akuntansi syariah produk haji bank syariah (muamalat)

Click here to load reader

Post on 25-Jun-2015

2.831 views

Category:

Education

6 download

Embed Size (px)

TRANSCRIPT

  • 1. Nyamannya menabung haji di bank syariah (Muamalat) Makalah ini disusun untuk memenuhi tugas pada mata kuliah Akuntansi SyariahDisusun oleh: Euis Risdiana (555210)Herna Ferari (5552102787) Ina Rosalina (5552102895) Nina Agustini (5552101780) UNIVERSITAS SULTAN AGENG TIRTAYASA FAKULTAS EKONOMI JURUSAN AKUNTANSI 20131

2. BAB I PENDAHULUAN 1.1.1 Latar belakang masalah Penerapan nilai-nilai Islam adalah wajib dalam aspek keseluruhan di kehidupan manusia, meskipun dalam kehidupan sosial, politik, dan ekonomi. Tapi, sayangnya fenomena saat ini menunjukkan bahwa nilai-nilai Islam secara keseluruhan belum diimplementasikan dalam berbagai aspek kehidupan. Salah satu contohnya adalah dalam aspek ekonomi yaitu tabungan haji di bankbank konvensional. Haji adalah salah satu cara untuk beribadah kepada Allah SWT, sehingga kita harus memperhatikan dan mengamati secara rinci sistem tabungan yang kita gunakan. Sistem bunga yang diterapkan bank konvensional merupakan sesuatu yang tidak pasti karena menyerupai riba dan larangan riba muncul secara eksplisit dalam Al Quran yang merupakan sumber mutlak bagi seluruh umat Islam. Pertumbuhan perbankan syariah di Indonesia yang semakin pesat tidak hanya menyebabkan volume pasar yang semakin membesar, tetapi juga persaingan yang lebih ketat. Selama tahun 2010 telah berdiri 5 bank umum syariah baru sehingga jumlah bank umum syariah menjadi 11 bank, dan unit usaha syariah sejumlah 23 bank. Potensi perkembangan industri perbankan syariah masih sangat besar. Hingga akhir Desember 2010, aset perbankan syariah telah menembus Rp 100,3 triliun dengan jumlah kantor 1.763 outlet dan lebih dari 20 ribu karyawan yang berkerja pada industri ini. Menarik, melihat pertumbuhan bank syariah yang cukup pesat di indonesia kami selaku penulis ingin lebih memahami mengapa bank syariah begitu mudah masuk ke pangsa bisnis yang didomisili oleh bisnis bank konvensional. Adakah keterkaitan perintah Allah swt dalam Al-quran menguatkan terjadinya hal ini Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu memakan riba dengan berlipat ganda dan bertaqwalah kamu kepada Allah supaya kamu mendapat keuntungan.(Ali imran:130). 1.1.2 Rumusan masalah Mengacu pada potongan ayat al-quran diatas bahawasanya orang yang menjauhi riba dengan berlipat ganda akan mendapatkan keuntungan. Lalu keuntungan seperti apakah yang akan kita dapatkan jika kita menabung haji di bank syariah? Seperti apakah system ekonomi syariah wadiah itu? Bagaimana pengaplikasian system wadiah di bank muamalat? Pelayanan seperti apa yang akan didapat customer pemilik tabungan haji di bank muamalat? Adakah jaminan yg cukup baik bagi customer dalam hal penyimpanan tabungan haji hingga pelaksanaan ibadah haji dan sampai kembali ke tanah air?2 3. 1.1.3 Tujuan dan kegunaan Tujuan dari Pembuatan makalah ini adalah untuk memenuhi salah satu tugas mata kuliah Akuntansi Syariah, Adapun kegunaan dari makalah ini yaitu sebagai pendekatan belajar sambil berlatih untuk mengetahui lebih dalam tentang perbankan syariahn dan memahi tentang produk tabungan haji pada khususnya.1.1.4 Kerangka teori a. Kegunaan teoritis Diharapkan dengan penyampaian tentang ibadah haji yang kami sampaikan dapat berguna dan bermanfaat untuk masyarakat sehingga menambah wawasan ,bahwa haji dapat dilakukan oleh siapa saja yang sudah mempunyai niat karena tabungan haji ini meringankan biaya dari pembayaran haji yang dianggap oleh sebagian besar masyarakat terlalu besar dan tidak mungkin untuk membayarnya,dengan adanya informasi tabungan yang tidak memberatkan untuk cicilan setiap bulannya tidak akan dirasa berat oleh muslimin muslimat untuk berangkat haji.b. Kegunaan praktis Diharapkan dengan adanya miniriset ini semakin meningkatkan keyakinan kami secara khusus dan masyarakat pembaca secara umum mengenai betapa mengungtungkannya menabung tabungan haji di bank syariah dengan system wadiah. Selain dalam rangka ikhtiar untuk dapat menjalaknan perintah Allah swt kita juga dapat memperoleh tambahan manfat dan pahala dengan menjauhi praktik riba dalam cakupan ikhtiar untuk mencapaai baitullah.3 4. BAB II LANDASAN TEORI 2.1.1 Perbankan Syariah Perbankan Syariah atau perbankan Islam ( al-Mashrafiyah al-Islamiyah ) adalah suatu sistem perbankan yang pelaksaannya berdasarkan hukum Islam ( syariah ) . Pembentukan sistem ini berdasarkan adanya larangan dari agama Islam untuk meminjamkan atau memungut pinjaman dengan mengenakan bunga pinjaman ( riba ) , serta larangan untuk berinvestasi pada usaha-usaha berkategori terlarang ( haram ). Sistem perbankan konvensional tidak dapat meminjamkan absenya hal-hal tersebut dalam investasinya, misalnya dalam usaha yang berkaitan dengan produksi makanan atau minuman haram, usaha media atau hiburan yang tidak islami, dan lain-lain. Meskipun prinsipprinsip tersebut mungkin saja telah diterapkan dalam sejarah perekonomian islam, namun baru pada akhirnya abad ke 20 mulai berdiri bank bank islam yang menerapkan bagi lembaga-lembaga konvensional sewa atau semi sewa dalam komunikasi muslim di dunia. 2.1.2 Pengertian Bank Syariah Bank Syariah adalah bank umum yang sebagaimana dimaksud dalam UU No. 7 tahun 1992 tentang perbankan yang saat ini telah diubah dengan UU No. 10 Tahun 1998 yang melakukan kegiatan usaha berdasarkan prinsip syariah, termasuk unit usaha syariah dan kantor cabang bank asing yang melakukan kegiatan usaha berdasarkan prinsip syariah (Riyadi, 2005). Sedangkan yang dimaksud dengan kegiatan usaha berdasarkan prinsip syariah menurut pasal 1 angka 13 Undang-undang No 10 Tahun 1998 adalah aturan perjanjian berdasarkan hukum islam antara bank dan pihak lain untuk penyimpanan dana dan atau pembiayaan kegiatan usaha, atau kegiatan lainya yang dinyatakan sesuai dengan syariah, antara lain : a.Pembiayaan berdasarkan prinsip bagi hasil (mudharabah) b.Pembiayaan berdasarkan prinsip penyertaan modal (musharakah) c.Prinsip jual beli barang dengan memperoleh keuntungan (murabahah) d.Pembiayaan barang modal berdasarkan sewa murni tanpa pilihan (ijarah) e.Pilihan pemindahan kepemilikan atas barang yang disewa.2.1.3 Bentuk Hukum, Permodalan dan Kepemilikan Bank SyariahBerdasarkan UU Perbankan, bentuk hukum Bank Syariah dapat berupa Perseroan Terbatas, Koperasi dan Perusahaan Daerah. Modal disetor untuk medirikan Bank Syariah ditetapkan sekurangkurangnya Rp3.000.000.000.000,00 (tiga trilliun rupiah). Pendirian Bank Syariah hanya dapat dilakukan oleh warga Negara Indonesia dan atau badan hukum Indonesia serta warga Negara Indonesia dan atau badan hukum Indonesia dengan warga Negara asing dan atau badan hukum asing 4 5. secara kemitraan. Sedangkan kepemilikan yang berasal dari warga Negara asing dan atau badan hukum asing setinggi-tingginya sebesar 99persen dari modal disetor Bank. Sementara kepemilikan bank oleh badan hukum Indonesia setinggi-tingginya adalah sebesar modal bersih sendiri dari badan hukum yang bersangkutan. Dana yang digunakan dalam rangka kepemilikan bank dilarang bersumber dari : a. Pinjaman atau fasilitas pembiayaan dalam bentuk apapun dari bank dan/atau pihak lain. b. Sumber yang diharamkan menurut prinsip syariah, termasuk dari dan untuk tujuan pencucian uang (money laundring).2.1.4 Kegiatan Usaha Bank SyariahBerdasarkan Peraturan Bank Indonesia Nomor 62/24/PBI/2004 tanggal 14 Oktober 2004 tentang Bank Umum yang melaksanakan kegiatan usaha berdasarkan prinsip syariah, kegiatan usaha bank syariah dapat dibedakan sebagai berikut :a. Pengimpunan dana (funding) Penghimpunan dana adalah kegiatan penarikan dana atau penghimpunan dari masyarakat dalam bentuk simpanan dan investasi berdasarkan prinsip syariah. Berkaitan dengan kegiatan penghimpunan dana, dalam prinsip syariah dibedakan antara simpanan yang tidak memberikan imbalan dan simpanan yang mendapatkan imbalan. Dana simpanan atau tabungan yang tidak memberikan imbalan bagi nasabah dimaksudkan semata-mata hanya se bagai cara untuk menyimpan atau menitipkan uang. Sementara simpanan untuk tujuan investasi akan mendapatkan imbalan dari bank. b. Penyaluran dana atau pembiayaan (financing) Kegiatan penyaluran dana atau pembiayaan bank syariah harus tetap berpedoman pada prinsip kehati-hatian yang diatur oleh Bank Indonesia. Oleh karena itu, Bank diwajibkan untuk meneliti secara seksama calon nasabah penerima dana berdasarkan azas pembiayaan yang sehat. Ketentuan-ketentuan lain yang berkaitan dengan penyaluran dana perbankan tetap berlaku sepanjang tidak bertentangan dengan prinsip syariah. Bentuk penyaluran dana atau pembiayaan yang dilakukan Bank Syariah dalam melaksanakan operasinya secara garis besar dapat dibedakan kedalam 4 kelompok sebagai berikut : a. Prinsip jual beli (bai) b. Prinsip bagi hasil c. Prinsip sewa menyewa (ijarah) d.Prinsip pinjam meminjam berdasarkan akad qardh.2.1.5 Pembiayaan jasa-jasa pelayanan perbankan (bank services) Jasa-jasa yang diberikan perbankan syariah kepada nasabah berdasarkan akad dengan mendapatkan imbalan atau fee antara lain : 5 6. a. Al Wakalah terjadi apabila nasabah memberikan kuasa kepada bank untuk mewakili dirinya melakukan pekerjaan atau jasa tertentu. b.Al Hawalah merupakan pengalihan hutang dari orang yang berhutang (debitur) kepada orang lain yang wajib menanggungnya. Transaksi ini pada dasarnya merupakan pemindahan beban utang dari debitur menjadi tanggungan pihak lain yang berkewajiban menanggung pembayaran hutang. c.Al Kafah adalah garansi atau jaminan yang diberikan oleh penanggung kepada pihak ketiga untuk menanggung kewajiban pihak kedua (tertanggung) apabila tertangung tidak dapat memenuhi kewajibanya. d.Al Rahn merupakan arta atau asset yang harus diserahkan oleh peminjam (debitur) sebagai jaminan atas diterimanya dari bank. Tujuan pemberian fasilitas Al Rahn oleh bank adalah untuk membantu nasabah dalam pembiayaan usahanya2.1.6 Perbedaan Bank Syariah dan Bank KonvensionalBank Syariah : Islam memandang harta yang dimiliki oleh manusia adalah titipan/amanah Allah SWT sehingga cara memperoleh, mengelola, dan memanfaatkannya harus s