

    Pada pengendalian internal control meliputi struktur organisasi, metode dan

    ukuran-ukuran yang dikoordinasikan untuk menjaga kekayaan organisasi,

  • mengecek ketelitian, dan keandalan data akuntansi. Seorang auditor harus

    mendokumentasikan pemahamannya tentang komponen pengendalian intern suatu

    entitas yang diperoleh untuk merencanakan audit. Dalam hal review, auditor

    meminta keterangan dan prosedur analitis terhadap informasi keuangan dengan

    tujuan menyakini informasi keuangan tersebut (Saputri, 2012).

    Menurut Agoes (2004:99) dalam melakukan pemeriksaan, akuntan publik

    biasanya tidak memeriksa keseluruhan transaksi dan bukti-bukti yang terdapat

    dalam perusahaan. Karena kalau seluruhnya diperiksa, tentunya akan memerlukan

    waktu yang sangat lama dan memakan biaya besar.

    Menurut Halim (2008:269) ada dua pendekatan umum dalam sampling audit yang

    dapat dipilih auditor untuk memperoleh bukti yang kompeten yang cukup. Kedua

    pendekatan tersebut adalah sampling statistik dan non sampling statistik. Kedua

    pendekatan tersebut apabila diterapkan sebagaimana mestinya akan menghasilkan

    bukti audit yang cukup. Kedua pendekatan tersebut mengharuskan auditor

    menggunakan pertimbangan profesionalnya dalam perencanaan, pelaksanaan

    rencana sampling, dan pengevaluasian hasil sampling, serta dalam

    menghubungkan bukti audit yang dihasilkan dari sampel dengan bukti audit lain

    dalam penarikan kesimpulan atas saldo akun kelompok transaksi yang berkaitan.

    Menurut Mulyadi (2002:253) dalam statistikal sampling, auditor memilih anggota

    sampel secara acak dari seluruh anggota populasi, dan menganalisis hasil

    pemeriksaan terhadap anggota sampel secara matematis. Dengan cara ini, jika dua

    orang atau lebih auditor menggunakan parameter yang sama dalam pengambilan

    sampel dengan statistikal sampel ini, maka semua auditor tersebut akan

    menghasilkan konklusi yang tidak berbeda secara statistik. Dengan kata lain

    statistik sampel akan menjamin objektivitas hasil evaluasi terhadap objek yang

    diperiksa. Dalam penerapan metode statistikal sampling terdapat dua prosedur

    yang digunakan auditor, yaitu attribute sampling dan variabel sampling.

    Penelitian ini didasarkan pada penelitian sebelumnya yang dilakukan oleh

    Karamoy (2000) yang berjudul Analisis Penggunaan Metode Sampling

    Statistikal Terhadap Audit Piutang Dagang CV Mahligai Rattan di Bandar

  • Lampung, kemudian Debora (2008) yang berjudul Analisis Ketetapan

    Penentuan Nilai Persediaan Dengan Menggunakan Metode Audit Sampling

    Statistikal Pada Toko Surya kemudian Puspita (2010) yang berjudul Penerapan

    Statistikal Sampling Dalam Pemeriksaan Piutang dagang Pada PT. Coca- Cola

    Botting Indonesia Cabang Bandar Lampung. Berdasarkan uraian diatas penulis

    bermaksud melakukan penelitian yang berjudul Analisis Penilaian Kewajaran

    Saldo Piutang (Studi Kasus Pada Koperasi Karyawan XYZ).

    1.2 Perumusan Masalah dan Batasan Masalah

    1.2.1 Perumusan Masalah

    Perumusan masalah dalam penelitian ini adalah:

    1. Apakah struktur pengendalian internal terhadap piutang yang terdapat pada

    Koperasi Karyawan XYZ telah berjalan dengan baik?

    2. Apakah saldo piutang yang tercantum pada neraca per 31 Desember 2010

    telah menunjukkan saldo yang sewajarnya?

    1.2.2 Batasan masalah

    Untuk memfokuskan penelitian ini agar memiliki ruang lingkup dan arah

    penelitian yang jelas, maka peneliti membatasi masalah sebagai berikut:

    1. Masalah yang diangkat hanya pada piutang pada pada Koperasi Karyawan

    XYZ.

    2. Periode analisis dalam penelitian ini selama satu tahun yaitu Januari 2010

    sampai dengan dengan Desember 2010.

    1.3 Tujuan dan Manfaat Penelitian

    1.3.1 Tujuan Penelitian

    1. Untuk menilai keefektivitasan internal control piutang dalam koperasi.

    2. Untuk menilai kewajaran saldo piutang yang tercantum dalam neraca per 31

    Desember 2010.

    1.3.2 Manfaat penelitian

    Penelitian ini diharapkan dapat memberikan manfaat bagi:

  • 1. Bagi Koperasi

    Penelitian ini diharapkan dapat memberikan kewajaran saldo piutang dengan

    menggunakan metode statistikal sampling sehingga dapat memperoleh

    sampel yang lebih representatif dan dapat memberikan masukan atau koreksi

    terhadap estimasi saldo piutang yang tercantum dalam neraca.

    2. Bagi Penulis

    Diharapkan dapat menambah wawasan pengetahuan tentang kewajaran saldo

    piutang dengan menggunakan metode statistikal sampling.

    3. Bagi Pihak Lain

    Sebagai bahan acuan bagi penilitian-penelitian selanjutnya yang tertarik

    untuk melanjutkan dan atau mengembangkan tentang masalah yang diangkat

    oleh penulis.

    BAB II

    LANDASAN TEORI

    2.1 Auditing

    2.1.1 Pengertian Auditing

    Menurut Agoes (2004:3) pengertian auditing adalah:

    Audit adalah suatu pemeriksaan yang dilakukan secara kritis dan sistematis, oleh

    pihak yang independen, terhadap laporan keuangan yang telah disusun oleh

    manajemen, beserta catatan-catatan pembukuan dan bukti-bukti pendukungnya

    dengan tujuan untuk dapat memberikan pendapat mengenai kewajaran laporan

    keuangan tersebut.

    2.1.2 Pengendalian Intern Piutang

    Menurut Mulyadi (2008:490 ), bahwa unsur pengendalian intern dalam sistem

    penerimaan kas dari piutang adalah sebagai berikut:

    Organisasi

    a. Fungsi akuntansi harus terpisah dari fungsi penagihan dan fungsi penerimaan

    kas.

    b. Fungsi penerimaan kas harus terpisah dari fungsi akuntansi.

  • Sistem Otorisasi dan Prosedur Pencatatan

    c. Debitur diminta untuk melakukan pembayaran dalam bentuk cek atas nama

    atau dengan cara pemindahbukuan (giro bilyet).

    d. Fungsi penagihan melakukan penagihan hanya atas dasar daftar piutang yang

    harus ditagih yang dibuat oleh fungsi akuntansi.

    e. Pengkreditan rekening pembantu piutang oleh fungsi akuntansi (bagian

    piutang) harus didasarkan atas surat pemberitahuan yang berasal dari debitur.

    Praktik yang Sehat

    f. Hasil penghitungan kas harus direkam dalam berita cara penghitungan kas

    disetor penuh ke bank dengan segera.

    g. Para penagih dan kasir harus diasuransikan (fidelity bond insurance).

    h. Kas dalam perjalanan (baik yang ada di tangan bagian kasa maupun di tangan

    penagih perusahaan) harus diasuransikan (cash-in-safe dan cash-in-transit

    insurance).

    2.1.3 Materialitas

    Menurut SA Seksi 312 Risiko Audit dan Materialitas dalam Pelaksanaan Audit

    dalam Mulyadi (2002:157) mengharuskan auditor untuk mempertimbangkan

    materialitas dalam perencanaan audit dan penilaian terhadap kewajaran laporan

    keuangan secara keseluruhan sesuai dengan prinsip akuntansi yang diterima

    umum di Indonesia.

    2.1.4 Risiko Audit

    Menurut SA Seksi 312 Risiko Audit dan Materialitas dalam Pelaksanaan Audit

    dalam Mulyadi (2002:165), risiko audit adalah risiko yang terjadi dalam hal

    auditor, tanpa disadari, tidak dimodifikasi pendapatnya sebagaimana mestinya,

    atas suatu laporan yang mengandung salah saji material.

    Menurut Mulyadi (2002:167) terdapat tiga unsur audit, yaitu:

    a. Risiko bawaan adalah kerentanan suatu saldo akun atau golongan transaksi

    terhadap suatu salah saji material, dengan asumsi bahwa tidak terdapat

    kebijakan dan prosedur pengendalian intern yang terkait.

  • b. Risiko pengendalian adalah risiko terjadinya salah saji material dalam suatu

    asersi yang tidak dapat dicegah atau dideteksi secara tepat waktu oleh

    pengendalian intern entitas.

    c. Risiko deteksi adalah risiko sebagai akibat auditor tidak dapat mendeteksi salah

    saji material yang terdapat dalam suatu arsesi.

    2.1.5 Cara Pemilihan Sampel dalam Proses Auditing

    Menurut Agoes (2004:99) dalam proses audit, ada beberapa cara pemilihan

    sample yang sering digunakan, yaitu:

    1. Random/judgement sampling

    Dalam pemilihan sample dilakukan dengan cara random atau acak dengan

    menggunakan judgement si auditor.

    2. Blok sampling, dalam hal ini auditor memilih transaksi-transaksi pada waktu-

    waktu tertentu sebagai sample, misalnya pada bulan-bulan tertentu.

    3. Statistikal sampling, pemilihan sample dilakukan secara ilmiah atau dengan

    statistik. Sehingga walaupun lebih sulit namun sample yang dipilih lebih

    representative.

    Dalam penelitian ini menggunakan metode statistikal sampling. Metode ini

    dibedakan menjadi dua, yaitu attribute sampling dan variable sampling.

    2.2 Piutang

    Definisi piutang menurut PSAK no 9 (revisi 2009) adalah :

    Menurut sumber terjadinya, piutang digolongkan dalam dua kategori yaitu piutang

    usaha dan piutang lain-lain. Piutang usaha meliputi piutang yang timbul karena

    penjualan produk atau penyerahan jasa dalam rangka kegiatan usaha normal

    perusahaan. Piutang yang timbul dari transaksi di luar kegiatan usaha normal

    perusahaan digolongkan sebagai piutang lain-lain. Piutang usaha dan piutang lain-

    lain yang diharapkan dapat tertagih dalam satu tahun atau siklus usaha normal,

    diklasifikasikan sebagai aktiva lancar.

    2.2.1 Pengakuan dan Klasifikasi Piutang

    Piutang yang timbul bagi koperasi merupakan sebagai konsekuensi dari sebagai

    akibat dari kegiatan pinjaman dari anggota dari kegiatan pinjaman dari anggota

  • penjualan kredit. Menurut Ikatan Akuntan Indonesia (IAI) dalam Standar

    Akuntansi Keuangan No. 27 yang dikutip oleh Saputri (2012), mengemukakan

    bahwa akun piutang pada koperasi umumnya diklasifikasikan sebagai berikut:

    1. Piutang yang timbul karena penjualan produk atau penyerahan jasa kepada

    anggota, sehubungan dengan program penyaluran barang atau dana kredit

    dari pemerintah maupun karena kegiatan usaha lainnya.

    2. Piutang yang timbul karena penjualan produk dan penyerahan jasa kepada

    bukan anggota sehubungan dengan program penyaluran barang atau dana

    kredit dari pemerintah maupun karena kegiatan usaha lainnya.

    3. Piutang kepada koperasi lain yang timbul sehubungan dengan transaksi-

    transaksi yang menyangkut program pemerintah dibidang pengadaan dan

    penyaluran produk pencairan sebagian atau piutang ini di luar wewenang

    koperasi yang berhutang. Di samping itu, transaksi atau dana yang

    mengakibatkan timbulnya piutang ini dilakukan atau disimpan oleh koperasi

    lainnya. Piutang semacam ini lebih bersifat sebagai aktiva yang dititipkan

    pada koperasi lain yang pengaturannya diatur pihak lain. Contoh dari ini

    adalah piutang dana pengembangan.

    4. Piutang yang timbul sehubungan dengan pembagian sisa hasil usaha (SHU)

    dari koperasi lain yang pencatatannya tergantung pada persyaratan tertentu

    (Ikatan Akuntan Indonesia, 1998:27.18).

    2.3 Statistikal sampling

    Menurut Mulyadi (2002:253) dalam statistikal sampling, auditor memilih anggota

    sampel secara acak dari seluruh anggota populasi, dan menganalisis hasil

    pemeriksaan terhadap anggota sampel secara matematis. Dengan cara ini, jika dua

    orang atau lebih auditor menggunakan parameter yang sama dalam pengambilan

    sampel dengan statistikal sampel ini, maka semua auditor tersebut akan

    menghasilkan konklusi yang tidak berbeda secara statistik. Dengan kata lain

    statistikal sampel akan menjamin objektivitas hasil evaluasi terhadap objek yang

    diperiksa.

    Menurut Mulyadi (2002:253) metode statistikal sampling dibagi menjadi dua,

    yaitu attribute sampling dan variabel sampling. Attribute sampling atau disebut

  • juga propotional sampling digunakan terutama untuk menguji efektivitas

    pengendalian intern (dalam pengujian pengendalian), sedangkan variabel

    sampling digunakan terutama untuk mengukur nilai rupiah yang tercantum dalam

    suatu laporan keuangan (dalam pengujian substantif).

    2.3.1. Attribute sampling

    Yaitu prosedur-prosedur yang didesain untuk menyediakan suatu dasar statistikal

    bagi penelitian terhadap efektivitas struktur pengendalian intern atau suatu metode

    statistik digunakan untuk estimasi proporsiitem atau objek dalam suatu populasi

    yang berisi suatu karakteristik atau attribut. Seorang auditor memeriksa dengan

    menggunakan attribute sampling, mengenai sistem pengendalian intern

    mengingankan suatu jawaban ya atau tidak tentang masalah sistem

    pengendalian intern tersebut. Proporsi dalam sampling ini adalah item yang ada

    dalam atribute tertentu terhadap jumlah total populasi yang ada (Hartadi, 1987 :

    244).

    Menurut Mulyadi (2002:253) didalam metode attribute sampling terdapat tiga

    model, yaitu fixed-sample-size attribute sampling, stop- or- go sampling, dan

    discovery sampling. Dalam penelitian ini penulis menggunakan stop- or -go

    sampling.

    1. Fixed-sample-size attribute sampling

    Model pengambilan sampel ini adalah metode paling banyak digunakan audit.

    Pengambilan sampel dengan metode ini ditunjukan untuk memperkirakan

    persentase terjadinya mutu tertentu dalam suatu populasi. Model ini terutama

    digunakan jika auditor melakukan pengujian pengendalian terhadap suatu

    unsur pengendalian intern, dan auditor tersebut memperkirakan akan

    menjumpai beberapa penyimpangan (kesalahan).

    2. Stop-or- go sampling

    Metode pengambilan sampel ini sering juga disebut dengan decision attribute

    sampling. Metode ini dapat mencegah auditor dari pengambilan sampel yang

    terlalu banyak, yaitu dengan cara menghentikan pengujian sedini mungkin.

    Metode ini digunakan jika auditor yakin bahwa kesalahan yang diperkirakan

    dalam populasi sangat kecil.

  • 3. Discovery sampling

    Metode pengambilan sampel ini cocok digunakan jika tingkat kesalahan yang

    diperkirakan dalam populasi sangat rendah (mendekati nol). Dalam metode

    ini auditor menginginkan kemungkinan tertentu untuk menemukan paling

    tidak satu kesalahan, jika kenyataannya tingkat kesalahan sesungguhanya

    lebih besar dari yang diharapkan. Discovery sampling dipakai oleh auditor

    untuk menemukan kecurangan, pelanggaran yang serius dari unsur

    pengendalian intern, dan ketidakberesan yang lain.

    Setelah penulis menganalisis hasil kuesioner dari responden serta melakukan

    observasi langsung terhadap internal control, penulis kemudian melakukan

    pengujian attribute sampling. Attribute sampling menguji bukti-bukti yang

    berhubungan dengan internal control secara sampling. Bukti-bukti yang diuji

    adalah faktur penjualan dan pinjaman yang dicek ada atau tidaknya otorisasi oleh

    pihak berwenang. Dari hasil analisis pengujian attribute sampling digunakan

    untuk mendukung hasil dari kuesioner dan hasil observasi.

    2.3.2. Variabel sampling

    Menurut Mulyadi (2002:281) variabel sampling adalah teknik statistik yang

    digunakan oleh auditor untuk menguji kewajaran suatu jumlah atau saldo dan

    mengestimasi jumlah rupiah suatu saldo akun atau kuantitas lain. Variabel

    sampling juga digunakan untuk memperkirakan saldo suatu akun, hasil

    perhitungannya akan berupa nilai rupiah ditambah atau dikurangi dengan suatu

    interval tertentu jumlah rupiah pada tingkat kepercayaan yang diinginkan.

    Variabel sampling untuk memperkirakan saldo suatu akun digunakan oleh auditor

    dalam kondisi (Mulyadi, 2002:282), yaitu:

    1. Jika klien tidak menyajikan suatu jumlah yang dianggap benar (misalkan

    klien menerapkan secara keliru prinsip akuntansi yang lazim atau klien

    banyak melakukan kekeliruan dalam pencatatan akuntansinya).

    2. Jika suatu saldo akun ditentukan dengan statistikal sampling.

    Dalam keadaan seperti di atas, umumnya auditor menggunakan variable sampling

    untuk mempekirakan saldo akun dan mengusulkan adjustment untuk

    menyesuaikan saldo akun tersebut dengan hasil taksiran statistik. Jika saldo akun

  • tidak terdapat di dalam buku klien, hasil taksiran statistik tersebut langsung

    diusulkan oleh auditor untuk dicatat di dalam buku klien (Mulyadi, 2002:282).

    Auditor dapat pula menggunakan variable sampling untuk menilai kewajaran

    saldo suatu unsur yang dicantumkan di dalam laporan keuangan. Jika dalam

    auditnya, auditor mau menerima saldo yang tercantum di dalam laporan keuangan

    sebagai suatu jumlah yang benar, dan auditor tersebut hanya akan mengusulkan

    adjustment terhadap jumlah tersebut jika terdapat kekeliruan yang material dalam

    jumlah tersebut, maka auditor menggunakan uji hipotesis (Mulyadi, 2002:282).

    BAB III

    METODA PENELITIAN

    3.1 Metode Penelitian

    Metode yang digunakan oleh penulis dalam penelitian adalah metode deskriptif,

    dengan survey penelitian langsung kepada masalah serta menggambarkan

    keadaaan yang terjadi dalam koperasi yang terjadi dalam perusahaan berdasarkan

    fakta yang ada. Menurut Indrianto dan Supomo (2006:6) bahwa penelitian

    deskriptif merupakan penelitian terhadap masalah-masalah berupa fakta-fakta saat

    ini dari suatu populasi.

    3.2 Teknik Pengumpulan Data

    Dalam penelitian ini, penulis berusaha mengumpulkan data dengan menggunakan

    metode studi kasus, yaitu dengan cara mengumpulkan data primer dan sekunder.

    1. Pengumpulan Data Primer

    Pengumpulan data primer dilakukan dengan cara memperoleh data langsung ke

    lapangan atau dengan terjun langsung ke Koperasi Karyawan XYZ yang menjadi

    lokasi penelitian. Tujuan penelitian lapangan ini adalah untuk memperoleh data

    yang akurat. Secara lebih spesifik data primer yang akan digunakan oleh penulis

    dapat diperoleh dengan cara :

    a. Wawancara

    Yaitu penulis mewawancarai secara langsung kepada pengurus koperasi dan

    pihak-pihak yang berwenang yang berkaitan dengan data-data yang diperlukan

  • dalam penelitian, sehingga penulis dapat memperoleh informasi yang

    dibutuhkan.

    b. Kuesioner

    Metode ini dilakukan dengan cara mengajukan pertanyaan kepada pengurus

    koperasi dengan tujuan memperoleh jawaban lebih terperinci sehubungan

    dengan pembahasan masalah yang ditulis oleh penulis.

    2. Pengumpulan Data Sekunder

    Yaitu dengan menggunakan tinjauan pustaka dan sumber-sumber lain di luar

    sumber primer. Teknik pengumpulan datanya adalah sebagai berikut :

    a. Dokumen

    Dengan cara meminta dokumen-dokumen yang berhubungan dengan masalah

    yang akan dibahas oleh peneliti.

    b. Studi kepustakaan

    Memperoleh data dengan membaca literatur-literatur berupa buku atau tulisan

    ilmiah yang berhubungan dengan masalah yang dibahas.

    Data sekunder dalam penelitian ini, antara lain:

    1. Gambaran umum Koperasi Karyawan XYZ.

    2. Laporan keuangan (Laporan Sisa Hasil Usaha dan Neraca) per 31

    Desember 2010.

    3. Faktur penjualan dan pinjaman selama tahun 2010 sebanyak 490 faktur

    dan data lainnya terkait dalam koperasi.

    4. Daftar anggota dan debitur di Koperasi Karyawan XYZ sebanyak 322.

    3.3 Teknik Pengolahan Data

    Data-data yang telah dikumpulkan akan diolah dengan cara sebagai berikut, yaitu:

    1. Data Primer

    Teknik pengolahan data primer yaitu dengan menganalisis hasil kuesioner yang

    digunakan untuk mengetahui baik buruknya struktur pengendalian intern yang

    terdapat dalam perusahaan mengenai penjualan kredit atas piutang. Kuesioner

    yang digunakan merupakan kuesioner penelitian sebelumnya yang dipakai oleh

    Puspita (2010) yang berasal dari Agoes (2004:185) dan diolah.

  • a. Uji Validitas

    Uji validitas berguna untuk mengetahui apakah ada pernyataan-pernyataan

    pada kuesioner yang harus dibuang/diganti karena tidak relevan. Teknik untuk

    mengukur validitas kuesioner adalah Construct Validity melalui analisis faktor

    terhadap instrumen (Sugiyono, 2009:177). Analisis faktor dilakukan dengan

    cara mengkorelasikan jumlah skor faktor dengan skor total. Bila korelasi tiap

    faktor tersebut positif dan besarnya 0,3 ke atas maka faktor tersebut

    merupakan construct yang kuat dan sebaliknya.

    R hitung > r kritis maka valid

    R hitung < r kritis maka tidak valid

    Dalam penelitian ini, perhitungan validitas dilakukan dengan menggunakan

    program SPSS 17 for Windows.

    b. Uji Reliabilitas

    Uji reliabilitas berguna untuk menetapkan apakah instrumen kuesioner dapat

    digunakan berkali-kali akan menghasilkan data yang konsisten (Sugiyono,

    2009:172). Dalam penelitian ini, pengujian reliabilitas menggunakan Internal

    Consistency, dilakukan dengan cara mencoba instrumen sekali saja, kemudian

    data dianalisis dengan teknik tertentu (Sugiyono, 2009:185). Teknik yang

    digunakan adalah Teknik Belah Dua (Split Half) yang dianalisis dengan rumus

    Spearman Brown. Seperti halnya perhitungan validitas, perhitungan

    reliabilitas dilakukan dengan menggunakan program SPSS 17 for Windows.

    Rumusnya:

    Keterangan:

    = Reliabilitas internal seluruh instrumen = Korelasi product moment antara belahan pertama dan kedua

    Cara pengukurannya, yaitu:

    Skala pengukuran menggunakan Skala Guttman merupakan skala pengukuran

    dengan menghasilkan jawaban tegas terhadap suatu permasalahan yang

    ditanyakan, yaitu ya atau tidak. Data yang diperoleh dapat berupa data

  • interval atau rasio dikhotomi (dua alternatif) (Sugiyono, 2009:137). Skala

    Guttaman dalam bentuk checklist, jawaban dapat dibuat skor tertinggi satu dan

    terendah nol.

    Jawaban Ya diberi skor 1

    Jawaban Tidak diberi skor 0

    Untuk menentukan interval nilai, digunakan rumus (Hakim, 2001:71):

    Keterangan :

    I = Interval nilai NR = Nilai terendah

    NT = Nilai tertinggi K = Kategori jawaban

    2. Data Sekunder

    Data sekunder diolah dengan mengumpulkan dan menganalisis data yang

    diperoleh dari koperasi yang berhubungan dengan piutang, kemudian data tersebut

    akan diolah dan analisis untuk menentukan nilai perselisihan pada tanggal neraca

    mengenai kewajaran saldo piutang dengan menggunakan metode statistikal

    sampling.

    3.4 Alat Analisis

    3.4.1 Analisis Kualitatif

    Analisis kualitatif digunakan untuk menganalisis masalah dengan menggunakan

    teori-teori yang mendukung kegiatan auditing, khususnya yang berhubungan

    dengan evaluasi hasil penggunaan metode statistikal sampling yaitu attribute

    sampling dan variabel sampling dalam menilai efektivitas pengendalian intern dan

    kewajaran saldo piutang pada tanggal neraca.

    1. Prosedur attribute sampling

    Pada penelitian ini prosedur attribute sampling dilakukan dengan model stop-or-

    go sampling. Model ini sering juga disebut dengan decision attribute sampling.

    Model ini dapat mencegah auditor dari pengambilan sampel yang terlalu banyak,

    yaitu dengan cara menghentikan pengujian sedini mungkin. Model ini digunakan

    jika auditor tidak menemukan adanya penyimpangan atau menemukan jumlah

    penyimpangan tertentu yang telah ditetapkan, ia dapat menghentikan pengambilan

  • sampelnya. Prosedur yang harus ditempuh oleh auditor dalam menggunakan stop-

    or-go sampling adalah sebagai berikut (Mulyadi, 2002:261):

    a. Tentukan Desire Upper Precision Limit (DUPL) atau tingkat kesalahan

    maksimum yang masih dapat diterima dan tingkat keandalan (R%). Dalam

    model stop-or-go decision ini auditor disarankan untuk memilih tingkat

    keandalan (R%) 90%, 95%, atau 97,5%. Sehingga, DUPL = 1 (R%).

    b. Gunakan Tabel Sampel Minimum untuk Pengujian Pengendalian guna

    menentukan sampel pertama yang harus diambil.

    c. Buatlah table stop-or-go decision.

    d. Evaluasi hasil pemeriksaan terhadap sampel.

    Evaluasi ini dilakukan dengan menentukan AUPL (Achieved Upper Precision

    Limit) atau perkiraan penyimpangan dalam populasi yang dapat dilihat dari

    tabel evaluasi hasil yang memiliki tingkat keandalan sesuai yang digunakan

    untuk menentukan besarnya sampel yang lalu. AUPL ini kemudian

    dibandingkan dengan DUPL untuk menilai efektif atau tidaknya unsur

    pengendalian intern tersebut, dengan ketetapan :

    AUPL DUPL = Pengendalian intern efektif

    AUPL > DUPL = Pengendalian intern belum efektif

    2. Prosedur variabel sampling

    Prosedur ini digunakan untuk menguji nilai rupiah yang tercantum dalam rekening

    atau laporan keuangan dengan langkah-langkah sebagai berikut (Mulyadi,

    2002:282):

    a. Menentukan tujuan pengambilan sampel.

    b. Menentukan populasi (N).

    c. Menentukan sampling unit.

    d. Menentukan besarnya sampel (n).

    Dalam menentukan banyaknya sampel yang akan diambil dilakukan

    dengan langkah-langkah sebagai berikut:

    1. Penentuan deviasi standar (SD) populasi

  • Keterangan:

    SD = Standar deviasi pendahuluan

    = Rata-rata saldo sampel pendahuluan = Jumlah saldo sampel pendahuluan N = Besarnya sampel pendahuluan

    2. Penentuan tingkat risiko yang ditanggung auditor (UR dan Z beta).

    ! "#"$%" Keterangan:

    R = Risiko Audit

    IC =Risiko Bawaan

    CR =Risiko Pengendalian

    3. Penentuan materialitas (M) yang dialokasikan kepada objek yang

    diperiksa.

    4. Penentuan ketetapan yang dapat diterima oleh auditor (A) berdasarkan

    pertimbangan auditor, dengan menggunakan rumus sebagai berikut:

    & ' ( )*)* + !, Penentuan besarnya sampel (n)

    - ()*. /0.1& ,2

    Adjustment besarnya sampel karena auditor menghadapi finite

    population:

    3 34 35

    Keterangan:

    UR = Standar deviasi normal untuk risiko keliru menolak yang

    diinginkan

    SD= Estimasi standar deviasi populasi

    N = Ukuran populasi

    n = Besarnya sampel populasi

    e. Menentukan metode pemilihan sampel

    Dalam menentukan sampel pemilihan sampel, auditor dapat memilih

    dengan menggunakan metode a. judgement sampling b. systematic

    sampling c. random sampling.

    f. Memeriksa sampel, dengan menghitung rata-rata saldo piutang dan standar

    deviasinya.

    g. Mengevaluasi hasil sampel

  • Dalam mengevaluasi hasil sampel, auditor melakukan langkah-langkah

    berikut ini:

    1. Menghitung standar error (SE)

    6 7- Keterangan:

    SD = Standar deviasi sampel populasi

    N = Besarnya sampel populasi

    2. Menghitung achieved precision (A)

    8 9.. 37-

    Jika A tidak sama dengan A atau A lebih besar dari A, maka auditor

    kemudian menghitung A dengan rumus :

    &: & '4 ;;5 3. Menghitung expected audited value (EAV) atau pengambilan

    keputusan.

    EAV =X. N

    Keterangan:

    X = Rata-rata sampel populasi

    N = Besarnya populasi

    4. Estimasi saldo piutang dan pengambilan keputusan, dengan

    menggunakan interval estimate:

    AV A atau AV A

    Keterangan:

    AV (Audited Value) = Nilai Audit

    A atau A = Cadangan Risiko Sampling

    BAB IV

    ANALISIS DAN PEMBAHASAN

    4.1. Gambaran Umum Koperasi

    Koperasi Karyawan XYZ memiliki struktur organisasi dan pembagian tugas.

    Rapat anggota merupakan kekuasaan tertinggi dalam koperasi. Anggota Koperasi

    Karyawan XYZ sampai dengan 31 Desember 2010 beranggotakan 220 orang.

  • Kemudian terdapat pengurus yang terdiri dari ketua, sekretaris, dan bendahara,

    lalu badan pengawas yang terdiri dari ketua dan dua orang anggota, manajer dan

    karyawan koperasi yang terdiri dari bagian administrasi, umum, akuntansi atau

    pembukuan, dan fotokopi.

    Dalam menjalankan aktivitasnya Koperasi Karyawan XYZ memiliki usaha

    sebagai berikut:

    a. Simpan pinjam

    b. Menyediakan bahan-bahan kebutuhan pokok/gerambat.

    c. Pengadaaan barang yang meliputi pengadaan alat tulis kantor, pengadaan

    material umum dan pengadaan material listrik.

    d. Menyewakan peralatan kantor dan kendaraan.

    e. Pekerjaan jasa yang meliputi jasa kontruksi dan jasa lainnya.

    4.2 Analisis Pengendalian Internal Koperasi

    4.2.1 Uraian Tugas Dalam Pelaksanaan Sistem Piutang di Koperasi

    Dalam pos piutang Koperasi Karyawan XYZ terdiri dari piutang PT. PLN

    (Persero) Tbk, piutang Putra Tower Mandiri, piutang anggota simpan pinjam

    (XYZ), piutang anggota simpan pinjam (Niaga), piutang komputer, dan piutang

    lain-lain.

    Untuk mengelola piutang-piutang tersebut diperlukan pengendalian intern yang

    baik. Pengendalian intern yang digunakan dalam suatu entitas merupakan suatu

    entitas penting yang menentukan keandalan laporan keuangan yang dihasilkan

    oleh suatu entitas. Oleh karenanya, sebelum auditor melakukan audit secara

    mendalam atas informasi yang tercantum dalam laporan keuangan, auditor harus

    memahami pengendalian intern yang diterapkan dalam suatu entitas.

    Dalam bab ini, penulis mencoba untuk menguraikan tugas dan fungsi pelaku

    struktur pengendalian intern koperasi yang berkaitan dengan piutang melalui

    wawancara yang dilakukan kepada pegawai koperasi yang bersangkutan.

    -Ketua, memimpin dan mengawasi pelaksanaan tugas anggota pengurus lainnya,

    serta mengkoordinir tugas karyawan koperasi seluruhnya dan memberikan

    otorisasi kredit dan pinjaman.

  • -Sekretaris, mengelola dan memelihara buku daftar anggota, buku daftar

    pengurus, notulen rapat,hasil keputusan rapat dan bertanggung jawab dalam

    bidang admnistrasi koperasi baik internal maupun eksternal.

    -Bendahara, mengelola keuangan koperasi, bertanggung jawab dalam harta

    kekayaan koperasi, mengatur dan melaksanakan pengeluaran kas/ bank dan juga

    memberikan otorisasi kredit dan pinjaman

    -Bagian personalia, merupakan bagian dari perusahaan yang bekerja sama dengan

    koperasi karyawan, memberikan informasi kepada koperasi apabila anggota ingin

    melakukan pinjaman atau pembelian secara kredit.

    -Manajer, melaksanakan dan bertanggung jawab atas tugas operasional koperasi,

    pengelolaan administrasi dan keuangan koperasi salah satunya penjualan kredit

    dan pinjaman anggota, serta bertanggung jawab langsung kepada ketua.

    -Bagian administrasi, bertugas dan bertanggung jawab administrasi dan

    fomulir/dokumen penjualan tunai, kredit dan pinjaman anggota/debitur

    berdasarkan faktur penjualan dan pinjaman

    -Bagian umum, bertugas melayani kebutuhan barang-barang untuk anggota.

    -Bagian akuntansi/pembukuan, bagian ini bertugas dan mencatat transaksi

    penjualan tunai, kredit dan pinjaman anggota dan debitur berdasarkan faktur

    penjualan dan pinjaman ke dalam buku daftar piutang.

    -Bagian fotokopi, bertugas dan bertanggung jawab atas bukti-bukti transaksi

    untuk difotokopi lalu diarsipkan dan menjalankan jasa usaha fotokopi.

    Untuk piutang PT. PLN (Persero) Tbk, piutang Putra Tower Mandiri, dan piutang

    lain-lain, PT. PLN (Persero) Tbk, Putra Tower Mandiri, dan instansi lainnya dapat

    langsung menemui ketua dan bendahara koperasi. Setelah mendapatkan

    persetujuan dari pengurus, menajer akan langsung memproses pinjaman atau

    penjualan kredit yang diinginkan. PT. PLN (Persero) Tbk dan Putra Tower

    Mandiri atau instansi lainnya membayarkan cicilannya melalui Bank Mandiri

    Tbk. Setelah pembayaran, bank akan memberikan surat keterangan bahwa sudah

    membayar kepada koperasi.

    4.2.2 Uji Kualitas Data

    4.2.2.1 Uji Validitas

  • Untuk menguji pengendalian internal perusahaan, pertama-tama penulis

    melakukan uji validitas atas kuesioner. Adapun hasil pengujian validitas data

    menunjukkan hasil yang valid. Uji validitas dilakukan dengan membandingkan r

    hitung dengan r table sebesar 0,333. Apabila r hitung > r tabel, maka item

    dinyatakan valid. Penghitungan validitas dilakukan dengan menggunakan

    program SPSS 17 for Windows. Setelah melakukan perhitungan, ternyata r hitung

    > r tabel, maka item dinyatakan valid (lampiran 2).

    Tabel 4.1

    Tabel Hasil Uji Validitas

    No Responden r hitung r tabel

    1 Ketua 0.697 0.333

    2 Sekretaris 0.680 0.333

    3 Bendahara 0.734 0.333

    4 Personalia 0.626 0.333

    5 Manajer 0.655 0.333

    6 Administrasi 0.626 0.333

    7 Umum 0.626 0.333

    8 Akuntansi 0.661 0.333

    9 Fotokopi 0.626 0.333

    Sumber:data pimer diolah 2012, hasil uji SPSS 17 for Windows

    4.2.2.2 Uji Reliabilitas

    Uji reliabilitas berguna untuk menetapkan apakah instrumen kuesioner dapat

    digunakan berkali-kali akan menghasilkan data yang konsisten (Sugiyono,

    2009:172). Uji reliabilitas dilakukan dengan uji Split Half (Spearman Brown).

    Adapun menurut Sugiyono (2009) katagori penilaian reliabilitas adalah:

    Tabel 4.2

    Standar Penilaian untuk Reliabilitas

    0,90-1,00 reliabilitas tinggi

    0,50-0,89 reliabilitas sedang

    0,00-0,49 reliabilitas rendah

    Uji relibilitas dilakukan dengan uji Split Half (Spearman-Brown). Adapun sama

    seperti penghitungan validitas, penghitungan reliabilitas dilakukan dengan

    menggunakan program SPSS 17 for Windows.

  • Dikarenakan hasil penghitungan menunjukkan bahwa korelasi sebesar 0,716

    (lampiran 3) dan apabila kita melihat tabel standar penilaian reliabilitas, maka

    dapat dikatakan kuesioner merupakan reliabel atau handal.

    4.2.3 Analisis Sistem Pengendalian Internal Koperasi

    Pengendalian internal Koperasi Karyawan XYZ dilakukan dengan menggunakan

    alat uji berupa kuesioner (lampiran 1). Kuesioner ini kemudian dibagikan kepada

    9 orang yang sebagai responden, dimana ke-9 orang tersebut yang bertanggung

    jawab berkaitan dengan penjualan kredit dan pinjaman, antara lain ketua,

    sekretaris, bandahara, bagian personalia, manajer, bagian administrasi, bagian

    umum, bagian akuntansi/pembukuan, dan bagian fotokopi.

    Setelah dilakukan uji reliabilitas dan validitas, langkah selanjutanya adalah

    menganalis hasil kuesioner. Berdasarkan jawaban atas kuesioner yang dibagikan

    penulis, selanjutnya penulis akan menghitung frekuensi setelah dilakukan

    perhitungan dan pengategoriaan jawaban mengenai sistem pengendalian intern

    umum, pengendalian intern penjualan, dan pengendalian intern piutang dari

    responden dalam bentuk presentase.

    Berdasarkan perhitungan, sistem pengendalian intern umum dengan presentase

    66,67% masuk dalam kategori baik, pada lampiran sistem pengendalian intern

    penjualan dengan presentase 55,56% masuk dalam kategori baik, dan pada

    lampiran pengendalian intern piutang dengan presentase 55,56% masuk dalam

    kategori baik. Maka dapat disimpulkan bahwa pengendalian intern secara

    keseluruhan di Koperasi Karyawan XYZ sudah berjalan dengan baik.

    Meskipun demikian, hasil dari analisis sistem pengendalian internal koperasi

    melalui media kuesioner terhadap sembilan responden yaitu ketua, sekretaris,

    bandahara, bagian personalia, manajer, bagian administrasi, bagian umum, bagian

    akuntansi/pembukuan, dan bagian fotokopi bisa dikatakan saling bertentangan

    karena dilihat dari variasinya jawaban responden sehingga penulis melakukan

    observasi langsung sesuai pertanyaan di kuesioner.

  • Dilihat dari hasil observasi langsung oleh penulis (lampiran 6) maka dapat

    disimpulkan bahwa pengendalian internal umum, penjualan kredit, dan piutang

    telah berjalan dengan baik.

    4.3 Analisis Penggunaan Metode Statistikal Sampling

    4.3.1 Penerapan Prosedur Attribute Sampling

    Penerapan prosedur attribute sampling ini berkaitan dengan penilaian pengujian

    keefektivitasan pengendalian intern atas piutang Koperasi Karyawan XYZ mulai

    dari tanggal 1 Januari sampai dengan 31 Desember 2010. Koperasi Karyawan

    XYZ memiliki 498 faktur dan jumlah sebanyak faktur tersebut tidak ada yang

    batal. Attribute yang akan diperiksa adalah mengenai ada tidaknya otorisasi dari

    pihak-pihak yang berwenang dalam hal proses persetujuan dan pemberian kredit,

    yaitu pemeriksaan faktur penjualan kredit dan pinjaman.

    Langkah-langkah penerapan prosedur attribute sampling sebagai berikut :

    a. Tentukan Desired Upper Precision Limit dan tingkat keandalan.

    Ini digunakan untuk menentukan tingkat keandalan yang akan dipilih dan tingkat

    kesalahan maksimum yang dapat diterima. Dari hasil evaluasi atas, struktur

    pengendalian intern piutang ditentukan tingkat keandalan dalam mempercayai

    efektivitas pengendalian intern yang ada pada Koperasi Karyawan XYZ adalah

    sebesar 95%. Batas ketepatan tertinggi atau Desired Upper Precision Limit

    ditentukan sebesar 5%.

    b. Penentuan sampel minimum yang akan diperiksa.

    Berdasarkan tingkat keandalan 95% dan DUPL 5% maka selanjutnya perlu

    menentukan besarnya sampel minimum yang harus diambil dengan bantuan Tabel

    Besarnya Sampel Minimum untuk Pengujian Pengendalian. Sampel minimum

    yang akan diambil diperoleh dengan cara menentukan titik potong baris DUPL

    yaitu sebesar 5% dengan kolom tingkat keandalan yaitu 95%.

  • Tabel 4.3

    Besarnya Sampel Minimum untuk Pengujian Pengendalian

    Acceptable

    Upper

    Precision

    Limit

    Sample Size Based on

    Confidence Levels

    90% 95% 97,5%

    10% 24 30 37

    9 27 34 42

    8 30 38 47

    7 35 43 53

    6 40 50 62

    5 48 60 74

    4 60 75 93

    3 80 100 124

    2 120 150 185

    1 240 300 370

    (Sumber : Mulyadi, 2002)

    Dari hasil di atas diperoleh bahwa sampel minimum adalah sebayak 60 sampel

    yang menjadi sampel pemeriksaan awal.

    c. Membuat Tabel Stop-or-go Decision

    Berdasarkan hasil pemeriksaan sampel didapat tingkat kesalahan = 0, maka

    diperoleh AUPL = DUPL = 5%.

    &)[email protected]@!C ?! BFABDA!+ADA [email protected]??CCH-C?+FEB/!IJDFAK

    &)

  • 4.3.2 Penggunaan Prosedur Variabel Sampling

    Dalam pengujian prosedur variabel sampling terhadap pengujian kewajaran saldo

    piutang Koperasi Karyawan XYZ yang akan dilakukan dengan menganalisis

    ketepatan dalam hal perhitungan jumlah saldo piutang. Dengan langkah-langkah

    sebagai berikut:

    1. Menentukan tujuan pengambilan sampel

    Pengambilan sampel ini ditujukan untuk menghitung saldo piutang yang

    terdapat dalam neraca pada tanggal 31 Desember 2010 dengan

    menggunakan rumus:

    EAV A

    EAV adalah expected audit value, yang dihitung dengan menggunakan

    rumus; EAV=X.N

    Aadalah achieved precision.

    2. Menentukan populasi (N)

    Analisis yang akan dilakukan penulis terhadap populasi, yaitu penganalisaan

    terhadap 322 anggota koperasi dan debitur yang menjadi populasi dalam

    penelitian penulis.

    3. Menentukan sampling unit

    Dalam pengujian substantif ini penulis memilih saldo piutang yang terdapat

    dalam komputerisasi pada buku pembantu piutang.

    4. Menentukan besarnya sampling (n)

    Langkah dalam penentuan besarnya sampling (n) adalah sebagai berikut:

    a. Penentuan standar deviasi (SD) populasi

    Jika unsur-unsur dalam populasi sangat bervariasi, hal ini akan

    ditunjukkan oleh besarnya standar deviasi. Semakin besar standar

    deviasi suatu populasi, maka semakin besar unsur populasi yang harus

    diambil sebagai anggota sampel, agar sampel tersebut cukup mewakili

    karakteristik populasi.

    Untuk menentukan taksiran standar deviasi, penulis mengambil sampel

    sebanyak 30 sampel sebagai sampel pendahuluan. Tiga puluh sampel

    pendahuluan diambil dari masing-masing 30% populasi dari piutang

    PT. PLN Persero Tbk, piutang Putra Tower Mandiri, piutang anggota

  • simpan pinjam XYZ, piutang anggota simpan pinjam Niaga, piutang

    komputer, dan piutang lain-lain. Penentuan jumlah sampel ini

    didasarkan pada aturan dan ketentuan statistik yaitu sebanyak 30

    sampel dalam penggunaan statistik parametik. Perhitungan standar

    deviasi atas 30 sampel pendahuluan.

    b. Tingkat risiko yang ditanggung oleh auditor (UR dan Z beta)

    Menerima atau menolak suatu jumlah yang dihasilkan oleh suatu

    sampel memiliki dua macam risiko yaitu kekeliruan alfa atau risiko

    keliru menolak dan risiko Z beta atau risko keliru menerima.

    Kesalahan alfa (alpha error) atau risiko alfa (alpha risk) ditentukan

    dengan menetapkan tingkat kepercayaan (reliability level) yang telah

    ditetapkan oleh auditor berdasarkan pertimbangan, biasanya

    pemeriksaan tambahan, atau adjustment terhadap saldo keliru dalam

    menolak suatu saldo akun.

    Tingkat keandalan pada risiko keliru menolak (UR) atau sering disebut

    risiko (1- ). Di mana tingkat keyakinan (reliability level) sebesar

    95% maka risiko keliru menolak adalah 1- 95% = 5% atau 0,05. Faktor

    keandalan pada risiko menolak ditetapkan dengan menggunakan tabel

    Z. Tabel Z memuat angka-angka yang menunjukkan baris dan kolom,

    serta angka-angka pada perpotongan baris dan kolom. Angka-angka

    pada perpotongan baris dan kolom menunjukkan nilai {(1- )/2}. Jika

    tingkat keandalan 95% atau 0,95, maka {(1- 0,95)/2}=0,025. Z alfa

    adalah nilai kurva normal standar yang meliputi daerah 0,5-0,025=

    0,475 sehingga apabila kita lihat pada tabel Z, akan ditemukan angka

    1,96.

    Berdasarkan hasil yang diperoleh atas pengujian internal control

    koperasi karyawan yang dinilai telah memiliki suatu sistem

    pengendalian intern yang berjalan dengan baik dan efektif, namun tidak

    menutup kemungkinan bahwa sistem pengendalian internal yang baik

  • dapat mendeteksi kekeliruan yang material atau kekeliruan yang dapat

    diterima oleh auditor secara tepat.

    Maka auditor menetapkan risiko audit (R) yang akan ditanggung

    sebesar 5% . Penulis meletakkan kepercayaan moderat terhadap struktur

    pengendalian intern dalam mendeteksi kekeliruan material maka risiko

    bawaan (IC) ditetapkan 20% karena pengendalian internal yang

    diterapkan telah berjalan dengan baik. Penulis meletakkan kepercayaan

    moderat terhadap review analitik dan pengujian substantif rinci dalam

    mendeteksi kekeliruan material maka risiko pengendalian (AR)

    ditetapkan 80%. Dengan demikian kesalahan beta atau risiko beta ( beta

    menerima) secara kuantitatif dapat dihitung sebagai berikut:

    OPQRSTU VWNWXYNW NZLV Z beta adalah nilai kurva normal yang meliputi daerah 0,5-0,3125 =

    0,1875. Dengan demikian Z beta adalah daerah seluas 0,1875 dengan

    menggunakan table Z adalah 0,49.

    c. Penentuan materialitas yang dialokasikan kepada objek yang diperiksa

    (M)

    Auditor memperkirakan besarnya kekeliruan dalam populasi yang

    dianggap material. Dalam penentuan materialitas ini didasarkan atas

    pertimbangan penulis yaitu sebesar 6% dari total pendapatan. Hal ini

    disebabkan, penulis berkeyakinan bahwa sistem pengendalian piutang

    baik, jumlah-jumlah yang disajikan dalam laporan keuangan beserta

    pengungkapannya telah dicatat, diringkas, digolongkan, dan

    dikompilasi sekaligus bahwa laporan keuangan sebagai keseluruhan

    disajikan secara wajar dan tidak terdapat salah saji material karena

    kekeliruan dan kecurangan. Sehingga penulis berani mengambil risiko

    besar terhadap tingkat materialitas sehingga yang diambil lebih tinggi

    dari biasanya. Maka diperoleh M sebesar 6% x Rp 3.153.418.808 =

    Rp 189.205.128,48

  • d. Penentuan ketepatan yang dapat diterima oleh auditor (A)

    Besarnya ketepatan (acceptable precision) dipengaruhi oleh besarnya

    kekeliruan yang mempengaruhi secara material, yaitu besarnya risiko

    alfa dan risiko beta. Sehingga dapat dihitung sebagai berikut:

    & [Y\.NV.Y.YZ]Y ( Z\MZ\M NZ]\, A= Rp 151.364.102,72

    Berdasarkan hasil perhitungan diatas, maka dapat disimpulkan besarnya

    penyimpangan dari saldo populasi piutang yang masih dapat diterima

    oleh auditor adalah sebesar Rp 151.364.102,72

    e. Penentuan besarnya sampel (n)

    Penentuan besarnya sampel dalam metode statistikal sampling secara

    matematis dapat dihitung sebagai berikut:

    (Z\MXL.YN.M^Z^YXLV.LM].NZ^ ,2

    (.L\\.YL.L]ZVV.LM].NZ^ ,2

    251,2564905 Adjusment karena populasi dalam penelitian terbatas

    -_ VZVM]\NV4 VZVM]\NVL 5

    = 141,1315725= 141

    Dari perhitungan diatas besarnya sampel terpilih adalah sebanyak 141

    sampel dari 322 populasi yang ada.

    5. Menentukan metode pemilihan sampel

    Metode pemilihan sampel yang digunakan oleh penulis adalah random

    sampling atau sampel secara acak dengan bantuan tabel angka acak,

    karena metode ini menjamin semua anggota populasi memiliki

    kesempatan yang sama untuk dipilih sebagai anggota sampel.

    6. Memeriksa sampel

  • Prosedur pemeriksaan yang digunakan untuk memeriksa anggota sampel

    terpilih adalah sama dengan pemeriksaan sampel pendahuluan, yaitu

    auditor menghitung rata-rata saldo sampel terplih dan menghitung standar

    deviasi dari sampel tersebut. Berdasarkan pengambilan sampel terpilih

    sebanyak 141 sampel piutang para anggota dan debitur, maka

    perhitungannya diperoleh rata-rata saldo sebesar Rp 4.368.653,14 dan

    standar deviasi sebesar Rp 2.226.102,86.

    7. Mengevaluasi hasil sampel

    Evaluasi terhadap hasil pemeriksaan sampel dilakukan oleh penulis secara

    kuantitatif, dalam mengevaluasi hasil sampel dilakukan dengan langkah-

    langkah sebagai berikut:

    a. Menghitung standard error (SE)

    Dari hasil sampel sebanyak 141 sampel piutang, maka dihitung SE

    sebagai berikut:

    6 ([.M.NZYM7] , = Rp 187.471,68

    b. Menghitung achieved precision (A)

    Achieved precision dihitung dengan cara sebagai berikut:

    8 Z\M`]`[.M.NZYM ]L

    7] A= Rp 29.122.828,92

    c. Dikarenakan A tidak sama dengan A, maka penulis menghitung A

    8: [\..YYZ\ [Y\.NV.YZ]Y ( [\..YYZ\[V.LM].NZ^, A = Rp 176.321.116,69

    d. Menghitung expected audit value

    EAV= Rp 4.368.653,14 x 322

    EAV= Rp 1.406.706.311,67

    e. Estimasi saldo piutang dalam populasi dengan menggunakan interval

    estimate, sebagai berikut:

  • AVA= Rp 1.406.706.311,67 Rp 176.321.116,69

    = Rp 1.230.385.194,98 sampai Rp 1.583.027.428,36

    Berdasarkan dari perhitungan yang telah dilakukan peneliti, dapat diketahui

    bahwa nilai interval Rp 1.230.385.194,98 sampai Rp 1.583.027.428,36 berisi

    saldo piutang koperasi karyawan XYZ sudah sewajarnya. Ternyata saldo piutang

    yang tercantum di dalam neraca sebesar Rp 1.396.835.456, berada di dalam

    interval presisi dan selisih antara saldo piutang dengan nilai audit adalah sebesar

    Rp 186.191.972,36 ( Rp 1.396.835.456 Rp1.210.643.483,64) berada dibawah

    tingkat taksiran kekeliruan maksimum yang dianggap material dalam populasi,

    yaitu sebesar Rp 189.205.128,48. Maka penilaian kuantitatif mengambil

    kesimpulan bahwa saldo piutang pada penejelasan pos-pos neraca per 31

    Desember 2010 menunjukkan saldo yang sewajarnya.

    BAB V

    KESIMPULAN DAN SARAN

    5.1 Kesimpulan

    Berdasarkan hasil pengujian atas nilai piutang pada Koperasi Karyawan XYZ

    dengan menggunakan statistikal sampling, yaitu dengan menggunakan prosedur

    attribute sampling dan prosedur variabel sampling, maka dapat disimpulkan

    sebagai berikut:

    a. Dari hasil pembagian kuesioner atas sistem pengendalian intern umum,

    penjualan kredit, dan piutang dan observasi langsung oleh penulis serta

    dilakukan analisis dengan menggunakan sistem tabulasi dengan attribute

    sampling, diperoleh hasil bahwa sistem pengendalian intern umum, penjualan

    kredit dan piutang pada Koperasi Karyawan XYZ telah berjalan dengan baik.

    b. Dengan menggunkan prosedur variabel sampling, dalam melakukan

    pengujian terhadap kewajaran saldo piutang, diperoleh bahwa saldo piutang

    yang tercantum dalam neraca menunjukkan saldo yang sewajarnya.

    5.2 Saran

    Berdasarkan hasil analisis dari penelitian yang dilakukan, maka penulis

    memberikan saran kepada auditor untuk menggunakan metode statistikal

  • sampling dalam melakukan pengujian, karena dengan menggunakan metode

    tersebut akan menghasilkan sampel yang lebih representatif. Dan sebaliknya

    pengujian dengan metode ini dilakukan oleh auditor yang berpengalaman, karena

    pengujian ini membutuhkan pertimbangan-pertimbangan untuk mengindentifikasi

    item-item yang penting

    DAFTAR PUSTAKA

    Afrianti, Nur Fitri. November 2010. Arti Koperasi.

    http://phity2.blogspot.com/2010/11/arti-koprasi.html

    Agoes, Sukrisno. 2004. Auditing I. FEUI : Jakarta

    Baridwan, Zaki. 2004. Intermediate Accounting. BPFE Yogyakarta : Yogyakarta

    Hakim, Abdul. 2001. Statistika Deskriptif. Ekonisa : Yogyakarta

    Halim, Abdul. 2008. Auditing (Dasar- Dasar Audit Laporan Keuangan). UPP

    STIM YKPN Yogyakarta : Yogyakarta

    Hartadi, Bambang.1987. Auditing. BPFE Yogyakarta : Yogyakarta

    Ikatan Akuntansi Indonesia. 2009. Standar Akuntansi Keuangan Per 1 Juli 2009.

    Salemba Empat : Jakarta

    Indrianto, Nur. Bambang Supomo. 2006. Metodologi Penelitian. BPFE

    Yogyakarta : Yogyakarta

    Mulyadi. 2002. Auditing. Salemba Empat : Jakarta

    Mulyadi. 2008. Sistem Akuntansi. Salemba Empat : Jakarta

    Munawir, H.S. 1995. Auditing Modern I. BPFE Yogyakarta : Yogyakarta

    Puspita, Eni. 2010. Penerapan Statistikal Sampling dalam Pemeriksaan Piutang

    Dagang pada PT. Coca-Cola Bottling Indonesia Cabang Bandar

    Lampung. Skripsi progam S-1. Jurusan Akuntansi. Fakultas Ekonomi dan

    Bisnis. Universitas Lampung : Bandar Lampung.

    Rudianto. 2008. Pengantar Akuntansi. Erlangga : Jakarta

    Saputri, Utami. 2012. Pengaruh Sistem Pengendalian Intern Piutang Terhadap

    Kelancaran Penerimaan Piutang Pada Koperasi Karyawan Omedata

    (KKO). Skripsi progam S-1. Jurusan Pendidikan Ekonomi. Fakultas

    Pendidikan Ekonomi dan Bisnis. Universitas Pendidikan Indonesia :

    Bandung.

    Sugiyono. 2009. Metode Penelitian Bisnis. Alfabeta : Bandung