alb pada cpo

Download Alb Pada Cpo

Post on 04-Aug-2015

395 views

Category:

Documents

11 download

Embed Size (px)

TRANSCRIPT

AB I PENDAHULUAN 1.1. LATAR BELAKANG PT Tidar Kerinci Agung (PT TKA) adalah perusahaan yang bergerak di bidang perkebunan dan pabrik pengolahan kelapa sawit. Usaha perkebunan ini berlokasi di Jorong Batu Kangkung Kenagarian Batu Kangkung, Jorong Mangun Jaya, Jorong Koto Ubi, Jorong Sungai Betung Kenagarian Lubuk Besar Kecamatan Asam Jujuhan Kab. Dhamasraya. Jorong Talao dan jorong Sungai Talang Kenagarian Sungai Kunyit Kec. Sangir Kab. Solok Selatan dan desa Rantau Tipu Kec. Limbur Lubuk Mangkuang Kab. Bungo Prov. Jambi. Pembukaan areal perkebunan dan pembibitan dilakukan pada tanggal 1 Januari 1986 dan penanaman mulai dilakukan pada tahun 1987. Sedangkan pabrik pengolahan kelapa sawit mulai beroperasi pada tahun 1991 dan diresmikan pada 1992. Semua tanaman di areal lokasi perkebunan pada saat ini sudah berproduksi dan diolah langsung pada pabrik kelapa sawit yang langsung berlokasi di areal perkebunan. PT. TKA memiliki lahan 28.029 ha yang berstatus sebagai Hak Guna Usaha (HGU), yang sampai tahun 2003 telah ditanami seluas 16.084 ha, sisanya adalah berupa bangunan dan pemukiman (234 ha), fasilitas dan infrastruktur (1.324 HA), rawa sungai (1.115 ha) buffer zone TNHS (189 Ha), dan arel yang belum ditanam serta lahan konservasinya (9.058 ha). Belum di usahakan masih berupa hutan primer dan hutan sekunder. Untuk memudahkan pemantauan dalam pengelolaan kebun, maka lahan yang telah di usahakan dibagi menjadi 4.507 plot (petak) yang tergabung kedalam 466 klompok (field) dari 5 divisi. Kapasitas HGU yang layak ditanam diprediksi sebanyak 2.429.760 pohon atau setara 120 pohon/Ha yang terdiri dari 16.048 ha yang sudah ditanam dan 4.200 ha areal pengembangan. Target produksi tandan buah segar (TBS) rata rata 17 ton/Ha. Penanaman dilakukan secara bertahap mulai dari 1987 sampai 1997.

1.2. TUJUAN PENULISAN Adapun tujuan penulisan laporan Praktek Kerja Lapangan yang berjudul Proses Pengolahan Kelapa Sawit menjadi CPO (Crude Palm Oil) Di PT. Tidar Kerinci Agung (TKA) adalah untuk mengetahui bagaimana proses yang terjadi sampai di hasilkan CPO dan kernel, mengetahui cara analisa laboratorium untuk mengetahui kualitas minyak dan kernel yang di hasilkan dan mengetahui cara pengelolaan limbah kelapa sawit ( limbah cair, padat dan B3)

BAB II PROSES PENGOLAHAN KELAPA SAWIT MENJADI CRUDE PALM OIL (CPO) DI PT. TIDAR KERINCI AGUNG (TKA) 2.1. TINJAUAN PUSTAKA 2.1.1. Minyak Kelapa Sawit Kelapa sawit (Elaeis Guinensis Jacq) merupakan tanaman tropis golongan palmae yang termasuk tanaman tahunan (Naibaho, 1998). Ditambahkan pula oleh Ketaren (1986), kelapa sawit adalah tanaman berkeping satu yang termasuk family palmae. Tanaman ini dapat tumbuh dengan baik pada daerah tropis dengan curah hujan 2000 mm/tahun dan kisaran suhu 22 32oC. Kelapa sawit adalah salah satu tanaman penghasil minyak nabati, yang dewasa ini tumbuh sebagai tanaman liar (hutan), setengah liar dan sebagai tanaman yang di budidayakan di daerah-daerah tropis Asia Tenggara, Amerika Latin dan Afrika. Menurut penelitian tanaman ini berasal dari Afrika yaitu kawasan Nigeria di Afrika Barat (Setyamidjaja, 1991). Menurut Hutomo dan Latif (1990), kelapa sawit adalah tanaman penghasil minyak yang tinggi di bandingkan dengan tanaman penghasil minyak lainnya seperti kelapa, kedelai dan kacang tanah. Penggunaan minyak kelapa sawit tidak hanya untuk konsumsi (minyak makan) juga untuk industri kimia. Unutuk keperluan kimia dan industri yang diharapkan adalah sifat minyak dengan fraksi cair yang lebih cair dari fraksi padat, karena lebih mudah dalam pengolahan menjadi bahan jadi. Minyak kelapa sawit yang digunakan berasal dari daging buah (mesocarp) dan dari inti sawit atau kernel (endosperm) (Setyamidjaja, 1991). Selanjutnya Ketaren (1986) menambahkan bahwa buah adalah bahan untuk mendapatkan minyak dan inti sawit. Buah yang baik berasal dari tandan buah yang matang sempurna. Pengolahan tandan buah segar (TBS)dengan bahan baku menjadi minyak kasar (crud palm oil) yang bermutu baik adalah tujuan utama dari proses pengolahan. Pengolahannya dilakukan menurut tahaptahap tertentu dan sesuai dengan syarat yang ditentukan sejak dari lapangan sampai proses akhir (Lubis,1992). Narbaho (1998), menyatakan bahwa hasil utama yang dapat di peroleh dari tandan buah sawit adalah minyak sawit yang terdapat pada daging buah (mesocarp) dan minyak inti sawit yang terdapat pada kernel. Minyak sawit dan minyak inti sawit mulai terbentuk sesudah 100 hari setelah penyerbukan dan berhenti setelah 180 hari atau setelah minyak didalam buah sudah jenuh. Sedangkan Setyamidjaya (1991), menambahkan proses pembentukan minyak didalam buah berlangsung selama 24 hari, yaitu

pada waktu buah telah masak. Selanjutnya Satyawibawa dan widyastuti (1992), menyimpulkan bahwa panen harus dilaksanakan pada saat yang tepat sebab akan menentukan kualitas dan kuantitas buah kelapa sawit. Penentuan saat panen mempengaruhi Asam Lemak Bebas (ALB) yang dihasiulkan. Apabila pemanenan buah dilakukan dalam keadaan lewat matang, maka minyak yang dihasilkan akan mengandung ALB dengan persentase yang tinggi (lebih dari 5%). Sebaliknya jika panen dilakukan dalam keadaan buah belum matang maka kandungan ALB nya rendah, begitu juga dengan rendemennya. Adapun criteria panen adalah sudah ada 2 brondolan lepas dari tandannya atau jatuh ke piringan pohon untuk tiap kg tandan. Untuk tandan yang beratnya kurang dari 10 kg di pakai criteria 1 brondolan per kg (Lubis,1992). Menurut Satyawibawa dan widyastuti (1992) bahwa ada beberapa tingkat atau fraksi dari TBS yang dipanen seperti yang terlihat pada Tabel 1. Tandan yang terlalu matang akan menimbulkan kerugian mutu dimana ALB tinggi, juga pada fraksi ini sudah banyak buah yang lepas hingga kemungkinan hilang sangat besar karena tercecer atau memar. Memar ini akan menimbulkan keluarnya minyak dari sel minyak, sehingga minyak akan banyak melekat pada tandan, kotoran, alat atau benda laiinya. Buah mentah atau fraksi 00 dan fraksi 0 akan merugikan, karena minyak yang terbentuk belum maksimal, tandan ini akan kurang sempurna sterilisasinya, sehingga pada penebahan tidak semua buah dapat dikeluarkan dari tandan dan inti sukar keluar dari cangkang (Lubis, 1992) Tandan yang sudah dipanen harus dihadapkan kearah pasar (jalan) panen dan brondolan dikumpul serta dimasukkan kedalam karung TBS yang tidak kotor dan berpasir (Lubis, 1992). Tujuan agar pengumpulan TBS di TPH lebih mudah dilakukan, dan kemungkinan TBS tertinggal di tempat pemanenan kecil. TBS memiliki beberapa criteria masa panen, antara lain : (1) bila ada satu bondolan yang lepas dari tandannya, (2) bila ada lima brondolan yang lepas dari tandannya, (4) bila ada 1-2 brondolan yang lepas dari tandananya per kg TBS. Laju pematangan buah sawit dipengaruhi oleh perubahan cuaca serta komposisi asam lemak plastisida, minyak sawit sangat berbeda jika di panen saat musim hujan kandungan ALB nya meningkat Karena terjadi reaksi hidrolisis pada buah kelapa sawit. ALB juga meningkat dengan bertambahnya dengan bertambahnya umur pohon sawit. Hal ini dikarenakan kondisi lingkungan, misalnya faktor keinggian, dimana TBS jatuhnya dari tempat yang lebih tinggi akan lebih parah kerusakan buahnya. Karena itu pada areal yang miring, cenderung panen mentah. Karena TBS yang bergulir menyebabkan banyak brondolan yang lepas. Selain itu pemanen sering melakukan pemanenan yang belum waktunya dengan beberapa alasan, yakni agar mencapai tonase dan mempermudah pengutipan TBS dan brondolan ke Tempat Pengumpulan Hasil (TPH). Table 1. Beberapa Tingkatan Fraksi TBS Kematangan Jumlah brondolan (% dari buah luar) Fraksi Keterangan Mentah Tidak ada 00 Sangat mentah 1,0 12,5 % 0 Mentah Matang 12,5 25,0 % 1 Kurang matang 25,0 50,0 % 2 Matang I 50,0 75,0 % 3 Matang II Lewat matang 75,0 100 % 4 Lewat matang I Buah dalam ikut membrondol 5 Lewat matang II

Sumber : Pusat Penelitian Marihat (1992) cit Satyawibawa dan Widyastuti (1992) Selanjutnya Lubis (1992), mengatakan agar buah yang memar yang menyebabkan buah lunak seminimal mungkin, baik waktu memotong, membawa ke TPH maupun mengangkut ke truk serta menjaga buah agar tidak terlalu kotor, karena tanah atau debu. Janjangan kosong yang buahnya telah rontok agar di tinggal di TPH, pelunakan akan mempercepat peningkatan ALB di mana sebelum di potong sebesar 0,2 0,7 % dan ketika jatuh ke tanah akan meningkat 0,1 % setiap 24 jam. Dinding sel yang lunak karena pelunakkan akan segera menimbulkan proses enzimatis, autokatalisis atau hidrolisa yang akan meningkatkan ALB. Buah yang busuk menyebabkan rusaknya antiokasidan alami (tokoperol) yang dimiliki. Oksidasi akan menghasilkan peroksida yang selanjutnya terurai menjadi aldehid atau keton yang menimbulkan kerusakan tandan akan memberikan mutu minyak yang baik. Pengolahan TBS di pabrik bertujuan untuk memperoleh minyak sawit yang berkualitas baik proses tersebut berlangsungcukup panjang dan memerlukan control yang cermat, di mulai dari pengangkutan TBS dari TPH kepabrik sampai dihasilkannya minyak sawit dan hasil sampingnya. Pada dasarnya ada 2 macam hasil olahan utam pengolahan TBS di pabrik, yaitu minyak sawit merupakan hasil pengolahan daging buah dan minyak inti sawit yang di hasilkan dari ekstraksi inti sawit. 2.1.2. Proses Pengolahan Kelapa Sawit Proses ini dikaraktersasi dengan perebusan tandan buah segar ( TBS ) dengan uap dalam upaya menonaktifkan enzym alam dan membebaskan buah dari tandan serta memperlunak buah sehingga memudahkan penarikan minyak. Tahapan proses basah penarikan crude palm oil (CPO) adalah sebagai berikut : 1) Penimbangan Setelah tandan buah segar ( TBS ) di bongkar dari truk pengangkut, lansung ditimbang untuk mengetahui jumlah produk. Setelah itu dimasukkan ke loading ramp ( lori ) untuk diangkut ke unit perebusan ( sterilizer ). 2) Perebusan Buah kelapa sawit berupa tandan buah segar ( TBS ) bersama dengan lori dimasukkan kedalam unit perebusan ( sterlizer ). Sterilisasi dilakukan dengan cara mengalirkan uap air ( steam ) s