analisis pendapatan usaha tani dan faktor-faktor yang ... · faktor yang mempengaruhi produksi...

of 105/105

Click here to load reader

Post on 24-Mar-2019

277 views

Category:

Documents

8 download

Embed Size (px)

TRANSCRIPT

i

ANALISIS PENDAPATAN USAHATANI DAN FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI PRODUKSI CABAIMERAH KERITING DI DESA CITAPEN, KECAMATAN

CIAWI, KABUPATEN BOGOR

SKRIPSI

NINING MAYANTI SIREGARH34096072

DEPARTEMEN AGRIBISNISFAKULTAS EKONOMI DAN MANAJEMEN

INSTITUT PERTANIAN BOGOR2011

ii

RINGKASAN

NINING MAYANTI SIREGAR. Analisis Pendapatan Usahatani dan Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Produksi Cabai Merah Keriting. Skripsi.Departemen Agribisnis, Fakultas Ekonomi dan Manajemen, Institut PertanianBogor (di bawah bimbingan SUHARNO).

Pertanian merupakan sektor yang berperan penting dalam perekonomiannasional, hal ini dikarenakan sektor pertanian adalah salah satu sektor yangmemiliki kontribusi besar terhadap total PDB nasional, dimana peranan sektorpertanian terhadap PDB Indonesia mengalami pertumbuhan dari 14,5 persen padatahun 2008 menjadi 15,3 persen pada tahun 2009, sehingga sektor pertanianberada pada ranking kedua yang memiliki kontribusi terhadap PDB setelah sektorindustri pengolahan yaitu sebesar 26,4 persen. Sayuran merupakan salah satukomoditas hortikultura yang berkembang pesat di Indonesia. Saat ini,kecenderungan minat masyarakat terhadap sayuran terus meningkat, dimana haltersebut ditunjukkan oleh tingkat konsumsi sayuran penduduk Indonesia yangmengalami peningkatan, dimana pada tahun 2005 sebesar 35,30 kg/kapita/tahun,kemudian tahun 2006 sebesar 34,06 kg/kapita/tahun dan tahun 2007 sebesar 40,90kg/ kapita/tahun serta tahun 2008 meningkat sebesar 51,31 kg/kapita/tahun. Halini diikuti pula dengan perkembangan produksi tanaman sayuran Indonesia yangmeningkat sebesar 5,6 persen pada tahun 2009.

Cabai merupakan salah satu jenis sayuran yang penting untukdibudidayakan di Indonesia. Pada tahun 2009, komoditas cabai mengalamiperkembangan produksi yang positif yaitu pada angka sebesar 19,57 persen,angka tersebut merupakan peningkatan yang cukup tinggi jika dibandingkandengan angka peningkatan produksi sayuran lainnya. Cabai merah keriting adalahjenis cabai yang paling digemari di kalangan masyarakat hal ini dikarenakan hasilpertanian ini sudah menjadi bagian dari budaya makanan kuliner masyarakatIndonesia. Hal ini menunjukkan bahwa cabai merah keriting sangat potensialuntuk dibudidayakan oleh petani Indonesia.

Salah satu daerah yang menghasilkan cabai merah keriting di KabupatenBogor adalah Desa Citapen. Rata-rata produktivitas cabai merah keriting di DesaCitapen hanya mampu mencapai 7,33 ton perhektar, sedangkan produktivitasoptimal cabai merah keriting seharusnya dapat mencapai 13-17 ton perhektar.Kondisi ini menunjukkan bahwa terdapat selisih sebesar 5,67- 9,67 ton perhektarantara produktivitas optimal dengan produktivitas cabai merah keriting di DesaCitapen. Tujuan dari penelitian ini adalah (1) menganalisis tingkat pendapatanusahatani cabai merah keriting di Desa Citapen, Kecamatan Ciawi, KabupatenBogor, dan (2) menganalisis faktor- faktor produksi yang mempengaruhiusahatani cabai merah keriting di Desa Citapen, Kecamatan Ciawi, KabupatenBogor.

Penelitian ini dilaksanakan di Desa Citapen, Kecamatan Ciawi, KabupatenBogor pada bulan Mei hingga Juni 2011. Data yang digunakan terdiri dari dataprimer dan data sekunder. Jumlah responden dalam penelitian ini berjumlah 30orang, dimana responden diambil dengan menggunakan metode SnowballSampling. Penelitian ini menggunakan metode analisis kualitatif dan kuantitatif.

iii

Analisis deskriptif kualiatitatif meliputi gambaran umum perusahaan, prosesproduksi atau teknik budidaya cabai merah keriting, dan faktor-faktor produksiyang digunakan dalam usahatani tersebut. Analisis data secara kuantitatif antaralain analisis fungsi produksi Cobb-Douglass untuk menganalisis fungsi produksidan analisis pendapatan usahatani, penerimaan usahatani dan R/C rasio. Datayang dianalisis secara kuantitatif akan diolah dengan bantuan program MicrosoftOffice Excel 2007 dan Minitab 15, kemudian disajikan secara tabulasi dandiinterpretasikan serta diuraikan secara deskriptif.

Berdasarkan hasil penelitian, diketahui bahwa usahatani cabai merahkeriting yang dilakukan oleh petani responden di Desa Citapen secara umumdikatakan menguntungkan dan layak untuk diusahakan, karena nilai R/C atasbiaya tunai dan R/C atas biaya total menunjukkan nilai yang lebih dari satu, yaknisebesar 2,65 dan 2,46; dengan artian bahwa penerimaan yang diperoleh petaniresponden dalam mengusahakan cabai merah keriting dapat menutupi biayausahatani yang dikeluarkan. Hasil penelitian juga mengkonfirmasikan bahwafaktor-faktor yang berpengaruh terhadap produksi cabai merah keriting di DesaCitapen adalah benih, pupuk kandang, pupuk NPK, petisida, nutrisi dan tenagakerja, dan seluruh variabel independen tersebut memiliki nilai koefisien regresiyang positif, kecuali pestida dan nutrisi. Benih dan pupuk kandang berpengaruhnyata terhadap produksi pada tingkat kepercayaan 95 persen, sedangkan pupukNPK dan nutrisi berpengaruh nyata terhadap produksi pada tingkat kepercayaan90 persen. Dan variabel yang berpengaruh nyata pada selang kepercayaan 99persen adalah pestisi dan dan tenaga kerja, sedangkan variabel lain yaitu pupukSP-36 dan pupuk KCL tidak berpengaruh nyata terhadap produksi baik padatingkat kepercayaan 85 persen ataupun 90 persen. Berdasarkan model fungsiproduksi Cobb-Douglass, diperoleh nilai R-sq sebesar 86,5 persen. Angkatersebut mengartikan bahwa variabel bebas (benih, pupuk kandang, pupuk NPK,pupuk SP-36, pupuk KCL, perstisida, nutrisi dan tenaga kerja) dapat menjelaskansebesar 86,5 persen variabel tidak bebas (hasil produksi), dan sisanya sebesar 13,5persen dijelaskan oleh variabel lain yang tidak terdapat dalam model (komponenerror).

Upaya meningkatkan pendapatan usahatani cabai merah keriting salah satucara yang dapat dilakukan adalah dengan memperhatikan penggunaan faktor-faktor produksi yang mempengaruhi produksi cabai merah keriting. Variabelyang memiliki nilai koefisien regresi positif dan berpengaruh nyata seperti benih,pupuk kandang, pupuk NPK dan tenaga kerja penggunaannya masih dapatditambah lagi. Hal ini dikarenakan setiap penambahan dari penggunaan benih,pupuk kandang, pupuk NPK dan tenaga kerja dapat meningkatkan produksi cabaimerah keriting. Sementara untuk variabel yang memiliki nilai koefisien regresiyang negatif dan berpengaruh nyata yaitu pestisida dan nutrisi, sebaiknyapenggunaannya tidak ditambah lagi, karena jika penambahan terhadap pestisidadan nutrisi tetap dilakukan, selain akan meningkatkan biaya produksi, juga dapatmengurangi jumlah produksi cabai merah keritingnya.

iv

ANALISIS PENDAPATAN USAHATANI DAN FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI PRODUKSI CABAIMERAH KERITING DI DESA CITAPEN, KECAMATAN

CIAWI, KABUPATEN BOGOR

NINING MAYANTI SIREGARH34096072

Skripsi ini merupakan salah satu syarat untukmemperoleh gelar Sarjana Ekonomi pada

Departemen Agribisnis

DEPARTEMEN AGRIBISNISFAKULTAS EKONOMI DAN MANAJEMEN

INSTITUT PERTANIAN BOGOR2011

v

Judul Skripsi : Analisis Pendapatan Usahatani dan Faktor-Faktor yang

Mempengaruhi Produksi Cabai Merah Keriting di Desa Citapen, Kecamatan

Ciawi, Kabupaten Bogor

Nama : Nining Mayanti Siregar

NRP : H34096072

DisetujuiPembimbing

Dr. Ir. Suharno, M.AdevNIP. 19610610 198611 1 001

DiketahuiKetua Departemen Agribisnis

Fakultas Ekonomi dan ManajemenInstitut Pertanian Bogor

Dr. Ir. Nunung Kusnadi, MSNIP. 19580908 198403 1 002

Tanggal Lulus:

vi

PERNYATAAN

Dengan ini saya menyatakan bahwa skripsi saya yang berjudul Analisis

Pendapatan Usahatani dan Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Produksi Cabai

Merah Keriting di Desa Citapen, Kecamatan Ciawi, Kabupaten Bogor adalah

karya saya sendiri dan belum diajukan dalam bentuk apapun kepada perguruan

tinggi manapun. Sumber informasi yang berasal atau dikutip dari karya yang

diterbitkam maupun tidak diterbitkan dari penulis lain telah disebutkan dalam teks

dan dicantumkan dalam bentuk daftar pustaka di bagian akhir skripsi.

Bogor, Agustus 2011

Nining Mayanti Siregar(H34096072)

vii

RIWAYAT HIDUP

Penulis dilahirkan di Pematang Siantar pada tanggal 19 Maret 1987.

Penulis adalah anak ketiga dari empat bersaudara dari pasangan Bapak

H.Irwansyah Siregar dan Ibunda Hj. Maya Sari Harahap.

Penulis menyelesaikan pendidikan dasar di SD Negeri 124402 Pematang

Siantar pada tahun 1999 dan pendidikan menengah pertama diselesaikan pada

tahun 2002 di SLTP Negeri I Pematang Siantar. Pendidikan lanjutan menengah

atas di SMA Taman Siswa Pematang Siantar diselesaikan pada tahun 2005.

Penulis menyelesaikan pendidikan diploma pada Program Studi Diploma III

Agribisnis Pertanian, Jurusan Budidaya Tanaman Pangan, Politeknik Pertanian

Universitas Andalas pada tahun 2008. Penulis diterima pada Departemen

Agribisnis, Fakultas Ekonomi dan Manajemen, Institut Pertanian Bogor pada

Tahun 2009.

viii

KATA PENGANTAR

Segala puji dan syukur kehadirat Tuhan Yang Maha Esa atas berkat dan

rahmat-Nya yang senantiasa memberkati penulis dalam menyelesaikan skripsi ini,

serta salam senantiasa tercurahkan kepada keluarga dan para sahabat.

Puji syukur penulis ucapkan atas terselesaikannya penyusunan skripsi

yang berjudul Analisis Pendapatan Usahatani dan Faktor-Faktor yang

Mempengaruhi Produksi Cabai Merah Keriting di Desa Citapen, Kecamatan

Ciawi, Kabupaten Bogor. Penyusunan skripsi ini merupakan salah satu syarat

untuk memperoleh gelar Sarjana Ekonomi pada Departemen Agribisnis, Fakultas

Ekonomi dan Manajemen, Institut Pertanian Bogor.

Upaya memberikan yang terbaik telah dilakukan secara optimal dalam

penyusunan skripsi ini, namun kritik dan saran yang bersifat membangun sangat

diharapkan. Semoga skripsi ini bermanfaat khususnya bagi berbagai pihak yang

terkait dan bagi pembaca pada umumnya.

Bogor, Agustus 2011

Nining Mayanti Siregar

ix

UCAPAN TERIMA KASIH

Penyelesaian skripsi ini juga tidak terlepas dari bantuan berbagai pihak. Sebagai

bentuk rasa syukur kepada Allah SWT, penulis ingin menyampaikan terima

kasih dan penghargaan kepada :

1. Kedua orangtua Ayahanda H.Irwansyah Siregar dan Ibunda Hj. Maya Sari

Harahap, serta kepada kak Sari, Kak wiwik, Bang Ismail, Bang daniel dan

Dek Putra untuk setiap dukungan cinta kasih dan doa yang diberikan.

Semoga ini bisa menjadi persembahan yang terbaik.

2. Dr. Ir. Suharno, M.Adev selaku dosen pembimbing atas bimbingan,

arahan, waktu dan kesabaran yang telah diberikan kepada penulis selama

penyusunan skripsi ini.

3. Ir. Burhanuddin, MM selaku dosen evaluator pada kolokium penelitian

yang telah meluangkan waktunya serta memberikan kritik dan saran.

4. Dr. Ir. Ratna Winandi, MS dan Arif Karyadi, SP selaku dosen penguji

pada ujian sidang penulis, yang telah meluangkan waktu serta memberikan

kritik dan saran demi perbaikan skripsi ini.

5. Ir. Popong Nurhayati, MM yang telah menjadi pembimbing akademik dan

seluruh dosen dan staf Departemen Agribisnis.

6. Bapak H.Misbah, Pak Jamil, Pak Cecep serta seluruh petani yang telah

berkenan menjadi responden dan atas semua bantuan yang telah diberikan

dalam menyelesaikan skripsi ini.

7. Sahabat-sahabat tercinta Resha, Nisa, Ika, Helen, Winda, Werry, Riski,

Kak Eta, Naiya, Imel, Bang Sofyan, Irfan, Mas Ruslan, Mas Nurdin, Amri

yang telah memberikan dukungan dan semangat kepada penulis.

8. Teman-teman seperjuangan dan teman-teman Agribisnis Angkatan VII

atas semangat dan sharing selama penelitian hingga penulisan skripsi,

serta seluruh pihak yang tidak dapat disebutkan satu per satu, terima kasih

atas bantuannya.

Bogor, Agustus 2011

Nining Mayanti Siregar

x

DAFTAR ISI

Halaman

DAFTAR TABEL ............................................................................ xii

DAFTAR GAMBAR ....................................................................... xiv

DAFTAR LAMPIRAN .................................................................... xv

I. PENDAHULUAN ..................................................................... 11.1. Latar Belakang .................................................................... 11.2. Perumusan Masalah ............................................................ 71.3. Tujuan Penelitian ................................................................ 91.4. Manfaat Penelitian .............................................................. 101.5. Ruang Lingkup Penelitian ................................................... 10

II. TINJAUAN PUSTAKA ............................................................ 112.1. Gambaran Umum Cabai Merah Keriting ............................. 112.2. Kajian Peluang Usaha Agribisnis Cabai .............................. 122.3. Studi Penelitian Terdahulu .................................................. 132.4. Keterkaitan dengan Penelitian Terdahulu ............................ 16

III. KERANGKA PEMIKIRAN ..................................................... 173.1. Kerangka Pemikiran Teoritis .............................................. 17

3.1.1. Konsep Usahatani ....................................................... 173.1.2. Penerimaan Usahatani ................................................ 193.1.3. Biaya Usahatani ......................................................... 203.1.4. Pendapatan Usahatani .................................................. 213.1.5. Rasio Imbangan Penerimaan dan Biaya (R/C) ............. 223.1.6. Teori Produksi ............................................................. 233.1.7. Fungsi Produksi Cobb-Douglass .................................. 273.1.8. Konsep Skala Ekonomi Usaha (Return to Scale) .......... 29

3.2. Kerangka Pemikiran Operasional ......................................... 32

IV. METODE PENELITIAN ......................................................... 324.1. Lokasi dan Waktu Penelitian ............................................... 324.2. Jenis dan Sumber Data ........................................................ 324.3. Metode Pengambilan Responden ........................................ 324.4. Metode Pengumpulan Data .................................................. 334.5. Metode Analisis Data .......................................................... 33

4.5.1. Analisis Pendapatan Usahatani..................................... 334.5.2. Analisis R/C ................................................................ 344.5.3. Analisis Faktor-faktor yang Mempengaruhi Produksi

Cabai Merah Keriting .................................................. 344.6. Definisi Operasional ................................................................ 40

V. GAMBARAN UMUM LOKASI PENELITIAN ..................... 425.1. Lokasi dan Kondisi Geografis Desa Citapen ........................ 425.2. Keadaan Penduduk dan Mata Pencaharian ......................... 425.3. Karakteristik Petani Contoh ............................................... 45

5.3.1. Status Usaha ............................................................... 46

xi

5.3.2. Umur............................................................................ 465.3.3. Pendidikan ................................................................. 475.3.4. Pengalaman dalam Usahatani Cabai Merah Keriting .. 485.3.5. Luas Areal Usahatani ................................................. 495.3.6. Status Kepemilikan Lahan .......................................... 49

VI. HASIL DAN PEMBAHASAN ................................................. 516.1. Gambaran Umum Usahatani Cabai Merah Keriting

Di Desa Citapen .................................................................... 516.1.1. Persemaian ............................................................... 516.1.2. Pengolahan Lahan .................................................... 526.1.3. Penanaman ............................................................... 536.1.4. Pemeliharaan ............................................................ 546.1.5. Panen dan Pascapanen .............................................. 556.1.6. Hama dan Penyakit Tanaman ................................... 55

6.2. Analisis Pendapatan Usahatani Petani Responden .............. 576.2.1. Penerimaan Usahatani ............................................... 576.2.2. Analisis Biaya Usahatani ........................................... 596.2.3. Analisis Pendapatan Usahatani dan R/C

Cabai Merah Keriting ................................................ 656.3. Analisis Fungsi Produksi ..................................................... 68

6.3.1. Analisis Model Fungsi ProduksiCabai Merah Keriting ................................................ 68

6.3.2. Analisis Elastisitas Produksi Cabai Merah Keriting ..... 726.4. Analisis Skala Usaha (Return to Scale) ................................ 78

VII. KESIMPULAN DAN SARAN .................................................. 797.1. Kesimpulan ......................................................................... 797.2. Saran ................................................................................... 79

DAFTAR PUSTAKA ...................................................................... 81

LAMPIRAN .................................................................................... 83

xii

DAFTAR TABEL

Nomor Halaman

1. Kontribusi Subsektor Pertanian terhadap Produk DomestikBruto (PDB) Atas Dasar Harga yang Berlaku MenurutSubsektor Lapangan Usaha Pertanian di Indonesia Tahun2005-2009 .............................................................................. 1

2. Pertumbuhan Produksi, Luas Panen dan ProduktivitasHortikultura Tahun 2007-2008 ................................................ 2

3. Produksi Tanaman Sayuran Indonesia Periode 2008-2009 ....... 4

4. Produksi, Luas Panen dan Produktivitas Cabai Merah diKabupaten Bogor Tahun 2004 sampai 2009 ........................... 6

5. Produksi, Luas Panen dan Produtivitas Cabai Merah KeritingDesa Citapen Tahun 2006 2010............................................. 8

6. Jumlah Penduduk Desa Citapen Menurut Umur dan JenisKelamin Tahun 2009 .............................................................. 43

7. Jumlah Penduduk Desa Citapen Berdasarkan tingkatPendidikan Tahun 2009............................................................ 44

8. Jumlah Penduduk Desa Citapen Menurut Mata PencaharianTahun 2009 ............................................................................ 45

9. Karakteristik Responden Petani Cabai Merah Keritingdi Desa Citapen Berdasarkan Status Usaha ............................. 46

10. Karakteristik Responden Petani Cabai Merah KeritingBerdasarkan Umur ................................................................. 47

11. Karakteristik Responden Petani Cabai Merah KeritingBerdasarkan Tingkat Pendidikan ............................................ 48

12. Karakteristik Responden Petani Cabai Merah KeritingBerdasarkan Pengalaman Bertani ........................................... 49

13. Karakteristik Responden Petani Cabai Merah KeritingBerdasarkan Luas Lahan ........................................................ 49

14. Karakteristik Responden Petani Cabai Merahk KeritingStatus Kepemilikan Lahan ...................................................... 50

15. Produktivitas, Harga, dan Penerimaan Rata-Rata UsahataniCabai Merah Keriting di Desa Citapen ..................................... 59

16. Komponen Biaya Usahatani Cabai Merah Keriting di DesaCitapen .................................................................................. 60

17. Penggunaan TKDK dan TKLK dalam Usahatani Cabai MerahKeriting di Desa Citapen ........................................................ 63

xiii

Nomor Halaman

18. Penyusutan Alat-Alat Pertanian yang Digunakan padaUsahatani Usahatani Cabai Merah Keriting di Desa Citapen ..... 65

19. Analisis Pendapatan dan R/C Rasio Usahatani UsahataniCabai Merah Keriting di Desa Citapen ...................................... 67

20. Rata-Rata Penggunaan Faktor-Faktor Produksi per Hektar padaUsahatani Cabai Merah Keriting di Desa Citapen ...................... 68

21. Uji Signifikansi Model Produksi Usahatani Cabai MerahKeriting di Desa Citapen ........................................................... 69

22. Hasil Parameter Penduga Fungsi Produksi per Hektar PetaniResponden pada Usahatani Cabai Merah Keriting di DesaCitapen ..................................................................................... 71

xiv

DAFTAR GAMBAR

Nomor Halaman

1. Kurva daerah Produksi dan Elastisitas Produksi ..................... 25

2. Kerangka Pemikiran Operasional Penelitian ........................... 31

xv

DAFTAR LAMPIRAN

Nomor Halaman

1. Data Karakteristik Petani Responden Desa Citapen................ 84

2. Rata-Rata Harga Cabai Merah Keriting di Tingkat Petanidari Tahun 2010 sampai Pertengahan 2011 di KecamatanCiawi ..................................................................................... 85

3. Data Rata-Rata Penggunaan Faktor Produksi UsahataniCabai Merah Keriting Per Hektardi Desa Citapen Perhektaruntuk Satu Kali Musim Tanam................................................ 86

4. Analisi Biaya Sewa Lahan Tunai dan Diperhitungkan sertaPajak Lahan pada Usahatani Cabai Merah KeritingPer Hektar di Desa Citapen Perhektar untuk Satu KaliMusim Tanam ........................................................................ 87

5. Analisi Biaya Penggunaan Turus, Tali Rapia, Karung danPolybag pada Usahatani Cabai Merah Keriting Per Hektardi Desa Citapen Perhektar untuk Satu Kali Musim Tanam ...... 88

6. Hasil Analisis Regresi Fungsi Produksi Usahatani CabaiMerah Keriting di Desa Citapen dengan Metode OLS ............ 89

7. Uji Normalitas dan Homoskedasitas Fungsi ProduksiCabai Merah Keriting di Desa Citapen ..................................... 90

1

I. PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Indonesia adalah negara kepulauan yang memiliki daratan yang sangat

luas dimana mata pencaharian penduduknya sebagian besar adalah pada sektor

pertanian. Pertanian merupakan sektor yang berperan penting dalam

perekonomian nasional. Hal ini dikarenakan sektor tersebut adalah salah satu

sektor yang memiliki kontribusi besar terhadap total PDB nasional. Peranan

sektor pertanian terhadap PDB Indonesia mengalami pertumbuhan dari 14,5

persen pada tahun 2008 menjadi 15,3 persen pada tahun 2009, sehingga sektor

pertanian berada pada ranking kedua yang memiliki kontribusi terhadap PDB

setelah sektor industri pengolahan yaitu sebesar 26,4 persen.1 Kontribusi

subsektor pertanian terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) atas dasar harga yang

berlaku menurut subsektor lapangan usaha pertanian dapat dilihat pada tabel 1.

Tabel 1. Kontribusi Subsektor Pertanian terhadap Produk Domestik Bruto (PDB)Atas Dasar Harga yang Berlaku Menurut Subsektor Lapangan UsahaPertanian di Indonesia Tahun 2005-2009

Lapangan Usaha 2005 2006 2007 2008* 2009**

Tanaman Bahan Makanan 181.331 214.346(18,2)

265.090(23,7)

349.795(32,0)

418.963(19,8)

Perkebunan 56.433 63.401(12,3)

81.664(28,8)

105.969(29,8)

112.522(6,2)

Peternakan 44.202 51.074(15,5)

61.325(20,1)

82.676(34,8)

104.040(25,8)

Kehutanan 22.561 30.065(33,3)

36.154(20,3)

40.375(11,7)

44.952(11,3)

Perikanan 59.639 74.335(24,6)

97.697(31,4)

137.249(40,5)

177.773(29,5)

Keterangan :* Angka sementara** Angka sangat sementara

Angka dalam kurung menunjukkan pertumbuhan dari tahun sebelumnya

Sumber : Badan Pusat Statistik (2010), diolah

1 Kementerian Pertanian. 2010. Kontribusi Pertanian Terhadap Sektor PDB. www.bbpp-lembang.deptan.go.id. diakses Tanggal 17 Maret 2011

www.bbpp-

2

Pada Tabel 1 dapat dilihat bahwa PDB subsektor tanaman bahan makanan

memberikan kontribusi yang besar dibandingkan dengan subsektor lainnya. PDB

tanaman bahan makanan menempati urutan pertama yang menyumbang terhadap

PDB sektor Pertanian. Pada tahun 2009, PDB tanaman bahan makanan

diperkirakan akan meningkat lebih besar dibandingkan tahun sebelumnya yaitu

minimal 19,8 persen.

Hortikultura merupakan salah satu subsektor pertanian yang memegang

peran penting dan strategis karena perannya sebagai komponen utama pada Pola

Pangan Harapan (Direktorat Jenderal Hortikultura, 2010).2 Pertumbuhan tanaman

hortikultura sebagian besar mengalami peningkatan pada tahun 2005 sampai

tahun 2008, baik dari segi produksi, luas panen dan produktivitas.

Tabel 2. Pertumbuhan Produksi, Luas Panen dan Produktivitas HortikulturaTahun 2005-2008

UraianTahun

Pertumbuhan*2005 2006 2007 2008

Sayuran

Produksi (Ton) 9.101.986 9.527.463 9.455.463 10.035.093 10,25

Luas panen (Ha) 944.695 1.007.839 1.001.606 1.026.990 8,71

Produktivitas 9,63 9,45 9,44 9,77 1,42

Buah-buahan

Produksi (Ton) 14.786.599 16.171.130 17.116.622 18.027.889 21,92

Luas panen (Ha) 717.428 728.218 756.766 781.333 8,91

Produktivitas 20,61 22,21 22,62 23,07 11,95

Tanaman Hias

Produksi (tangkai) 173.240.364 166.645.684 179.374.218 205.564.659 18,66

Luas panen (m) 14.791.004 6.205.093 9.189.976 10.877.307 -26,46

Produktivitas 11,71 26,86 9,52 18,90 61,35

Tan.Biofarmaka

Produksi (kg) 321.889.429 416.870.624 444.201.067 398.808.803 23,90

Luas panen (m) 182.917.951 222.662.711 245.253.798 227.952.040 24,62

Produktivitas 1,76 1,87 1,81 1,75 -0,58

Keterangan* Pertumbuhan tahun 2008 atas tahun 2005

Sumber : Badan Pusat Statistik dan Direktorat Jenderal Hortikultura (2009), diolah

2 Direktorat Jenderal Hortikultura. 2010. Pedoman Umum Pelaksanaan PengembanganHortikutura Tahun 2011. Hlm 1

3

Pada Tabel 2 dapat dilihat bahwa pertumbuhan hortikultura meliputi

sayuran, buah-buahan dan tanaman hias mengalami pertumbuhan positif baik dari

segi produksi, luas panen dan produktivitas, kecuali luas panen tanaman hias dan

produktivitas tanaman biofarmaka. Kelompok komoditi sayuran menunjukkan

pertumbuhan produktivitas yang stabil setiap tahunnya yaitu pada angka sembilan

persen.

Sayuran merupakan salah satu komoditas hortikultura yang berkembang

pesat di Indonesia. Selain sebagai komoditas yang esensial bagi pemenuhan

kebutuhan dasar manusia dalam menyediakan vitamin dan mineral, sayuran juga

telah memberikan kontribusi PDB sebesar 38,07 persen pada tahun 2008 terhadap

sub sektor hortikultura.3 Saat ini, kecenderungan minat masyarakat terhadap

sayuran terus meningkat, hal tersebut merupakan adanya akibat dari pola hidup

sehat yang telah menjadi gaya hidup masyarakat. Perubahan paradigma menuju

pemahaman hidup yang sehat tidak hanya memerlukan protein dan kalori saja,

tetapi juga vitamin dan mineral yang terkandung dalam sayuran dan buah-buahan

untuk menjalani pola konsumsi gizi yang seimbang. Tingkat konsumsi sayuran

masyarakat Indonesia mengalami peningkatan, dimana pada tahun 2005 sebesar

35,30 kg/kapita/tahun, kemudian tahun 2006 sebesar 34,06 kg/kapita/tahun dan

tahun 2007 sebesar 40,90 kg/ kapita/tahun serta tahun 2008 meningkat sebesar

51,31 kg/kapita/tahun (Departemen Pertanian, 2009).

Seiring dengan meningkatnya konsumsi sayuran masyarakat Indonesia

diikuti pula dengan peningkatan produksi tanaman sayuran. Data perkembangan

produksi sayuran di Indonesia selama tahun 2006-2009 dapat dilihat pada Tabel 3.

3 Direktorat Budidaya dan Pascapanen Sayuran dan Tanaman Obat. 2010. PedomanTeknis Kegiatan Peningkatan Produksi, Produktivitas dan Mutu Produk dan Tanaman ObatBerkelanjutan (1771). Hlm 1

4

Tabel 3. Perkembangan Produksi Tanaman Sayuran Indonesia Periode 2006-2009

KomoditasSayuran

Produksi (Ton) Perkembang-an* (%)2006 2007 2008 2009

Bawang Merah 794.931 802.810 853.615 965.164 13,07

Kentang 1.011.911 1.003.732 1.071.543 1.176.304 9,78

Kubis 1.267.745 1.288.738 1.323.702 1.358.113 2,60

Cabai 1.185.057 1.128.793 1.153.060 1.378.727 19,57

Sawi/Petsai 590.401 564.912 565.636 562.838 -0,49

Wortel 391.371 350.170 367.111 358.014 -2,48

Bawang Putih 21.050 17.312 12.339 15.419 24,96

Daun Bawang 571.268 479.924 547.743 549.365 0,30

Kembang Kol 135.518 124.252 109.497 96.038 -12,29

Lobak 49.344 42.076 48.376 29.759 -38,48

Kacang Merah 125.250 112.271 115.817 110.051 -4,98

Kacang Panjang 461.239 488.499 455.524 483.793 6,21

Tomat 629.744 635.474 725.973 853.061 17,51

Terung 358.095 390.846 427.166 451.564 5,71

Buncis 269.532 266.790 266.551 290.993 9,17

Ketimun 598.890 581.205 540.122 583.139 7,96

Labu siam 212.697 254.056 394.386 321.023 -18,60

Kangkung 292.950 335.086 323.757 360.992 11,50

Bayam 149.435 155.863 163.817 17.375 -89,39

Blewah 67.708 57.725 55.991 75.124 34,17

Sayuran lainnya 447.956 410.596 513.367 560.188 9,12

Total 9.632.092 9.491.130 10.035.093 10.597.044 5,60

Keterangan :*Perkembangan dari tahun 2008 sampai tahun 2009

Sumber : Badan Pusat Statistik (2009)

Dari Tabel 3 dapat dilihat bahwa sebagian tanaman sayur mengalami

penurunan produksi dari tahun 2008 ke tahun 2009, antara lain sayuran bayam

dengan penurunan sebesar 89,39 persen. Tetapi tidak sedikit pula tanaman

sayuran yang mengalami kenaikan produksi dari tahun 2008 ke tahun 2009.

5

Perkembangan yang cukup baik ditunjukkan oleh cabai, dimana komoditas

tersebut menunjukkan perkembangan produksi yang positif pada angka sebesar

19,57 persen. Hal ini menunjukkan bahwa komoditas cabai merupakan komoditas

komersial karena sebagian besar ditujukan untuk memenuhi kebutuhan pasar.

Cabai adalah hasil pertanian yang sudah menjadi bagian dari budaya

kuliner Indonesia dimana pada umumnya masyarakat Indonesia sangat

menyenangi makanan pedas. Pada tahun 2002, 2005 dan 2008 pola konsumsi

masyarakat Indonesia terhadap cabai mengalami peningkatan, yaitu masing-

masing sebesar 1,42 kg/tahun/kapita, 1,51 kg/tahun/kapita, dan 1,54

kg/tahun/kapita (Ditjen Hortikultura, 2009). Selain dengan meningkatnya pola

konsumsi masyarakat Indonesia terhadap cabai, cabai juga dikatakan penting jika

dilihat dari total areal pertanaman cabai di Indonesia, dimana pada tahun 2007

areal pertanaman cabai sebesar 20,3 persen dari total areal pertanaman sayuran,

kemudian mengalami peningkatan pada tahun 2008 sebesar 20,6 persen dari total

luas areal sayuran di Indonesia (Departemen Pertanian, 2009).

Cabai merupakan produk hortikultura sayuran yang digolongkan ke dalam

tiga kelompok yaitu cabai besar, cabai kecil dan cabai hias. Diantara ketiga jenis

cabai tersebut, cabai merah merupakan jenis yang paling banyak diperdagangkan

dalam masyarakat. Cabai merah terdiri dari cabai merah besar dan cabai merah

keriting. Cabai merah besar memiliki kulit permukaan yang lebih halus

dibandingkan cabai merah keriting, sedangkan cabai merah keriting memiliki rasa

yang lebih pedas dibandingkan cabai merah besar (Sari, 2009).

Cabai merah keriting adalah jenis cabai yang paling digemari di kalangan

masyarakat, hal ini dikarenakan hasil pertanian ini sudah menjadi bagian dari

budaya makanan kuliner masyarakat Indonesia. Hal ini menunjukkan bahwa

cabai merah keriting sangat potensial untuk dibudidayakan oleh petani Indonesia.

Jawa Barat merupakan salah satu sentra produksi cabai terbesar di

Indonesia pada tahun 2006 sampai 2008. Hal ini dapat dilihat dari hasil produksi

cabai Provinsi Jawa Barat dari tahun 2006 sampai 2008 masing-masing sebesar

(Ton) 254.667; 264.477; dan 241.362. Angka tersebut merupakan angka produksi

cabai tertinggi jika di bandingkan dengan provinsi lain di seluruh Indonesia

dengan total produksi cabai Indonesia masing masing sebesar (Ton) 1.185.059

6

tahun 2006; 1.128.792 tahun 2007 dan 1.153.060 tahun 2008. Hal ini

menunjukkan bahwa Jawa Barat memberikan sumbangan produksi cabai pada

tahun 2006 sampai 2008 masing-masing sebesar 21,48 persen, 23,43 persen dan

20,93 persen (Departemen Pertanian, 2009).

Salah satu daerah yang menghasilkan cabai merah keriting di Provinsi

Jawa Barat adalah Kabupaten Bogor. Komoditas unggulan di Kabupaten Bogor

adalah buah-buahan seperti pisang, manggis raya, papaya dan durian, sedangkan

sayuran seperti cabai, buncis, dan sawi, serta tanaman hias seperti anggrek,

agrasena dan masih banyak lagi. Produktivitas cabai merah tertinggi di

Kabupaten Bogor terjadi pada tahun 2007 yaitu 8,82 ton per hektar, kemudian

mengalami penurunan sebesar 2,25 persen pada tahun 2008 dan pada tahun 2009

mengalami penurunan kembali dari tahun 2008 dengan persentase yang lebih

tinggi yaitu sebesar 27,4 persen. Penurunan produktivitas tersebut berlawanan

dengan peningkatan luas panen pada tahun 2009. Data tentang usahatani cabai

merah di Kabupaten Bogor dapat dilihat pada Tabel 4.

Tabel 4. Produksi, Luas Panen dan Produktivitas Cabai Merah di KabupatenBogor Tahun 2004 sampai 2009

Tahun Produksi (Ton) Luas Panen (Ha) Produktivitas (Ton/Ha)

2004 3726 713 5,23

2005 6391 741 8,62

2006 6880 943 7,30

2007 4683 531 8,82

2008 6215 721 8,62

2009 5181 828 6,26

Rata-rata 5512,67 746,17 7,47

Sumber : Dinas Pertanian dan Kehutanan Kabupaten Bogor (2010), diolah

Dari 40 kecamatan yang ada di Kabupaten Bogor, Kecamatan Ciawi

merupakan salah satu penghasil cabai merah keriting. Kecamatan Ciawi memiliki

kemiringan yang relatif tinggi dari 5 persen sampai dengan 40 persen dengan

tingkat kesuburan sedang sampai tinggi. Sedangkan curah hujan yang tinggi

mengakibatkan udara sejuk alam pegunungan, hal ini di karenakan letaknya diapit

oleh tiga buah gunung, yaitu Gunung Pangrango, Gunung Gede dan Gunung

7

Salak sehingga Kecamatan Ciawi sangat cocok dijadikan sebagai salah satu

daerah sentra produksi sayuran.

Desa Citapen merupakan satu dari 13 desa yang ada di Kecamatan Ciawi,

dimana saat ini Desa Citapen sedang mengoptimalkan potensi daerahnya sendiri

dengan mengembangkan komoditas sayuran bersama gapoktan (gabungan

kelompok tani) yang dapat meningkatkan pendapatan desa dalam bidang

pertanian. Selain itu daerah ini juga mempunyai kondisi geografis yang sangat

mendukung untuk pertumbuhan cabai merah keriting yaitu dengan ketinggian

tempat 450 sampai 700 diatas permukaan laut (DPL), pH Tanah 5,0 sampai 7,0

dan beriklim basah (BP3K Wilayah Ciawi, 2010). Kondisi geografis ini sangat

mendukung untuk pertumbuhan cabai merah keriting dimana menurut Badan

Penelitian dan Pengembangan Pertanian (2008) bahwa ketinggian tempat yang

sesuai untuk pertumbuhan cabai merah keriting adalah 0 sampai 1000 meter dpl,

dengan kondisi tanah yang gembur, subur, banyak mengandung bahan organik

dan PH tanah antara 6 sampai 7.

1.2. Perumusan Masalah

Desa Citapen merupakan salah satu desa yang ada di Kabupaten Bogor

yang memiliki luas wilayah 268.066 Ha, dimana sebagian besar penduduknya

adalah bermatapencaharian sebagai petani.4 Saat ini Desa Citapen sedang

melakukan pengembangan usahatani guna mengoptimalkan potensi daerahnya,

dimana salah satu komoditas yang menjadi unggulan di Desa Citapen adalah cabai

merah keriting. Selain karena cabai merah keriting telah dibudidayakan secara

turun temurun, Desa Citapen juga memiliki kondisi geografis yang sangat

mendukung untuk pertumbuhan cabai merah keriting, hal ini dikarenakan iklim di

wilayah desa Citapen adalah beriklim tropis/basah dengan suhu rata rata antara

20oC sampai 32oC dengan keasaman tanah (pH) antara 4,5 sampai 7 dengan jenis

tanah latosol dan andosol, sehingga cocok untuk ditanami berbagai komoditi

tanaman, sedangkan curah hujan yang tinggi mengakibatkan udara sejuk alam

pegunungan (BP3K Wilayah Ciawi, 2010). Karakteristik tanah dan iklim seperti

4 Pemerintah Kabupaten Bogor Kecamatan Ciawi. 2010. Potensi Desa CitapenKecamatan Ciawi Kabupaten Bogor Tahun 2009

8

itu sangat potensial dalam membudidayakan produk-produk hortikultura

khususnya cabai merah.

Permasalahan pada cabang usahatani cabai merah keriting di Desa Citapen

dapat didekati dari produktivitas tanaman, dimana peningkatan produktivitas

cabai merah keriting dapat dilakukan dengan meningkatkan produksinya.

Meskipun kondisi geografis yang dimiliki oleh Desa Citapen sangat mendukung

dalam pertumbuhan cabai merah keriting, tetapi tidak serta merta meningkatkan

produksi dari usahatani cabai merah keriting yang dilakukan oleh petani Desa

Citapen. Hal ini dikarenakan peningkatan produksi tidak hanya dipengaruhi oleh

kondisi tanah yang subur saja, dimana menurut Rahmat dalam Nurmala (2011)

dalam peningkatan produksi dapat ditempuh dengan usaha penanaman varietas

hibrida (unggul), penggunaan pupuk dan pestisida yang berimbang serta

penanganan pascapanen yang tepat. Data mengenai produksi, luas panen dan

produtivitas cabai merah keriting desa citapen tahun 2006-2010 dapat dilihat pada

Tabel 5.

Tabel 5. Produksi, Luas Panen dan Produktivitas Cabai Merah Keriting DesaCitapen Tahun 2006 2010

Tahun Produksi (Ton) Luas Panen (Ha) Produktivitas (Ton/Ha)

2006 726,45 93 7,81

2007 548,32 86 6,38

2008 751,58 91 8,26

2009 844,56 112 7,54

2010 687,5 103 6,67

Rata-rata 7,33

Sumber : Gapoktan Rukun Tani (2011), diolah

Pada Tabel 5 dapat dilihat bahwa rata-rata produktivitas cabai merah

keriting di Desa Citapen hanya mampu mencapai 7,33 ton perhektar, sedangkan

produktivitas optimal cabai merah seharusnya dapat mencapai 13-17 ton perhektar

(Nixon MT, 2010). Kondisi ini menunjukkan bahwa terdapat selisih sebesar 5,67-

9,67 ton perhektar antara produktivitas optimal dengan produktivitas cabai merah

keriting di Desa Citapen. Hal ini secara tidak langsung menunjukkan adanya

kendala yang dihadapi petani dalam pengembangan usahatani cabai merah keritng

9

di Desa Citapen. Kesenjangan (Gap) ini dapat berimplikasi terhadap pendapatan

yang diperoleh petani.

Produktivitas yang tidak optimal diduga dapat mempengaruhi kondisi

pendapatan petani cabai merah keriting. Oleh karena itu, untuk melihat dampak

dari adanya produktivitas yang tidak optimal tersebut, maka perlu dilakukan suatu

analisis terhadap pendapatan petani cabai merah keriting di Desa Citapen, dengan

tujuan untuk mengetahui sejauh mana kegiatan usahatani cabai merah keriting

memberikan keuntungan bagi petani di Desa Citapen Kecamatan Ciawi

Kabupaten Bogor.

Disamping mempengaruhi pendapatan, produktivitas yang tidak optimal

juga sangat erat kaitannya dengan penggunaan faktor produksi. Faktor produksi

mempengaruhi jumlah produksi yang akan dihasilkan dalam suatu usahatani.

Penggunaan faktor produksi perlu diperhatikan dalam kegiatan usahatani agar

tidak terjadi penggunaan yang berlebihan yang dapat merugikan petani atau

mempengaruhi pendapatan dan menyebabkan tingkat produksi yang tidak

optimal, serta terjadinya peningkatan terhadap biaya produksi. Kendala yang

umumnya dihadapi para petani adalah bagaimana mengalokasikan faktor-faktor

produksi tersebut untuk mendapatkan produksi yang diharapkan. Berdasarkan

uraian permasalahan diatas, maka yang menjadi pertanyaan yang akan dikaji pada

penelitian ini adalah:

1. Apakah Usahatani cabai merah keriting di Desa Citapen Kecamatan Ciawi

Kabupaten Bogor Menguntungkan?

2. Faktor-faktor apa saja yang mempengaruhi produksi usahatani cabai merah

keriting di Desa Citapen Kecamatan Ciawi Kabupaten Bogor?

1.3 Tujuan Penelitian

Berdasarkan permasalahan diatas, maka tujuan dari penelitian ini adalah :

1. Menganalisis tingkat pendapatan usahatani cabai merah keriting di Desa

Citapen, Kecamatan Ciawi, Kabupaten Bogor.

2. Menganalisis faktor- faktor yang mempengaruhi produksi usahatani cabai

merah keriting di Desa Citapen, Kecamatan Ciawi, Kabupaten Bogor.

10

1.4 Manfaat Penelitian

Penelitian ini diharapkan dapat bermanfaat sebagai bahan masukan dan

pertimbangan bagi petani di Desa Citapen selaku unit pengambil keputusan

tentang usahatani cabai merah keriting, dan sebagai bahan pertimbangan untuk

penelitian selanjutnya serta pihak lain yang berkepentingan. Bagi peneliti sendiri

hasil penelitian ini digunakan sebagai saran untuk menerapkan ilmu yang

diperoleh di bangku perkuliahan.

1.5 Ruang Lingkup Penelitian

Penelitian ini hanya membahas tentang komoditas cabai merah keriting

yang dibudidayakan oleh petani di Desa Citapen. Objek penelitian untuk analisis

usahatani dan faktor-faktor yang mempengaruhi usahatani cabai merah keriting

adalah petani yang ada di Desa Citapen dimana petani yang dipilih adalah petani

cabai merah keriting yang melakukan musim tanam pada bulan oktober 2010

sampai dengan januari 2011.

11

II. TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Gambaran Umum Cabai Merah Keriting

Cabai merah keriting atau lombok merah (Capsicum annum, L) merupakan

tanaman hortikultura sayursayuran semusim untuk rempah-rempah yang

diperlukan oleh seluruh lapisan masyarakat sebagai penyedap masakan dan

penghangat badan. Cabai merah keriting termasuk dalam famili Solanaceae.

Tanaman ini merupakan tanaman herba tegak yang memiliki akar tunggang

dengan banyak akar samping yang dangkal. Bagian batang yang muda berambut

halus, bercabang banyak, serta bisa mencapai tinggi 1 2.5m. Daunnya tersebar

dengan helaian daun bulat telur memanjang atau elips berbentuk lanset, serta

pangkal dan ujung meruncing, sedangkan bunga cabai merah mengangguk dengan

ukuran tanggai 10 18 mm. Bentuknya seperti terompet kecil dan umumnya

berwarna putih, walau ada juga yang berwarna ungu. Buah cabai merupakan buah

buni dengan bentuk garis lanset, merah cerah, dan rasanya pedas. Daging buahnya

berupa keping-keping tidak berair. Bijinya berjumlah banyak serta terletak di

dalam ruangan buah dan melekat pada plasenta.5

Pada umumnya tanaman cabai merah keriting dapat ditanam di daerah

dataran tinggi maupun di dataran rendah, yaitu lebih dari 500 1200 m di atas

permukaan laut, yang terdapat di seluruh Indonesia terutama di Pulau Jawa.

Meskipun luasan lahan yang cocok untuk cabai merah keriting masih sangat luas,

tetapi penanaman cabai merah keriting di dataran tinggi masih sangat terbatas.

Pengembangan tanaman cabai merah, lebih diarahkan ke areal pengembangan

dengan ketinggian sedikit di bawah 800 m di atas permukaan laut. Terutama pada

lokasi yang air irigasinya sangat terjamin sepanjang tahun. Pola Tanam Budidaya

atau usahatani tanaman cabai merah selama ini dilakukan secara monokultur dan

pola rotasi tanaman. Pada pola rotasi tanaman maka pola yang lazim dianut para

petani adalah dengan melakukan pergiliran tanaman pola 1 : 2 yaitu satu kali

tanaman cabai merah dan 2 3 kali tanaman palawija/sayuran lainnya yang tidak

sama famili tanamannya dengan cabai merah. Untuk model kelayakan ini

5 Khasiat Buah. 2010. Khasiat Cabai Merah. http://khasiatbuah.com/cabai-merah.htmdiakses Tanggal 26 April 2011

http://khasiatbuah.com/cabai-merah.htm

12

digunakan monokultur cabai merah sepanjang tahun, dengan masa lahan kosong

selama 1 bulan di antara siklus tanam.

Aspek teknik budidaya keberhasilan usaha produksi cabai merah sangat

ditentukan oleh aspek teknis budidaya di lapangan. Beberapa hal yang harus

diperhatikan dengan baik dalam pelaksanaan teknis budidaya tanaman cabai

merah adalah sebagai berikut:

1. Pemakaian benih cabai merah yang unggul yang tidak terkontaminasi virus.

2. Ketersediaan air yang cukup sepanjang periode tanam/sepanjang tahun. Pola

tanaman yang baik dan sesuai dengan iklim.

3. Pengolahan tanah yang disesuaikan dengan kemiringan lereng dan arah

lereng.

4. Pemberantasan hama dan penyakit tanaman cabai merah dilaksanakan secara

teratur sesuai dengan kondisi serangan hama dan penyakit.

5. Cara panen serta penanganan pasca panen cabai merah yang baik dan benar.6

2.2 Kajian Peluang Usaha Agribisnis Cabai

Nixon MT (2010) menyatakan bahwa lemahnya nilai tukar Rupiah

terhadap Dolar AS, justru malah memberikan keuntungan yang berlipat bagi para

pelaku usaha di sektor pertanian. Hal ini dikarenakan banyak hasil-hasil usaha

sektor agribisnis yang dipasarkan ke pasar luar negeri dengan transaksi penjualan

dalam Dolar, sementara biaya produksi yang dikeluarkan dalam memproduksi

menggunakan Rupiah.

Nixon MT (2010), juga menyebutkan bahwa dari berbagai usaha yang

banyak ditawarkan di sektor agribisnis, agribisnis cabai adalah salah satu

agribisnis yang cukup menarik investor, dimana dari berbagai jenis sayuran dan

buah-buahan, cabai dinilai sebagai produk yang mempunyai harga yang paling

tinggi dan umurnya tergolong genjah sehingga modal cepat kembali. Namun

ketika banyak petani yang membudidayakan cabai dan menerima keuntungan

yang berlipat ganda, di sisi lain ada pula petani yang mengalami kerugian dan

menjadi frustasi. Hal ini dikarenakan agribisnis cabai yang menjanjikan

keuntungan ternyata juga mempunyai banyak kendala, mulai dari cuaca yang

6Pupuk Bio Organik Herbafarm. 2005. Budidaya Cabai Merah.http://www.google.com/2005/gml/expr. Diakses 12 April 2011

http://www.google.com/2005/gml/expr

13

tidak bisa ditolerir, serangan hama dan penyakit, pencurian dan penjarahan sampai

dengan jatuhnya harga jual karena kelebihan penawaran.

Pada umumnya siklus kebutuhan cabai di Indonesia meningkat menjelang

waktu-waktu tertentu, misalnya memasuki bulan puasa, lebaran, natal, dan tahun

baru. Pada saat-saat tersebut, permintaan cabai yang tinggi diiringi dengan harga

yang melambung. Selain faktor tersebut, harga cabai menjadi sangat mahal

karena pada waktu-waktu tersebut biasanya bertepatan dengan musim hujan.

Biasanya petani yang menanam cabai sedikit dan banyak pula yang gagal panen

karena serangan hama dan penyakit, akibatnya keberadaan cabai di pasaran

menjadi sangat langka dan secara otomatis harganya melonjak tajam.

Selain untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri, pasar cabai untuk luar

negeri pun masih luas. Saat ini pasar yang masih bisa dibidik adalah Hongkong,

Amerika, Eropa dan yang paling utama adalah RRC, sebab RRC masih

memprioritaskan industrinya sehingga sebagian besar sayur-sayuran dan buah-

buahan yang dibutuhkan untuk konsumsi terpaksa harus diimpor dari luar (Nixon

MT, 2010). Dari gambaran kebutuhan tersebut, jelas bahwa bertanam cabai

masih mempunyai prospek yang cukup potensial, baik cabai hibrida, cabai besar,

cabai rawit maupun cabai keriting.

2.3 Studi Penelitian Terdahulu

Analisis pendapatan usahatani banyak digunakan untuk mengetahui sejauh

mana kegiatan usahatani yang dilakukan memberikan manfaat untuk orang yang

melakukannya (petani). Studi mengenai analisis pendapatan dilakukan oleh

Hendrawanto (2008) dan Siregar (2010), dimana keduanya menganalisis tentang

usahatani cabai merah di daerah yang berbeda yaitu di Desa Sukagalih, Kabupaten

Bogor dan di Desa Tugu Utara, Kecamatan Cisarua, Bogor. Alat analisis yang

digunakan yaitu analisis pendapatan usahatani dan analisis R/C. Hasil analisis

pendapatan usahatani yang dilakukan menunjukkan secara garis besar adalah

sama, dimana kegiatan usahatani cabai merah dapat memberikan keuntungan bagi

petani.

Hasil penelitian yang dilakukan oleh Hendrawanto (2008) memperlihatkan

bahwa usahatani cabai merah petani per 2.080 meter persegi di Desa Sukagalih

menghasilkan penerimaan total sebesar Rp 12.393.734,32 dengan biaya tunai

14

yang dikeluarkan sebesar Rp 4.793.752,22 dan biaya total sebesar Rp

7.820.121,47; sehingga pendapatan kerja petani yang diterima yaitu sebesar Rp

4.597.870,97; maka diperoleh nilai R/C atas biaya tunai sebesar 2,59 dan R/C atas

biaya total sebesar 1,59. Hasil penelitian Siregar (2010) menunjukkan bahwa,

nilai R/C usahatani cabai merah organik lebih tinggi jika dibandingkan nilai R/C

pada cabai merah non organik, hal ini dikarenakan terdapat perbedaan harga yang

diterima antara petani organik dengan petani non organik. Harga cabai yang

diterima petani organik lebih tinggi dibandingkan petani non organik. Hasil

penelitian tersebut menunjukkan untuk cabai merah non organik dengan luasan

lahan 1 ha menghasilkan penerimaan sebesar Rp 78.000.000 dengan biaya tunai

yang dikeluarkan sebesar Rp 18.827.500 dan biaya total sebesar Rp 52.634.166;

sehingga pendapatan atas biaya tunai yang diperoleh yaitu sebesar Rp 59.172.500

dan pendapatan atas biaya total adalah sebesar Rp 52.365.834; maka diperoleh

nilai R/C atas biaya tunai sebesar 4,14 dan nilai R/C atas biaya total sebesar 3,04.

Sedangkan untuk cabai merah organik dengan luasan lahan 1 ha menghasilkan

penerimaan sebesar Rp 176.000.000 dengan biaya tunai yang dikeluarkan sebesar

Rp 26.841.000 dan biaya total sebesar Rp 38.069.666 sehingga pendapatan atas

biaya tunai yang diperoleh yaitu sebesar Rp 149.159.000 dan pendapatan atas

biaya total adalah sebesar Rp 137.930.334; maka diperoleh nilai R/C atas biaya

tunai sebesar 6,56 dan nilai R/C atas biaya total sebesar 4,62.

Penelitian yang menganalisis mengenai pendapatan usahatani pada

komoditas sayuran dilakukan oleh Nadhwatunnaja (2008) dan Sujana (2010).

Hasil penelititian Sujana (2010) menunjukkan bahwa penerimaan yang diterima

oleh petani tomat anggota kelompok tani adalah Rp 93.408.741 sedangkan total

biaya yang dikeluarkan adalah Rp 65.079.497; sehingga pendapatan atas biaya

total sebesar Rp 28.329.244 maka nilai R/C atas biaya total yang diperoleh yaitu

sebesar 1,44. Untuk petani tomat non anggota kelompok tani, memperoleh

penerimaan sebesar Rp 90.541.310 dan total biaya yang dikeluarkan adalah Rp

69.776.249; sehingga pendapatan atas biaya total sebesar Rp 20.765.060 sehingga

menghasilkan nilai R/C atas biaya total sebesar 1,30. Nadhwatunnaja (2008)

menunjukkan bahwa pendapatan petani paprika hidroponik anggota Koptan Mitra

Sukamaju lebih tinggi dibandingkan petani non anggota petani paprika hidroponik

15

yaitu dengan pendapatan atas biaya tunai dan biaya total petani anggota Koptan

Mitra Sukamaju masing-masing sebesar Rp 19.638.973,12 dan Rp 7.916.973,12.

Sedangkan pendapatan atas biaya tunai dan pendapatan atas biaya total petani non

anggota masing-masing sebesar Rp 15.943.192,79 dan Rp 4.221.192,79. Begitu

juga dengan nilai R/C, nilai R/C pada petani anggota Koptan Mitra Sukamaju

lebih tinggi dibandingkan dengan non anggota, yaitu dengan nilai R/C atas biaya

tunai petani adalah 1,74 dan nilai R/C 1,21. Sedangkan nilai R/C petani non

anggota adalah 1,62 untuk biaya tunai dan 1.11 untuk biaya total. Walaupun

terdapat perbedaan karakteristik produk, namun secara garis besar dapat diambil

kesimpulan bahwa kegiatan usahatani sayuran, termasuk cabai merah memberikan

keuntungan bagi petani yang dapat dilihat dari hasil analisis pendapatan usahatani

yang nilainya lebih dari nol dan nilai R/C yang nilainya lebih dari 1.

Analisis efisiensi penggunaan faktor-faktor produksi digunakan untuk

mengetahui sejauh mana efisiensi penggunaan faktor produksi (input) yang dapat

mempengaruhi produksi (output). Analisis efisiensi penggunaan faktor-faktor

produksi dapat dilakukan dengan menggunakan analisis fungsi produksi Cobb-

Douglas dan rasio NPM/BKM. Hasil analisis fungsi produksi Cobb-Douglass

masih dilakukan oleh peneliti yang sama yaitu Nadhwatunnaja (2008) dan Sujana

(2010). Hasil penelitian keduanya menunjukkan bahwa nilai koefisien

determinasi (R2) pada usahatani paprika hidroponik dan usahatani tomat apel

menunjukkan nilai lebih dari 50 persen dimana nilai tersebut mengartikan bahwa

model yang dihasilkan layak untuk meramalkan kondisi ke depan secara akurat.

Selain itu jika dilihat dari uji multikolinieritas melalui nilai VIF yang kurang dari

10, maka tidak terdapat masalah multikolinieritas pada kedua model penelitian

tersebut. Melalui uji statistik diperoleh bahwa faktor-faktor yang berpengaruh

nyata terhadap produksi tomat apel pada petani anggota kelompok tani yaitu

variabel benih, pupuk kandang, pupuk P, pupuk K, pestisida cair dan tenaga kerja,

dan pada petani non kelompok tani variabel yang berpengaruh nyata pada

produksi tomat apel yaitu benih, pupuk kandang, pupuk K, pestisida cair dan

tenaga kerja. Sedangkan untuk produksi paprika hidroponik dari hasil penelitian

menyebutkan bahwa faktor-faktor yang berpengaruh terhadap produksi pada

selang kepercayaan 99 persen adalah nutrisi dan pestisida, dimana pada selang

16

kepercayaan 99 persen mengartikan bahwa faktor-faktor produksi tersebut sangat

berpngaruh terhadap produksi paprika hidroponik, karena tingkat kesalahannya

hanya satu persen. Untuk selang kepercayaan 95 persen faktor produksi yang

dianggap berpengaruh adalah faktor produksi luas lahan. Sedangkan faktor

produksi yang tidak berpengaruh nyata terhadap produksi paprika adalah tenaga

kerja.

2.4 Keterkaitan dengan Penelitian Terdahulu

Berdasarkan hasil penelitian terdahulu, penulis mencoba menganalisis

pendapatan usahatani cabai merah keriting serta menganalisi faktor-faktor

produksi yang mempengaruhi usahatani cabai merah keriting di Desa Citapen,

Kecamatan Ciawi, Kabupaten Bogor. Dengan adanya penelitian terdahulu, maka

dapat dilihat bahwa terdapat persamaan dan perbedaan penelitian terdahulu

dengan penelitian ini. Persamaannya adalah sama-sama menganalisis tentang

pendapatan dan faktor-faktor yang mempengaruhi produksi usahatani dengan

menggunakan alat analisis yang sama yaitu analisis pendapatan, analisis R/C ratio

dan analisis faktor fungsi produksi Cobb-Douglass. Untuk perbedaannya yaitu

lokasi penelitian yang berbeda, komoditi yang berbeda dan responden/petani yang

digunakan juga berbeda, sehingga hasil yang diharapkan juga berbeda.

17

III. KERANGKA PEMIKIRAN

3.1. Kerangka Pemikiran Teoritis

3.1.1 Konsep Usahatani

Ada banyak definisi mengenai ilmu usahatani yang telah banyak di

kemukakan oleh mereka yang melakukan analisis usahatani, diantaranya yang

dikemukakan oleh Soekartawi (2006), bahwa yang dikatakan ilmu usahatani yaitu

suatu tujuan untuk mencapai keuntungan maksimum dimana seseorang harus

melakukan secara efektif dan efisien dalam mengalokasikan sumberdaya yang

ada. Pengertian efektif jika produsen dapat mengalokasikan sumberdaya sebaik-

baiknya dan efisien apabila pemanfaatan sumberdaya tersebut menghasilkan

keluaran yang melebihi masukan.

Pada umumnya ciri usahatani di Indonesia adalah berlahan sempit, modal

relatif kecil, pengetahuan petani terbatas, kurang dinamis sehingga berakibat pada

rendahnya pendapatan usahatani (Soekartawi et al, 1986). Menurut Rahim A dan

Hastuti RDR (2008), terdapat beberapa faktor yang mempengaruhi produksi

pertanian, yaitu :

1. Lahan Pertanian

Lahan pertanian merupakan penentu dari pengaruh faktor produksi

komoditas pertanian. Secara umum dikatakan, semakin luas lahan (yang

digarap/ditanami), semakin besar jumlah produksi yang dihasilkan oleh

lahan tersebut. Pentingnya faktor produksi lahan bukan saja dilihat dari

segi luas atau sempitnya lahan, tetapi juga segi lain, misalnya aspek

kesuburan tanah, macam penggunaan lahan (tanah sawah, tegalan dan

sebagainya) dan topografi (tanah dataran pantai, rendah dan dataran

tinggi).

2. Tenaga Kerja

Tenaga kerja dalam hal ini petani merupakan faktor penting dan perlu

diperhitungkan dalam proses produksi komoditas pertanian. Tenaga kerja

harus mempunyai kualitas berpikir yang maju seperti petani yang mampu

mengadopsi inovasi-inovasi baru, terutama dalam menggunakan teknologi

untuk pencapaian komoditas yang bagus sehingga nilai jual tinggi.

Penggunaan tenaga kerja dapat dinyatakan sebagai curahan tenaga kerja.

18

Curahan tenaga kerja adalah besarnya tenaga kerja efektif yang dipakai.

Usahatani yang mempunyai ukuran lahan berskala kecil biasanya disebut

usahatani skala kecil, dan biasanya pula menggunakan tenaga kerja

keluarga. Lain halnya dengan usahatani berskala besar, selain

menggunakan tenaga kerja luar keluarga juga memiliki tenaga kerja ahli.

Ukuran tenaga kerja dapat dinyatakan dalam harian orang kerja (HOK),

sedangkan dalam analisis ketenagakerjaan diperlukan standarisasi tenaga

kerja yang biasanya disebut dengan hari kerja setara pria (HKSP).

3. Modal

Setiap kegiatan dalam mencapai tujuan membutuhkan modal, apalagi

kegiatan proses produksi komoditas pertanian. Dalam kegiatan proses

tersebut, modal dapat dibagi menjadi dua bagian yaitu modal tetap (fixed

cost) dan modal tidak tetap (variable cost). Modal tetap (fixed cost) terdiri

atas tanah, bangunan, mesin dan peralatan pertanian dimana biaya yang

dikeluarkan dalam proses produksi tidak habis dalam sekali proses

produksi, sedangkan modal yang tidak tetap (variable cost) terdiri dari

benih, pupuk, pestisida, dan upah yang dibayarkan kepada tenaga kerja.

Besar kecilnya skala usaha pertanian atau usahatani tergantung dari skala

usahatani, macam komoditas dan tersedianya kredit. Skala usahatani

sangat menentukan besar kecilnya modal yang dipakai. Makin besar skala

usahatani, makin besar pula modal yang dipakai, begitu pula sebaliknya.

Macam komoditas tertentu dalam proses produksi komoditas pertanian

juga menentukan besar kecilnya modal yang dipakai. Tersedianya kredit

sangat menentukan keberhasilan usahatani.

4. Pupuk

Pupuk sangat dibutuhkan untuk pertumbuhan dan perkembangan yang

optimal. Jenis pupuk yang sering digunakan adalah pupuk organik dan

pupuk anorganik. Pupuk organik atau pupuk alam merupakan hasil akhir

dari perubahan atau penguraian bagian-bagian atau sisa-sisa tanaman dan

binatang, misalnya pupuk kandang, pupuk hijau, kompos, bungkil, guano

dan tepung tulang. Sementara itu, pupuk organik atau pupuk buatan

19

merupakan hasil industri atau hasil pabrik-pabrik pembuat pupuk,

misalnya pupuk urea, TSP dan KCL.

5. Pestisida

Pestisida sangat dibutuhkan tanaman untuk mencegah serta membasmi

hama dan penyakit yang menyerangnya. Pestisida merupakan racun yang

mengandung zat-zat aktif sebagai pembasmi hama dan penyakit pada

tanaman.

6. Bibit

Bibit menentukan keunggulan dari suatu komoditas. Bibit yang unggul

biasanya tahan terhadap penyakit, hasil komoditasnya berkualitas tinggi

dibandingkan dengan komoditas lain sehingga harganya dapat bersaing di

pasar.

7. Teknologi

Penggunaan teknologi dapat menciptakan rekayasa perlakuan terhadap

tanaman dan dapat mencapai tingkat efisiensi yang tinggi. Sebagai contoh,

tanaman padi dapat dipanen dua kali dalam setahun, tetapi dengan adanya

perlakuan teknologi terhadap komoditas tersebut, tanaman padi dapat

dipanen tiga kali setahun.

3.1.2 Penerimaan Usahatani

Penerimaan usahatani merupakan perkalian antara produksi yang

diperoleh dengan harga jual, dimana dalam menghitung total penerimaan

usahatani perlu dipisahkan antara analisis parsial usahatani dan analisis simultan

usahatani (Rahim A dan Hastuti DRD, 2008). Soekartawi et al. (1986)

berpendapat bahwa penerimaan dinilai berdasarkan perkalian antara total produksi

dengan harga pasar yang berlaku; yang mencakup semua produk yang dijual,

dikonsumsi rumah tangga petani, digunakan dalam usahatani untuk benih,

digunakan untuk pembayaran, dan yang disimpan.

Menurut Soeharjo dan Patong (1973) bahwa penerimaan usahatani

berwujud pada tiga hal, yaitu :

1. Hasil penjualan tanaman, ternak, ikan atau produk yang akan dijual.

Adakalanya yang dijual ialah hasil ternak, misalnya susu, daging dan telur.

20

Adakalanya pula yang dijual adalah hasil dari pekarangan yaitu pisang,

kelapa, dan lain-lain.

2. Produk yang dikonsumsi pengusaha dan keluarganya selama melakukan

kegiatan.

3. Kenaikan nilai inventaris. Nilai benda-benda inventaris yang dimiliki petani,

berubah-ubah setiap tahun. Dengan demikian akan ada perhitungan. Jika

terjadi kenaikan nilai benda-benda inventaris yang dimiliki petani, maka

selisih nilai akhir tahun dengan nilai awal tahun perhitungan merupakan

penerimaan usahatani.

Beberapa istilah yang sering digunakan dalam melihat penerimaan

usahatani adalah (1) Penerimaan tunai usahatani (farm receipt), yang didefinisikan

sebagai nilai uang yang diterima dari penjualan produk usahatani (Soekartawi et

al, 1986). Pinjaman uang untuk keperluan usahatani. Penerimaan tunai tidak

mencakup yang berupa benda. Sehingga, nilai produk usahatani yang dikonsumsi

tidak dihitung sebagai penerimaan tunai usahatani. Penerimaan tunai usahatani

yang tidak berasal dari penjualan produk usahatani seperti pinjaman tunai, harus

ditambahkan. (2) Penerimaan Tunai luar usahatani, yang berarti penerimaaan yang

diperoleh dari luar aktivitas usahatani seperti upah yang diperoleh dari luar

usahatani. (3) Penerimaan Kotor Usahatani (gross return), yang didefenisikan

sebagi penerimaan dalam jangka waktu (biasanya satu tahun atau satu musim),

baik yang dijual (tunai) maupun yang tidak dijual (tidak tunai seperti konsumsi

keluarga, bibit, pakan, ternak). Penerimaan kotor juga sama dengan pendapatan

kotor atau nilai produksi.

3.1.3 Biaya Usahatani

Menurut Soekartawi dkk (1986) bahwa biaya adalah nilai penggunaan

sarana produksi, upah dan lain-lain yang dibebankan pada proses produksi yang

bersangkutan. Sedangkan biaya usahatani menurut Rahim A dan Hastuti DRD

(2008) merupakan pengorbanan yang dilakukan oleh produsen (petani, nelayan

dan peternak) dalam mengelola usahanya dalam mendapatkan hasil yang

maksimal. Biaya usahatani biasanya diklasifikasikan menjadi dua, yaitu biaya

tetap (fixed cost) dan biaya tidak tetap (variable cost). Biaya tetap diartikan

sebagai biaya yang relatif tetap jumlahnya dan terus dikeluarkan walaupun

21

produksi yang diperoleh banyak atau sedikit. Jadi besarnya biaya tetap ini tidak

tergantung pada besar kecilnya produksi yang diperoleh. Sedangkan biaya tidak

tetap atau biaya variabel biasanya diartikan sebagai biaya yang besar kecilnya di

pengaruhi oleh produksi yang diperoleh (Soekartawi, 2006).

Biaya usahatani dapat berbentuk biaya tunai dan biaya yang

diperhitungkan. Biaya tunai adalah biaya yang dibayar dengan uang, seperti biaya

pembelian sarana produksi, biaya pembelian bibit, pupuk dan obat-obatan serta

biaya upah tenaga kerja. Biaya yang diperhitungkan digunakan untuk menghitung

berapa sebenarnya pendapatan kerja petani, modal dan nilai kerja keluarga.

Tenaga kerja keluarga dinilai berdasarkan upah yang berlaku. Biaya penyusutan

alat-alat pertanian dan sewa lahan milik sendiri dapat dimasukkan kedalam biaya

yang diperhitungkan. Biaya dapat juga diartikan sebagai penurunan inventaris

usahatani. Nilai inventaris suatu barang dapat berkurang karena barang tersebut

rusak, hilang atau terjadi penyusutan.

3.1.4 Pendapatan Usahatani

Pendapatan merupakan balas jasa terhadap penggunaan faktor-faktor

produksi. Menurut Soekartawi (2006) Pendapatan usahatani adalah selisih antara

penerimaan dan semua biaya. Adapun fungsi pendapatan memenuhi kebutuhan

sehari-hari dan kebutuhan kegiatan usahatani selanjutnya. Dijelaskan oleh

Soekartawi et all (1986) bahwa selisih antara penerimaan tunai usahatani dan

pengeluaran tunai usahatani disebut pendapatan tunai usahatani (farm net cash

flow) dan merupakan ukuran kemampuan usahatani untuk menghasilkan uang

tunai. Soekartawi et all (1986) juga menjelaskan bahwa pendapatan usahatani

dibedakan menjadi pendapatan atas biaya tunai dan pendapatan atas biaya total.

Dimana pendapatan atas biaya tunai merupakan pendapatan yang diperoleh atas

biaya-biaya yang benar-benar dikeluarkan oleh petani, sedangkan pendapatan atas

biaya total merupakan pendapatan setelah dikurangi biaya tunai dan biaya

diperhitungkan

Pendapatan usahatani dapat dirumuskan sebagai berikut:

Pd = TR TC

TR = Y Py

TC = FC + VC

22

dimana :

Pd = pendapatan usahatani

TR = total penerimaan (total revenue)

TC = total biaya (total cost)

FC = biaya tetap (fixed cost)

VC = biaya variabel (variable cost)

Y = produksi yang diperoleh dalam usahatani

Py = harga Y

Faktor-faktor yang mempengaruhi pendapatan usahatani dibagi menjadi

dua yaitu faktor-faktor intern dan ekstern. Faktor-faktor intern usahatani yang

mempengaruhi pendapatan usahatani yaitu kesuburan lahan, luas lahan garapan,

ketersediaan tenaga kerja, ketersediaan modal dalam usahatani, penggunaan input

modern/teknologi, pola tanam, lokasi tanaman, fragmentasi lahan, status

penguasaan lahan, cara pemasaran output, efisiensi penggunaan input dan tingkat

pengetahuan maupun keterampilan petani dan tenaga kerja. Sedangkan faktor-

faktor ekstern usahatani yang mempengaruhi pendapatan usahatani yaitu sarana

transpotasi, sistem tataniaga, penemuan teknologi baru, fasilitas irigasi, tingkat

harga output dan input, ketersediaan lembaga perkreditan, adat istiadat masyarakat

dan kebijaksanaan pemerintah.

3.1.5 Rasio Imbangan Penerimaan danBiaya (R/C)

Salah satu ukuran efisiensi adalah penerimaan untuk rupiah yang

dikeluarkan (revenue cost ratio atau R/C ratio). Analisis Return Cost (R/C) ratio

merupakan perbandingan (ratio atau nisbah) antara penerimaan dan biaya (Rahim

A dan Hastuti DRD, 2008). Analisis R/C digunakan untuk mengetahui

keuntungan relatif usahatani berdasarkan perhitungan finansial, dimana R/C dapat

menunjukkan besarnya penerimaan yang diperoleh dengan pengeluaran dalam

satu satuan biaya.

Menurut Soekartawi (2006) bahwa R/C adalah perbandingan (nisbah)

antara penerimaan dan biaya. secara matematik, hal ini dapat dituliskan sebagai

berikut :

a = R/C

23

R = Py Y

C = FC + VC

a = [ (Py Y) / (FC + VC) ]

dimana :

R = penerimaan

C = biaya

Py = harga output

Y = output

FC = biaya tetap (fixed cost)

VC = biaya variabel (variable cost)

R/C menunjukkan berapa besarnya penerimaan yang diperoleh sebagai

manfaat dari setiap rupiah yang dikeluarkan. Analisa R/C dibedakan atas jenis

biaya yang dikeluarkan, yaitu R/C atas biaya tunai dan R/C atas biaya total.

Adapun kriteria keputusan dari nilai R/C yaitu jika R/C > 1, berarti penerimaan

yang diperoleh lebih besar daripada tiap unit biaya yang dikeluarkan untuk

memperoleh penerimaan tersebut. Jika nilai R/C < 1 maka tiap unit yang

dikeluarkan akan lebih besar daripada penerimaan yang diperoleh. Sedangkan

kegiatan usaha yang memiliki nilai R/C = 1 maka kegiatan usaha berada pada

kondisi impas atau kondisi dimana kegiatan usaha tersebut tidak mendapatkan

keuntungan dan tidak juga mengalami kerugian.

3.1.6 Teori Produksi

Suatu proses produksi melibatkan suatu hubungan yang erat antara faktor

produksi yang digunakan dengan produk yang dihasilkan, dimana output

usahatani yang berupa produk pertanian tergantung pada jumlah dan macam input

yang digunakan dalam proses produksi. Hubungan antara input dan output ini

dapat dilihat dalam suatu fungsi produksi. Menurut Soekartawi et al. (1986),

fungsi produksi adalah hubungan kuantitatif antara masukan (input) dan produksi

(output).

Fungsi produksi dengan n jenis input X dan satu output Y dinyatakan

sebagai berikut :

Y = f (X1, X2, X3,......,Xn)

24

Menurut persamaan diatas dinyatakan bahwa produksi Y dipengaruhi oleh

sejumlah n input, dimana input X1, X2, X3,......,Xn dapat dikategorikan menjadi

dua, yaitu input yang dapat dikuasai oleh petani seperti luas tanah, jumlah pupuk,

tenaga kerja dan lainnya; dan input yang tidak dapat dikuasai oleh petani seperti

iklim.

Menurut Soekartawi (2008) bahwa untuk megukur tingkat produktivitas

dari suatu produksi terdapat dua tolak ukur yaitu produk marjinal (PM) dan

produk rata-rata (PR). Produk marjinal adalah tambahan satu-satuan input X yang

dapat menyebabkan pertambahan/pengurangan satu satuan output (Y) sedangkan

produk rata-rata adalah perbandingan antara produk total perjumlah input.

Untuk mengukur perubahan dari jumlah produk yang dihasilkan yang

disebabkan oleh faktor produksi yang dipakai dapat dinyatakan dalam elastisitas

produksi. Elastisitas produksi (Ep) adalah persentase perubahan dari output

sebagai akibat dari persentase perubahan dari input. Model yang sering

digunakan dalam fungsi produksi, terutama fungsi produksi klasik adalah the law

of deminishing return. Model ini menunjukkan hubungan fungsional yang

mengikuti hukum pertambahan hasil yang semakin berkurang. Menurut Billas

dalam Rahim dan Astuti (2008), bila input dari salah satu sumber daya dinaikkan

dengan tambahan yang sama per unit waktu, sedangkan input dari sumber daya

yang lain dipertahankan agar tetap konstan, produk akan meningkat diatas suatu

titik tertentu, tetapi peningkatan output tersebut cenderung mengecil. Berikut

adalah gambar dari kurva fungsi produksi yang menunjukkan elastisitas produksi.

25

Gambar 1. Kurva daerah Produksi dan Elastisitas ProduksiSumber : Soekartawi, 2003

Keterangan :TPP = Produk TotalAPP = Produk Rata-rataMPP = Produk MarjinalY = ProduksiX = Faktor Produksi

Berdasarkan elastisitas produksi, fungsi produksi dapat dibagi ke dalam

tiga daerah (Gambar 1) yaitu sebagai berikut :

1. Daerah produksi I dengan Ep > 1, merupakan daerah yang tidak rasional,

karena pada daerah ini penambahan input sebesar satu persen akan

menyebabkan penambahan produk yang selalu lebih besar dari satu persen.

Di daerah produksi ini belum tercapai pendapatan yang maksimum karena

OutputY

TPP

I II IIIEp >1 0< Ep

26

pendapatan masih dapat diperbesar apabila pemakaian input variabel

dinaikkan.

2. Daerah produksi II dengan 0 < Ep 1, pada daerah ini penambahan input

sebesar satu persen akan menyebabkan penambahan produksi paling tinggi

sama dengan satu persen dan paling rendah nol persen. Pada daerah ini akan

tercapai pendapatan maksimum. Daerah produksi ini disebut dengan daerah

produksi rasional.

3. Daerah produksi III dengan Ep < 0, pada daerah ini penambahan pemakaian

input akan menyebabkan penurunan produksi total. Daerah ini disebut

dengan daerah yang tidak rasional.

Pemilihan model fungsi produksi yang baik dan benar hendaknya fungsi

tersebut memenuhi syarat sebagai berikut (Soekartawi, 2003):

1. Sederhana, sehingga mudah ditafsirkan.

2. Mempunyai hubungan dengan persoalan ekonomi.

3. Dapat diterima secara teoritis dan logis.

4. Dapat menjelaskan persoalan yang diamati.

Hasil analisis fungsi produksi menurut Soekartawi (1986) merupakan

fungsi pendugaan. Analisis fungsi produksi adalah kelanjutan dari aplikasi

anlisis regresi. Berbagai macam model fungsi produksi menurut Soekartawi

(2003), antara lain : Fungsi produksi linear, Fungsi Produksi Kuadratik, Fungsi

produksi Transendental dan Fungsi produksi Cobb-Douglass.

Soekartawi (2003) menyatakan bahwa fungsi produksi linier menunjukkan

hubungan yang bersifat linier antara peubah bebas dengan peubah tak bebas.

Fungsi produksi linear biasanya dibedakan menjadi dua, yaitu fungsi produksi

linear sederhana dan linear berganda. Fungsi produksi linear sederhana ialah bila

hanya ada satu variabel X yang dipakai dalam model. Penggunaan garis regresi

linear sederhana banyak dipakai untuk menjelaskan fenomena yang berkaitan

untuk menjelaskan hubungan dua variabel. Model sederhana ini sering digunakan

karena analisisnya dilakukan dengan hasil yang lebih mudah dimengerti secara

cepat. Kelemahannya terletak pada jumlah variabel X yang hanya satu yang

dipakai dalam model sehingga dengan tidak memasukkan variabel X yang lain,

maka peneliti akan kehilangan informasi tentang variabel yang tidak dimasukkan

27

dalam model tersebut. Untuk mengatasi hal ini, maka peneliti biasanya

mengunakan garis linear berganda (multiple regressions). Jumlah variabel X

yang dipakai dalam garis regresi berganda ini adalah lebih dari satu. Estimasi

garis regresi linear berganda ini memerlukan bantuan asumsi dan model estimasi

tertentu sehingga diperoleh garis estimasi atau garis penduga yang baik.

Keunggulan cara ini dibandingkan dengan analisis regresi sederhana ialah dalam

prakteknya, faktor yang mempengaruhi suatu kejadian adalah lebih dari satu

variabel serta garis penduga yang didapatkan akan lebih baik dan tidak begitu bias

bila dibandingkan dengan cara analisis sederhana.

Fungsi Produksi Kuadratik Berbeda dengan garis linear (sederhana dan

berganda) yang tidak mempunyai nilai maksimum, maka fungsi kuadratik justru

mempunyai nilai maksimum. Nilai maksimum akan tercapai bila turunan pertama

dari fungsi tersebut sama dengan nol. Fungsi produksi transendental mampu

menggambarkan fungsi dimana produk marjinal dapat menaik, menurun dan

menurun dalam negatif (Negative Marginal Product). Kelemahan yang dimiliki

oleh fungsi transdental yaitu model tidak dapat digunakan apabila terdapat faktor

produksi yang nilainya nol. Fungsi produksi Cobb-Douglass memiliki beberapa

kelebihan, diantaranya yaitu: perhitungannya, b) perhitungannya sederhana karena

dapat dibuat dalam bentuk linier, c) pada model ini koefisien pangkatnya

menunjukkan besarnya elastisitas produksi dari masing-masing faktor produksi, d)

dari penjumlahan koefisien elastisitas masing-masing faktor produksi, dalam

fungsi produksi menunjukkan fungsi skala usaha. Kelemahan-kelemahan umum

yang ditemukan dalam fungsi produksi Cobb-Douglass diantaranya adalah

kesalahan pengukuran variabel akan menyebabkan besarnya elastisitas menjadi

terlalu tinggi atau terlalu rendah, dan data tidak boleh ada yang nol atau negatif

(Soekartawi dalam Putra, 2011).

3.1.7 Fungsi Produksi Cobb-Douglass

Model analisis yang digunakan untuk menduga fungsi produksi di lokasi

penelitian adalah dengan menggunakan fungsi produksi Cobb-Douglass. Rahim

dan Hastuti (2008) mengatakan bahwa fungsi produksi Cobb-Douglas adalah

suatu fungsi atau persamaan yang melibatkan dua atau lebih variabel (variabel

bebas/independent variable dan variabel tidak bebas/dependent variable).

28

Menurut Soekartawi (2008) bahwa fungsi produksi Cobb-Douglas merupakan

suatu fungsi atau persamaan yang melibatkan dua atau lebih variabel, variabel

yang satu disebut variabel (Y) atau yang dijelaskan dan variabel lain disebut

dengan variabel (X) atau yang menjelaskan. Variabel yang dijelaskan biasanya

berupa output dan variabel yang menjelaskan biasanya berupa input.

Pemilihan model fungsi produksi Cobb-Douglas didasarkan pada

pertimbangan adanya kelebihan dari model ini, antara lain:

a). Koefisien pangkat dari masing-masing fungsi produksi Cobb-Douglas

menunjukkan besarnya elastisitas produksi dari masing-masing faktor

produksi yang digunakan dalam menghasilkan output.

b). Merupakan pendugaan terhadap keadaan skala usaha dari proses produksi

yang berlangsung.

c). Bentuk linear dari fungsi Cobb-Douglas ditransformasikan dalam bentuk log

e (ln), dalam bentuk tersebut variasi data menjadi sangat kecil. Hal ini

dilakukan untuk mengurangi terjadinya heterokedastisitas.

d). Perhitungannya sederhana karena persamaannya dapat diubah dalam bentuk

persamaan linear.

e). Bentuk fungsi Cobb-Douglas paling banyak digunakan dalam penelitian

khususnya bidang pertanian.

f). Hasil pendugaan melalui fungsi Cobb-Douglas akan menghasilkan koefisien

regresi yang sekaligus juga menunjukkan besaran elastisitas.

g). Besaran elastisitas dapat juga sekaligus menggambarkan return to scale.

Disamping kelebihan yang dimiliki, fungsi Cobb-Douglas juga memiliki

kelemahan. Kelemahan tersebut menurut Heady dan Dillon (1964) dalam

Nugroho (2008) adalah: 1). model menganggap elastisitas produksi tetap sehingga

tidak mencakup ketiga tahap yang biasa dikenal dalam proses produksi; 2). Nilai

pendugaan elastisitas produksi yang dihasilkan akan bias apabila faktor produksi

yang digunakan tidak lengkap; 3). Model tidak dapat digunakan untuk menduga

tingkat produksi apabila ada faktor produksi yang taraf penggunaanya adalah nol;

dan 4). Apabila digunakan untuk peramalan produksi pada taraf input di atas rata-

rata akan menghasilkan nilai duga yang berbias ke atas.

29

Secara matematis, persamaan fungsi produksi Cobb-Douglas dapat ditulis

sebagai berikut :

Y = aX1b1 X2

b2 X3b3 ........Xn

bn eu

dimana :

Y = Variabel yang dijelaskan

X = Variabel yang menjelaskan

a,b= Besaran yang akan diduga

u = kesalahan

e = Logaritma natural (e = 2,718)

Fungsi Cobb-Douglas ditransformasikan kedalam bentuk regresi linier,

maka model fungsi produksi dapat dituliskan sebagai berikut :

Ln Y = ln a + b1 ln X1 + b2 ln X2 + ...... + bn ln xn + u

Untuk menganalisis hubungan faktor produksi (input) dengan produksi

(output) digunakan analisis numerik menggunakan metode Ordinary Least Square

(OLS). Metode ini dapat dilakukan jika dipenuhi asumsi-asumsi bahwa :

1. Variasi unsur sisa menyebar normal

2. Harga rata-rata dan unsur sisa sama dengan nol, atau bisa dikatakan nilai yang

diharapkan bersyarat (conditional expected value).

3. Homoskedasitas atau ragam merupakan bilangan tetap.

4. Tidak ada korelasi diri (multikolinearitas)

5. Tidak ada hubungan linier sempurna antara peubah bebas.

6. Tidak terdapat korelasi berangkai pada nilai-nilai sisa setiap pengamatan.

3.1.8 Konsep Skala Ekonomi Usaha (Return to Scale)

Rahim A dan Hastuti RDR (2008) menyatakan bahwa untuk mengetahui

skala usahatani dapat dengan menjumlahkan koefisien regresi atau parameter

elastisitasnya, yaitu :

1 + 2 + .......+ nDengan mengikuti kaidah return to scale (RTS) yaitu :

1. Skala ekonomi usaha dengan kenaikan hasil yang meningkat (increasing

return to scale), bila 1 + 2 + .......+ n > 1, berarti bahwa proporsi

penambahan faktor produksi akan menghasilkan tambahan produksi yang

proporsinya lebih besar.

30

2. Skala ekonomi usaha dengan kenaikan hasil yang tetap (constant return to

scale), bila 0 < 1 + 2 + .......+ n 1, berarti bahwa dalam keadaan

demikian, penambahan faktor produksi akan proporsional dengan

penambahan faktor produksi yang diperoleh.

3. Skala ekonomi usaha dengan kenaikan hasil yang menurun (decreasing

return to scale), bila 1 + 2 + .......+ n < 0, berarti bahwa proporsi

penambahan faktor produksi melebihi proporsi penambahan produksi.

3.2. Kerangka Pemikiran Operasional

Tanaman cabai merah keriting sudah cukup lama dibudidayakan dan

merupakan salah satu komoditas pertanian yang disukai oleh para petani di Desa

Citapen untuk dibudidayakan. Hal ini karena kondisi geografis di Desa Citapen,

Kecamatan Ciawi, Kabupaten Bogor sangat cocok untuk tanaman cabai merah

keriting. Namun kondisi geografis tersebut tidak serta merta meningkatkan

produktivitas cabai merah keriting di Desa Citapen, hal ini dikarena dalam

peningkatan produktivitas harus di dukung pula dengan penggunaan input-input

produksi yang berimbang.

Masalah bagi petani di Desa Citapen dalam usahatani cabai merah

keriting, lebih banyak dikarenakan permasalahan fluktuasi produktivitas yang

masih belum mampu mencapai produktivitas optimal, yakni hanya sebesar 7,33

ton per hektar, dimana produktivitas optimal cabai merah keriting seharusnya

mampu mencapai 13-17 ton per hektar. Secara teoritis, produktivitas dapat

menggambarkan penggunaan input (faktor produksi) dalam suatu usahatani.

Selain terkait dengan penggunaan input produksi, produktivitas yang belum

optimal juga dapat mempengaruhi pendapatan yang diterima oleh petani cabai

merah keriting Desa Citapen. Oleh karena itu, penelitian ini dilakukan dengan

melihat fakta di lapangan untuk menganalisis pendapatan dan faktor-faktor apa

saja yang mempengaruhi produksi usahatani cabai merah keriting di Desa

Citapen. Dengan harapan agar bermanfaat bagi petani atau pihak lain dalam

penyajian informasi tentang usahatani padi organik dan sebagai rekomendasi bagi

pihak pemerintah dalam pembuatan kebijakan.

Pendapatan usahatani petani dapat mengukur tingkat keberhasilan petani.

Pendapatan usahatani ini dapat diperoleh setelah analisis penerimaan dan analisis

31

pengeluaran dilakukan. Pendapatan merupakan hasil akhir yang diperoleh petani

sebagai bentuk imbalan atas pengelolaan sumberdaya yang dimiliki dalam

usahataninya, sehingga petani harus melakukan tindakan yang efisien dalam

menggunakan sumberdaya yang ada. Dan analisis faktor-faktor produksi

usahatani cabai merah keriting berfungsi untuk melihat input-input apa saja yang

dapat mempengaruhi produksi usahatani cabai merah keriting di Desa Citapen.

Hasil analisis pendapatan dan faktor-faktor produksi usahatani akan menjadi

rekomendasi bagi pihak-pihak yang membutuhkan. Berdasarkan uraian diatas,

maka kerangka operasional dalam penelitian ini dapat dilihat pada Gambar 2.

Gambar 2. Kerangka Pemikiran Operasional Penelitian

Produktivitas cabai merah keriting di Desa Citapen masih belummampu mencapai produktivitas optimal, sehingga diduga

mempengaruhi pendapatan usahatani dan sangat erat kaitannyadengan penggunaan faktor-faktor produksi

Analisi faktor-faktorproduksi

- Benih (X1)- Pupuk kandang (X2)- Pupuk NPK (X3)- Pupuk SP-36 (X4)- Pupuk KCL (X5)- Pestisida (X6)- Nutrisi (X7)- Tenaga Kerja (X8)

Analisis Fungsi ProduksiCobb-Douglass

Analisis PendapatanUsahatani

- Penerimaan usahatani- Biaya usahatani- Pendapatan usahatani- R/C

Informasi Pendapatan Usahatani dan EfisiensiPenggunaan Faktor Produksi pada Usahatani Cabai

Merah keriting di Desa Citapen

32

IV. METODE PENELITIAN

4.1 Lokasi dan Waktu

Penelitian mengenai analisis pendapatan usahatani dan faktor-faktor yang

mempengaruhi produksi cabai merah keriting ini dilakukan di Desa Citapen,

Kecamatan Ciawi, Kabupaten Bogor. Penentuan lokasi penelitian dilakukan

secara purposive (sengaja), dengan pertimbangan bahwa Desa Citapen telah

menjadikan cabai merah keriting sebagai komoditas unggulan dimana hal ini di

dukung oleh kondisi geografis yang cocok untuk pertumbuhan cabai merah

keriting. Pelaksanaan penelitian ini berlangsung pada bulan Mei 2011 sampai

dengan Juli 2011 dikarenakan pada bulan-bulan tersebut sedang musim panen

cabai merah keriting.

4.2 Jenis dan Sumber Data

Jenis data yang digunakan pada penelitian ini adalah data primer dan data

sekunder, baik yang bersifat kualitatif maupun kuantitatif. Data primer diperoleh

dari hasil pengamatan (observasi) dan wawancara langsung di lapangan dengan

petani responden. Kegiatan wawancara dilakukan untuk mengetahui kondisi dan

kegiatan yang dilakukan oleh para petani baik dari kegiatan budidaya sampai pada

tahap pemasaran.

Pengambilan data yang diperoleh melalui data primer, menurut waktu

penggunaannya adalah menggunakan jenis data cross section dimana data yang

diambil adalah data yang menunjukkan titik waktu tertentu, yaitu data yang

diambil dari petani cabai merah keriting yang melakukan musim tanam Oktober

2010 sampai dengan Januari 2011. Sedangkan untuk data sekunder diperoleh dari

laporan atau catatan setiap petani, Perpustakaan Pertanian Kota Bogor, BP3K

Kecamatan Ciawi, Biro Pusat Statistik Kabupaten Bogor, artikel dan literatur yang

relevan dengan penelitian yang dilakukan serta catatan atau laporan dari Gapoktan

Rukun Tani yang terletak di Desa Citapen.

4.3 Metode Pengambilan Responden

Petani yang dijadikan responden dalam penelitian ini adalah petani cabai

merah keriting Desa Citapen yang membudidayakan cabai merah keriting pada

msim tanam Oktober 2010 sampai dengan Januari 2011. Pemilihan petani

33

responden pertama diperoleh melalui informasi dari Ketua Gapoktan Rukun Tani

yang ada di Desa Citapen. Sedangkan untuk petani responden selanjutnya

dilakukan dengan metode snowball sampling, yaitu responden dipilih melalui

rekomendasi dan saran dari responden sebelumnya, yang diambil sesuai dengan

kriteria sebaran normal yakni sebanyak 30 petani. Metode ini dilakukan karena

tidak terdapat data mengenai daftar petani cabai merah keriting yang ada di Desa

Citapen.

4.4 Metode Pengumpulan Data

Pengumpulan data merupakan langkah yang sangat penting dalam

penelitian. Pengumpulan data dalam penelitian ini menggunakan metode

pengamatan langsung (obsevasi) dan metode kuesioner. Pengamatan langsung

(observasi) dilakukan dengan mengamati proses terjadinya beberapa kegiatan

budidaya cabai merah keriting yang berlangsungnya di lokasi penelitian. Peneliti

juga melakukan wawancara dengan para petani dan ketua Gapoktan Rukun Tani

untuk mengetahui sistem budidaya cabai merah keriting.

4.5. Metode Analisis Data

Data yang diperoleh baik data primer maupun data sekunder dianalisis

secara kualitatif dan kuantitatif. Data yang diperoleh diolah dan disajikan dalam

bentuk deskriptif tabulasi dan statistik sederhana dengan bantuan Microsof Office

Excel dan bantuan Minitab versi 15.

4.5.1 Analisis Pendapatan Usahatani

Menurut Rahim dan Hastuti (2008) biaya usahatani merupakan

pengorbanan yang dilakukan oleh produsen (petani, nelayan dan peternak) dalam

mengelola usahanya dalam mendapatkan hasil yang maksimal. Penerimaan

usahatani adalah perkalian antara produksi yang diperoleh dengan harga jual.

Pendapatan usahatani merupakan selisih antara penerimaan dan semua biaya,

dimana pendapatan dianalisis berdasarkan bi