analisis pengaruh rasio profitabilitas dan...

Click here to load reader

Post on 06-Feb-2018

216 views

Category:

Documents

0 download

Embed Size (px)

TRANSCRIPT

  • ANALISIS PENGARUH RASIO PROFITABILITAS DAN NILAI PASAR INVESTASI TERHADAP PERUBAHAN HARGA SAHAM

    PERUSAHAAN MANUFAKTUR PADA BURSA EFEK INDONESIA (BEI)

    (Skripsi)

    Nama : A. Vicky Nugraha

    NPM : 0541031134

    Jurusan : Akuntansi

    Pembimbing I : Kiagus Andi, S.E., M.Si., Akt.

    Pembimbing II : Retno Yuni, S., S.E, M.Sc., Akt.

    FAKULTAS EKONOMI

    UNIVERSITAS LAMPUNG

    2012

  • BAB I

    PENDAHULUAN

    1.1. Latar Belakang

    Saham adalah suatu sertifikat atau piagam yang memiliki fungsi sebagai bukti pemilihan

    suatu perusahaan dengan berbagai aspek-aspek penting bagi perusahaan. Pemilik saham akan

    mendapatkan hak untuk menerima sebagian pendapatan tetap (dividen) dari perusahaan serta

    kewajiban menanggung risiko kerugian yang diderita perusahaan (Anogara & Pakarti, 2001).

    Menurut Harahap (2004), rasio profitabilitas menggambarkan kemampuan perusahaan

    mendapatkan laba melalui semua kemampuan, dan sumber yang ada seperti kegiatan

    penjualan, kas, modal, jumlah karyawan, jumlah cabang, dan sebagainya. Rasio yang

    menggambarkan kemampuan perusahaan menghasilkan laba disebut juga operating ratio.

    Menurut L. Hin (2001:63) Rasio Profitabilitas terdiri dari Return On Assets (ROA), Return

    On Equity (ROE), Net Profit Margin (NPM), dan Operating Profit Margin (OPM).

    Menurut Harahap (2001), laba (gains) adalah naiknya nilai ekuitas dari transaksi yang

    bersifat insidentil dan dari transaksi atau kejadian lainnya yang mempengaruhi suatu

    lembaga selama satu periode tertentu kecuali yang berasal dari hasil atau investasi

    pemilik.

  • Laba (income juga disebut earnings atau profit) merupakan ringkasan hasil aktivitas

    operasi perusahaan usaha yang dinyatakan dengan istilah keuangan. Laba merupakan

    informasi perusahaan yang paling diminati dalam pasar uang.

    APB Statement mengartikan laba sebagai kelebihan atau defisit penghasilan di atas

    biaya selama satu periode akuntansi.

    Laba itu berpengaruh penting terhadap harga saham karena laba memberikan

    pengaruh terhadap laporan kas yang diperlukan untuk membayar dividen. Namun

    demikian, dividen juga penting berpengaruh karena dividen adalah jumlah yang

    sesungguhnya yang diperoleh dari laporan keuangan dan dapat diterima di

    perusahaan.

    Faktor-faktor yang mempengaruhi laba (Anoraga, 2006), antara lain:

    1. Biaya

    Biaya yang timbul dari perolehan atau mengolah suatu produk akan

    mempengaruhi harga jual produk yang bersangkutan.

    2. Harga Jual

    Harga jual produk yang akan mempengaruhi besarnya volume penjualan

    produk yang bersangkutan.

    3. Volume Penjualan dan Produksi

  • Besarnya volume penjualan berpengaruh terhadap volume produksi produk

    tersebut, selanjutnya volume produksi akan mempengaruhi besar atau

    kecilnya biaya produksi.

    Nilai pasar yaitu nilai yang tercantum pada kurs resmi jika saham tersebut

    diperdagangkan di bursa. Nilai ini ditentukan oleh permintaan dan penawaran saham

    tersebut di bursa.

    Investasi merupakan penanaman modal untuk satu atau lebih aset yang dimiliki dan

    biasanya berjangka waktu lama dengan harapan mendapatkan keuntungan di masa-

    masa yang akan datang.

    Menurut Mulyoto (2003), investasi adalah setiap wahana dimana dana ditempatkan

    dengan harapan dapat memelihara atau menaikkan nilai dan atau memberikan hasil

    (returns) yang positif. Nilai pasar investasi adalah gambaran nilai tukar atau sejumlah

    uang yang mungkin disetujui, jika properti di tawarkan di pasar terbuka pada tanggal

    penilaian dan dalam kondisi yang sesuai dengan persyaratan definisi nilai pasar.

    Dasar pengambilan variabel-variabel ini adalah adanya perbedaan hasil-hasil

    penelitian sebelumnya mengenai variabel-variabel tersebut. Rasio laba atau

    profitabilitas terhadap harga mempengaruhi harga saham karena nilai akuntansi laba

    per lembar saham perusahaan ditentukan dengan menggunakan laporan laba terakhir

    dan membagi laba perusahaan setelah pajak dengan jumlah saham yang beredar dan

    berpengaruh terhadap harga saham. Praptomo (2010), menghasilkan simpulan bahwa

    rasio profitabilitas tidak ada pengaruh signifikan terhadap harga saham. Sedangkan

  • menurut Saptadi (2007), perubahan harga saham pada perusahaan dan periode yang

    diteliti dipengaruhi terhadap rasio profitabilitas dan rasio pasar.

    Secara empiris maka oleh penulis tertarik untuk mengangkat sebuah skripsi dengan

    judul Analisis Pengaruh Rasio Profitabilitas dan Nilai Pasar Investasi Terhadap

    Perubahan Harga Saham Perusahaan Manufaktur pada Bursa Efek Indonesia.

    1.2. Permasalahan

    Berdasarkan latar belakang yang telah penulis uraikan, maka permasalahannya yang

    akan diangkat dalam penelitian ini adalah apakah rasio profitabilitas dan nilai pasar

    investasi berpengaruh terhadap perubahan harga saham perusahaan manufaktur pada

    Bursa Efek Indonesia (BEI).

    1.3. Batasan Masalah

    Dengan mengukur tingkat kebutuhan dalam melakukan penelitian ini maka penulis

    melakukan batasan-batasan dalam penelitian ini yaitu:

    1. Penelitian ini dilakukan dengan mengambil sampel dan data perusahaan

    Manufaktur pada Bursa Efek Indonesia pada tahun 2007-2010.

    2. Komponen rasio profitabilitas yang digunakan dalam penelitian ini terdiri dari

    Return On Asset (ROA), dan Return On Equity (ROE) dan Price to Book

    Value (PBV) pada tahun 2007-2010.

    3. Selama periode penelitian, perusahaan mendapatkan laba.

  • 1.4. Tujuan dan Manfaat Penelitian

    1.4.1. Tujuan Penelitian

    Berdasarkan masalah yang telah dirumuskan, maka penelitian ini dilakukan dengan

    tujuan untuk memberikan bukti empiris bahwa rasio profitabilitas dan nilai pasar

    investasi berpengaruh terhadap perubahan harga saham perusahaan manufaktur pada

    Bursa Efek Indonesia (BEI).

    1.4.2. Manfaat Penelitian

    Adapun manfaat penelitian antara lain :

    1. Sebagai bentuk pengembangan dan pengujian atas penelitian sebelumnya.

    2. Sebagai bahan pertimbangan dalam mengambil keputusan investasi dan

    mengetahui hasil dari rasio profitabilitas dan investasinya.

  • BAB II

    LANDASAN TEORI

    2.1. Pengertian Laba

    Laba merupakan salah satu informasi aktual untuk melihat kemampuan perusahaan

    secara umum, laba digambarkan sebagai selisih antara pendapatan dan beban yang

    dikeluarkan untuk menghasilkan pendapatan tersebut.

    Definisi laba (penghasilan) menurut SAK dalam Kerangka Dasar Penyusunan dan

    Penyajian Laporan Keuangan (IAI, 2002:17) :

    Penghasilan (income) adalah kenaikan manfaat ekonomi selama satu periode

    akuntansi dalam bentuk pemasukan atau penambahan aktiva atau penurunan

    kewajiban yang mengakibatkan kenaikan ekuitas yang tidak berasal dari

    kontribusi penanaman modal.

    Laba (income juga disebut earnings atau profit) merupakan ringkasan hasil aktivitas

    operasi perusahaan usaha yang dinyatakan dengan istilah keuangan. Laba merupakan

    informasi perusahaan yang paling diminati dalam pasar uang (John & Halsey, 2004).

    Menurut Harahap (2006), Laba (gains) adalah naiknya nilai ekuitas dari transaksi

    yang bersifat insidentil dan dari transaksi atau kejadian lainnya yang mempengaruhi

  • suatu lembaga selama satu periode tertentu kecuali yang berasal dari hasil atau

    investasi pemilik.

    Definisi laba menurut The FASB (35) adalah kenaikan modal pemilik (aktiva neto)

    dari transaksi insidentil atau transaksi sampingan sebuah perusahaan dan dana dari

    seluruh transaksi lain, kejadian lain, dan keadaan lain yang mempengaruhi

    perusahaan selama suatu periode.

    Berdasarkan pengertian laba yang telah diungkapkan dapat disimpulkan bahwa laba

    adalah selisih dari pendapatan terhadap beban atau pendapatan yang diterima setelah

    break even point (BEP) yang disebabkan oleh transaksi atau kejadian lainnya selama

    1 (satu) periode.

    2.1.1.Klasifikasi Laba

    Dalam penyajian laporan laba/rugi , laba diklasifikasikan menjadi beberapa jenis

    antara lain:

    1. Laba kotor atas penjualan, merupakan selisih dari penjualan bersih dan harga

    pokok penjualan, laba ini dinamakan laba kotor hasil penjualan bersih

    sebelum dikurangi dengan beban operasi lainnya untuk periode tertentu.

    2. Laba bersih operasi perusahaan yaitu laba kotor dikurangi dengan sejumlah

    biaya penjualan, biaya administrasi dan umum.

  • 3. Laba bersih sebelum potongan pajak, merupakan pendapatan perusahaan

    secara keseluruhan sebelum potongan pajak perseroan, yaitu apabila laba

    operasi dikurangi atau ditambah dengan selisih pendapatan dan biaya.

    4. Laba kotor sesudah potongan pajak yaitu laba bersih setelah ditambah atau

    dikurangi dengan pendapatan dan biaya non operasi dan dikurangi pajak

    perseroan.

    2.1.2.Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Laba

    Faktor-faktor yang mempengaruhi laba antara lain:

    1. Biaya

    Biaya yang timbul dari perolehan atau mengolah suatu produk akan

    mempengaruhi harga jual produk yang bersangkutan.

    2. Harga Jual

    Harga jual produk yang akan mempengaruhi besarnya volume penjualan

    produk yang bersangkutan.

    3. Volume Penjualan dan Produksi

    Besarnya volume penjualan berpengaruh terhadap volume produksi produk

    tersebut, selanjutnya volume produksi akan mempengaruhi besar atau

    kecilnya biaya produksi.

  • 2.2.Analisis Profitabilitas

    Profitabilitas adalah kemampuan perusahaan untuk memperoleh laba dalam

    hubungannya dengan penjualan, total aktiva maupun modal sendiri.

    Bagi perusahaan pada umumnya masalah profitabilitas adalah lebih penting daripada

    masalah laba, karena laba yang besar saja belumlah merupakan ukuran bahwa

    perusahaan itu telah dapat bekerja dengan efisien. Efisiensi baru dapat diketahu

    dengan membandingkan laba yang diperoleh dengan kekayaan atau modal yang

    menghasilkan laba tersebut, atau dengan kata lain menghitung profitabilitasnya.

    Berdasarkan definisi diatas dapat ditarik kesimpulan bahwa profitabilitas adalah

    kemampuan suatu perusahaan untuk memperoleh laba yang merupakan hasil akhir

    bersih dari serangkaian kebijakan yang diambil perusahaan dalam suatu periode

    tertentu yang mencerminkan efektifitas manajemen.

    2.2.1.Pengukuran Profitabilitas

    Adanya perbedaan tujuan dan harapan yang ingin dicapai membuat analisa keuangan

    menjadi beragam, tetapi para investor dan calon investor potensial akan melihat dari

    segi profitabilitas karena kestabilan harga saham dipengaruhi oleh tingkat keuntungan

    Skousen (1995:1072):

    Profitability analysis provide evidence concerning the earnings potential of a

    company and how effectively a firm is being managed.

  • Dengan kata lain analisis profitabilitas ini memberikan bukti mengenai penghasilan

    potensial suatu perusahaan dan seberapa efektif perusahaan telah dikelola.

    Dalam kesempatan ini akan diuraikan dua komponen rasio profitabilitas yang

    menjadi bagian dalam model analisis penelitian ini.

    Return on Asset (ROA) digunakan untuk mengukur kemampuan perusahaan dengan

    keseluruhan dana yang ditanamkan dalam aset yang digunakan dalam operasi

    perusahaan untuk memperoleh keuntungan.

    Return on Equity (ROE), merupakan suatu pengukuran dari penghasilan yang tersedia

    bagi para pemilik modal (baik pemegang saham biasa maupun pemegang saham

    preferen) atas modal yang mereka tanamkan ke dalam perusahaan. Rasio ini

    menggambarkan perputaran aset diukur dari volume penjualan. Semakin besar rasio

    ini semakin baik. Hal ini berarti bahwa aset dapat lebih cepat berputar dan meraih

    laba.

    Kenaikan ROE umumnya akan diikuti dengan naiknya harga saham di lantai bursa.

    Dan rasio ini menunjukkan berapa persen diperoleh laba bersih bila di ukur dari

    modal pemilik, semakin besar semakin bagus (Harahap, 2006).

    2.3.Pengertian Saham

    Saham adalah tanda bukti kepemilikan terhadap suatu perusahaan atau bukti

    penyertaan modal pada suatu perusahaan. Wujud saham yang berupa selembar kertas

    yang menerangkan bahwa pemilik kertas adalah pemilik perusahaan.

  • 2.3.1.Jenis-Jenis Saham

    Dalam praktek, terdapat banyak jenis saham yang dapat dibedakan menurut cara

    peralihan dan manfaat yang dipeoleh para pemegang saham.

    Klasifikasi saham dapat dibedakan atas beberapa hal:

    1. Cara Peralihan Hak

    a. Saham Atas Unjuk (bearer stocks), artinya pada saham tersebut tidak

    tertulis nama pemiliknya agar mudah dipindahtangankan dari suatu

    investor ke investor lainnya.

    b. Saham Atas Nama (registered stocks), merupakan saham yang ditulis

    dengan jelas siapa nama pemiliknya, dimana cara peralihannya harus

    melalui prosedur tertentu.

    2. Hak Tagihan atau Klaim

    a. Saham Biasa (common stocks), yaitu merupakan saham yang

    menempatkan pemiliknya paling yunior terhadap pembagian dividen, dan

    hak atas harta kekayaan apabila perusahaan tersebut dilikuidasi.

    b. Saham Preferen (prefered stocks), merupakan saham yang memiliki

    karakteristik gabungan antara obligasi dan saham biasa, karena bisa

    menghasilkan pendapatan tetap (seperti bunga obligasi), tetapi juga bisa

    tidak mendatangkan hasil seperti yang dikehendaki investor.

  • Sedangkan jika dilihat dari kinerja perdagangan, saham dapat dikategorikan atas:

    1. Blue Chiep Stocks, yaitu saham biasa dari suatu perusahaan yang memiliki

    reputasi tinggi sebagai leader di industri sejenis, memiliki pendapatan yang

    stabil dan konsisten dalam membayar deviden.

    2. Income Stocks, yaitu saham dari suatu emiten yang memiliki kemampuan

    membayar deviden lebih tinggi dari rata-rata deviden yang dibayarkan pada

    tahun sebelumnya.

    3. Growth Stocks, (well-known), yaitu saham-saham dari emiten yang memiliki

    pertumbuhan pendapatan yang tinggi, sebagai leader di industri sejenis yang

    mempunyai reputasi tinggi.

    4. Speculative Stocks, yaitu saham suatu perusahaan yang tidak bisa secara

    konsisten memperoleh penghasilan dari tahun ke tahun, akan tetapi

    mempunyai kemampuan penghasilan yang tinggi di masa mendatang,

    meskipun belum pasti.

    5. Counter Cyclical Stocks, yaitu saham yang tidak bisa terpengaruh oleh

    kondisi ekonomi makro maupun situasi bisnis secara umum.

    2.3.2.Return dan Resiko Saham

    Return merupakan hasil yang diperoleh dari investasi. Return dapat berupa return

    realisasi yang sudah terjadi atau return ekspektasi yang belum terjadi tetapi yang

    diharapkan akan terjadi di masa akan datang.

  • Return realisasi (realized return), merupakan return yang telah terjadi. Return

    realisasi dihitung berdasarkan data historis. Return realisasi penting karena digunakan

    sebagai salah satu pengukur kinerja dari perusahaan. Sedangkan return ekspektasi

    (expected return) adalah return yang diharapkan akan diperoleh oleh investor di masa

    mendatang, return ekspektasi sifatnya belum terjadi.

    Ada beberapa macam pengukuran return realisasi yang banyak digunakan yaitu:

    1. Retun Total (total returns)

    Return total merupakan return keseluruhan dari suatu investasi dalam suatu

    periode tertentu.

    2. Return Relatif (relative returns)

    Return relatif digunakan dengan menambahkan niali 1 terhadap nilai return

    total.

    3. Return Kumulatif (cumulative returns)

    Return kumulatif digunakan untuk mengukur tingkat kemakmuran total yang

    dimiliki.

    4. Return Disesuaikan (adopteds returns)

    Return ini juga disebut return rill atau return yang disesuaikan dengan inflasi.

  • Sedangkan return ekspektasi (expected return) dapat dihitung dengan mengalihkan

    masing-masing hasil masa depan (outcome) dengan profitabilitas kejadiannya dan

    menjumlah semua produk perkalian tersebut.

    2.3.3.Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Harga Saham

    Pergerakan harga saham di bursa efek dipengaruhi oleh banyak faktor, pada

    umumnya dapat dikategorikan menjadi dua yaitu faktor fundamental dan faktor

    teknis.

    1. Faktor Fundamental

    Berikut ini merupakan beberapa faktor fundamental yang penting, yaitu:

    a. Kinerja Emiten

    Investor membeli saham dengan harapan akan memperoleh deviden dan

    harga sahamnya akan naik sehingga diperoleh capital gain. Dlam kondisi

    normal yang membuat harga saham naik adalah kemampuan emiten

    memperoleh laba yang sebagian diantaranya akan dibagikan sebagai

    deviden.

    b. Perubahan Suku Bunga

    Apabila terjadi kenaikan suku bunga, hal tersebut akan mendorong

    investor untuk menjual saham yang dimilikinya dan menempatkan

  • dananya di bank. Alasannya sederhana, dana di bank lebih aman

    dibandingkan di bursa efek. Di samping itu kenaikan suku bunga juga

    akan mendorong jatuhnya harga saham, hal ini bisa terjadi jika kenaikan

    suku bunga membuat beban bunga hutang emiten lebih besar, sehingga

    laba bersih akan menurun.

    c. Pergerakan Mata Uang

    Apabila nilai mata uang suatu negara dengan negara berubah, perubahan

    tersebut akan ikut menentukan pergerakan harga saham. Pergerakan nilai

    mata uang ini antara lain ditentukan oleh suku bunga di suatu negara.

    2. Faktor Teknis

    Beberapa faktor-faktor teknis yang dianggap berpengaruh terhadap

    pergerakan harga saham yaitu:

    a. Penawaran dan Permintaan

    Pergerakan harga saham di bursa efek seringkali hanya dipahami dengan

    hukum permintaan dan penawaran. Ketika terjadi lebih banyak pembeli

    daripada penjual, harga saham akan cenderung naik demikian pula

    sebaliknya. Begitu juga pada saat yang hampir bersamaan terdapat

    beberapa IPC harga saham akan cenderung melemah.

    b. Intervensi Pemerintah

  • Seringkali investasi pemerintah dilakukan dengan diam-diam, misalnya

    menugaskan lembaga tertentu untuk membeli saham. Tetapi tidak jarang

    intervensi pemerintah dilakukan secara terbuka, sebagai contoh

    pemerintah malaysia melakukan intervensi untuk menjaga agar indeks

    harga saham tidak terus melemah ketika krisis moneter memuncak pada

    akhir tahun 1997, pemerintah Malaysia melarang transaksi short selling

    dan margin trading.

    c. Politik

    Kehidupan politik suatu negara akan mempengaruhi aktivitas ekonomi,

    termasuk aktivitas perdagangan di bursa efek.

    2.4.Hipotesis Pasar Efisien

    Untuk memudahkan penelitian tentang efisiensi pasar, mengklasifikasikan bentuk

    pasar yang efisien ke dalam tiga efficient market hypotesis (EMH) yaitu:

    1. Efisien dalam bentuk lemah (weak form). Pasar efisien dalam bentuk

    lemah berarti semua informasi di masa lalu (historis) akan tercermin

    dalam harga yang terbentuk sekarang. Oleh karena itu, informasi historis

    tersebut (seperti harga dan volume perdagangan di masa lalu) tidak bisa

    lagi digunakan untuk memprediksi perubahan harga di masa yang akan

    datang, karena sudah tercermin pada harga saat ini.

  • 2. Efisien dalam bentuk setengah kuat (semistrong), merupakan bentuk

    efisien pasar yang lebih komprehensif karena dalam bentuk ini harga

    saham disamping dipengaruhi oleh data pasar (harga saham dan volume

    perdagangan masa lalu), juga dipengaruhi oleh semua informasi yang

    dipublikasikan (seperti earning,deviden, pengumuman stock split,

    penerbitan saham baru dan kesulitan keuangan yang dialami perusahaan).

    3. Efisien dalam bentuk kuat (strong form). Pasar efisien dalam bentuk kuat,

    semua informasi baik yang terpublikasi atau tidak dipublikasikan, sudah

    tercermin dalam harga sekuritas saat ini.

    2.4.1.Pengujian Terhadap Hipotesis Pasar Efisien

    1. Pasar Efisien dalam bentuk lemah

    Diuji dengan melakukan pengujian prediktabilitas retrurn. Pengujian prediktabilitas

    return dapat dilakukan dengan berbagai cara, antara lain dengan:

    a. Mempelajari pola return seasonal

    b. Menggunakan data return di masa lalu, baik untuk prediktabilitas jangka

    pendek maupun jangka panjang.

    c. Mempelajari hubungan return dengan karakteristik perusahaan.

    2.Pasar Efisien dalam bentuk setengah kuat

  • Pengujian hipotesis pasar dalam bentuk setengah kuat bisa dilakukan dengan

    pengujian event studies, untuk mengamati pengaruh pengumuman suatu informasi

    terhadap perubahan harga sekuritas. Penelitian event studies umumnya berkaitan

    dengan seberapa cepat suatu informasi yang masuk ke pasar dapat tercermin pada

    harga saham. Standar metode yang biasanya digunakan dalam event studies adalah:

    a. Mengumpulkan sampel

    b. Menentukan hari pengumuman atau event

    c. Menentukan periode pengamatan

    d. Menghitung return masing-masing sampel setiap hari selama periode

    pengamatan

    e. Menghitung return abnormal

    f. Menghitung rata-rata return abnormal semua sampel setiap hari

    g. Terkadang return abnormal harian tersebut digabungkan untuk menghitung

    return abnormal kumulatif selama periode tertentu

    h. Mempelajari dan mendiskusikan hasil yang diperoleh.

    3.Pasar Efisien dalam bentuk kuat

    Pengujian pasar efisien dalam bentuk kuat dapat dilakukan dengan pengujian private

    information. Pengujian ini meliputi pengujian apakah pihak insider trading

    perusahaan dan kelompok usaha tertentu yang dianggap mempunyai akses informasi

  • lebih baik, dapat memperoleh return abnormal dibandingkan dengan return pasar

    umumnya.

    2.5.Gambaran Umum Pasar Modal

    Pasar modal merupakan sarana penghimpunan dana bagi perusahaan-perusahaan dan

    sekaligus wadah investasi bagi para pemodal yang cukup menarik. Pasar modal dapat

    dikatakan sebagai pasar abstrak, dimana yang diperjualbelikan adalah dana-dana

    jangka panjang, yaitu dana yang keterkaitannya dengan investasi lebih dari satu

    tahun, sekaligus juga sebagai pasar kongkrit yang berbentuk lembar surat-surat

    berharga di bursa efek.

    2.5.1.Pengertian Pasar Modal

    Menurut Kepres No.60 tahun 1998, pasar modal didefinisi sebagai berikut:

    Pasar modal adalah bursa yang merupakan sarana untuk mempertemukan penawar dan permintaan dana jangka panjang dalam bentuk efek.

    Dari beberapa pengertian dapat disimpulkan bahwa pasar modal merupakan tempat

    dimana diperdagangkan dana-dana jangka panjang yang melibatkan pihak-pihak

    tertentu baik emiten, lembaga-lembaga penunjang maupun profesi penunjang serta

    didukung oleh seperangkat hukum yang mengaturnya.

    2.5.2.Lembaga-Lembaga Pendukung Pasar Modal

    1. Bursa Efek. Perusahaan sekuritas bergabung bersama membentuk bursa efek.

    Organisasi tersebut mengatur dirinnya sendiri dengan mengeluarkan berbagai

  • peraturan serta memastikan bahwa anggotanya berperilaku sedemikian rupa sehingga

    memberikan persepsi positif tentang pasar modal kepada masyarakat.

    2. Lembaga Kliring dan Penjamin (LKP). Peran LKP adalah melaksanakan kliring

    dan menjamin penyelesaian transaksi. LKP menjamin penyelesaian transaksi di bursa

    efek dengan bertindak sebagai counter party dari anggota bursa yang melakukan

    transaksi. Jaminan tersebut dapat berupa dana sekuritas dan jaminan bank kustodian

    untuk menyelesaikan transaksi tertentu.

    3. Lembaga Penyimpanan Dana Penyelesaian (LPP), merupakan lembaga yang

    memberikan jasa penitipan kolektif yang aman dan efisien kepada bank kustodian,

    LKP, perusahaan sekuritas, serta pemodal institusional. Jasa yang diberikan harus

    memenuhi standar internasional dan memberikan keamanan yang maksimal bagi

    pengguna jasa LPP.

    4. Perusahaan Efek, meliputi:

    a. Penjamin Emisi, berperan sebagai lembaga perantara emisi yang menjamin

    penjualan sekuritas yang diterbitkan emiten. Penjamin emisi merupakan mediator

    yang mempertemukan emiten dan pemodal. Mereka bertugas untuk meneliti dan

    mengadakan penilaian menyeluruh atas kemampuan dan prospek emiten.

    b. Perantara Perdagangan Efek, merupakan pihak yang mempertemukan penjual dan

    pembeli sekuritas, menyediakan informasi bagi kepentingan pemodal, memberi saran

    serta membantu mengelola dana bagi kepentingan pemodal.

  • c. Manager Investasi, merupakan pihak yang mengelola dana yang dititipkan investor

    reksadana untuk diinvestasikan di pasar modal.

    5. Lembaga Penunjang, meliputi:

    a. Biro Administrasi Efek, yaitu suatu badan hukum yang berbentuk PT yang

    melakukan usaha dalam pengelolaan administrasi sekuritas seperti registrasi dan

    pencatatan sekuritas, pemindahan hak kliring dan tugas-tugas administrasi lainnya

    bagi emiten.

    b. Bank Kustodian, adalah bank dengan pengawasan Bank Indonesia bertindak

    sebagai kustodian di pasar modal.

    c. Wali Amanat, yaitu pihak yang berperan penting dalam penerbitan obligasi. Wali

    amanat adalah lembaga yang ditunjuk oleh emiten untuk mewakili kepentingan para

    pemegang obligasi.

    d. Penasehat Investasi

    e. Pemeringkat Efek. Lembaga ini berperan untuk melakukan pemeringkatan

    sekuritas terutama untuk obligasi dan sekuritas lainnya yang bersifat utama.

    6. Profesi Penunjang, meliputi:

    a. Akuntan, merupakan salah satu profesi penunjang yang bertujuan untuk

    memberikan pendapat atas kewajaran laporan keuangan perusahaan yang akan go

    public.

  • b. Konsultan Hukum, mempunyai peran dalam memberikan perlindungan kepada

    pemodal dari segi hukum.

    c. Penilai, merupakan salah satu profesi penunjang pasar modal yang melaksanakan

    penilaian kembali aktiva tetap perusahaan, sehingga standar kerja profesi penilai

    sangat penting guna memastikan kualitas jasa yang dihasilkan.

    d. Notaris, adalah pihak yang berperan dalam pembuatan perjanjian dalam rangka

    emisi sekuritas seperti perjanjian penjakin sekuritas. Perwalian amanat dan lain-lain

    perjanjian yang harus dibuat secara nota rill agar berkekuatan hukum.

    7. Pemodal, terdiri dari pemodal domestik dan asing merupakan pihak yang

    mempunyai dana yang siap diinvestasikan pada pasar modal.

    8. Emiten, terdiri dari perusahaan publik dan reksadana. Emiten merupakan pihak

    yang mencari dana dengan menjual sekuritas kepada masyarakat luas melalui pasar

    modal. Emiten berperan dalam pengembangan pasar modal melalui keterbukaan

    informasi, peningkatan likuiditas sekuritas, pemantauan harga sekuritas dan menjaga

    hubungan baik dengan pemodal.

    2.5.3.Peranan Pasar Modal

    Pasar modal memiliki peran sentral bagi perekonomian, bahkan maju tidaknya

    ekonomi suatu negara dapat diukur dari maju tidaknya pasar modal di negara

    tersebut. Pasar modal telah tumbuh menjadi leading indicator bagi ekonomi suatu

    negara.

  • Beberapa manfaat keberadaan pasar modal menurut M. Fakhruddin dan M. Sopian

    Hadianto antara lain:

    1. Menyediakan sumber pembiayaan (jangka panjang) bagi dunia usaha

    sekaligus memungkinkan alokasi sumber dana secara optimal.

    2. Memberikan wahana investasi bagi investor sekaligus memungkinkan

    upaya diversifikasi.

    3. Menyediakan leading indicator bagi trend ekonomi negara.

    4. Penyebaran kepemilikan perusahaan sampai lapisan masyarakat menengah.

    5. Penyebaran kepemilikan, keterbukaan, dan profesionalisme, menciptakan

    iklim berusaha yang sehat.

    6. Menciptakan lapangan kerja atau profesi yang menarik.

    7. Memberikan kesempatan memiliki perusahaan yang sehat dan mempunyai

    prospek.

    Sedangkan manfaat yang akan diperoleh yang go public adalah sebagai berikut:

    1. Memperoleh dana murah yang relatif besar dan diterima sekaligus

    (tidak ada termin-termin).

    2. Tidak ada kewajiban membayar bunga tetap (saham).

    3. Emiten akan lebih dikenal masyarakat.

  • 4. Perusahaan dituntut selalu terbuka sehingga memacu manajemen secara

    profesional.

    2.5.4. Persyaratan Emisi Saham

    Ada beberapa persyaratan yang harus dipenuhi agar suatu perusahaan bisa

    menerbitkan saham (go public), yaitu:

    1. Mengajukan surat permohonan ke BAPEPAM.

    2. Laporan keuangan perusahaan telah diaudit oleh akuntan publik dengan

    pendapat wajar tanpa syarat.

    3. Jumlah saham yang listed minimal 1 juta lembar saham.

    4. Jumlah pemegang saham minimal 200 orang atau lembaga.

    5. Perusahaan telah beroperasi lebih dari 3 tahun.

    6. Menghasilkan laba selama 2 tahun terakhir.

    7. Total kekayaan minimal Rp 20 milyar.

    Modal sendiri minimal Rp 7,5 milyar.

    Modal disetor minimal Rp 2 milyar

    8. Kapitalisasi saham yang listed minimal Rp 4 milyar.

    9. Dewan komisaris dan dewan direksi mempunyai reputasi yang baik.

  • 2.6 Pengembangan Hipotesis

    a. Return On Assets (ROA)

    ROA merupakan salah satu bentuk dari rasio profitabilitas yang dimaksudkan untuk

    mengukur kemampuan atas kseluruhan dana yang ditanamkan dalam aktivitas yang

    digunakan untuk aktivitas operasi perusahaan dengan tujuan menghasilkan laba

    dengan memanfaatkan aset yang dimilikinya. Return on Asset merupakan rasio yang

    terpenting di antara rasio profitabilitas yang ada (Anogara & Pakarti, 2001). ROA

    yang semakin tinggi maka semakin baik juga pengaruh laba perusahaan, karena

    meningkatnya kemampuan dalam menghasilkan keuntungan yang digunakan untuk

    menutup investasi yang telah dikeluarkan perusahaan.

    Ha1 : Return On Assets (ROA) berpengaruh positif terhadap Harga Saham.

    b. Return On Equity (ROE)

    Return On Equity (ROE), merupakan rasio yang memperlihatkan sejauh manakah

    perusahaan mengelola modal sendiri (net worth) secara efektif. Rasio ini merupakan

    ukuran profitabilitas dari sudut pandang pemegang saham. Kinerja keuangan

    perusahaan dalam menghasilkan laba bersih dari modal sendiri yang digunakan akan

    berdampak pada para pemegang saham perusahaan tersebut. ROE yang semakin

    tinggi mencerminkan kemampuan perusahaan untuk menghasilkan keuntungan yang

    besar bagi pemegang saham, hal ini tentu dapat meningkatkan tingkat pengembalian

    saham pada investor.

  • Mengacu pada hal tersebut maka hipotesis kedua dapat dirumuskan sebagai berikut:

    Ha2 : Return On Equity (ROE) berpengaruh positif terhadap Harga Saham.

    c. Price to Book Value (PBV)

    Rasio ini adalah perhitungan atau perbandingan antara market value (harga saham)

    dengan book value (nilai buku) suatu saham (Harahap, 2006). Cara menghitung PBV

    adalah nilai pasar dibagi dengan nilai buku. Rasio ini berfungsi untuk melengkapi

    analisis nilai buku. Jika pada analisis nilai buku, investor hanya mengetahui kapasitas

    perlembar saham dari nilai saham, pada rasio PBV, investor dapat membandingkan

    langsung nilai buku dari suatu saham dengan nilai pasarnya, dengan rasio PBV

    investor dapat mengetahui langsung sudah berapa kali nilai pasar suatu saham di

    hargai dari nilai bukunnya. Memang tidak ada ukuran pasti mahal tidaknya suatu

    harga saham jika diukur dengan rasio PBV nya. Karena hal ini sangat bergantung

    pada ekspektasi dan kinerja perusahaan saham tersebut. Tapi, paling tidak rasio ini

    dapat memberikan gambaran potensi pergerakan harga suatu saham. Maksudnya

    adalah jika suatu saham yang berkinerja baik pada PBVnya masih rendah

    dibandingkan dengan rata-rata PBV saham sektornya. Harga saham tersebut masih

    memiliki potensi untuk naik, demikian pula sebaliknya.

    Mengacu pada hal tersebut maka hipotesis ketiga dapat dirumuskan sebagai berikut:

    Ha3 : Price to Book Value (PBV) berpengaruh positif terhadap Harga Saham.

  • BAB III

    METODE PENELITIAN

    3.1. Jenis dan Sumber Data

    Penelitian ini dilakukan pada perusahaan yang tergabung dalam perusahaan

    manufaktur di Bursa Efek Indonesia. Penentuan sampel penelitian ini dipilih dari

    populasi berdasarkan penelitian metode purposive judgement sampling. Metode ini

    merupakan tipe pemilihan sampel secara tidak acak (non probabilitas) yang

    informasinya diperoleh dengan menggunakan pertimbangan tertentu (Indriantoro dan

    Supomo, 1999:131).

    Data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data keuangan perusahaan-

    perusahaan Manufaktur yang listing di Bursa Efek Indonesia selama tiga tahun

    berturut-turut yaitu tahun 2007 - 2010, dan telah di listing sebelum tahun 2007,

    dengan pertimbangan data harga saham dari perusahaan emiten terpenuhi. Data-data

    keuangan tersebut mencakup harga saham, net after tax, total assets, total equity,

    dan nilai buku sebagai dasar perhitungan rasio.

    3.2 . Populasi dan Sampel

    Populasi penelitian ini adalah perusahaan yang go-public di bursa efek indonesia.

    Sedangkan sampel adalah bagian atau wakil populasi yang memiliki karakteristik

    sama dengan populasinya, dalam hal ini adalah perusahaan manufaktur. Sampel

  • dalam penelitian ini dipilih berdasarkan metode purposive sampling yaitu sampel

    yang memenuhi kriteria tertentu untuk mendapatkan sampel yang representatif.

    Kriteria pemilihan sampel pada penelitian ini adalah sebagai berikut :

    1. Smpel yang dipilih adalah perusahaan manufaktur yang terdaftar si

    Bursa Efek Indonesia pada tahun 2007-2010.

    2. Perusahaan yang memiliki sampel profitabilitas nilai positif.

    3. Menggunakan kurs rupiah dalam menyampaikan laporan

    keuangannya.

    4. memiliki data-data yang lengkap terkait dengan variabel-variabel

    dalam penelitian ini.

    3.3 VARIABEL PENELITIAN DAN PENGUKURAN VARIABEL

    3.3.1 Variabel Dependen

    Variabel dependen adalah variabel yang dipengaruhi atau yang menjadi akibat karena

    adanya variabel bebas. Harga saham yang digunakan adalah harga saham rata-rata

    yang diperoleh dengan membagi harga saham tertinggi dan harga saham terendah

    yang terjadi pada pasar regular (reguler market trading), Tendelilin (2001).

  • Perubahan harga saham tersebut dihitung sebagai berikut:

    Y = Ht Ht-1 x100%

    Ht-1

    Keterangan:

    Y : Persentase perubahan harga saham

    Ht : Harga saham rata-rata periode t

    Ht-1 : Harga saham rata=rata periode sebelumnya

    3.3.2 Variabel Independen

    Variabel independen merupakan variabel yang mempengaruhi atau yang menjadi

    sebab perubahan atau timbulnya variabel terikat. Variabel independen dalam

    penelitian ini adalah rasio profitabilitas dan rasio pasar yang dalam penelitian ini

    diperlihatkan melalui Return On Assets (ROA) dan Price to Book Value (PBV). Dan

    dinyatakan dengan simbol X.

    1. Return On Assets (ROA) merupakan rasio yang mengukur sejauh mana

    kemampuan perusahaan menghasilkan laba dengan harta yang dimilikinya

    (Harahap, 2006)

    ROA = Laba Bersih Setelah Pajak

    Total Asset

  • 2. Return On Equity (ROE), merupakan rasio yang memperlihatkan sejauh

    manakah perusahaan mengelola modal sendiri (net woerth) secara efektif.

    Rasio ini merupakan ukuran profitabilitas dari sudut pandang pemegang

    saham.

    ROE = Laba Bersih Setelah Pajak

    Total Ekuitas

    3. Price to Book Value Ratio (PBV) adalah rasio yang menunjukkan harga

    saham di pasar dengan nilai buku saham yang digambarkan dalam neraca

    (Harahap, 2006).

    Price to Book Value Ratio (PBV) = Harga Pasar Saham

    Nilai Buku

    3.4. Alat Analisis

    Pengujian hipotesis ini menggunakan Analisis Regresi Linier Berganda. Persamaan

    analisis regresi berganda secara umum untuk 3 variabel yaitu:

    Y = a + b1X1 + b2X2 + b3X3 + e

    Keterangan:

    Y : perubahan harga saham

    a : konstanta

    b1,b2,b3 : koefesien regresi untuk X1, X2, X3

  • X1 : persentase perubahan Return On Assets (ROA)

    X2 : persentase perubahan Return On Equity (ROE)

    X3 : Persentase perubahan Price to Book Value (PBV)

    3.5 Uji Asumsi Klasik

    Untuk melakukan suatu model regresi yang baik, diperlukan pengujian asumsi

    klasik. Pengujian asumsi klasik meliputi uji normalitas, uji multikolinearitas, uji

    heteroskedastisitas, dan uji autokolerasi. Pengujian asumsi klasik ini dilakukan

    dengan menggunakan software statistik SPSS (Statistical Package for Social

    Science).

    3.5.1 Uji Normalitas

    Pengujian normalitas bertujuan untuk mengetahui apakah variabel dependen dan

    variabel independen dalam model regresi memiliki distribusi normal. Untuk

    menciptakan suatu model regresi yang baik, maka distribusi datanya normal atau

    mendekati normal. Dalam penelitian ini, analisis grafik dapat digunakan untuk

    mendeteksi normalitas yang membandingkan distribusi kumulatif dari data

    sesungguhnya dengan distribusi kumulatif dari distribusi normal. Distribusi normal

    akan membentuk satu garis lurus diagonal, dan ploting data akan dibandingkan

    dengan garis diagonal.

  • 3.5.2. Uji Autokorelasi

    Pengujian ini bertujuan untuk mengetahui adanya korelasi antara residual faktor pada

    periode t dan pada periode t-1 dalam model regresi. Autokorelasi muncul karena

    observasi yang berurutan pada suatu periode saling berkaitan satu sama lain karena

    residual faktor tidak bebas dari satu pengamatan ke pengamatan selanjutnya. Untuk

    mendeteksi adanya autokorelasi dalam model regresi, dapat dilakukan dengan uji

    Durbin Watson (DW). Apabila nilai statistik DW bernilai 2, maka hal tersebut berarti

    tidak terdapat autokorelasi. Apabila nilai statistik DW bernilai 0, maka hal tersebut

    berarti terdapat autokorelasi positif. Apabila nilai statistik DW bernilai 4, maka hal

    tersebut berarti terdapat autokorelasi negatif (Mulyoto, 2003).

    Dengan demikian, tidak adanya autokorelasi dapat dilihat dari nilai statistik DW yang

    mendekati angka 2. Dalam penelitian ini, batasan mendekati angka 2 yang ditetapkan

    adalah 2 nilai batas bawah (dL) dan batas atas (dU) pada tabel DW dengan ketentuan

    sebagai berikut :

    a. Bila DW < dL, maka terdapat autokorelasi positif,

    b. Bila dL < DW < dU, maka tidak dapat disimpulkan apakah terdapat

    autokorelasi atau tidak,

    c. Bila dU < DW < (4 dU), maka tidak terdapat autokorelasi,

    d. Bila (4 dU) < DW < (4 dL), maka tidak dapat disimpulkan apakah terdapat

    autokorelasi atau tidak, dan

  • e. Bila DW > (4 dL), maka terdapat autokorelasi negatif.

    3.5.3. Uji Heteroskedastisitas

    Pengujian ini bertujuan mengetahui apakah dalam model regresi terdapat

    ketidaksamaan variansi dari residual faktor satu pengamatan ke pengamatan lain.

    Untuk menciptakan suatu model regresi yang baik, maka dalam model regresi

    tersebut tidak boleh terdapat heteroskedastisitas atau harus bersifat homoskedastisitas.

    Untuk mendeteksi apakah terdapat heteroskedastisitas dalam penelitian ini, digunakan

    metode grafik Scatterplot dan Spearman Rank Correlation Test. Pada grafik

    scatterplot, homoskedastisitas ditandai dengan pola plot dalam grafik yang random

    atau tidak membentuk suatu pola. Pada Spearman Rank Correlation Test , tingkat

    signifikan yang diterapkan dalam penelitian ini. Hal ini berarti apabila nilai signifikan

    (sig. (2-tailed) korelasi masing-masing variabel independen dengan nilai residual

    lebih kecil dari 5%, maka dapat disimpulkan terdapat heteroskedastisitas dalam

    model penelitian ini. Apabila nilai signifikan (sig. (2-tailed) korelasi masing-masing

    variabel independen dengan nilai residual lebih besar dari 5% maka disimpulkan

    tidak terdapat heteroskedastisitas atau bersifat homoskedastisitas.

    3.5.4. Uji Multikolineritas

    Pengujian ini dilakukan untuk mengetahui apakah terdapat multikolineritas dalam

    model regresi. Multikolineritas adalah adanya korelasi yang signifikan antar variabel

    independen dalam model regresi. Untuk mendeteksi adanya multikolineritas yang

    kuat dalam penelitian ini digunakan nilai VIF (Variance Inflation Factor) dan

  • tolerance value. Apabila tolerance value lebih kecil daripada 0,2 dan nilai VIF

    melebihi 5, maka dapat disimpulkan terdapat multikolineritas yang kuat antar variabel

    independen. Maka variabel independen yang memiliki multikolineritas akan

    dikeluarkan dari model regresi dan kemudian mengidentifikasi variabel independen

    lain yang tidak memiliki multikolineritas untuk membantu penelitian (Mulyoto,

    2003).

    3.6 Rerangka Karangan

    Nilai Pasar Investasi

    Harga Saham

    Rasio Profitabilitas

  • BAB IV

    ANALISIS DAN PEMBAHASAN

    4.1. Hasil Penelitian

    4.1.1 Analisis deskriptif

    Menurut Ghozali (2007) ststistik deskriptif memberikan gambaran atau deskriptif

    yang dapat dilihat rata-rata (mean). Standar deviasi, maksimum, minimum dari

    masing-masing variable independen dan variabel dependen.

    Berikut ini perincian data deskriptif berdasarkan data dari tabel:

    Nilai minimum untuk variabel ROE dimana rasio ini menunjukan sejauh mana

    perusahaan mengelola modal sendiri secara efektif adalah sebesar 0.02, nilai ini

    merupakan nilai minimum dari variabel ROE, sedangkan untuk nilai maksimum

    pada variabel ROE adalah 143,62, nilai rata-rata ROE sebesar 18.66 nilai ini

    merupakan nilai rata-rata 4 periode penelitian dengan jumlah sample (N)

    sebanyak 76 dan standar deviation sebesar 22.15

    Variabel ROA memiliki rentang nilai 0.64 hingga 50.43. Tingkat kemampuan

    perusahaan menghasilkan laba minimum sebesar 0.64, sedangkan yang terbesar

    adalah sebesar 50.43 , dengan nilai rata-rata ROA sebesar 9.04 dengan jumlah

    sample (N) sebanyak 76 dan standar deviation sebesar 9.04

  • Variabel PBV yang menunjukan harga saham dipasar dengan nilai buku memiliki

    nilai minimum 0.16 ; nilai maksimum 20.37 ; nilai rata-rata PBV sebesar 2.23

    dengan jumlah sample (N) sebanyak 76 dan standar deviation sebesar 3.44.

    Variabel HARGA SAHAM memiliki nilai minimum -1.08 ; nilai maksimum 0.89

    ; nilai rata-rata HARGA SAHAM sebesar 0.37 dengan jumlah sample (N)

    sebanyak 76 dan standar deviation sebesar 0.24.

    4.1.2 Uji Asumsi Klasik

    Salah satu syarat yang mendasari model regresi berganda adalah terpenuhinya semua

    asumsi klasik. Pengujian asumsi klasik dalam penelitian ini dilakukan dengan

    bantuan program statistik melalui uji normalitas data, uji autokorelasi, uji

    hesterokedastisitas, dan data asumsi klasik lainnya.

    4.1.2.1 Uji Normalitas

    Uji normalitas bertujuan untuk mengetahui apakah model regresi, variabel penggangu

    atau residual memiliki distribusi normal serta untuk menghindari bias dalam model

    regresi. Dasar pengambilan keputusannya adalah apabila nilai signifikan lebih besar

    daripada 0.05, maka Ha diteriima, sedangkan jika nilai signifikan lebih kecil dari

    0,05, maka Ho diterima.

    Dari hasil pengolahan data unstandardized residual secara keseluruhan berdistribusi

    normal karena nilai signifikansi dari masing-masing variabel tersebut lebih besar dari

    0,05. dengan demikian data dapat diajukan dengan uji asumsi klasik lainnya. Untuk

  • lebih jelasnya, berikut turut dilampirkan grafik histogram dan data terdistribusi

    normal.

    Dari hasil grafik histogram yang ada pada lampiran, dapat disimpulkan bahwa

    distribusi data mendekati normal, karena grafik histogram menunjukan garis diagonal

    yang tidak menceng (skewnes) baik ke kiri maupun ke kanan.

    Pada Grafik p-plot yang terdapat pada lampiran menunjukan titik menyebar disekitar

    garis diagonal, serta penyebarannya mengikuti garis diagonal. Kondisi demikian

    menunjukan bahwa data penelitian terdistribusi secara normal.

    4.1.2.2 Uji Multikoleniaritas

    Metode yang digunakan untuk mendeteksi adanya Multikoleniaritas adalah dengan

    menggunakn nilai VIF ( Variance Inflation Factor ). Menurut Ghozali (2007), nilai

    cut-off yang umum dipakai untuk menunjukan adanya Multikoleniaritas adalah nilai

    tolerance < 0,10 atau nilai VIF > 10. berikut adalah hasil Multikoleniaritas :

    Dari data diatas dapat disimpulkan bahwa tidak terjadi Multikoleniaritas dengan dasar

    nilai VIF untuk setiap variabel independen. Gejala Multikoleniaritas terjadi apabila

    VIF lebih besar dari 10, dan dari data diatas dapat terlihat bahwa nilai VIF untuk

    semua variabel, lebih kecil dari 10.

  • 4.1.2.3 Uji Autokorelasi

    Untuk menguji ada atau tidaknya autokoralasi, peneliti menggunakan uji durbin

    watson. Hasil pengujian autokorelasi adalah sebagai berikut:

    Hasil uji autokorelasi diatas menunjukan nilai statistik durbin-watson (DW) sebesar

    1.825. nilai kemudian dibandingkan dengan nilai tabel durbin-watson yang

    menggunakn signifikansi 5% dengan jumlah sampel 76 dan jumlah variabel

    independen sebanyak 3 variabel (n=76, k=3).

    Pada tabel durbin-watson didapat nilai batas atas (du) 1.7104 dan nilai batas bawah

    (dl) 1, 5467. oleh karena nilai DW terletak antara batas atas (du) dan (4-du) atau

    1,7104

  • regresi. Dengan demikian model ini layak dipakai untuk memprediksi pengungkapan

    sosial pada paerusahaan manufaktur yang terdaftar du Bursa Efek Indonesia

    berdasarkan masukan variabel ROA, ROE, PBV.

    4.2. Pengujian Regresi

    pengujian terhadap model dilakukan dengan menggunakan uji bersama-sama dan

    menggunakan uji parsial, dimana hasil signifikansi harus dibawah tingkat signifikansi

    alpha telah ditetapkan yaitu sebesar 5%. Hasil pengujian model regresi dapat dilihat

    pada tabel ANOVA.

    Dari uji ANOVA ( analysis of varians ) atau uji F, menunjukkan bahwa nilai F hitung

    sebesar 1,623 sedangkan F tabel sebesar 2,73 dengan df pembilang = 3, df penyebut =

    72 dan taraf signifikansi = 0,05, sehingga F hitung < F tabel, dengan tingkat

    signifikansi 0,192 > 0,05. Artinya tidak terdapat pengaruh antara variabel independen

    Return on asset (ROA), Return on equity (ROE), Price to book value (PBV) secara

    bersama-sama terhadap variabel dependen Harga Saham.

    4.3 Pengujian Hipotesis

    pengujian ini dilakukan dengan melakukan uji signifikansi. Uji signifikansi variabel

    independen terhadap variabel dependen dilakukan dengan menggunakan uji bersama-

    sama maupun parsial. Variabel independen dikatakan mempunyai pengaruh terhadap

    dependen apabila Pvalue dari masing-masing variabel independen dibawah 0,05.

  • Hasil pengujian hipotesis ini mengunakan metode regresi linier berganda yang

    disajikan pada tabel.

    Berdasarkan tabel pada kolom Unstandardized Coefficients diperoleh model

    persamaan regresi linear berganda sebagai berikut :

    Y = 0,369 + 0,006ROE 0,006ROA 0,020PBV

    Koefisien konstanta berdasarkan hasil regresi adalah 0,369, ini dapat diartikan

    bahwa Y (harga saham) akan bernilai 0,369 jika ROE, ROA, dan PBV

    masing-masing bernilai 0. nilai itu berarti harga saham akan ada meskipun

    tidak dipengaruhi oleh ROE, ROA, dan PBV.

    Koefisien regresi untuk ROE sebesar 0,006 menyatakan bahwa setiap

    penambahan satu persen pada variabel ROE, maka akan meningkatkan indeks

    harga saham sebsar 0,006.

    Koefisien regresi untuk ROA sebesar -0,006 menyatakan bahwa setiap

    penambahan satu persen pada variabel ROA, maka akan mengurangi indeks

    harga saham sebesar -0,006.

    Koefisien regresi untuk PBV sebesar -0,020 menyatakan bahwa setiap

    penambahan satu persen pada variabel PBV, maka akan meningkatkan indeks

    harga saham sebesar -0,020.

  • 4.4 Uji Koefisien Determinasi

    Koefisien determinasi ini berguna untuk mengukur kemampuan model dalam

    menerangkan variasi variabel dependen. Nilai R2 berkisar antara 0 dan 1. jika nnilai

    R2 kecil berarti kemampuan variabel-variabel independen dalam menjelaskan variasi

    variabel dependen amat terbatas. Sedangkan nilai yang mendekati 1 berarti variabel-

    variabel independen hampir memberikan semua informasi yang dibutuhkan untuk

    memprediksi variasi variabel dependen. Namun karena penggunaan koefisien

    determinasi memiliki kelemahan mendasar yaitu bias terhadap jumlah variabel

    independen yang dimasukan kedalam model, maka banyak peneliti menganjurkan

    untuk menunjukkan nilai adjusted R2 dapat naik dan turun apabila satu model

    independen ditambakan kedalam model.

    Berdasarkan tabel diatas, dapat dilihat nilai adjusted R2 yang diperoleh dari

    pengujian regresi yang dilakukan sebesar 0,024. Hal ini menunjukkan bahwa 2,4%

    keragaman variasi Harga Saham mampu dije;askkan oleh variabel Return on assets

    (ROA), Return on equity (ROE), Price to book value (PBV) sisanya 97,6% dijelaskan

    oleh variabel lain diluar model penelitian ini.

    4.5. Hasil Analisis

    4.5.1 H1 = ROE berpengaruh terhadap harga saham

    Variabel ROE mempunyai nilai signifikan sebesar 0,033 (p

  • Hasil ini menyatakan bahwa perusahaan melakukan perhitungan rasio profitabilitas

    dan nilai investasi pasar dipengaruhi oleh harga saham, semakin besar saham yang

    dimiliki oleh ROE maka semakin tinggi harga saham suatu perusahaan. Hasil

    penelitian ini sesuai dengan analisis Taslim (2006) dan Bancin (2007).

    4.5.2 H2 = ROA berpengaruh terhadap harga saham

    Variabel ROA (Return On Assets) mempunyai nilai signifikan sebesar 0,209 (p0,05) yang menunjukkan

    bahwa variabel PBV tidak berpengaruh terhadap harga saham. Pada uji t-tabel =

    1.9917, sedangkan t-hitung menunjukkan angka -1.503 yang berarti tidak mendukung

    H3.

  • Dan hasil penelitian ini juga mendukung penelitian yang dilakukan oleh Manulang

    (2004) dan Giatra R (2009) yang menemukan fakta bahwa Price To Book Value

    (PBV) tidak berpengaruh terhadap harga saham.

  • BAB V

    SIMPULAN DAN SARAN

    5.1.Simpulan

    Berdasarkan analisis yang telah dilakukan, peneliti menyimpulkan beberapa hal

    mengenai pengaruh perubahan harga saham yang terdapat di Bursa Efek Indonesia,

    yaitu :

    1.Berdasarkan pengujian secara Parsial hanya Return On Equity (ROE) yang

    berpengaruh terhadap perubahan harga saham. Simpulan ini mengindifikasikan

    bahwa pergerakan harga saham pada ROE cukup berperan penting.

    2. Berdasarkan pengujian selanjutnya yang dilakukan pada Return On Assets (ROA)

    dan Price To Book Value (PBV), terbukti bahwa tidak adanya pengaruh terhadap

    perubahan harga saham, hal ini mengindikasikan bahwa investor pada penelitian ini

    kurang begitu memperhatikan kondisi keuangan perusahaan dalam mengambil

    keputusan investasinya namun hal ini tidak dapat digeneralisir dikarenakan

    keterbatasan sampel penelitian yang hanya terfokus pada populasi perusahaan

    manufaktur di BEI.

    5.2. Keterbatasan Penelitian

    penelitian ini mempunyai keterbatasn-keterbatasan yang dapat dijadikan bahan

    pertimbangan bagi penelitian berikutnya agar mendapatkan hasil yang lebih baik lagi.

  • 1.Data yang digunakan dalam penelitian ini berasal dari laporan tahunan yang berupa

    data sekunder.

    2.Jumlah sampel perusahaan yang hanya terbatas pada 76 perusahaan sektor

    manufaktur yang terdaftar di BEI dengan periode penelitian selama 4 tahun berturut-

    turut yakni tahun 2007-2010, sehingga hasil penelitian ini mungkin tidak berlaku

    untuk perusahaan-perusahaan dari sektor lain atau dengan sektor yang sama tetapi

    tidak terdaftar di BEI.

    5.3.Saran

    1. Para investor hendaknya mempertimbangkan faktor profitabilitas dari perusahaan

    yang sedang atau akan diinvestasi jika menginginkan capital gain yang tinggi. Laba

    yang tinggi saja belum menjamin perusahaan meningkatkan harga sahamnya. Selain

    itu, investor perlu mengamati faktor-faktor lain yang berpengaruh pada harga saham

    seperti kondisi bisnis secara umum kesempatan berinvestasi, situasi politik dan

    keamanan global, kebijakan pemerintah dan sebagainya.

    2. Bagi peneliti yang ingin mengembangkan penelitian ini sebaiknya dapat

    memperbanyak lagi sampel penelitian pada periode pengamatan serta faktor-faktor

    lainnya yang dapat mempengaruhi perubahan harga saham yang belum diamati pada

    penelitian ini

  • DAFTAR PUSTAKA

    Anoraga, Pandji dan Piji Pakarti. 2006. Pengantar Pasar Modal. Cetakan Kelima. PT.Rineka Cipta. Jakarta.

    Baridwan, Zaki. 1999. Intermediate Accounting. BPFE. Yogyakarta.

    Harahap, Sofyan Syafri. 2006. Analisa Krisis atas Laporan Keuangan. PT. Raja Grafindo Persada. Jakarta.

    Hin, Thian L. 2001. Panduan Berinvestasi Saham. PT. Elex Media Komputindo. Jakarta.

    http: //www. Idx. Com

    Ikatan Akuntansi Indonesia. 2002. Standar Akuntansi Keuaangan. Salemba Empat. Jakarta.

    Mulyoto, Sri. 2003. Statistika Untuk Ekonomi (2nd ed). Jakarta : Lembaga Penerbit Fakultas Ekonomi Universitas Lampung.

    Praptomo, Rakhmad Isya. 2010. Analisis Pengaruh Informasi Perubahan Laba dan Harga Pasar Investasi terhadap Harga Saham Perusahaan Makanan dan Minuman yang Go Publik pada BEI. Skripsi. Universitas Lampung.

    Saptadi, Anung. 2007. Pengaruh Return On Investment (ROI), Price Earning Ratio (PER) terhadap harga saham pada perusahaan Manufaktur di Bursa Efek Indonesia. Skripsi. Universitas Negeri Semarang.

    Sharpe, W. F., Alexander, G.J.,& Bailey, J.V, 1995. Investments. Prentice Hall. New Jersey.

    Tendelilin, Eduardus. 2001. Analisis Investasi Dan Manajemen Portofolio. BFPE. Yogyakarta.

    Ghozali, Imam. 2007. Aplikasi Analisis Multivariate dengan Program SPSS. Badan Penerbit Universitas Diponegoro, Semarang.

    Sugiyono. 2003. Statistik Untuk Penelitian. CV. Alfabeta, Bandung.

    Subiyantoro, dan Adreani. 2008. Pengaruh Eva dan Rasio-rasio Profitabilitas terhadap Harga Saham Go Publik di Bursa Efek Jakarta. Empirika, Vol.19 No.1. Yogyakarta.

    Manulang, Butet. 2004. Pengaruh Informasi Akuntansi terhadap Harga Saham Perusahaan Go Publik di Bursa Efek Jakarta. Unila. Bandar Lampung.

  • Taslim, Boby Kurniawan, 2006. Analisis Pengaruh Rasio Profitabilitas terhadap Perubahan Harga Saham Indeks LQ 45 di Bursa Efek Jakarta. Skripsi Jurusan Akuntansi. Universitas Lampung.

    Bancin, Lapranto.P. 2007. Pengaruh Profitabilitas terhadap Perubahan Harga Saham Pada Perusahaan Perbankan di Bursa Efek Jakarta. Skripsi Jurusan Manajemen. Universitas Sumatera Utara.