analisis jurnal gadar d2

Click here to load reader

Post on 27-Dec-2015

26 views

Category:

Documents

0 download

Embed Size (px)

TRANSCRIPT

Program Studi Ilmu Keperawatan A Tahun 2012

BAB IPENDAHULUAN

Anak merupakan individu yang berada dalam rentang perubahan perkembangan yang dimulai dari bayi hingga remaja. Rentang ini berbeda antara anak satu dengan yang lainnya. Pada anak terdapat rentang perubahan pertumbuhan dan perkembangan yaitu rentang cepat dan lambat. Dalam proses perkembangannya anak memiliki ciri fisik, kognitif, konsep diri, pola koping dan perilaku sosial (Hidayat, 2005). Tidak sedikit diantaranya, anak-anak melakukan berbagai kegiatan atau aktivitas bermain yang dapat membahayakan dirinya seperti bermain dengan benda tajam, berlari-lari, memanjat dan lain-lain sehingga dapat melukai dirinya dan mengharuskan anak untuk mendapatkan perawatan di rumah sakit. Yang menjadi kendala adalah adanya trauma pada anak ketika dilakukan tindakan medis sehingga menghambat proses penyembuhan atau proses tindakan yang akan dilakukan.Beberapa kasus yang sering dijumpai masyarakat seperti peristiwa yang menimbulkan trauma pada anak adalah cemas, marah, nyeri, dan lain-lain. Berdasarkan tahap perkembangan anak pada umumnya mengekspresikan nyeri dengan berekspresi verbal seperti aduh, sakit, memukul-mukul lengan dan kaki, berusaha mendorong stimulus menjauh sebelum nyeri terjadi Oleh karenanya, harus diberikan kesempatan atau cara dalam mengurangi nyeri yang dirasakannya, seperti menggunakan peralatan yang sesuai untuk mengontrol stress mereka. Dengan adanya kontrol diri, baik kecemasan dan rasa sakit akan mengalami penurunan. Proses keperawatan diarahkan pada menstabilkan klien dengan menghilangkan rasa nyeri dan memberikan rasa nyaman. Apabila rasa nyeri tidak dapat diatasi anak cenderung tidak kooperatif atau menolak prosedur tindakan sehingga dapat menghambat proses penyembuhan. Karena itu prinsip atraumatic care dalam merawat anak sakit sangat diutamakan. Salah satu penerapan prinsip keperawatan atraumatic adalah meminimalkan rasa nyeri (Campbell & Don, 2001). Peran perawat dalam menerapkan prinsip atraumatic care pada anak dilakukan melalui pendekatan tindakan atraumatic care. Adapun contoh dari pendekatan atraumatic care, antara lain: 1) memperkokoh hubungan dengan orang tua, 2) menyiapkan anak sebelum prosedur, 3) mengalihkan perasaan takut dan agresif (Wong, 2008).Untuk mencapai perawatan tersebut perawat hendaknya berpegang terhadap prinsip mencegah cedera atau mengurangi rasa nyeri yang dialami anak. Mengurangi nyeri merupakan tindakan yang harus dilakukan dalam keperawatan anak. Proses pengurangan rasa nyeri sering tidak bisa dihilangkan secara cepat akan tetapi dapat dikurangi melalui berbagai teknik misalnya teknik distraksi, relaksasi, back masase (Hidayat, 2005Teknik distraksi adalah pengalihan dari fokus perhatian terhadap nyeri ke stimulus yang lain. Teknik ini bertujuan untuk mengalihkan perhatian anak yang mengalami nyeri ketika akan dilakukan prosedur tindakan sehingga dapat mengurangi rasa nyeri yang dialami. Beberapa contoh teknik distraksi yang dapat diberikan kepada anak seperti memberikan musik sesuai pilihan, menonton video, permainan, atau video kartun. Jadi dengan memberikan musik yang dipilih saat akan dilakukan tindakan keperawatan seperti menjahit luka laserasi diharapkan perhatiannya teralihkan oleh musik yang disukainya, sehingga nyeri yang dialami dapat berkurang atau tindakan keperawatan dapat dilakukan tanpa hambatan. Berdasarkan latar belakang tersebut, maka perlu dilakukan analisis lebih lanjut mengenai jurnal yang berjudul Evaluation of Nonpharmacologic Methods of Pain and Anxiety Management for Laceration Repair in the Pediatric Emergency Department.

BAB IIISI

2.1 RINGKASAN JURNAL1. TUJUAN PENELITIANa. Tujuan Umum :Untuk mengetahui perbedaan skala nyeri wajah pasien yang diberikan intervensi dan yang tidak diberikan intervensi pada anak 10 tahun di ruang Unit Gawat Darurat anakb. Tujuan Khusus : Untuk mengetahui perbedaan karakteristik responden berdasarkan demografi (usia, jenis kelamin, ras dan kelas di sekolah) dan karakteristik yang berhubungan dengan laserasi yang dialami (durasi perawatan luka, pengalaman dijarit luka sebelumnya, lokasi luka, panjang luka, dosis anastesi lokal dan pendampingan orangtua antara kelompok intervensi dan kelompok kontrol Untuk mengetahui perbedaan pengaruh teknik distraksi terhadap intensitas nyeri anak pada kelompok intervensi dan kelompok control dengan menggunakan skor Facial Pain Scale (FPS). Untuk mengetahui perbedaan pengaruh teknik distraksi terhadap distress nyeri orang tua pada kelompok intervensi dan kelompok kontrol menggunakan skor Visual Analog Scale (VAS). Untuk mengetahui perbedaan pengaruh teknik distraksi terhadap kecemasan situasional anak pada kelompok intervensi dan kelompok kontrol menggunakan skor State Trait Anxiety Inventory for Children (STAIC). Untuk mengetahui signifikansi pengaruh teknik distraksi terhadap intensitas nyeri, distress nyeri orang tua dan kecemasan situasional anak pada kelompok intervensi.

2. METODE DAN CARA PENELITIANa. Populasi dan SubyekPenelitian ini dilakukan di UGD dari 253 tempat tidur tersier perawatan anak rumah sakit yang melayani populasi sebesar 2,5 juta orang di 17 daerah pelayanan; mengevaluasi 65.000 pasien anak setiap tahunnya. Semua pasien yang mengalami robekan dievaluasi dan dirawat di atas kebijaksanaan staf medis di UGD menurut protokol standar (Tabel 1). Subjek pada penelitian ini adalah Anak-anak antara 6 dan 18 tahun yang mengunjungi ruang UGD untuk perbaikan laserasi yang telah mengalami luka laserasi yang luas dan mengenai epidermis hingga subkutan 5 cm, yang dapat diperbaiki menggunakan teknik jahitan perbaikan dasar, telah terdaftar secara prospektif antara Oktober 2003 dan Agustus 2004. Anak-anak yang mengalami luka ganda, kompleks laserasi, atau laserasi yang terkait dengan lainnya cedera dikeluarkan. Pasien yang tidak dapat memahami atau berpartisipasi penuh dalam informed consent proses atau studi protokol, apa pun alasannya, adalah tidak memenuhi syarat untuk studi.b. Prosedur dan InstrumentasiThe 7-point Facial Pain Scale (FPS) yang merupakan skala yang dilaporkan-sendiri, digunakan untuk mengkaji skala nyeri secara kuantitatif selama perawatan luka. FPS merupakan skala ordinat yang memiliki rentang dari 0 (tidak nyeri) hingga 6 (sangat nyeri). Skala ini telah divalidasi untuk mengukur intensitas nyeri pada anak yang masuk UGD. Untuk mendapatkan pengukuran secara kuantitatif dari distress nyeri, yang didefinisikan sebagai reaksi emosional terhadap komponen sensoris nyeri, suatu skala analog visual (visual analog scale / VAS) digunakan untuk mengukur distress nyeri. Sebuah garis horizontal terdiri dari garis 100mm dengan dua ujung yang mewakili rentang skala tidak stress hingga sangat stress. Orangtua diminta untuk menanyakan persepsi distress yang dialami anaknya, sebelum dan sesudah perawatan luka menggunakan VAS.State Trait Anxiety Inventory for Children (STAIC) merupakan skala standar untuk level kecemasan pada anak-anak yang dilaporkan-sendiri. skala kecemasan STAIC digunakan dalam penelitian ini untuk mengukur kecemasan situasional pada anak sebelum dan setelah perawatan luka. Skala ini terdiri dari 20 pernyataan yang akan dijawab oleh anak untuk mengetahui apa yang dirasakannya pada waktu tertentu. Pengukuran ini diharapkan terdapat perubahan skor FPS, VAS dan STAIC yang dilaporkan sebelum dan setelah perawatan luka.c. Analisis StatistikPerubahan skor antara kelompok intervensi dan nonintervensi kemudian dibandingkan menggunakan test nonparametric Mann-Whitney. Untuk mengkaji efek intervensi pada perubahan skor FPS, VAS dan STAIC, digunakan analisa regresi linier multivariate. Variabel intervensi, umur dan etnik pasien, kehadiran orangtua, dosis anastesi local diukur menggunakan model regresi. Karena durasi jaritan luka, panjang luka dan dosis anestesi secara signifikan berhubungan antara satu dan lainnya (P < 0,05). Untuk semua tes statistic digunakan level signivikansi P