akunta ns i industri - psbtik.smkn1cms.netpsbtik.smkn1cms.net/bse/kejuruan/smea_smkk/akuntansi...

435
M AK MEN KUN NEN NTA UNT NGA ANS TUK AH SI IN K S KE Sekola Ditje NDU SEK EJU Direktora ah Menenen Manajem Departemen UST KOLA RU at Pembin gah Kejur men Dikdas Pendidikan N TRI AH AN naan r uan asmen Nasional

Upload: dangnguyet

Post on 05-Feb-2018

582 views

Category:

Documents


38 download

TRANSCRIPT

M

AK

MEN

KUN

NEN

NTAUNT

NGA

ANSTUK

AH

SI INK SKE

SekolaDitje

NDUSEKEJU

Direktoraah Menengen Manajem

Departemen

USTKOLA

RU

at Pembingah Kejur

men Dikdas

Pendidikan N

TRI AH AN

naan ruan

asmen

Nasional

Ali Irfan

AKUNTANSI INDUSTRI SMK

Direktorat Pembinaan Sekolah Menengah Kejuruan Departemen Pendidikan Nasional

Hak Cipta pada Departemen Pendidikan Nasional Dilindungi Undang-undang

AKUNTANSI INDUSTRI Untuk SMK Penulis : Ali Irfan Ukuran Buku : …… x …… cm Diterbitkan oleh Direktorat Pembinaan Sekolah Menengah Kejuruan Departemen Pendidikan Nasional Tahun 2008 Diperbanyak oleh….

…… AIF Ali Irfan …. Akuntansi Industri oleh Ali Irfan.---

Jakarta:Pusat Direktorat Pembinaan Sekolah Menengah Kejuruan, Direktorat Manajemen Pendidikan Dasar dan Menengah, Departemen Pendidikan Nasional, 2008. vi. 433 hlm. ISBN ……-……-……-…… 1. Akuntansi Industri

KATA SAMBUTAN

Puji syukur kami panjatkan kehadirat Allah SWT, berkat rahmat dan karunia Nya, Pemerintah, dalam hal ini, Direktorat Pembinaan Sekolah Menengah Kejuruan Direktorat Jenderal Manajemen Pendidikan Dasar dan Menengah Departemen Pendidikan Nasional, pada tahun 2008, telah melaksanakan penulisan pembelian hak cipta buku teks pelajaran ini dari penulis untuk disebarluaskan kepada masyarakat melalui website bagi siswa SMK. Buku teks pelajaran ini telah melalui proses penilaian oleh Badan Standar Nasional Pendidikan sebagai buku teks pelajaran untuk SMK yang memenuhi syarat kelayakan untuk digunakan dalam proses pembelajaran melalui Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 12 tahun 2008. Kami menyampaikan penghargaan yang setinggi-tingginya kepada seluruh penulis yang telah berkenan mengalihkan hak cipta karyanya kepada Departemen Pendidikan Nasional untuk digunakan secara luas oleh para pendidik dan peserta didik SMK di seluruh Indonesia. Buku teks pelajaran yang telah dialihkan hak ciptanya kepada Departemen Pendidikan Nasional tersebut, dapat diunduh (download), digandakan, dicetak, dialihmediakan, atau difotokopi oleh masyarakat. Namun untuk penggandaan yang bersifat komersial harga penjualannya harus memenuhi ketentuan yang ditetapkan oleh Pemerintah. Dengan ditayangkannya soft copy ini akan lebih memudahkan bagi masyarakat untuk mengaksesnya sehingga peserta didik dan pendidik di seluruh Indonesia maupun sekolah Indonesia yang berada di luar negeri dapat memanfaatkan sumber belajar ini. Kami berharap, semua pihak dapat mendukung kebijakan ini. Selanjutnya, kepada para peserta didik kami ucapkan selamat belajar dan semoga dapat memanfaatkan buku ini sebaik-baiknya. Kami menyadari bahwa buku ini masih perlu ditingkatkan mutunya. Oleh karena itu, saran dan kritik sangat kami harapkan. Jakarta, Direktur Pembinaan SMK

ii

Akuntansi adalah sebuah disiplin yang terus berkembang. Baik dalam tataran akademis maupun praktis. Perkembangan dalam tataran praktis terutama dipicu oleh perkembangan dunia bisnis yang—dalam era kesejagadan yang didukung oleh perkembangan teknologi informasi—terus berubah dengan kecepatan yang tidak terbayangkan sebelumnya. Kondisi seperti ini tentu saja berpengaruh pula terhadap praktik-praktik akuntansi.

Pada situasi seperti ini lulusan sekolah kejuruan—termasuk dari program studi akuntansi—dituntut untuk memiliki kompetensi yang memadai agar dapat bersaing dalam pasar kerja yang relevan. Oleh karena itulah diharapkan buku ini dapat memberikan kontribusi yang signifikan terhadap kompetensi yang dimaksud. Manfaat buku ini diharapkan tidak hanya akan diperoleh para siswa, namun juga bagi para guru dan staf pengajarnya, maupun bagi masyarakat yang berminat pada bidang akuntansi pada umumnya. Pengalaman Penulis sebagai praktisi pada DU/DI serta akademisi di bidang akuntansi dan pajak diharapkan pula akan dapat sedikit mewarnai buku ini.

Kepada semua pihak yang telah membantu hingga terselesai-kannya buku ini penulis menyampaikan rasa terimakasih kepada: 1. Dr. Joko Soetrisno, MM, Direktur Pembinaan SMK DEPDIKNAS. 2. Dr. Rosidi, MM.,Ak, Rektor Universitas Gajayana Malang. 3. Drs. Agus Sambodo, SH, BKP, Konsultan Pajak dan Dosen

Universitas Gajayana Malang. 4. Drs. Ahmad Dahlan, MSA., Ak., BKP., Konsultan Pajak dan Dosen

Universitas Gajayana Malang. 5. Ima, serta semua staf dan karyawan Cipta Jasatama Management

& Tax Consultants Malang. Akhirnya, masukan berupa kritik dan saran amat diharapkan

agar dapat terus menyempurnakan karya yang penuh kelemahan ini. Semoga Allah SWT meridhai amal kita semua.

Malang, ‘Desember 2007

Penulis

iii

Pengantar Penulis i Pengantar Direktur Pembinaan SMK ii Lembar Pengesahan iii Daftar Isi iv Sinopsis 1 Deskripsi Isi Penulisan 2 Peta Kompetensi 3

BAGIAN 1 Akuntansi untuk Perusahaan Manufaktur 5 Bab 1 Akuntansi untuk Perusahaan Manufaktur 8 Karakteristik Perusahaan Manufaktur 8 Masalah Khusus Perusahaan Manufaktur 10 Akuntansi Perusahaan Manufaktur 14 Membuat Laporan Beban pokok produksi (Cost of Goods

Manufactured Statement)

18 Istilah Baru (Glosari) 32 Laporan Beban pokok produksi (Cost of Goods Manu-

factured Statement): Laporan Beban pokok produksi Selama Satu Periode

34 Menghitung Beban pokok produksi dan Beban pokok

penjualan 34

Prosedur Akuntansi Biaya (Cost Accounting Procedure) 39 Istilah Baru (Glosari) 40 Tugas 41 Bab 2 Beban pokok produksi Pesanan (Job Order Costing) 50 Penentuan Biaya Berdasarkan Pesanan dan Penentuan

Biaya Berdasarkan Proses

52 Ilustrasi Sistem Akuntansi Biaya Perpetual 54 Penerapan Job Order Costing di Departemen 64 Istilah Baru (Glosari) 65 Contoh Soal dan Penyelesaiannya 66 Bahan untuk Tugas 73

iv

Bab 3

Beban pokok produksi Proses (Process Costing)

87

Penekanan Akuntansi Berdasarkan Proses 89 Contoh Akuntansi Biaya Berdasarkan Proses 89 Istilah Baru (Glosari) 96 Bahan Untuk Tugas 96 Laporan Beban pokok produksi Berdasarkan Proses 104 Tujuan Laporan Beban pokok produksi 105 Tahapan dalam Laporan Beban pokok produksi 105 Istilah Baru (Glosari) 110 Contoh Soal dan Penyelesaiannya 110 Bahan Untuk Tugas 113 BAGIAN 2 Akuntansi untuk Industri Tertentu dan Masalah-

Masalah Khusus 122

Bab 1 Akuntansi Untuk Sewa Guna Usaha (Leasing) 124 Terminologi (Glosari) 126 Pengertian Leasing 127 Keuntungan Leasing 128 Klasifikasi Leasing 129 Perbedaan Antara Perjanjian Leasing dengan Perjanjian

Lainnya 132

Akuntansi Leasing 134 Formula yang Digunakan untuk Menghitung Pembayaran

Leasing 135

Prosedur Mekanisme Leasing 136 Perlakuan Akuntansi oleh Lessee Menurut PSAK No. 30 137 Penyusutan Menurut Perpajakan Indonesia 138 Aspek Perpajakan yang Berkaitan dengan Leasing 139 Pokok Perjanjian Leasing 144 Soal Latihan 165 Bab 2 Akuntansi Untuk Perusahaan Konstruksi 168 Terminologi (Glosari) 169 Metode Akuntansi 171 Metode Persentase Penyelesaian 173 Penyajian Laporan Keuangan pada Metode Persentase

Penyelesaian 180

Metode Kontrak Selesai 183 Kerugian dalam Kontrak Jangka Panjang 185 Kerugian dalam Tahun Berjalan 186 Kerugian pada Kontrak yang Merugi 187 Aspek Perpajakan 190 Bab 3 Akuntansi untuk Koperasi 194 Gambaran Umum Usaha 195 Karakteristik Badan Usaha Koperasi 195 Usaha dan Jenis-Jenis Koperasi 196 Terminologi (Glosari) 197 Perlakuan Akuntansi 198 Tahap Pencatatan Akuntansi Koperasi 212

v

Bab 4 Akuntansi untuk Perbankan 227 Gambaran Umum Usaha 228 Karakteristik Usaha Perbankan 228 Jenis Jasa Perbankan 229 Terminologi (Glosari) Khusus dalam Perbankan 233 Perlakuan Akuntansi dalam Perbankan 235 Akuntansi Aktiva 235 Akuntansi Kewajiban 250 Akuntansi Ekuitas 259 Akuntansi Pendapatan & Beban 261 Pelaporan Keuangan pada Bank 262 Kerangka Laporan Keuangan Bank 264 Bab 5 Akuntansi Perbankan Syariah 276 Akuntansi Perbankan Syariah 277 Keunikan Perbankan Syariah 280 Jenis Produk Bank Syariah 282 Terminologi (Glosari) dalam Perbankan Syariah 293 Perlakuan Akuntansi dalam Perbankan Syariah 300 Akuntansi Aktiva 300 Akuntansi Kewajiban 338 Bab 6 Akuntansi untuk Konsinyasi 342 Pengertian Penjualan Konsinyasi 343 Akuntansi Penjualan Konsinyasi 344 Bagaimana Kalau Barang yang Dititipkan (Barang

Konsinyasi) masih tersisa? 350

Soal dan Penyelesaian 355 Bab 7 Akuntansi untuk Penjualan Angsuran 357 Pengertian Penjualan Angsuran 358 Perhitungan Bunga (Interest) pada Penjualan Angsuran

dan Pencatatannya 359

Perlakuan Akuntansi Lainnya 363 Pembatalan Penjualan Angsuran 368 Laporan Keuangan 370 Penjualan Barang Tidak Bergerak 372 Penjualan Barang Bergerak 375 Laporan Keuangan Jika Perusahaan Melakukan

Penjualan Reguler dan Penjualan Angsuran 378

Soal dan Penyelesaian 380 Bab 8 Akuntansi untuk Kantor Pusat dan Kantor Cabang 382 Akuntansi Kantor Agen 384 Akuntansi Kantor Cabang 388 Soal dan Penyelesaian 395 Bab 9 Masalah-Masalah Khusus Antara Kantor Pusat dan

Kantor Cabang 399

Pengiriman Barang Dagangan ke Kantor Cabang dengan Nota di Atas Harga Pokok

400

Pengiriman Uang atau Barang Dagangan Antar Kantor Cabang

403

Soal dan Penyelesaian 405

vi

Bab 10 Hubungan Kantor Pusat dan Kantor Cabang di Luar Negeri

408

Pengertian 409 Penjabaran ke Dalam Mata Uang yang Dipakai Kantor

Pusat 410

Tahap-Tahap dalam Penyusunan Laporan Keuangan Gabungan

410

Aspek Perpajakan 416 Soal dan Penyelesaian 418 Penutup 421 Daftar Pustaka 422 Curriculum Vitae

1

Praktik akuntansi berkembang seiring dengan perkembangan

dunia usaha yang amat cepat. Hal ini tidak dapat dihindari, karena salah satu fungsi akuntansi adalah sebagai penyampai informasi finansial bagi para pengambil keputusan yang berkepentingan. Standar Akuntansi Keuangan (SAK) sendiri, sebagai dasar dan acuan dalam penerapan akuntansi, juga terus berubah dan direvisi seiring dinamika dunia bisnis.

Buku ini akan mencoba memberikan pemahaman tentang

akuntansi pada perusahaan manufaktur, perusahaan/industri tertentu yang makin banyak pelakunya dalam praktik, serta akuntansi untuk masalah-masalah tertentu. Penyusunan buku ini juga didorong oleh pengamatan Penulis berdasarkan pengalaman sekitar tujuh tahun sebagai asesor uji kompetensi bidang akuntansi SMK di Jawa Timur, yang memberikan kesan bahwa siswa belum diberikan materi terkini sesuai yang diterapkan oleh Dunia Usaha/Dunia Industri (DU/DI) berdasarkan SAK. Boleh jadi hal ini disebabkan oleh minimnya literatur yang dapat dijadikan rujukan oleh para guru di SMK.

Pembahasan buku ini meliputi “semua” jenis akuntansi yang

dihadapi oleh DU/DI dengan memperhatikan praktiknya di Indonesia yang sesuai dengan SAK; yang terdiri dari:

Akuntansi Untuk Perusahaan Manufaktur. Akuntansi Untuk Sewa Guna Usaha (Leasing). Akuntansi Untuk Perusahaan Konstruksi. Akuntansi Untuk Perbankan. Akuntansi Untuk Koperasi. Akuntansi Untuk Konsinyasi. Akuntansi Untuk Penjualan Angsuran Akuntansi Untuk Kantor Pusat dan Kantor Cabang.

Buku ini juga dilengkapi juga dengan contoh-contoh kasus agar

dapat lebih memahami materi yang dibahas serta dapat dipakai oleh guru sebagai latihan untuk siswa.

2

Buku ini ditulis dengan maksud mendekatkan siswa kepada dunia

praktik akuntansi pada dunia kerja yang nantinya akan mereka masuki. Dari pengalaman penulis berinteraksi dengan SMK selama hampir sepuluh tahun—baik sebagai asesor uji kompetensi, pendamping praktik kerja industri, maupun sebagai instruktur bidang akuntansi dan perpajakan bagi guru-guru SMK—kesulitan yang paling banyak dikeluhkan oleh para guru dan siswa adalah kurangnya literatur dan bahan bacaan yang dapat dipakai sebagai acuan untuk memahami akuntansi dan pajak sesuai perkembangannya dalam dunia praktik pada DU/DI. Amat jarang—kalau tidak dapat dikatakan belum ada—buku pegangan pengajaran di SMK yang membahas secara komprehensif materi akuntansi yang dikaitkan langsung dengan aspek perpajakannya, seperti yang nantinya akan mereka temui ketika mereka bekerja, sehingga dengan buku dan bahan ajar yang ada para guru memberikan materi yang sebagian sudah tidak sesuai lagi dengan praktik pada DU/DI. Ironisnya, siswa SMK sebenarnya disiapkan dan ‘diproses’ agar nantinya mampu langsung bekerja pada bidang yang relevan dengan yang mereka pelajari di SMK. Oleh karena itu buku ini diharapkan dapat berkontribusi untuk sedikit menutup celah yang menganga tersebut.

Sistematika penyajian buku ini adalah sebagai berikut. Bagian 1 terdiri

dari tiga bab yang membahas akuntansi untuk perusahaan manufaktur. Bagian 2 berisi sepuluh bab yang membahas akuntansi pada industri tertentu, misalnya akuntansi untuk perusahaan konstruksi, akuntansi untuk koperasi, maupun akuntansi untuk perbankan. Selain itu dibahas pula akuntansi untuk masalah-masalah khusus tertentu seperti akuntansi untuk leasing, penjualan angsuran, konsinyasi. Diharapkan materi yang dibahas dapat memberikan pemahaman yang cukup lengkap dan komprehensif, namun diusahakan pula agar materi yang diberikan tidak terlalu advance, sehingga masuk ke wilayah yang seharusnya diberikan untuk S1. Kendati sudah diusahakan sedemikian rupa, namun bisa jadi, secara tidak disadari pembahasan materi telah memasuki wilayah tersebut. Yang ingin dituju sebenarnya adalah, sebagaimana telah dinyatakan di depan, agar siswa memperoleh gambaran tentang praktik-praktik akuntansi pada berbagai bidang usaha yang saat ini makin banyak dan beragam serta berkembang pesat aplikasinya; dan nantinya “rimba” seperti itulah yang akan menjadi lahan kerja selepas siswa dari SMK.

3

1. Peta Kompetensi

K1. Mengelola Proses Kredit K2. Mengelola Kartu Piutang K3. Mengelola Kartu Persediaan Supplies K4. Mengelola Kartu Persediaan Barang Jadi K5. Mengelola Administrasi Gaji & Upah K6. Mengelola Kartu Biaya Produksi K7. Mengelola Kartu Persediaan Bahan Baku K8. Mengelola Administrasi Kas Bank K9. Mengelola Administrasi Dana Kas Kecil K10. Mengelola Kartu Aktiva Tetap K11. Mengelola Buku Jurnal K12. Mengelola Buku Besar K13. Mengelola Kartu Persediaan Barang Dagangan

2. Jenis Pekerjaan yang ada di DU/DI P1. Pemegang Buku di Perusahaan Manufaktur P2. Pemegang Buku di Perusahaan Konstruksi P3. Pemegang Buku di Perusahaan Leasing P4. Pemegang Buku di Perusahaan Dagang secara Angsuran P5. Pemegang Buku di Perusahaan Dagang secara Konsinyasi P6. Pemegang Buku di Perusahaan yang Memiliki Kantor Cabang P7. Pemegang Buku di Perusahaan Perbankan P8. Pemegang Buku di Perusahaan Koperasi

Analisis Relevansi Kompetensi Terhadap Jenis Pekerjaan Skor Tingkat Relevansi Kompetensi Σ P1 P2 P3 P4 P5 P6 P7 P8

K1 4 4 4 4 4 4 4 4 32 K2 4 4 4 4 4 4 4 4 32 K3 4 4 4 4 4 4 4 4 32 K4 4 4 4 4 4 4 4 4 32 K5 4 4 4 4 4 4 4 4 32 K6 4 4 4 4 4 4 4 4 32 K7 4 4 4 4 4 4 4 4 32 K8 4 4 4 4 4 4 4 4 32 K9 4 4 4 4 4 4 4 4 32

K10 4 4 4 4 4 4 4 4 32 K11 4 4 4 4 4 4 4 4 32 K12 4 4 4 4 4 4 4 4 32 K13 4 4 4 4 4 4 4 4 32

52 52 52 52 52 52 52 52 Keterangan Skor:

- Skor 4 = jika kompetensi tersebut sangat relevan - Skor 3 = Jika kompetensi tersebut relevan - Skor 2 = Jika kompetensi tersebut kurang relevan - Skor 1 = Jika kompetensi tersebut tidak relevan

Kompetensi Pekerjaan

4

Manufaktur Konstruksi Leasing Dagang Perbankan KoperasiK3.

Mengelola Kartu

Persediaan Supplies

K3. Mengelola

Kartu Persediaan

Supplies K3.

Mengelola Kartu

Persediaan Supplies

K3. Mengelola

Kartu Persediaan

Supplies K3.

Mengelola Kartu

Persediaan Supplies

K3. Mengelola

Kartu Persediaan

Supplies K5.

Mengelola Administrasi Gaji & Upah

K5. Mengelola

Administrasi Gaji & Upah

K5. Mengelola

Administrasi Gaji & Upah

K4. Mengelola

Kartu Persd. Barang Jadi

K5. Mengelola

Administrasi Gaji & Upah

K5. Mengelola

Administrasi Gaji & Upah

K6.

Mengelola Kartu Biaya

Produksi

K8. Mengelola

Administrasi Kas Bank

K8. Mengelola

Administrasi Kas Bank

K5. Mengelola

Administrasi Gaji & Upah

K8. Mengelola

Administrasi Kas Bank

K8. Mengelola

Administrasi Kas Bank

K7.

Mengelola Kartu

Persediaan Bahan Baku

K9. Mengelola

Administrasi Dana Kas

Kecil

K9. Mengelola

Administrasi Dana Kas

Kecil

K9. Mengelola

Administrasi Dana Kas

Kecil

K9. Mengelola

Administrasi Dana Kas

Kecil

K9. Mengelola

Administrasi Dana Kas

Kecil

K8. Mengelola

Administrasi Kas Bank

K10. Mengelola

Kartu Aktiva Tetap

K10. Mengelola

Kartu Aktiva Tetap

K10. Mengelola

Kartu Aktiva Tetap

K10. Mengelola

Kartu Aktiva Tetap

K10. Mengelola

Kartu Aktiva Tetap

K9.

Mengelola Administrasi Dana Kas

Kecil

K13. Mengelola

Kartu Persd. Barang

Dagangan

K10. Mengelola

Kartu Aktiva Tetap

K1. Mengelola Proses Kredit

K2. Mengelola Kartu Piutang

K11. Mengelola Buku Jurnal

K12. Mengelola Buku Besar

KLUSTERISASI KOMPETENSI PROGRAM KEAHLIAN AKUNTANSI

Seri

Aku

nta

nsi

In

du

stri

un

tuk

Se

kola

h M

enen

gah

Kej

uru

an

Akuntansi untuk Perusahaan Manufaktur

Direktorat Pembinaan Sekolah Menengah Kejuruan

Ditjen Manajemen Dikdasmen

Departemen Pendidikan Nasional

Bagian 1

Drs. Ali Irfan, MSA., Ak., BKP. Drs. Dwi Winarno, MM.

Editor: Drs. I Cenik Ardana, MM., Ak.

AKPM

PER

Men

KUNPERMAN

ARUSAH

Karak

Masala

Aku

Membu

nghitung B

7

TAN

RUSANUFA

AKUNTHAAN

kteristik Pe

ah Khusus P

untansi Peru

uat Laporan

Beban pokope

NSI uAHAAKT

TANSI MANU

erusahaan

Perusahaa

usahaan M

n Beban po

ok produkenjualan

untuAAN TUR

FAKTU

Manufaktu

an Manufak

Manufaktur

okok prod

ksi dan Beb

uk

UR

ur

ktur

r

uksi

ban pokok

8

AKUNTANSI UNTUK PERUSAHAAN MANUFAKTUR

Tujuan Pengajaran Buku ini akan membahas karakteristik, akuntansi khusus dan pelaporan operasi perusahaan manufaktur . Tujuan pengajaran dari buku ini adalah agar para siswa dapat:

1. Memahami karakteristik perusahaan manufaktur 2. Memahami masalah khusus akuntansi perusahaan manufaktur 3. Mencatat transaksi-transaksi produksi 4. Membuat laporan beban pokok produksi.

Karakteristik Perusahaan Manufaktur Perusahaan manufaktur (manufacturing firm) adalah perusahaan yang kegiatannya mengolah bahan baku menjadi barang jadi kemudian menjual barang jadi tersebut. Kegiatan khusus dalam perusahaan manufaktur adalah pengolahan bahan baku menjadi barang jadi. Kegiatan ini sering disebut proses produksi. Kegiatan produksi, apabila digambarkan akan nampak seperti di bawah ini:

akunprodtelahpembakun

W

manuperuspada

Bidang ntansi biayauksi barang

h disebutkabahasan m

ntansi dan la

Weygandt et

Gambar

ufaktur yansahaan dag

a persediaa

akuntansi a (cost accog jadi. Bab an, yakni pmasih dileaporan khus

al (1996: 8

di atas mng membedgang atau

an-persedia

-

+

an

9

yang menounting). Tuini akan me

penetapan takkan pasus untuk p

848)

menunjukkaakannya deperusahaanannya, biay

nangani maujuannya, membahas sebeban pok

ada pengeperusahaan

n karakteriengan jenisn jasa. Perya pabrikas

=

=

asalah promenetapkanesuai ruangkok produksnalan terhmanufaktu

stik khususs perusahaarbedaan tersi (manufac

duksi disen beban pokg lingkup yasi. Titik be

hadap prosr.

s perusahaan lain seprsebut terlecturing cos

but kok ang erat ses

aan erti

etak ts),

10

biaya produksi dan beban pokok produksinya. Kita juga bisa memahami perbedaan dalam komponen perhitungan beban pokok penjualan pada sebuah perusahaan manufaktur dengan perusahaan dagang melalui penggambaran di bawah ini.

Weygandt et al (1996: 847)

Komponen penambah dalam beban pokok penjualan untuk

perusahaan dagang diperoleh dari pembelian barang dagangan yang ditambahkan ke persediaan barang dagangan yang telah dimiliki. Pada perusahaan manufaktur, komponen penambah persediaan awal barang jadi diperoleh dari harga pokok pabrikasi/beban pokok produksi yang dibebankan selama proses mengubah bahan baku menjadi barang jadi berlangsung. Setelah barang yang tersedia untuk dijual (baik pada perusahan dagang maupun pada perusahaan manufaktur) dikurangi dengan persediaan akhir, maka didapatlah beban pokok penjualan. Masalah Khusus Perusahaan Manufaktur Dibandingkan dengan perusahaan dagang, masalah khusus dalam akuntansi perusahaan manufaktur adalah persediaan, biaya pabrikasi (manufacturing costs), biaya produksi dan beban pokok produksi.

Persediaan (Inventory)

Berdasarkan perusahaan dagang, dalam perusahaan manufaktur biasanya terdiri dari tiga macam, yakni:

Perusahaan

Perusahaan Dagang

11

1. Persediaan bahan baku (raw materials inventory) 2. Persediaan barang dalam proses (work in process inventory) 3. Persediaan barang jadi (finished goods inventory)

Persediaan bahan baku melaporkan harga pokok bahan baku yang ada pada tanggal neraca. Bahan baku adalah barang-barang yang digunakan dalam proses produksi. Persediaan dalam proses terdiri dari biaya bahan baku dan biaya-biaya manufaktur lain yang telah terjadi untuk memproduksi barang yang belum selesai. Untuk menyelesaikannya masih diperlukan tambahan biaya. Persediaan barang jadi terdiri dari total biaya pabrik untuk barang-barang yang telah selesai diproduksi, tetapi belum dijual. Sebuah perusahaan manufaktur dengan demikian harus menyediakan tiga perkiraan untuk persediaan.

Biaya Manufaktur (Manufacturing Cost)

Biaya-biaya yang terjadi dalam perusahaan manufaktur selama suatu periode disebut biaya manufaktur (manufacturing cost), atau lebih dikenal dengan biaya pabrik. Biaya ini digunakan untuk menyelesaikan barang yang masih sebagian selesai di awal periode, barang-barang yang dimasukkan dalam proses produksi periode itu dan barang-barang yang baru dapat diselesaikan sebagian di akhir periode. Pada dasarnya biaya pabrik dapat dikelompokkan menjadi:

a. Biaya bahan baku (raw materials cost) yaitu biaya untuk bahan-bahan yang dapat dengan mudah dan langsung diidentifikasikan dengan barang jadi. Contoh bahan baku adalah kayu bagi perusahaan mebel atau tembakau bagi perusahaan rokok.

b. Biaya tenaga kerja lansung (direct labor cost) adalah biaya untuk tenga kerja yang menangani secara langsung proses produksi atau yang dapat diidentifikasikan langsung dengan barang jadi. Contoh buruh langsung adalah tukang kayu dalam perusahaan mebel atau pelinting rokok dalam perusahaan rokok (Sigaret Kretek Tangan = SKT).

c. Biaya overhead pabrik (overhead cost) adalah biaya-biaya pabrik selain bahan baku dan tenga kerja langsung. Biaya ini tidak dapat diidentifikasikan secara langsung dengan barang yang dihasilkan. Contoh biaya overhead pabrik adalah: (1) bahan pembantu (kadang-kadang disebut: bahan tidak langsung (indirect materials) misalnya perlengkapan pabrik (mur, baut dan pelitur dalam perusahaan mebel); (2) tenga kerja tidak langsung (indirect labor) yaitu tenaga kerja yang pekerjaannya tidak dapat diidentifikasikan secara langsung dengan barang yang dihasilkan, misalnya gaji mandor; (3) pemeliharaan dan

12

perbaikan (maintenance and repair); (4) listrik, air telepon dan lain-lain.

Ketiga jenis biaya manufaktur ini dapat dihubungkan dan dilihat keterkaitannya dengan memperhatikan bagan yang diilustrasikan di bawah ini.

Biaya Produksi (Production Cost) dan Biaya Periode (Period Cost)

Biaya produksi (production cost) adalah biaya yang dibebankan dalam proses produksi selama suatu periode. Biaya ini terdiri dari persediaan barang dalam proses awal ditambah biaya pabrikasi (manufacturing cost), kemudian dikurangi dengan persediaan barang dalam proses akhir. Biaya pabrikasi adalah semua biaya yang

13

berhubungan dengan proses produksi. Tiga komponen biaya yang terdapat dalam biaya produksi adalah biaya bahan baku, biaya tenaga kerja langsung, dan biaya overhead. Biaya overhead adalah semua biaya pabrikasi (semua biaya yang terkait dengan proses produksi) yang bersifat tidak langsung, termasuk biaya-biaya yang dibebankan pada persediaan dalam proses pada akhir periode. Biaya overhead ini seringkali tidak dapat diatribusikan/dilekatkan pada masing-masing unit produk yang dikerjakan secara spesifik. Karena biaya ini biasanya dinikmati bersama selama proses produksi berlangsung. Dalam situasi tertentu dapat pula disebut sebagai biaya bersama (common cost).

Biaya bahan baku langsung dan tenaga kerja langsung sering pula disebut sebagai biaya utama (prime cost), yaitu biaya yang merupakan komponen utama dari produk yang dibuat dan dapat dengan mudah diatribusikan pada masing-masing unit produk yang dikerjakan atau dibuat. Biaya tenaga kerja langsung dan biaya overhead sering pula disebut sebagai biaya konversi (conversion cost), yaitu biaya yang dikeluarkan atau terjadi sehingga bahan baku dapat diubah menjadi produk jadi.

Kelompok biaya lain selain biaya produksi adalah biaya periode (period cost), yaitu biaya nonpabrikasi yang dikeluarkan atau terjadi selama periode berjalan dalam rangka operasional perusahaan. Biaya ini dapat dibagi menjadi dua kelompok, yakni beban penjualan atau pemasaran dan beban-beban administratif. Klasifikasi biaya yang berbeda-beda ini dilakukan agar dapat mengukur kinerja atau prestasi masing-masing bagian secara lebih fair. Kata lainnya adalah, alokasi yang tepat akan dapat meningkatkan pertanggungjawaban masing-masing bagian. Sehingga sebuah beban, bisa jadi teralokasikan ke dalam pos-pos yang berbeda walaupun jenisnya sama. Beban depresiasi komputer, misalnya, bisa jadi merupakan kelompok biaya overhead, jika komputer tersebut berada di atau dipergunakan untuk kegiatan oleh departemen produksi. Mungkin juga merupakan beban pemasaran/ penjualan jika komputer tersebut dimanfaatkan oleh bagian tersebut. Atau boleh jadi pula beban depresiasi komputer tersebut merupakan kelompok beban adminstratif jika komputernya digunakan oleh bagian kantor atau administrasi. Oleh karena itulah kita harus dapat mengklasifikasikan setiap beban ke dalam kelompok biaya yang tepat karena berdasarkan laporan tersebut kinerja suatu bagian/seseorang akan diukur.

Beban pokok produksi (Cost of Goods Manufactured)

Biaya barang yang telah diselesaikan selama suatu periode disebut beban pokok produksi barang selesai (cost of goods manufactured) atau disingkat dengan beban pokok produksi. Harga

14

pokok ini terdiri dari biaya pabrik ditambah persediaan dalam proses awal periode dikurangi persediaan dalam proses akhir periode. Beban pokok produksi selama suatu periode dilaporkan dalam laporan harga produksi (cost of goods manufactured statement). Laporan ini merupakan bagian dari beban pokok penjualan (cost of goods sold).

Akuntansi Perusahaan Manufaktur Seperti telah dijelaskan, siklus akuntansi meliputi tahap pencatatan dan tahap pengikhtisaran yang terdiri dari:

Tahap pencatatan

1. Pembuatan atau penerimaan bukti transaksi 2. Pencatatan dalam jurnal 3. Pemindahanbukuan ( posting ) ke buku besar

Tahap pengikhtisaran

4. Pembuatan neraca saldo 5. Pembuatan neraca lajur dan jurnal penyelesaian 6. Penyusunan laporan keuangan 7. Pembuatan jurnal penutup 8. Pembuatan neraca saldo penutup 9. Pembuatan jurnal balik

Bab ini tidak akan membahas tahap demi tahap siklus tersebut. Pembahasan perusahaan manufaktur di sini lebih pada menguraikan tahap-tahap tersebut secara garis besar saja. Penekanan diberikan pada proses akuntansi untuk masing-masing akun/rekening/perkiraan perusahaan manufaktur (ketiga istilah ini dipakai seluruhnya, secara bergantian, sepanjang pembahasan dalam buku ini untuk menunjukkan bahwa ketiganya merupakan istilah yang lazim dipakai sehari-hari dalam praktik pada DU/DI). Namun demikian, tetap diharapkan bahwa pemaparan berikut ini telah mencakup semua pemahaman minimal yang diperlukan untuk dapat menjalankan proses akuntansi pada sebuah perusahaan manufaktur.

Bahan Baku (Raw Materials)

Pembelian bahan baku, seperti halnya perusahaan dagang, dicatat dalam buku pembelian (untuk pembelian kredit) dan buku pengeluaran kas (untuk pembelian tunai). Pembayaran hutang yang bersangkutan dicatat dalam buku pengeluaran kas. Di buku besar, pembelian bahan baku

15

dicatat dalam rekening pembelian dan rekening-rekening lain yang berhubungan, misalnya potongan pembelian serta pembelian retur dan pengurangan harga. Pengeluaran bahan baku dari gudang untuk produksi tidak dicatat. Pemakaian bahan baku selama suatu periode dihitung sebagai berikut:

Data diperoleh dari perkiraan Perhitungan Contoh

Persediaan bahan baku Persediaan pada awal periode Rp 1.000.000,00 Ditambah Pembelian Pembelian selama perode Rp 24.000.000,00 + sama dengan ….. Bahan baku tersedia untuk produksi Rp 25.000.000,00 Dikurangi Persediaan bahan baku Persediaan pada akhir periode (Rp 5.000.000,00) - sama dengan Pemakaian bahan baku selama periode Rp 20.000.000,00

Jadi, seperti dalam perusahaan dagang, perkiraan persediaan bahan baku hanya digunakan untuk menampung ayat jurnal penyesuaian pada akhir periode. Jurnal penyesuaian dibuat untuk nilai persediaan yang ada di awal dan akhir periode. Sementara itu, nilai persediaan ditentukan dengan mengadakan penghitungan fisik. Jurnal penyesuaian untuk persediaan (awal dan akhir) dilakukan terhadap rekening Ikhtisar Beban pokok produksi.

Tenaga Kerja Langsung (Direct Labor)

Pembayaran gaji kepada tenaga kerja langsung dicatat dalam buku pengeluaran kas. Dalam buku perlu disediakan perkiraan tersendiri untuk biaya buruh langsung. Pada akhir periode dibuatkan jurnal penyesuaian untuk upah yang masih belum saatnya dibayar. Pembebanan biaya buruh langsung dilakukan dengan mambuat jurnal penutup ke rekening Ikhtisar Beban pokok produksi.

Biaya Overhead Pabrik (Overhead)

Biaya ini terdiri dari berbagai jenis, misalnya: bahan pembantu, tenga keja tidak langsung, gaji, listrik, telepon, perlengkapan pabrik, pemeliharaan dan perbaikan, asuransi, penyusutan bangunan pabrik, penyusutan mesin-mesin pabrik, penyusutan kendaraan pabrik, penyusutan peralatan pabrik dan lain-lain. Untuk tiap-tiap jenis biaya dapat dibuatkan rekening tersendiri di buku besar. Atau, kalau ingin lebih sederhana, dalam buku besar hanya disediakan satu rekening saja yaitu biaya overhead pabrik sebagai rekening induk (sesungguhnya). Rincian

16

biaya overhead pabrik ke dalam tiap-tiap jenis biaya dicatat dalam buku tambahan. Pembelian biaya overhead pabrik, misalnya pembelian bahan pembantu, dicatat dalam buku pembelian. Pembayarannya, dicatat dalam buku pengeluaran kas. Pembebanan biaya overhead pabrik ke dalam produksi dilakukan dengan membuat jurnal penutup atas rekening yang bersangkutan. Rekening lawanya adalah Ikhtisar Beban pokok produksi.

Persediaan dalam Proses ( Work in Process Inventory )

Proses produksi adalah kegiatan yang berlangsung terus menerus. Sementara itu, akuntansi harus melaporkan informasi keuangan secara berkala. Akibatnya, pada saat laporan keuangan harus dibuat, terdapat kemungkinan adanya sebagian barang yang belum selesai diproses. Walaupun demikian, biaya yang telah terjadi untuk barang itu, tetap harus dilaporkan. Inilah yang dicantumkan sebagai persediaan dalam proses. Untuk memperoleh beban pokok produksi barang yang telah selesai, biaya pabrik ditambah dengan nilai persediaan dalam proses di awal periode dan dikurangi dengan nilai persediaan dalam proses di akhir periode.

Pesediaan dalam proses, baik di awal maupun akhir periode diperoleh dengan jalan melakukan penghitungan phisik. Untuk sementara, jangan diperhatikan dahulu bagaimana menghitung nilai persediaan dalam proses. Yang perlu diketahui adalah bahwa nila ini terdiri dari biaya bahan baku, buruh langsung dan biaya pabrikase yang telah terjadi sampai dengan saat dilaporkan. Untuk mencatat nilai persediaan dalam proses, dibuatkan rekening yang diberi nama: “Persediaan dalam Proses”. Pada akhir periode dibuat jurnal penyesuaian untuk menghilangkan persediaan dalam proses awal dan membebankannya ke proses produksi. Sementara itu, jurnal penyesuaian lain untuk menimbulkan persediaan dalam proses yang ada pada akhir periode. Rekening lawan yang digunakan dalam jurnal penyesuaian tersebut adalah Ikhtisar Beban pokok produksi.

Di bawah ini (pada halaman berikut) diberikan ilustrasi tentang alur pembebanan biaya ke dalam proses produksi hingga pengakuan beban pokok penjualan. Alur ini digambarkan dalam bentuk hubungan di antara buku besar perkiraan-perkiraan yang terkait dengan proses produksi dalam sebuah perusahaan manufaktur. Kita dapat melihat di situ, apa saja perkiraan yang terkait dan harus dibuatkan jurnalnya selama proses produksi berlangsung, dan kapan masing-masing perkiraan tersebut harus didebitkan atau dikreditkan. Tentu saja, ilustrasi tersebut menggambarkan pencatatan yang harus dibuat ketika perusahaan menerapkan metode perpetual untuk persediaannya.

17

Persediaan Barang Jadi

7. Harga Pokok Brg yg selesai dikerjakan

8. Beban pokok penjualan

Persd. Bahan Baku dan Pembantu

1. Pembelian 4. Bahan yang terpakai

Persediaan Barang dalam Proses

4. Bahan Baku terpakai

5. TKL yg digunakan

6. Taksiran Overhead dbebankan

7. Harga Pokok Brg yg selesai dikerjakan

Tenaga Kerja Pabrik

2. TK Pabrik yg terjadi/ dibebankan

5. TK Pabrik yg diguna-kan Beban pokok penjualan

8. Harga Pokok Penjual-an

Overhead Pabrik

Overhead yg sesungguh-nya terjadi:

3. Depresiasi Asuransi Reparasi

4. Bhn Pemban-tu yg diguna-kan

5. TK tdk lgsng yg digunakan

6. Taksiran Overhead yang dibe-bankan

Yang Diakumulasikan/ Ditambahkan

Yang Dibebankan dalam Proses Produksi

1. Pembelian bahan

baku 2. Tenaga kerja pabrik

yg terjadi 3. Overhead Pabrik

yang terjadi

4. Bahan baku yg

diguna-kan 5. TK pabrik yg diguna-

kan 6. Taksiran overhead yg

dibebankan 7. Barang jadi yg selesai

dan diakui 8. Beban pokok

penjualan yg diakui

4

5

6

7

Kunci dalam penjurnalan:

18

Membuat Laporan Beban pokok produksi (Cost of Goods Manufactured Statement) LAPORAN BEBAN POKOK PRODUKSI (COST OF GOODS MANUFACTURED STATEMENT).

Kegiatan produksi selama periode dilaporkan dalam laporan beban pokok produksi. Laporan ini merupakan perhitungan harga pokok barang yang telah selesai diproduksi selama suatu periode.

Jurnal dan Buku Besar

Untuk menggambarkan pencatatan dan pelaporan beban pokok produksi dalam sebuah perusahaan pabrik, anggaplah bahwa transaksi-transaksi berikut ini terjadi di PT Surya Dunia Abadi, sebuah perusahaan manufaktur.

Pembelian Bahan Baku

Selama tahun 200A, PT Surya Dunia Abadi membeli secara kredit bahan baku seharga Rp 1.440.000,00. Potongan pembelian, retur pembelian dan pengurangan harga serta transaksi-transaksi lain yang berhubungan dengan pembelian bahan baku diabaikan dalam contoh ini. Ayat jurnal yang perlu dibuat untuk pembelian tadi, jika dicatat dalam jurnal umum adalah sebagai berikut:

Tanggal Nomor Bukti Keterangan Ref Debit Kredit

200A Des 31 - Pembln bhn baku 500 1.440.000,00

Hutang dagang 211 1.440.000,00

Ayat jurnal di atas merupakan gabungan transaksi selama setahun. Dalam kenyataannya, pencatatan dilakukan untuk tiap transaksi dalam buku pembelian. Pembayaran hutang dagang tidak diperhatikan lagi dalam ilustrasi ini. Akibat ayat jurnal di atas rekening Pembelian Bahan Baku pada tanggal 31 Desember 200A akan bersaldo debit sebesar Rp 1.440.000,00.

19

Pemakaian Tenaga Kerja Langsung

Selama tahun 200A, pembayaran gaji kepada tenaga kerja langsung berjumlah Rp 150.000,00. Gaji yang masih harus dibayar pada akhir tahun berjumlah Rp 23.000,00. Ayat jurnal yang harus dibuat adalah sebagai berikut:

Tanggal Nomor Bukti Keterangan Ref Debit Kredit

200A Des 31 - Biy. tenaga krja lgsg 501 173.000,00

Bank 111 150.000,00 Hutang biaya 213 23.000,00

Sekali lagi, ayat jurnal di atas adalah gabungan dari seluruh transaksi selama satu tahun. Kenyataannya, pencatatan dilakukan untuk tiap pembayaran dalam buku pengeluaran kas. Sementara itu, gaji yang masih harus dibayar dicatat sebagai ayat jurnal penyesuaian.

Pemakaian Biaya Overhead Pabrik

Dalam tahun 200A biaya overhead pabrik yang dibebankan dalam produksi berjumlah Rp 450.000. Jumlah ini sudah termasuk ayat jurnal penyesuaian yang diperlukan. Ayat jurnal yang perlu dibuat pada waktu pembelian biaya-biaya tersebut adalah sebagai berikut:

Tanggal No. Bukti Keterangan Ref Debit Kredit

200A Des 31 - Biaya bahan pembantu 502 150.000

Biy. tenaga kerja tdk lgsng 503 140.000 Biaya gaji pabrik 504 40.000 Biy. listrik, air & telp. pabrik 505 37.000 Biaya perlengkapan pabrik 506 15.000 Biaya pemeliharaan dan

perbaikan pabrik 507 50.000

Biaya asuransi pabrik 508 13.000 Biy. overhead pbrk lain-lain 599 5.000 Hutang dagang 211 450.000

Pembayaran hutang dagang dalam buku pengeluaran kas tidak diperlihatkan dalam contoh ini. Juga pembebanan biaya yang berasal dari

20

pembayaran di muka. Untuk biaya penyusutan, ayat jurnal yang dibuat adalah sebagai berikut:

Tanggal Nomor Bukti Keterangan Ref Debit Kredit

200A (A) Des 31 - Biaya penyusutan pabrik 509 75.000

Akum. penystn mesin 134 75.000 (B) Biaya penyusutan pabrik 509 9.500 Biy. penystn. penjualan 615 9.500 Biy. Pnystn adm&umum 625 9.500 Akum. Penystn. kend. 135 16.000 Akum. Penystn. perltn. 138 5.000

Dalam contoh perusahaan dagang, penyusutan dicatat melalui jurnal penyesuaian. Ayat jurnal penyusutan tersebut di atas terdiri dari dua bagian. Penyusutan mesin dibebankan seluruhnya dalam biaya pabrik (manufacturing cost). Sementara itu, penyusutan bangunan, kendaraan dan peralatan (total Rp 28.500) dialokasikan ke biaya pabrik (manufacturing cost), penjualan seta administrasi dan umum. Pengalokasian dilakukan berdasarkan penggunaan masing-masing aktiva tetap.

Dalam neraca lajur perusahaan manufaktur terdapat rekening yang belum pernah dibahas sebelumnya, yaitu aktiva tak terwujud. Aktiva tak berwujud adalah aktiva tetap yang secara fisik tidak nyata. Contoh aktiva tak berwujud adalah hak paten dan goodwill. Aktiva tak berwujud, seperti halnya aktiva tetap, harus disusutkan. Penyusutan untuk aktiva tak berwujud disebut amortisasi (amortization). Amortisasi aktiva tak berwujud juga dapat dialokasikan ke biaya pabrik (manufacturing cost), biaya penjualan serta biaya administrasi dan umum. Ayat jurnal yang dibuat untuk mencatat dan mengalokasikan biaya amortisasi adalah sebagai berikut:

Tanggal No. Bukti Keterangan Ref Debit Kredit

200A Des 31 - Biaya amortisasi pabrik 510 12.500

Biaya amortisasi bag. penjualan 616 6.250 Biy. Amorts. bag. adm. & umum 626 6.250 Aktiva tak berwujud 140 25.000

21

Pada halaman-halaman berikut ini ditampilkan neraca lajur milik PT Surya Dunia Abadi seperti nampak dalam Tabel 1-1. Perhatikan rekening-rekening yang dipakai dan bandingkan dengan perusahaan dagang yang pernah dipelajari sebelumnya. Secara garis besar, bagan rekening yang digunakan oleh PT Surya Dunia Abadi adalah sebagai terlihat dalam Tabel 1-2.

22

Tabel 1-1 PT. SURYA DUNIA ABADI

Kertas Kerja Tahun berakhir 31 Desember 200A

No Nama Perkiraan Neraca Saldo Jurnal Penyesuaian Neraca Saldo Disesuaikan

Laporan Beban pokok produksi

Perhitungan Laba Rugi Neraca

Debit Kredit Debit Kredit Debit Kredit Debit Kredit Debit Kredit Debit Kredit 110 Dana kas kecil 1.000 - - - 1.000 - - - - - 1.000 - 111 Bank 67.600 - - - 67.600 - - - - - 67.600 - 112 Surat-2 berharga 25.000 - - - 25.000 - - - - - 25.000 - 113 Wesel tagih 20.000 - - - 20.000 - - - - - 20.000 - 114 Piutang dagang 187.900 - - - 187.900 - - - - - 187.900 - 115 Persd. bahan baku 197.000 - (B) 243.000 (A) 197.000 243.000 - - - - - 243.000 - 116 Persd. Dlm. proses 15.000 - (D) 20.000 (C) 15.000 20.000 - - - - - 20.000 - 117 Persd. barang jadi 285.000 - (F) 257.000 (E) 285.000 257000 - - - - - 257.000 - 118 Biy.dibyr. di muka 12.000 - - - 12.000 - - - - - 12.000 - 120 Investasi jk. Pnjng. 50.000 - - - 50.000 - - - - - 50.000 - 130 Tanah 75.000 - - - 75.000 - - - - - 75.000 - 131 Bangunan 150.000 - - - 150.000 - - - - - 150.000 - 132 Akum. penyusutan

bangunan - 15.000 - - - 15.000 - - - - - 15.000

133 Mesin-mesin 750.000 - - - 750.000 - - - - - 750.000 - 134 Akum. penyusutan

mesin-mesin - 150.000 - - - 150.000 - - - - - 150.000

135 Kendaran 80.000 - - - 80.000 - - - - - 80.000 - 136 Akum. penyusutan

kendaraan - 32.000 - - - 32.000 - - - - - 32.000

137 Peralatan 25.000 - - - 25.000 - - - - - 25.000 - 138 Akum. penyusutan

peralatan - 10.000 - - - 10.000 - - - - - 10.000

140 Aktiva tak berwjd. 50.000 - - - 50.000 - - - - - 50.000 - 210 Wesel bayar - 95.000 - - - 95.000 - - - - - 95.000 211 Hutang dagang - 145.000 - - - 145.000 - - - - - 145.000 212 Kredit modal kerja - 195.500 - - - 195.500 - - - - - 195.500

Dipindahkan (subtotal)

1.990.500 642.500 520.000 497.000 2.013.500 642.500 - - - - 2.013.500 642.500

23

No Perk Nama Perkiraan Neraca Saldo Jurnal

Penyesuaian Neraca Saldo Disesuaikan

Laporan Beban pokok produksi

Perhitungan Laba Rugi Neraca

Debit Kredit Debit Kredit Debit Kredit Debit Kredit Debit Kredit Debit Kredit Pindahan (subtotal) 1.990.500 642.500 520.000 497.000 2.013.500 642.500 - - - - 2.013.500 642.500

213 Hutang biaya - 45.000 - - - 45.000 - - - - - 45.000 220 Kredit investasi - 600.000 - - - 600.000 - - - - - 600.000 310 Saham biasa - 400.000 - - - 400.000 - - - - - 400.000 410 Penjualan - 3.022.000 - - - 3.022.000 - - - - - 3.022.000 500 Pembln bahan baku 1.440.000 - - - 1.440.000 - 1.440.000 - - - - - 501 Biy. T.K. langsung 173.000 - - - 173.000 - 173.000 - - - - - 502 Biy bhn pembantu 150.000 - - - 150.000 - 150.000 - - - - - 503 Biy T.K tdk lngsng 140.000 - - - 140.000 - 140.000 - - - - - 504 Biaya gaji-pabrik 40.000 - - - 40.000 - 40.000 - - - - - 505 Biaya listrik, air,

telepon pabrik 37.000 - - - 37.000 - 37.000 - - - - -

506 Biy perlngkp pabrik 15.000 - - - 15.000 - 15.000 - - - - - 507 Biy pemelih&

perbaikan Pabrik 50.000 - - - 50.000 - 50.000 - - - - -

508 Biy asuransi pabrik 13.000 - - - 13.000 - 13.000 - - - - - 509 Biy penystn pabrik 84.500 - - - 84.500 - 84.500 - - - - - 510 Biy amorts pabrik 12.500 - - - 12.500 - 12.500 - - - - - 599 Biy overhead pabrik

lain-lain 5.000 - - - 2.000 - 5.000 - - - - -

610 Gaji bag. penjualan 75.000 - - - 75.000 - - - 75.000 - - - 611 Biy listrik, air dan

telepon bag. Penjl. 20.000 - - - 20.000 - - - 20.000 - - -

612 Biy perlengkapan bag. Penjualan

25.000 - - - 25.000 - - - 25.000 - - -

613 Biy pemelih. & per-baikan bag. Penjl.

15.000 - - - 15.000 - - - 15.000 - - -

614 Biaya asuransi bag. penjualan

6.000 - - - 6.000 - - - 6.000 - - -

615 Biaya penyusutan bag. Penjualan

9.500 - - - 9.500 - - - 9.500 - - -

616 Biaya amortisasi bag. penjualan

6.250 - - - 6.250 - - - 6.250 - - -

Dipindahkan (subtotal)

4.307.250 4.833.000 520.000 497.000 4.330.250 4.833.000 2.160.000 - 156.750 3.022.000 2.013.500 1.811.000

24

No Perk Nama Perkiraan Neraca Saldo Jurnal Penyesuaian Neraca Saldo

Disesuaikan Laporan Beban pokok produksi

Perhitungan Laba Rugi Neraca

Debit Kredit Debit Kredit Debit Kredit Debit Kredit Debit Kredit Debit Kredit Pindahan (subtotal) 4.307.250 4.833.000 520.000 497.000 4.330.250 4.833.000 2.160.000 - 156.750 3.022.000 2.013.500 1.811.000

617 Biy iklan & promosi 200.000 - - - 200.000 - - - 200.000 - - - 618 Biy pengiriman 60.000 - - - 60.000 - - - 60.000 - - - 619 Biy penjln lain-lain 4.250 - - - 4.250 - - - 4.250 - - - 620 Gaji bag.adm.& um. 90.000 - - - 90.000 - - - 90.000 - - - 621 Biy listrik, air & telp

bag. adm. & umum 15.000 - - - 15.000 - - - 15.000 - - -

622 Biy prlngkpn bag. Adm.& umum

8.000 - - - 8.000 - - - 8.000 - - -

623 Biy pemelih.& prba- ikn bag.adm.&um.

10.000 - - - 10.000 - - - 10.000 - - -

624 Biy asuransi bag. adm & umum

3.000 - - - 3.000 - - - 3.000 - - -

625 Biy penystn bag. adm & umum

9.500 - - - 6.500 - - - 9.500 - - -

626 Biy. amort bag. adm & umum

6.250 - - - 6.250 - - - 6.250 - - -

628 Biy. adm & umum lain-lain

6.560 - - - 6.560 - - - 6.560 - - -

631 Biaya bunga 113.190 - - - 113.190 - - - 113.190 - - - 4.833.000 4.833.000

421 Ikhtisar beban pokok produksi

- - (A) 197.000 (B) 243.000 197.000 243.000 197.000 243.000 - - - -

(C) 15.000 (D) 20.000 15.000 20.000 15.000 20.000

422 Ikhtisar Laba Rugi - - (E) 285.000 (F) 257.000 285.000 257.000 - - 285.00 257.000 - - 1.017.000 1.017.000 5.353.000 5.353.000 2.372.000 263.000 - - - - Harga pokok prod. - 2.109.000 2.109.000 - - - 2.372.000 2.372.000 3.076.500 3.279.000 2.013.500 1.811.000 Laba bersih - 202.500 - - 202.500 3.279.000 3.279.000 2.013.500 2.013.500

25

Tabel 1-2

Bagan Rekening PT. SURYA DUNIA ABADI

1xx Aktiva 2xx Kewajiban 11x Aktiva lancar 21x Kewajiban Lancar 12x Investasi jangka panjang 22x Kewajiban jangka panjang 13x Aktiva tetap 14x Aktiva tak berwujud 3xx Modal

5xx Biaya Pabrik 4xx Pendapatan dan Beban

pokok penjualan 6xx Biaya usaha 41x Penjualan 61x Biaya penjualan 42x Beban pokok penjualan 62x Biaya administrasi dan umum 43x Pendapatan lain-lain 63x Biaya lain-lain

Rekening persediaan terdiri dari tiga macam, yakni persediaan bahan baku, persediaan dalam proses dan persediaan barang jadi. Sementara itu, dalam kelompok aktiva tetap terdapat rekening mesin-mesin dengan akumulasi penyusutannya. Rekening mesin-mesin digunakan untuk mencatat harga perolehan mesin-mesin pabrik yang digunakan dalam proses produksi. Kelompok rekening aktiva tak berwujud digunakan untuk mencatat nilai buku aktiva tak berwujud yang dimiliki perusahaan.

Dalam perusahaan pabrik terdapat kelompok biaya tambahan, yakni biaya pabrik. Seperti telah dijelaskan, kelompok ini untuk menampung biaya-biaya yang terjadi di pabrik. Biaya-biaya tersebut merupakan bagian dari beban pokok produksi. Biaya usaha dibagi dalam kelompok-kelompok: (a) biaya penjualan: (b) biaya administrasi dan umum dan; (c) biaya lain-lain. Pengelompokan biaya berdasarkan atas bagian atau fungsi di mana biaya tersebut harus dibebankan. Biaya-biaya penjualan adalah biaya-biaya yang dibebankan/terjadi pada bagian atau fungsi penjualan dan pemasaran. Biaya administrasi dan umum adalah biaya-biaya untuk kegiatan umum perusahaan. Jika ternyata ada sejumlah biaya yang bermanfaat untuk lebih dari satu bagian/fungsi, maka biaya yang bersangkutan perlu dialokasikan.

Dibandingkan dengan neraca lajur perusahaan dagang, ada satu kolom tambahan dalam neraca lajur perusahaan pabrik. Kolom itu ialah

26

Laporan Beban pokok produksi. Angka-angka dalam neraca saldo disesuaikan, yang diperlukan untuk menghitung harga pokok barang yang selesai diproduksi, dipindahkan ke kolom ini. Angka-angka dalam kolom itu merupakan dasar untuk menyusun laporan beban pokok produksi.

Jurnal Penyesuaian

Ayat jurnal penyesuaian dalam neraca lajur Tabel 1-1 sudah sangat disederhanakan. Beberapa ayat jurnal penyesuaian yang dibuat dalam perusahaan dagang tidak muncul lagi. Ini memang dirupiahgaja, agar dapat dengan mudah dibedakan dengan yang telah dibahas sebelumnya. Pada dasarnya, perbedaan dengan perusahaan dagang adalah ayat jurnal penyesuaian untuk persediaan bahan baku dan persediaan dalam proses. Rekening-rekening ini tidak ada pada perusahaan dagang.

Ayat jurnal penyesuaian yang perlu dibuat untuk persediaan bahan baku adalah sebagai berikut:

Tanggal Nomor

Bukti Keterangan Ref Debit Kredit

200A (A) Des 31 - Ikhtisar beban pokok produksi 421 197.000

Persediaan bahan baku 115 197.000 (B) Persediaan bahan baku 115 243.000 Ikhtisar beban pokok

produksi 421 243.000

Ayat jurnal penyesuaian (A) berhubungan dengan persediaan awal bahan baku. Jumlah yang tercantum di neraca saldo merupakan saldo awal rekening tersebut. Jadi, jurnal penyesuaian perlu dibuat untuk membebankan saldo awal untuk mengganti saldo rekening bahan baku dengan jumlah yang ada pada akhir periode. Dengan ayat jurnal penyesuaian tersebut, dapat dihitung jumlah pemakaian bahan baku. Perhatikan adanya rekening ikhtisar beban pokok produksi. Rekening ini, seperti halnya ikhtisar Laba Rugi, digunakan untuk menutup rekening-rekening biaya pabrik, pembelian bahan baku serta persediaan bahan baku dan persediaan dalam proses. Dari rekening ini dapat dihitung beban pokok produksi.

27

Hal yang sama dilakukan terhadap persediaan dalam proses. Ayat jurnal penyesuaian yang perlu dibuat adalah sebagai berikut:

Tanggal Nomor

Bukti Keterangan Ref Debit Kredit

200A (C) Des 31 - Ikhtisar beban pokok produksi 421 15.000

Persediaan dalam proses 116 15.000 (D) Persediaan dalam proses 116 20.000 Ikhtisar beban pokok produksi 421 20.000

Ayat jurnal penyesuaian yang dibuat untuk persediaan barang jadi tidak berbeda dengan yang telah dibahas dalam perusahaan dagang. Yaitu, yang berhubungan dengan jurnal penyesuaian untuk persediaan barang dagang. Ayat jurnal penyesuaian ini membebankan saldo awal persediaan barang jadi ke beban pokok penjualan, sekaligus mengganti saldonya dengan nilai persediaan akhir. Perhatikan ayat jurnal penyesuaian berikut:

Tanggal Nomor

Bukti Keterangan Ref Debit Kredit

200A (E) Des 31 - Ikhtisar Laba Rugi 422 285.000

Persediaan barang jadi 117 285.000 (F) Persediaan barang jadi 117 257.000 Ikhtisar Laba Rugi 422 257.000

Laporan Keuangan

Dalam neraca lajur perusahaan pabrik terdapat satu kolom tambahan. Yaitu, laporan beban pokok produksi. Angka-angka dalam kolom ini merupakan dasar untuk menyusun laporan beban pokok produksi. Total debit dan kredit kolom ini adalah Rp 2.372.000 dan Rp263.000. Selisih kedua angka tersebut (Rp 2.109.000) merupakan beban pokok produksi. Jumlah ini dipindahkan ke kolom perhitungan

28

Laba Rugi untuk menghitung beban pokok penjualan. Prosedur penyelesaian neraca lajur selanjutnya tidak berbeda dengan perusahaan dagang.

Laporan Beban pokok produksi

Ini adalah laporan tentang kegiatan peruahaan manufaktur. Khususnya tentang beban pokok produksi barang. Laporan beban pokok produksi PT. SURYA DUNIA ABADI dalam dilihat dalam Tabel 1-3. Perhatikan hubungan antara laporan beban pokok produksi dengan perhitungan Laba Rugi. Terlihat bahwa beban pokok produksi merupakan bagian dari beban pokok penjualan.

Perhitungan Laba Rugi

Penyusunan perhitungan Laba Rugi dari neraca lajur tidak berbeda dengan perusahaan dagang. Perbedaannya terletak pada beban pokok penjualan. Dalam perusahaan dagang, beban pokok penjualan dihitung sebagai persediaan awal ditambah pembelian barang dagang dikurangi persediaan akhir. Untuk perusahaan pabrik, pos pembelian barang dagang diganti dengan beban pokok produksi. Memang, dalam perusahaan pabrik barang yang dijual tidak berasal dari pembelian, tapi dari proses produksi sendiri.

Untuk jelasnya secara garis besar di bawah ini dapat dilihat perbedaan antara perusahaan dagang dan perusahaan manufaktur.

Perusahaan Dagang Perusahaan Manufaktur

1. Barang yang akan dijual berasal dari pembelian

Barang yang akan dijual berasal dari memproses barang melalui proses produksi tertentu (mengolah bahan baku menjadi barang jadi )

2. Laporan Keuangan untuk Laba-Rugi dalam perhitungan Harga Pokok Penjualan adalah sebagai berikut:

Persediaan awal Barang dagangan xx Pembelian xx + B.T.U. Dijual xx Persediaan akhir Barang dagangan (xx) B. Pokok Penjln xx

Persediaan awal barang jadi xx Beban pokok produksi xx + B.T.U. Dijual xx Persediaan akhir Barang jadi (xx) B. Pokok Penjln xx

29

Tabel 1-3

PT. SURYA DUNIA ABADI Laporan Beban pokok produksi

Tahun berakhir 31 Desember 200A Pemakaian bahan baku Persediaan bahan baku, 1 Januari 200A Rp 197.000 Pembelian bahan baku 1.440.000

Persediaan bahan baku tersedia untuk produksi Rp 1.637.000 Persediaan bahan baku, 31 Desember 200A ( 243.000)

Total Pemakaian Bahan Baku Rp 1.394.000 Biaya tenga kerja langsung 173.000

Biaya overhead pabrik: Biaya bahan pembantu Rp 150.000 Biaya tenga keja tidak langsung 140.000 Biaya gaji-pabrik 40.000 Biaya listrik, air, telepon – pabrik 37.000 Biaya perlengkapan – pabrik 15.000 Biaya pemeliharaan & perbaikan – pabrik 50.000 Biaya asuransi – pabrik 13.000 Biaya penyusutan – pabrik 84.500 Biaya amortisasi – pabrik 12.500 Biaya overhead pabrik lain-lain 5.000 547.000

Total Biaya Pabrik Rp 2.114.000 Persediaan dalam proses, 1 Januari 200A 15.000

Total Biaya Produksi Rp 2.129.000 Persediaan dalam proses, 31 Desember 200A ( 20.000)

Beban pokok produksi Rp 2.109.000

Perhatikan Laporan Laba Rugi PT. SURYA DUNIA ABADI yang terlihat dalam Tabel 1.4 pada halaman berikut.

30

Tabel 1-4

PT. SURYA DUNIA ABADI Perhitungan Laba Rugi

Tahun berakhir 31 Desember 200A Penjualan (netto) Rp 3.022.000 Beban pokok penjualan: Persediaan barang jadi, 1 Januari 200A Rp 285.000 Beban pokok produksi 2.109.000 Persediaan barang jadi tersedia dijual Rp 2.394.000 Persediaan barang jadi, 31 Desember 200A ( 257.000) Beban pokok penjualan ( 2.137.000) Laba bruto Rp 885.000 Biaya usaha: Biaya penjualan:

Biaya gaji – bagian penjualan Rp 75.000 Biaya listrik, air telepon – bagian penjualan 20.000 Biaya perlengkapan – bagian penjualan 25.000 Biaya pemeliharaan & perbaikan – bagian penjualan 15.000 Biaya asuransi – bagian penjualan 6.000 Biaya penyusutan – bagian penjualan 9.500 Biaya amortisasi – bagian penjualan 6.250 Biaya iklan dan promosi 200.000 Biaya pengiriman 60.000 Biaya penjualan lain-lain 4.250 421.000

Biaya administrasi dan umum:

Biaya gaji – bag. adm. & umum Rp 90.000 Biaya listrik, air, telepon – bag. adm. & umum 15.000 Biaya perlengkapan – bag. adm. & umum 8.000 Biaya pemelih. & perbaikan–bag. adm. & umum 10.000 Biaya asuransi – bag. adm. & umum 3.000 Biaya penyusutan – bag. adm. & umum 9.500 Biaya amortisasi – bag. adm. & umum 6.250 Biaya adm. & umum lain-lain 6.560 148.310

Laba usaha Rp 315.690 Biaya lain-lain (bunga) ( 113.190) Laba bersih Rp 202.500

Neraca

Penyusunan neraca yang benar tidak berbeda dengan yang telah dibahas sebelumnya. Karena itu Neraca PT. SURYA DUNIA ABADI, tidak disajikan di sini, demikian juga dengan laporan perubahan saldo labanya.

31

Jurnal Penutup

Jurnal penutup yang harus dibuat untuk perusahaan manufaktur tidak berbeda dengan perusahaan dagang yang telah dibahas sebelumnya. Tetapi, termasuk dalam jurnal penutup perusahaan manufaktur adalah penutupan atas rekening-rekening yang berhubungan dengan kegiatan produksi. Perhatikan ayat jurnal penutup di bawah ini:

Tanggal Nomor Bukti Keterangan Ref Debit Kredit

200A Des 31 - Ikhtisar beban pokok produksi 421 2.160.000

Pembelian bahan baku 500 1.440.000 Biaya tenaga kerja langsung 501 173.000 Biaya bahan pembantu 502 150.000 Biaya tenaga kerja tidak

langsung 503 140.000

Biaya gaji-pabrik 504 40.000 Biaya listrik, air, telepon pabrik 505 37.000 Biaya perlengkapan pabrik 506 15.000 Biaya pemeliharaan &

perbaikan pabrik

507

50.000 Biaya asuransi-pabrik 508 13.000 Biaya penyusutan-pabrik 509 84.500 Biaya amortisasi-pabrik 510 12.500 Biaya overhead pabrik lain-lain 599 5.000

Setelah ayat jurnal penutup tersebut, rekening-rekening biaya pabrik akan bersaldo nol. Sementara itu, Rekening Ikhtisar Beban pokok produksi, setelah jurnal penutup di atas, nampak seperti di bawah ini:

Nama Rekening: Ikhtisar Beban pokok produksi Nomor Perk: 421

Tgl. Keterangan Ref D K Saldo

D K

200A Des 31 Penyesn persd. bhn baku aw. JU

11 197.000 197.000

Penyesn persd. Bh.baku akh. JU 11 243.000 46.000

Penyesn. persd. BDP awal JU 11 15.000 31.000

Penyesn. Persd. BDP akhir JU 11 20.000 51.000

Penutupan biaya pabrik JU 11 2.160.000 2.109.000

32

Saldo debit Rekening Ikhtisar Harga Produksi sebesar Rp2.109.000 merupakan harga pokok barang selesai diproduksi. Jumlah ini kemudian ditutup ke Rekening Ikhtisar Laba Rugi. Ayat jurnal penutup yang dibuat adalah:

Tanggal Nomor Bukti Keterangan Ref Debit Kredit

199A Des 31 - Ikhtisar Laba Rugi 422 2.109.000

Ikhtisar beban pokok produksi

421 2.109.000

Setelah ayat jurnal penutup ini rekening Ikhtisar Beban pokok produksi akan bersaldo nol. Jurnal penutup rekening- rekening penjualan, biaya penjualan serta biaya administrasi & umum ke Perkiraan Ikhtisar Laba Rugi tidak dibahas dalam bab ini. Demikian juga jurnal penutup saldo perkiraan Ikhtisar Laba Rugi ke Rekening Saldo laba. Semua jurnal penutup di atas tidak berbeda dengan yang telah dibahas dalam perusahaan dagang.

Neraca Saldo Penutup dan Jurnal Balik

Pembuatan neraca saldo penutup dan jurnal balik tidak dibahas dalam bab ini, oleh karena tidak berbeda dengan perusahaan dagang yang telah dibahas sebelumnya.

Istilah Baru (Glosari)

Akuntansi biaya (cost accounting): bidang akuntansi yang berhubungan dengan penetapan beban pokok produksi dalam sebuah perusahaan pabrik/manufaktur (sekarang ini ruang lingkup akuntansi biaya diakui tidak hanya terbatas pada penetapan beban pokok produksi saja, tetapi juga mencakup perencanaan dan pengendalian).

Bahan baku (raw materials): bahan-bahan yang dipakai dalam proses produksi yang dapat dengan mudah dan langsung diidentifikasikan dengan barang jadi yang dihasilkan.

33

Bahan pembantu (indirect materials): bahan-bahan yang dipakai dalam proses produksi, tetapi tidak dapat diidentifikasikan secara langsung dengan barang jadi yang dihasilkan.

Bahan jadi (finished goods): barang yang telah selesai diproduksi tetapi belum dijual. Biaya yang tercakup di dalamnya meliputi seluruh biaya pabrik.

Biaya pabrik (manufacturing cost): biaya bahan baku, buruh langsung dan biaya pabrikase yang dibebankan dalam suatu periode.

Biaya overhead prabik (factory overhead cost): biaya-biaya pabrik selain bahan baku dan barang langsung yang tidak dapat diidentifikasikan secara langsung dengan barang jadi yang dihasilkan.

Biaya produksi (production cost): Biaya yang dibebankan dalam proses produksi selama suatu periode. Biaya ini terdiri dari persediaan dalam proses awal ditambah biaya pabrik.

Tenaga kerja langsung (direct labor): buruh yang mengenai secara langsung proses produksi atau yang dapat diidentifikasikan langsung dengan barang jadi yang dihasilkan.

Tenaga kerja tidak langsung (indirect labor): barang yang biayanya tidak dapat diidentifikasikan secara langsung dengan barang yang dihasilkan.

Beban pokok produksi (cost of goods manufactured): biaya pabrik ditambah dengan persediaan dalam proses awal dikurangi dengan persediaan dalam proses awal dikurangi dengan persediaan dalam proses akhir. Biaya ini merupakan biaya produksi dari barang yang telah diselesaikan selama suatu periode.

Persediaan dalam proses (work in process): Biaya bahan baku dan biaya-biaya pabrik lain yang telah terjadi untuk memproduksi barang yang belum selesai.

34

Laporan beban pokok produksi (cost of goods manufactured statements): Laporan harga po-kok produksi selama suatu periode.

MENGHITUNG BEBAN POKOK PRODUKSI DAN BEBAN POKOK PENJUALAN Tiga Jenis Persediaaan pada Perusahaan Manufaktur/Pabrik

Saudara telah mempelajari bahwa biaya pabrik suatu perusahaan dapat diklasifikasi menjadi tiga kategori umum: (1) bahan baku (bahan dan penolong yang langsung dipergunakan dalam memproduksi/ pembuatan produk); (2) tenaga kerja langsung (tenaga kerja yang berkaitan langsung dengan pembuatan produk, sebagai lawan pengawas dan tenaga kerja tidak langsung), dan (3) overhead pabrik (semua biaya pabrik lainnya kecuali biaya bahan baku langsung dan tenaga kerja langsung). Ketiga unsur biaya pabrik ini dikumpulkan dalam perkiraan persediaan pada laporan keuangan perusahaan. Neraca perusahaan manufaktur / pabrik biasanya melaporkan ketiga persediaan tersebut: 1. Persediaan bahan baku. Ini menunjukkan harga perolehan bahan

baku dan penolong yang masih terdapat dalam persediaan pada tanggal neraca. Bahan baku ini belum dipergunakan untuk membuat produk yang dihasilkan perusahaan.

2. Barang dalam proses/pengerjaan. Ini menunjukkan biaya yang terjadi dalam pembuatan barang yang masih belum selesai pada tanggal neraca. Misalnya, sebuah perusahaan mungkin memiliki 1.000 unit produk yang masih dalam proses pembuatan pada tanggal neraca. Produk ini akan diselesaikan dalam periode berikutnya. Persediaan barang dalam proses biasanya mencakup ketiga unsur biaya – bahan baku, tenaga kerja langsung, dan overhead pabrik.

3. Persediaan barang jadi. Ini merupakan total biaya yang terjadi untuk menghasilkan unit produk yang telah selesai tapi belum terjual pada tanggal neraca. Persediaan barang jadi biasanya mencakup ketiga unsur biaya – bahan baku, tenaga kerja langsung, dan overhead pabrik.

Dengan demikian, sebuah pabrik harus mempunyai pesediaan untuk tiga jenis yang berlainan dan bukannya perkiraan persediaan seperti pada perusahaan dagang.

35

Tiga Sistem Akuntansi Perusahaan Manufaktur/ Pabrik Tiga sistem yang populer untuk membukukan dan melaporkan persediaan dan proses pembuatan adalah:

1. Sistem periodik. 2. Sistem job order cost (biaya pesanan), yang menggunakan metode

perpetual. 3. Sistem process cost (biaya proses), yang juga menggunakan

metode perpetual. Pada bagian ini selanjutnya akan menguraikan sistem job order dan sistem biaya proses. Unit ini menguraikan metode periodik untuk melaporkan operasi pabrik.

Dalam sistem periodik, harga perolehan pesediaan ditentukan

oleh suatu daftar terinci barang persediaan yang masih ada pada saat penutupan periode akuntansi. Kalau suatu persediaan hanya dapat ditentukan dengan melakukan perhitungan secara fisik dalam suatu jangka waktu tertentu, sistem tersebut dikenal sebagai sistem periodik. Dalam metode periodik untuk melaporkan pesediaan, pada akhir setiap peiode operasi perhitungan persediaan secara fisik harus dilakukan atas bahan baku, barang dalam proses pengerjaan, dan barang jadi. Kemudian, juga pada akhir masa pembukuan, perhitungan juga dilakukan untuk harga barang yang dibuat, dan kemudian untuk harga pokok barang yang dijual. Biaya yang belakangan, seperti saudara ketahui, adalah data yang diperlukan untuk pembuatan ikhtisar Laba Rugi. Marilah pertama kali kita membahas laporan pabrikasi sebuah perusahaan, yang sebenarnya merupakan suatu laporan terinci mengenai rincian biaya barang yang dihasilkan.

Perhitungan Beban pokok produksi

Di bawah ini menunjukkan tiga laporan Bintang Dunia Manufacturing Corporation (disajikan dalam angka ribuan rupiah) yang sangat bermanfaat bagi manajemennya. Marilah kita mulai pelajaran kita mengenai Sistem Periodik dengan memperhatikan rincian Laporan Pabrikasi perusahaan tersebut untuk tahun yang berakhir 31 Desember 200A. Laporan khusus ini dipergunakan terutama oleh manajemen. Laporan ini melaporkan biaya yang terjadi di pabrik untuk menghasilkan produk perusahaan dalam suatu jangka waktu tertentu.

Item pertama yang terdapat pada laporan tersebut adalah persediaan awal barang dalam proses. Rp 18,000 merupakan total biaya yang tertanam dalam barang dalam proses pada tanggal 1 Januari 200A. Ini berarti bahwa total biaya Rp 18,000 tersebut adalah untuk bahan

36

baku, tenaga kerja langsung, dan untuk overhead pabrik yang sudah dikeluarkan selama tahun yang lalu untuk menyelesaikan barang pada tanggal 1 Januari 200A. Barang ini harus diselesaikan dalam tahun 200A dan biaya lain harus ditambahkan untuk menyelesaikannya. Juga, barang tambahan baru mungkin dimasukkan dalam proses dan diselesaikan selama tahun 200A.

Pembukuan dibuat untuk mengumpulkan biaya dari ketiga unsur

biaya pabrik. Perhatikan bahwa pada tanggal 1 Januari 200A terdapat persediaan bahan baku senilai Rp 20,000. Pembelian bahan baku tambahan selama 200A berjumlah Rp 171,000. Menurut sistem periodik, sebuah perkiraan terpisah, Pembelian Bahan Baku, biasanya dipergunakan untuk membukukan pembelian ini. Bahan baku dengan total biaya sebesar Rp 191,000 tersedia untuk dipakai selama tahun 200A. Dengan melakukan penghitungan secara fisik atas bahan baku pada tanggal 31 Desember 200A, manajemen menentukan bahwa Rp119,000 dari persediaan bahan baku ini masih ada dalam pesediaan dan belum dipergunakan pada akhir tahun. Dengan demikian biaya bahan baku yang sebenarnya dipakai dalam produksi berjumlah Rp72,000.

Suatu perkiraan tertentu diadakan untuk mencatat biaya tenaga

kerja. Selama tahun tersebut Rp 50,000 biaya tenaga kerja langsung dikeluarkan. Begitu juga, sebuah perkiraan buku besar untuk biaya overhead pabrik mengumpulkan berbagai kategori biaya overhead. Perkiraan ini dapat juga dibuatkan skedul perkiraan pembantu tersendiri untuk overhead pabrik, yang dibuat untuk memberikan rincian biaya overhead agar dapat mengendalikan berbagai jenis biaya overhead. Selama tahun 200A biaya overhead pabrik yang terjadi berjumlah Rp30,000.

37

LAPORAN DAN SKEDUL SEBUAH PABRIK

(Metode Periodik Dalam Pembukuan Persedian)

Bintang Dunia Manufacturing Corporation LAPORAN BEBAN POKOK PRODUKSI

Untuk Tahun yang Berakhir 31 Desember 200A (dalam 000)

Barang dalam proses, 1 Januari 200A Rp 18,000 Biaya Pembuatan selama tahun 200A Bahan baku yang dipergunakan Bahan baku 1 Januari 200A Rp 20,000 Pembelian bahan baku 171,000 Bahan baku yang tersedia untuk dipakai Rp 191,000 Dikurangi persediaan bahan baku 31 Desember 200A 119,000 Bahan baku yang dipakai dalam proses produksi Rp 72,000 Biaya tenaga kerja langsung 50,000 Biaya overhead pabrik;

Tenaga kerja tidak langsung Rp 16,000 Listrik 1,000 Utilitas lain-lain 400 Penghapusan atas mesin dan pabrik 10,000 Bahan pembantu yang dipergunakan 600 Assuransi pabrik 1,000 Overhead pabrik lainnya 1,000

Total biaya produksi Rp30,000 Total persediaan awal barang dalam proses ditambah biaya pembuatan yang terjadi dalam setahun Rp 170,000 Dikurangi barang dalam proses 31 Desember 200A 25,000 Beban pokok produksi yang tahun 200A Rp 145,000

Bintang Dunia Manufacturing Corporation LAPORAN BEBAN POKOK PENJUALAN

Untuk Tahun yang Berakhir 31 Desember 200A (dalam 000)

Persediaan barang jadi 1 Januari 200A Rp 21,000 Harga pokok barang yang dibuat dalam tahun 200A 145,000

Total harga pokok barang yang siap untuk dijual Rp166,000 Dikurangi persediaan barang jadi 31 Desember 200A 53,000

Beban pokok penjualan/barang yang dijual Rp113,000

38

Bintang Dunia Manufacturing Corporation LAPORAN LABA RUGI

Untuk Tahun yang Berakhir 31 Desember 200A (dalam 000)

Pendapatan Penjualan netto Rp200,000 Pendapatan lain-lain 20,000 Total pendapatan Rp220,000 Biaya Beban pokok penjualan Rp113,000 Biaya penjualan 40,000 Biaya umum dan administrasi 10,000 Total biaya Rp163,000 Laba bersih Rp 57,000 Laba bersih per lembar saham Rp 2,85

Ketiga unsur biaya yang terjadi dalam tahun 200A berjumlah Rp152,000. Ingatlah bahwa Rp 152,000 ini dipergunakan untuk melakukan dua hal: (1) sebagian biaya ini dipergunakan untuk menyelesaikan persediaan awal barang dalam proses produksi, dan (2) sisa lainnya dipergunakan untuk memulai dan menyelesaikan barang baru dan untuk memulai barang lainnya.

Untuk menyelesaikan laporan pabrikasi perusahaan harus

melakukan perhitungan fisik atas persediaan yang masih dalam proses pada 31 Desember 200A. Persediaan ini menunjukkan bahwa sebagian barang masih berada dalam proses, dengan total biaya sebesar Rp 25,000. Persediaan akhri barang dalam proses ini dikurangkan dari penjumlahan persediaan awal barang dalam proses dan penambahan biaya pabrikasi selama setahun untuk memperoleh harga pokok barang yang dibuat selama 200A. Perhatikan bahwa kalau barang dalam proses selesai dikerjakan, barang itu akan menjadi barang jadi.

Perhitungan Beban pokok penjualan Selanjutnya perhatikanlah skedul beban pokok penjualan. Perhitungan ini dimulai dengan persediaan awal barang jadi pada tanggal 1 Januari 200A Rp 21,000. Perusahaan mengetahui dari laporan pabrikasi bahwa barang jadi seharga Rp 145,000 telah dibuat selama 200A. Kalau kedua ini ditambahkan maka harga pokok barang yang tersedia untuk dijual akan berjumlah Rp 166,000. Perhitungan barang jadi secara fisik pada tanggal 31 Desember menunjukkan persediaan barang jadi berjumlah

39

Rp53,000. Dengan mengurangkan jumlah ini dari harga barng yang tesedia untuk dijual maka akan diperoleh harga pokok barang yang dijual sebesar Rp 113,000. Angka ini dimasukkan pada ikhtisar Laba Rugi sebagai biaya tahun 200A.

Perusahaan manufaktur yang menggunakan metode periodik

untuk membukukan operasi pabriknya mempunyai sejumlah prosedur akhir periode yang sama dengan yang saudara pelajari untuk perusahaan dagang.

RINGKASAN:

Komponen Beban pokok produksi adalah:

1. Bahan Langsung ( direct material ) 2. Tenaga Kerja Langsung ( direct labor ) 3. Biaya produksi Tak Langsung /Biaya overhead pabrik (Overhead)

PROSEDUR AKUNTANSI BIAYA (COST ACCOUNTING PROCEDURE) Aliran biaya dalam proses produksi (Flow of Manufacturing Cost)

1. Pencatatan biaya pembelian bahan baku sebagai bahan untuk diproses lebih lanjut, dan disimpan di gudang sebagai persediaan bahan baku

2. Pemrosesan/pengolahan bahan baku langsung dikombinasikan dengan upah langsung dan overhead pabrik sampai tahap di mana bahan baku tersebut menjadi barang dalam proses (Work in Process)

3. Mengubah barang dalam proses menjadi barang jadi (Finished Goods) kemudian memindahkan Finished Goods ke gedung sebagai persediaan barang jadi yang akan dijual.

4. Pemindahan Beban pokok penjualan (Cost of Goods Sold) dari Barang jadi.

Aliran biaya dalam proses produksi dapat ditunjukkan dalam bentuk akun T sebagaimana nampak pada ilustrasi berikut:

40

Bahan Baku

BB Langsung BB Tdk Lsg

Tenga Kerja

TK LsgTK Tdk Lsg

Overhead

Barang Dalam Proses

Barang Jadi

HPP / CGS

ISTILAH BARU (Glosari) Cost of goods sold computation – perhitungan beban pokok penjualan. Dalam sebuah perusahaan manufaktur, beban pokok penjualan dihitung sebagai berikut: persediaan awal barang jadi ditambah barang yang dibuat dalam setahun (menurut laporan pabrikasi) dikurangi dengan persediaan akhir barang jadi; juga dinamakan skedul beban pokok penjualan. Finished goods inventory – persediaan barang jadi. Sebuah asset lancar yang terdiri atas biaya yang terjadi dalam pembuatan produk perusahaan (mencakup bahan baku, biaya tenaga kerja langsung, dan biaya overhead pabrik); persediaan barang jadi terdiri dari produk yang telah siap, tapi belum lagi dijual pada tanggal neraca. Manufacturing statement – laporan pabrikasi. Sebuah laporan untuk manajemen yang menunjukkan harga pokok barang yang dibuat selama periode tersebut; persediaa awal barang dalam proses ditambah biaya pembuatan (bahan baku, tenaga kerja langsung, dan overhead) dikurangi dengan persediaan akhir persediaan dalam proses sama dengan harga pokok barang yang dihasilkan dalam periode tersebut. Raw material inventory – persediaan bahan baku. Suatu asset lancar yang terdiri dari bahan baku dan penolong yang dipergunakan dalam pembuatan produk perusahaan.

41

Schedule of factory overhead. Suatu laporan yang berisi semua perkiraan overhead pabrik yang terdapat pada buku pembantu overhead pabrik dengan saldonya; total saldo dari perkiraan ini harus cocok dengan saldo perkiraan overhead pabrik. Work in process inventory – persediaan barang dalam proses. Asset lancar yang terdiri dari biaya bahan baku, tenaga kerja langsung, dan biaya overhead pabrik yang terjadi dalam pembuatan produk yang masih belum selesai pada tanggal neraca; juga dinamakan persediaan barang dalam proses.

Tugas

Pertanyaan 1. Sebutkan jenis biaya pabrik yang tercakup dalam beban pokok

produksi. Jelaskan masing-masing jenis biaya ini!

2. Sebutkan apakah biaya-biaya di bawah ini termasuk sebagai biaya bahan baku, buruh langsung atau biaya overhead pabrik.

a. Kulit dalam pabrik sepatu b. Tukang jahit dalam perusahaan konveksi c. Cengkih dalam perusahaan rokok d. Buruh pengepakan dalam perusahaan rokok e. Buruh melinting dalam perusahaan rokok

3. Sebutkan tiga jenis persediaan yang ada dalam perusahaan pabrik! Jelaskan perbedaan antara ketiga jenis persediaan ini!

4. Jelaskan proses produksi yang terdapat dalam perusahaan pabrik dan hubungkan dengan kegiatan akuntansinya!

5. Bagaimana beban pokok produksi dalam sebuah pabrik dihitung? Hubungan antara data yang diperlukan dengan catatan akuntansi yang ada.

6. Jelaskan perbedaan antara bagan perkiraan untuk perusahaan dagang dengan perusahaan pabrik!

42

7. Jelaskan perbedaan antara jurnal penyesuaian yang dibuat untuk perusahaan pabrik dan perusahaan dagang!

8. Jelaskan perbedaan antara perhitungan Laba Rugi perusahaan pabrik dengan perusahaan dagang!

9. Informasi apa yang terdapat pada laporan pabrikasi? 10. Bagaimana cara menghitung harga pokok barang yang dijual pada

sebuah perusahaan manufaktur?

Latihan 1. Neraca percobaan Merida Plans Inc (data tertentu) pada 31

Desember 2007 adalah sebagai berikut: Persediaan bahan baku Rp 20.000.000,00 Pesediaan barang dalam proses 30.000.000,00 Persediaan barang jadi 15.000.000,00 Pembelian bahan baku 200.000.000,00 Biaya tenaga kerja langsung 98.000.000,00 Tenaga kerja tidak langsung 63.000.000,00 Tenaga listrik 3.000.000,00 Utilitas lainnya 1.000.000,00 Penyusutan – Pabrik dan mesin-mesin 9.000.000,00 Asuransi pabrik 2.000.000,00 Biaya penjualan 15.000.000,00 Biaya umum 12.000.000,00 Pesediaan akhir, menurut perhitungan secara fisik pada tanggal 31 Desember 2007 adalah: Bahan baku Rp 32.000.000,00 Barang dalam pengerjaan 36.000.000,00 Barang jadi 21.000.000,00

Diminta: Buatlah laporan pabrikasi untuk perusahaan tersebut untuk tahun

bersangkutan. Juga hitunglah jumlah beban pokok penjualan untuk 2007.

43

2. Data tertentu untuk operasi setahun dari Bell Company terlihat

seperti di bawah ini (dalam ribuan). Awal Akhir Bahan baku Rp 10,000 Rp 15,000 Barang dalam proses 31,000 25,000 Pesediaan barang jadi 50,000 51,000 Harga pokok barang yang dibuat Rp 200,000 Total biaya overhead pabrik 20,000 Total biaya tenaga kerja langsung 50,000 Diminta: Hitunglah total bahan baku yang dipergunakan dalam produksi . 3. Selesaikan kalimat di bawah ini a. Persediaan awal bahan baku ditambah dengan pembelian bahan

baku dikurangi dengan persediaan bahan baku sama dengan ……......................................................................

b. Harga pokok barang yang dibuat dikurangi dengan biaya bahan

baku yang dipergunakan dalam produksi dikurangi lagi dengan tenaga kerja langsung dikurangi pesediaan awal barang dalam proses ditambah persediaan akhir barang dalam proses sama dengan …….........................................................

c. Harga pokok barang yang dijual ditambah dengan pesediaan

akhir barang jadi dikurangi harga pokok barang yang dibuat sama dengan …….........................................................

d. Harga pokok barang yang dijual ditambah persediaan akhir barang jadi dikurangi pesediaan awal barang jadi sama dengan ……......................................................................

4. Laporan keuangan dan skedul pendukungnya untuk Bagong Inc.

melaporkan jumlah berikut ini untuk tahun 2007: Harga pokok barang yang dihasilkan Rp 213.000.000,00 Harga pokok barang yang dijual Rp 250.000.000,00

Diketemukan bahwa ketiga pesediaan ternyata salah karena penghitungan persediaan secara fisik yang dilakukan pada tanggal 31 Desember 2007 ternyata tidak efisien.

44

Persediaan akhir bahan baku terlalu kecil Rp 3.000.000,00 Persediaan barang dalam proses terlalu besar Rp 1.000.000,00 Persediaan barang jadi terlalu kecil Rp 5.000.000,00

Diminta:

Hitunglah angka yang tepat yang harus dilaporkan untuk harga pokok barang yang dihasilkan dan harga pokok barang yang dijual.

Soal (Kelompok A) 1. Hubungan antara berbagai item pada laporan pabrikasi dan ikhtisar

Laba Rugi. Data berikut adalah mengenai operasi manufaktur sebuah perusahaan untuk tahun 2007: Persediaan awal bahan baku Rp 50.000.000,00 Persediaan akhir bahan baku 40.000.000,00 Persediaan awal barang dalam proses 30.000.000,00 Persediaan akhri barang dalam proses 20.000.000,00 Persediaan awal barang jadi 100.000.000,00 Persediaan akhir barang jadi 80.000.000,00 Biaya overhead pabrik 120.000.000,00 Biaya tenaga kerja langsung 60.000.000,00 Pembelian bahan baku 100.000.000,00 Penjualan netto 500.000.000,00 Pendapatan lain 10.000.000,00 Total biaya (kecuali beban pokok penjualan) 100.000.000,00 Kerugian luar biasa 5.000.000,00

Jumlah rata-rata saham biasa yang beredar selama periode yang bersangkutan 10.000 lembar saham Diminta: Hitunglah yang berikut ini, perlihatkan semua perhitungannya. a. Bahan baku yang dipergunakan dalam produksi. b. Total biaya pabrikasi. c. Harga pokok barang yang dibuat. d. Beban pokok penjualan. e. Laba bersih sebelum laba/rugi biasa. f. Laba bersih per lembar saham. g. Laba kotor.

45

2. Pembuatan laporan pabrikasi dan ikhtisar Laba Rugi. Data di bawah ini adalah mengenai sebuah perusahaan manufaktur untuk 2007:

Jumlah rata-rata saham biasa yang beredar selama periode tersebut 20,000 lembar Penjualan barang jadi Rp 498.000.000,00 Penjualan retur dan potongan 10.000.000,00 Potongan penjualan 3.000.000,00 Persediaan awal bahan baku 47.000.000,00 Persediaan akhri bahan baku 41.000.000,00 Persediaan awal barang dalam proses 28.000.000,00 Persediaan akhir barang dalam proses 21.000.000,00 Persediaan awal barang jadi 80 000.000,00 Persediaan akhir barang jadi 81.000.000,00 Biaya overhead pabrik 100.000.000,00 Biaya tenaga kerja langsung 55.000.000,00 Pembelian bahan baku 118.000.000,00 Pendapatan jasa 21.000.000,00 Biaya penjualan 146.000.000,00 Biaya umum, administrasi, dan lainnya 49.000.000,00 Diminta: a. Buatlah sebuah laporan pabrikasi untuk perusahaan tersebut (Aji

Jaya Mulya Company). b. Buatlah skedul beban pokok penjualan. c. Buatlah sebuah ikhtisar Laba Rugi. 3. Laporan dan skedul pabrikasi; laporan keuangan. Buku besar Amin

Corporation untuk tahun yang berakhir 31 Desember 2007 menunjukkan perkiraan dan saldo berikut ini:

Kas Rp 9.000.000,00 Surat berharga 34.000.000,00 Piutang 15.000.000,00 Cadangan piutang ragu-ragu 1.000.000,00 Persediaan bahan baku 20.000.000,00 Persediaan barang dalam proses 15.000.000,00 Persediaan barang jadi 18.000.000,00 Assuransi dibayar di muka 2.000.000,00 Investasi jangka panjang 100.000.000,00 Pabrik dan mesin-mesin 300.000.000,00 Cadangan panghapusan 100.000.000,00

46

Utang 31.000.000,00 Utang biaya 8.000.000,00 Utang pajak pendapatan federal 2.000.000,00 Obligasi bayar 130.000.000,00 Wesel bayar jangka panjang 90.000.000,00 Saham biasa 60.000.000,00 Laba yang ditahan 25.000.000,00 Dividen 5.000.000,00 Penjualan 390.000.000,00 Penjualan retur dan potongan 11.000.000,00 Potongan penjualan 4.000.000,00 Pendapatan sewa 40.000.000,00 Pembelian bahan baku 150.000.000,00 Biaya tenaga kerja langsung 45.000.000,00 Biaya overhead pabrik 31.000.000,00 Biaya penjualan 30.000.000,00 Biaya umum, administrasi, dan lainnya 88.000.000,00 Informasi tambahan: Buku pembantu overhead pabrik menunjukkan saldo berikut ini:

Tenaga kerja tidak langsung Rp 10.000.000,00; bahan pembantu pabrikasi Rp 300.000,00; Listrik Rp 1.000.000,00; Penghapusan Rp11.000.000,00; Asuransi Rp 1.000.000,00; Biaya pabrikasi lainnya Rp 7.700.000,00; Penghitungan fisik atas persediaan menunjukkan bahwa pada tanggal 31 Desember 2007 terdapat saldo: Persediaan bahan baku Rp 12.000.000,00; Persediaan barang jadi Rp60.000.000,00; Persediaan barang dalam proses Rp50.000.000,00. Selama tahun tersebut, ada 20,000 saham biasa yang beredar.

Diminta: a. Buatlah laporan pabrikasi dalam bentuk yang baik. b. Buatlah skedul overhead pabrik. Bandingkan apakah total skedul

tersebut cocok dengan perkiraan biaya overhead pabrik yang terdapat pada buku besar.

c. Buatlah skedul beban pokok penjualan. d. Buatlah ikhtisar laba. e. Buatlah neraca dalam bentuk yang baik. Jangan lupa untuk

memasukkan persediaan akhir pada neraca. Saldo laba yang ditahan harus dihitung dengan menambahkan saldo awal dengan laba bersih dan dikurangi dengan dividen yang dibayarkan.

47

4. Pembuatan laporan pabrikasi dan ikhtisar Laba Rugi. Pembukuan Ajisoko Manufacturing Corporation menunjukkan data berikut untuk tahun yang berakhir 31 Desember 2007:

Biaya umum, administrasi, dan lainnya Rp25.000.000,00 Jumlah rata-rata saham biasa yang beredar dalam tahun tersebut

20,000 lembar. Penjualan barang jadi Rp 450.000.000,00 Penjualan retur dan potongan 10.000.000,00 Potongan penjualan 1.000.000,00 Biaya penjualan 100.000.000,00 Persediaan awal bahan baku 25.000.000,00 Persediaan akhir bahan baku 20.000.000,00 Persediaan awal barang dalam proses 14.000.000,00 Persediaan akhir barang dalam proses 10.000.000,00 Persediaan awal barang jadi 46.000.000,00 Persediaan akhir barang jadi 29.000.000,00 Pendapatan bunga 10.000.000,00 Pendapatan dividen 5.000.000,00 Biaya overhead pabrik 60.000.000,00 Biaya tenaga kerja langsung 40.000.000,00 Pembelian bahan baku 89.000.000,00 Diminta: a. Buatlah laporan beban pokok produksi. b. Buatlah laporan beban pokok penjualan. c. Buatlah ikhtisar Laba Rugi. 5. Hubungan antara berbagai item pabrikasi. Misalkan data berikut ini

mengenai sebuah perusahaan manufaktur untuk 2007. Jumlah rata-rata saham biasa yang beredar

selama tahun 2007 10,000 lembar Penjualan barang jadi Rp 175.000.000,00 Penjualan retur dan potongan 2.000.000,00 Potongan penjualan 1.500.000,00 Persediaan awal bahan baku 12.000.000,00 Persediaan akhir bahan baku 15.000.000,00 Persediaan awal barang dalam proses 7.000.000,00 Persediaan akhir barang dalam proses 9.000.000,00 Persediaan awal barang jadi 24.000.000,00

48

Persediaan akhir barang jadi 25.000.000,00 Biaya overhead pabrik 45.000.000,00 Biaya tenaga kerja langsung 30.000.000,00 Pembelian bahan baku 50.000.000,00 Pendapatan jasa 23.000.000,00 Biaya penjualan 10.000.000,00 Biaya umum, administrasi dan lainnya 11.000.000,00

Diminta: a. Dari informasi di atas, hitunglah yang berikut ini. Tunjukkan se-

mua perhitungan yang saudara lakukan. (1) Bahan baku yang dipergunakan dalam produksi. (2) Total biaya produksi. (3) Harga pokok barang barang jadi. (4) Beban pokok penjualan. (5) Laba bersih (6) Laba bersih per lembar saham. (7) Laba kotor. b. Buatlah laporan pabrikasi untuk perusahaan tersebut (Duren

Manufacturing Company). c. Buatlah skedul beban pokok penjualan. 6. Soal pabrikasi lengkap; laporan dan skedul. Roger Asnawi Inc telah

mengoperasikan sebuah pabrik untuk beberapa tahun. Perkiraan buku besar pada tanggal 31 Desember 2007 mempunyai saldo seperti terlihat berikut ini.

Kas Rp 15.000.000,00 Biaya umum dan administrasi 150.000.000,00 Surat berharga 60.000.000,00 Biaya penjualan 61.000.000,00 Piutang 30.000.000,00 Biaya overhead pabrik 65.000.000,00 Cadangan piutang ragu-ragu 2.000.000,00 Biaya tenaga kerja langsung 59.000.000,00 Persediaan bahan baku 40.000.000,00 Pembelian bahan baku 200.000.000,00 Persediaan barang dalam proses 30.000.000,00 Pendapatan sewa 30.000.000,00 Persediaan barang jadi 35.000.000,00 Potongan penjualan 7.000.000,00

49

Assuransi dibayar di muka 3.000.000,00 Penjualan retur dan potongan 20.000.000,00 Investasi jangka panjang 200.000.000,00 Penjualan 800.000.000,00 Pabrik dan mesin-mesin 700.000.000,00 Dividen 12.000.000,00 Cadangan penghapusan,pabrik & mesin-mesin 200.000.000,00 Laba yang ditahan 116.000.000,00 Saham biasa 130.000.000,00 Utang 40.000.000,00 Utang biaya 14.000.000,00 Wesel bayar jangka panjang 150.000.000,00 Utang pajak pendapatan federal 5.000.000,00 Obligasi bayar 200.000.000,00 Buku pembantu overhead pabrik menunjukkan saldo ini: Tenaga kerja tidak langsung Rp 20.000.000,00; bahan pembantu

pabrikasi yang dipakai Rp 600.000,00; tenaga listrik Rp2.000.000,00; penghapusan Rp20.000.000,00; asuransi atas pabrik Rp3.000.000,00 overhead pabrik lainnya Rp 19.400.000,00.

Persediaan akhir adalah: Bahan baku Rp 25.000.000,00; barang dalam proses

Rp100,000.000,00; barang jadi Rp 140.000.000.,00. Selama tahun tersebut ada 45.000 lembar saham biasa yang beredar.

Diminta: a. Buatlah laporan beban pokok produksi dalam bentuk yang baik. b. Buatlah skedul overhead pabrik. Bandingkanlah apakah total

skedul yang saudara buat cocok dengan saldo perkiraan biaya overhead pabrik yang terdapat pada buku besar.

c. Buatlah skedul beban pokok penjualan. d. Buatlah ikhtisar Laba Rugi. e. Buatlah neraca dalam bentuk yang baik. Jangan lupa

memasukkan persediaan akhir pada neraca. Saldo akhir laba yang ditahan dihitung dari saldo awal ditambah dengan laba bersih dikurangi dengan dividen.

P

BPRO(JOB

Pene

BEBAODUB OR

entuan Bia

Siste

Penerapa

50

AN PKSI

RDER

ya BerdasBiaya Berd

em Akunta

an Job Ord

0

POK

I PER CO

arkan Pesadasarkan P

ansi Biaya

der Costing

KOKSAN

OSTIN

anan dan Proses

Perpetual

g di Departe

K NANING)

Penentuan

emen

n

51

BEBAN POKOK PRODUKSI PESANAN (JOB ORDER COSTING)

Tujuan Tujuan bab ini adalah untuk menerangkan bagaimana biaya pabrikasi dapat dikendalikan dan dilaporkan dengan penggunaan sistem akuntansi biaya job order, sebuah sistem yang menggunakan metode perpetual untuk akuntansi persediaan. Dalam mempelajari sistem akuntansi biaya menurut job order, saudara perhatikan pada ketiga pertanyaan di bawah ini. • Apakah perbedaan pabrikasi yang meliputi produksi masal

dan produksi yang dilakukan berdasarkan pesanan tersendiri?

• Apakah struktur suatu sistem akuntansi biaya?

• Ayat jurnal harian dan pencatatan apa yang tersangkut

dalam suatu sistem akuntansi biaya berdasarkan pesanan/ job order?

52

Penentuan Biaya Berdasarkan Pesanan dan Penentuan Biaya Berdasarkan Proses Apakah perbedaan antara pabrikasi yang meliputi produksi masal dengan produksi yang dilakukan berdasarkan pesanan tertentu? Saudara telah mempelajari akuntansi pabrikasi di mana digunakan pelaporan persediaan secara periodik. Menurut sistem tersebut, pada akhir suatu jangka waktu operasi, penghitungan persediaan secara fisik harus dilakukan atas bahan baku, persediaan dalam proses, dan persediaan barang jadi. Kemudian, juga pada akhir periode, dibuat kalkulasi biaya barang yang dihasilkan (laporan beban pokok produksi). Berikutnya, harga pokok barang yang dijual dihitung untuk pembuatan ikhtisar Laba Rugi. Metode periodik ini mempunyai satu kelemahan utama. Kelemahan tersebut adalah bahwa biaya pabrikasi tidak dapat dilaporkan dengan mudah selama jangka waktu operasi. Biaya ditentukan secara periodik (pada akhir periode), tidak dilakukan terus menerus, yang mungkin diperlukan untuk pengendalian sehari-hari.

Sistem perpetual untuk mengendalikan biaya pabrikasi lebih banyak dipakai daripada metode periodik karena pengendalian biaya sehari-hari dapat dilakukan dengan sistem perpetual. Ada dua sistem akuntansi biaya perpetual, yaitu sistem akuntansi job order dan sistem akuntansi biaya berdasarkan proses.

Sistem job order dirancang untuk mengawasi biaya perusahaan

dalam menghasilkan atau mengerjakan masing-masing pekerjaan/ pesanan. Misalnya, sebuah cetakan berdasarkan pesanan mungkin akan menggunakan sistem akuntansi biaya berdasarkan pesanan pekerjaan. Sebuah cetakan berdasarkan pesanan mungkin akan menggunakan sistem akuntansi biaya berdasarkan pesanan pekerjaan. Sebuah perusahaan yang membuat perahu pesiar berdasarkan pesanan juga akan menggunakan sistem akuntansi biaya berdasarkan pesanan pekerjaan. Dalam sistem seperti itu catatan biaya tertentu dibuat untuk masing-masing pekerjaan. Catatan tersebut dengan demikian mengumpulkan informasi mengenai biaya bahan baku, tenaga kerja langsung, dan overhead pabrik untuk setiap pekerjaan. Harga jual pesanan dapat dibandingkan dengan total biaya pesanan tersebut; dan ketiga unsur biaya pesanan tersebut (bahan baku, tenaga kerja langsung, dan overhead pabrik) dapat dianalisa untuk keperluan pengawasan dan dapat dipergunakan sebagai dasar untuk menentukan harga pekerjaan yang sama dimasa datang.

Sistem akuntansi biaya berdasarkan proses dirancang untuk

mengawasi biaya bagi perusahaan yang menghasilkan barang secara

53

massal. Misalnya, industri pengolahan makanan dapat menghasilkan ribuah kaleng makanan dalam sehari. Tekanan pengawasan dalam pabrik ini bukanlah pada unit atau pekerjaan satu per satu (kaleng makanan) tapi tekanan diarahkan pada pengawasan proses operasi dalam pabrik. Sebuah pabrik yang menghasilkan komponen mobil secara massal, sebagai contoh, dapat dibagi menjadi empat departemen: departemen pemotongan, departemen trimming, departemen perakitan, dan departemen pengecatan. Dalam suatu sistem akuntansi biaya berdasarkan proses, catatan biaya dibuat menurut departemen (dan bukannya menurut masing-masing pesanan). Ketiga unsur biaya (bahan baku, tenaga kerja langsung, dan biaya overhead pabrik) dapat dianalisa dan dikendalikan untuk setiap departemen.

Perbedaan secara umum, karakteristik Penentuan harga pokok

pesanan dan proses, masing-masing metode tersebut dapat ditunjukkan sebagai berikut:

Metode Kalkulasi Harga Pokok (Cost

Accumulation Method) Biaya Pesanan (Job

Order Costing) Biaya Proses (Process

Costing)

Harga Pokok Biaya dikumpulkan untuk se-tiap pesanan/kontrak/jasa se-cara terpisah dan setiap pe-sanan/kontrak/ jasa dapat di-

pisahkan identitasnya

Biaya dikumpulkan untuk setiap/satuan waktu tertentu

Dasar kegiatan Pesanan langganan Budged produksi/skedul produksi

Tujuan Produksi Melayani pesanan Persediaan yang akan dijual

Sifat produksi Intermiten Kontinyu Bentuk produksi Tergantung spesifikasi peme-

san dan dapat dipisahkan identitasnya

Homogen/standar

Biaya produksi dikumpulkan

Setiap pesanan (sesuai de-ngan biaya yang dinikmati)

Setiap satuan waktu

Kapan biaya produksi dihitung

Pada saat pesanan selesai Pada akhir periode/satuan waktu

Harga pokok dihitung dengan

Harga pokok pesanan terten-tu dibagi Jumlah produk pe-

sanan

Harga pokok pada persen-tase tertentu dibagi jumlah produk pada periode ybs.

Contoh Percetakan, kontraktor me-bel, konsultan, kantor akun-

tan, karoseri dan lain-lain

Kertas, tekstil, botol, semen, air minum, petrokimia dll

54

Ilustrasi Sistem Akuntansi Biaya Perpetual Apakah struktur suatu sistem akuntansi biaya? Apakah perusahaan menggunakan sistem akunansi biaya menurut pesanan atau sistem akuntansi biaya berdasarkan proses, prosedur atau sistem akuntansi biaya berdasarkan proses, prosedur dasar tertentu untuk pengumpulan biaya adalah sama dalam kedua sistem tersebut. Ilustrasi JO-1 pada halaman berikut menunjukkan suatu sistem akuntansi biaya yang menggunakan persediaan perpetual. Perhatikan hubungan dari ketiga persediaan perpetual (bahan baku dan penolong, barang dalam proses, dan barang jadi) dan perkiraan lain yang tersangkut dalam sistem dasar ini. Pelajarilah dengan cermat diagram ini dan lihatlah kembali diagram ini pada saat saudara membaca sisa bagian ini.

Transaksi Perusahaan dan Pencatatannya Ayat jurnal harian dan pencatatan apa yang tersangkut dalam suatu sistem akuntansi biaya berdasarkan pesanan/job order? Bagian ini menerangkan secara terinci berbagai akuntansi biaya berdasarkan pesanan. Dengan menggunakan berbagai contoh, kita akan membahas ayat jurnal harian dan pembukuan yang terdapat dalam sistem ini. Akuntansi untuk bahan baku. Buku besar sebuah perusahaan manufaktur mencakup sebuah perkiraan persediaan yang dinamakan persediaan bahan baku dan penolong (perhatikanlah Ilustrasi JO-1). Perkiraan asset lancar ini biasanya mempunyai saldo debit pada awal dan akhir setiap masa pembukuan. Kalau sebuah perusahaan menggunakan berbagai jenis bahan aku dan penolong, sejumlah buku pembantu dapat dibuatu memberikan rincian perkiraan buku besar. Buku pembantu seperti itu biasanya dinamakan buku pembantu bahan baku atau buku gudang. Contoh buku gudang yang umum terdapat pada Ilustrasi JO-2.

Sebagai buku pembantu, buku gudang dapat dipakai untuk beberapa tujuan. Pertama, kartu tersebut berisi catatan kuantitas setiap bahan baku yang masih ada dalam pesediaan. Kedua, kalau kartu tersebut menunjukkan bahwa pesediaan telah mencapai suatu tingkat tertentu (titik pemesanan kembali), suatu pesanan dapat dilakukan untuk mengisi persediaan. Dan ketiga, buku gudang ini memberikan bukti tertulis bahwa semua bahan baku yang dibeli benar-benar dipergunakan dalam produksi.

55

Ilustrasi JO- 1

56

Kalau pabrik memerlukan bahan baku, suatu dokumen

sumber yang dinamakan bon permintaan bahan dibuat untuk memberikan wewenang pada petugas gudang untuk memindahkan bahan ke pabrik. Bon permintaan barang yang umum terlihat pada Ilustrasi JO-3

Ilustrasi JO-2

KARTU GUDANG

Stoc account no. ………………. Nama barang. …………………. Batas pemesanan kembali……………….. Lokasi dalam gudang………….. Jumlah pemesanan kembali………………

Tanggal Referensi

Diterima Dikeluarkan Saldo

Jumlah unit

Harga per unit

Total harga

Jumlah unit

Harga per unit

Total harga

Jumlah unit

Harga per unit

Total harga

Buat harian serba-serbi berikut ini menunjukkan dua ayat yang berkaitan dengan bahan baku dan bahan penolong.

2007 Agustus

28 Pesediaan bahan baku dan penolong 2,000 Utang 2,000 Dibeli bahan baku dan pembantu dari

Star Corporation, syarat 2/10, n/30.

30 Persediaan barang dalam pengerjaan 1,000 Biaya overhead pabrik 400 Bahan baku dan pembantu 1,400 Pemakaian bahan baku dan

penolong untuk produksi: Bon permintaan barang 904 sebesar Rp 1,000 dan bon permintaan barang 905 Rp 400.

Ayat jurnal pertama menunjukkan pembelian bahan baku dan pembantu secara kredit. Perkiraan persediaan bahan baku dan penolong didebit untuk pembelian tersebut sehingga saldo perkiraan tersebut dapat terus diikuti. Setiap kali perkiraan ini bertambah, buku pembantu (kartu barang) yang besangkutan juga bertambah. Misalnya, kalau pembelian sebesar Rp 2.000 terdiri atas Rp 200 komponen 123 dan Rp 1.800 komponen 435, maka Rp 200 akan dibukukan pada kartu barang 123 sebagian suatu penambahan (dalam

57

kolom ”diterima”) dan Rp 1.800 akan dibukukan pada kartu barang untuk komponen 435 seperti itu juga. Setiap saat, total semua saldo kartu gudang sama dengan saldo perkiraan persediaan bahan baku dan penolong di buku besar. Ilustrasi JO-3

BON PERMINTAAN BARANG

Diminta oleh ………………….…….. Bon permintaan barang no. ………………………….. (tanda tangan)

Diberikan oleh………………..Tanggal…………Dibebankan pada pekerjaan no…………… (tanda tangan)

Nomor kartu barang Nama barang Jumlah unit Harga per unit

Total harga

Ayat jurnal harian kedua menunjukkan pengeluaran bahan baku dan penolong sebesar Rp 1,400 ke pabrik dari gudang. Bon permintaan bahan merupakan dokumen sumber untuk mendukung ayat jurnal ini. Ayat tersebut menunjukkan bahwa bahan baku sebesar Rp 1.000 diserahkan untuk pekerjaan produksi. Oleh karena itu, perkiraan persediaan barang dalam proses didebit sejumlah itu. Kalau bahan tidak langsung dan pembantu (bahan yang tidak langsung dipergunakan dalam pembuatan produk) dikeluarkan, perkiraan overhead pabrik didebit. Saudara dapat menelusuri pengeluaran ini pada ilustrasi JO-1. Perhatikan bahwa perkiraan overhead pabrik merupakan suatu perkiraan sementara; saldonya akhirnya menjadi bagian dari persediaan barang dalam proses.

Buku pembantu juga harus dibuat untuk perkiraan persediaan barang dalam proses. Buku pembantu untuk persediaan dalam proses. Buku pembantu untuk persediaan dalam proses adalah kartu biaya pekerjaan atau buku pembantu biaya pekerjaan/Job cost card/Job cost sheet–kartu biaya pekerjaan. Ilustrasi JO-4 menunjukkan suatu kartu biaya yang umum. Sebuah kartu dibuat untuk setiap pekerjaan. Pada saat bahan baku diminta dan dipindahkan dari gudang untuk dipergunakan pada pekerjaan, perkiraan persediaan dalam proses didebit dan perkiraan persediaan bahan baku dan penolong dikredit (seperti diperlihatkan dalam contoh di atas). Setiap kali

58

persediaan dalam proses di debiet untuk bahan, kartu biaya pekerjaan yang bersangkutan dipakai untuk mencatat pemakaian bahan. Pasangan kolom yang pertama pada kartu biaya pekerjaan menunjukkan jumlah rupiah bahan yang dipakai dan referensi, biasanya nomor bon permintaan bahan.

Ilustrasi JO-4

KARTU BIAYA PEKERJAAN

Pekerjaan no…………………… Nama pekerjaan..........................................

……………………………………………………………………………………………… Tanggal dimulai……… selesai diperkirakan tanggal selesai tanggal..............

Bahan baku Tenaga kerja langsung

Overhead pabrik

Referensi Jumlah Referensi Jumlah Referensi Jumlah Total biaya pekerjaan: Bahan baku Komentar: Tenaga kerja langsung Overhead pabrik Harga jual pekerjaan

Contoh lain bentuk kartu job order dengan kolom-kolom yang telah terisi ditampakkan pada Ilustrasi JO-5 pada halaman berikut ini:

59

Ilustrasi JO-5

KARTU BIAYA PEKERJAAN/PESANAN Akuntansi untuk tenaga kerja langsung. Unsur biaya yang kedua, tenaga kerja langsung ditampang untuk sementara dalam suatu perkiraan yang dinamakan upah pabrik. Perhatikanlah kembali Ilustrasi JO-1. Ketika upah pabrik dipersiapkan, ayat berikut ini dibuat:

2007 Agustus

25 Upah pabrik 5,000 Pajak upah yang ditahan 400 Utang gaji 4,600

PT UsahadenganPabrikSendiri JobOrder

No 534 Malang

Untuk : SMKN 1 Alengka Tgl Pesan : 10/5/…. Produk : Kaos olahraga Tgl Mulai : 14/5/…. Spesifikasi : Sablon plastic Tgl Minta : 22/5/.... Banyaknya: 2 koli Tgl Selesai: 20/5/....

Bahan Baku Upah Langsung Biaya Overhead

Tanggal Jumlah Tanggal Jumlah Tanggal Jumlah

14/5/.... 19/5/.... 20/5/....

4.200.000

780.000 620.000

14/5/.... 17/5/.... 18/5/.... 19/5/.... 20/5/....

780.000 560.000 560.000 240.000 300.000

20/5/....

3.050.000

Jumlah 5.600.000

Jumlah 2.440.000 Jumlah 3.050.000

Bahan baku Rp 5.600.000 Harga jual Rp18.500.000 Upah Langsung 2.440.000 Biaya Pabrik Rp11.090.000 Biaya Overhead 3.050.000 Biy. Pemasaran 1.760.000 Jumlah Rp11.090.000 Biy. Adm. & Um. 1.250.000 Biy. Prod. & penjl. 14.100.000

60

Perkiraan upah pabrik mencakup biaya tenaga kerja langsung dan biaya tenaga kerja tidak langsung (gaji pengawas yang berkaitan dengan semua pekerjaan dan karena itu dianggap biaya overhead pabrik). Oleh karena itu upah pabrik selanjutnya dianalisa dan diklasifikasikan menjadi dua kategori tenaga kerja. Ayat jurnal yang dibuat:

2007 Agustus

25 Persediaan barang dalam pengerjaan 4,000 Overhead pabrik 1,000 Upah pabrik 5,000

Untuk memindahkan saldo upah pabrik pada kartu pekerjaan (untuk biaya tenaga kerja langsung) dan

pada overhead pabirk.

Perkiraan sementara, upah pabrik, dikurangi menjadi nol dengan ayat tersebut. biaya tenaga kerja langsung ditentukan sebesar Rp 4,000; oleh karena itu jumlah ini jumlah ini didebitkan langsung pada perkiraan persediaan barang dalam proses, yang akhirnya akan menjadi bagian dari persediaan barang dalam proses. Setiap kali perkiraan persediaan barang dalam proses didebit untuk tenaga kerja langsung, kartu biaya pekerjaan pendukungnya harus diperbarui. Biaya tenaga kerja langsung dipindahbukukan ke kartu biaya pekerjaan untuk pekerjaan yang bersangkutan. Misalnya, andaikan bahwa biaya tenaga kerja langsung sebesar Rp 4,000 dipergunakan sebagai berikut: Rp 1,000 untuk pekerjaan 241, Rp 500 untuk pekerjaan 244, dan Rp 2,500 untuk pekerjaan 600. dalam hal ini setiap jumlah harus dipindahkan pada kartu pekerjaan yang bersangkutan. Akuntansi untuk overhead pabrik. Seperti terlihat pada Ilustrasi JO-1, perkiraan overhead pabrik adalah suatu perkiraan sementara yang dipergunakan untuk mengumpulkan biaya overhead sebelum biaya ini menjadi bagian dari persediaan barang dalam proses. Perkiraan overhead pabrik didebit untuk: 1. Semua bahan tidak langsung yang dipergunakan dalam pabrik. 2. Semua biaya tenaga kerja tidak langsung. 3. Biaya overhead pabrik lainnya seperti tenaga listrik, penghapusan

pabrik dan mesin-mesin, asuransi pabrik dan lain-lain. Pada waktu biaya overhead pabrik lainnya menjadi beban, perkiraan overhead pabrik didebit dan perkiraan kas, utang, cadangan

61

penghapusan atau perkiraan lainnya yang bersangkutan dikredit, tergantung pada keadaan. Kebanyakan perusahaan juga membuat perkiraan pembantu untuk overhead juga membuat perkiraan pembantu untuk overhead pabrik. Perkiraan pembantu ini mempunyai satu kartu untuk setiap jenis overhead. Setiap kali persediaan overhead pabrik pada buku besar didebit, perkiraan pembantu yang bersangkutan juga didebit untuk membuat catatan yang terinci mengenai komposisi biaya overhead.

Perhatikanlah Ilustrasi JO-1 bahwa perkiraan overhead pabrik

dikredit dan perkiraan persediaan barang dalam proses didebit untuk memindahkan biaya overhead pabrik ke barang dalam proses. Suatu ayat buku harian dibuat untuk membukukan pemindahan ini seperti berikut:

2007 Agustus

25 Persediaan barang dalam proses 3,000 Biaya overhead pabrik 3,000 Untuk membebankan overhead

pabrik pada pekerjaan yang bersangkutan

Proses pemindahan biaya overhead pada barang dalam proses biasanya dilakukan berdasarkan taksiran karena manajemen tidak dapat menunggu sampai akhir periode ketika semua biaya overhead telah terjadi dan dibukukan. Kartu biaya pekerjaan harus dibukukan setiap hari supaya total dapat diawasi secara efektif. Misalnya, beberapa pekerjaan mungkin diselesaikan dalam pabrik setiap hari. Total biaya untuk setiap pekerjaan ini harus dihitung sebelum semua biaya overhead dibukukan untuk bulan yang bersangkutan (biaya tenaga listrik, misalnya). Salah satu cara yang umum memperkirakan biaya overhead yang dibebankan pada pekerjaan dapat dijelaskan dengan contoh ini. Misalkan bahwa sebuah perusahaan memperkirakan akan mengeluarakan biaya tenaga kerja langsung sebesar Rp 50,000 dalam melakukan pekerjaannya pada masa pembukuan yang akan datang. Angka ini merupakan perkiraan terbaik yang dapat dibuat oleh manajemen. Perkiraan ini didasarkan pada informasi yang tersedia mengenai pekerjaan yang akan dikerjakan dan biaya tenaga kerja langsung. Selanjutnya, diandaikan bahwa perusahaan memperkirakan akan mengeluarkan biaya overhead apbrik sebesar Rp 40,000 dalam jangka waktu yang sama. angka ini juga merupakan perkiraan terbaik yang dapat dibuat oleh manajemen. Jika perkiraan ini wajar, maka dapat disimpulkan bahwa: untuk setiap rupiah tenaga kerja langsung, diperkirakan biaya overhead akan sebesar 80 rupiah. Artinya, biaya

62

overhead pabrik diharapkan berjumlah 80% dari biaya tenaga kerja langsung. Dalam bentuk persamaan:

Tarip biaya overhead = langsungjatenagabiayaPerkiraanpabrikoverheadbiayaPerkiraan

ker

= %80000,50000,40

=RpRp

Tarip biaya overhead dapat dipergunakan sebagai dasar untuk memindahkan biaya overhead pabrik kepekerjaan dalam proses dan pada kartu biaya pekerjaan. Misalnya, kalau biaya tenaga kerja langsung untuk satu hari berjumlah Rp 1000, maka biaya overhead pabrik adalah diperkirakan berjumlah Rp 800 (80% dari Rp 1000). Ayat debit akan dimasukan pada perkiraan persediaan barang dalam proses (dan juga ke kartu biaya pekerjaan) sebesar Rp 800 dan kredit pada perkiraan overhead pabrik. Banyak perusahaan juga menghitung biaya tenaga kerja langsung untuk pekerjaan setiap hari sehingga angka biaya yang paling akhir dapat dipergunakan untuk pengawasan. Pada akhir masa pembukuan, jika perkiraan yang dibuat benar, sisi debit perkiraan overhead pabrik akan berjumlah Rp 40,000, biaya overhead pabrik yang benar-benar terjadi; dan sisi kredit perkiraan biaya overhead pabrik juga akan berjumlah Rp 40,000 (dihitung 80% dari biaya tenaga kerja langsung sebesar Rp 50,000). Tentu saja, perkiraan yang dibuat akan berbeda sedikit dari waktu ke waktu. Unit berikutnya akan menjelaskan pengaruh akuntansi dari setiap saldo perkiraan biaya overhead pabrik yang tersisa pada akhir masa pembukuan. Akuntansi untuk barang yang telah selesai. Kalau suatu pekerjaan telah selesai, kartu biaya pekerjaan tersebut menunjukkan total biaya pekerjaan tersebut, meliputi bahan baku, tenaga kerja langsung, dan overhead pabrik. Pekerjaan tersebut sekarang merupakan bagian dari barang jadi dan siap untuk dijual. Misalnya, andaikan bahwa pekerjaan 484 telah selesai dengan total biaya sebesar Rp 3,218. ayat jurnal untuk menujukkan penyelesaian pekerjaan adalah: 2007 Agustus

30 Persediaan barang jadi 3,218 Persediaan barang dalam

proses 3,218

Penyelesaian pekerjaan 484

63

Kartu biaya pekerjaan (No.484) akan dipindahkan dari buku pembantu yang menunjang persediaan barang dalam proses dan disimpan untuk keperluan di masa datang. Buku pembantu barang jadi akan dibuat untuk mendukung perkiraan persediaan barang jadi. Kartu biaya pekerjaan yang telah selesai dapat dipergunakan untuk ini. Akuntansi untuk penjualan pesanan. Jika pekerjaan No. 484 dijual dengan harga Rp 4,000, ayat berikut akan dibuat: 2007 September

1 Beban pokok penjualan barang 3,218 Persediaan barang jadi 3,218 Piutang 4,000

Penjualan 4,00 Dijual pekerjaan 484, harga pokok

Rp 3,218, seharga Rp 4,000

RINGKASAN :

Prosedur Akuntansi Biaya Job Order Costing.

Ayat jurnal yang perlu dibuat dalam jurnal umum dengan menggunakan metode buku adalah sebagai berikut:

1. Bahan Baku:

a. Pembelian Bahan Baku :

Persediaan Bahan Baku XX Hutang Dagang XX

b. Pemakaian Bahan Baku:

Persediaan Barang Dalam Proses XX Persediaan Bahan Baku XX

2. Tenaga Kerja Langsung

Biaya Gaji XX Hutang pajak karyawan XX Hutang asrns. Tenaga kerja XX

Hutang Gaji XX

64

3. Overhead Pabrik:

Penentuan Tarif dan Prosedur Akuntansi Overhead Pabrik:

1. Menyusun anggaran biaya overhead pabrik dan Memilih dasar pembebanan biaya overhead pabrik ke masing-masing pesanan.

2. Menghitung tarif overhead pabrik dengan:

Total Anggaran Biaya Overhead Tarif Biaya Overhead Pabrik =

Anggaran Kapasitas yg digunakan

3. Mencatat pembebanan overhead ke masing-masing

pesanan

4. Mencatat overhead sesungguhnya dan menutup rekening overhead sesungguhnya

5. Mencatat selisih pembebanan biaya overhead pabrik berdasarkan tarif yang ditentukan di muka

Penerapan Job Order Costing di Departemen Prosedur akuntansi biayanya sebagai berikut:

1. Biaya produksi dikelompokkan untuk setiap departemen di mana pesanan diolah atau diproses, biaya produksi setiap departemen tersebut digolongkan untuk setiap elemen biaya.

2. Tarip biaya overhead yang dibebankan pada setiap pesanan ditentukan untuk setiap departemen

3. Harga pokok pesanan yang sudah selesai dikerjakan pada departemen tertentu ditransfer ke departemen berikutnya di mana pesanan diolah

4. Harga pokok pesanan yang sudah selesai penuh ditransfer ke persediaan barang jadi(finished goods).

Rekening buku besar biaya sesungguhnya, biaya overhead yang dibebankan, selisih biaya overhead harus diselenggarakan untuk setiap departemen.

65

ISTILAH BARU (Glosari) Factory overhead – overhead pabrik. Suatu perkiraan sementara yang dipergunakan dalam suatu sistem akuntansi biaya untuk menampung semua biaya overhead pabrik, meliputi tenaga kerja tidak langsung, bahan tidak langsung dan bahan penolong, dan biaya tidak langsung lainnya; saldo perkiraan ini dipindahkan setiap periode ke perkiraan persediaan barang dalam proses. Factory overhead rate – tarip biaya overhead pabrik. Sering dinyatakan dalam bentuk perrupiahtase sehingga biaya overhead pabrik yang diperkirakan merupakan taksiran dari biaya tenaga kerja langsung; tarip ini dipergunakan untuk membebankan biaya overhead pabrik pada pekerjaan; Persediaan barang dalam proses didebit dan perkiraan overhead pabrik dikredit untuk memindahkan biaya overhead pada masing-masing pekerjaan dan pada perkiraan persediaan barang dalam proses; biaya overhead pabrik yang benar-benar terjadi tidak dipindahkan pada perkiraan barang dalam proses ini tidak dilakukan karena jumlah yang sebenarnya tidak diketahui dengan pasti selama periode operasi. Factory payroll – upah pabrik. Sebuah perkiraan sementara yang dipergunakan dalam suatu sistem akuntansi biaya untuk menampung semua biaya upah operasi manufaktur; saldo perkiraan terdiri atas biaya tenaga kerja langsung dan biaya tenaga kerja tidak langsung; biaya tenaga kerja langsung dipindahkan pada perkiraan persediaan barang dalam proses dan biaya tenaga kerja tidak langsung menjadi bagian dari biaya overhead pabrik, yang selanjutnya menjadi bagian dari barang dalam proses. Job cost card – kartu biaya pekerjaan. Buku pembantu yang dipergunakan untuk mendukung perkiraan persediaan barang dalam proses dalam suatu sistem akuntansi biaya berdasarkan pekerjaan; kartu biaya pekerjaan juga dinamakan buku pembantu barang dalam proses, lihat ilustrasi dalam unit ini. Job order cost accounting – akuntansi biaya berdasarkan pesanan pekerjaan. Suatu sistem akuntansi yang mempergunakan persediaan perpetual untuk biaya pabrik, di mana dibuat catatan tertentu untuk masing-masing pekerjaan atau pesanan yang dibuat pada pabrik tersebut. Material requisition – bon permintaan barang. Otorisasi tertulis untuk memindahkan bahan dari gudang ke pabrik; dokumen sumber ini memberikan suatu catatan mengenai semua pemindahan bahan

66

baku dan bahan penolong dari gudang (bahan baku dan perkiraan persediaan) ke pabrik (perkiraan barang dalam proses atau perkiraan overhead pabrik). Process cost accounting – akuntansi biaya berdasarkan proses. Suatu sistem akuntansi persediaan perpetual, di mana biaya ditampung dan catatan dibuat menurut departemen atau proses yang dilakukan dalam pabrik; cocok untuk operasi dengan produksi massal. Stores ladger – kartu gudang. Buku pembantu untuk mendukung perkiraan bahan baku dan bahan penolong.

Contoh soal dan penyelesaiannya;

1. Budget overhead ditaksir untuk 1 tahun = Rp. 13.200.000,-

Taksiran kapasitas = 75.000 jam kerja langsung

Kapasitas sesunguhnya adalah = 6.000 jam kerja langsung yang

terdiri dari:

1. pesanan no. 01 = 2.500 jkl 2. pesanan no. 02 = 1.500 jkl 3. pesanan no. 03 = 2.000 jkl

Overhead sesungguhnya:

- bahan baku tdk langsung Rp. 480.000,- - tenaga kerja tdk langsung Rp. 320.000,-

- pajak atas gaji dan upah Rp. 327.360,- - penyusutan mesin pabrik RP. 54.560,- - biaya asuransi Rp. 41.280,-

Rp. 1.223.200,-

Dari contoh di atas Penentuan Tarif dan Prosedur Akuntansi Overhead Pabrik adalah sebagai berikut;

67

1. Menyusun anggaran biaya overhead pabrik dan memilih dasar pembebanan biaya overhead pabrik ke masing-masing pesanan.

2. Menghitung tarif overhead pabrik dengan:

Total Anggaran Biaya Overhead Tarif Biaya Overhead Pabrik =

Anggaran Kapasitas yg digunakan

3. Mencatat pembebanan overhead ke masing-masing

pesanan

4. Mencatat overhead sesungguhnya dan menutup rekening overhead sesungguhnya

5. Mencatat selisih pembebanan biaya overhead pabrik berdasarkan tarif yang ditentukan di muka

Dari prosedur di atas dapat dihitung tarif biaya overhead dan pencatatannya sebagai berikut:

Total Anggaran Biaya Overhead

1) Tarif Overhead Pbrk = Anggaran Kapasitas yuang digunakan

13.200.000,-

= = Rp. 176,-/ Jkl 75.000 Jkl

2) Mencatat pembebanan biaya Overhead pabrik untuk ma-

sing-masing pesanan:

1. pesanan no. 01 = 2.500 jkl x Rp. 176,- = Rp. 440.000,- 2. pesanan no. 02 = 1.500 jkl x Rp. 176,- = Rp. 264.000,- 3. pesanan no. 03 = 2.000 jkl x Rp. 176,- = Rp. 352.000,-

Rp. 1.056.000,-

Barang dalam proses pesanan no. 01 Rp. 440.000,- Barang dalam proses pesanan no. 02 Rp. 264.000,- Barang dalam proses pesanan no. 03 Rp. 352.000,-

Biaya Overhead (yang dibebankan) Rp. 1.056.000,-

68

3) Mencatat Biaya Overhead Sesungguhnya

Biaya Overhead Sesungguhnya Rp. 1.223.200,- Bahan baku tdk langsung Rp. 480.000,- Tenaga kerja tdk langsung Rp. 320.000,- Pajak atas gaji dan upah Rp. 327.360,- Penyusutan mesin pabrik Rp. 54.560,- Biaya asuransi Rp. 41.280,-

4) Menutup rekening overhead sesungguhnya:

Biaya Overhead (yang dibebankan) Rp. 1.056.000,- Biaya Overhead Sesungguhnya Rp. 1.056.000,-

5) Mencatat selisih pembebanan overhead

Selisih Biaya Overhead Rp. 167.200,- Biaya Overhead sesungguhnya Rp. 167.200,-

6) Menutup selisih overhead ke C G S/ Beban pokok penjualan

Beban pokok penjualan/CGS Rp. 167.200,- Selisih Biaya Overhead Rp.167.200,-

2. PT " Aji Jaya Mulya " menggunakan Tarip overhead yang ditentukan di muka dalam membebankan biaya overhead. Overhead dibebankan berdasarkan jam kerja langsung di departement I dan berdasarkan jam mesin di departemen II.

Pada awal bulan Mei tahun 200A diestimasikan :

Departemen I Departemen II

Jam Kerja Langsung 100.000 20.000 Jam Mesin 10.000 35.000 Biaya TK Langsung 720.000,- 152.000,- Biaya Overhead 240.000,- 156.800,-

Dari catatan akuntansi PT, data yg dilaporkan untuk pesanan No.11 selama bulan Mei tahun 200A sbb:

Departemen I Departemen II

Jam Kerja Langsung 125 50 Jam Mesin 10 205 Biaya BB Langsung 1.288,- 2.400,- Biaya TK Langsung 900,- 320,-

69

DIMINTA:

a. Hitung Tarip overhead yang ditentukan di muka untuk setiap departemen

b. Hitung total harga pokok untuk pesanan no: 11 dan harga pokok per unit jika pesanan no: 11 sebanyak 50 unit.

Jawaban Soal no: 2.

a. Tarif Overhead per Departemen sbb:

Dept.I berdasarkan Jam Kerja Langsung

= Biaya Overhead yang diestimasikan 240.000 = 2,4 per JKL Jam Kerja Langsung 100.000

Dept I berdasarkan Jam Mesin

= Biaya Overhead Yang diestimasikan 156.800 = 4,48 per JM Jam Mesin 35.000

b.Total biaya untuk pesanan no: 11

DEPT.I DEPT.II Total Biaya

Biaya BBLangsung 1.288 2.400 3.688 Biaya TK Langsung 900 320 1.220 Biaya Overhead 300* 918,4** 1.218,4 Total Biaya 2.488 3.638,4 6.126,4

* 125 x 2,4 = 300

** 205 x 4,48 = 918,4 6.126,4 Harga Pokok per unit pesanan no. 11 = = 122,528 50

70

2. Transaksi keuangan dari PT “Surya Dunia Abadi“ bulan Desember 200A. sbb:

1. Bahan baku untuk mengolah: 1.000 unit pesanan No. 0001, 200 unit pesanan No. 0002, dan 100 unit pesanan No. 0003

Pesanan No. Departemen I Departemen II Jumlah

0001 Rp. 4.000.000 Rp. - Rp. 4.000.000 0002 10.000.000 6.000.000 16.000.000 0003 2.000.000 - 2.000.000 Jumlah 16.000.000 6.000.000 22.000.000

2. Biaya tenaga kerja langsung yang terjadi pada periode tersebut

Order No.

Departemen I Departemen II Departemen III Jumlah

0001 Rp. 4.000.000 Rp. 2.000.000 Rp. 3.000.000 Rp. 9.000.000 0002 4.000.000 5.000.000 3.000.000 12.000.0000003 2.000.000 1.000.000 - 3.000.000

Jumlah 8.000.000 8.000.000 6.000.000 24.000.000

3. Biaya overhead dibebankan ke pesanan atas dasar tarip yang dihitung pada awal Desember:

Departemen Dasar Tarip Satuan

I Jam mesin Rp. 200 per jam II Jam mesin Rp. 400 per jam III BTKL 50% dari BTKL

4. Jam Mesin dan biaya sesungguhnya pada setiap departemen sbb:

Departemen Jam Mesin Overhead Sesunguhnya

I 40.000 Rp. 7.800.000 II 25.000 Rp. 6.100.000 III - Rp. 2.950.000

71

5. Pemakaian jam mesin di departemen I dan II

Pesanan no Departemen I Departemen II

I 15.000 jam 9.000 jam II 20.000 jam 10.000 jam III 5.000 jam 6.000 jam

6. Pesanan No. 0001 dan 0002 telah selesai dan langsung diserahkan kepada pemesan, Pesanan No. 0003 telah selesai di departemen II dan sudah ditransfer ke departemen III .

Diminta:

Buat jurnal untuk mencatat transaksi tersebut dan buatlah Job Cost Card/Job Cost Sheetnya.

JAWABAN:

1. BDP - Bahan Baku Dept. I Rp. 16,000.000,- BDP - Bahan Baku Dept. II Rp. 6.000.000,- Bahan Baku Rp. 22.000.000,-

2. BDP - TKLangsung Dept. I Rp. 10,000.000,- BDP - TKLangsung Dept. II Rp. 8.000.000,- Gaji dan Upah Rp. 24.000.000,-

3. BDP – Overhead Dept. I Rp. 8.000.000,- BDP – Overhead Dept. II Rp. 10.000.000,- BDP – Overhead Dept. III Rp. 3.000.000,- . Overhead Dept. I Rp. 8.000.000,- Overhead Dept. II Rp. 10.000.000,- Overhead Dept. III Rp. 3.000.000,-

4. Overhead Sesungguhnya Dept. I Rp. 7.800.000,- Overhead Sesungguhnya Dept. II Rp. 6.100.000,- Overhead Sesungguhnya Dept. III Rp. 3.000.000,- Bermacam-macam Kredit Rp. 16.850.000,-

72

5. Overhead dibebankan Dept. I Rp. 8.000.000,- Overhead dibebankan Dept. II Rp. 10.000.000,- Overhead dibebankan Dept. III Rp. 3.000.000,- Overhead Sesungguhnya Dept. I Rp. 8.000.000,- Overhead Sesungguhnya Dept. II Rp. 10.000.000,- Overhead Sesungguhnya Dept. III Rp. 3.000.000,-

6. Overhead Sesungguhnya Dept. I Rp. 200.000,- Overhead Sesungguhnya Dept. II Rp. 3.900.000,- Overhead Sesungguhnya Dept. III Rp. 50.000,- Selisih Overhead Dept. I Rp. 200.000,- Selisih Overhead Dept. II Rp. 3.900.000,- Selisih Overhead Dept. III Rp. 50.000,- 7. Selisih Overhead Rp. 4.150.000,-

LR/ BDP/ CGS ) Rp. 4.150.000,-

Job Cost Sheet

Dept. 001 002 003 Total

Dept. I BB Langsung TK Lansung Overhead

4 4 3

10 4 4

2 2 1

16 10 8

11 18 5 34

Dept. II BB Langsung TK Lansung Overhead

- 2

3,6

6 5 4

- 1

2,4

6 8

10 5,6 15 3,4 24

Dept. III BB Langsung TK Lansung Overhead

- 3

1,5

- 3

1,5

- - -

- 6 3

4,5 4,5 - 9

Total 21,1 37,5 8,4 67

73

Bahan Untuk Tugas Pertanyaan 1. Bandingkan akuntansi biaya berdasarkan proses dan yang

berdasarkan pesanan. 2. Ayat apa yang dibuat dalam suatu sistem akuntansi biaya

berdasarkan pesanan kalau bahan baku dibeli? Kalau bahan baku dipergunakan untuk pekerjaan?

3. Bagaimanakah cara pembukuan dan distribusi upah pabrik? 4. Ayat buku harian apakah yang berkaitan dengan prasrana pabrik

dalam suatu sistem pesanan pekerjaan? 5. Untuk setiap perkiraan buku besar dalam sistem pesanan

pekerjaan yang terdapat di bawah ini, tunjukkan nama buku pembantu yang dipergunakan untuk mengumpulkan informasi terinci mengenai perkiraan tersebut:

a. Persediaan bahan baku dan bahan penolong. b. Persediaan barang dalam proses. c. Persediaan barang jadi. d. Overhead pabrik. 6. Jelaskanlah fungsi setiap dokumen berikut yang dipergunakan

dalam suatu sistem akuntansi biaya berdasarkan pesanan pekerjaan:

a. Kartu gudang. b. Bon permintaan barang. c. Kartu biaya pekerjaan.

LATIHAN 1. Buatlah ayat jurnal harian untuk membukukan transaksi berikut ini.

Perusahaan menggunakan sistem pembukuan biaya menurut pesanan pekerjaan.

74

a. Dibeli 1000 unit bahan baku seharga Rp 13,100 tunai. b. Dikeluarkan 250 unit bahan baku untuk pesanan pekerjaan

seharga Rp 2,000 bon permintaan barang no.200. c. Diserahkan bahan pembantu seharga Rp 700 untuk pemakaian

dalam pabrik, bon permintaan barang no. 201. d. Upah pabrik berjumlah Rp 10,000 (upah tenaga kerja langsung

berjumlah Rp 7,500). Pajak Pendapatan yang dipotongkan Rp 200.

e. Pindahkan saldo perkiraan upah pabrik. 2. Buatlah ayat pembukuan dalam bentuk buku harian serba-serbi

untuk membukukan transaksi berikut ini. Perusahaan menggunakan sistem pembukuan biaya menurut pesanan pekerjaan.

a. Misalkan bahwa sebuah perusahaan memperkirakan biaya

prasrana pabrik sebesar Rp 75,000 selama periode tersebut dan Rp 100,000 biaya tenaga kerja langsung. Hitunglah tarip biaya overhead.

b. Biaya tenaga kerja langsung untuk sehari berjumlah Rp 2,000.

Pergunakanlah tarip tersebut yang telah saudara hitung pada pertanyaan a untuk menghitung dan membukukan biaya overhead pabrik.

c. Andaikan bahwa pekerjaan 600 telah selesai dengan seluruh

biaya berjumlah Rp 7,110. d. Pekerjaan 600 dijual dengan harga Rp 7,500, kredit. 3. Bukukanlah transaksi berikut. Perusahaan menggunakan sistem

pembukuan biaya menurut pesanan pekerjaan. Pergunakanlah sistem perpetual.

a. Dibeli bahan baku seharga Rp 5,000 tunai. b. Dikeluarkan bahan baku untuk pekerjaan pabrik Rp 2,000.

75

c. Dikeluarkan bahan pembantu Rp 500 untuk pemakaian di pabrik.

d. Dibayarkan upah sebesar Rp 20,000 (biaya tenaga kerja

langsung berjumlah Rp 11,000). Pajak Pendapatan yang dipotongkan Rp 200.

e. Pindahkan saldo perkiraan upah pabrik. f. Tarip biaya overhead yang dipakai adalah 75% dari biaya

tenaga kerja langsung. g. Pekerjaan yang telah selesai. Biaya bahan baku berjumlah Rp

300 dan biaya tenaga kerja langsung berjumlah Rp 500. pindahkanlah pekerjaan tersebut ke barang jadi.

h. Dijual pekerjaan tersebut seharga Rp 2,500 dengan syarat

2/15, n/60. 4. Narno Corporation menggunakan sistem pembukuan biaya

menurut pesanan pekerjaan. Buatlah ayat jurnal harian untuk membukukan transaksi berikut ini.

a. Upah pabrik bejumlah Rp 38,000 untuk minggu tersebut. Pajak

Pendapatan yang dipotongkan Rp 1,990, dan pajak pendapatan Rp 4,260.

b. Dipindahkan saldo upah pabrik: 90% upah pabrik merupakan

biaya tenaga kerja langsung, dan sisanya merupakan biaya tenaga kerja tidak langsung.

c. Dibeli 131.500 unit bahan baku A dari Star Company, dengan

syarat 2/10, n/30, seharga Rp 30,630. d. Dikeluarkan bahan untuk paham produksi sebagai berikut: a141 Bahan baku A untuk pekerjaan 216 2,600 a142 Bahan baku B untuk pekerjaan 201 4,000 a143 Bahan pembantu 1,500 a143 Bahan permintaan barang e. Bebankan biaya overhead pabrik pada barang dalam

pengerjaan. Tarip overhead adalah 62% dari biaya tenaga kerja langsung.

f. Dibayar tagihan bulanan keperluan pabrik Rp 1,072.

76

g. Dibayar biaya asuransi untuk pabrik Rp 1,000 h. Diselesaikan pesanan/ pekerjaan 211. Kartu biaya pekerjaan

untuk nomor 211 menunjukkan total biaya sebagai berikut: Bahanbaku Rp 10,000 Tenaga kerja langsung 12,000 Biaya overhead dibebankan pada semua pekerjaan dengan

tarip 62%. i. Dijual pekerjaan 211 seharga Rp 40,000 tunai. Lihat h. j. Dijual pekerjaan 214 seharga Rp 24,000 dengan syarat 1/10,

n/30. Kartu biaya pesanan/ pekerjaan 214 menunjukkan total biaya Rp 16,900, meliputi tenaga kerja langsung, bahan baku, dan overhead pabrik.

SOAL (KELOMPOK A) 1. Ayat pesanan pekerjaan. Buatlah ayat pembukuan dalam buku

harian serba-serbi untuk transaksi berikut ini. Perusahaan menggunakan sistem pembukuan biaya menurut pesanan /pekerjaan.

a. Dibeli 10.000 unit bahan baku X dari ABC Company dengan

syarat 2/10, n/30 seharga Rp 4,320. b. Dikeluarkan bahan baku dan penolong sebagai berikut: (1) Bahan baku X untuk dipergunakan pada pekerjaan 241;

harga Rp 1,000; bon permintaan bahan no. 1040. (2) Bahan pembantu untuk dipergunakan bagi perkiraan umum

Rp 141; Bon permintaan bahan 1041. c. Upah pabrik berjumlah Rp 8,000. Pajak pendapatan Rp 1,400

dipotongkan. d. Dipindahkan saldo upah pabrik: tenaga kerja langsung Rp

7,000 dan biaya tenaga kerja tidak langsung Rp 1000.

77

e. Bebankan biaya overhead pabrik pada pekerjaan dalam proses. Tarip biaya overhead adalah 70% dari biaya tenaga kerja langsung.

f. Dibayarkan tagihan listrik untuk pabrik Rp 700 g. Diselesaikan pekerjaan tersebut Rp 300 dan biaya tenaga kerja

langsung berjumlah Rp 900. Pindahkan pekerjaan tersebut ke barang jadi. Tarip overhead

adalah 70%.

h. Dijual pesanan 456 seharga Rp 2,300 tunai. 2. Ayat jurnal pesanan pekerjaan; buku pembantu. Neraca Dista

Company, sebuah perusahaan pembuat mainan anak-anak berdasarkan pesanan terlihat di bawah ini:

Dista Company NERACA

1 Januari 2007

ASET Kas Rp 87,900 Piutang (netto) 11,000 Persediaan bahan baku 4,000 Persediaan barang dalam proses (Mainan) 9,000 Barang jadi – mainan 8,000 Investasi 20,000 Rp139,900

KEWAJIBAN

Utang Rp 6,000

MODAL

Saham biasa 80,000 Laba yang ditahan 53,900 Rp139,900

Sebagian transaksi untuk bulan Januari 1978 telihat di bawah ini: a. Dibayar biaya penjualan Rp 5,000 b. Dibeli bahan baku seharga Rp 13,000, kredit.

78

c. Upah pabrik berjumlah Rp 13,400. d. Dipindahkan upah pabrik: Tenaga kerja langsung Rp 9,000;

tenaga kerja tidak langsung Rp 4,400. e. Biaya overhead sebesar Rp 7,000 dibayar tunai. f. Biaya umum sebesar Rp 1,000 dibayar tunai. g. Biaya overhead dibebankan pada pekerjaan dengan tarip 65%

dari biaya tenaga kerja langsung. h. Diselesaikan mainan dan dipindahkan ke gudang barang jadi.

Total biaya mainan yang telah selesai (termasuk bahan baku, tenaga kerja langsung dan biaya overhead yang dibebankan) berjumlah Rp 25,000.

i. Dijual mainan yang harga pokoknya Rp 30,000 seharga

Rp50,000 tunai. DIMINTA: A. Bukukanlah transaksi tersebut dalam buku serba serbi. B. Sebutkanlah sebanyak mungkin buku pembantu yang saudara

ketahui untuk mendukung perkiraan yang terdapat pada neraca.

3. Penghitungan biaya pesanan/pekerjaan; Tabel berikut berisi data

mengenai beberapa kasus yang berdiri sendiri.

Pesanan No.

Total biaya bahan baku

langsung pesanan

Total biaya

tenaga kerja

langsung pesanan

Tarip overhead

pabrik didasarkan pada biaya

tenaga kerja

langsung

Total biaya

overhead pesanan

Total biaya

pesanan

Harga penjualan pesanan

Laba kotor yang

diperoleh atas

pesanan

1,496 Rp 1,000 --- 80% --- --- Rp 5,000 Rp 2,000

2,150 Rp 3,000 Rp 9,000 70% --- --- Rp 25,000 --- 3,506 Rp 3,500 --- 60% --- --- Rp

2,000 4,111 --- Rp 2,000 75% --- Rp 9,000 --- Rp

1,000 6,543 Rp 5,000 --- 25% --- --- Rp 30,000 Rp

10,000

79

DIMINTA: Hitunglah angka yang tidak ada. Tunjukkan perhitungan saudara. SOAL (KELOMPOK B) 4. Ayat jurnal pesanan. Buatlah ayat jurnal untuk membukukan

transaksi berikut ini. Perusahaan memakai sistem akuntansi biaya pesanan pekerjaan.

a. Dibeli 15.000 unit bahan baku 17 dari Ace Supplier seharga

Rp7,500. b. Dikeluarkan 2.000 unit bahan baku 17 untuk dipergunakan

pada pekerjaan 18 seharga Rp 1000. Bon permintaan barang no. 387.

c. Dikeluarkan bahan pembantu Rp 400 untuk pabrik, bon

permintaan barang no. 388. d. Upah Rp 3,000. Pajak pendapatan Rp 210. Upah langsung Rp

2,300. e. Dipindahkan saldo perkiraan upah pabrik. f. Biaya overhead ibebankan dengan tarip 75% dari biaya tenaga

kerja langsung. g. Diselesaikan pesanan no. 500. Biaya bahan baku untuk

pesanan ersebut berjumlah Rp 100 dan tenaga kerja langsung Rp 300. Pekerjaan tersebut dipindahkan ke barang jadi.

h. Dijual pekerjaan 500 seharga Rp 900 dengan syarat 2/15, n/60. 5. Ayat jurnal pesanan. Bululawang Corporaton menggunakan sistem

akuntansi biaya berdasarkan pesanan pekerjaan. Buatlah ayat dalam buku harian serba-serbi untuk membukukan transaksi berikut:

a. Upah Rp 19,000. Pajak pendapatan Rp 2,130. Pajak

pendapatan yang dipotongkan Rp 995.

80

b. Dipindahkan saldo perkiraan upah pabrik: 90% tenaga kerja langsung, sisanya tenaga kerja tidak langsung.

c. Dibeli 131.500 unit bahan baku A dari Sardo Company, dengan

syarat 2/10, n/30 seharga Rp 15,315. d. Dikeluarkan bahan untuk produksi sebagai berikut (no.141, 142

dan 143 adalah nomor permintaan barang): 141 Bahan A untuk 216 Rp 1,300 142 Bahan B untuk 201 2,000 143 Bahan penolong 750

e. Bebankan overhead pabrik barang dalam proses. Tiap

overhead adalah 62% biaya tenaga kerja langsung. f. Dibayar utilitas Rp 536. g. Dibayar biaya asuransi pabrik Rp 500 h. Diselesaikan pekerjaan No. 211. Kartu biaya pekerjaan untuk

No.211 menunjukkan total biaya sebagai berikut: Bahan baku Rp 5,000 Tenaga kerja langsung 6,000 Biaya overhead dibebankan pada semua pekerjaan

dengan tarip 62%.

i. Pesanan 211 dijual Rp 20,000 tunai, lihat h. j. Dijual pekerjaan 214 seharga Rp 12,000 dengan syarat 1/10,

n/30. Kartu biaya untuk pekerjaan 214 menunjukkan total biaya sebesar Rp 8,450, termasuk tenaga kerja langsung, bahan baku, dan overhead pabrik.

6. Analisa perkiraan “T"; hubungan perkiraan, pesanan pekerjaan.

Andaikan bahwa saudara baru membeli kepentingan dalam suatu operasi manufaktur. Pembukuan lengkap tidak ada, tapi saudara dapat mengumpulkan data dari pembukuan operasi tahun lalu.

Saldo awal bahan baku dan bahan pembantu Rp 10,000 Bahan pembantu yang dipergunakan dalam pabrik Rp 2,000 Pembelian bahan baku dan penolong Rp 150,000

81

Biaya overhead pabrik yang dibebankan pada produksi Rp 90,000 Biaya tenaga kerja langsung Rp 15,000 Total upah pabrik Rp 88,000 Pesediaan awal barang dalam proses Rp 100,000 Total barang yang selesai dan dipindahkan ke barang jadi Rp 117,000 Persediaan akhir barang dalam proses Rp 233,000 Harga pokok barang yang dijual Rp 100,000 Persediaan akhir barang jadi Rp 57,000 Satu angka penting yang tidak ada adalah persediaan akhir bahan

baku dan bahan pembantu. Angka ini diperlukan sebelum ikhtisar Laba Rugi untuk periode yang bersangkutan dapat diselesaikan. Dari informasi yang ada, tentukan jumlah persediaan akhir bahan baku dan bahan penolong.

PETUNJUK Buatlah perkiraan “T" sama seperti yang terdapat pada Ilustrasi JO-1. Masukkan informasi yang diketahui, dan lihatlah apakah saudara dapat menentukan angka yang tidak ada tersebut. Pada akhir periode, perkiraan overhead pabrik dan perkiraan upah pabrik mepunyai saldo nol.

SOAL ULANGAN KUMULATIF 7. Soal ulangan kumulatif (periodik, manufaktur). Buku besar Sardo Corporation untuk tahun yang berakhir 31

Desember 2007 menunjukkan perkiraan dan saldo berikut: Kas 18,000 Biaya umum dan administrasi 68,000 Surat berharga 60,000 Piutang 30,000 Cadangan piutang ragu-ragu 2,000 Persediaan bahan baku 40,000 Persediaan barang dalam proses 30,000 Persediaan barang jadi 36,000 Asuransi dibayar di muka 4,000 Investasi jangka panjang 200,000 Pabrik dan mesin-mesin 600,000 Cadangan penghapusan 200,000 Utang 62,000 Utang biaya 16,000

82

Utang pajak pendapatan 4,000 Obligasi bayar 260,000 Wesel bayar jangka panjang 180,000 Saham biasa 120,000 Laba yang ditahan 50,000 Dividen 10,000 Penjualan 780,000 Penjualan retur dan potongan 22,000 Potongan penjualan 8,000 Pendapatan sewa 80,000 Pembelian bahan baku 300,000 Biaya tenaga kerja langsung 90,000 Biaya overhead pabrik 62,000 Biaya penjualan 60,000 Biaya umum, administrasi dan lainnya 176,000

Informasi tambahan: Buku pembantu biaya overhead pabrik menunjukkan saldo berikut: Tenaga kerja tidak langsung Rp 20,000; Bahan pembantu Rp 60; Listrik Rp 2,000; Penghapusan Rp 22,000; Assuransi Rp 2,000. Biaya overhead lainnya Rp 15,400.

Penghitungan persediaan secara fisik pada tanggal 31 Desember menunjukkan saldo berikut:

Persediaan bahan baku Rp 24,000 Persediaan barang jadi 120,000 Persediaan barang dalam proses 100,000 Dalam tahun tersebut ada 20.000 lembar saham biasa yang

beredar.

DIMINTA: a. Buatlah laporan beban pokok produksi dalam bentuk yang baik. b. Buatlah skedul overhead pabrik. Periksalah apakah total skedul

tersebut cocok dengan perkiraan biaya overhead pabrik yang terdapat pada buku besar.

c. Buatlah ikhtisar Laba Rugi.

83

d. Buatlah neraca dalam bentuk yang baik. Jangan lupa memasukkan persediaan akhir dalam neraca. Laba yang ditahan untuk akhir periode harus dihitung dari saldo awal ditambah laba bersih dikurangi dengan dividen.

8. Soal ulangan kumulatif (pesanan /pekerjaan). Buatlah ayat jurnal

untuk membukukan transaksi berikut. Perusahaan menggunakan sistem akuntansi biaya pesanan pekerjaan.

a. Dibeli 10.000 unit bahan baku X dari SinarTerang Company,

dengan syarat 2/10, n/30. Total pembelian Rp 8,640. b. Dikeluarkan bahan baku dan penolong untuk dipakai di pabrik

sebagai berikut: (1) Dikeluarkan bahan X untuk dipakai pada pekerjaan 241

seharga Rp 2,000. Bon permintaan barang no.1040. (2) Bahan penolong untuk pemeliharaan Rp 282; Bon

permintaan barang no.1041. c. Upah Rp 16,000 Pajak pendapatan yang dipotongkan Rp

2,800. d. Dipindahkan saldo upah pabrik: Tenaga kerja langsung Rp

14,000 dan tenaga kerja tidak langsung Rp 2,000. e. Dibebankan biaya overhead pabrik ke barang dalam proses.

Tarip yang dipakai adalah 70% dari biaya tenaga kerja langsung.

f. Dibayar rekening listrik untuk pabrik Rp 1,400. g. Diselesaikan pesanan 456. Bahan baku berjumlah Rp 600, dan

tenaga kerja langsung berjumlah Rp 1,800. Pesanan tersebut dipindahkan ke barang jadi. Biaya overhead telah dibebankan dengan tarip 70%.

h. Pesanan 456 dijual dengan harga Rp 4,600, tunai.

9. PT " MIA " menggunakan sistem harga pokok pesanan. Sebelum operasi pada awal bulan Mei 2007, manajemen perusahaan memprediksikan biaya overhead sebesar Rp. 71.680,- dan

84

mengestimasikan jam mesin yang diperlukan sebanyak 6.400 jam. Pada bulan Mei 2007 mempunyai data-data sbb:

a. Barang dalam proses ( WIP ) untuk masing-masing pesanan pada awal bulan Mei 2007 pada rekening buku besar adalah sbb:

Job. A Job.B Job.C BB Langsung Rp. 3.080,- Rp. 504.- Rp. 798,- TK Langsung Rp. 2.100,- Rp. 665,- Rp. 392,- Overhead Rp. 1.470,- Rp. 1.421,- Rp. 840,- Jumlah Rp. 6.650,- Rp. 2.590,- Rp. 2.030,-

b. Selama bulan Mei 2007 telah dikeluarkan biaya :

BB Langsung Rp. 3.242, TK Langsung Rp. 1.428,- Overhead Rp. 5.607,-

c. Pada akhir bulan Mei pesanan Job. A, Job. B dan Job. C seluruhnya telah diselesaikan, dan masing-masing Job cost sheet menunjukkan sbb:

Job.A Job.B Job.C BB Lansung Rp. 280,- Rp. 1.400,- Rp. 1.562,- TK Langsung Rp. 630,- RP. 483,- Rp. 315,- Jam Mesin 230 jam 202 jam 70 jam DIMINTA:

a. Hitung overhead yang dibebankan ke seluruh pesanan selama bulan Mei 2007

b. Buat ayat jurnal yang diperlukan dan tutuplah rekening selisih overhead ke Beban pokok penjualan.

c. Hitung total Biaya untuk masing-masing pesanan.

10. PT "Aji Jaya Mulya" menggunakan “tarif overhead yang telah

ditentukan” dalam membebankan biaya overhead. Overhead dibebankan berdasarkan jam mesin (tarip satuan = Rp 160 per jam) di departement I dan berdasarkan machine haours (tarip satuan = Rp320 per jam) di departemen II, dan berdasarkan biaya tenaga kerja langsung (tarip = 50% biaya tenaga kerja langsung).

85

a. Pada awal bulan Oktober tahun 2007 “AJM“ memproduksi 1.000 unit pesanan A, 200 unit pesanan B dan 100 unit pesanan C.

b. Selama bulan Oktober 2006 telah dikeluarkan biaya :

Depart. I Depart. I Depart. III Biaya BB Langsung Rp 12.800.000 Rp 4.800.000 - Biaya TK Langsung Rp 8.000.000 Rp 6.400.000 Rp4.800.000 Overhead Actual Rp 6.240.000 Rp 4.880.000 Rp2.236.000

c. Pada akhir bulan Oktober pesanan A, pesanan B telah diselesaikan, sedangkan pesanan C telah selesai di departemen II dan sudah ditransfer ke departemen III. Dan masing-masing Job cost sheet menunjukkan sbb:

Departement. Pesanan A Pesanan B Pesanan C Dept. I: BB Langsung TK Lansung Overhead

Rp 3.200.000Rp 3.200.00015.000 jam

Rp 8.000.000 Rp 3.200.000 20.000 jam

Rp 1.600.000 Rp 1.600.000 5.000 jam

Dept. II : BB Langsung TK Lansung Overhead

- Rp 1.600.0009.000 jam

Rp 4.800.000 Rp 4..000.000 10.000 jam

- Rp 800.000 6.000 jam

Dept. III : BB Langsung TK Lansung Overhead

- Rp 2.400.00050 % BTKL

- Rp 2.400.000 50 % BTKL

- - -

DIMINTA:

a. Hitung overhead yang dibebankan untuk seluruh pesanan selama bulan Oktober 2007. Jelaskan over/underapplied (overhead yang lebih/kurang dibebankan) serta favorable/unfavorable (selisih yang menguntungkan/tidak menguntungkan)

b. Buat jurnal yang diperlukan dan tutuplah rekening overhead variance (selisih) ke Cost of Goods Sold (beban pokok penjualan).

86

c. Hitung total maupun cost per unit untuk masing-masing pesanan dengan menunjukkan Job Cost Sheet.

BPR

(PR

PE

BEBRODUROCE

ERUSA Pene

Ilus

Laporan B

8

BAN UKSESS

AKUNAHAAN

kanan Aku

strasi Akun

Beban poko

87

POKSI PS CO

NTANSI MANU

untansi Ber

tansi Berda

ok produk

KOKROS

OSTI

I UFAKTrdasarkan

asarkan Pr

ksi Berdasa

K SES ING)

UR Proses

roses

rkan Prose

)

es

88

BEBAN POKOK PRODUKSI PROSES (PROCESS COSTING)

Tujuan Tujuan bab ini adalah untuk menerangkan bagaimana biaya pabrikasi dapat dikendalikan dan dilaporkan dengan penggunaan sistem akuntansi biaya proses, suatu sistem yang menggunakan metode perpetual untuk akuntansi persediaan. Dalam mempelajari sistem akuntansi biaya menurut jproses, saudara perhatikan pada ketiga pertanyaan di bawah ini. • Apa perbedaan struktur dan tujuan penentuan biaya berdasarkan

proses dengan penentuan biaya berdasarkan pesanan? • Ayat jurnal harian dan laporan apa yang terkait dalam suatu sistem

akuntansi biaya berdasarkan proses? • Bagaimana menggunakan akuntansi biaya untuk meningkatkan

pengambilan keputusan oleh manajemen?

89

Penekanan Akuntansi Berdasarkan Proses

Apa perbedaan struktur dan tujuan penentuan biaya

berdasarkan proses dengan penentuan biaya berdasarkan pesanan? Ilustrasi JO-1 pada Akuntansi Pesanan, menggambarkan hubungan antara berbagai perkiraan dalam suatu sistem akuntansi biaya. Hubungan dasar yang sama ini berlaku baik untuk akuntansi biaya berdasarkan pesanan maupun akuntansi biaya berdasarkan proses. Perbedaan kedua sistem ini adalah pada penekanan. Sistem pesanan pekerjaan menekankan pada pengawasan masing-masing pekerjaan; oleh karena itu perkiraan persediaan barang dalam proses didukung dengan kartu biaya pesanan. Dalam suatu sistem biaya berdasarkan proses, tekanan adalah pada pengawasan biaya proses dan departemen. Oleh karena itu, barang dalam proses harus dianalisa menurut departemen dengan menggunakan catatan untuk masing-masing departemen.

Suatu prosedur yang umum adalah membuat dalam buku besar

beberapa perkiraan persediaan dalam proses – satu untuk masing-masing departemen atau proses yang akan diawasi. Dengan demikian, tidak ada kebutuhan untuk kartu biaya pekerjaan. Sebagian besar perkiraan lainnya dan buku pembantunya seperti diterangkan dalam Akuntansi pesanan tetap sama dalam sistem ini. Dalam bab ini kita akan membahas secara terinci sebuah contoh penentuan biaya berdasarkan proses. Perkiraan buku besar berikut ini akan dipergunakan:

Persediaan bahan baku dan bahan pembantu. Perkiraan barang dalam proses – Departemen A. Persediaan barang jadi. Upa pabrik. Overhead pabrik Harga pokok barang yang dijual

Akan digambarkan operasi selama satu minggu.

Contoh Akuntansi Biaya berdasarkan Proses

Sebagian buku besar untuk contoh kita terlihat pada halaman berikut. Pertama, Perhatikanlah bahwa setiap perkiraan dari ketiga perkiraan persediaan mempunyai saldo awal. Persediaan bahan baku

90

dan bahan penolong mempunyai saldo awal sebesar Rp30,000. Persediaan barang dalam proses mempunyai saldo awal sebesar Rp19,790. Angka ini dipecah menjadi tiga unsur biaya.

Dalam sistem berdasarkan proses, catatan harus dibuat untuk setiap departemen untuk mencatat unit fisik yang sebenarnya diproduksi oleh departemen tersebut. Dalam contoh ini, Rp19,790 menunjukkan biaya yang terjadi dalam periode yang lalu untuk 5.000 unit produksi yang baru selesai sebagian. Juga diketahui bahwa semua unit ini selesai 100% untuk bahan bakunya, tapi hanya baru selesai 60% Untuk Tenaga Kerja Langsung dan Overhead Pabrik. Artinya, lebih banyak Tenaga Kerja Langsung Dan overhead Pabrik harus ditambahkan untuk menyelesaikan unit ini dalam minggu yang berikutnya. Persediaan yang ketiga mempunyai Saldo Awal Rp59,300; Ini menunjukkan nilai 10.000 unit barang dan jasa yang siap untuk dijual. Transaksi Perusahaan. Transaksi untuk minggu tersebut dipindahbukukan ke perkiraan yang terdapat pada Buku Besar yang terlihat pada halaman berikutnya. Marilah kita periksa setiap transaksi tersebut berturut-turut.

Transaksi (A) Perusahaan membeli Bahan Baku dan Penolong seharga Rp100,000. Perkiraan Bahan Baku dan Penolong didebit dan Perkiraan Kas atau Utang dikredit. Transaksi (B) Permintaan barang berjumlah Rp65,000 selama minggu tersebut; oleh karena itu, Perkiraan Bahan Baku dan Penolong dikredit untuk menunjukkan bahwa Persediaan dikurangi. Dua debit muncul pada Buku Besar untuk ayat jurnal ini: (1) debit pertama pada Perkiraan Persediaan Barang Dalam Proses – Departemen A; Bahan Baku sejumlah Rp61,000 dipergunakan pada departemen tersebut. Dalam minggu tersebut 50.000 unit baru mulai dikerjakan, dan ini adalah Bahan Baku yang dipergunakan untuk mengerjakan unit yang baru, (2) debit lainnya adalah pada Perkiraan Overhead Pabrik sebesar Rp4,000; ini merupakan Bahan Pembantu yang dipergunakan di Pabrik untuk berbagai keperluan (bukan hanya untuk Departemen A). Transaksi (C) Upah Bagian Pabrik untuk minggu tersebut dipersiapkan. Total Biaya Tenaga Kerja berjumlah Rp120,800. Upah Bagian Pabrik didebitkan dan perkiraan kewajiban yang bersangkutan (Utang Gaji dan Utang Pajak) dikredit.

91

Transaksi (D) Upah Bagian Pabrik sebesar Rp120,800 didistribusikan. Biaya Tenaga Kerja yang berkaitan dengan Departemen A berjumlah Rp115,800 dan biaya tenaga kerja tidak langsung berjumlah Rp5,000. Barang dalam proses – Departemen A didebit sebesar Rp 115,800 dan overhead pabrik didebit sebesar Rp5,000. Perkiraan upah pabrik ditutup menjadi nol dengan ayat ini. Transaksi (E) Biaya overhead pabrik lainnya sebesar Rp72.160 terjadi. Perkiraan overhead pabrik didebit dan perkiraan lain seperti Kas, Utang atau lainnya dikredit. Transaksi (F) Overhead pabrik dibebankan pada barang dalam proses menurut tarif yang telah ditentukan sebelumnya. Tarif yang telah ditentukan sebelumnya itu adalah 70%. Biaya tenaga kerja langsung untuk departemen tersebut adalah Rp115,800; oleh karena itu biaya overhead yang dibebankan adalah 70% dari Rp115,800, atau Rp81,060. Perkiraan barang dalam proses – Departemen A didebit sebesar Rp81,060, dan perkiraan overhead pabrik dikredit sebesar jumlah yang sama. Catatan penting:

Sebagian perusahaan menggunakan dasar selain biaya tenaga kerja langsung. Untuk membebankan overhead mereka menggunakan jumlah jam kerja langsung atau jam kerja mesin hingga diperoleh tarif overheadnya. Selanjutnya, untuk setiap jam tenaga kerja langsung atau jam mesin yang dipergunakan pada departemen tersebut, suatu jumlah biaya overhead dapat dipindahkan pada persediaan dalam pengerjaan. Transaksi (G) Dalam minggu tersebut departemen A menyelesaikan 40.000 unit produk, dan barang ini dipindahkan ke perkiraan persediaan barang jadi. Tujuan utama akuntansi biaya adalah untuk menentukan harga pokok unit yang dihasilkan. Pertanyaan utama adalah: Berapa jumlah yang harus didebitkan ke perkiraan persediaan barang jadi dan dikreditkan pada perkiraan persediaan barang dalam proses untuk 40.000 unit yang diselesaikan tersebut? Setiap periode, laporan biaya produksi dibuat untuk menjawab pertanyaan ini. Perhatikan pada ayat (g) bahwa jumlah yang telah ditentukan adalah Rp252,000.

92

SEBAGIAN BUKU BESAR

PERSEDIAAN BAHAN BAKU DAN BAHAN PEMBANTU

Persediaan awal 30,000 (a) 100,000

(b) 65,000

PERSEDIAAN DALAM PROSES – DEPARTEMEN A

a. Persediaan awal Bahan baku Rp 5,000 Tenaga kerja langsung 8,700

Overhead pabrik 6,090Rp 19,790(b) Bahan baku 61,000(d) Tenaga kerja langsung 115,800(f) Overhead pabrik 81,060 Rp 277,650

(e) Selesai 252,000

UPAH PABRIK PERSEDIAAN BARANG JADI 12,800 (d) 120,800 (d) Persd awal 59,300

(g) Dari Dep. A 252,000 (h) 122,300

OVERHEAD PABRIK

BEBAN POKOK PENJUALAN 4,000 5,000

72,160 81,160

(f) 81,600 (i) 100

(h) 122,300 (i) 100

Persediaan awal 5.000 unit: Buku baku 100% selesai, sedangkan tenaga kerja langsung dan overhead pabrik selesai 60%

50.000 unit dimulai dalam minggu yang bersangkutan. 40.000 unit diselesaikan dan dipindahkan ke barang jadi 10.000 unit 100% selesai untuk ketiga unsur biaya

Pada bab berikutnya seluruhnya akan bertujuan untuk menjelaskan bagaimana cara membuat laporan beban pokok produksi ini. Pada soal tugas dalam unit ini, jumlah rupiah harga pokok barang yang dipindahkan ke persediaan barang jadi akan diberitahukan pada saudara (seperti pada transaksi g).

93

Transaksi (H) Dalam minggu tersebut perusahaan melakukan penjualan sebagai berikut. Persediaan awal barang jadi, dengan harga pokok sebesar Rp59,300 (lihat perkiraan), dijual dengan harga Rp70,000. Juga, suatu unit tambahan sebesar 10.000 yang dihasilkan dalam periode ini dijual seharga Rp75,000. Untuk keperluan ilustrasi ini, misalkan bahwa laporan biaya produksi menunjukkan bahwa 10,000 unit ini mempunyai harga pokok per unit Rp6.30, dengan total harga pokok sebesar Rp63,000. Ringkasnya: Harga Pokok Barang yang Dijual Harga Penjualan

Rp 59,300 Rp 70,000 63,000 75,000 Rp 122,300 Rp 145,000

Transaksi (h) menunjukkan debit pada perkiraan harga pokok barang yang dijual dan kredit pada persediaan barang jadi sebesar Rp122,300. Juga, ayat lain, kas didebit sebesar Rp145,000 dan penjualan dikredit dengan jumlah yang sama (ini tidak diperlihatkan dalam contoh). Membebankan terlalu besar dan membebankan terlalu sedikit biaya overhead. Dalam bab sebelumnya kita telah membicarakan kemungkinan bahwa total biaya overhead baru mungkin berlainan dari biaya overhead yang dipindahkan (kredit) ke perkiraan barang dalam proses dalam suatu periode. Perhatiakan contoh dalam buku besar pada bab ini. Biaya 0verhead pabrik aktual berjumlah Rp81,160 untuk periode tersebut. Biaya overhead yang dibebankan pada barang dalam proses berjumlah Rp81,060. Jadi biaya overhead yang dibebankan lebih kecil daripada yang sebenarnya. Ini dinamakan membebankan terlalu kecil biaya overhead jumlahnya dalam hal ini adalah Rp100. Jika lebih besar biaya overhead dibebankan pada barang dalam proses daripada yang sebenarnya terjadi, keadaan tersebut dinamakan membebankan terlalu besar biaya overhead, dan suatu saldo kredit akan terlihat pada perkiraan overhead. Dalam hal Dalam hal yang manapun juga, paling sedikit sekali dalam setahun, sebelum laporan keuangan dibuat, saldo

94

yang terlalu besar atau terlalu kecil dihilangkan dalam sebuah ayat buku harian. Transaksi (I) Ayat ini mengurangkan perkiraan overhead pabrik menjadi nol. Jumlah yang terlalu kecil dibebankan (Rp100) dibukukan sebagai bagian dari harga pokok barang yang dijual untuk menunjukkan bahwa lebih banyak biaya yang sebenarnya terjadi daripada yang seharusnya dibukukan dalam perkiraan persediaan.

Catatan: Kalau jumlah yang kurang dibebankan atau terlalu banyak dibebankan cukup besar, sebagian perusahaan memilih untuk memindahkan sebagian jumlah tersebut pada perkiraan persediaan, dan bukannya membebankan seluruhnya pada beban pokok penjualan. Ini mungkin tepat kalau cukup banyak barang yang dibuat masih ada dalam persediaan. Kalau terjadi membebankan biaya overhead terlalu besar, harga pokok barang yang dijual dikredit dan overhead pabrik didebit untuk membetulkan perkiraan tersebut.

Akuntansi Biaya dan Keputusan Manajemen Suatu sistem akuntansi biaya sangat berguna bagi manajemen dalam beberapa hal. Ini berlaku apakah sistem yang dipergunakan berdasarkan proses ataupun berdasarkan pesanan. Keputusan pemasaran. Salah satu bidang di mana akuntansi biaya membantu manajemen adalah dalam hal penetapan harga. Manajemen dapat menetapkan harga jauh lebih mudah dan yakin kalau mereka memiliki informasi yang pasti mengenai biaya pekerjaan atau unit yang akan dijual. Inilah informasi yang diberikan oleh akuntansinya. Misalnya, sebuah perusahaan mungkin mempunyai saingan dalam penawaran untuk suatu pekerjaan. Dengan mempergunakan catatan biaya pekerjaannya untuk pekerjaan yang sama di masa lalu, perusahaan dapat mengetahui rincian biaya bahan baku, tenaga kerja langsung, dan overhead. Dari catatan masa lalu ini perusahaan dapat membuat ramalan yang masuk akal mengenai biaya masa datang dan demikian dapat memasukan penawaran yang lebih realistik.

95

Dalam proses operasi, perhitungan biaya per unit akan menunjukkan perubahan unsur biaya yang dapat diperhitungkan oleh manajemen dalam melakukan perubahan harga penjualan dan dalam membuat keputusan lainnya. Jika informasi biaya untuk pekerjaan atau proses tersedia dengan cepat, maka manajemen mempunyai dasar yang kuat untuk merencanakan kegiatannya. Pengawasan biaya sehari-hari. Bagaimana menggunakan akuntansi biaya untuk meningkatkan pengambilan keputusan oleh manajemen. Dengan suatu sistem akuntansi biaya perubahan ketiga unsur biaya dapat dilaporkan setiap hari. Melalui laporan kinerja biaya per unit dapat dibandingkan dengan standar yang telah ditetapkan oleh manajemen. Tindakan perbaikan dapat dilakukan dengan segera kalau unjuk kerja menyimpang cukup besar dari tujuan. Sistem pelaporan kegiatan operasi secara periodik tidak dengan sendirinya dapat memberikan kemungkinan ini. Salah satu contoh laporan unjuk kerja yang menggunakan data biaya berdasarkan proses terdapat pada halaman berikut. Berdasarkan laporan ini, manajemen mungkin ingin meneliti mengapa biaya tenaga kerja langsung dan biaya pasar pabrik 10% lebih besar dari standar yang ditentukan untuk departemen B. Unit selanjutnya akan menggambarkan berbagai bentuk lain dari laporan unjuk kerja yang menunjukkan penyimpangan dari standar baik dalam bentuk penyimpangan total maupun penyimpangan unit.

LAPORAN KINERJA MINGGUAN MINGGU YANG BERAKHIR: 16 JUNI 2007

Standar unjuk kerja

(biaya per unit yang diperkirakan

Biaya unit sebenarnya

Penyim- Pangan

Departemen A Bahan Baku Rp 2.10 Rp 2.11 (Rp 0.01) Tenaga kerja

langsung 1.90 1.95 (Rp 0.05

Overhead pabrik 1.00 0.97 Rp 0.03 Rp 5.00 Rp 5.03 Rp 0.03

Departemen B Bahan baku Rp 6.00 5.96 Rp 0.04 Tenaga kerja

langsung 5.00 5.50 ( 0.50)

Overhead pabrik 1.00 1.10 ( 0.10) Rp 12.00 Rp 12.56 Rp 0.56

96

ISTILAH BARU (Glosari)

Cost of production report – laporan beban pokok produksi. Suatu laporan manajemen yang memberikan suatu ringkasan kegiatan dalam suatu departemen pabrikasi dalam suatu jangka waktu, termasuk biaya bahan baku, tenaga kerja dan overhead pabrik per unit. Overapplied overhead – biaya overhead yang dibebankan terlalu besar. Keadaan di mana jumlah biaya overhead pabrik yang dibebankan pada persediaan barang dalam proses lebih besar dari yang benar-benar terjadi dalam periode yang bersangkutan. Underapplied overhead – biaya overhead pabrik dibebankan terlalu kecil. Keadaan di mana jumlah biaya overhead pabrik yang dibebankan lebih kecil dari yang sebenarnya dalam periode tersebut. BAHAN UNTUK TUGAS PERTANYAAN 1. Yang manakah dari dokumen dan catatan berikut ini yang

mungkin dipergunakan dalam suatu sistem akuntansi biaya berdasarkan proses: a. Kartu gudang b. Bon permintaan barang. c. Kartu biaya pekerjaan. d. Laporan biaya produksi. e. Buku pembantu biaya overhead pabrik.

2. Jelaskan bagaimana terjadinya pembebanan terlalu besar atau pembebanan terlalu kecil biaya overhead pabrik dan bagaimana memperlakukannya dalam pembukuan dan laporan keuangan?

3. Bagaimana cara membukukan bahan baku yang dipergunakan

dalam produksi dalam suatu sistem akuntansi biaya berdasarkan proses?

4. Jelaskan bagaimana cara membukukan biaya tenaga kerja

dalam suatu sistem akuntansi biaya berdasarkan proses? 5. Jelaskan bagaimana cara membukukan biaya overhead pabrik

dalam suatu sistem akuntansi biaya yang berdasarkan proses?

97

6. Apakah kegunaan laporan beban pokok produksi? 7. Bagaimana cara akuntansi biaya dapat meningkatkan

pengambilan keputusan oleh manajemen? LATIHAN 1. Di bawah ini terdapat perkiraan barang dalam proses untuk

Departemen Pengecatan sebuah pabrik.

PERSEDIAAN BARANG DALAM PROSES – PENGECATAN (dalam ribuan)

Persediaan awal: Bahan baku Rp 11,000 Tenaga kerja langsung 10,000 Overhead pabrik 8,000 Rp 29,000 Bahan baku 115,600 Tenaga kerja langsung 206,515 Overhead pabrik 166,812

Selesai Rp 316,955

a. Buatlah ayat jurnal untuk bahan baku yang dipergunakan

dalam produksi. b. Buatlah ayat jurnal untuk biaya overhead yang dibebankan

pada produksi. c. Berapakah tarif pembebanan biaya overhead pabrik? d. Dari data yang diketahui, dapatkah saudara menentukan

jumlah biaya overhead pabrik yang terjadi selama periode tersebut? Jelaskan.

e. Buatkanlah ayat jurnal untuk pemindahan barang yang

selesai ke persediaan barang jadi.

2. Sebutkan perkiraan yang didebit dan dikredit untuk setiap transaksi berikut ini dalam suatu sistem akuntansi biaya berdasarkan proses. a. Pembelian bahan baku secara kredit.

98

b. Pengeluaran bahan baku untuk pasar (Departemen A) c. Pengeluaran bahan pembantu untuk pemakaian pabrik

secara umum. d. Membukukan upah pabrik. e. Distribusi upah pabrik. f. Pembayaran sewa pabrik. g. Membukukan penghapusan mesin pabrik. h. Membebankan biaya overhead pada produksi. i. Penyelesaian barang dan memindahkannya dari

Departemen A ke barang jadi. j. Penyelesaian barang dan memindahkannya dari

Departemen B ke Departemen C. k. Menjual barang secara kredit

3. Di bawah ini terdapat suatu tabel yang menunjukkan data upah untuk Mondoroko Manufacturing Company untuk minggu yang berakhir 21 Juli 2007 (dalam ribuan rupiah).

Karyawan Departemen Produksi Tenaga kerja

tidak langsung

Gaji Penjualan

Gaji Umum A B C

Johny Mangi 146.50 Edy Brewok 65.40 65.40 Hari Santoso 314.00 Wily Supratman 412.00 Jose Rizal 518.00 Kerry Mariam 100.00 100.00 150.00 Budi Arso 498.00 211.90 379.40 618.00 512.00 150.00 498.00

Perhatikanlah bahwa sebagian karyawan bekerja lebih dari satu bidang. Untuk upah ini, pajak dan potongan lainnya berjumlah Rp436.900.000,00.

DIMINTA: Buatlah ayat buku harian untuk membukukan dan mendistribusikan

porsi pabrik.

99

4. Dalam minggu yang berakhir 16 Juni 2007, biaya overhead pabrik

yang dibebankan pada ketiga departemen adalah sebagai berikut: Biaya Overhead Yang Dibebankan Departemen Pemotongan Rp 44.250.000,00 Departemen Pengampelasan Rp 66.670.000,00 Departemen penyelesaian Rp 21.240.000,00

Ternyata, selama periode ini, setiap departemen mempunyai biaya tenaga kerja langsung sebesar Rp59.000.000,00.

DIMINTA: Hitunglah tarif biaya overhead pabrik yang dipergunakan untuk setiap departemen.

SOAL (KELOMPOK A) 1. Akuntansi biaya berdasarkan proses, ayat jurnal harian.

Buatlah ayat jurnal untuk membukukan transaksi berikut ini. Perusahaan menggunakan sistem akuntansi biaya menurut proses. a. Dibeli 10.000 unit bahan baku dari ABC Company, dengan

syarat 2/10, n/30. Total pembelian Rp4,320. b. Dikeluarkan barang dan bahan pembantu untuk pabrik

sebagai berikut: (1) Bahan baku X dipergunakan pada Departemen A,

Rp1,000; Bon permintaan barang No. 1040. (2) Bahan baku dipergunakan pada Departemen B, Rp200;

Bon permintaan bahan no. 1041. (3) Bahan pembantu dipergunakan di pabrik untuk

perbaikan umum Rp141; Bon permintaan bahan no. 1042.

c. Gaji pabrik berjumlah Rp8,000. Pajak pendapatan yang

dipotongkan berjumlah Rp1,400.

100

d. Kepindahan saldo gaji pabrik; Departemen A, Rp7.000; Departemen B, Rp1,000.

e. Dibebankan biaya overhead pabrik pada dua perkiraan

barang dalam pengerjaan. Tarif biaya overhead pabrik yang dipergunakan adalah 70% dari biaya tenaga kerja langsung.

f. Dibayar rekening listrik untuk pabrik Rp700. g. Diselesaikan unit produksi di Departemen B; 10.000 unit

diselesaikan dan dipindahkan ke barang jadi. Laporan biaya produksi untuk masa tersebut menunjukkan bahwa unit tersebut mempunyai biaya total per unit sebesar Rp4.

h. Dijual 3.000 unit yang tersebut pada (g) dengan harga

sebesar Rp5.50 per unit, tunai. 2. Akuntansi biaya berdasarkan proses, ayat jurnal harian.

Buatlah ayat jurnal untuk membukukan transaksi perusahaan berikut ini dalam suatu sistem akuntansi biaya berdasarkan proses. a. Dibeli 5.000 unit bahan baku X dari Simamora

Manufacturing Co, dengan syarat 2/10, n/30. Total pembelian berjumlah Rp55,198.

b. Dibeli bahan pembantu dari Salamun, Inc, sebesar

Rp1,750, tunai. c. Dikeluarkan bahan pembantu ke pabrik untuk pemakaian

umum. Bahan pembantu tersebut berharga Rp57; bon permintaan bahan no. 75.

d. Dikeluarkan 307 unit bahan baku X untuk dipergunakan

pada Departemen Perakitan sebesar Rp3,390; Bon permintaan bahan no. 76.

e. Gaji pabrik berjumlah Rp71,500. Pajak pendapatan yang

dipotongkan berjumlah Rp16,540. f. Dipindahkan saldo upah pabrik: Departemen Perakitan

Rp18,000; Departemen Pengecatan Rp35,000; Departemen Penyelesaian Rp18,500.

101

g. Dibebankan biaya overhead pabrik pada perkiraan barang dalam proses pengerjaan dengan tarif 81% dari biaya tenaga kerja langsung.

h. Terjadi biaya sebagai berikut (dibayar tunai): Listrik untuk

pabrik Rp500; Asuransi untuk pabrik Rp700; pemeliharaan pabrik Rp800.

i. Diselesaikan 1.000 unit pada Departemen Penyelesaian

dan dipindahkan ke barang jadi. Laporan biaya produksi untuk periode tersebut menunjukkan bahwa unit tersebut mempunyai total biaya per unit sebesar Rp31.45.

j. Dijual 100 unit barang jadi dengan kredit seharga Rp78.45

per unit. Unit tersebut harga pokok per unit sebesar Rp30.15.

3. Akuntansi biaya berdasarkan proses, ayat jurnal harian. Buatlah

ayat jurnal membukukan transaksi perusahaan berikut ini dalam suatu sistem akuntansi biaya berdasarkan proses.

a. Dikeluarkan barang untuk dipakai di pabrik sebagai berikut:

Bahan baku 160 dipergunakan pada Departemen A sebesar Rp675; Bon permintaan bahan no. 25.

Bahan baku 161 dipergunakan pada Departemen B Rp240; Bon permintaan bahan no. 26.

Bahan pembantu dipergunakan untuk seluruh pabrik seharga Rp530; bon permintaan bahan no. 27.

b. Dibeli bahan baku dari Pronto Product, dengan syarat 2/10,

n/30; Bahan baku 160 sebesar Rp200; bahan baku 161 sebesar Rp145.

c. Upah pabrik sebesar Rp87,430. Pajak pendapatan yang

ditahan berjumlah Rp8,430. d. Dipindahkan saldo upah pabrik: Departemen A sebesar

Rp34,400 dan Departemen B sebesar Rp53,030. e. Dibebankan biaya overhead pabrik pada kedua perkiraan

barang dalam pengerjaan. Tarif yang dipergunakan adalah 65% dari biaya tenaga kerja langsung.

102

f. Diselesaikan 4.000 unit pada Departemen A dan

dipindahkan pada barang jadi. laporan biaya produksi menunjukkan bahwa unit tersebut mempunyai biaya per unit sebesar Rp5.25.

g. Dijual 250 unit barang jadi secara kredit dengan harga

Rp10.45 per unit. Harga pokok per unit adalah Rp4.50. SOAL (KELOMPOK B) 4. Akuntansi biaya berdasarkan proses, ayat buku harian. Buatlah

ayat buku harian dalam bentuk buku harian serba-serbi untuk membukukan transaksi berikut ini. Perusahaan menggunakan suatu sistem akuntansi biayanya berdasarkan proses.

a. Dikeluarkan bahan baku dan bahan pembantu untuk

keperluan pabrik sebagai berikut: Bahan baku 2130 dipergunakan pada Departemen A sebesar Rp1,200; bon permintaan bahan no. 143.

Bahan baku 2133 dipergunakan pada Departemen B sebesar Rp300; bon permintaan bahan no. 144.

Bahan pembantu dipergunakan untuk seluruh pabrik sebesar Rp356; bon permintaan bahan no. 145.

b. Dibeli bahan baku dari Bindy Product, dengan syarat 2/15, n/30; bahan baku 2130 sebesar Rp900; bahan baku 2133 sebesar Rp1,456.

c. Upah pabrik berjumlah Rp15,000. Pajak pendapatan yang

ditahan berjumlah Rp3,546. d. Dipindahkan saldo upah pabrik: Departemen A Rp8,000

dan Departemen B Rp7,000. e. Dibebankan biaya overhead pabrik pada kedua perkiraan

barang dalam pengerjaan. Taraf yang dipergunakan adalah 60% dari biaya tenaga kerja langsung.

f. Dibayar asuransi dapat sebesar Rp300.

103

g. Dibayar rekening listrik untuk pabrik Rp1,200. h. Diselesaikan unit pada Departemen B: 5.000 unit

diselesaikan dan dipindahkan ke barang jadi. Laporan biaya produksi menunjukkan biaya per unit sebesar Rp4,56.

i. Dijual 4.000 unit barang jadi dengan kredit seharga Rp6 per

unit. Biaya per unit adalah Rp4.56.

5. Akuntansi biaya berdasarkan proses, ayat jurnal harian. Buatlah ayat jurnal untuk membukukan transaksi berikut. Perusahaan menggunakan akuntansi biaya berdasarkan proses.

a. Perusahaan membeli bahan baku dan pembantu seharga

Rp65,000 tunai. b. Dikeluarkan bahan baku dan pembantu untuk dipergunakan

di pabrik sebagai berikut: bahan baku (Departemen Perakitan) sebesar Rp17,000; bahan pembantu Rp6,000.

c. Total biaya upah adalah Rp64,000. Pajak pendapatan yang

ditahan Rp8,000. d. Upah pabrik dibagikan sebagai berikut. Biaya tenaga kerja

langsung sebesar Rp40,000 (perakitan Rp25,000; Penyelesaian Rp15,000) dan biaya tidak langsung sebesar Rp24,000.

e. Dibebankan biaya overhead pabrik ke perkiraan barang

dalam proses dengan tarif sebesar 75% dari biaya tenaga kerja langsung.

f. Diselesaikan 2.500 unit pada Departemen penyelesaian

dan dipindahkan pada barang jadi. Laporan biaya produksi menunjukkan bahwa biaya per unit adalah Rp6.20.

g. Dijual 350 unit barang jadi secara kredit dengan harga

Rp25 per unit. Unit tersebut mempunyai biaya per unit sebesar Rp14,30.

6. Analisa arus biaya. Hamimura Company menggunakan suatu sistem akuntansi biaya berdasarkan proses. Pembukuan untuk minggu yang berakhir 5 Mei 2007 menunjukkan data-data ini:

104

Beban pokok penjualan barang Rp 200,000 Total harga pokok barang yang diselesaikan pada Departemen 114 dan dipindahkan ke barang jadi Rp 234,000 Total upah pabrik 176,000 Biaya overhead pabrik yang dibebankan pada Depart. 114 180,000 Bahan pembantu yang dipergunakan di pabrik 4,000 Saldo awal bahan bukan dan pembantu 20,000 Pembelian bahan baku dan penolong 300,000 Biaya tenaga kerja tidak langsung 30,000 Saldo awal barang dalam proses pada Departemen 114 200,000 Saldo akhir barang dalam proses pada Departemen 114 466,000 Persediaan akhir barang jadi 114,000

Untuk keperluan soal ini dan untuk mudahnya, misalkanlah bahwa Departemen 114 adalah departemen produksi. DIMINTA: Dengan membuat perkiraan yang bersangkutan dan menganalisa data tersebut, hitunglah jumlah persediaan akhir bahan baku dan penolong.

Laporan Beban pokok produksi Berdasarkan Proses

Tujuan Dalam bab sebelumnya saudara telah mempelajari cara untuk membuat ayat jurnal untuk transaksi dalam suatu sistem berdasarkan proses. Tujuan bab ini adalah untuk menunjukkan pada saudara bagaimana cara membuat suatu laporan beban pokok produksi, yang merupakan suatu laporan manajemen yang terinci untuk menunjukkan biaya produksi per unit untuk setiap unsur biaya yang akan dikendalikan. Pada saat saudara mempelajari laporan beban pokok produksi, fokuskan-lah perhatian pada keempat pertanyaan ini:

1. Apakah tujuan laporan harga pokok produksi? 2. Apakah empat tahapan informasi dasar yang terdapat pada

suatu laporan beban pokok produksi? 3. Apakah yang dimaksud dengan ekuivalen produksi dan

bagaima-nakah dihitungnya? 4. Bagaimana cara membuat laporan beban pokok produksi?

105

Tujuan Laporan Beban pokok produksi Seperti pada pembahasan bab sebelunya, laporan beban pokok produksi memberikan informasi terinci mengenai operasi suatu departemen atau proses produksi selama suatu jangka waktu yang relatif pendek. Biaya per unit untuk bahan baku, tenaga kerja langsung, overhead pabrik dapat dibandingkan dengan biaya yang diperkirakan atau standar unjuk kerja lainnya. Laporan biaya produksi juga memberikan dasar untuk menentukan porsi biaya yang terdapat pada perkiraan barang dalam pengerjaan yang harus dipindahkan pada barang jadi (atau departemen produksi lainnya), dan berapa porsi biaya yang tetap tinggal dalam persediaan akhir barang dalam proses.

Tahapan Dalam Laporan Beban pokok produksi Laporan biaya produksi untuk suatu departemen berisi ringkasan semua kegiatan selama periode tersebut. Laporan ini terdiri atas empat seksi utama. Laporan biaya produksi untuk departemen dalam contoh kita diberikan pada halam berikutnya. Empat tahap informasi dasar yang terdapat pada suatu laporan beban pokok produksi adalah sebagai berikut: Tahap 1: Kegiatan dalam bentuk unit. Dalam tahap ini kegiatan dalam bentuk unit diuraikan. Unit aktual dihitung untuk menghalangi terjadinya kerugian kehilangan unit selama periode tersebut dan untuk memberikan dasar yang tepat untuk menghitung biaya per unit. Sekarang, contoh ini merupakan kelanjutan dari contoh Departemen A yang terdapat pada unit sebelumnya. Perhatikanlah perkiraan barang dalam proses pada bab sebelumn untuk angka-angka yang terdapat di bawah ini. Lima ribu unit ada dalam persediaan pada permulaan minggu. 50.000 unit lagi mulai dikerjakan dalam minggu ini, sehingga seluruhnya ada 55.000 unit menjadi tanggung jawab departemen tersebut. 55.000 untuk nilai tambah ini dihitung dengan dua cara: (1) unit diselesaikan dan dipindahkan keluar departemen (40.000), dan (2) unit yang masih dalam proses pengerjaan (15.000). Tahap 2: Produksi ekuivalensi. Berikutnya, ekuivalensi unit utuh atau produksi ekuivalensi dihitung. Untuk melakukan hal ini, perlu dihitung berapa banyak unit produksi yang ditunjukkan oleh semua biaya yang terjadi

106

pada departemen tersebut; dengan data ini biaya per unit dapat dihitung. Biaya per unit dihitung sebagai berikut:

Biaya

bahan baku per unit

=

Biaya bahan baku pada persediaan awal +

Biaya bahan baku yang ditambahkan selama

periode tersebut Jumlah unit ekuivalensi yang diproduksi dengan biaya ini

Biaya

tenaga kerja per unit

=

Biaya tenaga kerja langsung pada

persediaan awal +

Tambahan biaya tenaga kerja langsung selama

periode tersebut Jumlah unit ekuivalensi yang diproduksi dengan biaya ini

Biaya per unit overhead pabrik

=

Biaya overhead pabrik pada persediaan awal +

Tambahan biaya overhead pabrik dalam jangka waktu tersebut

Jumlah unit ekuivalensi yang diproduksi dengan biaya ini

Perhatikan bagian kedua dari laporan biaya produksi untuk mengetahui bagaimana cara ekuivalen unit utuh dihitung. 40.000 unit yang diselesaikan dan dipindahkan ke barang jadi selama minggu tersebut. Untuk memindahkan barang jadi ke luar departemen, barang jadi harus 100% siap semua unsur biayanya, oleh karena itu, 40.000 unit dipergunakan dalam ketiga kolom perhitungan.

Selanjutnya perhatikanlah persediaan akhir. Ada 15.000 unit yang terdapat dalam persediaan akhir. Karena bahan baku untuk unit ini telah lengkap 100% seluruh 15.000 unit dipergunakan dalam perhitungan. Mengenai tenaga kerja langsung dan overhead pabrik, diketahui bahwa 15.000 unit tersebut baru selesai 10%. Oleh karena itu, hanya 1.500 ekuivalen unit utuh yang diperhitungkan dari barang yang ada dalam persediaan akhir untuk tenaga kerja langsung dan biaya overhead.

Perhitungan laporan dengan demikian menunjukkan bahwa yang keluar untuk bahan baku dalam departemen tersebut menghasilkan suatu ekuivalen sebanyak 55.000 unit produk. Biaya yang dikeluarkan untuk tenaga kerja langsung hanya menghasilkan ekuivalen 41.500 unit utuh; dan biaya untuk overhead pabrik juga hanya menghasilkan ekuivalen 41.500 unit utuh. Tahap 3: Biaya yang harus dipertanggungjawabkan. Tahap ketiga laporan biaya produksi menganalisa biaya aktual yang sebenarnya terjadi selama minggu tersebut dan menghitung biaya per unit untuk ketiga

107

unsur biaya. Biaya langsung diambil dari persediaan barang dalam pengerjaan – Departemen A pada bab sebelumnya.

Untuk bahan baku, suatu jumlah sebesar Rp66,000 muncul pada perkiraan persediaan pada akhir minggu. Ini merupakan biaya untuk produksi 55.000 unit, sehingga biaya bahan baku per uni adalah Rp1.20, atau Rp66,000 dibagi dengan 55.000 unit utuh. Biaya tenaga kerja langsung juga dihitung dengan cara yang sama: Rp124,500 dibagi dengan 41.500 unit sama dengan Rp3 per unit. Biaya total per unit untuk setiap produk berjumlah Rp6.30, atau jumlah ketiga unsur biaya untuk setiap unit.

Departemen A LAPORAN BIAYA PRODUKSI

Untuk Minggu yang Berakhir 19 Juni 2007

1. Kegiatan departemen selama seminggu dalam bentuk unit: a Unit dalam proses, awal (unit ini 100% selesai sepanjang mengenai bahan baku pada permulaan minggu, tapi baru 60% selesai sepanjang mengenai tenaga kerja langsung dan overhead pabrik) 5,000 Unit baru yang mulai diproduksi dalam minggu tersebut 50,000 Total unit yang harus dipertanggungjawabkan 55,000 Unit yang diselesaikan dan dipindahkan ke barang jadi 40,000 Unit yang masih dalam proses, akhir (unit ini 100% selesai sepanjang mengenai bahan baku pada akhir minggu, tapi baru 10% selesai untuk tenaga kerja langsung dan overhead pabrik) 15,000 Total unit yang dipertanggungjawabkan 55,000

2. Ekuivalent unit utuh selama seminggu Bahan baku Tenaga kerja Overhead Unit selesai dalam minggu tersebut 40,000 40,000 40,000 Unit yang masih dalam persediaan akhir pada

minggu ini 15,000 1,500 1,500 Ekuivalent unit utuh 55,000 41,5000 41,500

3. Biaya yang harus dipertanggungjawabkan selama seminggu tersebut: Total Bahan Tenaga Overhead Baku Kerja Pabrik Barang dalam pengerjaan awal minggu Rp 19,790 Rp 5,000 Rp 8,700 Rp 6,090 Biaya minggu ini 257,860 61,000 115,800 81,060 Total biaya Rp 277,650Rp 66,000Rp125,500 Rp 87,150 Ekuivalen unit utuh selama minggu tersebut 55,000 41,500 41,500 Biaya per unit Rp 6.30 Rp 1.20 Rp 3.00 Rp2.10

4. Akuntansi untuk biaya Unit selesai dan dipindahkan ke barang jadi (40.000 unit dengan harga pokok Rp6.30 per unit) Rp 232,000 Unit dalam pengerjaan pada akhir minggu:

Bahan baku (15.000 unit dengan Rp1.20 per unit) Rp 18,000 Tenaga kerja (1.500 unit dengan biaya Rp3 per unit) 4,500 Overhead pabrik (1.500 unit dengan biaya Rp2.10 per unit) 3,150 Total persediaan dalam pengerjaan 25,650

Total biaya yang dipertanggungjawabkan Rp 277,650

a Telusurilah angka-angka ini pada laporan Persediaan dalam Proses Departemen A

108

Tahap 4: Akuntansi untuk biaya. Tahap terakhir dalam laporan biaya produksi memberikan dasar untuk menentukan biaya 40.000 unit yang dipindahkan dari barang dalam pengerjaan ke persediaan barang jadi. Ingatlah bahwa ini merupakan pertanyaan utama yang terdapat dalam pembicaraan kita mengenai transaksi (g) dalam unit 45. Artinya, kita harus membuat ayat buku harian untuk memindahkan harga pokok barang yang telah siap ke perkiraan persediaan barang jadi. Dari data pada laporan biaya produksi ini, kita dapat membuat ayat jurnal seperti terlihat di bawah ini. Perhatikan bahwa sesudah ayat ini akan terdapat suatu saldo persediaan persediaan barang dalam pengerjaan sebesar Rp25,650 atau Rp277,650 dikurangi dengan Rp252,000.

2007 Juni

19 Persediaan barang jadi 252,000 Persediaan barang dalam pengerjaan

Departemen A. 252,000

Barang yang diselesaikan pada Departemen A 40.000 unit dengan harga

pokok Rp6.30 per unit

Asumsi Arus Biaya

Contoh laporan biaya produksi dalam unit ini menggunakan metode rata-rata tertimbang dalam menghitung biaya bahan baku, tenaga kerja langsung, dan overhead pabrik per unit. Dalam menghitung biaya per unit ingatlah bahwa biaya persediaan awal ditambahkan pada biaya yang terjadi dalam periode ini. Kemudian total keseluruhan dibagi dengan ekuivalen produksi untuk menghitung biaya per unit. Sebagian perusahaan menggunakan asumsi arus biaya yang lain seperti metode FIFO. Kalau menggunakan metode FIFO, biaya per unit dipisahkan antara persediaan awal dan biaya untuk produksi yang se-dang berjalan. Biaya persediaan awal meliputi dua jenis biaya per unit: (1) biaya yang terjadi dalam periode yang baru lalu, dan (2) biaya seka-rang yang terjadi untuk menyelesaikan persediaan awal. Untuk keperluan pelajaran ini, kita hanya akan menguraikan metode rata-rata ditimbang.

RINGKASAN :

Ada empat tahapan informasi dasar yang terdapat pada suatu laporan beban pokok produksi berdasarkan Biaya Proses yaitu :

109

(1) kegiatan dalam departemen tersebut dalam unit, (2) ekuivalen uanit utuh yang selesai, (3) biaya yangansi harus dipertanggungjawabkan dan (4) akuntansi untuk biaya.

Prosedur Akuntansi Penentuan Beban pokok produksi berdasarkan Proses:

1. Mengidentifikasikan aliran produk masing-masing pusat pengolahan / departemen

2. Mengakumulasikan data produksi dalam periode tertentu untuk menyusun laporan produksi dan menghitung ekuivalen produksi

3. Mengakumulasikan biaya bahan baku, biaya tenaga kerja dan biaya overhead untuk masing-masing departemen yang terpisah selama periode tertentu

4. Mengukur output masing-masing departemen yang terpisah yang dinyatakan dalam suatu produksi ekuivalen ( Equivalen units of production : menunjukkan jumlah tingkatan produksi yang diukur dalam ukuran produk selesai )

5. Menghitung harga pokok per unit satuan masing-masing departemen dengan membagi biaya bahan baku, biaya tenaga kerja dan biaya overhead dengan equivalen units of production

6. Menghitung harga pokok produk selesai yang ditransfer ke departemen berikutnya atau ke gudang dan menghitung harga pokok produk dalam proses akhir

Perlakuan Harga Pokok Produk Barang Dalam Proses Awal dengan menggunakan metode Rata-rata.

1. Tidak membedakan dari mana asal barang jadi (FG = Finished Goods) baik dari BDB (WIP = Work In Process) awal maupun dari produk yang baru dimasukkan dalam proses

2. Setiap elemen biaya/harga pokok WIP awal digabungkan dengan elemen biaya yang terjadi pada periode yang bersangkutan

110

3. Harga pokok BDP/WIP awal harus dipecah kembali kedalam setiap elemen biaya

Ekuivalen produksi dapat dihitung sbb:

unit produk selesai + (unit BDP/WIP akhir x % peneyelesaian)

4. Cost per unit setiap elemen biaya dapat dihitung sbb:

Biaya BDP/WIP awal + Biaya periode yang bersangkutan Ekuivalen produksi biaya yang bersangkutan

ISTILAH BARU (Glosari) Cost of production report – laporan beban pokok produksi. Sebuah laporan yang memberikan suatu ringkasan kegiatan dalam suatu departemen pengolahan selama suatu periode; laporan ini biasanya berisi empat tahapan: (1) kegiatan dalam departemen tersebut dalam unit, (2) ekuivalen uanit utuh yang selesai, (3) biaya yang harus dipertanggungjawabkan dan (4) akuntansi untuk biaya. Equivalent whole unit – ekuivalen unit utuh. Juga dinamakan ekuvalen produksi; jumlah unit ditunjukkan oleh biaya yang terjadi untuk membuatnya; dengan memperhitungkan unit yang sebagian selesai pada persediaan akhir barang dalam proses pengerjaan; dihitung dengan menambahkan jumlah unit yang diselesaikan dan dipindahkan ke barang jadi dengan ekuivalen porsi persediaan akhir barang yang masih dalam proses pengerjaan.

Contoh soal dan penyelesaiannya. PT "SDA" berproduksi berdasarkan proces cost system melalui dua departemen produksi yaitu; Departemen I dan II. Berikut ini adalah data produksi dan biaya produksi pada bulan Mei 200A:

________________________________________________________ DEPT.I DEPT.II

WIP Awal: Kuantitas (jumlah unit) ................ 1.000 200 Biaya: Dari dept.I - Rp 1.300 Biaya bahan baku ................ Rp2.000 10 Biaya konversi ..................... 960 875 Tingkat % penyelesaian 100%M,1/5LO 1/10M, 2/5LO

111

DATA PRODUKSI: Jumlah unit yang mulai diproses 9.000 - Jumlah unit produk yang diterima dari dept.I/sebelumnya ............... - 8.500 Jumlah produk jadi yg ditransfer ke dept. berikutnya/Gudang ………. 8.500 8.100

DEPT.I DEPT.II

WIP Akhir: Kuantitas (jumlah unit) ......... 1.500 600

Tingkat (%) penyelesaian 100% M,1/3LO 1/6 M, 1/4LO

BIAYA YANG TERJADI: Biaya bahan baku……….. Rp 19.000 Rp 3.680 Biaya konversi………….. Rp 39.540 Rp74.200

DIMINTA: Buat laporan beban pokok produksi untuk masing-masing departemen dan jangan lupa jurnalnya.

JAWABAN:

SDA COMPANY Laporan Biaya Produksi Rata-rata Tertimbang Untuk Bulan yang Berakhir 28 Februari200A

Departemen 1 Departemen 2 Skedul Kuantitas ( Tahap 1): Persediaan awal (semua bahan,1/5 tenaga kerja dan overhead) 1.000 (1/10 B, 2/5 L dan OH) 200 Unit yang mulai diproses 9.000 10.000 8.500 8.700 Unit yang ditransfer ke departemen berikutnya 8.500 8.100 Persediaan akhir (semua bahan,1/3 tenaga kerja dan overhead) 1.500 10.000 (1/6M, 1/4L danOH)6008.700

112

Biaya untuk dipertanggungjawab- kan (Tahap 3): TotalBiaya Total Biaya Biaya per unit BiayaPer unit Brg dlm proses-persd. awal: Biaya dari dep. sebelumnya -0- Rp 1.300 Bahan Rp 2.000 10 Tenaga kerja dan overhead 960 875 Total persediaan awal Rp 2.960 Rp 2,185

Biaya yang diterima dari dep. sebelumnya 56.100 Rp 6,5646

Biaya dep. periode berjalan: Bahan 19.000 Rp 2,10 3.680 0,4499 Tenaga kerja dan overhead 39,540 4,50 74.200 9,1000

Total biy yg harus dipertang-gungjawabkan Rp 61.212 Rp 6,60 Rp 136.165 Rp 16,1477

Biaya yang dipertanggung-jawabkan sebagai berikut (Tahap 4) Biy. yg ditransfer ke dep. berikutnya: (8.500xRp6,60) Rp56.100 (8.100 xRp16,1477) Rp130.796 Brg dlm proses persd. akhir: Biy. dari departemen sebelumnya (600xRp6,5977) Rp3.939 Bahan (1.500xRp2,10) Rp3.150 (600x1/6xRp0,45)45

Tenaga kerja dan overhead (1.500x1/3xRp4,50) 2.250 5.400(600x1/4xRp9,10)1.365 5.346 Total biaya yang dipertang-

gungjawabkan Rp 61.5200 Rp136.165 Perhitungan tambahan (Tahap 2): Ditransfer Persediaan Akhir UE*), Departemen 1, bahan 8.500 + 1.500 = 10.000

10,2$000.10000.21$

000.10000.19$000.2$

==+ (1.500 x 100%)

UE, Departemen 1, tenaga

kerja dan overhead 8.500 + 500 = 9.000

50,4$000.9500.40$

000.9540,39$960$

==+ (1.500 x 1/3)

113

UE, Departemen 2, biaya de-

partemen sebelumnya 8.100 + 600 = 8.700

5977,6$700.8400.57$

700.8100.56$300.1$

==+ (600 x 100%)

UE, Departemen 2, bahan 8.100 + 100 = 8.200

45,0$200.8690.3$

200.8680.3$10$

==+ (600 x 1/6)

UE, Departemen 2, tenaga

kerja dan overhead 8.100 + 150 = 8.250

10,9$250.8

075.75$250.8

200.74$875$==

+ (600 x1/4)

UE*) Unit Ekuivalen BAHAN UNTUK TUGAS PERTANYAAN 1. Apakah kegunaan laporan beban pokok produksi? 2. Jelaskan setiap seksi dan empat tahapan dasar yang terdapat

dalam sebuah laporan beban pokok produksi. 3. Bagaimana cara menghitung ekuivalen produksi? 4. Asumsi arus biaya apakah yang dipakai dalam ilustrasi yang

terdapat dalam bab ini? LATIHAN 1. Departemen A dari Perusahaan manufaktur Gondo Arum, memulai

86.000 unit baru dalam produksi sehari. Pada hari yang sama 81.00 unit diselesaikan dan dipindahkan ke departemen berikutnya. Pada

114

permulaan hari tersebut terdapat 10.000 unit yang sedang dalam proses. Unit ini 90% selesai untuk bahan baku dan 75% selesai untuk tenaga kerja langsung dan overhead pabrik. Unit dalam proses pengerjaan pada akhir hari tersebut 30% sel untuk bahan baku dan 40% selesai untuk tenaga kerja langsung dan overhead pabrik. Hitunglah ekuivalen produksi untuk hari tersebut untuk (1) bahan baku, (2) tenaga kerja langsung dan (3) overhead pabrik.

2. Pada tanggal 1 Januari 2007, suatu departemen mempunyai 1.000

unit dalam proses produksi yang 80% selesai untuk bahan baku dan 60% selesai untuk tenaga kerja langsung dan overhead pabrik. Persediaan barang dalam pengerjaan untuk departemen ini pada 1 Jnauari 1978 mempunyai saldo sebesar Rp3,400, yang terdiri atas bahan baku sebesar Rp1,600, tenaga kerja langsung Rp1,200 dan overhead Rp600. Biaya produksi untuk tujuh hari pertama dalam bulan Januari 2007 adalah:

Bahan baku Rp 18,500 Tenaga kerja langsung Rp 18,000 Overhead pabrik Rp 9,000

10.000 unit baru mulai diproduksi selama minggu tersebut, dan 7.000 unit diselesaikan dan dipindahkan dari departemen tersebut. Unit yang masih dalam proses pengerjaan pada departemen tersebut pada akhir minggu tersebut selesai 100% untuk bahan baku dan 70% selesai untuk tenaga kerja langsung dan overhead. Tarif overhead pabrik adalah 50% dari tenaga kerja langsung. Hitunglah biaya per unti untuk bahan baku, tenaga kerja langsung, dan overhead pabrik yang akan dicantumkan dalam laporan biaya produksi.

3. Selama bulan Juni 2007 dimulai 3.420 unit baru 5.051 unit diselesaikan dan dipindahkan dari suatu departemen. Ada 2.962 unit dalam proses pengerjaan pada awal bulan Juni (yang 92% selesai untuk bahan baku). Persediaan akhir hanya 21% selesai untuk bahan baku. Hitunglah ekuivalen unit bahan baku untuk bulan Juni.

4. Selama bulan Mei 2007 data ini diperoleh dari catatan Departemen

17: Persediaan awal: 11.000 unit, 100% selesai untuk bahan baku dan 80% selesai untuk tenaga kerja langsung dan overhead pabrik. Persediaan akhir: 8.000 unit, 100% selesai untuk bahan baku dan 70% selesai untuk tenaga kerja langsung dan overhead pabrik. Unit selesai dan dipindahkan: 90.000 unit.

115

DIMINTA:

Hitunglah ekuivalen produksi untuk bahan baku, tenaga kerja langsung dan overhead pabrik.

SOAL (KELOMPOK A) 1. Laporan harga`pokok produksi. Dengan menggunakan informasi

berikut, buatlah laporan beban pokok produksi untuk Departemen C untuk minggu yang berakhir 10 Maret 2007.

2. Laporan beban pokok produksi. Kenyataan berikut berhubungan

dengan Departemen X untuk operasi suatu minggu, minggu yang berakhir 17 Maret 2007.

DIMINTA:

Buatlah laporan beban pokok produksi untuk minggu tersebut.

3. Laporan beban pokok produksi. Dengan menggunakan informasi berikut buatlah laporan beban pokok produksi untuk Departemen X untuk minggu yang berakhir 26 Mei 2007. Bulatkanlah semua unit biaya ke rupiah yang terdekat.

BARANG DALAM PROSES PENGERJAAN – DEPARTEMEN C

Persediaan awal: Bahan baku Rp 20,000 Tenaga kerja langsung 8,000 Overhead pabrik 7,200 Rp 35,200 Bahan baku 200,000 Tenaga kerja langsung 90,000 Overhead pabrik 81,000 Rp 406,200

Barang selesai ?

a. 10.000 unit ada pada persediaan awal: 100% selesai untuk bahan baku dan 30% selesai untuk tenaga kerja langsung dan overhead pabrik.

b. 100.000 unit baru mulai dikerjakan dalam minggu tersebut.

116

c. 80.000 unit diselesaikan dan dipindahkan ke barang jadi, tersisa 30.000 unit dalam persediaan akhir yang 100% selesai untuk bahan baku dan 60% selesai untuk tenaga kerja langsung dan overhead pabrik.

BARANG DALAM PROSES PENGERJAAN – DEPARTEMEN X

Persediaan awal: Bahan baku Rp 120,000 Tenaga kerja langsung 40,000 Overhead pabrik 40,000 200,000 Bahan baku 298,000 Tenaga kerja langsung 113,600 Overhead pabrik 113,600 Rp 725,200

Barang selesai?

a. Dalam persediaan awal terdapat 10.000 unit: 100% selesai untuk bahan baku dan selesai untuk tenaga kerja langsung dan overhead pabrik.

b. Unit baru yang dimulai dalam bulan bersangkutan berjumlah

100.000. c. 90.000 Unit selesai dan dipindahkan ke barang jadi, tersisa

20.000 unit pada persediaan akhir yang 100% selesai untuk bahan baku dan 30% selesai untuk tenaga kerja langsung dan overhead pabrik.

BARANG DALAM PENGERJAAN – DEPARTEMEN X

a. Persediaan awal: Bahan baku Rp 20,000 Tenaga kerja langsung 16,000 Overhead pabrik 12,800 48,800 b. Bahan baku 200,000 Tenaga kerja langsung 120,000 Overhead pabrik 72,000 Rp 440,800

Barang selesai?

a. Unit pada persediaan awal berjumlah 10.000: 100% selesai

untuk bahan baku dan 80% selesai untuk tenaga kerja dan overhead pabrik.

b. Unit baru yang dimulai berjumlah 98.000 unit.

117

c. Unit selesai dan dipindahkan ke barang jadi berjumlah 58.000

unit, tersisa 50.000 unit pada persediaan akhir yang 100% selesai untuk bahan baku dan 15% selesai untuk tenaga kerja langsung dan overhead pabrik.

SOAL (KELOMPOK B) 4. Laporan beban pokok produksi. Dengan menggunakan informasi

berikut, buatlah suatu laporan biaya produksi untuk Departemen X untuk minggu yang berakhir 26 Mei 2007. Bulatkanlah semua biaya per unit ke rupiahtralisasi yang terdekat.

BARANG DALAM PROSES – DEPARTEMEN X

a. Persediaan awal: Bahan baku Rp 10,000 Tenaga kerja langsung 8,000 Overhead pabrik 6,400 Rp24,400 b. Bahan baku 100,000 Tenaga kerja langsung 60,000 Overhead pabrik 36,000 Rp 220,400

Barang selesai ?

a. 10.000 unit terdapat dalam persediaan awal: 100% selesai untuk

bahan baku dan 80% selesai untuk tenaga kerja langsung dan overhead pabrik.

b. 98.000 unit dimulai selama minggu tersebut. c. 58.000 unit selesai dipindahkan ke barang jadi, tersisa 50.000 unit

pada persediaan akhir di mana 100% bahan baku telah selesai dan 15% tenaga kerja langsung dan overhead pabrik.

5. Laporan beban pokok produksi, ayat buku harian. Perkiraan

persediaan barang dalam pengerjaan untuk Proses 191 mempunyai saldo sebesar Rp92,700 pada tanggal 10 Juni 2007. Saldo ini merupakan 20.000 unit yang 90% bahan baku telah selesai dan 30% tenaga kerja langsung dan overhad pabrik selesai. Rp92,700 terdiri atas bahan baku Rp55,800, Rp12,300 tenaga kerja langsung, dan Rp24,600 overhead pabrik.

118

Selama minggu tersebut (10-16 Juni), 114,800 unit baru dimulai dalam proses 191 dan 96,200 unit diselesaikan dan dipindahkan ke barang jadi. Juga, biaya ini terjadi selama inggu tersebut: Bahan baku Rp313,860: Tenaga kerja langsung Rp195,540; Overhead pabrik Rp391,080. Unit yang masih berada dalam proses pada 16 Juni 2007, 70% selesai untuk bahan baku dan 20% selesai untuk tenaga kerja langsung dan overhead pabrik.

DIMINTA:

a. Buatlah laporan beban pokok produksi untuk minggu yang berakhir 16 Juni 2007 untuk Proses 191.

b. Buatlah ayat jurnal untuk memindahkan barang yang selesai dari Proses 191 ke barang jadi.

6. Laporan beban pokok produksi, ayat buku harian. Selama bulan

November 2007 Departemen AC menyelesaikan dan memindah-kan ke barang jadi 21.000 unit produk. Pada akhir bulan masih terdapat 21.171 untuk yang masih dalam proses pengerjaan. Unit ini 100% selesai untuk bahan baku dan 80% selesai untuk tenaga kerja langsung dan overhead pabrik. Persediaan awal terdiri atas 5.916 unit di mana bahan baku telah selesai 80% dan tenaga kerja langsung dan overhead selesai 35%. Biaya selama bulan November untuk Departemen AC adalah:

Bahan baku Rp 60,376 Tenaga kerja langsung 86,285 Overhead pabrik 69,029 Biaya persediaan awal: Bahan baku Rp 7,098 Tenaga kerja langsung 4,763 Overhead pabrik 3,810

DIMINTA a. Buatlah laporan beban pokok produksi untuk bulan November

2007 untuk Departemen AC. b. Buatlah ayat jurnal untuk memindahkan barang selesai dari

Departemen AC ke barang jadi.

119

SOAL ULANGAN KUMULATIF 7. Data di bawah ini mengenai Departemen Perakitan dari Manufco,

Inc., untuk bulan Desember 2007. Transaksi:

(1). Dibeli bahan baku dari Bony Company Rp214,625 tunai. (2). Dipakai bahan sebagai berikut:

Departemen Perakitan Rp 190,838 Departemen Painting 36,500 Untuk pemakaian umum 696

(3). Upah pabrik adalah sebagai berikut: Departemen Perakitan (tenaga kerja langsung) Rp 123,160 Departemen Painting (tenaga langsung) 36,955 Tenaga pengawas 19,500

Pajak penghasilan yang dipotong berjumlah Rp8,550.

(4). Dibebankan overhead pada Departemen Perakitan dengan tarif 75% dari biaya tenaga kerja langsung.

(5). Dibayar asuransi pabrik Rp 900. (6). Diselesaikan 49.000 unit pada Departemen Perakitan dan

dipindahkan ke barang jadi. (7). Dijual semua unit selesai (transaksi 6) tunai seharga Rp10

per unit.

INFORMASI TAMBAHAN:

Persediaan awal pada Departemen Perakitan terdiri atas 11.600 unit yang bahan baku selesai 80% (Rp29,696), 40% selesai untuk tenaga kerja langsung dan overhead, masing-masing Rp9,280 dan Rp6,960. Selama periode tersebut, 62.000 unit baru dimasukkan ke dalam produksi. Persediaan akhir 70% selesai untuk bahan baku dan 30% selesai untuk tenaga kerja langsung dan overhead.

DIMINTA:

a. Buatlah laporan beban pokok produksi untuk Departemen Perakitan untuk bulan yang bersangkutan.

b. Bukukanlah jurnal dari transaksi di atas. 8. Di bawah ini adalah perkiraan barang dalam proses pengerjaan

yang selesai sebagian untuk Department Y untuk minggu yang berakhir 23 Juni 2007.

120

BARANG DALAM PENGERJAAN – DEPARTEMEN Y a. Persediaan awal: Bahan baku Rp 186,000 Tenaga kerja langsung 217,000 Overhead pabrik 173,600 Bahan baku 545,600 Tenaga kerja langsung 986,600

Dipindahkan (200.000 unit)?

62.000 unit – 100% selesai untuk bahan baku dan 70% selesai untuk tenaga kerja langsung dan overhead pabrik.

Persediaan akhir 40.000 unit – 90% selesai untuk bahan baku, tenaga kerja langsung, dan overhead pabrik.

DIMINTA: a. Bukukanlah transaksi ini dalam buku harian

(1) Pengeluaran bahan baku untuk produksi. (2) Upah untuk periode yang bersangkutan. Pajak yang

dipotongkan berjumlah Rp7,590 dan biaya tenaga kerja tidak langsung berjumlah Rp80,000.

(3) Bebankan overhead pada produksi dengan tarif yang

sama dengan biaya tenaga kerja langsung seperti yang ditunjukkan oleh persediaan awal.

(4) Bukukan pemindahan barang dari departemen yang

bersangkutan ke barang jadi.

b. Buatlah laporan beban pokok produksi untuk minggu tersebut.

121

HALAMAN INI SENGAJA DIKOSONGKAN

Seri

Aku

nta

nsi

In

du

stri

un

tuk

Se

kola

h M

enen

gah

Kej

uru

an

Akuntansi untuk

Industri Tertentu dan

Masalah-Masalah Khusus Direktorat Pembinaan

Sekolah Menengah Kejuruan Ditjen Manajemen Dikdasmen

Departemen Pendidikan Nasional

Bagian 2

Drs. Ali Irfan, MSA., Ak., BKP. Dra. Yuli Winarni, MM., Ak.

Editor: Drs. I Cenik Ardana, MM., Ak.

AGAKUNGUNA

☺ Pe

NTAA US

erbedaan

☺ Aspe

124

ANSI SAHA

☺ Term

☺ Penger☺ Keuntun☺ Klasifikperjanjian

La☺ Akunta

ek Perpaja

4

untuA (LE

minologi rtian Leasinngan Leasikasi Leasin Leasing dainnya ansi Leasinakan dalam

uk SEEASI

ng ing g engan Per

ng m Leasing

EWA ING)

rjanjian

125

AKUNTANSI UNTUK SEWA-GUNA-USAHA (LEASING)

Leasing atau sewa-guna-usaha adalah setiap kegiatan pembiayaan perusahaan dalam bentuk penyediaan barang-barang modal untuk digunakan oleh suatu perusahaan untuk jangka waktu tertentu, berdasarkan pembayaran-pembayaran secara berkala disertai dengan hak pilih bagi perusahaan tersebut untuk membeli barang-barang modal yang bersangkutan atau memperpanjang jangka waktu leasing berdasarkan nilai sisa uang yang telah disepakati bersama. Dengan melakukan leasing perusahaan dapat memperoleh barang modal dengan jalan sewa beli untuk dapat langsung digunakan berproduksi, yang dapat diangsur setiap bulan, triwulan atau enam bulan sekali kepada pihak lessor.

Melalui pembiayaan leasing perusahaan dapat memperoleh barang-barang modal untuk operasional dengan mudah dan cepat. Hal ini sungguh berbeda jika kita mengajukan kredit kepada bank yang memerlukan persyaratan serta jaminan yang besar. Bagi perusahaan yang modalnya kurang atau menengah, dengan melakukan perjanjian leasing akan dapat membantu perusahaan dalam menjalankan roda kegiatannya. Setelah jangka leasing selesai, perusahaan dapat membeli barang modal yang bersangkutan. Perusahaan yang memerlukan

126

sebagian barang modal tertentu dalam suatu proses produksi secara tiba-tiba, tetapi tidak mempunyai dana tunai yang cukup, dapat mengadakan perjanjian leasing untuk mengatasinya. Dengan melakukan leasing akan lebih menghemat biaya dalam hal pengeluaran dana dibanding dengan membeli secara tunai.

Di Indonesia leasing baru dikenal melalui surat keputusan bersama Menteri Keuangan dan Menteri Perdagangan Republik Indonesia dengan No.KEP-122/MK/IV/2/1974, No.32/M/SK/2/1974, dan No.30/Kpb/I/1974 tanggal 7 Februari 1974 tentang perizinan usaha leasing. Sejalan dengan perkembangan waktu dan perekonomian Indonesia permasalahan yang melibatkan leasing semakin banyak dan kompleks. Mulai dari jenis leasing yang paling sederhana sampai yang rumit. Perbedaan jenis leasing menyebabkan perbedaan dalam pengungkapan laporan keuangan, perlakuan pajak dan akibatnya pada pajak penghasilan badan akhir tahun. Capital lease dan operating lease sama-sama dikenakan pajak pertambahan nilai, sedangkan untuk operating lease disamping dikenakan pajak pertambahan nilai juga dikenakan pemotongan pajak penghasilan pasal 23, hal ini karena diperlakukan sebagai sewa menyewa biasa. Biaya-biaya yang berkaitan dengan transaksi lease dianggap sebagai biaya usaha bagi pihak lessee.

Terminologi (Glosari)

Dalam transaksi leasing, terdapat istilah-istilah yang berbeda dengan istilah yang dipakai pada industri lainnya. Beberapa istilah itu—yang perlu dikenal untuk memahami transaksi leasing—adalah:

Lease : Suatu kontrak sewa atas penggunaan harta untuk suatu periode tertentu dengan sewa tertentu.

Lessee : Pemakai aktiva yang akan di lease. Perusahaan atau perorangan yang menggunakan barang modal dengan pembiayaan dari pihak perusahaan leasing.

Lessor : Pemilik dari aktiva yang akan di lease.

Lease term: Jangka waktu lease yang tetap dan tidak dapat dibatalkan, termasuk:

a. Periode yang mencakup hak opsi untuk memperbarui kontrak leasing.

b. Periode yang mencakup digunakannya hak opsi untuk membeli aktiva yang dilease.

c. Periode dimana lessor mempunyai hak untuk memperbarui atau memperpanjang masa lease.

127

d. Periode dimana denda dikenakan bagi lessee atas kegagalannya untuk memperbarui lease dan jumlah denda tersebut dijamin pada permulaan lease.

e. Periode yang mencakup hak opsi pembaruan yang biasa yaitu diberikan jaminan oleh lessee atas utang lessor yang mungkin terjadi.

Residual Value: Nilai leased asset yang diperkirakan dapat direalisasi pada akhir periode sewa.

Security Deposit (SD): Jaminan kas yang diminta lessor dari sewa lessee untuk menjamin pembayaran sewa atau kewajiban sewa lainnya.

Pengertian Leasing

Secara umum leasing artinya Equipment funding, yaitu pembiayaan peralatan/barang modal untuk digunakan pada proses produksi suatu perusahaan baik secara langsung maupun tidak langsung. Pengertian leasing menurut surat Keputusan Bersama Menteri Keuangan dan Menteri Perdagangan dan Industri Republik Indonesia No. KEP-122/MK/IV/2/1974, Nomor 32/M/SK/2/1974, dan Nomor 30/Kpb/I/1974 tanggal 7 Februari 1974 adalah: ”Setiap kegiatan pembiayaan perusahaan dalam bentuk penyediaan barang-barang modal untuk digunakan oleh suatu perusahaan untuk jangka waktu tertentu, berdasarkan pembayaran-pembayaran secara berkala disertai dengan hak pilih bagi perusahaan tersebut untuk membeli barang-barang modal yang bersangkutan atau memperpanjang jangka waktu leasing berdasarkan nilai sisa uang telah disepakati bersama”.

Equipment Leasing Association di London memberikan definisi leasing sebagai berikut: “Leasing adalah perjanjian antara lessor dan lessee untuk menyewa sesuatu atas barang modal tertentu yang dipilih/ditentukan oleh lessee. Hak pemilikan barang modal tersebut ada pada lessor sedangkan lessee hanya menggunakan barang modal tersebut berdasarkan pembayaran uang sewa yang telah ditentukan dalam jangka waktu tertentu”.

Berdasarkan beberapa pengertian di atas, maka pada prinsipnya pengertian leasing terdiri dari beberapa elemen di bawah ini:

1. Pembiayaan perusahaan 2. Penyediaan barang-barang modal 3. Jangka waktu tertentu

128

4. Pembayaran secara berkala 5. Adanya hak pilih (option right) 6. Adanya nilai sisa yang disepakati bersama 7. Adanya pihak lessor 8. Adanya pihak lessee

Keuntungan Leasing Pembiayaan melalui leasing merupakan pembiayaan yang sangat

sederhana dalam prosedur dan pelaksanaannya dan oleh karena itu leasing yang digunakan sebagai pembayaran alternatif tampak lebih menarik. Sebagai suatu alternatif sumber pembiayaan modal bagi perusahaan-perusahaan, maka leasing didukung oleh keuntungan-keuntungan sebagai berikut:

1. Fleksibel, artinya struktur kontrak dapat disesuaikan dengan kebutuhan perusahaan yaitu besarnya pembayaran atau periode lease dapat diatur sedemikian rupa sesuai dengan kondisi perusahaan.

2. Tidak diperlukan jaminan, karena hak kepemilikan sah atas aktiva yang di lease serta pengaturan pembayaran lease sesuai dengan pendapatan yang dihasilkan oleh aktiva yang dilease sudah merupakan jaminan bagi lease itu sendiri.

3. Capital saving, yaitu tidak menyediakan dana yang besar, maksimum hanya menyediakan down payment yang jumlahnya dalam kebiasaan lease tidak terlalu besar, jadi dalam hal ini bisa dikatakan menjadi suatu penghematan modal bagi lessee, yaitu lessee dapat menggunakan modal yang tersedia untuk keperluan lain. Karena leasing umumnya membiayai 100% barang modal yang dibutuhkan.

4. Cepat dalam pelayanan, artinya secara prosedur leasing lebih sederhana dan relatif lebih cepat dalam realisasi pembiayaan bila dibandingkan dengan kredit investasi bank, jadi tanpa prosedur yang rumit dan hal itu memberikan kemudahan bagi para pengusaha untuk memperoleh mesin-mesin dan peralatan yang mutakhir untuk memungkinkan dibukanya suatu bidang usaha produksi yang baru atau untuk memodernisasi perusahaan.

5. Pembayaran angsuran lease diperlakukan sebagai biaya

operasional, artinya pembayaran lease langsung dihitung sebagai biaya dalam penentuan laba rugi perusahaan, jadi

129

pembayarannya dihitung dari pendapatan sebelum pajak, bukan dari laba yang terkena pajak.

6. Sebagai pelindung terhadap inflasi, artinya terhindar dari resiko penurunan nilai uang yang disebabkan oleh inflasi, yaitu lessee sampai kapan pun tetap membayar dengan satuan moneter yang lalu terhadap sisa kewajibannya.

7. Adanya hak opsi bagi lessee pada akhir masa lease.

8. Adanya kepastian hukum, artinya suatu perjanjian leasing tidak dapat dibatalkan dalam keadaan keuangan umum yang sangat sulit, sehingga dalam keadaan keuangan atau moneter yang sesulit apapun perjanjian leasing tetap berlaku.

9. Terkadang leasing merupakan satu-satunya cara untuk mendapatkan aktiva bagi suatu perusahaan, terutama perusahaan ekonomi lemah, untuk dapat memodernisasi pabriknya.

Klasifikasi Leasing

Secara umum jenis-jenis leasing bisa dibedakan menjadi beberapa kelompok sebagai berikut.

1. Capital Lease

Perusahaan leasing pada jenis ini berlaku sebagai suatu lembaga keuangan. Lessee yang akan membutuhkan suatu barang modal menentukan sendiri jenis serta spesifikasi dari barang yang dibutuhkan. Lessee juga mengadakan negoisasi langsung dengan supplier mengenai harga, syarat-syarat perawatan serta hal-hal lain yang berhubungan dengan pengoperasian barang tersebut.

Lessor akan mengeluarkan dananya untuk membayar barang tersebut kepada supplier dan kemudian barang tersebut diserahkan kepada lessee. Sebagai imbalan atas jasa pengguanaan barang tersebut lessee akan membayar secara berkala kepada lessor sejumlah uang yang berupa rental untuk jangka waktu tertentu yang telah disepakati bersama.

Jumlah rental ini secara keseluruhan akan meliputi harga barang yang dibayar oleh lessor ditambah faktor bunga serta keuntungan

130

pihak lessor. Selanjutnya capital atau finance lease masih bisa dibedakan menjadi dua yaitu:

a. Direct finance lease

Transaksi ini terjadi jika lessee sebelumnya belum pernah memiliki barang yang dijadikan objek lease. Secara sederhana bisa dikatakan bahwa lessor membeli suatu barang atas permintaan lessee dan akan dipergunakan oleh lessee.

b. Sale and lease back

Sesuai dengan namanya, dalam transaksi ini lessee menjual barang yang telah dimilikinya kepada lessor. Atas barang yang sama ini kemudian dilakukan suatu kontrak leasing antara lessee dengan lessor. Dengan memperhatikan mekanisme ini, maka perjanjian ini memiliki tujuan yang berbeda dibandingkan dengan direct finance lease. Di sini lessee memerlukan cash yang bisa dipergunakan untuk tambahan modal kerja atau untuk kepentingan lainnya. Bisa dikatakan bahwa dengan sistem sale and lease back memungkinkan lessor memberikan dana untuk keperluan apa saja kepada kliennya dan tentu saja dana yang dibutuhkan sesuai dengan nilai objek barang lease.

2. Operating Lease

Pada operating lease, lessor membeli barang dan kemudian menyewakan kepada lessee untuk jangka waktu tertentu. Dalam praktik lessee membayar rental yang besarnya secara keseluruhan tidak meliputi harga barang serta biaya yang telah dikeluarkan oleh lessor.

Di dalam menentukan besarnya pembayaran lease, lessor tidak memperhitungkan biaya-biaya tersebut karena setelah masa lease berakhir diharapkan harga barang tersebut masih cukup tinggi. Di sini jelas tidak ditentukan adanya nilai sisa serta hak opsi bagi lessee.

3. Sales type lease (Lease Penjualan)

Lease penjualan biasanya dilakukan oleh perusahaan industri yang menjual lease barang hasil produksinya. Dalam kontrak penjualan lease diakui dua macam pendapatan yaitu pendapatan

131

penjualan barang dan pendapatan bunga atas jasa pembelanjaan selama jangka waktu lease.

4. Leverage Lease

Pada leasing ini dilibatkan pihak ketiga yang disebut credit provider. Lessor tidak membiayai objek leasing hingga sebesar 100% dari harga barang melainkan hanya antara 20% hingga 40%. Kemudian sisa dari harga barang tersebut akan dibiayai oleh credit provider.

5. Cross Border Lease

Transaksi pada jenis ini merupakan suatu transaksi leasing yang dilakukan dengan melewati batas suatu negara. Dengan demikian antara lessor dan lessee terletak pada dua negara yang berbeda. Barang-barang atau peralatan yang ditransaksikan dalam cross border lease meliputi nilai jutaan dollar Amerika Serikat. Seperti Pesawat terbang bermesin jet dari Pabrikan Boeing dan Airbus.

Berikut ini adalah klasifikasi leasing oleh lessee.

(Tunggal, 1994: 27)

TIDAK

TIDAK

TIDAK

TIDAK

YA

TIDAK

YA

YA

YA

YA

YA

LEASE MENGANDUNG HAK OPSI UNTUK MEMBELI

PEMINDAHAN HAK MILIK PADA AKHIR MASA LEASE

LEASE DIMULAI PADA SAAT UMUR EKONOMIS AKTIVA ≤ 25% DARI TOTAL UMURNYA

MASA LEASE ≥ 75% DARI UMUR AKTIVA

NILAI TUNAI MINIMUM LEASE PAYMENT ≥ 90% DARI NILAI

WAJAR AKTIVA

OPERATING LEASE CAPITAL

LEASE

132

Perbedaan Antara Perjanjian Leasing dengan Perjanjian lainnya

1. Perjanjian Sewa Menyewa

Perjanjian sewa-menyewa diatur dalam Kitab Undang-Undang Hukum Perdata (pasal 1548 sampai dengan 1600). Menurut pasal 1548 pada pokoknya perjanjian sewa menyewa adalah:

a. Pihak yang menyewakan wajib menyediakan barang bagi pihak yang menyewa untuk dapat dinikmati kegunaannya oleh penyewa.

b. Penyewa membayar imbalan jasa kepada pihak yang menyewakan.

Sepintas lalu perjanjian sewa menyewa mirip dengan unsur-unsur dalam perjanjian lease, tetapi apabila ditelaah dan diteliti lebih lanjut maka kedua perjanjian ini tidak sama, khususnya mengenai capital lease. Pokok perbedaannya adalah sebagai berikut:

Perbedaan Leasing dengan Sewa Menyewa

No Capital Lease Sewa Menyewa

1. Merupakan suatu metode pembiayaan.

Bukan merupakan suatu metode pembiayaan

2. Lessor adalah badan penyedia dana dan lessor pemilik barang yang di lease.

Yang menyewakan barang dapat menjadi pemilik, tetapi dapat juga bukan.

3. Objek leasing berupa barang modal.

Objek sewa menyewa tidak selalu barang modal.

4. Resiko yang terjadi seluruhnya ditanggung lessee

Resiko yang terjadi pada sewa menyewa ditanggung pihak pemberi sewa.

5. Imbalan jasa yang diterima lessor adalah berupa tebusan berkala harga perolehan barang

Imbalan jasa yang diterima oleh yang menyewakan barang berupa uang sewa.

133

6.

Jangka waktu leasing ditentukan dalam perjanjian leasing selama waktu tertentu.

Jangka waktu sewa-menyewa tidak ditentukan. Tergantung kesanggupan penyewa untuk membayar uang sewa.

7. Kewajiban lessee untuk membayar imbalan jasa tidak berhenti walaupun barang yang menjadi objek lease musnah.

Kewajiban penyewa hanya ada bila si penyewa dapat menikmati barang yang disewa.

(Achmad Anwari, 1997: 16)

2. Perjanjian Sewa Beli dan Jual Beli dengan Angsuran

Menurut keputusan menteri perdagangan dan industri nomor 343/KP/II/80, sewa beli adalah jual beli barang dimana penjual melaksanakan penjualan barang dengan cara memperhitungkan setiap pembayaran yang dilakukan oleh pembeli yang dengan pelunasan atas barang yang telah disepakati bersama dan yang diikat dalam suatu perjanjian, serta hak milik atas barang tersebut baru beralih dari penjual kepada pembeli setelah jumlah harga yang dibayar lunas oleh pembeli kepada penjual.

Sedangkan definisi jual beli dengan angsuran, diberikan definisi sebagai berikut: ”Jual beli dengan angsuran adalah jual beli dimana penjual melaksanakan penjualan barang dengan cara menerima pelunasan pembayaran yang dilakukan oleh pembeli dalam beberapa kali angsuran atas barang yang telah disepakati bersama dan yang diikat dalam suatu perjanjian, serta hak milik atas barang tersebut beralih dari penjual kepada pembeli pada saat barangnya diserahkan oleh penjual kepada pembeli.”

Perbedaan leasing dengan sewa beli dan jual beli dengan angsuran adalah sebagai berikut:

No Leasing Sewa beli dan jual beli angsuran

1. Lessor adalah pihak yang me-nyediakan dana dan membiayai seluruh pembelian barang tersebut

Harga pembelian barang sebagian dibayar oleh pembeli.

134

2. Masa leasing biasanya ditetap-kan sesuai dengan perkiraan umum kegunaan barang.

Jangka waktu dalam perjanjian sewa beli dan jual beli angsuran tidak memperhatikan baik pada perkiraan umur kegunaan barang maupun kemampuan pembeli mengangsur harga barang.

3. Pada akhir masa leasing, lessee dapat menggunakan hak opsinya.

Pada akhir masa perjanjian, hak milik barang dengan sendirinya beralih kepada pembeli.

(Achmad Anwari 1997: 18)

Akuntansi Leasing

Dalam akuntansi, pencatatan leasing dilakukan berdasarkan jenis leasing; yaitu:

1. Jurnal akuntansi capital lease.

a. Pada saat pengakuan leasing.

Aktiva/Peralatan/Mesin xxx Kewajiban leasing xxx

b. Pada saat pembayaran pertama.

Beban pajak xxx Kewajiban leasing xxx

Kas xxx

c. Pada penyesuaian akhir tahun.

Beban bunga xxx Hutang bunga xxx

d. Pada pengakuan penyusutan.

Beban penyusutan xxx Akumulasi penyusutan xxx

135

e. Pada saat pembayaran kedua.

Beban pajak xxx Kewajiban leasing xxx Beban bunga xxx

Kas xxx

f. Pada saat lessee menggunakan hak opsi.

Aktiva/Peralatan/Mesin xxx Akm. Peny. Aktiva leasing xxx

Hutang hak opsi xxx Kewajiban leasing xxx Security deposit xxx

2. Jurnal akuntansi operating lease.

Pada operating lease hanya terdapat satu jurnal yaitu.

Beban lease/sewa xxx Kas xxx

Formula yang Digunakan untuk Menghitung Pembayaran Leasing

Sewaktu perjanjian lease diadakan antara pihak lessee dan pihak lessor, maka pada saat itu telah ditentukan bagaimana cara pembayaran yang akan dilakukan, apakah pembayaran leasing dilakukan di muka atau pembayaran sewa dilakukan di belakang. Untuk kedua cara pembayaran tersebut ada dua rumus yang dapat dipergunakan (Soekadi, 1990: 105) yaitu:

1. Rumus untuk pembayaran di muka:

1)1(.)1)(( 1

−++−

=−

n

n

iiiRVCPmt

136

2. Rumus untuk pembayaran di belakang:

1)11(.)1)((

−++−

= n

n iiRVCPmt

Keterangan:

Pmt : Pembayaran lease C : Cost of leased asset setelah diperhitungkan dengan

security deposit RV : nilai residu i : tingkat suku bunga n : periode sewa

Dari kedua rumus di atas, akan memberikan hasil perhitungan pembayaran sewa yang sama. Pada praktiknya selama ini, perusahaan leasing kebanyakan mempergunakan rumus di atas untuk menghitung pembayaran sewa dikarenakan mudah dalam menghitung bunga dan nilai present value.

Prosedur Mekanisme Leasing

Dalam melakukan perjanjian leasing terdapat prosedur dan mekanisme yang harus dijalankan yang secara garis besar dapat diuraikan sebagai berikut:

1. Lessee bebas memilih dan menentukan peralatan yang dibutuhkan, mengadakan penawaran harga dan menunjuk supplier peralatan yang dimaksudkan.

2. Setelah lessee mengisi formulir permohonan lease, maka dikirimkan kepada lessor disertai dokumen lengkap.

3. Lessor mengevaluasi kelayakan kredit dan memutuskan untuk memberikan fasilitas lease dengan syarat dan kondisi yang disetujui lessee (lama kontrak pembayaran sewa lease), setelah ini maka kontrak lease dapat ditandatangani.

4. Pada saat yang sama, lessee dapat menandatangani kontrak asuransi untuk peralatan yang dilease dangan perusahaan asuransi yang disetujui lessor, seperti yang tercantum dalam kontrak lease. Antara lessor dan perusahaan asuransi terjalin perjanjian kontrak utama.

137

5. Kontrak pembelian peralatan akan ditandatangani lessor dengan supplier peralatan tersebut.

6. Supplier dapat mengirimkan peralatan yang dilease ke lokasi lessee. Untuk mempertahankan dan memelihara kondisi peralatan tersebut, supplier akan menandatangani perjanjian purna jual.

7. Lessee menandatangani tanda terima peralatan dan menyerahkan kepada suppplier.

8. Supplier menyerahkan tanda terima (yang diterima dari lessee), bukti pemilikan dan pemindahan pemilikan kepada lessor.

9. Lessor membayar harga peralatan yang dilease kepada supplier.

10. Lessee membayar sewa lease secara periodik sesuai dengan jadwal pembayaran yang telah ditentukan dalam kontrak lease.

Perlakuan Akuntansi oleh Lessee Menurut PSAK No. 30

1. Capital Lease

Transaksi sewa guna usaha diperlakukan dan dicatat sebagai aktiva tetap dan kewajiban pada awal masa sewa leasing sebesar nilai tunai dari seluruh pembayaran leasing ditambah nilai sisa yang harus dibayar oleh penyewa guna usaha pada akhir masa leasing. Selama masa leasing setiap pembayaran leasing dialokasikan dan dicatat sebagai angsuran pokok kewajiban leasing dan beban bunga berdasarkan tingkat bunga yang diperhitungkan terhadap sisa kewajiban lessee.

Tingkat diskonto yang digunakan untuk menentukan nilai tunai dari pembayaran leasing adalah tingkat bunga yang berlaku pada awal masa lease.

Aktiva yang dileasing harus diamortisasi dalam jumlah yang wajar berdasarkan masa manfaatnya.

Kewajiban leasing harus disajikan sebagai kewajiban lancar dan jangka panjang sesuai dengan praktik yang lazim untuk jenis usaha lessee.

2. Operating Lease

Pembayaran leasing selama tahun berjalan merupakan biaya sewa yang diakui dan dicatat berdasarkan metode garis

138

lurus selama masa leasing, meskipun pembayaran leasing dilakukan dalam jumlah yang tidak sama setiap periodenya.

Penyusutan Menurut Perpajakan Indonesia

Berbeda dengan standar akuntansi yang membebaskan sebuah entitas atau perusahaan untuk menentukan taksiran dan kebijakan-kebijakan berkenaan dengan penyusutan atas aktiva/hartanya, maka pemerintah telah mengeluarkan beberapa undang-undang serta peraturan yang mengatur tentang cara dan pelaksanaan penyusutan.

Ketentuan-ketentuan mengenai beban penyusutan yang diatur dalam undang-undang perpajakan nomor 17 tahun 2000 yang terdapat dalam pasal 11 ayat 1,2 dan 3 adalah:

1. Penyusutan atas pengeluaran untuk pembelian, pendirian, penambahan, perbaikan, atau perubahan harta berwujud, kecuali tanah yang berstatus hak milik, hak guna bangunan, hak guna usaha, dan hak pakai, yang dimiliki dan digunakan untuk mendapatkan, menagih, dan memelihara penghasilan yang mempunyai umur manfaat lebih dari satu tahun dilakukan dalam bagian-bagian yang sama besarnya selama masa manfaat yang telah ditentukan bagi harta tersebut.

Tarif Penyusutan Menurut Undang-undang Pajak Indonesia

Kelompok Harta Berwujud

Masa Manfaat

Tarif Penyusutan sebagaimana dimaksud dalam

Ayat (1) Ayat (2) I. Bukan Bangunan

Kelompok 1 4 tahun 25% 50%

Kelompok 2 8 tahun 12,5% 25%

Kelompok 3 16 tahun 6,25% 12,5%

Kelompok 4 20 tahun 5% 10%

II. Bangunan

Permanen 20 tahun 5% -

Tidak Permanen 10 tahun 10% -

Keterangan ayat (1) : Menggunakan metode garis lurus.

139

ayat (2) : Menggunakan metode saldo menurun

2. Penyusutan atas pengeluarn harta berwujud sebagaimana

dimaksud dalam ayat (1) selain bangunan, dapat juga dilakukan dalam bagian-bagian yang menurun selama masa manfaat, yang dihitung dengan cara menerpakan tarif penyusutan atas nilai sisa buku, dan pada hari masa manfaat nilai sisa buku disusutkan sekaligus, dengan syarat taat asas.

3. Penyusutan dimulai pada bulan dilakukannya pengeluaran,

kecuali untuk harta yang masih dalam proses pengerjaan, penyusutan dimulai pada bulan selesainya pengerjaan harta tersebut. Untuk menghitung penyusutan dan besarnya tarif menurut

undang-undang perpajakan nomor 17 tahun 2000 diatur dalam pasal 11 ayat 6. Tabel penyusutan di atas memperlihatkan pengelompokan aktiva berdasarkan pasal tersebut.

Aspek perpajakan yang berkaitan dengan leasing.

1. Pajak Penghasilan (PPh)

Berdasarkan Undang-undang no 17 tahun 2000 dan surat Keputusan Menteri Keuangan RI No. 1169/KMK.01/1991 Pasal 16 ayat 2 menyatakan: “Lessee tidak memotong pajak penghasilan pasal 23 atas pembayaran sewa guna usaha yang dibayar atau terutang berdasarkan perjanjian sewa guna usaha dengan hak opsi”. Dalam pasal tersebut dengan jelas menyatakan bahwa angsuran-angsuran atau pembayaran yang diterima lessor dari lessee untuk jenis transaksi finance lease tidak dikenakan pemotongan pajak penghasilan.

Pasal 17 ayat 2 menyatakan:

a. Pembayaran sewa guna usaha tanpa hak opsi yang dibayar atau terutang oleh lessee adalah biaya yang dapat dikurangkan dari penghasilan bruto.

b. Lessee wajib memotong pajak penghasilan pasal 23 atas pembayaran sewa guna usaha tanpa hak opsi yang dibayarkan atau terutang kepada lessor.

140

Pasal 17 ayat 2a mengatur tentang perlakuan pembayaran leasing oleh lessee. Di sini dijelaskan bahwa pembayaran leasing dari lessee kepada lessor untuk transaksi operational lease diperlukan pemotongan pajak penghasilan pasal 23 karena menurut pajak diperlakukan sebagi sewa-menyewa biasa.

2. Pajak Pertambahan Nilai (PPN)

a. Perlakuan PPN atas transaksi capital lease:

1) Berdasarkan ketentuan pasal 13 Peraturan Pemerintah nomor 50 tahun 1994 huruf d dan e, Pengumuman Direktur Jenderal Pajak No. Peng- 139/PJ.63/1989 dan Pasal 1 angka 4 Keputusan Direktur Jenderal Pajak Nomor Kep05/PJ/1994, penyerahan jasa dalam transaksi capital lease dari lessor kepada lessee adalah penyerahan jasa yang terutang PPN, karena lessor sebagai perusahaan jasa persewaan barang dengan demikian adalah pengusaha kena pajak.

2) Pengalihan barang dalam transaksi operating lease bukan merupakan penyerahan barang kena pajak karena pengalihan barang tersebut adalah dalam rangka persewaan biasa.

3) Besarnya PPN yang terutang adalah 10% dari Nilai Penggantian.

4) PPN sebagaimana dimaksud dalam angka 3) merupakan PPN Keluaran bagi lessor dan merupakan PPN Masukan bagi lessee dalam hal lessee adalah Pengusaha Kena Pajak. PPN yang dibayar atas perolehan barang kena pajak (BKP) yang dilease merupakan PPN Pajak Masukan yang dapat dikreditkan dengan PPN Pajak Keluaran lessor.

b. Dalam hal transaksi sale and lease back tanpa hak opsi, PPN masukan atas perolehan barang tidak boleh dikreditkan oleh lessee. Dalam hal lessee kemudian melease kembali barang tersebut, maka lessor harus mengenakan PPN yang terutang atas jasa persewaan barang yang dilakukan.

141

Untuk memberikan gambaran tentang leasing, dari sudut pandang lessee, pada halaman-halaman berikut ini diberikan ilustrasi dengan data-data dari PT SUKASEWA.

Data Laporan Keuangan Komersial

Laporan Laba Rugi Tahun 2007

Penjualan 1.709.879.200Rp Harga Pokok Penjualan (951.994.328)Rp Laba Kotor 757.884.872Rp Beban Pemasaran

Beban Gaji 66.740.800Rp Beban angkut penjualan 32.456.765Rp Beban Penyusutan Kendaraan 14.473.000Rp Beban Pemeliharaan Kendaraan 13.255.000Rp Beban Bahan Bakar 33.342.000Rp Beban Telepon 12.376.000Rp Beban Lease 20.721.750Rp

Jumlah Beban Pemasaran 193.365.315Rp

Beban Adm & UmumBeban Gaji 165.765.000Rp Beban Penyusutan Bangunan 1.622.530Rp Beban Penyusutan Peralatan Kantor 1.878.000Rp Beban Perlengkapan 4.150.000Rp Beban Listrik 9.152.400Rp Beban Air 1.380.000Rp Beban Lain-lain 620.000Rp

Jumlah Beban Adm & Umum 184.567.930Rp Total Beban (377.933.245)Rp

Pendapatan & Beban Lain-lainBeban Bunga 65.987.000Rp

Jumlah Pendapatan & Beban Lain-lain (65.987.000)Rp

Laba Sebelum Pajak 313.964.627Rp Beban Pajak (75.734.526)Rp Laba Setelah Pajak 238.230.101Rp

PT SUKASEWA

LAPORAN LABA RUGI

Untuk periode yang berakhir pada 31 Desember 2007

142

Neraca Tahun 2007

Aktiva Kewajiban & ModalAktiva Lancar Hutang Lancar

Kas 432.890.000Rp Hutang Usaha 105.656.300Rp Piutang Dagang 886.448.464Rp Hutang Gaji 30.454.309Rp Persediaan Hutang Bank 327.085.000Rp

Bahan 110.998.047Rp Hutang Pajak 64.478.423Rp Barang Dalam Proses 108.131.138Rp Jumlah Hutang Lancar 527.674.032Rp Barang Jadi 113.386.806Rp

Biaya lease dibayar dimuka 6.907.250Rp Hutang Jangka PanjangPerlengkapan 14.750.000Rp Security Deposit 4.500.000Rp Hutang Bank 275.600.700Rp

Jumlah Aktiva Lancar 1.678.011.705Rp Hutang Lain-lain 176.565.400Rp Jumlah Hutang Jangka Panjang 452.166.100Rp

Aktiva TetapTanah 210.750.000Rp Bangunan 324.506.000Rp ModalAkm. Peny. Bangunan (190.647.275)Rp Modal Saham 650.000.000Rp Mesin & Peralatan 163.805.000Rp Laba ditahan 508.764.423Rp Akm. Peny. Mesin & Peralatan (118.758.625)Rp Kendaraan 144.730.000Rp Jumlah Modal 1.158.764.423Rp Akm. Peny. Kendaraan (75.983.250)Rp Peralatan Kantor 9.390.000Rp Akm. Peny. Kantor (7.199.000)Rp

Jumlah Aktiva Tetap 460.592.850Rp

Total Aktiva 2.138.604.555Rp Total Kewajiban & Modal 2.138.604.555Rp

NERACA

PER 31 DESEMBER 2007

PT SUKASEWA

143

Laporan Laba Rugi Tahun 2008

Penjualan 1.869.320.000Rp Harga Pokok Penjualan (977.221.851)Rp Laba Kotor 892.098.149Rp Beban Pemasaran

Beban Gaji 67.775.600Rp Beban angkut penjualan 35.657.900Rp Beban Penyusutan Kendaraan 14.473.000Rp Beban Penyusutan Kendaraan Leasing 5.658.750Rp Beban Pemeliharaan Kendaraan 15.650.000Rp Beban Bahan Bakar 45.034.200Rp Beban Telepon 14.132.410Rp Beban lease 6.907.250Rp

Jumlah Beban Pemasaran 205.289.110Rp

Beban Adm & UmumBeban Gaji 170.230.900Rp Beban Penyusutan Bangunan 1.622.530Rp Beban Penyusutan Peralatan Kantor 1.878.000Rp Beban Perlengkapan 3.950.000Rp Beban Listrik 10.440.500Rp Beban Air 732.000Rp

Jumlah Beban Adm & Umum 188.853.930Rp Total Beban (394.143.040)Rp

Pendapatan & Beban Lain-lainBeban Bunga 75.080.980Rp Beban Bunga Lease 6.097.210Rp

Jumlah Pendapatan & Beban Lain-lain (81.178.190)Rp

Laba Sebelum Pajak 416.776.919Rp Beban Pajak (104.354.798)Rp Laba Setelah Pajak 312.422.121Rp

PT SUKASEWA

LAPORAN LABA RUGI

Untuk periode yang berakhir pada 31 Desember 2008

144

Neraca Tahun 2008

Pokok Perjanjian Leasing Perjanjian leasing yang telah dilakukan oleh PT SUKASEWA

adalah perjanjian capital lease dan operating lease. Pokok-pokok perjanjian mengenai kedua jenis lease itu adalah sebagai berikut:

Capital Lease

PT SUKASEWA melakukan capital leasing pada tahun 2008 dengan objek leasing sebuah mobil truk box merek Mitsubishi tipe Colt

Aktiva Kewajiban & ModalAktiva Lancar Hutang Lancar

Kas 509.906.988Rp Hutang Usaha 175.737.330Rp Piutang Dagang 940.233.517Rp Hutang Gaji 32.211.286Rp Persediaan Hutang Bank 250.560.000Rp

Bahan 127.898.543Rp Hutang Pajak 60.478.423Rp Barang Dalam Proses 123.168.778Rp Hutang Hak Opsi 12.575.000Rp Barang Jadi 110.908.700Rp Jumlah Hutang Lancar 531.562.039Rp

Uang Muka Pajak 27.541.050Rp Perlengkapan 22.350.000Rp Hutang Jangka PanjangSecurity Deposit 12.575.000Rp Hutang Lease 93.029.710Rp

Jumlah Aktiva Lancar 1.874.582.576Rp Hutang Bank 250.500.000Rp Hutang Lain-lain 120.500.400Rp

Aktiva Tetap Jumlah Hutang Jangka Panjang 464.030.110Rp Tanah 210.750.000Rp Bangunan 324.506.000Rp Akm. Peny. Bangunan (206.872.505)Rp ModalMesin & Peralatan 163.805.000Rp Modal Saham 650.000.000Rp Akm. Peny. Mesin & Peralatan (135.139.125)Rp Laba ditahan 760.717.797Rp Kendaraan 144.730.000Rp Akm. Peny. Kendaraan (90.456.250)Rp Jumlah Modal 1.410.717.797Rp Peralatan Kantor 9.390.000Rp Akm. Peny. Kantor (9.077.000)Rp Kendaraan Lease 125.750.000Rp Akm. Peny. Kendaraan Lease (5.658.750)Rp

Jumlah Aktiva Tetap 531.727.370Rp

Total Aktiva 2.406.309.946Rp Total Kewajiban & Modal 2.406.309.946Rp

PT SUKASEWA

NERACA

PER 31 DESEMBER 2008

145

Diesel 100PS 4 roda yang akan dipergunakan untuk memperlancar kegiatan perusahaan dalam bidang pengiriman barang pesanan. Adapun pokok-pokok perjanjian yang dibuat PT SUKASEWA dengan pihak lessor adalah sebagai berikut:

1. Jangka waktu leasing adalah 4 tahun terhitung mulai tanggal 28 Juni 2008 hingga 28 Maret 2012 dengan syarat perjanjian lease tidak bisa dibatalkan. Pembayaran lease sebesar Rp.8.747.500,00 per triwulan.

2. Harga pasar truk pada tanggal dimulainya lease adalah sebesar Rp.138.325.000,00 termasuk PPN sebesar 10%.

3. Taksiran umur ekonomis mobil adalah sepuluh tahun dengan nilai sisa sebesar Rp.12.575.000,00. Dimana PT SUKASEWA memiliki hak opsi diakhir masa leasing dengan harga sebesar nilai sisa.

4. Tarif bunga leasing sebesar 12% pertahun atau 3% pertriwulan.

5. PT SUKASEWA Menggunakan metode garis lurus dalam perhitungan penyusutan aktiva tetap.

6. PT SUKASEWA membayar security deposit sebesar Rp.12.575.000,00 atau sebesar nilai sisa sebagai jaminan, dan di akhir masa leasing akan dikembalikan jika PT SUKASEWA tidak menggunakan hak opsinya.

7. Pada waktu pihak PT SUKASEWA melakukan perjanjian dengan lessor tidak ada biaya yang timbul.

Operating Lease

PT SUKASEWA merupakan perusahaan manufaktur yang telah melakukan operating lease pada tahun 2007. Dimana barang yang dilease adalah Sebuah mobil truk box dengan merek Mitsubishi tipe Colt Diesel 100PS 4 roda. Mobil ini digunakan oleh PT SUKASEWA untuk mengirimkan barang hasil produksi di pulau Sumatera. Pokok-pokok perjanjian operating lease yang dilakukan oleh PT SUKASEWA sebagai berikut:

1. Jangka waktu lease selama satu tahun dengan pembayaran dimuka sebesar Rp.26.800.000,00 bersih (neto). Tidak termasuk PPN 10 %. Transaksi dilakukan pada tanggal 4 April 2007.

146

2. Lessee diwajibkan memberi uang jaminan (security deposit) sebesar Rp.4.500.000,00 dan uang ini akan dikembalikan pada saat perjanjian lease berakhir.

3. Pada saat melakukan perjanjian operating lease timbul biaya sebesar Rp.620.000,00. Biaya ini ditanggung oleh PT SUKASEWA.

4. Perjanjian ini tidak bisa dibatalkan.

Implikasi

Munculnya lembaga leasing merupakan alternatif yang menarik bagi para pengusaha karena saat ini mereka cenderung menggunakan dana rupiah tunai untuk kegiatan operasional perusahaan. Melalui leasing mereka bisa memperoleh dana untuk membiayai pembelian barang-barang modal dengan jangka waktu pengembalian antara tiga tahun hingga lima tahun atau lebih. Disamping hal tersebut di atas para pengusaha juga memperoleh keuntungan-keuntungan lainnya seperti kemudahan dalam pengurusan, dan adanya hak opsi.

Suatu keuntungan lain jika ditinjau dari laporan keuangan fiskal adalah transaksi capital lease diperhitungkan sebagai operational lease pembayaran lease dianggap sebagai biaya mengurangi pendapatan kena pajak. Tetapi tidak begitu halnya jika ditinjau dari segi komersial. Berikut ini akan dibahas perbedaan yang terjadi atas transaksi leasing ditinjau dari segi komersial dan fiskal.

Capital lease

Berdasarkan data-data pokok perjanjian capital lease dapat dihitung pembayaran lease per triwulan sebagai berikut:

Langkah I:

Mengeluarkan unsur PPN sebesar 10% dari harga pasar truk yaitu:

C = Rp.138.325.000,00 X 110100

C = Rp.125.750.000,00

147

Jadi harga pasar truk tanpa PPN adalah sebesar Rp.125.750.000,00. Sedangkan untuk PPN masukannya sendiri dapat dihitung sebagai berikut:

PPN = Rp.138.325.000,00 – Rp.125.750.000,00 = Rp.12.575.000,00

Jadi PPN masukan atas transaksi lease ini adalah sebesar Rp.12.575.000,00

Pada akhir masa (bulan), PPN ini akan dapat dikreditkan sebagai pajak masukan bagi PT SUKASEWA, karena objek PPN ini digunakan untuk kegiatan operasional perusahaan.

Langkah II:

Menghitung besarnya lease per triwulan.

1)1()1)(( 1

−+⋅+−

=−

n

n

iiiRVCPmt

1)03,01(03,0)03,01)(000.575.12000.750.125(

16

116

−+×+−

=−

Pmt

60470644,003,0557967,1000.175.113 ××

=Pmt

60470644,046,687.289.5

=Pmt

=Pmt Rp.8.747.500,00 (pembulatan)

Jadi besarnya pembayaran lease per triwulan adalah Rp.8.747.500,00. Menurut hasil perhitungan dari rumus di atas dapat dibuatkan daftar pembayaran lease untuk capital lease selama empat tahun seperti nampak pada halaman berikut.

Melihat pada data-data pokok perjanjian lease dan daftar pembayaran lease di atas dapat ditentukan jenis perjanjian leasing yang dilakukan oleh PT SUKASEWA:

1. Dilihat dari hak kepemilikan. Pada akhir masa lease akan terjadi pemindahan hak kepemilikan truk dari lessor ke lessee.

148

2. Pada akhir masa lease terdapat hak opsi bagi lessee untuk membeli truk dengan ”bargain price” artinya pada perjanjian lease disebutkan bahwa lessee mempunyai hak untuk membeli truk dengan harga yang menguntungkan, dalam hal ini sebesar Rp.12.575.000,00. Dimana harga ini lebih rendah dari taksiran nilai wajarnya.

3. Lease dimulai pada saat truk masih baru. Artinya nilai truk masih 100% belum pernah disusutkan.

4. Jangka waktu permulaan nilai tunai (present value) lease dari pada pembayaran lease minimum harus sama atau lebih dari 90% dari nilai pasar wajar. Pada perjanjian ini pembayaran lease minimum yakni sebesar Rp.139.960.000,00 lebih besar dari 90% nilai wajar truk sebesar Rp.125.750.000,00.

5. Masa lease selama empat tahun telah melebihi ketentuan perpajakan yakni sekurang-kurangnya tiga tahun untuk barang modal golongan II dan III.

149

Daftar Pembayaran Lease

PT SUKASEWA

Tanggal Pembayaran Jumlah Angsuran Pembayaran Saldo PokokKe Pembayaran Pokok Bunga

Pembayaran Tahun 200828/06/2008 125.750.000Rp 28/06/2008 1 8.747.500Rp 8.747.500Rp 117.002.500Rp 28/09/2008 2 8.747.500Rp 5.614.675Rp 3.132.825Rp 111.387.825Rp 28/12/2008 3 8.747.500Rp 5.783.115Rp 2.964.385Rp 105.604.710Rp

Jumlah 26.242.500Rp 20.145.290Rp 6.097.210Rp

Pembayaran Tahun 200928/03/2009 4 8.747.500Rp 5.956.609Rp 2.790.891Rp 99.648.101Rp 28/06/2009 5 8.747.500Rp 6.135.307Rp 2.612.193Rp 93.512.794Rp 28/09/2009 6 8.747.500Rp 6.319.366Rp 2.428.134Rp 87.193.428Rp 28/12/2009 7 8.747.500Rp 6.508.947Rp 2.238.553Rp 80.684.481Rp

Jumlah 34.990.000Rp 24.920.229Rp 10.069.771Rp

Pembayaran Tahun 201028/03/2010 8 8.747.500Rp 6.704.216Rp 2.043.284Rp 73.980.265Rp 28/06/2010 9 8.747.500Rp 6.905.342Rp 1.842.158Rp 67.074.923Rp 28/09/2010 10 8.747.500Rp 7.112.502Rp 1.634.998Rp 59.962.421Rp 28/12/2010 11 8.747.500Rp 7.325.877Rp 1.421.623Rp 52.636.543Rp

Jumlah 34.990.000Rp 28.047.937Rp 6.942.063Rp

Pembayaran Tahun 201128/03/2011 12 8.747.500Rp 7.545.654Rp 1.201.846Rp 45.090.890Rp 28/06/2011 13 8.747.500Rp 7.772.023Rp 975.477Rp 37.318.866Rp 28/09/2011 14 8.747.500Rp 8.005.184Rp 742.316Rp 29.313.682Rp 28/12/2011 15 8.747.500Rp 8.245.340Rp 502.160Rp 21.068.343Rp

Jumlah 34.990.000Rp 31.568.201Rp 3.421.799Rp

Pembayaran Tahun 201228/03/2012 16 8.747.500Rp 8.492.700Rp 254.800Rp 12.575.643Rp

Jumlah 8.747.500Rp 8.492.700Rp 254.800Rp

Total 139.960.000Rp 113.174.357Rp 26.785.643Rp

Berdasarkan kriteria-kriteria di atas maka perjanjian leasing yang

dilakukan PT SUKASEWA merupakan perjanjian capital lease.

Operating Lease

Pada operating lease, lessor membeli barang dan kemudian menyewakan kepada lessee untuk jangka waktu tertentu. Dalam praktik lessee membayar rental yang besarnya secara keseluruhan tidak meliputi harga barang serta biaya yang telah dikeluarkan lessor. Di dalam menentukan besarnya rental, lessor tidak memperhitungkan biaya-biaya tersebut karena setelah masa lease berakhir diharapkan harga barang

150

tersebut masih cukup tinggi, di sini secara jelas tidak ditentukan adanya nilai sisa serta hak opsi bagi lessee. Setelah masa lease berakhir lessor merundingkan kemungkinan dilakukannya kontrak lease yang baru dengan lessee yang sama atau mencari lessee yang baru.Pada operating lease ini biasanya lessee bertanggung jawab mengenai perawatan barang yang dilease. Barang-barang yang sering dijadikan objek lease dalam operating lease biasanya barang-barang yang mempunyai nilai tinggi seperti alat-alat berat, traktor, truk, mesin-mesin dan lain sebagainya.

Merujuk pada pokok perjanjian lease yang terjadi pada tanggal 4 April 2007, dapat dihitung besarnya total pembayaran yang harus dikeluarkan PT SUKASEWA. Perhitungan ini dilakukan karena pihak lessor menginginkan pembayaran sebesar Rp.26.800.000,00 bersih (netto) masuk ke kas lessor tanpa adanya potongan.

Langkah I:

Menghitung penghasilan bruto dan besarnya PPh Pasal 23 yang harus dipungut PT SUKASEWA selaku pengusaha kena pajak (PKP):

1. 15% dari perkiraan penghasilan netto. 2. Perkiraan penghasilan netto = 20% x penghasilan bruto.

Penghasilan bruto:

00,000.629.27.00,000.800.26.97

100 RpRp =× (pembulatan)

Perkiraan penghasilan netto:

20% x Rp.27.629.000,00 = Rp.5.525.800,00

PPh Pasal 23:

15% x Rp.5.525.800,00 = Rp.829.000,00

Langkah II:

Menghitung besarnya PPN 10% dari Rp.27.629.000,00

10% x Rp.27.629.000,00 = Rp.2.762.900,00

151

Jadi uang kas yang harus dikeluarkan oleh PT SUKASEWA terkait dengan perjanjian lease ini sebesar:

Penghasilan netto Rp.26.800.000,00 PPh Pasal 23 dipotong Rp. 829.000,00

Penghasilan bruto (tanpa PPN) Rp.27.629.000,00 PPN 10 % Rp. 2.762.900,00

Jumlah Rp.30.391.900,00

Sedangkan uang kas yang diserahkan kepada pihak lessor adalah sebesar:

Penghasilan netto Rp.26.800.000,00 PPN (Masukan bagi lessee) Rp. 2.762.900,00

Jumlah Rp.29.562.900,00

Transaksi leasing yang telah dilakukan oleh PT SUKASEWA ini dapat digolongkan ke dalam operating lease. Hal ini didasarkan pada pasal 4 keputusan menteri keuangan nomor 1169/KMK.01/1991 yakni kegiatan leasing digolongkan sebagai operating lease jika memenuhi kriteria sebagai berikut:

1. Jumlah pembayaran leasing selama masa lease pertama tidak dapat menutupi harga perolehan barang modal yang dilease ditambah dengan keuntungan lessor.

2. Perjanjian leasing tidak memuat ketentuan mengenai opsi bagi lessee.

Pembayaran leasing oleh PT SUKASEWA kepada lessor sebesar Rp.30.391.900,00 tidak bisa menutupi harga mobil truk box dengan merek Mitsubishi tipe Colt Diesel 100PS 4 roda yang harganya melebihi Rp.100.000.000,00, Selain itu di dalam perjanjian di atas tidak ada hak opsi bagi PT SUKASEWA.

Capital Lease

Berdasarkan tabel analisa hasil data-data di atas maka perlakuan akuntansi dan perpajakan atas capital lease pada PT SUKASEWA adalah sebagai berikut:

152

Jurnal yang dibuat oleh PT SUKASEWA sebagai lessee pada tanggal 28 Juni 2008 adalah:

Kendaraan leasing Rp. 125.750.000,00 Hutang leasing Rp. 113.175.000,00 Hutang Hak Opsi Rp. 12.575.000,00

(mencatat pengakuan leasing)

Security deposit Rp. 12.575.000,00 Kas Rp. 12.575.000,00

(mencatat pembayaran security deposit)

Hutang leasing Rp. 8.747.500,00 PPN (Masukan) Rp. 12.575.000,00

Kas Rp. 21.322.500 (mencatat pembayaran lease I ditambah dengan PPN)

Penyerahan barang kena pajak dalam hal ini adalah truk dari supplier kepada PT SUKASEWA, terutang PPN. Oleh karena truk ini digunakan PT SUKASEWA untuk proses produksi maka lessor tidak berhak mengkreditkan PPN Masukan atas penyerahan truk kepada lessee. Sedangkan yang berhak mengkreditkan PPN masukan adalah PT SUKASEWA. Dengan demikian, faktur pajak truk yang dibuat supplier adalah atas nama dan NPWP PT SUKASEWA. Pada akhir masa pajak pertambahan nilai, PPN masukan ini dapat dikreditkan dengan PPN keluaran.

Di dalam jurnal yang dibuat oleh PT SUKASEWA tidak dijumpai adanya hutang PPh pasal 23. Hal ini dikarenakan menurut Keputusan Menteri Keuangan nomor 1169/KMK.01/1991 pasal 16 ayat 2 lessee dalam hal ini PT SUKASEWA tidak memotong pajak penghasilan pasal 23 atas pembayaran sewa guna usaha yang dibayar atau terutang berdasarkan perjanjian sewa guna usaha dengan hak opsi. Adapun jurnal pembayaran lease untuk triwulan kedua adalah:

Hutang leasing Rp. 5.614.675,00 Beban bunga Rp. 3.132.825,00

Kas Rp. 8.747.500,00 (mencatat pembayaran lease ke II dan seterusnya)

153

Jurnal yang dibuat oleh PT SUKASEWA untuk triwulan ketiga sampai triwulan keenambelas adalah sama tetapi jumlah angkanya disesuaikan menurut tabel pembayaran lease. Pada akhir tahun perusahaan akan mencatat adanya penyusutan kendaraan leasing. Sesuai dengan pokok perjanjian lease bahwa PT SUKASEWA menggunakan metode garis lurus dalam penyusutan kendaraan leasing dan umur ekonomis truk ditaksir selama sepuluh tahun, maka besarnya penyusutan truk adalah:

Besar penyusutan per tahun

tahunRpRp

1000,000.575.12.00,000.750.125. −

=

tahun

Rp10

00,000.175.113.= = Rp. 11.317.500,00/tahun

Karena pada tahun 2008 PT SUKASEWA hanya menggunakan truk selama enam bulan, maka besarnya penyusutan adalah:

00,750.658.5.500.317.11.126 RpRp =×

Penyusutan untuk tahun-tahun ke depan yaitu tahun 2007, 2008 dan 2009 sebesar Rp.11.317.500,00. Sedangkan besarnya penyusutan untuk tahun 2010 selama enam bulan yaitu tanggal 1 Januari sampai 30 Juni 2010 adalah:

00,750.658.5.500.317.11.126 RpRp =×

Jurnal penyesuaian penyusutan kendaraan pada tanggal 31 Desember 2008 adalah:

Penyusutan kendaraan leasing Rp.5.658.750,00 Akumulasi penystn. Kend. leasing Rp.5.658.750,00

(mencatat penyesuaian penyusutan kendaraan leasing)

Dari beberapa penjelasan di atas akan tampak rekening kendaraan leasing dan hutang leasing pada laporan neraca akhir tahun 2008 sebagaimana diperlihatkan di bawah ini.

154

Neraca Tahun 2008

Ada beberapa perbedaan antara peraturan perpajakan dengan

Standar Akuntansi Keuangan sehubungan dengan penyajian transaksi leasing dalam laporan keuangan di akhir tahun. Di dalam Standar Akuntansi Keuangan disebutkan bahwa transaksi leasing diperlakukan dan dicatat sebagai aktiva tetap dan kewajiban pada awal masa leasing setiap pembayaran ditambah nilai sisa (harga opsi) yang harus dibayar oleh lessee pada akhir masa leasing. Selama masa leasing setiap pembayaran leasing dialokasikan dan dicatat sebagai angsuran pokok kewajiban leasing dan beban bunga, dari pernyataan di atas jelas bahwa pembayaran rental dialokasikan sebagai angsuran pokok kewajiban yang

Aktiva Kewajiban & ModalAktiva Lancar Hutang Lancar

Kas 509.906.988Rp Hutang Usaha 175.737.330Rp Piutang Dagang 940.233.517Rp Hutang Gaji 32.211.286Rp Persediaan Hutang Bank 250.560.000Rp

Bahan 127.898.543Rp Hutang Pajak 60.478.423Rp Barang Dalam Proses 123.168.778Rp Hutang Hak Opsi 12.575.000Rp Barang Jadi 110.908.700Rp Jumlah Hutang Lancar 531.562.039Rp

Uang Muka Pajak 27.541.050Rp Perlengkapan 22.350.000Rp Hutang Jangka PanjangSecurity Deposit 12.575.000Rp Hutang Lease 93.029.710Rp

Jumlah Aktiva Lancar 1.874.582.576Rp Hutang Bank 250.500.000Rp Hutang Lain-lain 120.500.400Rp

Aktiva Tetap Jumlah Hutang Jangka Panjang 464.030.110Rp Tanah 210.750.000Rp Bangunan 324.506.000Rp Akm. Peny. Bangunan (206.872.505)Rp ModalMesin & Peralatan 163.805.000Rp Modal Saham 650.000.000Rp Akm. Peny. Mesin & Peralatan (135.139.125)Rp Laba ditahan 760.717.797Rp Kendaraan 144.730.000Rp Akm. Peny. Kendaraan (90.456.250)Rp Jumlah Modal 1.410.717.797Rp Peralatan Kantor 9.390.000Rp Akm. Peny. Kantor (9.077.000)Rp Kendaraan Lease 125.750.000Rp Akm. Peny. Kendaraan Lease (5.658.750)Rp

Jumlah Aktiva Tetap 531.727.370Rp

Total Aktiva 2.406.309.946Rp Total Kewajiban & Modal 2.406.309.946Rp

PT SUKASEWA

NERACA

PER 31 DESEMBER 2008

155

akan dicatat di sisi debet dan akhirnya akan mengurangi besarnya kewajiban leasing yang tercantum dalam neraca.

Besarnya angsuran pokok kewajiban PT SUKASEWA untuk tahun 2008 sebesar Rp.20.145.290,00. Adapun sebagian lainnya akan dialokasikan sebagai beban bunga yang akan dicatat di sisi debet dan akan dimasukkan ke dalam laporan laba rugi sebagai pengurangan pendapatan. Untuk tahun 2008 besarnya beban bunga leasing yang ditanggung oleh PT SUKASEWA adalah Rp.6.097.210,00.

Berbeda dengan peraturan perpajakan Keputusan Menteri Keuangan No. 1169/KMK.01/1991 pasal 16 ayat 1 (c), pembayaran leasing yang dibayar atau terutang oleh lessee kecuali pembebanan atas tanah merupakan biaya yang dapat dikurangkan dari penghasilan brutto lessee sepanjang transaksi leasing tersebut memenuhi ketentuan pasal 3 keputusan ini. Sedangkan pasal 3 berbunyi:

Kegiatan leasing digolongkan sebagai leasing dengan hak opsi apabila memenuhi semua kriteria berikut:

1. Jumlah pembayaran leasing selama masa leasing pertama ditambah dengan nilai sisa barang modal, harus dapat menutup harga perolehan barang modal dan keuntungan lessor.

2. Masa leasing ditetapkan sekurang-kurangnya 2 (dua) tahun untuk barang modal golongan I, 3 (tiga) tahun untuk barang modal golongan II dan III, dan 7 (tujuh) tahun untuk golongan bangunan.

3. Perjanjian leasing memuat ketentuan mengenai hak opsi bagi lessee.

Berdasarkan kriteria pasal 3 bahwa perjanjian leasing yang dilakukan oleh PT SUKASEWA telah memenuhi persyaratan untuk digolongkan sebagai capital lease. Sehingga pembayaran lease diakui sebagai beban yang akan masuk di dalam laporan laba rugi sebagai pengurangan pendapatan. Di mana menurut perpajakan angsuran pokok dan biaya bunga dialokasikan sebagai pengurangan pendapatan. Pada tahun 2008 besarnya beban lease yang telah dibayar oleh PT SUKASEWA adalah Rp.26.242.500,00. Jadi beban bunga lease pada laporan laba rugi juga harus dikoreksi dan dijadikan satu dalam pembayaran beban lease.

156

Laporan Laba Rugi Komersial Tahun 2008

Penjualan 1.869.320.000Rp Harga Pokok Penjualan (977.221.851)Rp Laba Kotor 892.098.149Rp Beban Pemasaran

Beban Gaji 67.775.600Rp Beban angkut penjualan 35.657.900Rp Beban Penyusutan Kendaraan 14.473.000Rp Beban Penyusutan Kendaraan Leasing 5.658.750Rp Beban Pemeliharaan Kendaraan 15.650.000Rp Beban Bahan Bakar 45.034.200Rp Beban Telepon 14.132.410Rp Beban lease 6.907.250Rp

Jumlah Beban Pemasaran 205.289.110Rp

Beban Adm & UmumBeban Gaji 170.230.900Rp Beban Penyusutan Bangunan 1.622.530Rp Beban Penyusutan Peralatan Kantor 1.878.000Rp Beban Perlengkapan 3.950.000Rp Beban Listrik 10.440.500Rp Beban Air 732.000Rp

Jumlah Beban Adm & Umum 188.853.930Rp Total Beban (394.143.040)Rp

Pendapatan & Beban Lain-lainBeban Bunga 75.080.980Rp Beban Bunga Lease 6.097.210Rp

Jumlah Pendapatan & Beban Lain-lain (81.178.190)Rp

Laba Sebelum Pajak 416.776.919Rp Beban Pajak (104.354.798)Rp Laba Setelah Pajak 312.422.121Rp

PT SUKASEWA

LAPORAN LABA RUGI

Untuk periode yang berakhir pada 31 Desember 2008

Perbedaan lain adalah menurut Standar Akuntansi Keuangan. Aktiva yang dilease harus didepresiasi dalam jumlah yang wajar berdasarkan taksiran masa manfaatnya. Besar penyusutan yang dilakukan PT SUKASEWA terhadap truk yang dilease pada tahun 2008 adalah sebesar Rp.5.658.750,00. Sedangkan menurut peraturan perpajakan, Keputusan Menteri Keuangan nomor 1169/KMK.01/1991 pasal 16 ayat 1 (a) selama masa leasing, lessee tidak boleh melakukan

157

penyusutan atas barang modal yang dilease, sampai saat lessee menggunakan hak opsi untuk membeli. Jadi menurut perpajakan penyusutan yang dilakukan terhadap truk yang dilease tidak berlaku selama hak opsi belum dipergunakan. Sehingga dalam penyusunan laporan keuangan fiskal biaya penyusutan aktiva yang dilease harus dikoreksi. Untuk memperjelas pengaruh dari pemaparan di atas dapat dilihat perbandingan antara laporan laba rugi komersial dan laba rugi fiskal tahun 2008 berikut.

Laporan Laba rugi Fiskal Tahun 2008

Penjualan 1.869.320.000Rp Harga Pokok Penjualan (976.198.070)Rp Laba Kotor 893.121.930Rp Beban Pemasaran

Beban Gaji 67.775.600Rp Beban angkut penjualan 35.657.900Rp Beban Penyusutan Kendaraan 18.091.250Rp Beban Pemeliharaan Kendaraan 15.650.000Rp Beban Bahan Bakar 45.034.200Rp Beban Telepon 14.132.410Rp Beban lease 33.149.750Rp

Jumlah Beban Pemasaran 229.491.110Rp

Beban Adm & UmumBeban Gaji 170.230.900Rp Beban Penyusutan Bangunan 1.622.530Rp Beban Penyusutan Peralatan Kantor 391.250Rp Beban Perlengkapan 3.950.000Rp Beban Listrik 10.440.500Rp Beban Air 732.000Rp

Jumlah Beban Adm & Umum 187.367.180Rp Total Beban (416.858.290)Rp

Pendapatan & Beban Lain-lainBeban Bunga 70.080.980Rp

Jumlah Pendapatan & Beban Lain-lain (70.080.980)Rp Penghasilan Kena Pajak 406.182.660Rp

Untuk periode yang berakhir pada 31 Desember 2008

PT SUKASEWA

LAPORAN LABA RUGI FISKAL

158

Jumlah beban pajak penghasilan badan akhir tahun pada laporan laba rugi komersial di atas diperoleh dari perhitungan laba sebelum pajak laporan keuangan fiskal dengan perhitungan sebagai berikut:

10% X Rp. 50.000.000 = Rp. 5.000.000,00 15% X Rp. 50.000.000 = Rp. 7.500.000,00 30% X Rp. 306.182.660 = Rp. 91.354.798,00

Rp. 406.182.660 Rp.104.354.798,00

Bila pada tanggal 31 Agustus 2010 PT SUKASEWA

memutuskan untuk menggunakan hak opsi untuk membeli truk yang dilease dengan menggunakan security deposit. Pencatatan yang dibuat oleh PT SUKASEWA atas transaksi ini adalah:

Kendaraan Rp. 69.162.500,00 Akm Peny Kendaraan Leasing Rp. 56.587.500,00 Hutang Hak opsi Rp. 12.575.000,00

Kendaraan Leasing Rp. 125.750.000,00 Security deposit Rp. 12.575.000,00

(mencatat penggunaan hak opsi)

Nilai buku pada akhir masa leasing inilah yang akan menjadi dasar bagi PT SUKASEWA untuk melakukan penyusutan truk yang akan dibeli. Sedangkan jangka waktu yang dipergunakan adalah sisa umur ekonomis truk tersebut, dalam hal ini adalah enam tahun. Mulai tanggal 1 Juli 2010 perpajakan telah mengakui beban penyusutan yang dilakukan oleh PT SUKASEWA sebagai pengurang pendapatan pada laporan laba rugi.

Terdapat perbedaan antara akuntansi komersial dengan perpajakan dalam penentuan nilai yang digunakan sebagai dasar dalam penyusutan truk yang dibeli. Seperti yang telah disebut di atas bahwa akuntansi komersial menggunakan nilai buku pada saat akhir masa leasing sebagai dasar untuk melakukan penyusutan terhadap truk yang dibeli. Berbeda dengan peraturan perpajakan Keputusan Menteri Keuangan nomor 1169/KMK.01/1991 pasal 16 ayat 1 (b) yang menyantumkan bahwa setelah lessee menggunkan hak opsi untuk membeli barang modal tersebut lessee melakukan penyusutan dengan dasar penyusutan adalah nilai sisa (Residual Value) barang modal bersangkutan. Jadi menurut perpajakan yang menjadi dasar adalah nilai

159

sisa yakni sebesar Rp.12.575.000,00. Sedangkan akuntansi komersial menggunkan nilai buku pada saat akhir masa leasing sebesar Rp.69.162.500,00 sebagai dasar penyusutan. Perbedaan ini sifatnya tetap, oleh sebab itu PT SUKASEWA harus melakukan penyesuaian pada saat membuat laporan keuangan fiskal. Perbedaan ini nantinya akan menyebabkan perbedaan perhitungan pajak penghasilan antara akuntansi komersial dengan akuntasi perpajakan.

Operating Lease

Merujuk pada analisa hasil data-data di atas dapat dibuat pembahasan sebagai berikut. Jurnal yang dibuat oleh PT SUKASEWA berkaitan dengan transaksi operating lease di atas adalah:

Beban Lain-lain (adm & umum) Rp.620.000,00

Kas Rp.620.000,00 (mencatat biaya yang timbul karena transaksi operating lease)

Beban lease Dibayar di Muka Rp.27.629.000,00 PPN (Masukan) Rp. 2.762.900,00

Kas Rp.29.562.900,00 Hutang PPh psl 23 Rp. 829.000,00

(mencatat pembayaran rental operating lease)

Security deposit Rp.4.500.000,00 Kas Rp.4.500.000,00

(mencatat pembayaran security deposit)

Di dalam melakukan transaksi operating lease PT SUKASEWA memberikan uang sebesar Rp 4.500.000,00 kepada lessor yang dipergunakan sebagai security deposit. Security deposit ini telah dikembalikan pada saat transaksi leasing berakhir.

Jurnal yang dibuat pada tanggal 4 April 2008 yaitu pada saat transaksi leasing berakhir adalah sebagai berikut:

Kas Rp.4.500.000,00 Security deposit Rp. 4.500.000,00

(mencatat pengembalian security deposit)

160

Berdasarkan pasal 17 ayat 2 (a) Keputusan Menteri Keuangan nomor 1169/KMK.01/1991 bahwa pembayaran leasing tanpa hak opsi atau operating lease yang dibayar atau terutang oleh lessee adalah biaya yang dapat dikurangkan dan penghasilan bruto. Jadi berdasarkan pasal 17 ayat 2 (a) Keputusan Menteri Keuangan nomor 1169/KMK.01/1991 ini beban sewa yang dibayar oleh PT SUKASEWA kepada lessor sebesar Rp.27.629.000,00 dianggap sebagai biaya operasional perusahaan sehingga bisa menjadi pengurang pendapatan kotor di dalam perhitungan laporan laba rugi.

PT SUKASEWA memotong pajak penghasilan pasal 23 atas penghasilan lease yang diterima oleh lessor. Besarnya pemotongan yang dilakukan oleh PT SUKASEWA sebesar 15% dari perkiraan penghasilan bersih. Karena penerima rental/lessor disini merupakan suatu badan usaha maka perkiraan penghasilan bersih sebesar 20% dari jumlah penghasilan kotor. Sehingga dengan ketentuan di atas besarnya PPh pasal 23 yang dipotong oleh lessee adalah:

PPh pasal 23 = 15% X (20% X Rp.27.629.000,00)

= 15% X Rp.5.525.800,00 = Rp.829.000,00

Pemotongan PPh pasal 23 yang dilakukan oleh PT SUKASEWA

atas pembayaran sewa didasarkan pada Keputusan Menteri Keuangan nomor 1169/KMK.01/1991 pasal 17 ayat 1 (a) ”seluruh pembayaran leasing tanpa hak opsi yang diterima atau diperoleh lessor merupakan objek pajak penghasilan pasal 23”. PT SUKASEWA harus menyetorkan pajak penghasilan pasal 23 yang telah dipotong kepada kantor pos atau bank persepsi paling lambat tanggal 10 bulan takwim berikutnya setelah bulan saat terutangnya pajak. Dan wajib melaporkan kepada kantor pelayanan pajak selambat-lambatnya tanggal 20 bulan takwim berikutnya setelah masa pajak berakhir. Dalam hal ini PT SUKASEWA wajib menyetorkan pajak selambat-lambatnya tanggal 10 Mei 2007 dan melaporkannya paling lambat tanggal 20 Mei 2007.

Selain itu, seperti halnya transaksi capital lease, di dalam melakukan operating lease, lessee dikenakan pajak pertambahan nilai (PPN) sebesar 10% dari lease yang dibayarkan. Pengenaan pajak pertambahan nilai (PPN) atas transaksi operational lease didasarkan pada Keputusan Menteri Keuangan nomor 1169/KMK.01/1991 pasal 18 yaitu atas penyerahan jasa dalam transaksi leasing tanpa hak opsi dari

161

lessor kepada lessee terutang pajak pertambahan nilai. Pada akhir masa pajak PT SUKASEWA dapat mengkreditkan PPN masukan dengan PPN keluaran.

Di dalam melakukan penjurnalan berkaitan dengan transaksi operating lease yang dilakukan oleh PT SUKASEWA tidak dijumpai adanya penyusutan, dikarenakan yang berhak melakukan penyusutan terhadap barang yang dilease adalah lessor. Di samping itu karena PT SUKASEWA menggunakan metode accrual dalam pencatatan akuntansinya, maka Beban operating lease tidak dibebankan sekaligus melainkan dibebankan secara bertahap sesuai dengan waktu atau bulan penggunaan kedaraan yang dilease.

Maka pada akhir tahun 2007 beban lease yang diakui PT SUKASEWA adalah sebesar:

00,750.721.20.00,000.629.27.129 RpRp =×

PT SUKASEWA membuat jurnal penyesuaian pada akhir tahun 2007 sebagai berikut:

Beban lease Rp. 00,750.721.20 Biaya lease dibayar dimuka Rp. 00,750.721.20 (mencatat penyesuaian biaya lease)

Untuk lebih memperjelas dampak dari perlakuan akuntansi di atas dapat dilihat pada neraca tahun 2007 berikut ini.

162

Neraca Tahun 2007

Sedangkan untuk melihat perbedaan perlakuan perpajakan dengan perlakuan akuntansi umum dapat dilihat pada laporan laba rugi komersial dan laporan laba rugi fiskal pada halaman-halaman berikut.

Aktiva Kewajiban & ModalAktiva Lancar Hutang Lancar

Kas 432.890.000Rp Hutang Usaha 105.656.300Rp Piutang Dagang 886.448.464Rp Hutang Gaji 30.454.309Rp Persediaan Hutang Bank 327.085.000Rp

Bahan 110.998.047Rp Hutang Pajak 64.478.423Rp Barang Dalam Proses 108.131.138Rp Jumlah Hutang Lancar 527.674.032Rp Barang Jadi 113.386.806Rp

Biaya lease dibayar dimuka 6.907.250Rp Hutang Jangka PanjangPerlengkapan 14.750.000Rp Security Deposit 4.500.000Rp Hutang Bank 275.600.700Rp

Jumlah Aktiva Lancar 1.678.011.705Rp Hutang Lain-lain 176.565.400Rp Jumlah Hutang Jangka Panjang 452.166.100Rp

Aktiva TetapTanah 210.750.000Rp Bangunan 324.506.000Rp ModalAkm. Peny. Bangunan (190.647.275)Rp Modal Saham 650.000.000Rp Mesin & Peralatan 163.805.000Rp Laba ditahan 508.764.423Rp Akm. Peny. Mesin & Peralatan (118.758.625)Rp Kendaraan 144.730.000Rp Jumlah Modal 1.158.764.423Rp Akm. Peny. Kendaraan (75.983.250)Rp Peralatan Kantor 9.390.000Rp Akm. Peny. Kantor (7.199.000)Rp

Jumlah Aktiva Tetap 460.592.850Rp

Total Aktiva 2.138.604.555Rp Total Kewajiban & Modal 2.138.604.555Rp

NERACA

PER 31 DESEMBER 2007

PT SUKASEWA

163

Laporan Laba Rugi Tahun 2007

Penjualan 1.709.879.200Rp Harga Pokok Penjualan (951.994.328)Rp Laba Kotor 757.884.872Rp Beban Pemasaran

Beban Gaji 66.740.800Rp Beban angkut penjualan 32.456.765Rp Beban Penyusutan Kendaraan 14.473.000Rp Beban Pemeliharaan Kendaraan 13.255.000Rp Beban Bahan Bakar 33.342.000Rp Beban Telepon 12.376.000Rp Beban Lease 20.721.750Rp

Jumlah Beban Pemasaran 193.365.315Rp

Beban Adm & UmumBeban Gaji 165.765.000Rp Beban Penyusutan Bangunan 1.622.530Rp Beban Penyusutan Peralatan Kantor 1.878.000Rp Beban Perlengkapan 4.150.000Rp Beban Listrik 9.152.400Rp Beban Air 1.380.000Rp Beban Lain-lain 620.000Rp

Jumlah Beban Adm & Umum 184.567.930Rp Total Beban (377.933.245)Rp

Pendapatan & Beban Lain-lainBeban Bunga 65.987.000Rp

Jumlah Pendapatan & Beban Lain-lain (65.987.000)Rp

Laba Sebelum Pajak 313.964.627Rp Beban Pajak (75.734.526)Rp Laba Setelah Pajak 238.230.101Rp

PT SUKASEWA

LAPORAN LABA RUGI

Untuk periode yang berakhir pada 31 Desember 2007

164

Laporan Laba Rugi Fiskal Tahun 2007

Penjualan 1.709.879.200Rp Harga Pokok Penjualan (956.089.453)Rp Laba Kotor 753.789.747Rp Beban Pemasaran

Beban Gaji 66.740.800Rp Beban angkut penjualan 32.456.765Rp Beban Penyusutan Kendaraan 18.091.250Rp Beban Pemeliharaan Kendaraan 13.255.000Rp Beban Bahan Bakar 33.342.000Rp Beban Telepon 12.376.000Rp Beban Lease 20.721.750Rp

Jumlah Beban Pemasaran 196.983.565Rp

Beban Adm & UmumBeban Gaji 165.765.000Rp Beban Penyusutan Bangunan 1.622.530Rp Beban Penyusutan Peralatan Kantor 2.347.500Rp Beban Perlengkapan 4.150.000Rp Beban Listrik 9.152.400Rp Beban Air 1.380.000Rp Beban Lain-lain 620.000Rp

Jumlah Beban Adm & Umum 185.037.430Rp Total Beban (382.020.995)Rp

Pendapatan & Beban Lain-lainBeban Bunga 60.987.000Rp

Jumlah Pendapatan & Beban Lain-lain (60.987.000)Rp

Penghasilan Kena Pajak 310.781.752Rp

Untuk periode yang berakhir pada 31 Desember 2007

PT SUKASEWA

LAPORAN LABA RUGI FISKAL

Pajak penghasilan badan PT SUKASEWA dihitung dari laba sebelum pajak laporan laba rugi fiskal tahun 2007. Perhitungannya yaitu:

10% X Rp. 50.000.000 = Rp. 5.000.000,00 15% X Rp. 50.000.000 = Rp. 7.500.000,00 30% X Rp. 210.781.752 = Rp. 63.234.526,00

Rp. 310.781.752 Rp. 75.734.526,00

165

SOAL LATIHAN

1. Pada tanggal 11 Agustus 2008 PT DEMENSEWA me-lease sebuah mobil yang memiliki harga wajar Rp 87.250.000,00 dari pihak lessor PT SEGALASEWA MOTOR dengan perjanjian sebagai berikut:

(1) Jangka waktu leasing adalah 50 bulan dengan syarat perjanjian lease tidak bisa dibatalkan.

(2) Pembayaran lease sebesar Rp 2.000.000,00 per bulan (dibayar setiap akhir bulan). (Nilai sekarang/Present value untuk 1% per bulan adalah sebesar Rp 78.400.000,00.)

(3) Taksiran nilai sisa mobil pada akhir bulan ke-50 adalah sebesar Rp.11.800.000,00. PT SEGALASEWA MOTOR menjamin nilai sisa sebesar Rp.11.800.000,00 tersebut. (Nilai sekarang/Present value untuk 1% per bulan adalah sebesar Rp 7.150.000,00.)

(4) Taksiran umur ekonomis mobil adalah enampuluh bulan. Di mana PT DEMENSEWA memiliki hak opsi di akhir masa leasing dengan harga sebesar nilai sisa.

(5) PT DEMENSEWA membayar security deposit sebesar Rp.11.800.000,00 atau sebesar nilai sisa sebagai jaminan, dan di akhir masa leasing akan dikembalikan jika PT DEMENSEWA tidak menggunakan hak opsinya.

(6) Tarif bunga leasing sebesar 12% per tahun atau 1% per bulan.

DIMINTA:

a. Apakah jenis perjanjian leasing yang dilakukan oleh PT DEMENSEWA?

b. Buatlah jurnal yang diperlukan untuk mencatat transaksi perolehan aktiva tetap leasing oleh PT DEMENSEWA.

c. Hitung penyusutan pada tahun 2008 dan 2009 yang harus diakui oleh PT DEMENSEWA (metode yang digunakan oleh PT DEMENSEWA adalah garis lurus).

d. Buatkanlah jurnal untuk mencatat pembayaran leasing pada bulan pertama oleh PT DEMENSEWA. Angka-angka yang disebutkan di atas belum termasuk (excluded) PPN.

2. Pada tanggal 1 Januari 2008 PT NIDJI melakukan leasing sebuah

bangunan kepada PT LETTO. Berikut ini adalah semua informasi

166

yang berkaitan dengan kegiatan leasing tersebut (harga-harga belum termasuk PPN 10%):

(1) Jangka waktu leasing adalah sepuluh tahun. (2) Harga perolehan bangunan adalah Rp 4.500.000.000,00

dan dibeli secara tunai oleh PT LETTO pada tanggal 1 Januari 2008.

(3) Bangunan disusutkan dengan metode garis lurus. Taksiran umur ekonomisnya adalah 25 tahun.

(4) Pembayaran lease adalah sebesar Rp 275.000.000,00 yang dilaklukan pada setiap akhir tahun.

(5) PBB bangunan tersebut sebesar Rp 8.500.000,00 dan asuransinya sebesar Rp 10.000.000,00 diakui oleh PT NIDJI pada tahun pertama. Pembayaran PBB dibebankan kepada PT NIDJI sedangkan asuransi dibebankan kepada PT LETTO; pembayaran kedua beban tersebut dilakukan pada akhir tahun.

DIMINTA:

a. Apakah jenis perjanjian leasing yang dilakukan oleh PT NIDJI?

b. Buatlah jurnal untuk mencatat transaksi pada tahun 2008 di PT NIDJI.

c. Buatlah jurnal untuk mencatat transaksi pada tahun 2008 di PT LETTO.

d. Jika PT LETTO membayar Rp 300.000.000,00 kepada pialang (broker) pada tanggal 1 Januari 2008 sebagai fee karena telah menemukan lessee, buatkan pula jurnal untuk mencatat transaksi ini.

Petunjuk: PPh pasal 23 yang dipungut atas jasa adalah sebesar

4,5% dari bruto, sedangkan PPh pasal 4 (2) yang dipungut adalah sebesar 10% dari bruto.

3. Pada tanggal 1 Januari 2008 PT AREMA memiliki sebuah kontrak

dengan PT DELTRAS untuk leasing sebuah mesin dengan jangka waktu 5 tahun. Kesepakatan pembayaran sebesar Rp 94.732.000,00 (termasuk biaya pengurusan sebesar Rp 6.000.000,00; belum termasuk PPN 10%)) dilakukan pada setiap awal tahun dimulai pada tanggal 1 Januari 2008. Beban asuransi dan pemeliharaan sebesar kira-kira Rp 4.000.000,00 per tahun serta pajak-pajak terkait yang harus dibayar merupakan kewajiban pihak lessee. Mesin ini dikapitalisasikan sebesar Rp 370.000.000,00 dan disusutkan menggunakan metode garis lurus. Tarif bunga leasing sebesar 12%

167

per tahun. Pada akhir masa kontrak mesin tersebut akan menjadi milik PT AREMA. Aset tersebut memiliki taksiran umur kegunaan selama 5 tahun, tanpa nilai sisa.

DIMINTA:

a. Apakah jenis perjanjian leasing yang dilakukan oleh PT AREMA?

b. Buatlah jurnal untuk mencatat transaksi pada tanggal 1 Januari 2008 di PT AREMA.

c. Hitung penyusutan pada tahun 2008 dan buat jurnal yang harus dicatat oleh PT AREMA (metode yang digunakan oleh PT AREMA adalah saldo menurun berganda).

d. Hitung beban bunga pada tahun 2008 dan buat jurnal yang harus dicatat oleh PT AREMA.

e. Hitung pembayaran lease pada tanggal 31 Desember 2009 dan buat jurnal yang harus dicatat oleh PT AREMA, jika pemegang buku tidak membuat jurnal pembalik.

f. Berapakah jumlah yang harus muncul dalam neraca PT AREMA tanggal 31 Desember 2008

AK

KUNPERKON

☺ Meto☺

Kerugian☺ Keru

☺ Kerugi☺

168

NTANRUSANSTR

ode PersenMetode Ko

n dalam Kougian dalaian pada K☺ Aspek P

8

NSI uAHARUK

ntase-Penyontrak-Seleontrak Jangam Tahun BKontrak yaPerpajaka

untuAAN KSI

yelesaian esai gka PanjaBerjalan ng Merugin

uk

ng

i

169

AKUNTANSI UNTUK PERUSAHAAN KONSTRUKSI

Perusahaan konstruksi biasanya terspesialisasi ke dalam beberapa tipe konstruksi tertentu. Dengan demikian ada (1) perusahaan konstruksi/kontraktor untuk perumahan publik dan privat, (2) kontraktor jalan dan jembatan, serta (3) kontraktor gedung-gedung perkantoran, hotel dan industri. Para kontraktor ini dapat berposisi sebagai kontraktor umum maupun subkontraktor. Kontraktor umum adalah pihak yang memenangkan sebuah penawaran lelang atau tender atas keseluruhan projek dan kemudian membagikan sebagian pekerjaannya kepada para subkontraktor yang biasanya merupakan spesialis di bidang saluran, kelistrikan, pekerjaan-pekerjaan logam, serta jenis-jenis pekerjaan konstruksi lainnya.

TERMINOLOGI (Glosari)

Berikut ini adalah istilah-istilah yang sering dipakai dan ditemui berkaitan dengan kontrak konstruksi. Istilah-istilah ini terutama digunakan

170

dalam PSAK No. 34, standar akuntansi tentang Akuntansi Kontrak Konstruksi.

Kontrak konstruksi: suatu kontrak yang dinegosiasikan secara khusus

untuk konstruksi suatu aset atau suatu kombinasi aset yang berhubungan erat satu sama lain atau saling tergantung dalam hal rancangan, teknologi dan fungsi atau tujuan atau penggunaan pokok.

Kontrak Harga Tetap: adalah kontrak konstruksi dengan syarat bahwa kontraktor telah menyetujui nilai kontrak yang telah ditentukan, atau tarif tetap yang telah ditentukan per unit output, yang dalam beberapa hal tunduk pada ketentuan-ketentuan kenaikan biaya.

Kontrak Biaya-Plus: kontrak konstruksi di mana kontraktor mendapat-kan penggantian untuk biaya-biaya yang telah diizinkan atau telah ditentukan, ditambah imbalan dengan persentase terhadap biaya atau imbalan tetap.

Klaim : jumlah yang diminta kontraktor kepada pemberi kerja atau pihak lain sebagai penggantian untuk biaya-biaya yang tidak termasuk dalam nilai kontrak. Klaim dapat timbul, umpamanya, dari keterlambatan yang disebabkan oleh pemberi kerja, kesalahan dalam spesifikasi atau rancangan, dan perselisihan penyimpangan dalam pengerjaan kontrak.

Retensi : jumlah termin (progress billings) yang tidak dibayar hingga pemenuhan kondisi yang ditentukan dalam kontrak untuk pembayaran jumlah tersebut atau hingga telah diperbaiki.

Termin (Progress Billing): jumlah yang ditagih untuk pekerjaan yang dilakukan dalam suatu kontrak baik yang telah dibayar ataupun yang belum dibayar oleh pemberi kerja.

Uang Muka : jumlah yang diterima oleh kontraktor sebelum pekerjaan dilakukan.

171

Metode Akuntansi Pada dasarnya akuntansi di perusahaan konstruksi tidak berbeda

dengan akuntansi pada jenis perusahaan lain pada umumnya. Namun, salah satu masalah khusus pada perusahaan konstruksi yang mungkin tidak terdapat pada jenis perusahaan lainnya adalah yang berkaitan dengan pengakuan pendapatan. Kebanyakan, pendapatan diakui pada saat penjualan (penyerahan) barang/jasa terjadi, karena hal-hal yang tidak pasti berkaitan dengan proses perolehan pendapatan tersebut, relatif tidak ada dan harganya pun telah diketahui. Namun dalam situasi tertentu, mungkin saja pendapatan diakui sebelum penyelesaian atau penyerahan terjadi. Salah satu situasi seperti itu kita temui pada akuntansi untuk kontrak konstruksi jangka panjang pada perusahaan konstruksi yang menerapkan metode persentase-penyelesaian (percentage-of-completion method).

Kontrak jangka panjang yang sejenis dengan kontrak konstruksi/pembangunan gedung atau jembatan, seperti kontrak pengembangan pesawat terbang komersial dan militer, sistem pengiriman senjata, dan perangkat penjelajahan ruang angkasa sekalipun, misalnya, seringkali mengharuskan penjual (pembuat) melakukan penagihan kepada pembeli beberapa kali sepanjang proses pembuatan atau penyelesaian pekerjaannya ketika tahapan-tahapan tertentu dalam pekerjaan tersebut telah terselesaikan. Ketika pekerjaan itu terdiri dari beberapa bagian yang dapat dipisahkan, seperti sebuah gedung yang terdiri dari beberapa lantai, atau projek jalan raya, maka penagihan mungkin dilakukan pada tahapan penyelesaian tertentu, misalnya pada saat penyelesaian setiap satu lantai gedung atau setiap penyelesaian 10 kilometer jalan. Kontrak-kontrak semacam itu memungkinkan penyerahan pekerjaan secara bertahap dan akuntansi juga harus melaporkannya dengan mencatat dan mengakui penjualan pada setiap tahapan penyerahan.

Ada dua metode akuntansi yang amat berbeda untuk pengakuan dalam pekerjaan dengan kontrak jangka panjang ini, yaitu:

1. METODE PERSENTASE-PENYELESAIAN (PERCENTAGE-OF-COMPLETION METHOD). Pendapatan dan laba kotor dalam metode ini diakui pada setiap periode/tahun buku dengan didasarkan pada perkembangan pekerjaan—atau persentase-penyelesaiannya. Biaya Konstruksi ditambah laba kotor yang diperoleh sampai dengan tanggal laporan diakumulasikan dalam sebuah perkiraan persediaan (Konstruksi/Bangunan dalam Penyelesaian), dan perkembangan penagihannya terakumulasi dalam

172

perkiraan kontra persediaan (Tagihan Konstruksi/Bangun-an dalam Penyelesaian).

2. METODE KONTRAK-SELESAI (COMPLETED-CONTRACT ME-THOD). Pendapatan dan laba kotor hanya akan diakui apa-bila pekerjaannya telah selesai. Biaya Konstruksi diakumu-lasikan dalam sebuah perkiraan persediaan (Konstruksi/ Bangunan dalam Penyelesaian), dan perkembangan pe-nagihannya terakumulasi dalam perkiraan kontra perse-diaan (Tagihan Konstruksi/Bangunan dalam Penyelesai-an).

Alasan untuk menggunakan akuntansi persentase-penyelesaian ini adalah bahwa dalam sebagian besar kontraknya pihak pembeli dan penjual telah memiliki hak yang sama-sama kuat. Pembeli memperoleh hak secara hukum untuk meminta kinerja tertentu sesuai yang tercantum dalam kontrak, sedangkan pihak penjual memiliki hak untuk memperoleh pertambahan pembayaran yang membuktikan kepentingan kepemilikan pihak pembeli atas projek yang sedang dikerjakan. Sebagai hasilnya, terjadi penjualan yang berkesinambungan sejalan dengan perkembangan pekerjaan, dan karenanya pendapatan harus diakui pada saat-saat tersebut.

Metode persentase-penyelesaian harus digunakan ketika estimasi atas perkembangan penyelesaian pekerjaannya, pendapatan, dan biaya-biayanya telah dapat diketahui dengan layak, dan ketika semua kondisi berikut ini tercapai.

1. Kontraknya dengan jelas menyebutkan hak-hak yang terkait dengan barang dan jasa yang harus tersedia dan diterima oleh masing-masing pihak, hal-hal yang berkaitan dengan tingkat penyelesaian dan pembayaran, serta pengaturan cara dan syarat-syaratnya yang harus dipatuhi.

2. Pihak pembeli dapat diharapkan untuk memenuhi semua kewajiban yang tertera dalam kontrak.

3. Pihak kontraktor dapat diharapkan untuk memberikan kinerja sesuai yang dinyatakan dalam kontrak.

Metode kontrak-selesai hanya diterapkan ketika kondisi-kondisi berikut ini ditemui: (1) ketika sebuah entitas (perusahaan konstruksi) kebanyakan kontraknya berjangka pendek (kurang dari satu tahun), atau (2) ketika kondisi untuk menerapkan metode persentase-penyelesaian

173

tidak terpenuhi, atau (3) ketika ada risiko lebih besar yang melekat pada kontrak tersebut dibanding situasi normalnya. Namun yang perlu dicamkan adalah: persentase-penyelesaian adalah metode yang lebih baik dan metode kontrak-selesai hanya digunakan ketika metode persentase-penyelesaian tidak mungkin diterapkan. Itulah sebabnya PSAK No. 34 tentang Akuntansi Kontrak Konstruksi hanya mengatur standar akuntansi untuk metode persentase-penyelesaian saja, dan tidak menyiratkan bahwa metode kontrak-selesai dapat digunakan. Namun dibawah ini tetap dibahas akuntansi konstruksi dengan metode kontrak-selesai, karena mungkin saja ini ditemukan dalam praktik (misalnya diterapkan untuk kontrak konstruksi yang dapat diselesaikan dalam jangka waktu satu periode akuntansi atau kurang).

METODE PERSENTASE-PENYELESAIAN

Metode persentase-penyelesaian mengakui pendapatan, biaya, dan laba kotor bersamaan dengan tahapan-tahapan penyelesaian dalam sebuah kontrak jangka panjang. Jika pengakuan pos-pos tersebut ditunda sampai seluruh kontrak terselesaikan maka akan terjadi salah saji dalam laporan keuangan berkaitan dengan upaya (biaya) dan penyelesaian (pendapatan) sepanjang periode akuntansi yang sedang berjalan (interim period). Untuk menerapkan metode persentase-penyelesaian, kita harus memiliki beberapa dasar atau standar untuk mengukur kemajuan penyelesaian pada suatu titik waktu tertentu.

Mengukur Kemajuan Penyelesaian

Banyak metode yang digunakan dalam praktik untuk menentukan tingkat kemajuan penyelesaian. Yang paling banyak dipakai adalah metode ’cost-to-cost (biaya-ke-biaya),’ metode ’efforts-expended (upaya-yang-telah-dilakukan),’ dan metode ’units of work performed (unit-pekerjaan-yang-telah-dilaksanakan)’

Tujuan dari semua metode tersebut adalah untuk mengukur kemajuan tahapan dari pekerjaan yang tergambarkan melalui biaya, unit, atau nilai tambah. Berbagai macam pengukuran (semisal, biaya yang terjadi, jumlah jam kerja tenaga kerja, kuantitas yang diproduksi, jumlah lantai gedung yang selesai dibangun, dan seterusnya) diidentifikasikan dan diklasifikasikan berdasarkan ukuran-ukuran masukan (input) dan keluaran (output). Pengukuran masukan (biaya yang terjadi, jumlah jam kerja tenaga kerja) dinyatakan dalam bentuk upaya yang dilakukan untuk menyelesaikan kontrak. Pengukuran keluaran (seperti kuantitas yang

174

dihasilkan, jumlah lantai gedung yang selesai dibangun, jumlah kilometer jalan tol yang terselesaikan) dinyatakan dalam bentuk hasil yang diperoleh. Tidak ada di antara kedua metode tersebut di atas yang bersifat pasti atau berlaku universal untuk setiap kontrak jangka panjang. Penggunaannya amat membutuhkan penyesuaian yang hati-hati dan kebijaksanaan dalam menerapkannya sesuai situasi.

Baik pengukuran masukan maupun keluaran memiliki ketidakuntungan tertentu. Pengukuran masukan didasarkan pada hubungan yang kuat antara suatu unit masukan dengan produktivitas. Jika ada ketidakefisienan yang mengakibatkan hubungan produktivitas-nya berubah, maka hasil pengukurannya akan menjadi tidak akurat. Masalah lain yang dapat terjadi adalah yang disebut ”pemuatan ujung-pangkal (front-end loading),” yang dapat membuat estimasi penyelesaian menjadi terlalu tinggi karena terjadinya biaya yang signifikan di awal pengerjaan kontrak. Beberapa biaya konstruksi pada tahap awal kadang harus diabaikan ketika biaya tersebut tidak berhubungan dengan pengerjaan kontrak—misalnya, biaya bahan yang belum digunakan atau biaya subkontrak yang belum dilaksanakan.

Pengukuran keluaran dapat menghasilkan perhitungan yang tidak akurat jika unit yang digunakan tidak dapat diperbandingkan dalam waktu, upaya, ataupun biaya untuk menyelesaikan kontrak. Sebagai contoh, menggunakan jumlah lantai gedung yang dapat diselesaikan bisa jadi akan dapat menyesatkan. Menyelesaikan lantai pertama dari sebuah gedung 8 lantai mungkin membutuhkan lebih dari sekedar seperdelapan dari total biaya karena besarnya biaya konstruksi untuk mengerjakan pondasi dan struktur bagian bawah lebih dari biaya yang dibutuhkan untuk mengerjakan tiap lantai berikutnya.

Salah satu pengukuran masukan yang lebih populer untuk menentukan kemajuan penyelesaian pekerjaan adalah basis biaya-ke-biaya. Dengan basis biaya-ke-biaya ini, persentase penyelesaian diukur dengan membandingkan biaya yang terjadi sampai dengan tanggal laporan dengan estimasi total biaya yang paling mutakhir untuk menyelesaikan kontrak, sebagaimana ditunjukkan dalam persamaan berikut ini.

Biaya yang terjadi s/d tanggal laporan Persentase Penyelesaian = Estimasi total biaya terkini

175

Persentase biaya yang terjadi yang dibebankan dari estimasi total biaya dikaitkan kepada total pendapatan atau total estimasi laba kotor dari kontrak yang bersangkutan. Jumlah yang harus ditentukan adalah pendapatan atau laba kotor yang harus diakui pada tanggal laporan.

Pendapatan (atau laba Estimasi Persentase kotor) yang diakui pada = total pendapatan X penyelesaian tanggal laporan (atau laba kotor)

Untuk menentukan besarnya pendapatan dan laba kotor yang diakui pada setiap periode maka kita mengurangkan total pendapatan atau laba kotor yang telah diakui pada periode sebelumnya. Agar lebih jelas, contoh penerapan metode ini diilustrasikan seperti berikut. Misalnya, PT Konstruksi Tahan Banting memenangkan sebuah tender dari pemerintah Kabupaten A dan memperoleh kontrak yang dimulai pada bulan April 2008 untuk membangun sebuah jembatan senilai Rp 5.500.000.000,00 yang diharapkan akan selesai pada bulan Juli 2010 dengan biaya pengerjaan diestimasikan Rp 5.000.000.000,00. (Perhatikanlah bahwa dalam contoh ilustrasi ini, pada akhir tahun 2009 taksiran total biaya untuk menyelesaikan pekerjaan tersebut meningkat dari Rp 5.000.000.000,00 menjadi Rp 5.050.000.000,00). Berikut ini adalah informasi dan perhitungan-perhitungannya.

2008 2009 2010 Total biaya s/d tgl Neraca 2.000.000.000 3.920.000.000 5.050.000.000 Estimasi biaya untuk me- nyelesaikan 3.000.000.000 1.130.000.000 --- Perkembangan penagihan dalam tahun berjalan 1.800.000.000 2.500.000.000 1.200.000.000 Perkembangan penerimaan kas dalam tahun berjalan 1.600.000.000 2.000.000.000 1.900.000.000

Persentase penyelesaian untuk kontrak tersebut dapat dihitung sebagaimana nampak di halaman berikut. Berdasarkan data-data tersebut kita dapat membuatkan jurnal untuk mencatat (1) biaya pengerjaan konstruksi, (2) perkembangan penagihan, (3) kas yang berhasil ditagih. Jurnal yang akan disajikan di bawahnya, sebenarnya merupakan ikhtisar/akumulasi dari banyak transaksi yang dibuat jurnalnya masing-masing pada saat terjadinya sepanjang tahun yang berjalan.

176

2008 2009 2010 Nilai Kontrak 5.500.000.000 5.500.000.000 5.500.000.000 Dikurangi estimasi biaya: Biaya s/d tgl Neraca 2.000.000.000 3.920.000.000 5.050.000.000

Estimasi biy. Penyelesaian 3.000.000.000 1.130.000.000 --- Estimasi total biaya 5.000.000.000 5.050.000.000 5.050.000.000 Estimasi total laba kotor 500.000.000 450.000.000 450.000.000 Persentase penyelesaian 40% 77,6% 100%

2.000.000.000 3.920.000.000 5.050.000.000 5.000.000.000 5.050.000.000 5.050.000.000

Mencatat biaya konstruksi Tahun 2008: Debit Kredit Konstruksi dalam Penyelesaian 2.000.000.000 --- Persediaan Bhn. Bangunan, Kas, Utang, dll. --- 2.000.000.000

Tahun 2009: Konstruksi dalam Penyelesaian 1.920.000.000 --- Persediaan Bhn. Bangunan, Kas, Utang, dll. --- 1.920.000.000 Tahun 2010: Konstruksi dalam Penyelesaian 1.130.000.000 --- Persediaan Bhn. Bangunan, Kas, Utang, dll. --- 1.130.000.000

Mencatat perkembangan penagihan Tahun 2008: Debit Kredit Piutang Usaha 1.800.000.000 --- Tagihan Konstruksi dalam Penyelesaian --- 1.800.000.000

177

Tahun 2009:

Piutang Usaha 2.500.000.000 --- Tagihan Konstruksi dalam Penyelesaian --- 2.500.000.000

Tahun 2010: Piutang Usaha 1.200.000.000 --- Tagihan Konstruksi dalam Penyelesaian --- 1.200.000.000

Mencatat kas yang berhasil ditagih

Tahun 2008: Debit Kredit

Kas 1.600.000.000 --- Piutang Usaha --- 1.600.000.000 Tahun 2009:

Kas 2.000.000.000 --- Piutang Usaha --- 2.000.000.000 Tahun 2010: Kas 1.900.000.000 --- Piutang Usaha --- 1.900.000.000

Dalam ilustrasi ini, biaya yang terjadi sampai dengan tanggal neraca merupakan bagian dari estimasi total biaya yang diperlukan untuk menyelesaikan seluruh projek yang dihitung berdasarkan kemajuan penyelesaian pekerjaannya. Taksiran pendapatan dan laba kotor yang harus diakui setiap tahun dapat dicari dengan perhitungan seperti di bawah ini.

2008 2009 2010 Pendapatan yang diakui:

2008 5.500.000.000 X 40% 2.200.000.000 2009

5.500.000.000 X 77,6% 4.268.000.000 Pendapatan diakui 2008 (2.200.000.000) Pendapatan 2009 2.068.000.000

178

2010

5.500.000.000 X 100% 5.500.000.000

Pendapatan diakui 2008 dan 2009 (4.268.000.000)

Pendapatan 2010 1.232.000.000

Laba Kotor yang diakui:

2008 500.000.000 X 40% 200.000.000 2009 450.000.000 X 77,6% 349.200.000 Pendapatan diakui 2008 (200.000.000) Pendapatan 2009 149.200.000

2010 450.000.000 X 100% 450.000.000

Pendapatan diakui 2008 dan 2009 (349.200.000) Pendapatan 2010 110.800.000

Ayat jurnal untuk mengakui pendapatan dan laba kotor pada setiap tahun serta penyelesaian dan persetujuan final atas kontrak yang telah dikerjakan dibuat sebagai berikut:

Pengakuan Pendapatan dan Laba Kotor Tahun 2008: Debit Kredit Konstruksi dalam Penyelesaian (laba kotor) 200.000.000 --- Beban konstruksi 2.000.000.000 ---

Pendapatan Kontrak Jangka Panjang --- 2.200.000.000

179

Tahun 2009: Konstruksi dalam Penyelesaian (laba kotor) 149.200.000 --- Beban Konstruksi 1.920.000.000 --- Pendapatan Kontrak Jangka Panjang --- 2.069.200.000

Tahun 2010: Konstruksi dalam Penyelesaian (laba kotor) 110.800.000 --- Beban Konstruksi 1.130.000.000 --- Pendapatan Kontrak Jangka Panjang --- 1.230.800.000 Mencatat penyelesaian kontrak Tahun 2010: Debit Kredit Tagihan Konstruksi dalam Penyelesaian 5.500.000.000 --- Konstruksi dlm Penyelesaian --- 5.500.000.000

Perhatikanlah di sini bahwa laba kotor yang telah dihitung sebelumnya didebitkan ke dalam perkiraan Konstruksi dalam Penyele-saian. Begitu pula, Pendapatan Kontrak Jangka Panjang dikreditkan sebesar jumlah yang telah dihitung sebelumnya dalam ilustrasi di atas. Selisih dari jumlah yang diakui setiap tahun untuk pendapatan dan laba kotor ini didebitkan ke dalam sebuah perkiraan nominal yaitu Beban Konstruksi (serupa dengan beban pokok penjualan pada sebuah perusa-haan manufaktur), yang akan dilaporkan dalam laporan laba rugi. Jumlah tersebut merupakan biaya konstruksi yang sesungguhnya terjadi pada periode berjalan. Misalnya, pada PT Konstruksi Tahan Banting dalam ilustrasi di atas biaya sesungguhnya sebesar Rp 2.000.000.000,00 yang terjadi pada tahun 2008 digunakan untuk menghitung laba kotor sebesar Rp 200.000.000,00 maupun untuk menghitung persentase yang telah terselesaikan yakni sebesar 40%.

Biaya-biaya harus terus diakumulasikan dalam perkiraan Konstruksi dalam Penyelesaian dengan tujuan untuk mencatat total biaya yang terjadi (ditambah laba yang harus diakui) sampai dengan tanggal neraca. Buku besar perkiraan Konstruksi dalam Penyelesaian selama jangka waktu penyelesaian projek konstruksi tersebut akan menunjukkan posisi seperti di bawah ini.

180

Konstruksi dalam Penyelesaian

2008 biaya konstruksi Rp 2.000.000.000 31/12/2010 menutup 2008 pengakuan laba kotor 200.000.000 projek 2009 biaya konstruksi 1.920.000.000 yang 2009 pengakuan laba kotor 149.200.000 telah 2010 biaya konstruksi 1.130.000.000 selesai Rp 5.500.000.000 2010 pengakuan laba kotor 110.800.000 Total Rp 5.500.000.000 Total Rp 5.500.000.000

Ilustrasi PT Konstruksi Tahan Banting di atas menunjukkan juga suatu perubahan estimasi pada tahun kedua, 2009, yang mengalami kenaikan biaya dari Rp 5.000.000.000,00 menjadi Rp 5.050.000.000,00. Perubahan estimasi ini dicatat menggunakan metode pemulihan kumulatif (cumulative catch-up manner). Ini dilakukan dengan menyesuaikan persentase yang terselesaikan berdasarkan total biaya kemudian mengurangi jumlah pendapatan dan laba kotor yang telah diakui pada periode sebelumnya menjadi pendapatan dan laba kotor yang dihitung pada tahun berjalan. Dengan demikian perubahan estimasi yang dilakukan pada periode perubahan ini akan membuat neraca pada akhir periode perubahan estimasi serta akuntansinya pada periode-periode setelahnya akan nampak seperti yang seharusnya seolah-olah estimasi tersebut adalah estimasi yang dilakukan sejak awal.

Penyajian Laporan Keuangan pada Metode Persentase Penyelesaian

Biasanya, ketika piutang yang berasal dari sebuah penjualan dicatat, perkiraan persediaan akan dikurangi. Namun, dalam penerapan metode persentase penyelesaian ini, baik perkiraan piutang maupun persediaannya terus terbawa ke periode-periode berikutnya. Dengan mengurangkan saldo akun penagihan terhadap Konstruksi dalam Penyelesaian akan menghindarkan terjadinya penghitungan dua kali dalam perkiraan persediaan. Selama masa kontrak, selisih antara perkiraan Konstruksi dalam Penyelesaian dengan perkiraan Tagihan Konstruksi dalam Penyelesaian dilaporkan di neraca sebagai aktiva lancar jika selisihnya bersaldo debit, dan sebaliknya, pada kelompok kewajiban lancar jika saldonya kredit.

Ketika biaya yang terjadi ditambah dengan laba kotor yang diakui sampai dengan tanggal neraca (saldo perkiraan Konstruksi dalam Penyelesaian) lebih besar dari saldo tagihannya, maka selisihnya harus dilaporkan sebagai aktiva lancar di neraca dengan nama ”Selisih Lebih

181

Biaya dan Pengakuan Laba terhadap Penagihan.” Bagian yang belum ditagih dari pendapatan yang diakui pada tanggal neraca dapat dihitung setiap saat dengan mengurangkan tagihan pada tanggal neraca dari pendapatan yang diakui pada tanggal neraca. Pada contoh di PT Konstruksi Tahan Banting, misalnya, perhitungan pada tahun 2008 akan nampak seperti berikut:

- Pendapatan kontrak yang diakui sampai dengan tanggal neraca:

Rp 2.000.000.000,00 Rp 5.500.000.000,00 X Rp 2.200.000.000,00

Rp 5.000.000.000,00 - Penagihan sampai dengan tanggal neraca 1.800.000.000,00 - Pendapatan yang belum ditagih Rp 400.000.000,00

Ketika jumlah penagihan lebih besar daripada jumlah biaya yang terjadi dan laba kotor pada tanggal neraca, maka selisihnya dilaporkan sebagai suatu kewajiban lancar yang diberi nama perkiraan ”Selisih Lebih Penagihan terhadap Biaya dan Pengakuan Laba.”

Ketika sebuah perusahaan konstruksi memiliki sejumlah projek, dan besar biayanya melebihi jumlah tagihan pada beberapa kontrak sementara ada beberapa kontrak lain yang jumlah tagihannya lebih besar ketimbang biayanya, maka kontrak-kontrak tersebut harus dipisahkan. Sisi aktiva di neraca hanya menyajikan kontrak-kontrak yang jumlah biaya dan pengakuan pendapatannya lebih besar daripada jumlah tagihan, sedangkan sisi kewajiban hanya menyajikan kontrak-kontrak yang jumlah penagihan-nya lebih besar ketimbang jumlah biaya dan laba yang diakui. Hal ini sebaiknya diungkapkan (disclosed) secara terpisah dalam catatan atas laporan keuangan, dan bukannya sekedar ikhtisar yang menyajikan selisih bersih dari kedua jumlah tersebut.

Dari angka-angka yang telah kita bahas di atas, maka penyajian dalam laporan keuangan milik PT Konstruksi Tahan Banting, yang menerapkan metode persentase-penyelesaian untuk kegiatan kontrak jangka panjangnya, akan nampak sebagai berikut.

182

PT KONSTRUKSI TAHAN BANTING

2008 2009 2010 Laporan Laba Rugi Pendapatan dari Kontrak

Jangka Panjang 2.200.000.000 2.068.000.000 1.232.000.000 Beban Konstruksi 2.000.000.000 1.920.000.000 1.130.000.000 Laba Kotor 200.000.000 148.000.000 102.000.000

2008 2009 2010

Neraca (31 Desember) Aktiva Lancar Piutang Usaha 200.000.000 500.000.000 Persediaan: Konstruksi dalam Penyelesaian 2.200.000.000 Penagihan 1.800.000.000 Selisih lebih biaya dan pengakuan pendapatan di- banding penagihan 400.000.000 Kewajiban Lancar Selisih lebih penagihan dibanding total biaya kontrak (4.300.000.000 – 4.268.000.000) 32.000.000 Catatan atas Laporan Keuangan Catatan No.1 Ikhtisar kebijakan-kebijakan akuntansi yang penting. Kontrak Konstruksi Jangka Panjang. Perusahaan mengakui pendapatan dan melaporkan laba dari kontrak konstruksi jangka panjang, yang merupakan bisnis utamanya, atas dasar metode akuntansi persentase-penyelesaian. Kontrak-kontrak ini biasanya mencakup jangka waktu lebih dari satu tahun. Jumlah pendapatan dan laba yang diakui setiap tahun didasarkan pada perbandingan antara biaya yang terjadi dengan estimasi total biaya. Biaya-biaya yang dima- sukkan ke dalam perkiraan Konstruksi dalam Penyelesaian meliputi bahan-bahan langsung, tenaga kerja langsung, serta biaya overhead yang terkait dengan projek. Beban-beban administrasi dan umum perusahaan dibebankan pada periode terjadinya dan tidak dialokasikan terhadap kontrak konstruksi.

183

METODE KONTRAK-SELESAI Dengan metode kontrak-selesai pengakuan pendapatan dan

laba kotor dilakukan pada saat penjualan terjadi—yaitu pada saat kontrak telah diselesaikan. Biaya-biaya atas kontrak jangka panjang yang masih sedang dalam proses serta penagihan-pebagihan pada periode berjalan diakumulasikan, namun tidak ada pengakuan dalam periode berjalan (interim) di laporan laba rugi untuk pendapatan, beban, dan laba kotor.

Keuntungan utama dari metode kontrak-selesai ini adalah bahwa pelaporan pendapatan didasarkan pada hasil akhir yang sesungguhnya, dan bukannya atas`dasar estimasi dari pekerjaan yang belum dilaksanakan. Sebaliknya, ke-tidakuntung-an yang utama dari metode ini adalah bahwa ia tidak dapat menggambarkan kinerja sesungguhnya pada periode yang berjalan ketika masa kontraknya melampaui jangka waktu satu periode akuntansi. Ketika misalnya kinerja atau kegiatan operasional yang dilakukan oleh sebuah perusahaan konstruksi sebetulnya sama dan merata pada setiap tahun sepanjang masa kontrak, namun karena ia menerapkan metode kontrak selesai maka pengakuan pendapatan dilakukan seluruhnya pada saat pekerjaan telah selesai dan diserahkan seluruhnya. Dengan demikian akan terjadi ketidaktepatan dalam penyajian pendapatan sepanjang periode akuntansi ketika masa kontrak belumselesai dan pekerjaannya belum diserahkan.

Jurnal-jurnal yang setiap tahun harus dibuat untuk mengakui biaya konstruksi, perkembangan penagihan, maupun kas yang diterima dari pelanggan, sama dengan yang dilustrasikan dengan metode persentase-penyelesaian di atas. Perbedaan yang utama pada metode kontrak-selesai ini adalah tidak dibuatnya jurnal-jurnal untuk mengakui pendapatan dan laba kotor. Dari contoh projek pembangunan jembatan oleh PT Konstruksi Tahan Banting di atas, maka jurnal yang harus dibuat ketika ia menerapkan metode kontrak-selesai untuk mengakui pendapatan dan biaya serta perkiraan persediaan dan penagihan yang harus ditutup pada tahun 2010 adalah seperti berikut.

Tagihan Konstruksi dalam Penyelesaian 5.500.000.000 --- Pendapatan Kontrak Jangka Panjang --- 5.500.000.000 Biaya Konstruksi 5.050.000.000 --- Konstruksi dlm Penyelesaian --- 5.050.000.000

184

Jika kita membandingkan kedua metode pengakuan pendapatan ketika diterapkan dalam projek pembuatan jembatan pada ilustrasi di atas, maka PT Konstruksi Tahan Banting akan mengakui laba kotor seperti ditampakkan di bawah ini.

2008 2009 2010 Persentase-Penyelesaian Rp 200.000.000 Rp 148.000.000 Rp 102.000.000 Kontrak-Selesai --- --- Rp 450.000.000

Laporan keuangan dengan metode kontrak-selesai akan disajikan:

PT KONSTRUKSI TAHAN BANTING

2008 2009 2010

Laporan Laba Rugi

Pendapatan dari Kontrak Jangka Panjang --- --- 5.500.000.000

Beban Konstruksi --- --- 5.050.000.000

Laba Kotor --- --- 450.000.000

2008 2009 2010

Neraca (31 Desember) Aktiva Lancar Piutang Usaha 200.000.000 500.000.000 2008 2009 2010

Persediaan: Konstruksi dalam Penyelesaian 2.000.000.000 Penagihan 1.800.000.000

Biaya kontrak yang

belum ditagih 200.000.000

Kewajiban Lancar Selisih lebih penagihan dibanding total biaya (4.300.000.000 – 3.920.000.000) 380.000.000

185

Catatan atas Laporan Keuangan Catatan No.1 Ikhtisar kebijakan-kebijakan akuntansi yang penting. Kontrak Konstruksi Jangka Panjang. Perusahaan mengakui pendapatan dan melaporkan laba dari kontrak konstruksi jangka panjang, yang merupakan bisnis utamanya, atas dasar metode akuntansi kontrak-selesai. Kontrak-kontrak ini biasanya mencakup jangka waktu lebih dari satu tahun. Biaya-biaya kontrak dan penagihannya diakumulasikan sepanjang periode konstruksi, namun pendapatan dan laba diakui setelah seluruh kontrak selesai dikerjakan dan diserahkan. Biaya-biaya yang dimasukkan ke dalam perkiraan Konstruksi dalam Penyelesaian meliputi bahan-bahan langsung, tenaga kerja langsung, serta biaya overhead yang terkait dengan projek. Beban-beban administrasi dan umum perusahaan dibebankan pada periode terjadinya dan tidak dialokasikan terhadap kontrak konstruksi.

KERUGIAN DALAM KONTRAK JANGKA-PANJANG

Ada dua macam kerugian yang mungkin terjadi pada kontrak-kontrak berjangka panjang:

1. KERUGIAN DALAM TAHUN BERJALAN PADA SUATU KONTRAK YANG MENGUNTUNGKAN. Kondisi ini terjadi ketika dalam suatu periode pada masa konstruksi ada kenaikan estimasi total biaya yang cukup signifikan, namun kenaikan biaya ini tidak sampai membuat pendapatan dari kontrak tersebut secara keseluruhan menjadi rugi. Secara total kontrak ini masih memberikan laba, sehingga dalam kondisi seperti ini hanya jika kita menerapkan metode persentase-penyelesaian maka kenaikan estimasi biaya tersebut harus dibuatkan penyesuaian dalam tahun berjalan untuk selisih laba kotor yang telah diakui pada periode sebelumnya. Penyesuaian ini dicatat dengan mengakui kerugian dalam tahun berjalan yang disebabkan oleh adanya perubahan dalam estimasi akuntansi ini.

2. KERUGIAN PADA SUATU KONTRAK YANG MERUGI. Biaya yang diestimasikan pada akhir suatu periode berjalan mungkin menunjukkan bahwa kontrak ini akan menghasilkan kerugian pada akhir masa kontraknya nanti. Jika terjadi demikian, maka baik penerapan metode persentase-penyelesaian maupun metode kontrak-selesai mengha-ruskan kita mengakui seluruh kerugian kontrak yang telah diperkirakan tersebut ke dalam periode berjalan.

Perlakuan akuntansi untuk kontrak-kontrak yang merugi ini konsisten dengan kebiasaan dalam akuntansi berkaitan dengan antisipasi atas suatu kerugian potensial (kerugian yang belum terjadi) untuk menghindari

186

lebih saji dalam laba tahun berjalan dan di masa yang akan datang. Prinsip semacam ini di akuntansi dikenal sebagai konsep konservatif (konservatisme dalam akuntansi).

Kerugian dalam Tahun Berjalan

Untuk memberikan gambaran tentang kerugian dalam tahun berjalan pada sebuah kontrak yang menguntungkan, marilah kita ilustrasikan dengan menganggap bahwa pada tanggal 31 Desember 2009 PT Konstruksi Tahan Banting mengestimasikan bahwa biaya untuk menyelesaikan seluruh kontrak pembangunan jembatannya adalah sebesar Rp 1.400.000.000,00 dan bukannya Rp 1.130.000.000,00 (lihat ilustrasi sebelumnya di atas). Dengan asumsi bahwa data-data lainnya tetap, PT Konstruksi Tahan Banting akan menampakkan perhitungan persentase penyelesaiannya seperti di bawah ini. (Ada penurunan persentase-penyelesaian dari 77,6% menjadi 73,7% akibat kenaikan estimasi biaya di masa datang untuk menyelesaikan kontrak.)

- Biaya konstruksi sampai dengan tanggal neraca (31 Desember 2009) Rp 3.920.000.000,00 - Estimasi biaya untuk penyelesaian (revisian) 1.400.000.000,00 Estimasi total biaya Rp 5.320.000.000,00

Persentase yang telah diselesaikan (3.920.000.000 ÷ 5.320.000.000) 73,7%

- Pendapatan kontrak yang diakui pada tahun2009: (5.500.000.000,00 X 73,7%) - 2.200.000.000,00 Rp 1.853.500.000,00

- Biaya yang terjadi pada tahun 2009 ( 1.920.000.000,00)

- Rugi yang diakui pada tahun 2009 (Rp 66.500.000,00)

Kerugian sebesar Rp 66.500.000,00 yang diakui pada tahun 2009 adalah penyesuaian kumulatif atas “kelebihan” laba kotor kontrak yang diakui pada tahun 2008. Ketimbang mengoreksi periode sebelumnya, dilakukan “penyerapan” seluruh salah saji periode sebelumnya tersebut ke dalam periode sekarang yang berjalan. Dalam ilustrasi ini penyesuaian yang dilakukan sedemikian besar sehingga mengakibatkan pengakuan kerugian pada tahun 2009. Jurnal yang harus dibuat untuk mengakui kerugian pada tahun 2009 ini adalah seperti berikut.

187

Beban-beban Konstruksi 1.920.000.000 --- Konstruksi dalam Penyelesaian (Rugi) --- 66.500.000

Pendapatan dari Kontrak Jangka Panjang --- 1.853.500.000

Kerugian sebesar Rp 66.500.000,00 akan dilaporkan dalam laporan laba rugi tahun 2009 sebagai selisih antara pendapatan yang dilaporkan sebesar Rp 1.853.500.000,00 dengan biayanya yang sebesar Rp 1.920.000.000,00. Jika menggunakan metode kontrak-selesai, tidak ada rugi yang diakui pada tahun 2009 karena kontrak tersebut diharapkan masih dapat menghasilkan laba yang akan diakui pada tahun penyelesaian dan penyerahan seluruh pekerjaannya.

Kerugian pada Kontrak yang Merugi

Sebagai ilustrasi akuntansi untuk sebuah kontrak jangka panjang yang secara keseluruhan merugi, marilah kita asumsikan bahwa pada tanggal 31 Desember 2009, PT Konstruksi Tahan Banting mengestimasikan bahwa biaya untuk menyelesaikan kontrak pembangunan jembatan di atas adalah sebesar Rp 1.650.000.000,00 dan bukannya sebesar Rp 1.134.000.000,00. Pembalikan estimasi relatif terhadap kontrak pembangunan jembatan ini akan ditunjukkan sebagai berikut.

2008 2009 Estimasi Semula Estimasi Revisian

Nilai Kontrak Rp 5.500.000.000 Rp 5.500.000.000 Estimasi Total Biaya 5.000.000.000 5.570.000.000*

Estimasi laba kotor Rp 500.000.000

Estimasi Kerugian Rp 70.000.000

* (3.920.000.000 + 1.650.000.000)

Dengan metode persentase-penyelesaian, laba kotor sebesar Rp 200.000.000,00 diakui pada tahun 2008 (lihat perhitungan pada ilus-trasi di awal pembahasan metode ini). Laba kotor Rp 200.000.000,00 ini harus di-offset (dihapus) pada tahun 2009 karena ia tidak dapat diharapkan lagi untuk bisa direalisasikan. Sebaliknya, kerugian sebesar Rp 70.000.000,00 harus segera diakui pada tahun 2009 karena prinsip

188

konservatisme mengharuskan kita sesegera mungkin mengakui kerugian begitu besarannya telah dapat diestimasikan. Karena itu, total kerugian sebesar Rp 270.000.000,00 (Rp 200.000.000,00 + Rp 70.000.000,00) harus diakui pada tahun 2009 agar dapat memunculkan nilai bersih rugi sebesar Rp 70.000.000,00.

Pengakuan pendapatan pada tahun 2009 dapat dihitung sebagimana nampak pada perhitungan berikut ini.

- Pendapatan yang diakui pada tahun 2009 Nilai Kontrak Rp 5.500.000.000,00 Persentase penyelesaian X 70,3% * Pengakuan pendapatan s/d tanggal neraca Rp 3.866.500.000,00 Dikurangi:

Pengakuan pendapatan sebelum 2009 2.200.000.000,00 Pendapatan yang diakui tahun 2009 1.666.500.000,00

- Biaya sampai dengan tanggal neraca: (31 Desember 2009) Rp 3.920.000.000,00

Estimasi biaya s/d penyelesaian Rp 1.650.000.000,00

Estimasi total biaya Rp 5.570.000.000,00 * Persentase penyelesaian: Rp 3.920.000.000,00 ÷ Rp 5.570.000.000,00 = 70,3%

Perhitungan biaya konstruksi yang harus dibebankan pada tahun 2009, dilakukan dengan menambahkan total kerugian yang harus diakui pada tahun 2009 (Rp 200.000.000,00 + Rp 70.000.000,00), terhadap pendapatan yang harus diakui pada tahun 2009. Lihat perhitungan di bawah ini.

Pendapatan yang diakui pada tahun 2009 (dari perhitungan di atas) Rp 1.666.500.000 Total kerugian yang diakui pada tahun 2009: Pembalikan laba kotor tahun 2008 Rp 200.000.000 Total estimasi rugi atas kontrak yang dikerjakan 70.000.000 270.000.000

Biaya konstruksi yang dibebankan dalam tahun 2009 Rp 1.936.500.000

189

Jurnal yang harus dibuat oleh PT Konstruksi Tahan Banting untuk mencatat pendapatan, beban, dan kerugian dari kontrak jangka panjang pada tahun 2009 adalah sebagi berikut.

Beban-beban Konstruksi 1.936.500.000 ---

Konstruksi dalam Penyelesaian (Rugi) --- 70.000.000 Pendapatan dari Kontrak Jangka

Panjang --- 1.666.500.000 Pada akhir tahun 2009, buku besar Konstruksi dalam Penyele-

saian memiliki saldo sebesar Rp 3.850.000.000,00.

Konstruksi dalam Penyelesaian

2008 biaya konstruksi Rp 2.000.000.000 31/12/2009 pengakuan 2008 pengakuan laba kotor 200.000.000 rugi 270.000.000 2009 biaya konstruksi 1.920.000.000 Total Rp 4.120.000.000 Total Rp 270.000.000 Saldo 3.850.000.000

Dengan metode persentase-penyelesaian, kerugian dari kontrak jangka panjang sebesar Rp 70.000.000,00 juga harus diakui, pada tahun di mana kerugian tersebut pertama kali terjadi, sehingga jurnal yang harus dibuat pada tahun 2009 adalah:

Rugi dari Kotrak Jangka Panjang 70.000.000 ---

Konstruksi dalam Penyelesaian (Rugi) -- 70.000.000 Ketika saldo perkiraan Tagihan lebih kecil dibandingkan dengan

nilai kontrak, maka saldo perkiraan Konstruksi dalam Penyelesaian pun akan lebih kecil pula dibandingkan dengan nilai kontraknya. Pada kondisi di mana perkiraan Konstruksi dalam Penyelesaian lebih besar disbanding perkiraan Tagihannya, maka kerugian yang diakui dapat dikurangkan ke neraca melelui pos akumulasi biaya. Dengan demikian—apakah menggunakan metode kontrak-selesai ataukah menggunakan metode persentase-penyelesaian—cadangan kerugian (pos pengurang) dapat digabungkan dengan perkiraan Konstruksi dalam Penyelesaian, sehingga saldo persediaan pun akan menjadi berkurang. Dari ilustrasi pada tahun 2009 di atas, ketika jumlah tagihannya melebihi besarnya akumulasi biaya, maka jumlah estimasi kerugian harus dilaporkan terpisah pada

190

kelompok kewajiban lancar di neraca. Jadi—apakah menggunakan metode kontrak-selesai ataukah menggunakan metode persentase-penyelesaian—jumlah kerugian sebesar Rp 70.000.000,00 yang diestimasikan pada tahun 2009 harus dikurangkan dari perkiraan Konstruksi dalam Penyelesaian dan dilaporkan secara terpisah sebagai kewajiban lancar dengan nama “Kewajiban Estimasi dari Kontrak Jangka Panjang.”

ASPEK PERPAJAKAN 1. Pajak Penghasilan (PPh)

Berdasarkan Undang-undang No. 17 tahun 2000 dan Peraturan Menteri Keuangan RI No. Per-70/PJ/2007, maka atas jasa konstruksi dikenakan PPh pasal 23 yang bersifat tidak final dengan tarif 15% dari perkiraan penghasilan nettonya. Penghasilan netto ini telah ditetapkan oleh pemerintah dengan besaran sebagai berikut:

PERKIRAAN PENGHASILAN NETO 13 1/3 % X bruto

Jasa pelaksanaan konstruksi, termasuk jasa perawatan/jasa pemeliharaan/perbaikan bangunan, jasa instalasi/pemasang-an mesin, listrik/telepon/gas/AC/TV kabel, sepanjang jasa tersebut dilakukan WP yang ruang lingkup pekerjaannya di bidang konstruksi dan mempunyai ijin/sertifikasi sebagai pengusaha konstruksi

PERKIRAAN PENGHASILAN NETO 26 2/3 % X bruto

a. Jasa perencanaan konstruksi b. Jasa pengawasan konstruksi

Yang dimaksud dengan Jumlah imbalan bruto untuk jasa konstruksi adalah jumlah imbalan yang dibayarkan seluruhnya, termasuk atas pemberian jasa dan pengadaan material dan barangnya. Dengan demikian tarif efektif yang dikenakan terhadap pelaksana jasa konstruksi adalah sebesar 2%; yaitu (15% X 13 1/3%) dari bruto, sedangkan jasa perencanaan dan

191

pengawasan konstruksi dengan tarif efektif sebesar 4%; atau (15% X 26 2/3%) dari bruto. Atas penyerahan jasa pelaksanaan konstruksi yang dilakukan oleh PKP Rekanan juga merupakan objek pengenaan PPN.

2. Pajak Pertambahan Nilai (PPN)

Aspek PPN yang terkait dengan jasa konstruksi adalah sebagai berikut:

1) Besarnya PPN yang terutang adalah 10% dari Nilai Penggantian.

2) PPN terutang pada saat penyerahan JKP, sedangkan tahap-tahap (termin) pembayaran diperlakukan sebagai pembayaran diterima sebelum dilakukan penyerahan.

contoh :

. 01-01-2005 perjanjian pekerjaan konstruksi ditandatangani

dengan kontrak senilai Rp1.000.000.000,00 belum termasuk PPN sebesar 10%

diterima uang muka sebesar 20 % dari kontrak Jurnal: Kas 220.000.000 Pendapatan Diterima di Mukaa 200.000.000 PPN Keluaran 20.000.000 . 02-02-2005 tahap penyelesaian pekerjaan 20 %, diterima pembayaran tahap ke-1, s/d 30% dari nilai kontrak Jurnal: Pendapatan Diterima di Mukaa 200.000.000 Pendapatan Konstruksi 200.000.000

192

Kas 110.000.000 Pendapatan Diterima di Mukab 100.000.000 PPN Keluaran 10.000.000 . 02-03-2005 tahap penyelesaian pekerjaan 50 %, diterima pembayaran tahap ke-2, s/d 40 % dari nilai kontrak Jurnal: Kas 120.000.000 Piutang Usahaa 100.000.000 Pendapatan Diterima di Mukab 100.000.000 Pendapatan Konstruksi 300.000.000 PPN Keluaran 20.000.000 . 02-05-2005 tahap penyelesaian pekerjaan 80 %, diterima pembayaran tahap ke-3, s/d 75% dari nilai kontrak Jurnal: Kas 380.000.000 Piutang Usahab 50.000.000 Piutang Usahaa 100.000.000

Pendapatan Konstruksi 300.000.000 PPN Keluaran 30.000.000 . 02-07-2005 tahap penyelesaian pekerjaan 100 %, dilaksanakan penyerahan bangunan Jurnal: Piutang Usahac 220.000.000

Pendapatan Konstruksi 200.000.000 PPN Keluaran 20.000.000

193

. 02-09-2005 diterima pembayaran tahap ke-4 sebesar 95 % dari kontrak Jurnal: Kas 220.000.000 Piutang Usahab dan c 220.000.000 . 01-01-2006 diterima pelunasan seluruh jasa pemborongan Jurnal: Kas 50.000.000 Piutang Usahac 50.000.000

Dari ilustrasi di atas nampak bahwa saat terutangnya PPN adalah sebagai berikut:

01-01-2005 s/d 02-05-2005 : (pembayaran uang muka s/d pembayaran tahap ke-3) PPN terutang pada saat diterima pembayaran 02-07-2005 s/d 01-2006 : PPN terutang pada saat dilaksanakan penyerahan bangunan, yaitu 02-07-2005

Jika jurnal-jurnal yang telah dibuat tersebut di atas di-posting ke dalam masing-masing buku besar atau kita jumlahkan, maka kita akan dapatkan bahwa total Pendapatan Konstruksi akan sebesar kontraknya, yaitu Rp 1.000.000.000,00; total PPN Keluaran sebesar Rp100.000.000,00 dan total kas yang diterima adalah sebesar Rp1.100.000.000,00 atau sebesar nilai kontrak ditambah PPN 10%.

☺ Karakt☺ Usah

☺☺ Tahap P

☺ Con

194

teristik Badha dan Jen☺ Term

PerlakuaPencatatanntoh Transa

4

AKUu

KO

dan Usaha nis-Jenis Ko

minologi n Akuntann Akuntansaksi dan Fo

UNTAuntuPER

Koperasi operasi

nsi si Koperasiormulir

:

ANSuk RASI

i

I

I

195

AKUNTANSI untuk KOPERASI

Gambaran Umum Usaha

1. Karakteristik Badan Usaha Koperasi

Koperasi merupakan suatu bentuk perusahaan yang “unik”, karena berbeda dengan bentuk badan usaha/perusahaan yang lain . Koperasi merupakan kumpulan orang-orang tetapi berbeda dengan perusahaan yang dimiliki sekumpulan orang-orang (Firma, PT).

Koperasi dibentuk dan dikelola secara demokratis untuk memenuhi kebutuhan anggota tanpa menjadikan keuntungan/laba sebagai tujuan utamanya karena koperasi didirikan untuk meningkatkan kesejahteraan ekonomi para anggotanya.

Sama seperti di negara-negara yang sedang berkembang, koperasi di Indonesia sulit berkembang dan perkembangannya sangat tertinggal jauh baik oleh badan usaha milik swasta maupun badan usaha pemerintah. Pemerintah selalu berusaha memberikan berbagai

196

kemudahan dan peluang seperti kemudahan dalam memperoleh bantuan permodalan, manajemen, pemasaran, pendidikan dll. Bila koperasi ingin maju, maka harus menawarkan keunggulan khusus atau keunggulan tambahan yang tidak diberikan organisasi-organisasi pesaingnya. Hal ini dapat terwujud bila anggota koperasi secara bersamaan menjadi pemilik maupun pengguna jasa koperasi yang didirikan.

2. Usaha dan jenis-jenis koperasi:

Seperti badan usaha yang lain, koperasi dapat berusaha di semua sektor, apakah sektor perdagangan, manufaktur, jasa keuangan dan pembiayaan ( financing), asuransi, transportasi dll.

Jenis-jenis Koperasi

Berdasarkan kepentingan anggota dan usaha utamanya , koperasi dapat digolongkan menjadi :

1. Koperasi Konsumen

adalah koperasi yang anggotanya para konsumen akhir atau pemakai barang/jasa. Kegiatan atau jasa utama dari koperasi jenis ini adalah melakukan pembelian bersama . Contoh : Waserda (warung serba ada), minimarket dll

2. Koperasi Produsen

adalah koperasi yang anggotanya tidak memiliki perusahaan sendiri tetapi bekerjasama dalam wadah koperasi untuk menghasilkan dan memasarkan barang atau jasa. Contoh: koperasi karoseri, koperasi jasa konsultasi dll

3. Koperasi Simpan-Pinjam

adalah koperasi yang kegiatan atau jasa utamanya menyediakan dan menyimpan uang para anggotanya

4. Koperasi Pemasaran

adalah koperasi yang anggotanya para pemilik barang atau jasa dan bersama-sama memasarkan barang atau jasa tersebut.

197

3. Terminologi (Glosari) Karena perbedaan karakteristik koperasi dibandingkan usaha lainnya, maka terdapat istilah-istilah yang berbeda dengan istilah yang dipakai pada industri lainnya. Beberapa istilah perlu diketahui untuk memahami koperasi.

Koperasi merupakan kumpulan dari orang-orang, maka istilah-istilah khusus pada koperasi sebagian besar adalah istilah berhubungan

dengan modal koperasi yaitu:

Modal anggota adalah simpanan pokok dan simpanan wajib yang harus dibayar anggota koperasi sesuai dengan ketentuan yang berlaku dalam koperasi tersebut.

Modal Sumbangan adalah sejumlah uang atau barang modal yang

dapat dinilai dengan uang yang diterima dari pihak lain yang bersifat hibah dan tidak mengikat. Modal sumbangan tidak dapat dibagikan kepada anggota selama koperasi masih beroperasi.

Modal Penyertaan adalah sejumlah uang atau barang modal yang

dapat dinilai dengan uang yang ditanamkan pemodal untuk menambah dan memperkuat struktur permodalan dan meningkatkan usaha koperasi.

Simpanan pokok adalah sejumlah uang yang besarnya sama yang

wajib dibayarkan oleh para anggota koperasi pada saat pertama kali masuk sebagai anggota. Simpan jenis ini hanya dapat diambil bila anggota tersebut mengundurkan diri.

Simpanan wajib adalah sejumlah uang yang besarnya bervariasi yang wajib dibayar anggota kepada koperasi dalam waktu dan kesempatan tertentu . Simpanan ini hanya dapat diambil bila anggota tersebut mengundurkan diri

Cadangan adalah bagian dari sisa hasil usaha yang disisihkan sesuai dengan ketentuan anggaran dasar atau ketetapan rapat anggota.

Sisa Hasil Usaha (SHU) adalah gabungan dari hasil partisipasi neto

dan laba/rugi kotor dengan non-anggota, ditambah/dikurangi dengan pendapatan dan beban lain serta beban perkoperasian dan pajak penghasilan badan koperasi

198

Disamping itu beberapa istilah yang digunakan dalam pembuatan Laporan Laba-Rugi berbeda dengan istilah perusahaan lainnya, yaitu: Partisipasi Bruto adalah kontribusi anggota kepada koperasi sebagai

imbalan penyerahan barang dan jasa kepada anggota yang mencakup harga pokok dan partisipasi neto.

Partisipasi neto adalah kontribusi anggota terhadap hasil usaha koperasi koperasi yang merupakan selisih antara partisipasi bruto dengan beban pokok.

Pendapatan dari Non Anggota adalah penjualan barang/jasa kepada

non anggota. Beban Perkoperasian adalah beban sehubungan dengan gerakan

perkoperasian dan tidak berhubungan dengan kegiatan usaha. Istilah lainnya Promosi Ekonomi Anggota adalah peningkatan pelayanan koperasi

kepada anggotanya dalam bentuk manfaat ekonomi yang diperoleh sebagai anggota koperasi.

Badan Usaha Otonom adalah bagian organisasi mandiri yang

mempunyai kegiatan dan anggota khusus dalam sebuah koperasi sehingga unit usaha ini setara dengan sebuah entitas akuntansi. Contoh: Sebuah koperasi mempunyai unit usaha simpan pinjam, waserda dll

Perlakuan Akuntansi Koperasi harus dikelola secara profesional. Seperti pada Badan

Usaha lain, peranan akuntansi sangat penting untuk mengelola keuangan koperasi. Pada prinsipnya akuntansi koperasi tidak jauh berbeda dengan akuntansi perusahaan lainnya. Beberapa perbedaan mendasar diatur dalam PSAK (Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan) untuk koperasi yaitu PSAK no. 27.

Berikut ini disajikan perbedaan perlakuan akuntansi untuk:

1. Aktiva 2. Kewajiban

199

3. Modal 4. Pendapatan dan 5. Beban

1. Aktiva Pencatatan Aktiva koperasi sama dengan perusahaan yang lain

kecuali yang dijelaskan dalam PSAK no 27 paragraf 63 dan 65.

a. Pada paragraf 63 menjelaskan perlakuan akuntansi untuk aktiva yang diperoleh dari sumbangan dan

b. Pada paragraf 65 menjelaskan perlakuan akuntansi untuk aktiva yang dibatasi penggunaannya.

Koperasi merupakan kumpulan orang-orang dan merupakan badan usaha yang diharapkan menjadi soko guru ekonomi di Indonesia maka pemerintah secara berkala mengadakan pembinaan ataupun pemberian bantuan. Perlakuan akuntansinya diatur sebagai berikut:

63 Aktiva yang diperoleh dari sumbangan yang terikat penggunaannya dan tidak dapat dijual untuk menutup kerugian koperasi diakui sebagai aktiva lain-lain. Sifat keterikatan penggunaan tersebut dijelaskan dalam catatan atas laporan keuangan

Aktiva yang dicadangkan untuk kepentingan bersama para anggota merupakan aktiva yang bukan milik koperasi. Oleh karena itu pengurus harus mempertanggung jawabkan penggunaan aktiva ini dan dalam pencatatannya tidak boleh diakui sebagai aktiva koperasi. Hal ini diatur dalam paragraf 65 65 Aktiva-aktiva yang dikelola oleh koperasi, tetapi bukan

milik koperasi, tidak diakui sebagai aktiva, dan harus dijelaskan dalam catatan atas laporan keuangan

2. Kewajiban Untuk kewajiban yang ada di koperasi sama dengan kewajiban di

Badan Usaha lain kecuali yang diatur dalam PSAK. Kewajiban yang diatur PSAK no 27 paragraf 61 adalah simpanan Sukarela.

Simpanan Pokok dan Simpanan Wajib merupakan modal koperasi karena simpanan ini tidak dapat diambil sewaktu-waktu. Simpanan anggota yang sifatnya sukarela (simpanan sukarela) tidak dapat

200

dianggap sebagai modal karena simpanan ini dapat diambil sewaktu-waktu. Oleh karena itu simpanan sukarela dianggap sebagai hutang sebagaimana dijelaskan dalam PSAK no. 27 paragraf 61 .

61 Simpanan anggota yang tidak berkarakteristik sebagai

ekuitas diakui sebagai kewajiban jangka pendek atau jangka panjang sesuai dengan tanggal jatuh temponya dan dicatat sebesar nilai nominalnya

3. Ekuitas Koperasi merupakan kumpulan dari orang-orang yang memenuhi

syarat sebagai anggota. Oleh karena itu ekuitas koperasi merupakan kumpulan dari setoran para anggota baik berupa simpanan pokok maupun simpanan wajib yang tidak dapat diambil selama yang bersangkutan masih tercatat sebagai anggota. Selain itu ekuitas koperasi berasal dari modal sumbangan, modal penyertaan, cadangan dan SHU (Sisa Hasil Usaha) yang belum dibagi.

4. Pendapatan

Pendapatan diatur dalam PSAK No 27 paragraf 67 dan 69

67 Pendapatan yang timbul dari transaksi koperasi dengan anggota diakui sebesar pendapatan bruto Sedangkan di paragraf 69 dinyatakan

69 Pendapatan koperasi yang berasal dari transaksi dengan non-anggota diakui sebagai pendapatan (penjualan) yang dilaporkan terpisah dari partisipasi anggota dalam laporan perhitungan hasil usaha sebesar nilai transaksi. Selisih antara pendapatan dan beban pokok transaksi dengan non-anggota diakui sebagai laba atau rugi kotor dengan non-anggota.

5. Beban

Beban diatur dalam PSAK No 27 paragraf 72 a. Beban Usaha dan beban-beban perkoperasian harus

disajikan terpisah dalam laporan perhitungan hasil usaha.

201

Laporan Keuangan

Hasil akhir dari akuntansi koperasi adalah laporan keuangan. Laporan keuangan koperasi terdiri dari:

a. neraca, b. perhitungan hasil usaha , c. laporan arus kas, d. laporan promosi ekonomi anggota, dan e. Catatan atas laporan Keuangan.

Neraca menyajikan informasi mengenai aktiva, kewajiban dan

ekuitas koperasi pada waktu tertentu. Modal koperasi terdiri dari simpanan pokok, simpanan wajib, cadangan koperasi, dan hibah/donasi. Simpanan sukarela dimasukkan dalam utang lancar. Hal ini disebabkan Simpanan Sukarela merupakan simpanan yang dapat diambil setiap saat. Aktiva disajikan menurut tingkat likuiditas dan hutang disusun berdasarkan jatuh temponya.

Laporan perhitungan hasil usaha atau laporan sisa hasil usaha (SHU) memuat hasil usaha dengan anggota dan laba/rugi kotor dengan non-anggota. Pada dasarnya, harus diadakan pemisahan antara penggunaan pendapatan yang diperoleh dari pelayanan terhadap anggota sendiri dan terhadap pihak ketiga atau non anggota. Demikian pula harus dibedakan penjualan kepada anggota dan bukan anggota. Jadi bagian sisa hasil usaha yang diperoleh dari pelayanan terhadap pihak ketiga, termasuk bukan anggota, tidak boleh dibagikan pada anggota karena bagian pendapatan ini bukan diperoleh dari jasa anggota sehingga lebih baik digunakan untuk biaya cadangan.

Laporan arus kas adalah laporan yang yang menyajikan informasi perubahan kas pada periode tertentu yang terdiri dari saldo awal, sumber penerimaan, pengeluaran kas pada periode tertentu.

Laporan promosi ekonomi anggota adalah laporan yang mengikhtisarkan manfaat ekonomi yang didapat anggota selama periode tertentu. Laporan ini mengikhtisarkan:

1. manfaat ekonomi dari pembelian atau pengadaan barang. 2. manfaat ekonomi dari pemasaran dan pengolahan bersama. 3. manfaat ekonomi dari simpan pinjam lewat koperasi. 4. manfaat ekonomi dari pembagian sisa hasil usaha (SHU).

Catatan atas laporan Keuangan menyajikan pengungkapan (disclosure) yang memuat :

202

1. yang berhubungan dengan perlakuan akuntansi antara lain mengenai:

a. Pengakuan pendapatan dan beban sehubungan dengan transakasi koperasi baik dengan anggota maupun dengan non anggota.

b. Kebijakan akuntansi tentang aktiva tetap, penilaian persediaan, piutang dll.

c. Dasar penetapan harga pelayanan baik kepada anggota maupun kepada non anggota.

2. pengungkapan informasi yang lain, di antaranya:

a. Kegiatan atau pelayanan utama koperasi kepada anggota baik yang tercantum di AD/ART (Anggaran Dasar/Anggaran Rumah Tangga) maupun dalam praktik yang dilakukan koperasi

b. Aktivitas koperasi dalam pengembangan sumber daya dan mem-promosikan usaha ekonomi anggota,pendidikan dan pelatihan perkoperasian, usaha, manajemen yang diselenggarakan untuk anggota dan penciptaan lapangan usaha baru untuk anggota

c. Ikatan atau kewajiban bersyarat yang timbul dari transaksi koperasi dengan anggota dan non-anggota

d. Pengklasifikasian piutang dan hutang yang timbul dari transaksi koperasi dengan anggota dan non-anggota

e. Pembatasan penggunaan dan resiko atas aktiva tetap yang diperoleh dari hibah atau sumbangan

f. Aktiva yang dioperasikan oleh koperasi tetapi bukan milik koperasi

g. Aktiva yang diperoleh dari hibah dalam bentuk pengalihan saham dari perusahaan swasta

h. Pembagian Sisa hasil Usaha dan penggunaan cadangan

i. Hak dan tanggungan pemodal yang modalnya berupa modal penyertaan

j. Penyelenggaraan Rapat Anggota dan keputusan- keputusan penting yang berpengaruh pada perlakuan akuntansi dan penyajian laporan Keuangan

203

Di bagian berikut disajikan ilustrasi bentuk/format Laporan Keuangan

Neraca

KOPERASI “MAJU BERSAMA” NERACA

31 Desember 2007 dan 2008 AKTIVA 2007 2008 KEWAJIBAN DAN

EKUITAS 2007 2008

(Rp) (Rp) (Rp) (Rp) Aktiva Lancar xxx xxx Kewajiban Jangka Pendek xxx xxx

Kas dan bank xxx xxx Utang usaha xxx xxx Investasi jangka pendek xxx xxx Utang bank xxx xxx Piutang usaha xxx xxx Utang pajak xxx xxx Piutang pinjaman anggota

xxx xxx Utang simpanan anggota

xxx xxx

Piutang pinjaman non-anggota

xxx xxx Utang dana bagian SHU

xxx xxx

Piutang lain-lain xxx xxx Utang jangka panjang akan jatuh tempo

xxx

xxx Penyisihan piutang tak

tertagih xxx xxx

Persediaan xxx xxx Biaya harus dibayar xxx xxx Pendapatan akan diterima

xxx xxx Jumlah Kewajiban Jangka Pendek

xxx xxx

Jumlah Aktiva Lancar xxx xxx Kewajiban Jangka

Panjang

Investasi Jangka Panjang Hutang bank xxx xxx Penyertaan pada koperasi

xxx xxx Hutang jangka panjang lainnya

xxx xxx

Penyertaan pada non-koperasi

xxx xxx Jumlah Kewajiban Jangka Panjang

xxx xxx

Jumlah Investasi Jangka Panjang

xxx xxx

Ekuitas Aktiva Tetap Simpanan wajib xxx xxx

Tanah/hak atas tanah xxx xxx Simpanan pokok xxx xxx Bangunan xxx xxx Modal penyetaraan

partisipasi anggota xxx xxx

Mesin xxx xxx Modal penyertaan xxx xxx Inventaris xxx xxx Modal sumbangan xxx xxx Akumulasi penyusutan xxx xxx Cadangan xxx xxx

Jumlah Aktiva Tetap xxx xxx SHU belum dibagi xxx xxx Jumlah ekuitas xxx xxx Aktiva Lain-Lain

Aktiva tetap dalam konstruksi

xxx xxx

Beban ditangguhkan xxx xxx Jumlah Aktiva Lain-

Lain xxx xxx

JUMLAH AKTIVA xxx xxx JUMLAH KEWAJIBAN

DAN EKUITAS xxx xxx

204

Laporan perhitungan sisa hasil usaha (SHU)

KOPERASI “MAJU BERSAMA”

LAPORAN PERHITUNGAN HASIL USAHA Untuk tahun yang berakhir 31 Desember 2007 dan 2008

(dalam ribuan rupiah) 2007 2008 PARTISIPASI ANGGOTA Rp xxx Rp xxx

Partisipasi bruto anggota xxx xxx Beban pokok xxx xxx Partisipasi neto anggota Rp xxx Rp xxx

PENDAPATAN DARI NON-ANGGOTA Rp xxx Rp xxx

Penjualan xxx xxx Harga pokok xxx xxx Laba(rugi) kotor dengan non-anggota xxx xxx

Sisa hasil usaha kotor Rp xxx Rp xxx BEBAN OPERASI Beban usaha Rp xxx Rp xxx Sisa hasil usaha koperasi Rp xxx Rp xxx Beban perkoperasian xxx xxx Sisa hasil usaha setelah beban perkoperasian Rp xxx Rp xxx Pendapatan dan beban lain-lain xxx xxx Sisa hasil usaha sebelum pos-pos luar biasa Rp xxx Rp xxx Pendapatan dan beban luar biasa xxx xxx Sisa hasil usaha sebelum pajak Rp xxx Rp xxx Pajak penghasilan xxx xxx Sisa hasil usaha setelah pajak Rp xxx Rp xxx

205

Laporan promosi ekonomi anggota (koperasi konsumsi)

KOPERASI “MAJU BERSAMA”

LAPORAN PROMOSI EKONOMI ANGGOTA Untuk tahun yang berakhir 31 Desember 2007 dan 2008

(dalam ribuan rupiah) 2007 2008 PROMOSI EKONOMI SELAMA TAHUN BERJALAN Manfaat Ekonomi dari Pemasaran Produk Anggota

Pemasaran produk anggota atas dasar harga koperasi

Rp xxx Rp xxx

Pemasaran produk anggota atas dasar harga pasar

xxx xxx

Jumlah promosi ekonomi dan transaksi pemasaran produk anggota

Rp xxx Rp xxx

Manfaat Ekonomi dari Pengadaan barang untuk

Anggota

Pemasaran produk anggota atas dasar harga koperasi

Rp xxx Rp xxx

Pemasaran produk anggota atas dasar harga pasar

xxx xxx

Jumlah promosi ekonomi dan transaksi pengadaan barang untuk anggota

Rp xxx Rp xxx

Manfaat Ekonomi dari Simpan Pinjam Lewat Koperasi

Penghematan beban pinjaman anggota Rp xxx Rp xxx Kelebihan balas jasa simpanan anggota xxx xxx

Jumlah promosi ekonomi dari transaksi penyediaan jasa untuk anggota

Rp xxx Rp xxx

Jumlah Promosi Ekonomi Anggota Selama Tahun Berjalan

Rp xxx Rp xxx

Promosi Ekonomi pada Akhir Tahun

Pembagian sisa hasil usaha tahun berjalan untuk anggota

Rp xxx Rp xxx

JUMLAH PROMOSI EKONOMI ANGGOTA Rp xxx Rp xxx

Untuk memperjelas bahasan akuntansi koperasi, maka di bagian berikutnya diuraikan pencatatan yang dilakukan dalam satu siklus akuntansi.

206

Siklus Akuntansi Koperasi sama seperti Badan Usaha yang lain yang dimulai dari bukti transaksi dan berakhir pada penyajian Laporan Keuangan. Uraian masing-masing tahapan dalam siklus tersebut diberikan di bahasan berikut .

Bukti-bukti transaksi koperasi

Bukti transaksi merupakan dokumen dasar untuk membuat jurnal dan merupakan bukti bahwa telah terjadi transaksi di koperasi.. Semua bukti transaksi dari bagian pembelian, bagian penjualan, dan bagian lain-lain datang ke bagian akuntansi. Bukti-bukti tersebut harus dianalisis kebenarannya. Hal ini dilakukan untuk menghindari penyelewengan-penyelewengan. Masing-masing koperasi mempunyai bukti-bukti transaksi yang berbeda dan akan tergantung pada jenis koperasinya. Berikut ini diberikan contoh bukti-bukti transaksi yang ada di unit toko koperasi “Maju Bersama”.

Bukti transaksi yang ada di unit toko koperasi “Maju Bersama” sama seperti bukti transaksi yang terjadi di perusahaan dagang lainnya, yang dapat dikelompokkan menjadi:

a. Bukti penerimaan kas b. Bukti pengeluaran kas c. Bukti penjualan d. Bukti pembelian dan e. Bukti umum

a. Bukti penerimaan kas

adalah bukti transaksi yang membuktikan bahwa koperasi telah menerima sejumlah uang tunai atau alat pembayaran yang sama dengan uang tunai (cek). Bukti penerimaan kas digunakan sebagai tempat mencatat semua transaksi yang berhubungan dengan penerimaan uang tunai . Sumber penerimaan uang tunai antara lain dari:

1. penerimaan simpanan dari anggota koperasi

2. penerimaan dari penjualan tunai

3. penerimaan tagihan dari debitur

4. penerimaan uang dari pihak lain yang merupakan realisasi hak koperasi

207

5. penerimaan bunga

6. penerimaan berupa uang jasa seperti komisi

7. penerimaan kembali utang karyawan koperasi

8. penerimaan lainnya yang dapat menambah uang tunai koperasi.

Untuk tujuan pengendalian, bukti penerimaan kas dibuat minimal rangkap dua dan masing-masing dibuat dengan warna yang berbeda agar tidak terjadi penyelewengan. Jika bukti dibuat rangkap tiga, maka yang asli untuk pembayar, yang kedua untuk bagian keuangan, dan yang ketiga untuk arsip kasir. Bentuk dari Bukti Penerimaan Kas tergantung pada kebutuhan masing-masing koperasi dengan memperhatikan prinsip pengendalian dan mengarah pada pengelolaan yang profesional.

Contoh: Pada tanggal 12 Januari 2007, koperasi simpan pinjam “Berkah”, menerima selembar cek dari Andra senilai Rp 400.000,00 dan uang tunai sejumlah Rp 20.000,00. Pembayaran tersebut terdiri dari angsuran pinjaman Rp 225.000- bunga pinjaman Rp 15.000,00 dan tabungan suka rela Rp 180.000,00. Koperasi simpan pinjam “Berkah” mencatat transaksi di atas ke dalam bukti penerimaan kas sebagai berikut:

KOPERASI SIMPAN PINJAM “BERKAH”

Jl. Bandung no. 003, Malang Tlp: (0341) 567899

Malang, 12 Januari 2007

BPK no: 005/BPK/07

BUKTI PENERIMAAN KAS Telah diterima dari: Andra (anggota/bukan anggota) Terdiri dari: Uang tunai : Rp 20.000,00 Cek : Rp 400.000,00 Jumlah : Rp 420.000,00 (empat ratus dua puluh ribu rupiah) Untuk : Penerimaan pokok pinjaman Rp 225.000,00 Bunga pinjaman Rp 15.000,00 Tabungan Rp 180.000,00 Disetujui oleh Dibukukan oleh Diterima oleh Ariel Dhani Nia Manajer Bag. pembukuan Kasir

Untuk pembukuan Ref Debet Kredit Hal buku harian/ Jurnal : 34

111 114 411 213

Rp 420.000,00 Rp 225.000,00

Rp 15.000,00 Rp 180.000,00

Putih: untuk pembayar Merah: Pembukuan Biru: Bagian keuangan Kuning : arsip 111: akun kas 114: akun pinjaman yang diberikan 411: akun bunga atas volume pinjaman yang diberikan 213: akun tabungan Idul Fitri

208

b. Bukti pengeluaran kas

adalah bukti transaksi yang membuktikan bahwa koperasi telah membayar sejumlah uang tunai atau alat pembayaran lainnya yang disamakan dengan uang tunai. Bukti pengeluaran merupakan alat untuk mencatat semua transaksi yang berhubungan dengan pengeluaran uang kas atau tunai, Pengeluaran uang tunai antara lain digunakan untuk:

1. pembayaran kembali simpanan sukarela 2. pengembalian simpanan pokok dan wajib kepada anggota

koperasi yang keluar 3. pembelian barang secara tunai 4. pemberian pinjaman kepada anggota koperasi 5. pembayaran gaji karyawan dan manajer 6. pengeluaran-pengeluaran lainnya

Contoh:

1. Pada tanggal 21 Januari 2007 Koperasi mengeluarkan uang untuk pencairan pinjaman anggota no 107 atas nama Arjuna sebesar Rp 275.000,00. Dari pinjaman ini biaya administrasi yang dikenakan ke pinjaman tersebut sebesar Rp 25.000,00 yang langsung dipotong pada saat pencairan.Transaksi ini dapat disamping dicatat di bukti penerimaan kas juga dicatat di jurnal.

Contoh formulir bukti pengeluaran kas

KOPERASI “MAJU BERSAMA” Jl. Anggrek no. 003, Malang

Tlp: (0341) 456789

Malang,……….

BKK no:

BUKTI PENGELUARAN KAS Telah dibayarkan kepada:…Tuan Arjuna (anggota/bukan anggota) Terdiri dari: Uang tunai :Rp 275.000,00 Cek :Rp …-………………………………………… Jumlah :Rp 275.000 (dua ratus tujuh puluh lima ribu rupiah) Untuk :pencairan pinjaman senilai Rp 300.000,00 dan biaya administrasi Rp 25.000,00 Dibuat oleh Disetujui oleh Diterima oleh (Kasir) (Manajer Koperasi) (Nama)

Untuk pembukuan Ref Debet Kredit Hal buku harian :…………… Jurnal :…………….

Putih: Penerima Merah muda: Pembukuan Biru: Bag. keuangan Kuning: Arsip

209

Jurnalnya:

Piutang Arjuna Rp 300.000,00 Pendapatan administrasi Rp 25.000,00 Kas Rp 275.000,00

2. Pada tanggal 5 Januari 2007, koperasi Makmur Sejahtera membayar hutang kepada PT Mandiri Perkasa sebesar Rp 32.000.000,00 (Faktur pembelian no. 310/FP/01). Bukti pengeluaran kas yang dibuat oleh koperasi adalah sebagai berikut:

KOPERASI SIMPAN PINJAM

“MAKMUR SEJAHTERA”

Jl. Titan no. 57, Malang

Tlp: (0341) 758347

Malang, 5 Januari 2007

BKK no: 001/BKK/07

BUKTI PENGELUARAN KAS

Telah dibayarkan kepada: PT Mandiri Perkasa (anggota/bukan anggota)

Terdiri dari:

Uang tunai :Rp ……………………………………………

Cek :Rp 32.000.000,00

Jumlah :Rp 32.000.000,00

(Tiga puluh dua juta rupiah)

Untuk : Pembayaran Hutang kepada PT Mandiri Perkasa

Faktur pembelian no. 310/FP/01).

Dibuat oleh Disetujui oleh Diterima oleh

Rizki Andien Rama (Kasir) (Manajer Koperasi) (Nama)

Untuk pembukuan Ref Debet Kredit

Hal buku harian Jurnal : 01

211 111

Rp 32.000.000,00 Rp 32.000.000,00

Putih: untuk pembayar Merah: Pembukuan Biru: Bagian keuangan Kuning : arsip

210

Bukti penjualan/ faktur penjualan

adalah bukti pembukuan yang membuktikan koperasi melakukan transaksi penjualan barang secara kredit. Penjualan secara tunai dicatat pada bukti penerimaan kas.

Ilustrasi pencatatan bukti penjualan Pada 12 Januari 2007, Koperasi Sejahtera Mandiri yang beralamat di Jalan Arif Rahman Hakim no. 23 Malang, Telp (0341) 563738 menjual barang kepada Tuan Adnan (anggota) secara kredit. Barang-barang yang dijual adalah sebagai berikut:

25 boks air mineral gelas merk “Oase” Rp 175.000,00 30 buah notes merk “Cahaya” Rp 210.000,00 5 boks mi instan merk “Supermi” Rp 175.000,00

KOPERASI “Sejahtera Mandiri” Jl. Arif Rahman Hakim no. 23, Malang

Telp (0341) 563738

Malang, 12 Januari 2007 FJ No.: 013/FJ/07

FAKTUR PENJUALAN Akun Tuan: Adnan (anggota/bukan anggota) Didebet uang Rp 560.000,00 ( lima ratus enam puluh ribu rupiah ) Untuk penyerahan barang-barang:

No. Nama barang Banyak Harga satuan Jumlah 1. 2. 3.

Air mineral merk ‘Oase’ Notes merk ‘Cahaya’ Mi instan merk ‘Supermi’

25 boks 30 buah 5 boks

Rp 7.000,00 Rp 7.000,00 Rp 35.000,00

Rp 175.000,00 Rp 210.000,00 Rp 175.000,00

Manajer Kabag. Penjualan

(Adrian) (Bayu) Untuk pembukuan Ref Debet Kredit

Hal buku harian :…………… Jurnal :023

112 411

Rp 560.000,00 Rp 560.000,00

Putih: Pembeli Merah: Pembukuan Biru: Bagian keuangan Kuning : Arsip

112: akun piutang dagang 411: akun penjualan

Bukti pembelian/ faktur pembelian

adalah bukti pembukuan yang membuktikan koperasi telah membeli barang secara kredit. Pembelian secara tunai dicatat pada bukti pengeluaran kas.

211

Ilustrasi pencatatan bukti pembelian Pada tanggal 14 Februari 2007, Koperasi “Setaman Jaya” yang beralamat di Jl. Mertojoyo 235 Malang, Telp (0341) 490677 membeli barang secara kredit berupa 5 buah lemari ukuran sedang dari Toko Abadi yang beralamat di Jl. Arwana 32 seharga Rp 900.000,00.

KOPERASI “SETAMAN JAYA” Jl. Mertojoyo 235, Malang

Tlp: (0341) 490677

Malang, 14 Februari 2007

FB No.: 043/FB/07 FAKTUR PEMBELIAN Dibeli dari:……………………………………………….. (anggota/bukan anggota)

No. Nama barang banyak Harga satuan Jumlah 1. Lemari ukuran sedang

5 buah Rp 180.000,00 Rp 900.000,00

Pegawai Gudang

(Zaki) Telah diperiksa kebenarannya

Kepala Bagian Pembelian Manajer

(Diaz) (Thalita)

Untuk pembukuan Ref Debet Kredit Hal buku harian :…………… Jurnal : 67

511 211

Rp 900.000,00 Rp 900.000,00

Putih: Penjual Kuning: Pembukuan Biru: Bagian keuangan Jingga: Arsip 511: akun pembelian 211: akun utang dagang

Bukti umum/bukti serba-serbi

adalah bukti pembukuan yang digunakan untuk mencatat transaksi yang tidak dapat dicatat dalam bukti penerimaan kas, bukti pengeluaran kas, faktur penjualan, faktur pembelian. Transaksi yang dicatat pada bukti ini adalah:

1. retur pembelian 2. retur penjualan 3. penghapusan piutang 4. penghapusan aktiva tetap 5. pembagian SHU

Ilustrasi pencatatan bukti umum atau serba-serbi Pada tanggal 20 Februari 2007 Unit toko Koperasi Setaman Jaya mengembalikan 2 buah lemari ukuran sedang yang dibeli dari Toko Abadi

212

KOPERASI “SETAMAN JAYA”

UNIT TOKO Jl. Mertojoyo 235, Malang

Tlp: (0341) 490677

Malang, 20 Februari 2007

BUKTI UMUM No: 07/BU/07

Lemari ukuran sedang yang dibeli dari Toko Abadi sebanyak 2 buah @ Rp 150.000,00 dikembalikan karena rusak

Telah diperiksa kebenarannya Dibukukan oleh Manajer Unit Toko Kepala Bagian Akuntansi (Alif) (Annisa) (Yudha)

Untuk pembukuan Ref Debet Kredit Hal buku harian :…………… Jurnal :…………….

211 513

Rp 300.000,00 Rp 300.000,00

Putih: Penerima Biru: Bagian keuangan Jingga: Arsip 211: akun utang dagang 513: akun retur pembelian dan potongan harga

Tahap Pencatatan Akuntansi Koperasi

Dari bukti transaksi yang telah diuraikan sebelumnya, tahap berikutnya adalah membuat jurnal.

A. Jurnal

Jurnal adalah daftar atau buku tempat mencatat transaksi secara kronologis (berurutan) sesuai tanggal terjadinya transaksi dengan mencantumkan akun yang didebit dan akun yang dikredit serta jumlah nominal masing-masing.

Contoh:

Berikut adalah transaksi-transaksi yang terjadi di Koperasi Sumber Makmur selama bulan Mei 2007

Mei 1 Dibeli perlengkapan toko koperasi secara kredit Rp 321.000,00

4 Dijual barang dagangan secara kredit kepada Toko Ali Rp 6.350.000,00

6 Diterima simpanan pokok dan wajib dari 8 anggota baru koperasi. Simpanan pokok Rp 125.000,00 simpanan wajib Rp 75.000,00

213

Jurnal yang dibuat untuk mencatat transaksi-transaksi di atas adalah:

Tanggal No. Bukti Nama akun Ref Debet Kredit Mei 1 FB 031 Perlengkapan toko 321.000 Utang dagang 321.000 Membeli perlengkapan

toko secara kredit

4 FJ 023 Piutang dagang 6.350.000 Penjualan 6.350.000 Menjual barang

dagangan secara kredit

6 BKM 012 Kas 1.600.000 Simpanan pokok 1.000.000 Simpanan wajib 600.000 Menerima setoran

simpanan pokok dan simpanan wajib dari

anggota baru

B. Buku Besar

Setelah transaksi-transaksi selesai dicatat dalam jurnal,

berikutnya harus dipindahkan atau posting transaksi-transaksi tersebut ke buku besar.

Buku besar (Ledger) adalah kumpulan akun-akun suatu

perusahaan. Pencatatan atas bertambah atau berkurangnya suatu akun dalam buku besar akan mempengaruhi satu atau lebih akun lainnya. Hal ini merupakan akibat dari sistem pencatatan berpasangan (double entry system). Pengaruh dari kenaikan atau penurunan suatu akun adalah bertambahnya atau berkurangnya akun lain.Dalam pencatatan akun-akun di buku besar membutuhkan akun-akun yang tersusun dengan baik. Untuk membantu penyusunan akun-akun tersebut, dibutuhkan Kode akun. Kode akun yaitu simbol berupa angka, huruf, atau gabungan keduanya yang menunjukkan akun tertentu. Bagan atau daftar yang menunjukkan kode akun dan akun yang dikodekannya disebut bagan akun. Dalam pembuatan kode akun harus diingat bahwa perusahaan (koperasi) akan berdiri/beroperasi selamanya (prinsip going concern). Dengan demikian kode yang dibuat harus dirancang untuk kepentingan jangka panjang.

214

Contoh bagan akun koperasi simpan pinjam

I. AKTIVA 1.1. AKTIVA LANCAR 1.1.01 Kas 1.1.01.01 Kas 1.1.02 Bank 1.1.02.01 Bank BNI 1.1.02.02 Bank BRI 1.1.02.03 Bank Mandiri 1.1.03 Piutang 1.1.03.01 Piutang 1.1.04 Penyisihan piutang tak tertagih 1.1.04.01 Penyisihan piutang tak tertagih 1.1.05 Pendapatan Jasa yang akan ditagih 1.1.05.01 Pendapatan Jasa yang akan ditagih 1.2. AKTIVA TETAP 1.2.01 Tanah 1.2.01.01 Tanah 1.2.02 Gedung kantor 1.2.01.02 Gedung kantor 1.2.03 Peralatan kantor 1.2.03.01 Peralatan kantor 1.2.04 Akumulasi Penyusutan 1.2.04.01 Akumulasi Penyusutan Gedung 1.2.04.02 Akumulasi Penyusutan Peralatan II. KEWAJIIBAN 2.1. KEWAJIBAN LANCAR 2.1.01 Dana sosial 2.1.01.01 Dana sosial 2.1.02 Dana Pendidikan 2.1.02.01 Dana Pendidikan 2.1.03 Dana pembangunan kerja daerah 2.1.03.01 Dana pembangunan kerja daerah 2.1.04 Dana kesejahteraan pegawai 2.1.04.01 Dana kesejahteraan pegawai 2.1.05 Tabungan Idul Fitri 2.1.05.01 Tabungan Idul Fitri 2.2. KEWAJIBAN JANGKA PANJANG 2.2.01 Utang Bank 2.2.01.01 Utang Bank Mandiri 2.2.01.02 Utang Bank Muamalat 2.2.01.03 Utang Bank BNI III. Modal 3.1. Simpanan pokok 3.1.01 Simpanan pokok 3.1.01.01 Simpanan pokok 3.2. Simpanan wajib 3.2.01 Simpanan wajib 3.2.01.01 Simpanan wajib

215

3.3. Sisa Hasil Usaha 3.3. 01 Sisa Hasil Usaha 3.3. 01.01 Sisa Hasil Usaha 3.4. Cadangan 3.4.01. Cadangan 3.4. 01.01.Cadangan IV. PENDAPATAN 4.1. Pendapatan Operasional 4.1.01. Pendapatan jasa 4.1.01.01 Pendapatan jasa 4.2. Pendapatan komisi 4.2.01 Pendapatan komisi 4.2.01.01 Pendapatan komisi 4.3. Pendapatan lain-lain 4.3.01 Pendapatan lain-lain 4.3.01.01 Pendapatan lain-lain V. BEBAN-BEBAN 5.1. Beban bunga bank 5.1.01 Beban bunga bank 5.1.01.01 Beban bunga bank Mandiri 5.1.01.02 Beban bunga bank Muamalat 5.1.01.03 Beban bunga bank BNI 5.2. Beban gaji/upah 5.2.01 Beban gaji/upah 5.2.01.01 Beban gaji/upah karyawan tetap 5.2.01.02 Beban gaji/upah karyawan kontrak 5.3. Beban RAT Tahun Buku 5.3.01 Beban RAT Tahun Buku 5.3.01.01 Beban RAT Tahun Buku 5.4. Beban administrasi dan umum 5.4.01 Beban administrasi dan umum 5.4.01.01 Biaya listrik, air, dan telepon 5.4.01.02 Beban transportasi 5.4.01.03 Beban rapat 5.4.01.04 Beban penghapusan piutang 5.4.01.05 Beban penyusutan gedung kantor 5.4.01.06 Beban penyusutan peralatan kantor 5.4.01.07 Tunjangan hari raya 5.4.01.08 Beban pembinaan 5.4.01.09 Pajak Penghasilan (PPh)

Jika diperhatikan dengan lebih teliti, kode dan nama akun di atas memiliki kesamaan dengan kode dan nama akun untuk perusahaan jasa dan perusahaan dagang. Perbedaan yang nampak untuk bagan akun koperasi adalah pada akun-akun modal koperasi. Jika pada perusahaan jasa atau dagang modal berupa setoran pemilik (perusahaan

216

perseorangan), modal koperasi terdiri dari simpanan pokok dan simpanan wajib. Contoh B-3 Dengan menggunakan data jurnal pada contoh di atas, posting ke buku besar adalah sebagai berikut: Kas no: 111 Tanggal keterangan Ref Debet kredit Saldo Mei 6 Menerima setoran

simpanan pokok dan simpanan wajib

1.600.000 1.600.000 D

Piutang dagang no: 112 Tanggal Keterangan Ref Debet Kredit Saldo Mei 4 Menjual barang

dagangan secara kredit

6.350.000 6.350.000 D

Perlengkapan toko no:114 Tanggal Keterangan Ref Debet Kredit Saldo Mei 1 Membeli

perlengkapan toko 321.000 321.000 D

Utang dagang no: 211 Tanggal Keterangan Ref Debet Kredit Saldo Mei 1 Membeli

perlengkapan toko 321.000 321.000 K

Simpanan pokok no: 311 Tanggal Keterangan Ref Debet Kredit Saldo Mei 6 1.000.000 1.000.000 K

Simpanan wajib no: 312 Tanggal Keterangan Ref Debet Kredit Saldo Mei 6 600.000 600.000 K

217

Penjualan no:411

Tanggal Keterangan Ref Debet kredit Saldo Mei 4 Menjual barang

dagangan secara kredit 6.350.000 6.350.000 K

C. Buku Besar Pembantu (Subsidiary Ledger)

Buku besar pembantu (subsidiary ledger) adalah buku besar yang digunakan untuk merinci lebih lanjut informasi yang terdapat dalam salah satu akun di dalamnya. Akun yang memiliki buku besar pembantu disebut akun pengendali (controlling account). Buku besar pembantu yang dimiliki oleh koperasi adalah:

1. buku piutang kepada anggota 2. buku utang pada anggota 3. buku utang 4. buku piutang 5. buku simpanan anggota 6. buku aktiva tetap

Contoh :

Dengan menggunakan data jurnal A-1 dan buku besar B-3, contoh buku besar pembantu adalah sebagai berikut:

Buku simpanan anggota (untuk satu orang)

KOPERASI SUMBER MAKMUR Jl. Mawar Jambe 83, Malang

Telp: (0341) 485769 Nama anggota : Firman

Alamat : Jl. Tenaga Dalam No. 32 Tlp. (0341) 489729

Pekerjaan : Arsitek

No. anggota : 07-039 Tanggal masuk : 6 Mei 2007

Tanggal keluar : ………. Tanda tangan :

(dalam ribuan rupiah)

Tanggal Keterangan

Debet Kredit Simpanan Simpanan

Wajib Pokok Sukarela Wajib Pokok Sukarela Saldo simpanan

Paraf

Mei 6 125 75 200

218

Setelah dilakukan posting ke buku besar, maka tahapan selanjutnya adalah mengumpulkan saldo-saldo di akhir periode. Kumpulan saldo-saldo buku besar di akhir periode dinamakan Neraca Saldo. Seperti perusahaan yang lain, pencatatan yang dilakukan koperasi juga menggunakan dasar akrual (accrual basis). Oleh karena itu pada akhir periode memerlukan jurnal penyesuaian (adjusting entries). Pada prinsipnya pemakaian metode akrual ini adalah mengakui pendapatan yang sudah menjadi haknya walaupun belum diterima dan membebankan biaya bila sudah menjadi kewajibannya. Untuk memudahkan penyusunan Laporan Keuangan, sebaiknya disusun Kertas Kerja (worksheet). Cara penyusunannya sama dengan yang dilakukan perusahaan pada umumnya. Dari hasil Kertas Kerja yang disusun sebelumnya, koperasi dapat dengan mudah menyusun Laporan Keuangan. Contoh soal dan penyelesaiannya:

Sekelompok pengrajin kulit yang banyak memproduksi jaket, sabuk, dompet dll di desa Jamberejo Kecamatan Bululawang Kabupaten Malang akan mendirikan Koperasi untuk memperlancar usaha mereka . Koperasi tersebut diberi nama Koperasi Serba Usaha“ Makmur Sentosa”. Transaksi selama bulan April 2007 adalah sebagai berikut:

April 2 Menerima setoran dari anggota dengan rincian: simpanan pokok Rp 200.000.000,00, simpanan wajib Rp 100.000.000,00 dan simpanan sukarela Rp 30.000.000,00

3 Untuk mengurangi resiko, dibuka rekening tabungan atas nama Sdr Sofyan selaku ketua dan Ibu Agustin selaku bendahara, di bank BRI kota Malang sebesar Rp 250.000.000,00

3 Bapak Muhammad sebagai penggagas awal pendirian koperasi ini menghibahkan tanah beserta bangunannya yang digunakan untuk kantor koperasi dimana ditaksir nilai pasarnya Rp 75.000.000,00 dan bangunan Rp 50.000.000,00

4 Dibeli peralatan dan mebelair untuk kantor senilai Rp 1.500.000,00 4 Dikeluarkan dana sebesar Rp 200.000,00 untuk konsumsi rapat

pembentukan koperasi 5 Dikeluarkan uang tunai sebesar Rp 3.500.000,00 untuk pengurusan

Akte pendirian dan pengurusan NPWP 7 Dibeli ATK (alat tulis kantor) senilai Rp 250.000,00 13 Atas pengajuan kredit untuk koperasi, pada tgl tersebut diterima

transfer pencairan kredit lunak untuk modal kerja dari Bank Bukopin senilai Rp 300.000.000,00 tingkat bunga 9 % flat jangka waktu 3 tahun. Biaya administrasi 1 % dan Biaya provisi 1,25 %

15 Diserahkan pencairan pinjaman sebesar Rp 125.000.000,00 kepada 25 orang anggota dengan bunga 15 % per tahun dipotong biaya administrasi 1 % via Bank yang diterima oleh koordinator

219

17 Diterima uang tunai dari 10 anggota baru dengan menyetor simpanan pokok masing-masing Rp 1.000.000,00 simpanan wajib Rp 500.000,00 dan simpanan sukarela yang totalnya berjumlah Rp 4.000.000,00

19 Diterima simpanan sukarela sejumlah Rp 45.000.000,00 21 Dikeluarkan pencairan pinjaman modal kerja dengan bunga 1 % per

bulan, tanpa biaya administrasi kepada 30 anggota masing-masing sebesar Rp 3.000.000,00

25 Dikeluarkan biaya pelatihan Manajemen Koperasi selama 3 hari yang diadakan Disperindagkop kabupaten Malang untuk 2 orang pengurus sebesar Rp 1.500.000,00

30 Dikeluarkan honorarium pegawai administrasi senilai Rp 2.000.000 30 Biaya administrasi dan jasa giro Bank bulan ini masing-masing

sebesar Rp 75.000,00 dan Rp 250.000,00

Jurnal transaksi di atas adalah:

Rekening Ref. Debet (Rp000,00)

Kredit (Rp

000,00) April 2 Kas 330.000

Simpanan Pokok 200.000 Simpanan Wajib 100.000 Simpanan Sukarela 30.000 (mencatat setoran simpanan) 3 Kas di bank (Bank) 250.000 Kas 250.000 (membuka rek. Tabungan Bank) 3 Tanah 75.000 Bangunan 50.000 Modal sumbangan 125.000 (mencatat modal sumbangan) 4 Peralatan 1.500 Kas 1.500 (membeli peralatan secara tunai) 4 Biaya administrasi & umum 200 Kas 200 (membebankan biaya konsumsi rapat) 5 Aktiva Lain-lain 3.500 Kas 3.500 (mencatat biaya pengurusan akte

pendirian & NPWP)

7 Perlengkapan 250 Kas 250 (mencatat pembelian ATK) 13 Kas di Bank 293.250 Biaya administrasi Bank 3.000 Biaya provisi 3.750 Hutang Bank 300.000 (mencatat pencairan pinjaman dari

BUKOPIN)

220

15 Piutang pinjaman anggota 125.000 Pendapatan jasa 1.250 Kas di Bank 123.750 (mencatat pencairan pinjaman

anggota)

17 Kas 19.000 Simpanan Pokok 10.000 Simpanan Wajib 5.000 Simpanan sukarela 4.000 (mencatat setoran anggotan baru) 19 Kas 25.000 Simpanan sukarela 25.000 (mencatat simpanan sukarela) 21 Piutang pinjaman anggota 90.000 Kas 90.000 (pencairan pinjaman modal kerja) 25 Beban perkoperasian 1.500 Kas 1.500 (mencatat biaya pelatihan ) 30 Beban pokok 2.000 Kas 2.000 (mencatat biaya gaji karyawan adm.) 30 Kas di Bank 175

Beban bunga simpanan 75 Jasa giro 250 (mencatat pendapatan dari jasa giro

dan pembebanan biaya adm. Bank)

Dari jurnal tersebut, langkah selanjutnya adalah melakukan posting ke buku besar masing-masing rekening

Kas

Tanggal Keterangan Ref

Debet Kredit Saldo

Debet Kredit

April 2 mencatat setoran simpanan 330.000 330.000

3 membuka rek. Tabungan Bank BRI

250.000 80.000

4 membeli peralatan secara tunai

1.500 78.500

4 membebankan biaya konsumsi rapat

200 78.300

5 mencatat biaya pengurusan akte pendirian & NPWP

3.500 74.800

7 mencatat pembelian ATK 250 74.550

15 mencatat setoran anggota 19.000 93.550

221

baru

17 mencatat simpanan sukarela

25.000 118.550

pencairan pinjaman modal kerja

90.000 28.550

25 mencatat biaya pelatihan 1.500 27.050

30 mencatat biaya gaji karyawan adm.

2.000 25.050

Kas di Bank

Tanggal Keterangan Ref Debet Kredit Saldo

Debet Kredit

3 membuka rek. Tabungan Bank

250.000 250.000

13 mencatat pencairan pinjaman dari BUKOPIN

293.250 543.250

15 mencatat pencairan pinjaman anggota

123.750 419.500

30 mencatat pendapatan dari jasa giro

175 419.675

Piutang Pinjaman anggota

Tanggal Keterangan Ref Debet Kredit Saldo

Debet Kredit

15 mencatat pencairan pinjaman anggota

125.000 125.000

21 pencairan pinjaman modal kerja

90.000 215.000

Perlengkapan (ATK)

Tanggal Keterangan Ref Debet Kredit Saldo

Debet Kredit

7 mencatat pembelian ATK 250 250

222

Tanah

Tanggal Keterangan Ref Debet Kredit Saldo

Debet Kredit

3 mencatat tanah sebagai modal sumbangan

75.000 75.00

Bangunan

Tanggal Keterangan Ref Debet Kredit Saldo

Debet Kredit

3 mencatat bangunan sebagai modal sumbangan

50.000 50.000

Peralatan

Tanggal Keterangan Ref Debet Kredit Saldo

Debet Kredit

4 membeli peralatan secara tunai

1.500 1.500

Aktiva Lain-lain

Tanggal Keterangan Ref Debet Kredit Saldo

Debet Kredit

5 mencatat biaya pengurusan akte pendirian & NPWP

3.500 3.500

Hutang Bank

Tanggal Keterangan Ref Debet Kredit Saldo

Debet Kredit

13 mencatat pencairan pinjaman dari BUKOPIN

300.000 300.000

223

Simpanan Sukarela

Tanggal Keterangan Ref Debet Kredit Saldo

Debet Kredit

2 setoran simpanan 30.000 30.000

17 mencatat setoran anggota baru

4.000 34.000

19 mencatat simpanan sukarela 2.500 36.500

Simpanan Pokok

Tanggal Keterangan Ref Debet Kredit Saldo

Debet Kredit

2 setoran simpanan 200.000 200.000

17 mencatat setoran anggota baru

10.000 210.000

Simpanan Wajib

Tanggal Keterangan Ref Debet Kredit Saldo

Debet Kredit

2 setoran simpanan 100.000 100.000

17 mencatat setoran anggota baru

5.000 105.000

Modal Sumbangan

Tanggal Keterangan Ref Debet Kredit Saldo

Debet Kredit

2 mencatat modal sumbangan 125.000 125.000

Pendapatan Jasa

Tanggal Keterangan Ref Debet Kredit Saldo

Debet Kredit

Mencatat pendpt jasa dari pencairan pinjaman anggota

1.250 1.250

224

Jasa Giro

Tanggal Keterangan Ref Debet Kredit Saldo

Debet Kredit

30 mencatat pendapatan dari jasa giro Bank

250 250

Beban Perkoperasian

Tanggal Keterangan Ref Debet Kredit Saldo

Debet Kredit

25 mencatat biaya pelatihan 1.500 1.500

Beban Bunga Bank

Tanggal Keterangan Ref Debet Kredit Saldo

Debet Kredit

30 mencatat pembebanan biaya bunga Bank

75 75

Beban Usaha

Tanggal Keterangan Ref Debet Kredit Saldo

Debet Kredit

4 membebankan biaya konsumsi rapat

200 200

30 mencatat biaya gaji karyawan adm.

2.000 2.200

Beban Administrasi Bank

Tanggal Keterangan Ref Debet Kredit Saldo

Debet Kredit

13 Mencatat biaya adm. pinjaman dari BUKOPIN

3.000 3.000

225

Biaya Provisi

Tanggal Keterangan Ref Debet Kredit Saldo

Debet Kredit

13 mencatat biaya provisi pinjaman dari BUKOPIN

3.750 3.750

Soal

Pada tanggal 24 Juli 2007, para karyawan di Instansi pendidikan “X”di Malang berinisiatif mendirikan Koperasi Serba Usaha dan diberi nama Koperasi “Usaha Makmur” yang beralamat di Jalan Merjosari Blok L Malang. Koperasi ini beranggotakan 200 orang dan bergerak di bidang penyediaan kebutuhan sehari-hari dan segala jenis perabot Rumah tangga. Transaksi di bulan Agustus 2007 adalah sebagai berikut:

Agustus 1 didirikan koperasi dengan simpanan pokok Rp 100.000,00

simpanan wajib Rp 50.000,00 2 Dikeluarkan biaya-biaya rapat pembentukan koperasi yang dihadiri

112 anggota sebesar Rp 500.000,00 4 Dibayar biaya notaris untuk mengurus akte pendirian, surat izin

usaha dan NPWP sebesar Rp 2.500.000,00 6 Diterima pinjaman lunak dari Bank Syariah Mandiri dengan bunga

menurun sebesar 17,5 % sebesar Rp 300.000.000,00 dipotong biaya administrasi 1 % dan biaya provisi 1,25 % jangka waktu 3

tahun 7 Diterima hibah dari Bapak Muhammad berupa 1 unit komputer

lengkap dengan printernya senilai Rp 7.000.000,00 dan almari kaca untuk display barang seharga Rp 2.000.000,00

8 Perlengkapan toko dan ATK (alat tulis kantor) yang dibeli pada bulan ini Rp 500.000,00

9 Petugas toko membeli barang untuk mengisi persediaan berupa: 2 ton beras Mentari @ Rp 5000,00/kg

1 ton gula pasir di Pabrik Gula Kebon Agung @ Rp 6.200,00/kg 50 % dibayar tunai, sisanya dibayar bulan depan .

11 Dibeli secara tunai 2 buah tape compo @ Rp 2.000.000-, 2 buah kipas angin @ Rp 700.000,00 dan 5 buah magic jar seharga Rp

500.000,00 sebagai persediaan. 13 Penjualan secara kredit barang pada hari ini terdiri dari:

5 kwintal beras @ Rp 5.500,00/kg 50 kg gula pasir @ Rp 7.500,00

13 Dibeli secara kredit kepada pedagang pasar besar makanan dan minuman ringan untuk dijual kembali senilai Rp 3.000.000,00

14 Dicatat simpanan pokok dan wajib anggota baru sebanyak 5 orang 14 Koperasi membeli mi istant sebanyak 20 dos a Rp 37.500,00/dos 15 Seorang pedagang eceran membeli 1 kwintal beras Mentari @ Rp

5.300,00

226

15 Anggota dengan no keanggotaan 007 membeli tape compo, seharga Rp 2.500.000,00 dicicil 5x dan dikenakan biaya

administrasi 1,5 % per bulan 19 Koperasi membeli sebuah sepeda motor bekas secara tunai senilai

Rp 7.800.000,00 untuk inventaris 20 Dicatat penjualan tunai pada tanggal 20 yang terdiri dari:

1 ton beras Mentari @ Rp 5.300,00/kg 1 kwintal gula pasir @ Rp 7.400,00/kg

1 dos mi instan Rp 40.000,00 25 Dicatat penjualan yang terjadi antara tgl 20-25 yang terdiri dari:

2 kwintal beras Mentari @ Rp 5.300,00/kg 1 kwintal gula pasir @ Rp 7.400,00/kg

2 dos mi instan Rp 40.000,00 makanan dan minuman ringan Rp 2.000.000,00

27 Untuk mengisi stok barang, pegawai toko membeli secara kredit: 1 ton beras Mentari @ Rp 5.500,00 1 ton gula pasir @ Rp 7.500,00/kg

makanan dan minuman ringan senilai Rp 2.500.000,00 30 Dibayar gaji 2 orang pegawai toko masing-masing Rp 750.000,00

Diminta:

a. Jurnallah transaksi di atas b. Posting-lah jurnalnya ke Buku Besar

AKKUNPER

☺ Kara☺

☺☺

☺ Pelap

227

NTANRBA

akteristik U

Jenis Jas☺ Term

Perlakua☺ Contohporan Keua

7

NSI uANKA

Usaha Perbs Perbanka

minologi n Akuntan

h Transaksiangan pad

untuAN

bankan an

nsi da Bank

uk

228

AKUNTANSI untuk PERBANKAN

Gambaran Umum Usaha

1. Karakteristik usaha perbankan

Bank adalah lembaga yang berperan sebagai perantara keuangan (financial intermediary) antara pihak yang memiliki dana dan pihak yang memerlukan dana. Sebagai perantara keuangan, bank menghimpun dana dari masyarakat yang surplus dana dalam bentuk simpanan dan sebagai imbalannya Bank akan memberikan bunga kepada nasabah penyimpan. Dari hasil menghimpun dana tersebut bank akan menyalurkan dalam bentuk kredit kepada masyarakat yang membutuhkan dana (defisit dana) dan sebagai imbalannya Bank akan memperoleh pendapatan bunga yang nilainya lebih besar daripada bunga yang dibayarkan kepada penyimpan dana. Jadi aktivitas pokok perbankan adalah menghimpun dana dan menyalurkan dana.

Selain itu, Bank merupakan lembaga yang berfungsi

memperlancar lalu lintas pembayaran. Bank memainkan peran penting dalam memelihara kepercayaan masyarakat terhadap sistem moneter. Oleh karena itu pemerintah melalui Bank Indonesia (BI) banyak mengeluarkan peraturan di bidang perbankan.

229

Menurut pasal 5 UU no 7 tahun 1992, Bank dibagi menjadi:

a. BANK UMUM; merupakan Bank yang dapat memberikan jasa dalam lalu lintas pembayaran dan melakukan kegiatan khusus dalam kegiatan antara lain: menyalurkan pembiayaan jangka panjang, pembiayaan untuk pengembangan koperasi, pengembangan pengusaha dibidang UKM, pengembangan ekspor non-migas dan pengembangan pembangunan perumahan

b. BANK PERKREDITAN RAKYAT; merupakan bank yang menerima simpanan hanya dalam bentuk deposito berjangka, tabungan dan bentuk simpanan lain yang setara dengan itu.

2. Jenis jasa perbankan

Jenis Produk perbankan

1. Kredit/Pinjaman

a. Kredit rekening koran, yaitu pinjaman dengan jumlah tertentu dari bank yang dapat ditarik sesuai keinginan peminjam dengan menjaminkan barang atau surat berharga.

b. Letter of Credit (L/C), yaitu instrumen yang memberi hak

kepada seseorang atau perusahaan penerima L/C untuk meminta pembayaran kepada bank penerbit melalui bank korespondensinya berdasarkan persyaratan yang tercantum dalam L/C tersebut.

c. Kredit aksep, yaitu pinjaman yang diberikan kepada nasabah

dalam bentuk wesel yang dapat diperjualbelikan

d. Kredit dengan jaminan surat-surat berharga, yaitu pinjaman yang diberikan bank kepada nasabah untuk keperluan pembelian surat berharga yang nantinya juga akan menjadi jaminan pinjaman tersebut.

e. Pinjaman subordinasi, yaitu pinjaman yang berdasarkan suatu

perjanjian hanya dapat dilunasi apabila bank telah memenuhi kewajiban tertentu dan dalam hal terjadinya likuidasi hak tagihnya berlaku paling akhir dari semua simpanan dan pinjaman diterima.

2. Simpanan

a. Tabungan, yaitu simpanan pihak lain pada bank yang penarikannya hanya dapat dilakukan menurut syarat tertentu

230

yang disepakati, tetapi tidak dapat ditarik dengan cek, bilyet giro, atau alat lainnya yang dapat dipersamakan dengan itu.

b. Giro, yaitu simpanan pihak lain pada bank yang penarikannya

dapat dilakukan setiap saat dengan menggunakan cek, bilyet giro, kartu ATM, sarana perintah pembayaran lainnya atau dengan cara pemindahbukuan.

c. Deposito, simpanan pihak lain pada bank yang penarikannya

hanya dapat dilakukan pada waktu tertentu menurut perjanjian antara penyimpan dengan bank yang bersangkutan.

d. Sertifikat deposito, simpanan pihak lain pada bank dalam

bentuk deposito yang sertifikat penyimpanannya dapat dipindahtangankan.

e. Bentuk lain yang dipersamakan dengan bentuk simpanan di

atas

Jenis Jasa Perbankan

1. Transfer, yaitu perpindahan dana antar rekening dari suatu bank ke kantor cabangnya atau bank lain baik untuk kepentingan nasabah maupun bank itu sendiri. Jasa transfer banyak ditawarkan oleh Bank untuk memperoleh fee base income. Selain untuk memperoleh fee base income, jasa transfer dapat dijadikan sebagai sarana promosi kepada nasabah tertentu (nasabah tabungan, kredit dll) melalui pembebasan biaya transfer. Jenis-jenis transfer: a. Berdasarkan mekanisme pelaksanaannya:

- transfer melalui Bank Indonesia - transfer melalui Bank Lain - transfer melalui cabang Bank sendiri

b. Berdasarkan kepentingan pihak pemakai jasa:

- transfer untuk kepentingan debitur - transfer untuk kepentingan non debitur - transfer untuk kepentingan bagian-bagian dalam Bank itu sendiri

c. Berdasarkan setoran dananya:

- Debet rekening Giro/Tabungan/Deposito - Kas/tunai

231

- Setoran Kliring - Hasil Inkaso

d. Berdasarkan media pelaksanaan transfer:

- Dibawa sendiri/setor langsung - Melalui teleks/faksimile - Melalui ATM

e. Berdasarkan lalu-lintas dana:

- Transfer keluar (Outgoing transfer) - Transfer masuk (Incoming transfer)

Dalam mekanisme transfer ada 4 pihak yang terlibat, yaitu: a. Nasabah

adalah sebagai pihak pemilik/pengirim yang memberi amanah kepada Bank untuk memindahkan dananya ke pihak penerima.

b. Bank Penarik (Drawer Bank) adalah bank pelaku transfrer yang menerima dana dan amanat dari nasabah untuk ditransfer ke pihak Bank Tertarik (Drawee) yang pada akhirnya Bank Tertarik akan meyerahkan kepada penerima dana akhir.

c. Bank Tertarik (Drawee Bank) adalah Bank yang menerima transfer masuk dari Bank Penarik untuk diteruskan kepada penerima dana akhir.

d. Penerima Dana (Beneficiary) adalah pihak akhir yang menerima dana transfer dari Bank Tertarik.

2. Inkaso, yaitu jasa perbankan yang melibatkan pihak ketiga dalam rangka penyelesaian tagihan berupa warkat/surat berharga yang tidak dapat diambil alih atau dibayarkan segera kepada pemberi amanat untuk keuntungannya.

Bank yang terlibat dalam Inkaso adalah: a. Bank pemrakarsa

adalah Bank penerima warkat dari pihak ketiga untuk ditagihkan dan hasilnya untuk kepentingan pihak ketiga tersebut

232

b. Bank Pelaksana adalah Bank yang melakukan penagihan kepada pihak ketiga (nasabah di Bank Pelaksana) atas amanah dari Bank Pemrakarsa dan hasilnya untuk kepentingan pihak ketiga (nasabah Bank Pemrakarsa)

Warkat Inkaso dapat dibedakan menjadi: a. Warkat Inkaso tanpa lampiran yaitu warkat Inkaso yang tidak dilampiri

dengan dokumen apapun seperti cek, giro bilyet atau surat berharga lainnya.

b. Warkat Inkaso dengan lampiran yaitu warkat Inkaso yang harus

dilampiri dokumen- dokumen seperti kuitansi, faktur, polis asuransi atau surat lain yang disetujui Bank

Dilihat dari lalu lintas dananya, Inkaso dibedakan menjadi: a. Inkaso Keluar yaitu kegiatan Inkaso atas Instruksi nasabah untuk

melakukan penagihan kepada pihak ketiga di cabang Bank sendiri atau Bank lain diluar kota.

b. Inkaso Masuk yaitu tagihan masuk atas beban rekening bank sendiri

dan hasilnya dikirim ke cabang Bank Pemrakarsa untuk keuntungan pihak ketiga.

Dilihat dari mekanisme pelaksanaannya, inkaso dibedakan menjadi: a. Inkaso melalui bank lain yaitu inkaso yang dilaksanakan terhadap

pihak ketiga yang merupakan nasabah dari Bank lain. b. Inkaso melalui cabang sendiri yaitu Inkaso yang dilakukan melalui

cabang Bank sendiri untuk pihak ketiga diluar kota pada kantor cabang Bank sendiri.

3. Kartu kredit (credit card), yaitu kartu yang dapat digunakan sebagai alat pembayaran dalam transaksi jual beli barang atau jasa, kemudian pelunasan atas penggunaannya dapat dilakukan sekaligus atau dengan cicilan dengan jumlah minimum tertentu.

233

4. Safe deposit box, yaitu jasa penyediaan tempat penyimpanan barang berharga dengan jaminan keamanan penuh dari bank penyedia jasa dengan dikenakan biaya sesuai kesepakatan nasabah dengan bank.

5. Rupiah Traveler’s cheque (cek perjalanan) yaitu surat berharga yang diterbitkan bank dari dana nasabah dengan masa berlaku tidak terbatas yang berlaku dimana saja dan dapat diuangkan sewaktu-waktu.

6. Payment Point (Rekening titipan) yaitu rekening yang menampung pembayaran dari masyarakat untuk keuntungan pihak tertentu, umumnya perusahaan publik. Rekening titipan biasa dimanfaatkan untuk membayar tagihan-tagihan rutin yang jumlahnya tidak terlalu besar.

7. Bank garansi, yaitu jasa pembayaran kewajiban suatu pihak kepada pihak lain yang terikat dalam suatu kontrak atau perjanjian untuk mendukung kelancaran pembayaran kontrak atau perjanjian tersebut

Terminologi (Glosari) Khusus dalam Perbankan

Berikut ini adalah definisi dari istilah-istilah khusus dalam perbankan

sesuai PSAK No. 31 (diurutkan secara alfabetis):

Aktiva produktif adalah penanaman modal bank, baik dalam rupiah maupun valuta asing dalam bentuk kredit, efek (surat berharga), efek yang dibeli dengan janji dijual kembali (reverse repo), tagihan derivatif, tagihan akseptasi, penempatan dana pada bank lain, penyertaan, dan lain-lain.

Bank adalah badan usaha yang menghimpun dana dari

masyarakat dalam bintuk simpanan dan menyalurkannya kepada masyarakat dalam bentuk kredit dan / atau bentuk lainnya dalam rangka meningkatkan taraf hidup rakyat.

Efek adalah surat berharga komersial, saham, obligasi, tanda

bukti untang, unit penyertaan kontrak investasi kolektif, kontrak berjangka, dan setiap derivatif dari efek

234

Estimasi kerugian komitmen dan kontinjensi adalah taksiran kerugian akibat tidak dipenuhinya komitmen dan kontinjensi oleh nasabah.

Kas adalah mata uang kertas dan logam, baik rupiah maupun

valuta asing yang masih berlaku sebagai alat pembayaran yang sah. Kewajiban segera adalah kewajiban bank kepada pihak lain yang

sifatnya wajib segera dibayarkan sesuai dengan perintah pemberi amanat atau perjanjian yang ditetapkan sebelumnya.

Komitmen adalah ikatan atau kontrak berupa janji yang tidak dapat dibatalkan (irrevocable) secara sepihak dan harus dilaksanakan apabila persyaratan yang disepakati bersama dipenuhi.

Kontinjensi adalah kondisi atau situasi dengan hasil akhir berupa

keuntungan atau kerugian yang baru dapat dikonfirmasikan setelah terjadinya satu peristiwa atau lebih pada masa yang akan dating.

Kredit adalah peminjaman uang atau tagihan yang dapat

dipersamakan dengan itu berdasarkan persetujuan atau kesepakatan pinjam-meminjam antara bank dengan pihak lain yang mewajibkan pihak peminjam untuk melunasi utangnya setelah jangka waktu tertentu dengan jumlah bunga, imbalan, atau pembagian hasil keuntungan. Hal yang termasuk dalam pengertian kredit yang diberikan adalah kredit dalam rangka pembiayaan bersama, kredit dalam restrukturisasi, dan pembelian surat berharga nasabah yang dilengkapi dengan Note Purchase Agreement (NPA).

Penempatan pada bank lain adalah penanaman dana bank

pada bank lain baik dalam negeri maupun di luar negeri, dalam bentuk interbank call money, tabungan, deposito berjangka, dan lain-lain yang sejenis, yang dimaksudkan untuk memperoleh penghasilan.

Penyertaan saham adalah penanaman dana bank dalam bentuk

saham perusahaan lain untuk tujuan investasi jangka panjang, baik dalam pendirian maupun ikut serta dalam operasi lembaga keuangan lainnya, termasuk penyertaan sementara dalam rangka restrukturisasi kredit atau lainnya.

Penyisihan kerugian aktiva produktif adalah penyisihan yang

dibentuk untuk menutup kemungkinan kerugian yang timbul sehubungan dengan penanaman dana ke dalam aktiva produktif, baik dalam bentuk rupiah maupun valuta asing.

235

Pinjaman diterima adalah dana yang diterima dari bank lain, Bank Indonesia, atau pihak lain dengan kewajiban pembayaran kembali sesuai dengan persyaratan yang ditetapkan dalam perjanjian pinjaman. Pinjaman subordinasi dan simpanan masyarakat tidak termasuk dalam pengertian ini.

Pinjaman subordinasi adalah pinjaman yang berdasarkan suatu

perjanjian hanya dapat dilunasi apabila bank telah memenuhi kewajiban tertentu dan dalam hal terjadinya likuidasi hak tagihnya berlaku paling akhir dari semua simpanan dan pinjaman diterima

Posisi devisa neto adalah:

a. selisih bersih aktiva dan kewajiban moneter dan valuta asing b. selisih bersih tagihan dan kewajiban komitmen dan kontinjensi

dalam valuta asing

Simpanan adalah dana yang dipercayakan oleh masyarakat (di luar bank) kepada bank berdasarkan perjanjian penyimpanan dana.

Simpanan dari bank lain adalah kewajiban bank kepada bank lain, baik dalam negeri maupun di luar negeri dalam bentuk giro, tabungan, interbank call money, deposito berjangka, dan lain-lain yang sejenis.

Perlakuan Akuntansi dalam Perbankan

Di samping diatur dalam PSAK no. 31 tentang Akuntansi Perbankan, secara rinci Akuntansi Perbankan diatur dalam PAPI (Pedoman Akuntansi Perbankan Indonesia) bagi Bank Konvensional dan PAPSI (Pedoman Akuntansi Perbankan Syariah Indonesia) untuk bank Syariah. Beberapa rekening tidak dibahas secara detil, karena pembahasannya membutuhkan pengetahuan di bidang lain untuk melengkapi bahasan.

Contohnya: akuntansi derivatif, transaksi akseptasi dll

Akuntansi Aktiva

Aktiva disusun berdasarkan urutan likuiditasnya. Rekening-rekening Aktiva Bank terdiri dari:

236

a. Kas b. Giro pada Bank Indonesia c. Giro pada Bank Lain d. Penempatan pada Bank Lain e. Efek (surat berharga) f. Efek yg dibeli dg janji dijual kembali g. Tagihan derivative h. Kredit Yg Diberikan i. Tagihan Akseptasi j. Penyertaan Saham k. Aktiva Tetap l. Aktiva Lain-lain

Perlakuan akuntansi untuk masing-masing akun aktiva adalah sebagai berikut:

a. Kas

Kas adalah mata uang kertas dan logam baik rupiah maupun mata uang asing yang masih berlaku sebagai alat pembayaran yang sah. Transaksi kas diakui sebesar nilai nominal.

Perubahan- perubahan kas di Bank pada umumnya disebabkan oleh:

1. Penyetoran dan penarikan tunai oleh nasabah 2. Penyetoran dan penarikan dari rekening Bank yang

bersangkutan di BI (Bank Indonesia) 3. Penggunaan transaksi intern bank

Pencatatan/jurnal-jurnal yang diperlukan:

- Penerimaan setoran:

Contoh: Diterima setoran Tuan Aris pada rekening tabungannya sebesar Rp 25,000.000,00

Kas Rp 25.000.000,00

Tabungan Tuan Aris Rp 25.000.000,00

- Penarikan setoran: Contoh: Tuan Aris menarik Rp 1.000.000,00 dari rekeningnya

Tabungan Tuan Aris Rp 1.000.000,00

Kas Rp 1.000.000,00

237

Seperti perusahaan lain pada umumnya, Bank menggunakan Petty Cash (Kas Kecil) untuk membayar pengeluaran- pengeluaran yang jumlahnya relatif kecil Sistem pencatatan Petty Cash ada 2:

a. Sistem Impres ( Imprest Fund System) dan b. Sistem Fluktuasi (Fluctuating System)

Dari kedua sistem di atas sistem Impres yang lebih sering digunakan. Contoh: Transaksi yang berhubungan dengan kas selama pada bulan Nopember 2006 di Bank Amerta adalah sebagai berikut:

Tanggal Transaksi 1 - 11- 06 Dibentuk Dana Kas kecil Rp 500.000,00 4 - 11- 06 Pembelian konsumsi rapat

bulanan Rp 75.000,00

19 -11- 06 Pembayaran biaya perjalanan Rp 50.000,00 20 -11- 06 Pembayaran BBM Rp 125.000,00 30 -11- 06 Pembayaran langganan koran Rp 50.000,00 30 -11- 06 Pembayaran makan siang

pegawai Rp 250.000,00

30 -11- 06 Pengisian kembali kas kecil Rp 450.000,00

Saat pembentukan

1-11-2006 : Dana kas kecil Rp 500.000,00 Kas Rp 500.000,00

Transaksi tanggal 4 sampai 30 2006 tidak dicatat, tetapi hanya dibuat memo dan bukti-bukti pengeluaran kas dikumpulkan. Jurnal pada saat pengisian kembali Dana Kas Kecil

Beban konsumsi rapat Rp 75.000,00 Beban transportasi Rp 50.000,00 Beban BBM Rp 125.000,00 Beban koran Rp 50.000,00 Beban konsumsi pegawai Rp 250.000,00

Kas Rp 400.000,00

238

b. Transaksi giro pada Bank Indonesia diakui sebesar nilai nominal.

Jurnalnya: Setoran pada Bank Indonesia: Contoh: Bank Artha menyetorkan Rp 2.500.000.000,00 tunai pada rekening gironya di Bank Indonesia

Giro pada Bank Indonesia Rp 2.500.000.000,00

Kas Rp 2.500.000.000,00

Penarikan setoran: Contoh: Bank Makmur menarik Rp 3.000.000.000,00 tunai dari rekening gironya di Bank Indonesia

Kas Rp 3.000.000.000,00 Giro pada Bank Indonesia Rp 3.000.000.000,00

c. Giro pada bank lain Adalah rekening giro bank pada bank lain di dalam dan di luar

negeri baik dalam mata uang rupiah maupun mata uang asing dengan tujuan untuk menunjang transaksi antar bank. Transaksi giro pada Bank Indonesia diakui sebesar nilai nominal.

Jurnalnya: Setoran ke bank lain: Contoh: Bank Mulia menempatkan giro pada Bank Artha sebesar Rp 100.000.000,00.

Giro pada Bank Artha Rp 100.000.000,00 Kas/rekening…./kliring Rp 100.000.000,00

Penarikan dari bank lain: Contoh: Bank Mulia menarik Rp 20.000.000,00 dari rekening gironya di Bank Kita.

239

Kas/rekening…/kliring Rp 20.000.000,00

Giro pada Bank Kita Rp 20.000.000,00 Bila bank memiliki giro di bank lain, maka bank akan mendapatkan jasa berupa bunga. Perlakuan akuntansinya:

Pengakuan pendapatan:

Contoh: Bank Sejahtera memiliki rekening giro di Bank Mulia sebesar Rp60.000.000,00. Bank Mulia memberikan bunga tahunan sebesar 10%.

Pendapatan bunga giro yang akan diterima Rp 6.000.000,00 Pendapatan bunga giro Rp 6.000.000,00

Penerimaan pendapatan bunga:

Giro pada bank lain Rp 6.000.000,00

Pendapatan bunga giro yang akan diterima Rp 6.000.000,00

d. Penempatan pada bank lain Penempatan pada bank lain adalah penempatan dana bank

pada bank lain baik dalam negeri maupun luar negeri sebagai secondary reserve dengan tujuan memperoleh penghasilan. Penempatan pada bank lain dapat berbentuk giro, depotiso, call money, dll. Penempatan pada bank lain diakui pada saat dilakukan penyerahan sebesar nilai nominal penyetoran atau nilai yang dijanjikan sesuai jenis penempatan. Contoh: Bank Mulia menempatkan dana dalam bentuk sertifikat deposito pada Bank Sejahtera sebanyak 100 lembar dengan nominal masing-masing Rp 1.000.000,00. Tingkat bunga yang diberikan Bank Sejahtera sebesar 15%, jangka waktu 90 hari.

Saat penempatan:

Penempatan pada bank Sejahtera Rp 100.000.000,00

Kas Rp 100.000.000,00

240

Saat pengakuan pendapatan bunga:

Pdptn bunga penempatan yg akan diterima Rp 3.750.000,00 Pendapatan bunga penempatan Rp 3.750.000,00

Saat jatuh tempo:

Kas/rekening/kliring Rp103.750.000,00

Pdptn bunga penempatan yg akan diterima Rp 3.750.000,00 Penempatan pada bank lain Rp100.000.000,00

e. Efek/Surat Berharga Adalah surat berharga komersial, saham, obligasi, tanda bukti utang, derivatif dari efek. Untuk menghindari dana yang menganggur/ kelebihan dana, bank dapat menempatkan pada investasi sementara dan dapat diuangkan sewaktu-waktu bila dibutuhkan. Pembelian efek ini dapat dilakukan secara tunai, melibatkan giro pada Bank Indonesia, giro pada bank lain atau penempatan pada Bank lain

Contoh:

Pada tanggal 5 Mei 2007 Bank Unggul membeli 1000 lembar saham PT A dengan nilai nominal Rp 20.000,00 kurs 110 dan komisi pialang 5%.

Pembelian investasi sementara secara tunai

Investasi sementara – saham PT A Rp 23.100.000,00

Kas Rp 23.100.000,00

Pembl. investasi smntara mell. beban giro BI Investasi sementara – saham PT A Rp 23.100.000,00 Giro BI Rp 23.100.000,00

Pembelian obligasi melalui beban giro bank lain

Contoh: Bank Singgasana membeli obligasi PT B pada tanggal 31 Mei 2007 sebanyak 500 lembar nominal Rp 100.000,00 dengan kurs 95%

241

Bunga obligasi 18% pertahun dibayar tiap tanggal 1 Maret dan 1 September. Biaya pembelian 5%. Pembelian melalui Giro pada bank lain.

Perhitungan:

Harga beli obligasi 500 x Rp 100.000,00 x 95 % Rp 47.500.000,00 Biaya pembelian 5 % x Rp 47.500.000,00 Rp 2.375.000,00 Harga Perolehan Rp 49.875.000,00

Bunga berjalan 1 Maret – 31 Mei : 3/12 x 18 % x Rp 50.000.000 Rp 2.250.000,00 Pembayaran yg dilakukan Rp 52.125.000,00

Jurnalnya:

31 Mei 2007 (saat pembelian)

Investasi sementara – obligasi PT B Rp 49.875.000,00 Pendapatan bunga Rp 2.250.000,00

Giro Bank lain Rp 52.125.000,00

1 September 2007 (saat penerimaan bunga)

Kas Rp 4.500.000,00 Pendapatan Bunga Rp 4.500.000,00

Perhitungannya:

Bunga 6/12 x 18 % x Rp 50.000.000,00 = Rp 4.500.000,00

f. Efek yg dibeli dg janji dijual kembali Adalah penanaman dana dalam bentuk pembelian efek dimana si penjual berjanji akan membeli kembali dengan harga yang telah disepakati. Penyajian di neraca sebesar tagihan bruto dikurangi dengan (dioffset) dengan pendapatan bunga yang ditangguhkan.

Perlakuan Akuntansi yang dibutuhkan yaitu:

1. Pada saat pembelian efek

Efek yg dibeli dg janji dijual kembali xxx Kas/rekening…/kliring xxx Pendpt bunga yg ditangguhkan xxx

242

2. Amortisasi pendpt bunga yg ditangguhkan

Pendapatan bunga yg ditangguhkan xxx Pendapatan bunga xxx

3. Pada saat penjualan kembali

Kas/rekening…/kliring xxx Pendpt bunga yg ditangguhkan xxx

Efek yg dibeli dg janji dijual kembali xxx Pendapatan Bunga xxx

g. Tagihan derivatif

Adalah tagihan karena potensi keuntungan dari suatu perjanjian/kontrak transaksi derivatif (terdapat selisih positif antara nilai kontrak dengan nilai wajar transaksi derivatif pada tanggal laporan)

h. Kredit yang diberikan

Kelompok Aktiva setelah kas dan Investasi sementara pada surat berharga adalah Piutang. Dalam industri perbankan Piutang berbentuk Kredit yang diberikan kepada nasabah dan merupakan usaha utama Bank.

Contoh:

Pada tanggal 5 Maret 2007, Bayu Perkasa mengajukan permohonan kredit kepada bank Andalas Cabang Malang sebesar Rp 150.000.000,00. Kredit tersebut hanya disetujui sebesar Rp 100. 000.000,00 pada tanggal 1 April 2007. Biaya yang dibebankan kepada Tuan Bayu terdiri dari: - Biaya provisi dan komisi 0,25% - Bea materai Rp 30.000,00

- Biaya administrasi Rp 125.000,00 - Biaya Notaris Rp 300.000,00 - Biaya Asuransi Rp 500.000,00

Jangka waktu kredit 5 tahun dengan bunga yang dibebankan 21% per tahun. Pada saat realisasi, Tuan bayu meminta kredit yang cair tersebut

243

ditransfer ke tabungannya sebesar Rp 90.000.000,00 dan sisanya diterima dalam bentuk tunai.

Bank akan mencatat transaksi tersebut sebagai berikut:

Kredit yang diberikan Rp 100.000.000,00 Tabungan Bayu Perkasa Rp 90.000.000,00

Provisi dan komisi Rp 2.500.000,00 Bea materai Rp 30.000,00 Biaya administrasi Rp 125.000,00

Biaya Notaris Rp 300.000,00 Biaya Asuransi Rp 500.000,00 Kas Rp 4.500.000,00

Penyisihan Penghapusan Aktiva Produktif

Aktiva Produktif Bank meliputi:

1. penempatan pada bank lain baik dalam maupun luar negeri kecuali dalam bentuk giro

2. surat berharga/efek 3. kredit yang diberikan 4. penyertaan

Aktiva produktif di atas adalah yang paling besar memberikan sumbangan pendapatan bagi Bank, tetapi juga merupakan aset yang paling berisiko. Risiko dari kredit yang disalurkan dapat dilihat dari posisi tingkatan kolektibilitasnya yang terbagi menjadi: 1. Kolektibilitas Lancar 2. Kolektibilitas kurang Lancar 3. Diragukan dan 4. Macet

Pergeseran posisi kolektibilitas dapat dilihat dari seberapa lama

nasabah tidak mengangsur pinjamannya. Masing-masing tingkatan pergeserannya selama 3 bulan. Jadi bila seorang nasabah tidak mengangsur selama 3 bulan posisi kolektibilitasnya akan bergeser dari Lancar ke posisi Kurang Lancar, bila tidak mengangsur selama 6 bulan kolektibilitas akan bergeser ke posisi macet. Demikian seterusnya.

244

Untuk mengantisipasi resiko, maka Bank diwajibkan membentuk cadangan/penyisihan terhadap aktiva produktif sesuai dengan klasifikasi-nya. Pada akhir periode, Bank akan membuat jurnal penyesuaian untuk tiap-tiap jenis aktiva produktif.

1. Penempatan pada Bank Lain

Biaya Cad. Penempatan pada Bank Lain Rp……,00 Cad.Penghapusan Penempatan pd Bank Lain Rp …..,00

2. Surat Berharga Biaya Penyisihan/Penurunan Nilai SB Rp …….,00 Cad.Penurunan Nilai Surat Berharga Rp…….,00

3. Kredit yang diberikan Bila Cadangan Penghapusan Kredit pada suatu periode sebesar Rp2.500.000,00 maka jurnalnya adalah: Biaya Penghapusan Kredit yang Diberikan Rp 2.500.000,00 Cad.Penghapusan Kredit yang Diberikan Rp 2.500.000,00

Untuk memperbaiki Kualitas Aktiva Produktif, maka Bank dapat menghapus kredit yang kolektibilitasnya tergolong Macet. Hal ini dilakukan agar kinerja bank tidak menjadi buruk, walaupun dalam kenyataan kredit tersebut masih tetap ditagih hingga lunas.

Prosedur penghapusan yang benar diberikan pada contoh di bawah ini:

Bank akan menghapusbukukan kredit macet pada suatu periode sebesar Rp 200.000.000,00 dimana diperkirakan bunga yang masih akan diterima sebesar Rp 20.000.000,00. Total agunan berupa tanah dan bangunannya dari kredit ini ditaksir mempunyai harga pasar senilai Rp 175.000.000,00.

Jurnal yang harus dibuat:

Aktiva Tetap-Agunan dlm Penyelesaian Rp 175.000.000,00 Cadangan Penghapusan Kredit Rp 45.000.000,00 Kredit yang diberikan Rp 200.000.000,00 Pendapatan Bunga yg msh akan diterima Rp 20.000.000,00

245

i. Tagihan Akseptasi

adalah tagihan yang timbul dari transaksi Eksport-Import yang dilakukan nasabah Bank

j. Penyertaan Saham

adalah penanaman dana bank dalam bentuk saham perusahaan lain untuk tujuan investasi jangka panjang baik dalam rangka pendirian maupun ikut serta dalam operasi lembaga keuangan/perusahaan lain serta dalam rangka restrukturisasi kredit atau lainnya. Metode Akuntansi untuk mencatat penyertaan adalah: - Metode Biaya digunakan bila jumlah penyertaan kurang dari 20 % - Metode Ekuitas digunakan bila jumlah penyertaan sama atau lebih

dari 20 %. Pencatatan yang dibutuhkan: saat melakukan penyertaan

Bank “Harmoni” membeli 20 % saham berhak suara (100.000 lembar) PT”Berdikari” seharga Rp 2.000.000.000,00

Penyertaan Saham Rp 2.000.000.000,00 Kas Rp 2.000.000.000,00 saat perusahaan/investee mengumumkan laba/rugi Pencatatan yang dilakukan tergantung metode yang dipakai.

Contoh: PT Berdikari mengumumkan laba tahun 2007 sebesar Rp300.000.000,00.

Metode Biaya

Tidak ada jurnal

246

Metode Ekuitas

Penyertaan Saham Rp 60.000.000,00 Pendapatan dari penyertaan saham Rp 60.000.000,00

Bila perusahaan rugi Rp 50.000.000,00

Kerugian dari penyertaan saham Rp 10.000.000,00

Penyertaan saham Rp 10.000.000,00

saat penerimaan dividen

Dividen yang dibagikan dari laba periode 2007 sebesar Rp 400,00 perlembar

Metode Biaya

Kas Rp 40.000.000,00

Pendapatan Dividen Rp 40.000.000,00

Metode Ekuitas

Kas Rp 40.000.000,00 Penyertaan saham Rp 40.000.000,00

saat terjadi penurunan nilai secara permanen

Kerugian Penurunan nilai penyertaan xxx Penyertaan saham xxx

saat pelepasan sebagian/seluruh saham

Bank menjual 20.000 lembar saham PT Berdikari pada nilai nominal

Kas Rp 400.000.000,00 Penyertaan saham Rp 400.000.000,00

Bila penyertaan Bank dalam rangka restrukturisasi kredit maka penyertaannya bersifat sementara.

247

Dalam rangka restrukturisasi kredit PT”Berdikari” di bank ”Harmoni” maka Bank membeli 50.000 lembar saham pada nilai nominal PT tersebut. Setelah usaha PT ”Berdikari” lancar maka saham yang dibeli bank ditebus pada nilai nominal. Jurnal yang dibutuhkan saat penebusan Kas Rp 200.000.000,00 Penyertaan sementara Bank Rp 200.000.000,00

k. Aktiva Tetap Pengertian Aktiva Tetap Bank sama dengan pengertian aktiva tetap

pada perusahaan yang lain yaitu aktiva berwujud yang diperoleh dalam bentuk siap pakai atau dibangun terlebih dahulu yang digunakan dalam operasi dan tidak akan dijual dalam jangka pendek. Aktiva Tetap dicatat sebesar Harga Perolehan. Dalam industri Perbankan kelompok Aktiva Tetap dijadikan satu dengan Inventaris (ATI) yang menurut aturan Bank Indonesia maksimum sebesar 5 % dari Total Asset.

Cara perolehan Aktiva Tetap bermacam-macam

- Pembelian Tunai

Contoh: Bank Merdeka Cabang Malang membeli tanah seluas 500 meter seharga Rp 1.500.000,00 /m2. Biaya yang dikeluarkan agar tanah siap dibangun sebesar Rp 2.500.000,00, komisi makelar 5 % dari harga tanah, sedangkan biaya notaris untuk pengurusan surat-surat tanah Rp 10.0000.000,00

Harga Perolehan Tanah yang harus dicatat terdiri dari:

Harga Tanah Rp 750.000.000,00 Komisi makelar (5%) Rp 37.500.000,00

Biaya perataan tanah Rp 2.500.000,00 Biaya notaris Rp 10.000.000,00 Rp 800.000.000,00

Jurnalnya:

Aktiva Tetap & Inventaris- Tanah Rp 800.000.000,00

Kas Rp 800.000.000,00

248

- Pembelian secara Kredit

Bila tanah tersebut dibeli secara kredit dengan ketentuan uang muka sebesar Rp 200.000.000,00 dan bunga 6%/tahun, jangka waktu kredit 5 tahun, maka jurnal yang diperlukan

Pembayaran uang muka Uang muka Rp 200.000.000,00

Kas Rp 200.000.000,00

Saat perolehan aktiva tetap Aktiva tetap Rp 800.000.000,00 Beban bunga ditangguhkan Rp 180.000.000,00

Utang angsuran pembelian Rp 760.000.000,00 Uang muka Rp 200.000.000,00

Perhitungan bunga yang ditangguhkan: 6 % x 5 x Rp 600.000.000,00 = Rp 180.000.000,00

Pembayaran angsuran dan bunga:

Angsuran pokok : Rp 600.000.000,00/60 = Rp 10.000.000,00 Bunga = 1/12 x 6 % x Rp 600.000.000,00 = Rp 3.000.000,00 Rp 13.000.000,00

Utang angsuran Rp 13.000.000,00

Kas Rp 13.000.000,00

Beban bunga Rp 3.000.000,00 Beban bunga ditangguhkan Rp 3.000.000,00

Kedua jurnal di atas dapat digabung menjadi:

Utang angsuran Rp 13.000.000,00 Beban bunga Rp 3.000.000,00

Beban bunga ditangguhkan Rp 3.000.000,00 Kas Rp 13.000.000,00

249

l. Aktiva Lain-lain

adalah aktiva yang tidak dapat digolongkan dalam pos-pos sebelumnya dan tidak cukup material disajikan sebagai pos tersendiri. Komponen Aktiva lain-lain antara lain:

1. Aktiva tetap yang tidak digunakan 2. Beban dibayar dimuka 3. Beban yang ditangguhkan 4. emas batangan 5. comemmorative coin 6. uang muka pajak 7. pendapatan yang masih harus diterima

Contoh perlakuan Akuntansi dari Aktiva tetap yang tidak digunakan. Sebuah kendaraan milik Bank “Karabat” Kijang sudah tidak digunakan lagi karena dianggap boros bahan bakar. Harga perolehan mobil ini Rp 100.000.000,00 dan sudah disusutkan sebesar Rp 55.000.000,00. Harga pasar mobil ini hanya Rp 35.000.000,00. Jurnalnya:

Aktiva lain-lain Rp 35.000.000,00 Akumulasi penyusutan Rp 55.000.000,00 Beban penurunan nilai aktiva Rp 10.000.000,00 Aktiva Tetap (kendaraan) Rp 100.000.000,00

Satu bulan kemudian bank memutuskan untuk menjual mobil tersebut dan ternyata laku senilai Rp 30.000.000,00 Kas Rp 30.000.000,00 Rugi penjualan aktiva Rp 5.000.000,00 Aktiva lain-lain Rp 35.000.000,00

250

Akuntansi Kewajiban

Kewajiban Bank terdiri dari:

a. Kewajiban segera b. Simpanan c. Simpanan dari bank lain d. Efek yg dijual dg janji dibeli kembali e. Kewajiban derivatif f. Kewajiban akseptasi g. Surat berharga yg

diterbitkan h. Pinjaman yg diterima

i. Estimasi kerugian komitmen dan kontinjensi

j. Kewajiban lain-lain

k. Pinjaman subordinasi a. Kewajiban segera

Adalah kewajiban bank kepada pihak lain yang sifatnya wajib segera dibayarkan sesuai dengan perintah pemberi amanat atau perjanjian yang ditetapkan sebelumnya. Kewajiban segera disajikan sebesar jumlah kewajiban Bank Contohnya :

a. kiriman uang, b. penerimaan pajak melalui Bank yg masih harus disetor, c. deposito yang sudah jatuh tempo tetapi belum diambil, d. bunga yang sudah jatuh tempo tetapi belum diambil oleh

nasabah.

Transfer uang Contoh: Tuan Amat mentransfer uang via Bank Baru ke saudaranya yang mempunyai rekening di bank Lama sebesar Rp 5.000.000,00 - Pada saat menerima dana untuk transfer uang

Kas/ rekening …../kliring Rp 5.000.000,00 Kewajiban segera-kiriman uang Rp 5.000.000,00

- Pada saat dilakukan pembayaran kiriman uang Kewajiban segera-kiriman uang Rp 5.000.000,00 Kas/ rekening …../kliring Rp 5.000.000,00

251

Titipan Pajak Nasabah CV Dinar menyetorkan uang senilai Rp 30.000.000,00 untuk membayar pajak tahun 2006 melalui Bank Gajayana. Pada saat diterima dana untuk penyetoran pajak: Kas/ rekening …../kliring Rp 30.000.000,00

Kewajiban segera-pajak nasabah Rp 30.000.000,00

Pada saat kewajiban pajak disetor Kewajiban segera- pajak nasabah Rp 30.000.000,00 Kas/ rekening …../kliring Rp 30.000.000,00

Bunga yang sudah jatuh tempo dari deposito Deposito Tuan Santosa senilai Rp 50.000.000,00 jangka waktu 3 bulan bunga 9% per tahun belum diambil.

Jurnalnya: Pada saat pengakuan beban bunga:

Beban bunga deposito Rp 1.125.000,00 Beban bunga deposito yg masih hrs dibayar Rp 1.125.000,00

Pada saat bunga sudah jatuh tempo tetapi belum diambil nasabah

Beban bunga deposito ymh dibayar Rp 1.125.000,00

Kewajiban segera-bunga deposito jatuh tempo Rp 1.125.000,00

Pada saat bunga deposito jatuh tempo dan diambil nasabah Kewajiban segera-bunga deposito jatuh tempo Rp 1.125.000,00

Kas/ rekening …../kliring Rp 900.000,00 Kewajiban segera-pajak nasabah (20%) Rp 225.000,00

Penutupan Rekening giro/tabungan

Tuan Naruto menutup tabungannya yang bernilai Rp 15.000.000,00. Saat penutupan rekening giro/tabungan oleh nasabah atau Bank lain

252

Tabungan Naruto Rp 15.000.000,00 Kewajiban segera-penutupan rekening Rp 15.000.000,00

Saat penyelesaian rekening yang ditutup Kewajiban segera-penutupan rekening Rp 15.000.000,00 Kas/ rekening …../kliring Rp 15.000.000,00

b. Simpanan Adalah dana yang dipercayakan oleh masyarakat kepada bank berdasarkan perjanjian penyimpanan dana. Bentuk simpanan dapat berupa giro, tabungan, deposito, sertifikat deposito atau yang disamakan dengan itu. Contoh: Bapak Wijaya mebuka tabungan di bank pada tanggal 5 April 2008 senilai Rp 3.000.000,00. Setelah 1 tahun tabungan tersebut ditutup

Jurnal-jurnalnya: Saat penerimaan setoran

Kas/ rekening …../kliring Rp 3.000.000,00 Tabungan Rp 3.000.000,00 Bila penyetoran tersebut berbentuk giro/deposito, maka jurnalnya: Kas/ rekening …../kliring Rp 3.000.000,00 Giro/deposito Rp 3.000.000,00

Saat penarikan giro/tabungan Tabungan/giro Rp 3.000.000,00 Kas/ rekening …../kliring Rp 3.000.000,00

Saat penarikan deposito jatuh tempo Deposito Rp 3.000.000,00

Kas/ rekening …../kliring Rp 3.000.000,00

253

Pengakuan beban bunga/giro/deposito Untuk pengakuan beban simpanan/giro/deposito perlakuannya/ jurnalnya sama seperti perlakuan pada kewajiban segera Beban bunga deposito Rp 1.125.000,00 Beban bunga deposito yg masih hrs dibayar Rp 1.125.000,00

Pembayaran bunga giro/tabungan

Perlakuannya sama dengan Kewajiban segera Beban bunga deposito ymh dibayar Rp 1.125.000,00 Kwjbn segera-bunga deposito jatuh tempo Rp 1.125.000,00

Penerbitan sertifikat Deposito

Sertifikat Deposito yang diterbitkan Bank Majapahit dibeli Nona Aline yang total nilai nominalnya Rp 25.000.000,00 Bunga 12% per tahun jatuh tempo 1 bulan. Perhitungannya: Nilai nominal sertifikat Deposito Rp 25.000.000,00 Nilai Tunai = 25.000.000X360 360+ (12 % x30) Rp 24.752.475,00 Bunga dibayar dimuka Rp 247.525,00 Pajak penghasilan atas bunga (20%) Rp 49.505,00 Bunga bersih yang dibayar Bank Rp 198.020,00 Jurnalnya: Kas Rp 24.801.980,00 Bunga Sertifikat Dep. Di byr di muka Rp 247.525,00 Sertifikat Deposito Rp 25.000.000,00 Kewajiban segera-pajak nasabah Rp 49.505,00

c. Simpanan dari Bank Lain Adalah kewajiban Bank kepada Bank lain baik di dalam maupun di luar negeri dalam bentuk giro, tabungan, interbank call money,

254

deposito berjangka dll. Perlakuan akuntansinya sama dengan simpanan di atas, tetapi yang menyimpan adalah lembaga Bank.

d. Surat Berharga yang Dijual dengan Janji Dibeli Kembali

Adalah surat berharga/efek yang dijual untuk memperoleh dana dengan janji akan dibeli kembali pada harga yang telah disepakati. Jurnal yang diperlukan sama dengan sertifikat deposito, hanya saja pinjaman ini dalam bentuk menjual efek/surat berharga untuk sementara waktu.

Contoh: Surat Berharga PT Citra yang dimiliki Bank Akbar sebanyak 1000 lembar @ Rp 25.000,00 dijual kepada Tuan Anggoro hanya seharga Rp 24.000.000,00 dan akan dibeli kembali 5 bulan yang akan datang. Harga beli yang disepakati sebesar Rp 26.000.000,00

Pada saat penjualan surat berharga Kas/ rekening …../kliring Rp 24.000.000,00 Beban bunga dibayar dimuka Rp 2.500.000,00 Efek yg dijual dg janji dibeli kembali Rp 25.000.000,00 Beban bunga Rp 1.500.000,00

Amortisasi beban bunga dibayar dimuka (dijurnal tiap bulan selama 5 bulan) Beban bunga Rp 500.000,00 Beban bunga dibayar dimuka Rp 500.000,00

Saat pembelian kembali surat berharga yang dijual Efek yg dijual dg janji dibeli kembali Rp 25.000.000,00

Beban bunga Rp 2.500.000,00 Kas/ rekening …../kliring Rp 26.000.000,00

Beban bunga dibayar dimuka Rp 1.500.000,00

255

e. Kewajiban derivatif Kewajiban derivatif terjadi karena kerugian dari suatu perjanjian/ kontrak transaksi derivatif

f. Kewajiban Akseptasi adalah kewajiban yang timbul dari transaksi Eksport-Import yang dilakukan nasabah Bank

g. Surat berharga yg diterbitkan adalah surat pengakuan hutang yang diterbitkan oleh Bank seperti wesel, obligasi, atau surat berharga lain yang diperdagangkan baik di pasar uang (Surat Berharga Pasar Uang/SBPU) maupun pasar modal (efek hutang). Perlakuan akuntansi yang diperlukan:

a. saat penerbitan b. saat amortisasi bunga ditangguhkan/diskonto/premium c. saat jatuh tempo

Untuk surat berharga yang berbentuk obligasi, maka jurnal tambahannya adalah pada saat:

i. pengakuan beban bunga, dan ii. pembayaran bunga secara periodik

Contoh: Obligasi bernilai nominal Rp 100.000,00 diterbitkan pada tanggal 1 April 2007 sebanyak 500 lembar terjual dengan harga Rp 110.000,00/lembar berjangka waktu 3 bulan, tingkat bunga 9 % p.a./per annual/pertahun. Jurnal-jurnalnya: saat penerbitan Kas Rp 55.000.000,00 Premium obligasi yang ditangguhkan Rp 5.000.000,00 Obligasi yg diterbitkan Rp50.000.000,00

256

saat amortisasi premium Premium obligasi yang ditangguhkan Rp 1.666.666,67 Pendapatan premium obligasi Rp 1.666.666,67 Jurnal ini dibuat selama 3 bulan saat pengakuan beban bunga Beban bunga obligasi Rp 1.125.000,00 Beban bunga obligasi yg msh hrs dibayar Rp 1.125.000,00 Saat pembayaran bunga Beban bunga obligasi yg msh hrs dibayar Rp 1.125.000,00 Kas Rp 1.125.000,00 Pada saat obligasi jatuh tempo Obligasi yg diterbitkan Rp 50.000.000,00 Premium obligasi yang ditangguhkan Rp 5.000.000,00 Pendapatan premium obligasi Rp 5.000.000,00 Kas Rp 50.000.000,00

h. Pinjaman yg diterima Selain berasal dari giro, tabungan dan deposito sumber dana bank dapat berasal dari pinjaman dari pihak lain. Pinjaman ini sebagian besar merupakan sumber pendanaan jangka panjang. Jenis pinjaman yang diterima bank biasanya berbentuk:

a. Pinjaman dari Bank Lain b. Pinjaman dari Luar Negeri c. Pinjaman Obligasi d. KLBI (Kredit Likuiditas Bank Indonesia) e. Pinjaman sindikasi (pembiayaan bersama)

Pinjaman yg Diterima disajikan sebesar saldo pinjaman yang belum dilunasi pada tanggal laporan

257

Contoh di bawah ini adalah pinjaman yang diterima dari bank lain. BPR “ Sugih Artha” mendapat pinjaman dari Bank Sakura senilai Rp500.000.000,00 dengan tingkat bunga 7,5% per tahun. Biaya yang dikeluarkan sehubungan dengan pinjaman terdiri dari biaya provisi 0,25 %, biaya notaris Rp 500.000,00, biaya asuransi Rp 1.750.000,00 dan biaya penilai agunan (appraisal) sebesar Rp750.000,00 .

Jurnal yang diperlukan Saat persetujuan pinjaman ditanda tangani Tagihan komitmen-pinjaman diterima blm ditarik Rp500.000.000 Tagihan komitmen Rp500.000.000 Saat realisasi pinjaman diterima Tagihan komitmen Rp500.000.000

Tagihan komitmen-pinjaman diterima blm ditari Rp500.000.000 Kas Rp500.000.000 Pinjaman yg diterima Rp500.000.000 Saat pembayaran biaya-biaya Biaya provisi Rp 1.250.000,00 Biaya notaris Rp 750.000,00, Biaya premi asuransi Rp 1.600.000,00 Biaya penilaian agunan Rp 400.000,00 Kas Rp 4.000.000,00 Saat pengakuan beban bunga Beban bunga Rp 37.500.000,00 Beban bunga yang harus dibayar Rp 37.500.000,00 Pembayaran bunga yg jatuh tempo Beban bunga yang harus dibayar Rp 37.500.000,00 Kas Rp 37.500.000,00

258

Saat pinjaman dilunasi Pinjaman yg Diterima Rp 500.000.000,00 Kas Rp 500.000.000,00

i. Estimasi kerugian komitmen dan kontinjensi

Adalah taksiran kerugian akibat tidak dipenuhinya komitmen dan kontinjensi oleh nasabah. Di PSAK no 31 paragraf 78 dinyatakan Bank membentuk taksiran kerugian komitmen dan kontinjensi berdasarkan kualitas komitmen dan kontinjensi setelah dikurangi estimasi nilai realisasi bersih jaminan. Kualitasnya dinilai dari prospek usaha, kondisi keuangan dan kemampuan membayar nasabah

j. Kewajiban lain-lain Kewajiban Bank yang tidak dapat digolongkan ke dalam salah satu dari pos kewajiban yang ada dan nilainya tidak material (tidak terlalu besar) digolongkan pada Kewajiban lain-lain.

Kewajiban lain-lain terdiri dari:

a. Setoran jaminan/margin deposit untuk L/C (letter of credit) b. Pendapatan provisi/komisi diterima di muka c. Kewajiban pajak tangguhan d. Bunga yang masih harus dibayar e. Pendapatan sewa diterima di muka

Contoh: Tuan Brotoseno memproduksi dan mengekspor patung antik yang bahannya berasal dari limbah tanaman (bonggol bambu, akar kayu, dahan kayu jati kecil dll). Untuk memperlancar transaksinya, Tuan Brotoseno menyetorkan jaminan sebesar Rp 240.000.000,00 sebagai syarat penerbitan bank garansi. Jurnal yang dibutuhkan: Saat penerimaan setoran jaminan Kas Rp 240.000.000,00 Setoran jaminan Rp 240.000.000,00

259

Pada saat bank garansi jatuh tempo Setoran jaminan Rp 240.000.000,00 Kas Rp 240.000.000,00

k. Pinjaman subordinasi Pinjaman subordinasi adalah pinjaman yang berdasarkan perjanjian hanya dapat dilunasi apabila bank telah memenuhi kewajiban tertentu. Jika bank dilikuidasi, hak tagih pinjaman subordinasi berlaku paling akhir dibandingkan pinjaman yang lain. Sumber pinjaman subordinasi adalah utang kepada Bank Dunia, ADB (Asian Development Bank), atau lembaga keuangan internasional serupa lainnya.

Akuntansi Ekuitas Ekuitas Bank terdiri dari:

a. Modal Disetor Modal disetor adalah modal yang telah efektif diterima bank sebesar nilai nominal saham. Modal ini merupakan bagian dari modal yang ditempatkan dan telah disetor penuh oleh pemegang saham. Bentuk-bentuk modal disetor antara lain:

- setoran saham dalam bentuk setoran tunai maupun barang - hutang yang dikonversi menjadi modal - setoran saham dalam bentuk dividen saham, dan - aktiva nonkas

Contoh: Tuan Rudi, sebagai pemegang saham Bank Artha Graha, menyetorkan uang sebesar Rp 300.000.000,00 dan mobil dengan nilai pasar Rp 150.000.000,00 Jurnal yang dibutuhkan: Kas Rp 300.000.000,00 Mobil Rp 150.000.000,00 Modal disetor Rp 450.000.000,00

260

b. Tambahan Modal Disetor Tambahan modal disetor terdiri dari:

- agio saham - selisih pembelian kembali saham yang telah terjual (treasury

stock) dengan harga yang lebih rendah daripada harga jualnya - keuntungan dari penjualan treasury stock/TS contoh: Tuan Rafli membeli saham Bank Artha Graha sebanyak 100.000 lembar seharga Rp 5.500,00 per lembar saham. Nilai nominal saham adalah Rp 5.000,00 per lembar saham. Jurnal yang diperlukan: Kas Rp 550.000.000,00

Modal disetor Rp 500.000.000,00 Agio saham Rp 50.000.000,00

Karena membutuhkan dana, Tuan Rafi menjual sebagian saham yang dibelinya dan menawarkan ke Bank Artha Graha. Jumlah saham yang dibeli Bank sebesar 30.000 lembar dan dibeli dengan harga Rp 4.750,00 per lembar. Modal Saham yg diperoleh kembali (TS) Rp 150.000.000,00

Kas Rp 142.500.000,00 Tambahan modal dari Rp 7.500.000,00 perolehan kembali saham

Satu bulan kemudian Tuan Rafi membeli kembali saham tersebut dengan harga Rp 5.100,00 perlembar

Kas Rp 153.000.000,00 Treasury Stock Rp 150.000.000,00

Tambahan agio modal dari pembelian kembali TS Rp 3.000.000,00

261

c. Saldo Laba (Rugi)

Saldo laba (rugi) adalah akumulasi hasil usaha periodik setelah memperhitungkan pembagian dividen dan koreksi laba/rugi periode sebelumnya. Saldo laba dikelompokkan menjadi: 1. Cadangan tujuan, yaitu cadangan yang dibentuk dari laba bersih

setelah pajak yang tujuan penggunaannya telah ditetapkan 2. Cadangan umum, yaitu cadangan yang dibentuk dari laba bersih

setelah pajak yang tujuannya memperkuat modal 3. Sisa laba belum dicadangkan, terdiri dari laba (rugi) periode lalu

yang belum ditetapkan penggunaannya dan laba (rugi) periode berjalan

Contoh: Bank Sejahtera memindahkan laba tahun berjalan sebesar Rp560.000.000,00 ke saldo laba. Jurnal yang dibutuhkan: Ikhtisar laba (rugi) Rp 560.000.000,00 Saldo laba Rp 560.000.000,00

Akuntansi Pendapatan & Beban Pendapatan dan Beban Bank antara lain terdiri dari:

a. Pendapatan dan beban bunga Pendapatan bunga adalah pendapatan yang diperoleh dari penanaman dana bank pada aktiva produktif, sedangkan beban bunga adalah beban yang dibayarkan kepada nasabah atau pihak lain yang berkaitan dengan kegiatan penghimpunan dana. Pendapatan dan beban bunga diakui secara akrual.

b. Provisi dan komisi Provisi adalah imbalan yang diterima atau dibayar sehubungan dengan fasilitas yang diberikan atau diterima, contohnya penerimaan atau pembayaran provisi untuk plafon kredit, provisi bank garansi, iuran tahunan kartu kredit, dan biaya komitmen.

262

Komisi adalah imbalan atau jasa perantara yang diterima atau dibayar atas suatu transaksi atau aktivitas. Komisi terdiri dari komisi kiriman uang, komisi transaksi kartu kredit, komisi atas penyaluran kredit program dengan sistem channeling.

c. Keuntungan atau kerugian transaksi mata uang asing Transaksi mata uang asing adalah segala jenis transaksi yang dilakukan dalam mata uang asing. Keuntungan dan kerugian transaksi mata uang asing timbul akibat selisih kurs. Keuntungan dan kerugian transaksi mata uang asing disajikan pada laporan laba rugi tahun berjalan dalam pos Keuntungan dan Kerugian Transaksi Mata Uang Asing

d. Beban Administrasi Umum/Overhead Adalah berbagai beban yang timbul untuk mendukung kegiatan operasional Bank. Ciri-ciri Beban Administrasi Umum: 1. tidak dapat dikaitkan langsung dengan jasa yang dihasilkan 2. tidak memberikan manfaat di masa yang akan datang 3. diakui pada saat terjadi

Macam-macam beban admistrasi umum:

1. Beban sewa 2. Beban promosi 3. Biaya tenaga kerja 4. Biaya pendidikan dan latihan 5. Biaya penyusutan Aktiva Tetap 6. Amortisasi Aktiva Tetap tak berwujud Pengakuan Beban Administrasi Umum ada 2 cara, yaitu: i. Diakui seluruhnya pada periode terjadinya ii. Dialokasikan secara proporsional selama beberapa periode

untuk beban administrasi umum yang memiliki masa manfaat lebih dari satu periode

Pelaporan Keuangan pada Bank Laporan Keuangan Bank terdiri atas:

263

1. Neraca

Aktiva dan kewajiban disajikan dalam neraca berdasarkan karakteristiknya dan disusun berdasarkan urutan likuiditasnya

Dalam kaitan pengungkapan hubungan bank dengan pihak lain,

perlu dilakukan pemisahan pengungkapan:

Saldo pada BI Penempatan pada bank lain Penempatan pada pasar uang Simpanan dari bank Simpanan lain

Pos–pos dengan nilai material yang tidak dapat digolongkan ke

dalam pos–pos aktiva dan kewajiban disajikan tersendiri. Contohnya: selisih kurs, setoran jaminan listrik, dll

Jumlah aktiva dan kewajiban yang disajikan pada neraca tidak

boleh disalinghapuskan dengan kewajiban atau aktiva lain kecuali secara hukum dibenarkan dan saling hapus tersebut mencerminkan perkiraan realisasi atau penyelesaian aktiva atau kewajiban

Pengungkapan kredit, deposito, pinjaman yang diterima, pinjaman

subordinasi, dan modal pinjaman disajikan secara terpisah antara pihak terkait dengan bank dan pihak yang tidak terkait untuk keperluan pengawasan bank

2. Laporan laba rugi

Laporan laba rugi disajikan dengan mengelompokkan pendapatan dan beban menurut karakteristiknya dan disusun dalam bentuk bertahap (multiple–step) secara terperinci dan dibedakan antara yang berasal dari kegiatan operasional dan non–operasional.

Setiap jenis pendapatan dan beban utama dari operasi suatu

bank harus diungkapkan secara terpisah untuk kepentingan penilaian kinerja bank.

Keuntungan dan kerugian yang timbul dari hal–hal berikut dapat

dilaporkan secara neto, yaitu penjualan dan perubahan nilai tercatat efek, penjualan penyertaan efek investasi, transaksi dalam valuta asing.

264

Pendapatan bunga dan beban bunga diungkapkan secara

terpisah untuk memberikan pemahaman yang lebih baik mengenai komposisi nilai bersih bunga

3. Laporan arus kas

Laporan arus kas terdiri untuk kas dan setara kas terdiri atas kas, giro BI, dan Giro pada bank lain

Laporan disajikan berdasarkan penggunaan dan perolehan kas

untuk aktivitas operasi, aktivitas investasi, dan aktivitas pendana-an

4. Laporan perubahan ekuitas 5. Catatan atas laporan keuangan

Analisis jatuh tempo aktiva dan kewajiban diungkapkan meurut kelompok jatuh tempo berdasarkan periode yang yang tersisa.

Konsentrasi distribusi aktiva, kewajiban, dan unsur lain diluar

neraca harus diungkapkan untuk kepentingan perkiraan resiko yang timbul saat realisasi.

Pengungkapan resiko yang berkaitan dengan valuta asing

memberikan petunjuk yang bermanfaat atas resiko kerugian karena perubahan nilai tukar

Bank harus mengungkapkan jenis kredit dan jumlahnya, jumlah

kredit untuk pihak dengan hubungan istimewa, kedudukan bank dalam pembiayaan bersama, jumlah kredit yang direstrukturisasi, klasifikasi kredit berdasar jangka waktu, ketertagihan, dan tingkat bunga.

Kerangka Laporan Keuangan Bank Berikut ini diberikan Kerangka pembuatan Laporan keuangan bank yang utama yaitu: Neraca dan Laporan Laba/Rugi

265

Bank ”Aneka Warna” Neraca

Per 31 Desember 20xx

No R E K E N I N G JUMLAH No R E K E N I N G JUMLAH

A AKTIVA Pasiva 1 Kas Rp xxx 1 Giro Rp xxx 2 Penempatan pada B I: Rp xxx a. Rupiah a. Giro Bank

Indonesia b. Valuta asing

b. Sertifikat BI 2 Kwjbn segera lainnya Rp xxx c. Lainnya 3 Komisi Diterima

Dimuka Rp xxx

3 Giro pada Bank Lain Rp xxx 4 Hutang PPh Rp xxx a. Rupiah 5 Tabungan Rp xxx b. Valuta Asing 6 Simpanan Berjangka Rp xxx 4 Pnmpatan pd Bank

Lain Rp xxx a. Rupiah

a. Rupiah i. pihak terkait b. Valuta Asing ii. pihak tidak terkait 5 PPAP-Penempatan pd

bank Lain Rp xxx b. Valuta Asing

6 Kredit yang Diberikan Rp xxx i. pihak terkait a. Rupiah ii. pihak tidak terkait b. Valuta Asing 7 Sertifikat Deposito Rp xxx 7 PPAP – Kredit yg

Diberikan Rp xxx a. Rupiah

8 Pendapatan yang Masih akan Diterima

Rp xxx b. Valuta Asing

9 Biaya dibayar dimuka Rp xxx 8 Simpanan dr Bank Lain

Rp xxx

10 Uang muka pajak Rp xxx 9 Kewajiban Akseptasi Rp xxx 11 Aktiva Tetap Rp xxx 10 Kewajiban Sewa Guna

Usaha Rp xxx

12 Ak. Penyusutan Aktiva tetap

Rp xxx 11 Setoran jaminan Rp xxx

13 Agunan yang diambil alih

Rp xxx 12 Hutang pajak Rp xxx

14 Aktiva Lain-lain Rp xxx 13 Pinjaman yg Diterima Rp xxx 15 RAK antar kantor cbg Rp xxx i. pihak terkait ii. pihak tdk terkait 14 Pinjaman Subordinasi Rp xxx i. pihak terkait ii. pihak tdk terkait 15 Cadangan Umum Rp xxx 16 Modal Disetor Rp xxx 17 Laba tahun Berjalan Rp xxx Total Aktiva Rp xxx Total Pasiva Rp xxx

266

Bank ”Aneka Warna” Laporan Laba-Rugi

Untuk Tahun yang Berakhir 31 Desember 20xx

No R E K E N I N G JUMLAH

Pendapatan dan Beban Operasional 1. Pendapatan Bunga Rp xxx 1.1. Hasil Bunga a. Rupiah b. Valuta Asing 1.2. Provisi dan Komisi a. Rupiah b. Valuta Asing Jumlah Pendapatan Bunga

2. Beban Bunga (Rp xxx) 2.1. Beban Bunga a. Rupiah b. Valuta Asing 2.2. Komisi dan Provisi Jumlah Beban Bunga

3. Pendapatan bunga bersih Rp xxx 3.1. Pendapatan Operasional lainnya 3.2. Pendapatan Provisi, Komisi , fee 3.3. Pendapatan transaksi mata uang asing 3.4. Pendapatan kenaikan nilai surat berharga 3.5. Pendapatan lainnya Pendapatan Lainnya Jumlah pendapatan Operasional lainnya

4. Beban (Pendapatan ) Penghapusan Aktiva Produktif (Rp xxx) 5. Beban Estimasi kerugian Kontinjensi (Rp xxx) 6. Beban Operasional Lainnya (Rp xxx) 6.1. Beban Administrasi dan Umum 6.2. Beban Personalia 6.3. Beban penurunan nilai surat berharga Beban transaksi valas 6.5. Beban lainnya Jumlah beban operasional lainnya LABA (RUGI) OPERASIONAL PENDAPATAN DAN BEBAN NON OPERASIONAL Rp xxx

7. Pendapatan non Operasional Rp xxx 8. Beban non Operasional Rp xxx Pendapatan (Beban) non Operasional

9. Pendapatan/Beban Luar Biasa Rp xxx LABA / RUGI TAHUN BERJALAN

267

Siklus Akuntansi Bank sama dengan siklus Akuntansi Perusahaan lainnya. Perbedaannya disebabkan operasi dari masing-masing berbeda sehingga menimbulkan pencatatan/rekening yang berbeda.

Dibawah ini diberikan contoh transaksi yang terjadi selama bulan

Juli 2007 di Bank “Artha Lumintu” yang baru 1 bulan mendapat izin untuk membuka Kantor Cabang Malang (beberapa rekening sudah mempunyai saldo di bulan lalu):

Juli 1 Diterima setoran giro dari Astuti sebesar Rp 500.000.000,00. Giro ini berupa uang tunai dan cek yang efektif hari ini dari sdri Wahyu yang merupakan nasabah giro Cabang Surabaya sebesar Rp 150.000.000,00.

2 Bank menempatkan dananya pada Bank “Artha Lancar” sebesar Rp 250.000.000,00 lewat rekening giro Bank Indonesia. Penempatan berbentuk deposito berjangka 3 bulan dengan suku bunga 15 %

3 Nasabah bernama Dewi pada tanggal ini menyerahkan warkat berupa : b. 2 lembar cek Bank BNI masing-masing Rp 35.000.000 dan Rp

40.000.000 ditandatangani tanggal 30 Juni 2007 c. 3 lembar cek Bank BCA, BRI dan Mandiri, masing-masing sebesar Rp

50.000.000,00, Rp 15.000.000,00dan Rp 10.000.000,00 ditandatangani tanggal 28 Juni 2007

3 Rony H. membuka deposito berjangka 3 bulan bunga 9 % nominal Rp 200.000.000 dalam bentuk tunai Rp 50.000.000 dan cek dari Bank Hasta. Kliring dinyatakan berhasil

4 Ibu Dwi Ningsih menyerahkan cek yang ditarik oleh M.Suaeb nasabah Bank ini untuk membeli sertifikat Deposito jangka waktu 6 bulan , bunga 15 % pa (per annual) sejumlah Rp 150.000.000,00

5 Tuan Imam membeli sertifikat 8 Disetujui permohonan kredit Sdri Hadiati sebesar Rp 100.000.000,00 ,

bunga 13,2 % jangka waktu 5 tahun. Jaminan berupa sertifikat tanah ditaksir mempunyai nilai Rp 300.000.000,00. Kredit akan dicairkan satu minggu lagi

10 Diterima setoran ONH Plus atas nama Wiwin sebesar Rp 40.000.000,00, berupa uang tunai Rp 15.000.000,00 dan transfer dari Wulan nasabah bank cabang Bojonegoro

12 Disetujui permohonan kredit Sdri Danti sebesar Rp 200.000.000,00 , bunga 15 % jangka waktu 5 tahun. Jaminan berupa sertifikat tanah ditaksir mempunyai nilai Rp 700.000.000,00.

15 Dilakukan pencairan kredit sdri Hadiati dengan membebankan biaya provisi 1 %, biaya administrasi Rp 150.000, yang dipotong langsung saat pencairan dan dibayar via tabungan yang baru dibuka

20 Nasabah giro yang bernama Imam S menerima transfer masuk dari Bank Jatim Cabang Yogyakarta sebesar Rp 200.000.000,00.Atas transfer ini nasabah meminta Bank agar memasukkan Rp 85.000.000,00 ke rekening gironya, Rp 15.000.000,00 untuk melunasi tunggakan bunga, Rp 50.000.000,00 untuk membeli deposito 3 bulan bunga 15 % pa dan Rp 35.000.000,00 dimasukkan tabungan dan sisanya diambil tunai

25 Bank menerima tagihan dari Hypermarket atas penggunaan kartu kredit dari nasabah Martha sebesar Rp 500.000,00. Komisi 3 %

25 Kredit yang disetujui bulan lalu atas nama Sumarno yang merupakan suami salah satu pemegang saham besar, senilai Rp 500.000.000,00

268

bunga 15 % jk wakt 3 thn ditarik semua. Atas penarikan ini debitur dikenakan biaya provisi 0,5 % dan biaya administrasi Rp 600.000,00 Debitur meminta berupa uang tunai Rp 10.000.000,00 dan sisanya ditransfer ke tabungan.

26 Sdr Zaenal nasabah giro hari ini menyerahkan bilyet giro yang ditarik oleh sdr Arif nasabah bank ini juga sebesar Rp 600.000.000,00

Dari transaksi tersebut, dibuat jurnal sebagai berikut:

( dlm Rp 000,00) R E K E N I N G Ref. Debet

Kredit

Juli 1 Kas 500.000 Giro Wahyu 150.000 Giro Astuti 650.000 2 Penempatan pada Bank Lain-DB 250.000 Giro BI 250.000 3 RAR Warkat Kliring 1 (kliring 1) 150.000 Giro Bank Indonesia 150.000 Giro Dewi 150.000 RAR Warkat Kliring 2 (kliring 2) 150.000 3 RAR Warkat Kliring 1 (kliring 1) 150.000 Giro BI 150.000 Kas 50.000 Simpanan berjangka-Rony H 200.000 RAR Warkat Kliring 2 (kliring 2 ) 150.000 4 Giro Dwi Ningsih 150.000 Bunga Sertifikat Deposito Dibayar Dimuka 8.241,8566 Hutang PPh 1.071,4285 Giro M. Suaeb 7.142,8571 Sertifikat Deposito 150.000 9 Cr RAR Fasilitas kredit kpd nasabah yang

belum ditarik 100.000

10 Kas 15.000 RAK Cabang Bojonegoro 25.000 Tabungan ONH 40.000 12 Cr RAR Fasilitas kredit kpd nasabah yang

belum ditarik 200.000

269

15 Dr RAR Fasilitas kredit kpd nasabah yang belum ditarik

100.000

Kredit yang diberikan 100.000 Tabungan 99.750 Pendapatan Provisi dan komisi 250 20 RAK cabang Yogjakarta 200.000 Giro Imam S 85.000 Pendapatan bunga 15.000 Deposito berjangka 50.000 Tabungan 35.000 Kas 15.000 Cr. RAR. Bunga dalam Penyelesaian 10.000 25 Dr RAR Kredit Yg Diberikan belum Ditarik 500 Kredit yang Diberikan 500 Giro Hypermarket “X” 485 Pendapatan Komisi Kartu kredit 15 25 Dr RAR Kredit Yg Diberikan belum Ditarik 500.000 Kredit yang diberikan 500.000 Kas 10.000 Pendapatan Provisi dan Komisi 3.100 Tabungan 487.900 26 Giro Zaenal 600.000 Giro Arif 600.000

Perhitungan transaksi tanggal 4

Nominal sertifikat deposito Rp 150.000.000,00 Nilai tunai = 150.000.000 x 360 Rp 142.857.142,90

360 + (0,15 x 120)

Bunga dibayar di muka Rp 7.142.857,10 Pajak atas bunga deposito(20%) Rp 1.071.428,50 Bunga bersih yang dibayar Bank Rp 8.214.856,60

Dari jurnal yang dibuat di bagian sebelumnya, langkah selanjutnya adalah melakukan posting ke Buku Besar

270

Kas (dlm Rp 000,00)

Tanggal

Keterangan Ref. Debet Kredit Saldo

Debet Kredit Juli 1 Setoran giro 500.000 500.000

3 Pembukaan DB 50.000 550.000 10 Setoran ONH 15.000 565.000 20 transfer 15.000 550.000 25 Realisasi Kredit 10.000 540.000

Penempatan pada Bank Indonesia-Giro BI (dlm Rp 000,00)

Tanggal

Keterangan Ref. Debet Kredit

Saldo Debet Kredit

Juli 1 Saldo 3.000.000 2 Penempatan DB 250.000 2.750.000 3 Setoran kliring 150.000 2.900.000

Giro pada Bank Lain (dlm Rp 000,00)

Tanggal

Keterangan Ref. Debet Kredit

Saldo Debet Kredit

Juli 1 Saldo 400.000 400.000

Penempatan Pada Bank lain (dlm Rp 000,00)

Tanggal

Keterangan Ref. Debet Kredit

Saldo Debet Kredit

Juli 1 Penempatan pd DB 250.000 250.000

Penyisihan Penghapusan Aktiva Produktif (PPAP)- Penempatan pada Bank Lain (dlm Rp 000,00)

Tanggal

Keterangan Ref. Debet Kredit

Saldo Debet Kredit

Juli 1 Saldo 700.000

Kredit yang Diberikan- Pihak Terkait (dlm Rp 000,00)

Tanggal

Keterangan Ref. Debet Kredit

Saldo Debet Kredit

Juli 25 Penarikan kredit 500.000

271

Kredit yang Diberikan- Pihak Tidak Terkait (dlm Rp 000,00)

Tanggal

Keterangan Ref. Debet Kredit Saldo

Debet Kredit Juli 15 Penarikan kredit 100.000

25 Karu kredit 500 PPAP- Kredit yang Diberikan (dlm Rp 000,00)

Tanggal

Keterangan Ref. Debet Kredit

Saldo Debet Kredit

Juli 1 Saldo 1.000.000 1.000.000

Pendapatan Yang Masih Akan Diterima (dlm Rp 000,00)

Tanggal

Keterangan Ref. Debet Kredit

Saldo Debet Kredit

Juli 1 Saldo 1.200.000

Biaya Dibayar Dimuka (dlm Rp 000,00)

Tanggal

Keterangan Ref. Debet Kredit

Saldo Debet Kredit

Juli 13 Bunga SD 8.241,8566 8.241,8566

Aktiva Tetap (dlm Rp 000,00)

Tanggal

Keterangan Ref. Debet Kredit

Saldo Debet Kredit

Juli 1 Saldo 1.400.000 1.400.000

Akumulasi Penyusutan- Aktiva Tetap (dlm Rp 000,00)

Tanggal

Keterangan Ref. Debet Kredit

Saldo Debet Kredit

Juli 1 Saldo 200.000

Agunan yang Diambil Alih (dlm Rp 000,00)

Tanggal

Keterangan Ref. Debet Kredit

Saldo Debet Kredit

Juli 1 Saldo 1.500.000

272

Aktiva Lain-lain (dlm Rp 000,00)

Tanggal

Keterangan Ref. Debet Kredit Saldo

Debet Kredit Juli 1 Saldo 500.000

Giro Nasabah (dlm Rp 000,00)

Tanggal

Keterangan Ref. Debet Kredit

Saldo Debet Kredit

Juli 1 pemindahbukuan 150.000 150.000 3 setoran 500.000 350.000 4 pembebanan 150.000 200.000 13 pelimpahan 7.142,8571 207.142,8571 20 pembebanan 85.000 25 Kartu kredit 485 207.627,8571 26 pembebanan 600.000 807. 627,8571 26 pemindahbukuan 600.000 207.627,8571

Kewajiban Segera Lainnya (dlm Rp 000,00)

Tanggal

Keterangan Ref. Debet Kredit

Saldo Debet Kredit

Juli 1 Saldo 1.000.000 1.000.000

Hutang PPh (dlm Rp 000,00)

Tanggal

Keterangan Ref. Debet Kredit

Saldo Debet Kredit

Juli 13 Pajak bunga SD 1.071,4285 1.071,4285

Tabungan (dlm Rp 000,00)

Tanggal

Keterangan Ref. Debet Kredit

Saldo Debet Kredit

Juli 15 Realisasi kredit 97.750 97.750 20 transfer 15.000 112.750 25 Realisasi kredit 487.900 600.650

Simpanan Berjangka – Pihak Terkait (dlm Rp 000,00)

Tanggal

Keterangan Ref. Debet Kredit

Saldo Debet Kredit

Juli 1 Saldo 3.000.000 3.000.000

273

Simpanan Berjangka – Pihak Tidak Terkait (dlm Rp 000,00)

Tanggal

Keterangan Ref. Debet Kredit

Saldo Debet Kredit

Juli 20 Deposito Berjangka 50.000

Sertifikat Deposito (dlm Rp 000,00)

Tanggal

Keterangan Ref. Debet Kredit

Saldo Debet Kredit

Juli 13 Penerbitan 150.000 150.000

RAK Pasiva (Antar Kantor Cabang) (dlm Rp 000,00)

Tanggal

Keterangan Ref. Debet Kredit Saldo

Debet Kredit Juli 10 RAK Cab. Bojonegoro 25.000 25.000

20 RAK Cabang Yogyakarta 200.000 Hasil Bunga (dlm Rp 000,00)

Tanggal

Keterangan Ref. Debet Kredit

Saldo Debet Kredit

Juli 20 Pendapatan bunga 15.000 15.000

Provisi dan Komisi Kredit (dlm Rp 000,00)

Tanggal

Keterangan Ref. Debet Kredit

Saldo Debet Kredit

Juli 15 Pendapatan dr pencairan kredit

250 250

25 Pendapatan Kartu Kredit 15 285 25 Pendapatan dr pencairan

kredit 3100 3385

Fasilitas kredit kepada Nasabah yang Belum Ditarik (dlm Rp 000,00)

Tanggal

Keterangan Ref. Debet Kredit

Saldo Debet Kredit

Juli 1 Saldo 500.000 500.000 8 Kredit perorangan 100.000 600.000 12 Kredit perorangan 200.000 800.000 15 Penarikan kredit 100.000 600.000 25 Penarikan kredit 500.000 100.000

274

RAR Pendapatan Bunga Dalam Penyelesaian (dlm Rp 000,00)

Tanggal

Keterangan Ref. Debet Kredit Saldo

Debet Kredit Juli 20 Pelunasan tunggakan 15.000 15.000

RAR Garansi yang Diberikan (dlm Rp 000,00)

Tanggal

Keterangan Ref. Debet Kredit

Saldo Debet Kredit

Warkat Dikliringkan (dlm Rp 000,00)

Tgl Keterangan Debet Tgl Keterangan Debet

Juli 2 Kliring 1 150.000 Kliring 2 150.000 3 Kliring 1 150.000 Kliring 2 150.000

Latihan Dibawah ini transaksi di Bank “Anugerah” pada bulan Mei 2007:

Mei 1 Diterima setoran giro dari Hartini sebesar Rp1. 500.000.000,00. Giro ini

berupa uang tunai dan cek yang efektif hari ini dari sdri Hastanti yang merupakan nasabah giro Cabang Kediri sebesar Rp 150.000.000,00.

2 Bank menempatkan dananya pada Bank “Artha Lancar” sebesar Rp 2.500.000.000,00 lewat rekening giro Bank Indonesia. Penempatan berbentuk deposito berjangka 6 bulan dengan suku bunga 12%

3 Nasabah bernama Edi pada tanggal ini menyerahkan warkat berupa : d. 3 lembar cek Bank Niaga masing-masing Rp 35.000.000 dan Rp

40.000.000 dan 20.000.000,00 ditandatangani tanggal 20 April 2007 e. 3 lembar cek Bank Jatim, Megadan Mandiri, masing-masing sebesar

Rp 50.000.000,00, Rp 25.000.000,00dan Rp 20.000.000,00 ditandatangani tanggal 28 Mei 2007

4 Ibu Endang menyerahkan cek yang ditarik oleh Suwandi nasabah Bank ini untuk membeli sertifikat Deposito jangka waktu 3 bulan , bunga 18% pa (per annual) sejumlah Rp 100.000.000,00

5 Prasetyo membuka deposito berjangka 6 bulan bunga 12% nominal Rp 300.000.000 dalam bentuk tunai Rp 75.000.000 dan cek dari Bank Anoman. Kliring dinyatakan berhasil

7 Disetujui permohonan kredit Sdr Mulyonosebesar Rp 500.000.000,00 , bunga 13,2% jangka waktu 5 tahun. Jaminan berupa sertifikat tanah ditaksir mempunyai nilai Rp 1.000.000.000,00. Kredit akan dicairkan sepuluh hari lagi.

275

10 Diterima setoran ONH atas nama Nastiti sebesar Rp 25.000.000,00, berupa uang tunai Rp 5.000.000,00 dan transfer dari Rahma nasabah bank cabang Bojonegoro

12 Disetujui permohonan kredit Sdri Ayu sebesar Rp 100.000.000,00 , bunga 15% jangka waktu 5 tahun. Jaminan berupa sertifikat tanah ditaksir mempunyai nilai Rp 500.000.000,00.

17 Dilakukan pencairan kredit sdri Mulyono dengan membebankan biaya provisi 1%, biaya administrasi Rp 350.000, yang dipotong langsung saat pencairan dan dibayar via tabungan yang baru dibuka dan uang tunai yang dibawa Rp 10.000.000,00

20 Nasabah giro yang bernama Imam S menerima transfer masuk dari Bank Jatim Cabang Yogyakarta sebesar Rp 200.000.000,00.Atas transfer ini nasabah meminta Bank agar memasukkan Rp 85.000.000,00 ke rekening gironya, Rp 15.000.000,00 untuk melunasi tunggakan bunga, Rp 50.000.000,00 untuk membeli deposito 3 bulan bunga 15% pa dan Rp 35.000.000,00 dimasukkan tabungan dan sisanya diambil tunai

23 Sdr Waluyo nasabah giro hari ini menyerahkan bilyet giro yang ditarik oleh sdr Agus nasabah bank ini juga sebesar Rp 300.000.000,00

24 Dibeli kendaraan Panther seharga Rp 200.000.000,00. Biaya-biaya yang dikeluarkan sehubungan dengan aktiva ini termasuk pengurusan surat-surat sebesar Rp 3.500.000,00. Aktiva disusutkan 5 tahun

24 Ditarik agunan berupa kendaraan mobil BMW dari nasabah bernama Arifin yang sudah tidak sanggup melunasi hutangnya dengan pokok angsuran total Rp 200.000.000,00 dan tunggakan bunga Rp 50.000.000,00. Arifin setuju mobil ini dibeli dinilai Rp 300.000.000,00

25 Bank menerima tagihan dari Hero Swalayan atas penggunaan kartu kredit dari nasabah Halim sebesar Rp 1.000.000,00. Komisi 3%

25 Kredit yang disetujui bulan lalu atas nama Puspita, istri Abimanyu yang merupakan salah satu pemegang saham besar, senilai Rp 500.000.000,00 bunga 15% jk wakt 3 thn ditarik semua. Atas penarikan ini debitur dikenakan biaya provisi 0,5% dan biaya administrasi Rp 300.000,00 Debitur meminta berupa uang tunai Rp 10.000.000,00 dan sisanya ditransfer ke tabungan.

Diminta: Jurnallah transaksi di atas dan lakukan posting ke Buku besar!

PPERAK

BAN

☺ Keu☺ Je

☺☺☺

276

KUNTNKAN

unikan Perenis Produk☺ Term

☺ AkuntaAkuntans☺ Contoh

6

TANN SY

rbankan Syk Bank Sya

minologi ansi Aktiva si Kewajibah Transaksi

SI YARI

yariah ariah

an

:

IAH H

277

AKUNTANSI PERBANKAN SYARIAH

Selain Perbankan Konvensional, di Indonesia juga ada Bank Syariah mulai tahun 1992 . Bank Syariah pertama di Indonesia adalah BMI (Bank Muamalat Indonesia) yang mulai beroperasi pada tanggal 1 Mei 1992. Bank syariah ada karena adanya keinginan umat muslim untuk kaffah yaitu menjalankan aktivitas perbankan sesuai dengan syariah yang diyakini, terutama masalah larangan riba, serta hal-hal yang berkaitan dengan norma ekonomi dalam Islam seperti larangan maisyir (judi dan spekulatif), gharar (unsur ketidak jelasan), jahala dan keharusan memperhatikan kehalalan cara dan objek investasi

Sebenarnya menurut agama lain pun ditemui larangan riba. Berikut

disajikan beberapa uraian tentang bunga dan riba menurut sejarah dan beberapa agama.

I. Yunani

A. Plato: (427-347 SM)

- Bunga menyebabkan perpecahan dan perasaan tidak puas dalam

masyarakat

- Bunga merupakan alat golongan kaya untuk mengeksploitasi golongan miskin

278

B. Aristoteles (384-322 SM)

- Fungsi uang adalah sebagai alat tukar bukan alat menghasilkan

tambahan melalui bunga

- “ ……istilah riba yang berarti lahirnya uang dari uang, diterapkan kepada pengembangbiakan uang karena analogi keturunan dan orang tua. Dibanding dengan semua cara mendapatkan uang, cara seperti ini adalah yang paling tidak alami” (Politics, 1258)

II. Yahudi

Kitab Eksodus ( Keluaran 22-25):

“Jika engkau meminjamkan uang kepada salah seorang umatku, orang yang miskin diantaramu, maka janganlah engkau berlaku sebagai penagih hutang terhadap dia, janganlah engkau bebankan bunga terhadapnya.”

III. Kristen

1. Lukas 6 : 34-35

“Dan janganlah kamu meminjamkan sesuatu kepada orang, karena kamu berharap akan menerima sesuatu daripadanya, apakah jasamu? ……………. dan pinjamkan dengan tidak mengharapkan balasan……….“

2. Pandangan para pendeta dan sarjana kristen berbeda dengan Lukas

6: 34-35 dan pendapat mereka terbagi menjadi 3 periode, yaitu:

a. Pandangan Pendeta Awal (abad I-XII) - Bunga adalah semua bentuk yang diminta sebagai imbalan

yang melebihi jumlah barang yang dipinjamkan di awal. - Mengambil bunga adalah suatu dosa yang dilarang baik di

Perjanjian Lama maupun Perjanjian Baru. - Keinginan atau niat untuk mendapat imbalan melebihi apa

yang dipinjamkan adalah suatu dosa. - Bunga harus dikembalikan kepada pemiliknya.

b. Pandangan Para Sarjana Kristen (abad XII-XV)

- Bunga dibedakan menjadi interest dan usury.

279

- Niat atau perbuatan untuk mendapatkan keuntungan dengan memberikan pinjaman adalah suatu dosa yang bertentangan dengan konsep keadilan.

- Mengambil bunga dari pinjaman diperbolehkan, namun haram atau tidaknya tergantung niat si pemberi utang.

c. Pandangan Para Reformis Kristen (abad XVI- tahun 1836)

- Dosa apabila bunga memberatkan. - Uang dapat membiak (bertentangan dengan Aristoteles). - Tidak menjadikan pengambil bunga sebagai profesi. - Jangan mengambil bunga dari orang miskin.

IV. Islam

Kitab Al-Qur’an melarang riba, antara lain: a. Al-baqarah : 278-279

“Hai orang-orang beriman, bertaqwalah kepada Allah dan tinggalkan sisa riba (yang belum dipungut) …………..Dan jika kamu bertaubat (dari pengambilan riba), maka bagimu pokok hartamu, kamu tidak menganiaya dan tidak dianiaya.”

b. Ali- Imran : 130

“Hai orang-orang beriman, janganlah kamu memakan riba dengan berlipat ganda dan bertaqwalah kepada Allah supaya kamu

mendapat keuntungan.”

c. An-nisaa : 130 “…………dan disebabkan mereka memakan riba padahal sesungguhnya mereka telah dilarang daripadanya dan karena mereka memakan harta orang dengan jalan yang bathil…………….”

d. Ar-ruum : 39

“Dan sesuatu riba (tambahan) agar ia bertambah pada harta manusia, maka pada sisi Allah itu tidak bertambah……..”

Selain dalam Al-Qur’an, larangan riba juga terdapat pada dalam hadits Rasulullah SAW. Dalam pandangan Islam, uang tidak menghasilkan bunga atau laba dan uang tidak dipandang sebagai komoditi.

Berkembangnya Bank-bank Syariah di negara-negara Islam (Mesir: Mit Ghamar Bank, Islamic Development Bank, Faisal Islamic Bank, Kuwait Finance House, Dubai Islamic Bank dll) berpengaruh ke Indonesia. Diskusi ataupun Lokakarya diselenggarakan sampai akhirnya

280

Tim Perbankan MUI menanda tangani Akte Pendirian PT Bank Muamalat Indonesia pada tanggal 1 November 1991.

Perkembangan Bank syariah pada era reformasi ditandai dengan

disetujuinya UU no 10 tahun 1998.Dalam UU tsb diatur dengan rinci landasan hukum dan jenis-jenis usaha yang dapat dioperasikan dan diimplementasikan oleh Bank syariah. UU tsb memberi arahan bagi bank-bank konvensional untuk membuka cabang syariah/ unit usaha syariah (UUS) atau mengkonversi menjadi bank syariah

KEUNIKAN PERBANKAN SYARIAH

Fungsi dasar bank syariah secara umum sama dengan bank konvensional, sehingga prinsip umum pengaturan dan pengawasan bank berlaku pula pada bank syariah. Namun adanya sejumlah perbedaan cukup mendasar dalam operasional bank syariah menuntut adanya perbedaan pengaturan dan pengawasan bagi Bank syariah Perbedaan mendasar tersebut terutama: b. Perlunya jaminan pemenuhan ketaatan pada prinsip syariah dalam

seluruh aktivitas bank. c. Perbedaan karakteristik operasional khususnya akibat dari

pelarangan bunga yang digantikan dengan skema PLS dengan instrumen nisbah bagi hasil.

Langkah penting untuk mengatasi masalah unik dari sistem bagi hasil misalnya : moral hazard (tindakan yang dilakukan oleh penerima amanat yang bertentangan dengan kesepakatan awal dalam menjalankan amanat yang diterimanya), asymmetric information (ketidakseimbangan informasi antara pemberi amanat dan yang diberi amanat, di mana pihak yang diberi amanat memiliki informasi yang lebih banyak ketimbang pihak yang memberi amanat), dll adalah dengan cara:

a. penerapan good governance (tata kelola yang baik) b. ketentuan disclosure dan transparansi keuangan c. pengembangan skema insentif yang optimal dll

Untuk menunjang langkah ini khususnya langkah b (ketentuan disclosure dan transparansi keuangan) maka:

- Ikatan Akuntan Indonesia (Dewan Standar Akuntansi Keuangan)

pada tahun 2003 sudah mengeluarkan PSAK No. 59 tentang

281

Perbankan Syariah yang sudah direvisi pada September 2007 dan disempurnakan dengan PSAK No. 101, 102,103, 104, 105, dan 106.

- Biro perbankan Syariah Bank Indonesia menerbitkan PAPSI (Pedoman Akuntansi Perbankan) tahun 2003

Bila ditinjau dari fungsinya, bank syariah memiliki fungsi yang sama

dengan bank konvensional yaitu sebagai lembaga intermediary yang menghimpun dana dari masyarakat yang memiliki dana dan menyalurkan dana kepada masyarakat yang membutuhkan dana. Hal utama yang membedakan Bank syariah dengan Bank konvensional adalah dalam cara menghimpun dan menyalurkan dana harus sesuai dengan prinsip-prinsip syariah .

Cara operasi bank Syariah pada hakikatnya sama saja dengan Bank Konvensional, yang membedakan hanya dalam masalah bunga dan praktik lainnya yang menurut syariat Islam tidak dibenarkan. Bank syariah tidak menggunakan konsep bunga seperti bank konvensional. Namun bukan berarti bank syariah tidak mengenakan beban kepada mereka yang menikmati jasanya. Beban masih tetap ada, namun konsep dan cara penghitungannya tidak seperti perhitungan bunga pada Bank Konvensional.

Kedudukan Bank Syariah dalam hubungannya dengan para

nasabah adalah sebagai mitra investor. Sedangkan dalam Bank Umum, hubungan antara Bank dan nasabah adalah sebagai debitur dan kreditur saja.

Sebagaimana bank-bank pada umumnya, bank syariah juga memiliki produk yang dapat digunakan untuk berbagai lapisan anggota masyarakat dari berbagai suku bangsa dan agama. Sebelum menguraikan jenis produk bank Syariah, maka perlu diketahui dahulu sumber dana bank syariah. Dana yang digunakan baik bank Syariah maupun Bank Konvensional dalam rangka menunjang kegiatan operasinya terdiri dari:

1. Dana Bisnis

adalah dana yang dapat ditarik kembali oleh pemilik

2. Dana Ibadah adalah dana yang tidak dapat ditarik kembali oleh yang beramal, kecuali dana tersebut memang ditujukan untuk pinjaman.

282

Jenis Produk Bank Syariah Jenis produk Bank Syariah akan tergantung pada fungsi pokok bank

syariah. Fungsi pokok bank syariah dalam kaitannya dengan kegiatan perekonomian masyarakat terdiri dari:

1. Fungsi Pengumpulan Dana ( Funding) 2. Fungsi Penyaluran Dana (Financing) 3. Pelayanan Jasa (Service)

Dalam bank syariah produk-produk penghimpunan dana dapat diterapkan berdasarkan prinsip masing-masing, yaitu:

a. Wadiah yaitu akad titipan dimana barang yang dititipkan dapat diambil sewaktu-waktu. Pihak yang menerima titipan dapat meminta jasa untuk keamanan dan pemeliharaan.

b. Mudharabah yaitu akad usaha dimana salah satu pihak

memberikan modal (Sahibul Mal), sedangkan pihak lainnya memberikan keahlian (Mudharib) dengan nisbah yang disepakati dan apabila terjadi kerugian , maka pemilik modal menanggung kerugian tersebut.

Mudharabah dibagi menjadi 2 yaitu:

a) Mudharabah mutlaqah (investasinya tidak terikat). b) Mudharabah muqayyadah: investasinya terikat (tertentu).

Selanjutnya di PSAK no 59 paragraf 8 dan 9 secara rinci dijelaskan pe-ngertian dari kedua jenis Mudharabah ini.

08 Mudharabah mutlaqah adalah mudharabah di mana

pemilik dana memberikan kebebasan kepada pengelola dana dalam pengelolaan investasinya

09 Mudharabah muqayyadah adalah mudharabah di mana

pemilik dana memberikan batasan kepada pengelola dana mengenai tempat, cara, dan objek investasi.

Contoh batasan tersebut, misalnya:

a) tidak mencampurkan dana pemilik dana dengan dana lainnya b) tidak menginvestasikan dananya pada transaksi penjualan cicilan,

tanpa jaminan

283

c) mengharuskan pengelola dana untuk melakukan investasi sendiri tanpa melalui pihak ketiga

Jenis Produk Bank Syariah bila dilihat dari fungsi penghimpunan dana (funding) terdiri dari:

1. Giro adalah

• simpanan yang dapat diambil sewaktu-waktu atau berdasarkan kesepakatan dengan menggunakan cek atau kartu ATM sebagai media/alat penarikan.

• dapat dibuka oleh perorangan atau perusahaan.

• Cek dapat berbentuk tunai atau melalui rekening (account payable).

Sesuai dengan penjelasan tentang 2 akad diatas, maka giro menggunakan akad Wadiah.

2. Simpanan/tabungan:

• simpanan yang dapat diambil berdasarkan kesepakatan dengan

menggunakan buku/kartu tabungan atau kartu ATM sebagai alat penarikan.

• Buku tabungan merupakan bukti pemilikan dari pemegang rekening.

• Terdapat aturan tentang setoran pertama dan saldo minimal.

Kedua jenis akad di atas dapat dipakai dalam simpanan. Jadi jenis simpanan menurut akadnya dibagi menjadi:

- Simpanan Wadiah dan - Simpanan Mudharabah

3. Deposito

• simpanan untuk jangka waktu tertentu yang dapat diambil setelah

jangka waktu tertentu.

• menggunakan bilyet sebagai tanda bukti simpanan.

• mendapatkan bagi hasil yang dibayarkan tiap akhir bulan.

284

Akad yang dapat dipakai dalam Deposito adalah Mudharabah.

Catatan:

*) Bila akad yang dipakai adalah Mudharabah muqayyadah, maka:

• nasabah meminta Bank untuk menyalurkan dananya kepada projek

atau nasabah tertentu.

• Atas tugas ini bank dapat memperoleh fee atau porsi keuntungan.

• Keuntungan yang diperoleh dari penyaluran dana ini dibagi antara nasabah sebagai pemilik modal (Sahibul Mal) dan pelaksana projek sebagai mudharib (orang yang memberikan keahlian)

• Pola seperti ini dalam dunia perbankan disebut chanelling bukan

executing

Jenis Produk Bank Syariah bila dilihat dari fungsi penyaluran dana (financing) dibagi menjadi 3 kategori besar:

1. Jual-beli 2. Bagi Hasil/Untung 3. Sewa

1. Jual-beli

Produk jual-beli dalam Bank Syariah dibagi menjadi 3, yaitu:

a. Murabahah b. Salam dan salam parallel c. Istishna dan istishna paralel

Penjelasan dari masing-masing produk disajikan berikut ini:

a. Murabahah

• adalah pembiayaan berdasarkan jual-beli dimana Bank bertindak

selaku penjual dan nasabah selaku pembeli • Harga beli diketahui bersama dan tingkat keuntungan untuk Bank

disepakati dimuka

285

• Dalam fiqih klasik murabahah dilakukan secara tunai, dalam praktik perbankan nasabah dapat membayar secara angsuran dan untuk antisipasi kemacetan, Bank dapat meminta jaminan

• Dalam fiqih klasik, penjual membeli barang langsung dari penjual pertama. Dalam perbankan syariah barang dapat dikirim langsung kepada nasabah atau nasabah membeli sendiri selaku wakil Bank dalam membeli

• Bank dapat meminta uang muka dari nasabah untuk pembelian barang tersebut secara murabahah

• Bila nasabah membayar tepat waktu atau melunasi sebelum jatuh tempo, nasabah dapat meminta keringanan (diskon) bila Bank menyetujui

Bila digambarkan produk murabahah menurut fiqih dan menurut Perbankan Syariah nampak di gambar berikut:

Murabahah menurut Fiqih: 2. beli Hantar Barang 1. pesan 4. bayar

3. jual

Murabahah dalam Praktik Perbankan Syariah

2. beli 1. pesan 4. bayar kirim barang

3. jual

BANK

NASABAH

PIHAK III

BANK PIHAK III

NASABAH

286

Alternatif yang ke dua nampak di gambar berikut: Murabahah dalam Praktik Perbankan Syariah 1. wakilkan 5. bayar cicil 4. jual 2. beli 3. barang

b. Salam dan salam paralel

• adalah pembiayaan berdasarkan jual-beli barang dengan cara pemesanan dan pembayaran dilakukan dimuka dengan syarat- syarat tertentu

• dalam pembiayaan ini bank bertindak selaku pembeli sedangkan

nasabah bertindak selaku penjual. Uang pembelian diberikan dimuka kepada nasabah

• Karena barang akan dikirimkan kemudian, maka nasabah selaku

penjual berhutang kepada bank

• Biasanya diterapkan untuk pembiayaan produk pertanian atau produk-produk yang terstandarisasi

• Bank hanya mendapat keuntungan apabila komoditi yang dikirim

oleh nasabah dijual dengan harga yang lebih tinggi

• Bank dapat menjual barang tersebut sebelum jatuh tempo kepada pihak lain dengan cara yang sama (salam), tapi tidak boleh dikaitkan dengan salam yang pertama. Bila hal ini yang terjadi maka salamnya adalah Salam paralel

• Apabila dijual kembali kepada nasabah dengan harga yang lebih

tinggi dikhawatirkan terkena riba

BANK

NASABAH

PIHAK III

287

• Apabila nasabah gagal (wan prestasi, default) dalam menyerahkan barang yang dipesan, maka kewajiban terhadap bank tidak berubah. Penyerahan barang harus tetap dilakukan walaupun harus ditunda karena kegagalan

• Jika bank setuju, modal bank dikembalikan senilai ketika pertama

kali diberikan c. Istishna dan istishna parallel • hampir sama dengan salam tetapi berbeda pada objek yang

dibiayai dan cara pembayarannya • Pada Salam objek yang dibiayai sudah terstandarisasi, sedangkan

pada istishna objek yang dibiayai bersifat customized (harus dibuat terlebih dahulu)

• Pada Salam pembayaran oleh bank dibayar dimuka sekaligus,

sedangkan pada istishna pembayaran oleh bank dapat dicicil/bertahap

Gambaran Salam/Istishna menurut fiqih dan menurut Praktik Perbankan Syariah adalah sebagai berikut:

Salam/Istishna menurut fiqih

1. pesan,bayar 2. hantar barang setelah jangka waktu

PENJUAL

PEMBELI

288

Salam/Istishna menurut Praktik perbankan Syariah

2. Bagi Hasil/Untung

Produk Bagi Hasil/Untung dalam Bank Syariah dibagi menjadi 3, yaitu:

a) Mudharabah b) Musyarakah c) Rahn

a) Mudharabah

• dalam pembiayaan Mudharabah , bank bertindak sebagai pemilik

dana (sahibul mal) dan nasabah sebagai pengelola usaha (mudharib)

• dalam fiqih klasik yang dibagikan adalah keuntungan (pendapatan dikurangi biaya), tetapi dalam praktik yang dibagikan adalah Revenue karena sulit untuk menemukan kesepakatan tentang biaya-biaya yang dikeluarkan nasabah

• Nisbah bagi hasil disepakati di muka termasuk bila terjadi kerugian • dalam fiqih klasik, Mudharabah adalah akad yang modal dikemba-

likan ketika usaha berakhir. Dalam sebagian praktik perbankan sya-riah, modal yang digunakan nasabah dicicil untuk memudahkan pengembalian ketika Mudharabah berakhir

• dalam fiqih klasik, ketika usaha menemui kegagalan semua aset yang tersisa dijual dan dikembalikan kepada sahibul mal (Bank). Dalam perbankan syariah nasabah selaku mudharib (pengelola usaha) masih diberi kesempatan untuk melanjutkan/memperbaiki usaha dengan penambahan modal dari bank

BANK

NASABAH

PIHAK III

289

b) Musyarakah

• dalam Musyarakah, bank dan nasabah bertindak selaku syarik (partner) yang masing-masing memberikan dana untuk usaha

• pembagian keuntungan menurut kesepakatan dan apabila rugi dibagi menurut porsi modal masing-masing (proporsional)

• selaku syarik, bank berhak ikut serta dalam manajemen sesuai kaidah musyarakah

Bila digambarkan nampak sebagai berikut 1. kontrak 2. modal 2. modal

3A 3B

BANK NASABAH

UNTUNG RUGI

BANK NASABAH

USAHA

UNTUNG

RUGI

290

c) Rahn (gadai)

• adalah penyerahan jaminan untuk mendapat pinjaman • Rahn dalam syariah dapat berbentuk:

- Fiducia: penyerahan barang, tetapi hanya dokumen yang ditahan. Barangnya masih dapat digunakan oleh pemilik

- Gadai : penyerahan barang secara fisik sehingga pemilik tidak dapat menggunakan lagi.

3. Sewa (Ijarah)

• Bila pembiayaan berdasarkan akad Ijarah maka Bank berlaku sebagai pemberi sewa (mu’jir) dan nasabah selaku penyewa (musta’jir)

• Pada fiqih klasik, bank (pemberi sewa), bank harus memiliki barang

sebelum menyewakan kepada nasabah (penyewa) • Pada umumnya Bank tidak memiliki barang, tetapi menyewa dari

pihak lain, kemudian menyewakan lagi kepada nasabah dengan nilai sewa yang lebih tinggi selama tidak ada kaitan antara akad sewa pertama dengan sewa kedua

• Ijarah dalam bank syariah bisa disamakan dengan operating lease ,

bukan financial lease atau capital lease (lihat bahasan sewa guna usaha/leasing). Jadi bank bertanggung jawab atas pemeliharaan aset yang disewa

• Bila bank memiliki objek yang disewakan , maka bank dapat memberi

Opsi bagi nasabah untuk memiliki objek yang disewanya. Ijarah jenis ini dinamakan Ijarah al Muntahiyyah Bittamlik atau Ijarah wal Iqtina.

Ijarah al Muntahiyyah Bittamlik memakai 2 akad yaitu akad sewa dan janji (opsi) kepemilikan. Kepemilikan bisa dilakukan kalau masa sewa telah berakhir. Hal ini hampir sama dengan capital lease.

Gambaran Ijarah menurut fiqih dan praktik perbankan:

291

Ijarah menurut fiqih 1. beli 3. bayar 2. sewakan barang

Ijarah menurut Praktik Perbankan 1. beli/sewa 2. sewakan 3. bayar 4. Jual

Jasa Perbankan adalah pelayanan Bank terhadap nasabah dengan tidak menggunakan modal tunai. Atas jasa yang diberikan, bank akan menerima imbalan (fee).

Jenis Produk Bank bila dilihat dari fungsi pelayanan jasa (service) terdiri dari:

a. Transfer (pengiriman uang) b. Inkaso (pencairan cek) c. Valas (penukaran mata uang asing) d. L/C (Lettter of Credit) e. Letter of Guarantee dll

MU’JIR PIHAK III

MUSTA’JIR

BANK PIHAK III

NASABAH

292

Bank syariah menggunakan akad dalam penetapan produknya.

Akad yang dipakai sebagai dasar dalam jasa perbankan syariah: 1. Wakalah (Perwakilan)

Produk yang memakai akad ini: Transfer, Inkaso, Debit Card, L/C

2. Kafalah (Penjaminan) Produk yang memakai akad ini: Bank Guarantee, L/C, Charge Card

3. Hawalah (Pengalihan Piutang) Produk yang memakai akad ini:Bill Discounting, Post Dated Check (cek mundur), anjak piutang

4. Sarf (Pertukaran mata uang) Produk yang memakai akad ini: Jual beli Valuta Asing

Dalam perbankan syariah, jasa perbankan menggunakan

dana/fasilitas bank sendiri, oleh karena itu pendapatan yang diperoleh dari penjualan jasa ini harus disendirikan atau tidak ikut dibagikan kepada pemilik simpanan. Untuk mempermudah transaksi antar Bank dan antara Bank dengan Bank Indonesia seperti perbankan konvensional, , maka Bank syariah juga menggunakan produk Interbank.

Jenis Produk Interbank

a. Sertifikat Mudharabah antar Bank adalah instrumen pasar uang antar bank yang hanya dapat dijual satu kali kepada bank lain dengan bagi hasil sesuai dengan kesepakatan

b. Sertifikat Wadiah Bank Indonesia adalah instrumen Bank Indonesia untuk menyerap kelebihan likuiditas dalam perbankan

c. Fasilitas pembiayaan Jangka Pendek (FPJP) adalah fasilitas Bank Indonesia bagi perbankan syariah untuk menutupi selisih posisi (mismatch)

293

Terminologi (Glosari) dalam Perbankan Syariah

Berikut ini adalah definisi dari istilah-istilah khusus dalam perbankan

syariah yang diambil PSAK No. 59 (diurutkan secara alfabetis): Akad : adalah pertalian ijab dengan qabul menurut cara-

cara yang disyariatkan yang berpengaruh terhadap objek

Al-mashnu : barang pesanan dalam transaksi istishna Al-muslam fihi : komoditas yang dikirimkan dalam transaksi salam Al-muslam ileihi : penjual dalam transaksi salam Al-muslam : pembeli dalam transaksi salam Al-mushtashni’ : pembeli akhir dalam transaksi ishtisna’ Amil : petugas pendistribusi zakat As-shani : produsen/supplier dalam transaksi ishtisna’ Fiisabilillah : orang yang berjuang di jalan Allah Gharim : orang yang berutang dan kesulitan untuk melunasi-

nya Halal : sesuatu yang diperbolehkan oleh Islam Haul : cukup waktu satu tahun bagi pemilikan harta keka-

yaan seperti perniagaan, emas, ternak, sebagai batas kewajiban membayar zakat

Hiwalah : pemindahan atau pengalihan hak dan kewajiban, ba-

ik dalam pengalihan piutang atau utang, dan jasa pemindahan / pengalihan dana dari satu entitas kepada entitas lain

Ibnusabil : orang yang dalam perjalanan

294

Ijarah : perpindahan kepemilikan jasa dengan imbalan yang sudah disepakati menurut para fuqaha’. Ijarah ini memiliki 3 (tiga) unsur:

Bentuk yang mencakup penawaran atau

persetujuan

Dua pihak pemilik aset yang disewakan dan pihak yang memanfaatkan jasa dari aset yang disewakan

Objek dari akad ijarah, yang mencakup jumlah

sewa dan jasa yang dipindahkan kepada penyewa

Ijarah operasional: Akad ijarah yang tidak berakhir dengan pemin-dahan

kepemilikan dari aset yang yang disewakan kepada penyewa

Ijarah muntahiyah bittamlik : Akad ijarah yang berakhir dengan opsi berpindahnya

kepemilikan aset yang disewakan kepada penyewa. Ijarah muntahiyah bittamlik dapat berbentuk:

Ijarah muntahiyah bittamlik yang memindahkan

hak kepemilikan aset yang disewakan kepada penyewa–jika penyewa menginginkan hal tersebut–dengan harga yang diwakili oleh pembayaran sewa yang dilakukan oleh penyewa selama jangka waktu penyewaan. Pada akhir jangka waktu penyewaan dan setelah cicilan terakhir dibayar, maka hak milik sah aset yang disewakan secara otomatis berpindah kepada penyewa atas dasar akad baru.

Ijarah muntahiyah bittamlik yang memberikan hak

kepemilikan kepada penyewa atas aset yang disewakan pada akhir jangka waktu penyewaan atas dasar akad baru dengan harga tertentu, yang mungkin merupakan harga simbolis

Perjanjian ijarah yang memberikan penyewa

salah satu dari 3 (tiga) opsi berdasarkan pembayaran sewa yang dilakukan oleh penyewa

295

a. Membeli aset yang disewakan dangan harga yang ditentukan berdasarkan pembayaran sewa yang dilakukan oleh penyewa;

b. Pembaruan ijarah untuk jangka waktu yang

baru; atau

c. Mengembalikan aset yang disewa kepada pemilik objek sewa

Infak : pemberian sesuatu yang akan digunakan untuk ke-

maslahatan umat Ishtisna’ : kontrak penjualan antara al-mustasni (penjual akhir)

dengan al-shani (pemasok) dimana al-shani–berdasarkan suatu pesanan dari al-mustasni–berusaha membuat sendiri atau meminta pihak lain untuk membuat atau membeli al-masnu (pokok) kontrak, menurut spesifikasi yang disyaratkan dan menjualnya kepada al-mustasni dengan harga sesuai kesepakatan serta dengan metode penyelesaian di muka melalui cicilan atau ditangguhkan sampai suatu eaktu di masa depan. Ini merupakan syarat dari kontrak ishtisna’ sehingga al-shani harus menyediakan bahan baku atau tenaga kerja. Kesepakatan akad ishtisna’ mempunyai ciri-ciri sama dengan salam karena dia menentukan penjualan produk tidak tersedia pada saat penjualan, namun ketidaksamaannya terletak pada harga ishtisna’ yang tidak dibayar ketika diselesaikan. Ishtisna’ juga memiliki ciri yang sama dengan penjualan biasa karena harga biasa dibayar dengan kredit. Ciri ketiga akad ishtisna’ sama dengan ijarah karena tenaga kerja digunakan pada keduanya.

Istishna paralel : Jika Al-mustashni (pembeli akhir) mengizinkan al-

shani (pemasok) untuk meminta pihak ketiga (sub-kontraktor) untuk membuat al-mashnu atau jika pengeturan tersebut bisa diterima oleh kontrak istishna itu sendiri, maka al-shani bisa melakukan kontrak istishna kedua guna memenuhi kewajiban kontraknya kepada kontrak pertama. Kontrak kedua ini disebut istishna paralel

Kafalah : akad penjaminan yang diberikan oleh kaafil (penang-

gung/bank) kepada pihak ketiga untuk memenuhi

296

kewajiban pihak kedua atau yang ditanggung (makhful ‘anhu, ashil)

Kaafil : pihak yang memberikan jaminan untuk menanggung

kewajiban puhak lkain dalam akad kafalah Ma’jur : objek sewa dalam transaksi ijarah Makful : penerima jaminan dalam akad kafalah Muallaf : orang yang baru memeluk agama Islam Mudharabah : perjanjian kerjasama untuk mencari keuntungan an-

tara pemilik modal dengan pengusaha (pengelola dana). Perjanjian tersebut bisa saja terjadi antara deposan (investment account) sebagai penyedia dan dan bank syariah sebagai mudharib. Bank syariah menjelaskan keinginannya untuk menerima dana investasi dari sejumlah nasabah, pembagian keuntungan disetujui oleh kedua belah pihak sedangkan kerugian ditanggung oleh penyedia dana, asalkan tidak terjadi kesalahan atau pelanggaran syariah yang telah ditetapkan, atau tidak terjadi kelalaian di pihak bank syariah. Kontrak mudharabah dapat juga dilaksanakan antara bank syariah sebagai penyedia dana atas namanya sendiri atau khusus atas nama deposan, pengusaha, atau para pengrajin lainnya termasuk petani, pedagang, dan sebagainya. Mudharabah berbeda dengan spekulasi yang berunsur perjudian (gambling) dalam pembelian dan transaksi penjualan.

Mudharabah Mutlaqah : Investasi tidak terikat. Mudharabah Muqayyadah : Investasi terikat.

Mudharib : Pengelola dana (modal) dalam akad mudharabah;

dalam madzhab syafi’i disebut amil Muqashah : potongan pembayaran Murabahah : penjualan barang dengan margin keuntungan yang

disepakati dan penjual memberitahukan biaya

297

perolehan dari barang yang dijual tersebut. Penjualan murabahah ada dua jenis. Pertama, bank syariah membeli barang dan menyediakan barang untuk dijual tanpa janji sebelumnya dari pelanggan untuk membelinya. Kedua, bank syariah membeli barang yang sudah dipesan oleh seorang pelanggan dari pihak ketiga lalu kemudian menjual barang ini kepada pelanggan yang sama. Pada kasus terakhir, bank syariah membeli barang hanya setelah seorang pelanggan membuat janji untuk membayarnya kepada bank

Musta’jir : penyewa dalam transaksi ijarah Mustahiq : penerima zakat, Al-Qur’an mengatur bahwa penerima

zakat adalah yang disebut sebagai 8 (delapan) asnaf (golongan/ kelompok)

Musyarakah : bentuk kemitraan bank syariah dengan nasabahnya

dimana masing-masing pihak manyumbangkan pada modal kemitraan dalam jumlah yang sama atau berbeda untuk menyelesaikan suatu projek atau bagian pada projek yang sudah ada. Masing-masing pihak menjadi pemegang saham modal dasar tetap atau menurun dan akan memperoleh bagian keuntungan sebagaimana mestinya. Akan tetapi kerugian dibagi bersama sesuai dengan proporsi modal yang disumbangkan. Tidak diperbolehkan menyatakan sebaliknya.

Musyarakah permanen/tetap : musyarakah di mana bagian mitra dalam modal mu-

syarakah tetap sepanjang jangka waktu yang ditetapkan dalam akad tersebut

Musyarakah menurun : musyarakah dimana bank memberikan kepada pihak

lainnya hak untuk membeli bagian sahamnya dalam musyarakah sehingga bagian bank menurun dan kepentingan saham mitra meningkat sampai menjadi pemilik tunggal dari keseluruhan modal.

Muwakil : pemberi kuasa/nasabah dalam transaksi wakalah Muzakki : pembayar zakat

298

Nisab : batas ukuran minimal, jika harta dan perniagaan

seseorang telah melebihi batas ini maka zakat terhadap harta dan perniagaan wajib dibayarkan

Nisbah : rasio atau perbandingan pembagian keuntungan

(bagi hasil) antara shahibul maal dengan mudharib Qardh (pinjaman): penyediaan dana atau tagihan yang dapat dipersa-

makan dengan itu berdasarkan persetujuan atau kesepakatan antara peminjam dengan pihak yang meminjamkan yang mewajibkan peminjam melunasi utangnya setelah jangka waktu tertentu. Pihak yang meminjamkan dapat menerima imbalan namun tidak diperkenankan dipersyaratkan dalam perjanjian

Qardhul hasan : pinjaman tanpa imbalan yang memungkinkan pemin-

jam menggunakan dana tersebut selama jangka waktu tertentu dan mengembalikan dalam jumlah yang sama pada akhir periode yang disepakati. Jika peminjam mengalami kerugian yang bukan merupakan kelalaiannya, maka kerugian tersebut dapat mengurangi jumlah pinjaman

Riba : pengambilan tambahan, baik dalam transaksi mau-

pun pinjam-meminjam secara bathil atau berten-tangan dengan ajaran Islam

Riqab : hamba sahaya Salam : bai’ as-salam; jual beli barang dengan cara peme-

sanan dan pembayaran di muka dengan syarat-syarat tertentu

Salam paralel : dua transaksi bai’ as-salam antara bank dengan

nasabah dan antara bank dengan pemasok atau pihak ketiga lainnya secara simultan

Shadaqah : pemberian sesuatu kepada orang lain dengan meng-

harap ridho Allah semata Shahibul maal : pemilik dana Sharf : akad jual beli suatu valuta dengan valuta lainnya.

Transaksi valuta asing pada bank syariah hanya

299

dapat dilakukan untuk tujuan lindung nilai dan tidak diperkenankan untuk tujuan spekulatif

Taukil : tugas Ta’zir : denda yang harus dibayar akibat penundaan pe-

ngembalian piutang, dana dari denda ini akan dikumpulkan sebagai dana sosial

Ujrah : imbalan Urbun : jumlah yang dibayar oleh nasabah (pemesan) kepada

penjual (yaitu pembeli mula-mula) pada saat pemesan membeli sebuah barang dari penjual. Jika nasabah atau pelanggan meneruskan penjualan dan pengambilan barang, maka urbun akan menjadi bagian dari harga.

Wadiah : titipan nasabah yang harus dijaga dan harus dikem-

balikan setiap saat apabila nasabah yang bersang-kutan menghendaki. Bank bertanggung jawab atas pengembalian barang tersebut

Wadiah yad-dhamanah : titipan yang selama belum dikembalikan kepada

penitip dapat dimanfaatkan oleh penerima titipan. Apabila dari hasil pemanfaatan tersebut diperoleh keuntungan, maka seluruhnya menjadi hak penerima titipan

Wadiah yad-amanah : titipan yang selama belum dikembalikan kepada

penitip tidak boleh dimanfaatkan oleh penerima titipan sampai barang titipan tersebut diambil oleh penitip

Wakalah : akad pemberian kuasa dari muwakil (pemberi

kuasa/nasabah) kepada wakil (penerima kuasa/bank) untuk melaksanakan suatu taukil (tugas) atas nama pemberi kuasa

Wakil : penerima kuasa/bank Zakat : secara harfiah, zakat berarti keberkahan, penyucian,

peningkatan, dan suburnya perbuatan baik. Disebut

300

zakat karena dia memberkahi kekayaan yang dizakatkan dan melindunginya. Di dalam syariah, zakat merupakan suatu kewajiban mengenai dana yang dibayarkan untuk tujuan khusus dan untuk kategori tertentu. Zakat merupakan jumlah tertentu yang telah ditentukan oleh Allah Yang Maha Kuasa untuk mereka yang berhak terhadap zakat sebagaimana telah ditentukan dalam Al-Qur’an. Kata zakat juga digunakan untuk menunjukkan jumlah yang dibayarkan dari dana-dana yang terkena kewajiban zakat.

Perlakuan Akuntansi dalam Perbankan Syariah

Sistem Perbankan syariah berbeda dengan sistem perbankan konvensional. Oleh karena itu akan menimbulkan perbedaan dalam pencatatan atau perlakuan akuntansinya. Di samping diatur dalam PSAK no. 59 tentang Akuntansi Perbankan Syariah, secara rinci Akuntansi Perbankan Syariah diatur dalam PAPSI (Pedoman Akuntansi Perbankan Syariah Indonesia) .

Akuntansi Aktiva

Aktiva disusun berdasarkan urutan likuiditasnya. Rekening-rekening Aktiva Bank Syariah terdiri dari:

a. Kas b. Penempatan pada Bank Indonesia c. Giro pada Bank Lain d. Penempatan pada Bank Lain e. Efek (surat berharga) f. Piutang:

Piutang murabahah Piutang Salam

Piutang Istishna Piutang pendapatan Ijarah

g. Pembiayaan Mudharabah h. Pembiayaan musyarakah i. Pinjaman Qardh j. Persediaan k. Aset yg diperoleh untuk Istishna l. Aset Istishna dlm penyelesaian m. Penyertaan n. Investasi lain o. Aset tetap dan ak. penyusutan p. Aktiva Lain-lain

301

Perlakuan akuntansi untuk masing-masing akun aktiva adalah sebagai berikut:

a. Kas

Perlakuan akuntansi Kas pada Bank syariah sama dengan bank konvensional. Kas adalah mata uang kertas dan logam baik rupiah maupun mata uang asing yang masih berlaku sebagai alat pembayaran yang sah.

Transaksi kas diakui sebesar nilai nominal.

Perubahan-perubahan kas di Bank pada umumnya disebabkan oleh:

a. Penyetoran dan penarikan tunai oleh nasabah b. Penyetoran dan penarikan dari rekening Bank yang

bersangkutan di BI (Bank Indonesia) c. Penggunaan transaksi intern bank

Pencatatan/jurnal-jurnal yang diperlukan: - Penerimaan setoran:

Contoh: Diterima setoran Tuan Ali pada rekening tabungannya sebesar Rp45.000.000,00 Kas Rp 45.000.000,00

Tabungan Tuan Aris Rp 45.000.000,00

- Penarikan setoran: Contoh: Tuan Ali menarik Rp 5.000.000,00 dari rekening tabungannya

Tabungan Tuan Ali Rp 5.000.000,00

Kas Rp 5.000.000,00

Bank Syariah juga menggunakan Petty Cash (Kas Kecil) untuk membayar pengeluaran-pengeluaran yang jumlahnya relatif kecil. Perlakuan akuntansinya sama dengan yang diterapkan pada Bank

302

Konvensional ataupun perusahaan- perusahaan lainnya. Untuk ilustrasi dapat dilihat kembali di bahasan Akuntansi Perbankan Konvensional.

b. Penempatan pada Bank Indonesia

Penempatan pada Bank Indonesia terdiri dari: 1) Giro Wadiah pada Bank Indonesia adalah saldo rekening giro bank

syariah baik dalam rupiah maupun mata uang asing di Bank Indonesia. • merupakan salah satu alat likuid dan tidak dimaksudkan untuk

menghasilkan pendapatan

• yang wajib dipelihara adalah Giro Wajib Minimum (GWM) • termasuk didalamnya saldo escrow account (saldo untuk tujuan

tertentu)

2) Sertifikat Wadiah Bank Indonesia adalah sertifikat yang diterbitkan Bank Indonesia sebagai bukti penitipan dana berjangka pendek berdasarkan prinsip Wadiah dan dilakukan oleh Bank syariah di saat mengalami kelebihan likuiditas

Transaksi giro pada Bank Indonesia diakui sebesar nilai nominal. Bila mendapat bonus atas penempatan pada Bank Indonesia, diakui pada saat diterima sebesar jumlah kas yang diterima Jurnalnya:

Setoran pada Bank Indonesia: Contoh: Bank Syariah “Artha Unggul” menyetorkan Rp 5.000.000.000,00 tunai pada rekening gironya di Bank Indonesia

Giro pada Bank Indonesia Rp 5.000.000.000,00 Kas/kliring Rp 5.000.000.000,00

Bila penyetorannya pada sertifikat Wadiah, maka jurnalnya:

303

Sertifikat Wadiah pada Bank Indonesia Rp 5.000.000.000,00 Giro pada Bank Indonesia Rp 5.000.000.000,00

Bila dari sertifikat Wadiah mendapat bonus Rp 50.000.000,00, maka dibuat jurnal:

Giro pada Bank Indonesia Rp 50.000.000,00 Pendapatan Operasi lainnya-bonus SWBI Rp 50.000.000,00 Penarikan setoran: Contoh: Bank Syariah ”Makmur Sekali” menarik Rp 3.000.000.000,00 tunai dari rekening gironya di Bank Indonesia

Kas/kliring Rp 3.000.000.000,00 Giro pada Bank Indonesia Rp 3.000.000.000,00

Selain menarik gironya pada bank Indonesia, sertifikat Wadiah senilai Rp 10.000.000.000,00 sudah jatuh tempo, maka dibuat jurnal berikut:

Giro pada Bank Indonesia Rp 10.000.000.000,00 Sertifikat Wadiah pada Bank Indonesia Rp 10.000.000.000,00

c. Giro pada bank lain

Adalah rekening giro bank syariah pada bank lain di dalam dan

di luar negeri baik dalam mata uang rupiah maupun mata uang asing dengan tujuan untuk menunjang transaksi antar bank. Perbedaan perlakuan Giro pada bank lain di bank syariah adalah: • Pendapatan jasa giro dari Bank Umum Konvensional digunakan

untuk dana kebajikan (Qardhul Hasan) • Bonus yang diterima dari Bank Umum Syariah diperlakukan sebagai

pendapatan operasi lainnya

Transaksi giro pada Bank lain diakui sebesar nilai nominal.

304

Jurnalnya:

Setoran ke bank lain: Contoh: Bank Syariah ”Amat Mulia” menempatkan giro pada Bank Artha sebesar Rp 250.000.000,00.

Giro pada Bank Artha Rp 250.000.000,00

Kas/ kliring Rp 100.000.000,00 Penarikan dari bank lain: Contoh: Bank ”Amat Mulia” menarik Rp 100.000.000,00 dari rekening gironya di Bank Kita.

Kas/ kliring Rp 100.000.000,00 Giro pada Bank Kita Rp 100.000.000,00

Bila bank memiliki giro di bank lain, maka bank akan mendapatkan jasa. Perlakuan akuntansinya akan tergantung pada di Bank mana Giro tersebut ditempatkan: - Pengakuan pendapatan bila ditempatkan pada bank konvensional

Contoh: Bank Syariah ”Sejahtera” memiliki rekening giro di Bank Umum ”Mulia” sebesar Rp 100.000.000,00. Bank Mulia memberikan bunga tahunan sebesar 10%.

Giro pada bank lain Rp 10.000.000,00 Rekening Dana Kebajikan Rp 10.000.000,00

• Pengakuan pendapatan bila ditempatkan pada bank syariah

Giro pada bank lain Rp 10.000.000,00 Pendapatan Bonus Giro Rp 10.000.000,00

305

*) Dalam praktik kemungkinan dapat terjadi saldo negatif Bank syariah

yang ditempatkan pada Bank lain. Apabila hal ini yang terjadi, maka perlakuan akuntansinya:

1. Pada saat terjadi saldo negatif

• Apabila giro ditempatkan di bank konvensional Pada bulan April 2007 terjadi saldo negatif rekening giro Bank Syariah ”Sejahtera” sebesar Rp 7.000.000,00 di Bank Umum ”Mulia” Jurnal yang harus dibuat: Giro pada Bank lain Rp 7.000.000,00 Pinjaman yang diterima-pinjaman lain Rp 7.000.000,00

• Apabila giro ditempatkan di bank syariah lain Giro pada Bank lain Rp 7.000.000,00

Pinjaman yang diterima-pinjaman Qardh Rp 7.000.000,00

2. Pada saat pelunasan saldo negatif

• Apabila giro ditempatkan di bank konvensional Pada bulan Mei Bank Syariah ”Sejahtera” melunasi gironya dan dikenai beban administrasi senilai Rp 5.000,00 Jurnalnya: Pinjaman yang diterima-pinjaman lain Rp 7.000.000,00

Beban non operasional Rp 10.000,00 Giro pada Bank lain Rp 7.010.000,00

• Apabila giro ditempatkan di bank syariah lain Jurnalnya: Pinjaman yang diterima-pinjaman Qardh Rp 7.000.000,00

Beban non operasional Rp 10.000,00 Giro pada Bank lain Rp 7.010.000,00

306

d. Penempatan pada bank lain Penempatan pada bank lain adalah penempatan dana bank

pada bank lain baik dalam negeri maupun luar negeri dalam bentuk antara lain Sertifikat Investasi Mudharabah Antarbank, deposito Mudharabah, tabungan Mudharabah, giro Wadiah dan tabungan Wadiah yang dimaksudkan untuk optimalisasi pengelolaan dana. Penempatan pada bank lain diakui pada saat dilakukan penyerahan sebesar jumlah yang diserahkan. Contoh: Bank Syariah “Amanah” menempatkan dana dalam bentuk sertifikat deposito pada Bank Syariah “Aminah” sebanyak 200 lembar dengan nominal masing-masing Rp 1.000.000,00. Bagi hasil/bonus yang disetujui sebesar Rp 5.000.000,00 untuk jangka waktu 3 bulan.

Saat penempatan: Penempatan pada bank syariah ”Aminah” Rp 200.000.000,00

Kas/kliring Rp 200.000.000,00

Saat pengakuan pendapatan bagi hasil/bonus Kas/giro pada bank syariah lain/kliring Rp 5.000.000,00

Pendapatan bagi hasil/bonus Rp 5.000.000,00

Saat jatuh tempo: Kas/rekening/kliring Rp 200.000.000,00

Penempatan pada bank syariah lain Rp 200.000.000,00

e. Investasi pada Efek/Surat Berharga Adalah investasi yang dilakukan pada surat berharga komersial antara lain: wesel eksport, saham, obligasi, dan unit penyertaan atau reksadana yang tidak bertentangan dengan prinsip syariah. Investasi pada surat berharga diperbolehkan sepanjang ada fatwa dari DSN (Dewan Syariah Nasional) dan perlakuan akuntansinya

307

sama mengikuti ketentuan umum sepanjang tidak bertentangan dengan prinsip syariah, yaitu: a) PSAK no 31 tentang Akuntansi Perbankan b) PSAK no 50 tentang Akuntansi Investasi Efek tertentu c) PSAK no 13 tentang Akuntansi Investasi d) PAPI (Pedoman Akuntansi Perbankan Indonesia) tahun 2001 e) Fatwa DSN No 32/DSN-MUI/IX/2002 dan No 33/DSN-

MUI/IX/2002 tentang Obligasi syariah dan Obligasi syariah Mudharabah

f) Fatwa DSN No 20/DSN-MUI/IX/2002 tentang Reksadana syariah

Contoh: Pada tanggal 5 Mei 2007 Bank Syariah “Amin” membeli 1000 lembar saham PT A dengan nilai nominal Rp 20.000,00 kurs 110 dan komisi pialang 5% dan bagi hasil untuk periode ini sebesar Rp 3.000.000,00

Pembelian investasi sementara secara tunai

Surat Berharga – saham PT A Rp 23.100.000,00

Kas Rp 23.100.000,00

Pada saat pengakuan Bagi Hasil Pendp. bagi hasil efek/SB yg akan diterima Rp 3.000.000,00

Pendp. bagi hasil efek/Surat Berharga Rp 3.000.000,00

Pada saat penerimaan Bagi Hasil

Kas/kliring Rp 3.000.000,00 Pendp. bagi hasil efek/ SB yg akan diterima Rp 3.000.000,00

Pada saat jatuh tempo/menjual

Kas/kliring Rp 23.100.000,00

Efek/Surat berharga Rp 23.100.000,00

f. Piutang

Jenis piutang yang disajikan di Neraca Bank syariah adalah:

i. Piutang murabahah

308

ii. Piutang Salam iii. Piutang Istishna iv. Piutang pendapatan Ijarah

1) Piutang murabahah

Pengertian dari murabahah sudah dijelaskan pada pokok bahasan produk perbankan syariah. Di bagian ini akan dibahas perlakuan akuntansinya bila Bank bertindak selaku penjual .

Beberapa perlakuan akuntansi yang perlu diterapkan:

Contoh: Bank Syariah”Amanah” membeli sepeda motor yang dipesan oleh Tuan Sumarno senilai Rp 12.000.000,00 pada tanggal 5 Pebruari 2006. Bank menetapkan uang muka sebesar Rp 2.000.000,00 dan cara mengangsur sisa pembayarannya diberikan pilihan sebagai berikut:

a. diangsur selama 10 bulan dengan menambah margin 15% b. diangsur selama 20 bulan dengan menambah margin 35%

1. pada saat perolehan aktiva yang akan dijual

Aktiva murabahah Rp 12.000.000,00 Kas/rekening supplier Rp 12.000.000,00

Seandainya sebelum diserahkan ke nasabah terjadi penurunan nilai aktiva karena usang, rusak atau sebab yang lain, maka dibuat jurnal:

Kerugian penurunan nilai Rp xxx Aktiva murabahah Rp xxx Kerugian ini akan dibebankan sebagai beban lain-lain. 2. pada saat penyerahan uang muka (urbun)

Kas Rp 2.000.000,00 Kewajiban lain-uang muka murabahah Rp 2.000.000,00

309

Bila barang jadi dibeli dengan akad murabahah, dibuat jurnal Kewajiban lain-uang muka murabahah Rp 2.000.000,00 Piutang murabahah Rp 2.000.000,00

3. pada saat terjadi akad piutang murabahah

Perlakuan akuntansinya tergantung pada periode pelunasan piutang dan pengakuan margin piutang murabahah. Piutang murabahah diakui sebesar harga perolehan ditambah margin (keuntungan) yang disepakati a. bila pelunasan piutang terjadi dalam satu periode akuntansi, jurnal

pada saat akad (tanpa urbun) :

Piutang murabahah Rp 13.800.000,00 Aktiva murabahah Rp 12.000.000,00

Pendapatan Margin murabahah Rp 1.800.000,00

b. bila pelunasan piutang lebih dari satu periode akuntansi, maka pendapatan margin diakui secara proporsional selama periode piutang murabahah. Jurnal dari contoh kasus di atas: 1. pada saat akad piutang murabahah (tanpa urbun)

Piutang murabahah Rp 16.200.000,00

Aktiva murabahah Rp 12.000.000,00 Margin murabahah yg ditangguhkan Rp 4.200.000,00 Perhitungan margin yang diakui selama periode 2007 dari contoh kasus diatas adalah: Margin selama 20 bulan = 35 % x Rp 12.000.000,00

= Rp 4.200.000,00

Margin Maret’06 - Desember’06 = 10/20x 4.200.000,00 = Rp 2.100.000,00

2. Jurnal pengakuan pendapatan : Margin murabahah yg ditangguhkan Rp 2.100.000,00 Pendapatan Margin murabahah Rp 2.100.000,00

310

Seperti piutang lainnya, semakin lama jangka waktu pelunasannya,

maka semakin besar resiko tidak tertagihnya. Oleh karena itu Bank Syariah harus membuat cadangan kerugian piutang ini.

Jurnalnya: Kerugian Piutang murabahah Rp xxx Penyisihan Kerugian Piutang murabahah Rp xxx Penyajian di Neraca sama seperti penyajian piutang di perusahaan

yang lain, yaitu: Piutang murabahah Rp xxx Penyisihan Kerugian Piutang murabahah Rp xxx Piutang bersih

3. Pada saat menerima pelunasan Pelunasan Piutang murabahah biasanya dilakukan dengan cara mengangsur. Perhitungan dan perlakuan akuntansi bila pelunasan lebih dari satu periode akuntansi dan nasabah membayar angsuran tiap bulan. (mulai bulan Maret 2006 – Oktober 2007) Perhitungan angsuran: Aktiva murabahah Rp 12.000.000,00 Margin murabahah Rp 4.200.000,00

Sisa Rp 16.200.000,00 Uang muka Rp 2.000.000,00 Piutang murabahah Rp 14.200.000,00 akan diangsur selama 20 bulan. Angsuran tiap bulan = 14.200.000/20 = Rp 710.000,00, Angsuran tersebut terdiri dari Angsuran pokok = Rp 10.000.000,00/20 = Rp 500.000,00 Margin Rp 210.000,00 Jurnalnya tiap kali nasabah mengangsur: Kas Rp 710.000,00 Piutang murabahah Rp 710.000,00

311

Margin murabahah yg ditangguhkan Rp 210.000,00 Pendapatan Margin murabahah Rp 210.000,00 Pada tiap akhir periode dibuat jurnal untuk mengetahui berapa jumlah Piutang murabahah yang sudah terkumpul (masuk dalam kategori lancar) dan berapa pendapatan margin murabahah a) Piutang murabahah jatuh tempo Rp xxx Piutang murabahah Rp xxx b) Margin murabahah yg ditangguhkan Rp xxx

Pendapatan Margin murabahah Rp xxx

Dalam praktik sering terjadi pelunasan Piutang murabahah sebelum jatuh tempo . Bila digunakan contoh seperti diatas dan pelunasan dilakukan pada bulan Mei 2007 dan Tuan Sumarno mendapat potongan sebesar Rp 400.000,00, maka perhitungan dan perlakuan akuntansinya :

Perhitungan:

Piutang murabahah Rp 14.200.000,00 Angsuran Piutang murabahah Maret ’06- Mei ‘07=

15 x Rp 710.000,00

10.650.000,00 Sisa angsuran yang seharusnya diterima 3.550.000,

00 Sisa angsuran pokok = 5 x Rp 500.000,00 2.500.000,00

Sisa margin 950.000,00 Potongan(Pengurang margin piutang murabahah) 400.000,00

Sisa margin yang diterima 550.000,00 Sisa angsuran pokok = 5 x Rp 500.000,00 2.500.000,

00 Kas yang diterima saat pelunasan 3.050.000,00

a) potongan yang diberikan langsung dikurangkan pada keuntungan/

margin Kas Rp 3.050.000,00 Piutang murabahah Rp 3.050.000,00 Margin murabahah yg ditangguhkan Rp 550.000,00

Pendapatan Margin murabahah Rp 550.000,00

312

b) nasabah melunasi kewajibannya dahulu, kemudian Bank akan

memberikan potongan

Kas Rp 3.050.000,00 Piutang murabahah Rp 3.050.000,00 Margin murabahah yg ditangguhkan Rp 950.000,00

Pendapatan Margin murabahah Rp 950.000,00

Beban operasional- pot. pelunasan murabahah Rp 400.000,00 Kas/rekening….. Rp 400.000,00

Bila ada denda, maka pada penerimaan denda dibuat jurnal:

Kas/Rekening….. Rp xxx Rekening simpanan wadiah Rp xxx

2) Piutang Salam

Dalam hal ini Bank bertindak selaku pembeli

a. Piutang salam diakui pada saat modal usaha salam dibayarkan atau dikeluarkan kepada penjual

b. modal usaha salam dapat berupa kas maupun non-kas

• bila berupa kas diukur sejumlah kas yang dibayarkan

• bila berbentuk non-kas diukur sebesar nilai wajar atau nilai yang

disepakati antara Bank dengan suplier

Contoh: Bapak Zaenal adalah seorang petani kentang di daerah Pujon Kabupaten Malang, sedang mengajukan pembiayaan saprodi (sarana produksi) kepada BPRS “Bhakti Haji” Malang senilai Rp60.000.000,00 . Ladang yang dimiliki seluas 5 hektar dan diperkirakan akan menghasilkan kentang sebanyak 25 ton kentang yang bila dijual laku

313

Rp 3000,00/kg. Pak Zaenal akan menyerahkan 3 bulan yang akan datang. Perhitungannya : Harga jual kentang= 25 ton x Rp 3.000.000,00= Rp 75.000.000,00 Pembiayaan Rp 60.000.000,00 Rp 15.000.000,00 Harga/kg kentang yang akan diterima: Rp 60.000.000,00/25.000 = Rp 2.400,00 Perlakuan akuntansinya: a. Pada saat penyerahan uang ke pak Zaenal

Piutang salam Rp 60.000.000,00 Kas Rp 60.000.000,00

b. Pada saat menerima barang dari pak Zaenal

1. hasil panen yang diserahkan sesuai akad

Persediaan – aktiva salam Rp 60.000.000,00 Piutang salam Rp 60.000.000,00

2. harga per kg kentang di pasar hanya Rp 2.200,00

Persediaan – aktiva salam Rp 60.000.000,00 Kerugian salam Rp 5.000.000,00 Piutang salam Rp 55.000.000,00

c. bila bank hanya menerima hasil panen sebanyak 20 ton saja,

Persediaan – aktiva salam Rp 48.000.000,00 Piutang salam Rp 48.000.000,00

d. Bila Bank membatalkan pesanan dan penjual belum mengemba-likan uang yang sudah dikeluarkan Bank

314

Aktiva lain-lain-piutang salam kpd penjual Rp 60.000.000,00 Piutang salam Rp 60.000.000,00

e. Bila Bank membatalkan pesanan dan penjual menyerahkan ja-

minan sebagai pengganti kas yang diterimanya

Dengan menggunakan contoh di atas dan bank membatalkan pesanan kentangnya. Sebagai gantinya pak Zaenal menyerahkan mobil Pick-up bekas

1. harga jaminan lebih rendah daripada nilai piutang salam

misal harga mobil pick-up Rp 50.000.000,00

Kas Rp 50.000.000,00 Aktiva lain-lain-piut. salam kpd penjual Rp 10.000.000,00

Piutang salam Rp 60.000.000,00

2. harga jaminan lebih tinggi daripada nilai piutang salam

misal pick-up yang diserahkan dalam kondisi yg masih bagus dan laku dijual Rp 75.000.000,00. Selisih harga dikembalikan

ke suplier

Kas Rp 75.000.000,00 Rekening p Zaenal Rp 15.000.000,00 Piutang salam Rp 60.000.000,00

3) Piutang Istishna

Seperti telah dijelaskan pada bagian Produk Perbankan Syariah,

Istishna hampir sama dengan salam, hanya saja produk yang dipesan harus dibuat terlebih dahulu.

Contoh: Tuan Ma’ruf ingin membangun ruko di rumah tinggalnya yang hanya mempunyai luas 100 m2 , tetapi letaknya sangat strategis untuk usaha. Untuk keperluan tersebut, pada bulan April 2006 Tuan Ma’ruf mengajukan pembiayaan kepada Bank Syariah “Amanah” senilai Rp 500.000.000,00. Dana yang dimiliki sebagai pembayaran uang muka sebesar Rp 300.000.000,00. Bank memesan kepada kontraktor rekanan untuk memenuhi pesanan ini. Kontraktor sanggup membangun ruko tersebut selama 7 bulan. Biaya yang dikeluarkan Bank sebelum akad

315

ditanda tangani sebesar Rp 2.500.000,00. Pada akhir April 2006 akad ditanda tangani antara Bank dengan Tuan Ma’ruf dan Bank juga menanda tangani akad dengan kontraktor rekanan dengan harga yang disepakati senilai Rp 650.000.000,00. Perlakuan akuntansinya: 1. pengakuan biaya pra akad

a. dikeluarkan biaya akad Beban pra-akad yang ditangguhkan Rp 2.500.000,00

Kas Rp 2.500.000,00

b. pada saat ada kepastian transaksi istishna - akad istishna ditanda tangani beban dikapitalisasi ke aktiva

Aktiva istishna dalam penyelesaian Rp 2.500.000,00

Beban pra-akad yang ditangguhkan Rp 2.500.000,00 - bila akad istishna tidak jadi ditanda tangani (pesanan batal)

Beban pra akad Rp 2.500.000,00 Beban pra-akad yang ditangguhkan Rp 2.500.000,00

2. pada saat nasabah/Tuan Ma’ruf menyerahkan uang muka

Kas Rp 300.000.000,00 Uang muka istishna Rp 300.000.000,00

3. pada saat pengeluaran biaya untuk memproduksi/membangun

Bank menerima tagihan dari kontraktor rekanan senilai Rp200.000.000,00 Aktiva istishna dalam penyelesaian Rp 200.000.000,00 Hutang Rp 200.000.000,00

4. pada saat pembayaran utang

Hutang Rp 200.000.000,00

316

Kas/rekening kontraktor Rp 200.000.000,00 Jurnal yang sama akan dibuat setiap kontraktor melakukan penagihan atas pekerjaan yang telah disepakati akadnya. 5. pada saat menagih ke pemesan

Bank menagih ke Tuan Ma’ruf atas pesanan rukonya yang sudah selesai 50 % sebesar Rp 300.000.000,00 Piutang Istishna Rp 300.000.000,00 Termin Istishna Rp 300.000.000,00

6. pada saat penerimaan pembayaran dari pemesan

Kas Rp 300.000.000,00

Piutang Istishna Rp 300.000.000,00

7. pada saat kontraktor rekanan menyerahkan ruko yang sudah jadi Bila digunakan metode kontrak selesai/akad selesai a. saat menerima barang dari kontraktor

Persediaan Barang istishna Rp 802.500.000,00 Aktiva istishna dalam penyelesaian Rp 802.500.000,00

b. saat penyelesaian akad dan penyerahan barang pesanan ke

pesanan Piutang istishna Rp 500.000.000,00 Uang muka istishna Rp 300.000.000,00 Persediaan brg istishna Rp 652.500.000,00 Pendapatan istishna Rp 147.500.000,00

4) Piutang pendapatan Ijarah

Ijarah adalah transaksi sewa menyewa atas sebuah aset. Dalam hal ini Bank berlaku sebagai pihak yang menyewakan.

Contoh:

317

Bank menyewakan mobil Panther yang baru dibeli pada tanggal 1 De-sember 2007 dengan harga sewa Rp 10.000.000,00/bulan. Sewa akan diterima setiap tanggal 7 di bulan berikutnya. Jurnal tanggal 31 Desember 2007 Piutang pendapatan Ijarah Rp 10.000.000,00 Pendapatan Ijarah Rp 10.000.000,00

g. Pembiayaan Mudharabah

Salah satu produk bagi hasil dari Bank Syariah adalah Mudharabah. Mudharabah adalah akad kerjasama usaha antara shahibul maal (pemilik dana) dan mudharib (pengelola dana) dengan nisbah bagi hasil menurut kesepakatan di muka dan jika usaha mengalami kerugian maka seluruh kerugian ditanggung pemilik dana kecuali indikasi kecurangan yang dilakukan pengelola dana (penyelewengan, penyalahgunaan dll).

Dalam hal ini Bank bertindak sebagai pemilik dana (shahibul maal) Perlakuan akuntansinya meliputi:

a. saat pembayaran pembiayaan Mudharabah dalam bentuk kas Contoh: Pada tanggal 5 Januari 2007, Bapak Hanif mengajukan pembiayaan untuk pembelian mesin packaging ke BPRS “Sejahtera”. Mesin yang dibeli sebanyak 10 unit dengan harga Rp 3.500.000,00/buah. Akad disetujui pada tanggal 10 Januari 2007 dan bagi hasil disepakati 70 % untuk Bapak Hanif sebagai pengelola dana dan 30 % untuk Bank. Bapak Hanif akan mengembalikan pembiayaan tersebut dalam jangka waktu 9 bulan. Jurnal saat penyerahan uang tunai Piutang mudharabah Rp 35.000.000,00 Kas Rp 35.000.000,00

b. saat penyerahan pembiayaan Mudharabah berbentuk non kas

318

misalkan mesin tersebut disediakan oleh pihak bank Piutang mudharabah Rp 35.000.000,00 Mesin packaging Rp 35.000.000,00

c. saat pengeluaran biaya dalam rangka akad Mudharabah Biaya yang dikeluarkan untuk akad Mudharabah sebesar Rp750.000,00. Uang Muka dlm rangka akad Mudharabah Rp 750.000,00 Kas Rp 750.000,00

d. pengakuan biaya-biaya yang dikeluarkan atas pemberian pembiayaan Mudharabah

1. berdasarkan kesepakatan diakui sebagai biaya

Biaya akad mudharabah Rp 750.000,00 Uang muka dlm rangka akad Mudharabah Rp 750.000,00

2. berdasarkan kesepakatan diakui sebagai pembiayaan

Pembiayaan mudharabah Rp 750.000,00 Uang muka dlm rangka akad Mudharabah Rp 750.000,00

e. bila sebagian pembiayaan mudharib hilang sebelum mulai usaha yang bukan disebabkan oleh kelalaian mudharib Sebuah mesin yang disediakan Bank ternyata rusak dan tidak bisa diperbaiki lagi .

Kerugian Pembiayaan mudharabah Rp 3.500.000,00 Pembiayaan mudharabah Rp 3.500.000,00

f. bila sebagian pembiayaan mudharib hilang setelah mulai usaha yang disebabkan oleh kelalaian mudharib

319

1. tidak dibuat jurnal dan 2. akan dikompensasi dengan pembagian bagi hasil pada waktu

akad diakhiri

g. bila akad telah jatuh tempo dan mudharib belum membayar Setelah jangka waktu 9 bulan,Bapak Hanif belum mengembalikan piutangnya Pembiayaan mudharabah jatuh tempo Rp 35.000.000,00

Pembiayaan mudharabah Rp 35.000.000,00

h. saat penerimaan keuntungan mudharabah Pada tanggal 30 September, Mudharib melaporkan adanya keuntungan bersih sebesar Rp 15.000.000,00 Piutang pendapatan bagi hasil Rp 4.500.000,00 Pendapatan bagi hasil Rp 4.500.000,00 Perhitungan: Keuntungan bersih Mudharib Rp 15.000.000,00 Bagi hasil bagian Bank 30 % x Rp 15.000.000,00 = Rp 4.500.000,00 Pada saat menerima bagi hasil secara tunai Kas Rp 4.500.000,00 Piutang pendapatan bagi hasil Rp 4.500.000,00

i. pelunasan pembiayaan mudharabah

Pada tanggal 5 Oktober Bapak Hanif melunasi pembiayaan mudharabah

Kas Rp 35.000.000,00

Pembiayaan mudharabah Rp 35.000.000,00 h. Pembiayaan musyarakah

320

Pembiayaan musyarakah hampir sama dengan pembiayaan mudharabah. Perbedaannya adalah dalam pembiayaan mudharabah keseluruhan dana berasal dari Bank, sedangkan kalau pembiayaan musyarakah baik Bank maupun nasabah sama-sama menyediakan dana untuk menjalankan usaha (patungan) baik usaha yang sudah berjalan maupun usaha yang baru. Cara pengembalian pembiayaan musyarakah oleh mitra: a. dikembalikan secara bertahap baik pokok pinjaman maupun bagi

hasilnya b. dikembalikan sekaligus baik pokok pinjaman maupun bagi hasilnya

pada akhir masa akad (jatuh tempo)

Bentuk pembiayaan musyarakah:

a. kas atau setara kas b. aktiva non kas berwujud c. aktiva non kas tidak berwujud (lisensi, paten dll)

Jenis pembiayaan musyarakah:

a. pembiayaan musyarakah permanen terjadi jika bagian modal dari setiap mitra ( bank dan nasabah) ditentukan sesuai akad dan jumlahnya tetap

b. pembiayaan musyarakah menurun terjadi bila bagian modal dari

Bank akan dialihkan secara bertahap kepada mitra (nasabah), sehingga makin lama dana(modal) dari Bank Bank makin lama makin menurun dan pada akhir masa akad, maka nasabah sudah mampu membiayai sendiri usahanya tanpa bergantung pada Bank.

Pembagian Laba/Rugi a. Bila dalam usaha mendapat laba:

1. laba dibagi secara proporsional sesuai dengan prosentase modal 2. laba dibagi sesuai dengan nisbah yang disepakati

b. Bila dalam usaha timbul rugi Rugi ditanggung secara proporsional sesuai dengan prosentase modal

321

Contoh Bank syariah ”Barokah” di Malang pada tanggal 1 Juli telah menanda tangani akad musyarakah dengan PT ” Sahabat” untuk melakukan usaha pembuatan oleh-oleh khas Malang. Dalam usaha tersebut Bank menyetor :

a. kas senilai Rp 300.000.000,00 b. mesin oven sebanyak 7 unit dengan nilai pasar Rp 5.000.000,00 c. mesin vacuum sebanyak 3 unit dengan nilai pasar

Rp15.000.000,00 d. mesin packaging 5 unit dengan harga wajar Rp 4.000.000,00

. PT ” Sahabat” menyetor kas senilai Rp 200.000.000,00 dan keahlian para karyawannya. Pembagian Keuntungan dan rugi yang timbul disepakati dibagi/ditanggung secara proporsional sesuai dengan perbandingan modal.

Jurnalnya:

a. saat penyerahan uang tunai dan aktiva non kas

Pembiayaan musyarakah Rp 400.000.000,00 Kas Rp 300.000.000,00 Aktiva non-kas Rp 100.000.000,00

b. saat pengeluaran biaya dalam rangka akad musyarakah Biaya yang dikeluarkan untuk akad musyarakah sebesar Rp2.500.000,00. UM dlm rangka akad musyarakah Rp 2.500.000,00 Kas Rp 2.500.000,00

c. pengakuan biaya-biaya yang dikeluarkan atas pemberian pembiayaan musyarakah

1. berdasarkan kesepakatan diakui sebagai biaya

Biaya akad musyarakah Rp 2.500.000,00 UM dalam rangka akad musyarakah Rp 2.500.000,00

322

2. berdasarkan kesepakatan diakui sebagai pembiayaan

Pembiayaan musyarakah Rp 2.500.000,00 UM dlm rangka akad musyarakah Rp 2.500.000,00

d. saat penerimaan keuntungan musyarakah Pada tanggal 30 September, mitra (nasabah) menyerahkan bagian keuntungan Bank Rp 10.000.000,00

Kas Rp 10.000.000,00 Keuntungan musyarakah Rp 10.000.000,00

e. pengakuan kerugian musyarakah Bila dalam usaha tersebut timbul kerugian sebesar

Rp7.500.000,00, kerugian tersebut akan ditanggung oleh Bank dengan perbandingan modal yang disetorkan, yaitu:

Modal Bank Rp 400.000.000,00 Modal nasabah (mitra) Rp 200.000.000,00 Perbandingannya adalah 4:2 atau 2:1 Jurnalnya: Kerugian Musyarakah Rp 5.000.000,00 Pembiayaan musyarakah Rp 5.000.000,00

f. pelunasan modal musyarakah dengan mengalihkan pembiayaan kepada mitra musyarakah lainnya

Pada tanggal 30 Desember 2007, mitra musyarakah melunasi sebesar Rp 200.000.000,00

Kas Rp 200.000.000,00 Pembiayaan musyarakah Rp 200.000.000,00

323

g. Bila yang dikembalikan adalah aktiva non kas dan ternyata ada penurunan nilai wajar aktiva tersebut

Misalkan yang dikembalikan adalah aset berupa:

a. mesin oven nilai pasar menjadi Rp 4.000.000,00 b. mesin vacuum nilai pasar sekarang Rp 14.000.000,00 c. mesin packaging harga wajarnya Rp 3.500.000,00 Jurnalnya: Aktiva non kas Rp 77.500000,00 Kerug. penyelesaian pembiy. musyarakah Rp 22.500.000,00

Pembiayaan musyarakah Rp 100.000.000,00 Bila aktiva non kas ternyata harga wajarnya lebih tinggi, yaitu:

a. mesin oven nilai pasar menjadi Rp 5.500.000,00 b. mesin vacuum nilai pasar sekarang Rp 16.000.000,00 c. mesin packaging harga wajarnya Rp 5.000.000,00

Jurnalnya:

Aktiva non kas Rp 110.500000,00

Keuntungan penyel. Pembiy. musyarakah Rp 10.500.000,00 Pembiayaan musyarakah Rp 100.000.000,00

Untuk pelunasan modal berikutnya baik berupa kas maupun non kas jurnalnya sama dengan jurnal f dan g.

i. Pinjaman Qardh

Pinjaman Qardh merupakan pinjaman yang tidak mensyaratkan adanya imbalan , tetapi peminjam diperkenankan untuk memberi imbalan. Bank hanya boleh mengenakan biaya administrasi. Jika pada akhir periode peminjam dana Qardh tidak dapat mengembalikan dana, maka pinjaman Qardh dapat diperpanjang atau dihapus bukukan. Contoh: Ibu Aminah adalah penjual bubur dan nasi lalapan, mengajukan pinjaman Qardh ke BPRS “Bhakti Nusa” Malang sebesar Rp 2.500.000,00 untuk

324

modal kerjanya. Biaya administrasi yang dibebankan Rp 100.000,00 dan akan dikembalikan 3 bulan lagi. Perlakuan akuntansinya:

a. pada saat realisasi Pinjaman Qardh Pinjaman Qardh Rp 2.500.000,00

Kas Rp 2.500.000,00 b. pada saat penerimaan biaya administrasi

Kas Rp 100.000,00 Pendpt. Operasional lain- Rp 100.000,00 pendpt adm.pinjaman Qardh

c. pada saat penerimaan bonus/imbalan Karena dagangannya laris, Ibu Aminah memberi imbalan sebesar Rp 150.000,00 Kas Rp 150.000,00 Pendpt. Operasional lain- Rp 150.000,00 pendpt adm.pinjaman Qardh

d. pada saat pelunasan pinjaman/cicilan Setelah 3 bulan Pinjaman Qardh dilunasi Kas Rp 2.500.000,00 Pinjaman Qardh Rp 2.500.000,00

e. pada saat menghapus Pinjaman Qardh Misalkan sebelum dilunasi, ibu Aminah sakit dan menyatakan tidak sanggup membayar pinjamannya

Cad. Penyisihan kerugian pinjaman Qardh Rp 2.500.000,00 Pinjaman Qardh Rp 2.500.000,00

325

Seperti pada bank konvensional, Bank syariah juga diwajibkan membuat Penyisihan atas Penghapusan Aktiva Produktif (PPAP). Penyisihan ini dibuat untuk menutup kemungkinan kerugian yang timbul sehubungan dengan penanaman dana ke dalam aktiva produktif.

Aktiva produktif di atas adalah aktiva yang paling besar memberikan sumbangan pendapatan bagi Bank, tetapi juga merupakan aset yang paling berisiko. Risiko dari kredit yang disalurkan dapat dilihat dari posisi tingkatan kolektibilitasnya yang terbagi menjadi:

1. Kolektibilitas Lancar 2. Kolektibilitas kurang Lancar 3. Diragukan dan 4. Macet Untuk mengantisipasi resiko, maka Bank Syariah diwajibkan

membentuk cadangan/ penyisihan terhadap aktiva produktif sesuai dengan klasifikasinya. Untuk memperbaiki Kualitas Aktiva Produktif yang pada akhirnya memperbaiki kinerja, maka Bank dapat menghapus bukukan kredit yang kolektibilitasnya tergolong Macet dari Neraca sebesar kewajiban nasabah tanpa menghapus hak tagih bank kepada nasabah.

Nasabah dalam pengertian ini adalah:

a. Pembeli pada transaksi murabahah b. Penjual/produsen pada transaksi salam c. Mudharib pada transaksi mudharabah d. Mitra pada transaksi musyarakah e. Penyewa pada transaksi Ijarah f. Peminjam pada transaksi Qardh

Pada akhir periode , Bank akan membuat jurnal penyesuaian untuk tiap-tiap jenis aktiva produktif. a. Piutang murabahah

1. Pada saat pembentukan penyisihan kerugian aktiva produktif Beban penyisihan kerug. aktiva produktif- Rp xxx piutang murabahah

Penyisihan kerugian aktiva produktif Rp xxx

326

2. Bila piutang dianggap non-performing pembatalan pengakuan pendapatan margin - Pendapatan marjin Rp xxx

Marjin murabahah ditangguhkan jatuh tempo Rp xxx - Tagihan kontinjensi-pendpt dlm penyelesaian Rp xxx Rekening lawan Rp xxx

Bank harus menambah pembentukan penyisihan piutang karena penurunan kualitas aktiva produktifnya

Jurnal yang dibuat sama dengan jurnal 1 yaitu:

Beban penyisihan kerug. aktiva produktif- Rp xxx piutang murabahah

Penyisihan kerugian aktiva produktif Rp xxx

3. penerimaan ganti rugi perusahaan asuransi/lembaga penjamin Kas Rp xxx

Pendpt.op.utama- ganti rugi perusahaan Rp xxx asuransi/lembaga penjamin

4. pada saat penghapusan aktiva produktif Perusahaan asuransi bila mengganti biasanya tidak 100%, oleh karena itu Bank tetap menanggung kerugian bila ada piutang yang non performing, sehingga bila ada piutang yang dihapus buku tetap mengurangi penyisihan kerugian aktiva produktif Penyisihan kerugian aktiva produktif Rp xxx Marjin yg ditangguhkan Rp xxx Pendpt.op.utama- ganti rugi perusahaan Rp xxx

asuransi/lembaga penjamin Agunan yg diambil-alih Rp xxx Piutang murabahah Rp xxx Memorial piutang murabahah yang dihapus-buku Rp xxx Rek.lawan Memorial piutang murabahah Rp xxx

yang dihapus-bukukan

327

5. Pada saat menerima setoran dari nasabah yang telah dihapus-bukukan

- Penerimaan setoran

Kas Rp xxx Penyisihan kerugian aktiva produktif Rp xxx

• pengakuan pendapatan marjin (bila setoran dari nasabah melebihi saldo pokok

Kas Rp xxx Pendapatan marjin Rp xxx

Jika piutang murabahah yang dihapusbukukan sudah diganti oleh perusahaan asuransi/lembaga penjamin

Kas Rp xxx Penyisihan kerugian aktiva produktif Rp xxx *) Kas Rp xxx**)

*) sebesar bagian Bank **) sebesar bagian perusahaan asuransi

Rek.lawan Memorial piutang murabahah Rp xxx yang dihapus-bukukan

Memorial piutang murabahah yang dihapus-buku Rp xxx b. Piutang Salam

pembentukan penyisihan tambahan karena penurunan kualitas aktiva produktifnya

Beban penyisihan kerug. aktiva produktif- Rp xxx Piutang Salam

Penyisihan kerugian aktiva produktif Rp xxx c. Piutang Istishna

Perlakuan akuntansinya hampir sama dengan piutang murabahah

328

1. Pembatalan pengakuan pendapatan bersih Istishna Pendapatan bersih Istishna Rp xxx Marjin Istishna ditangguhkan Rp xxx

Tagihan kontinjensi-pendpt dlm penyelesaian Rp xxx Rekening lawan Rp xxx

- Bank harus menambah pembentukan penyisihan piutang karena penurunan kualitas aktiva produktifnya

Beban penyisihan kerug. aktiva produktif- Rp xxx Piutang Istishna

Penyisihan kerugian aktiva produktif Rp xxx

2. pada saat penghapusan aktiva produktif Penyisihan kerugian aktiva produktif Rp xxx Marjin yg ditangguhkan Rp xxx Pendpt.op.utama- ganti rugi perusahaan Rp xxx

asuransi/lembaga penjamin Agunan yg diambil-alih Rp xxx Piutang Istishna Rp xxx

Memorial piutang murabahah yang dihapus-buku Rp xxx Rek.lawan Memorial piutang murabahah Rp xxx

yang dihapus-buku

3. Pada saat menerima setoran dari nasabah yang telah dihapus-buku

- Penerimaan setoran

Kas Rp xxx Penyisihan kerugian aktiva produktif Rp xxx

• pengakuan pendapatan marjin (bila setoran dari nasabah melebihi saldo pokok

Kas Rp xxx Pendapatan marjin Rp xxx

329

Jika piutang Istishna yang dihapusbukukan sudah diganti oleh perusahaan asuransi/lembaga penjamin

Kas Rp xxx Penyisihan kerugian aktiva produktif Rp xxx *) Kas Rp xxx**)

*) sebesar bagian Bank **) sebesar bagian perusahaan asuransi

Rek.lawan Memorial piutang murabahah Rp xxx yang dihapus-bukukan

Memorial piutang murabahah yang dihapus-buku Rp xxx d. Piutang Mudharabah/musyarakah

Perlakuan akuntansinya hampir sama dengan piutang murabahah dan Piutang Istishna yang terdiri dari : 1. pembatalan pengakuan pendapatan bagi hasil yang telah diakui

Pendapatan Bagi Hasil Rp xxx Piutang Bagi Hasil Rp xxx

Tagihan kontinjensi-pendpt dlm penyelesaian Rp xxx

Rekening lawan Rp xxx

- Bank harus menambah pembentukan penyisihan piutang karena penurunan kualitas aktiva produktifnya

Beban penyisihan kerug. aktiva produktif- Rp xxx piutang mudharabah/musyarakah

Penyisihan kerugian aktiva produktif Rp xxx

2. pada saat penghapusan aktiva produktif Penyisihan kerugian aktiva produktif Rp xxx Ganti rugi aktiva produktif yg diterima Rp xxx Perusahaan asuransi/lembaga penjamin

Agunan yg diambil-alih Rp xxx Piutang mudharabah/musyarakah Rp xxx

330

3. Pada saat menerima setoran dari nasabah yang telah dihapusbu-kukan

- Penerimaan setoran

Kas Rp xxx Penyisihan kerugian aktiva produktif Rp xxx

• pengakuan pendapatan marjin (bila setoran dari nasabah melebihi saldo pokok

Kas Rp xxx Pendapatan bagi hasil Rp xxx

Jika piutang murabahah/musyarakah yang dihapusbukukan sudah diganti oleh perusahaan asuransi/lembaga penjamin

Kas Rp xxx Penyisihan kerugian aktiva produktif Rp xxx *) Kas Rp xxx**)

*) sebesar bagian Bank **) sebesar bagian perusahaan asuransi

Rek.lawan Memorial piutang murabahah Rp xxx yang dihapusbukukan Memorial piutang murabahah yang dihapus-buku Rp xxx

j. Persediaan

Pada bank Syariah pengertian persediaan adalah aktiva non-kas yang tersedia untuk:

a. dijual dengan akad murabahah b. diserahkan sebagai bagian modal bank dalam akad pembiayaan

mudharabah/musyarakah c. disalurkan dalam akad Salam atau Salam Paralel d. aktiva istishna yang telah selesai tetapi belum diserahkan bank

kepada pembeli akhir

331

Yang tidak termasuk dalam pengertian persediaan di bank Syariah adalah: 1. aktiva istishna dalam penyelesaian 2. aktiva tetap yang digunakan oleh Bank 3. aktiva ijarah

Perlakuan Akuntansinya 1. Aktiva murabahah

Dalam praktik perbankan syariah,pembelian barang dengan akad murabahah dilakukan sendiri oleh nasabah. Oleh karena itu pada waktu penanda tanganan akad harus ada surat pernyataan dari Bank untuk mewakilkan pembelian barang. Bila barang dibeli sendiri oleh Bank, maka perlakuan akuntansinya dicontohkan di bawah ini. Contoh: Bank Syariah “Ghoniya” membeli sepeda motor sebanyak 10 unit @ Rp 11.000.000,00 yang akan dijual dengan akad murabahah. Uang muka sebesar 20%. Selama belum terjual, sepeda motor tersebut masih berada/dititipkan di dealer. Jurnalnya: a. saat pembayaran ke dealer

Persediaan-aktiva murabahah Rp 110.000.000,00

Kas Rp 110.000.000,00 b. saat penjualan

Pada bulan September terjual 3 unit dgn harga @ Rp12.500.000,00 Piutang murabahah Rp 37.500.000,00 Persediaan-aktiva murabahah Rp 33.000.000,00 Marjin murabahah yg ditangguhkan Rp 4.500.000,00

c. Bila terjadi penurunan nilai

Pada bulan Desember, sepeda motor yang tersisa tinggal 2 unit. Karena ada model baru, maka harga pokok sepeda motor ini turun menjadi Rp 10.250.000,00

332

Beban selisih penilaian akt. murabahah Rp 1.500.000,00 Selisih penilaian persediaan akt. Murabahah Rp 1.500.000,00

2. Persediaan dalam transaksi mudharabah/musyarakah

Pada saat aktiva non kas diserahkan dalam pembiayaan mudharabah/ musyarakah Dalam akad musyarakah yang telah ditanda tangani dengan Ibu Zulaikha seorang pengusaha garmen, Bank menyerahkan 2 buah mesin Singer model terbaru yang mempunyai harga pasar @ Rp12.000.000,00 Piutang mudharabah/musyarakah Rp 24.000.000,00 Persediaan –aktiva non kas Rp 24.000.000,00

mudharabah/musyarakah

3. Barang pesanan salam Pada saat Bank menerima barang dari penjual sesuai akad

Bank Syariah menerima beras organik dari nasabah binaannya setelah akad salam berakhir. Beras yang diterima sebanyak 10 ton dengan harga kesepakatan Rp 4.900,00/kg dan bila dijual harga pasarnya Rp 6.200,00/kg Persediaan-barang pesanan salam Rp 49.000.000,00

Piutang salam Rp 49.000.000,00

Pada saat penjualan persediaan dalam transaksi salam paralel Hutang Salam Rp 62.000.000,00 Persediaan barang pesanan Salam Rp 49.000.000,00 Pendapatan bersih Salam paralel Rp 13.000.000,00

4. Persediaan dalam transaksi Istishna

Pada saat penerimaan aktiva Istishna yang telah selesai dikerjakan kontraktor rekanan

333

Ruko yang dipesan Tuan Ali senilai Rp 800.000.000,00 telah selesai dikerjakan kontraktor rekanan. Akad yang disepakati bernilai Rp700.000.000,00. Persediaan-aktiva Istishna Rp 700.000.000,00 Aktiva Istishna dlm penyelesaian Rp 700.000.000,00 Pada saat penyerahan aktiva Istishna kepada pembeli akhir (nasabah Bank). Pencatatannya tergantung pada perlakuan pembayarannya. a. Jika sistem pembayaran secara tangguh (sekaligus saat

penyerahan aktiva Istishna Piutang Istishna Rp 800.000.000,00

Persediaan-aktiva Istishna Rp 700.000.000,00 Margin Istishna yg ditangguhkan Rp 100.000.000,00

b. Sistem pembayaran dengan menggunakan metode prosentase

penyelesaian .

Termin Istishna Rp xxx Persediaan-aktiva Istishna Rp xxx Pendapatan bersih Istishna Rp xxx

c. Sistem pembayaran dengan menggunakan metode pembayaran di muka

Hutang Istishna Rp xxx Persediaan-aktiva Istishna Rp xxx Pendapatan bersih Istishna Rp xxx

k. Aset Istishna dlm penyelesaian

Aktiva Istishna dalam penyelesaian adalah Aktiva Istishna yang masih dalam proses pembuatan a. pengakuan biaya pra-akad

Aktiva Istishna dalam penyelesaian Rp xxx

334

Beban pra akad yang ditangguhkan Rp xxx

b. pengeluaran biaya untuk memproduksi Aktiva Istishna dalam penyelesaian Rp xxx Hutang Istishna Rp xxx

c. Penyerahan barang Istishna dari kontraktor rekanan (menggunakan metode akad selesai)

Persediaan Rp xxx Aktiva Istishna dalam penyelesaian Rp xxx

l. Penyertaan Pada Entitas Lain

Adalah penanaman dana bank syariah dalam bentuk kepemilikan saham pada lembaga keuangan syariah yang lain untuk tujuan investasi jangka panjang baik dalam rangka pendirian maupun ikut serta dalam operasi lembaga keuangan lain dalam rangka restrukturisasi pembiayaan atau lainnya. Perlakuan akuntansinya sama penyertaan saham di Bank konvensional.

Metode Akuntansi untuk mencatat penyertaan adalah: - Metode Biaya digunakan bila jumlah penyertaan kurang dari 20 % - Metode Ekuitas digunakan bila jumlah penyertaan sama atau lebih

dari 20 % Pencatatan yang dibutuhkan:

saat melakukan penyertaan Bank “Harmoni” membeli 20 % saham berhak suara (100.000 lembar) Asuransi Takaful”X” seharga Rp 2.000.000.000,00.

Penyertaan pada entitas lain Rp 2.000.000.000,00 Kas Rp 2.000.000.000,00

saat perusahaan/investee mengumumkan laba/rugi

Pencatatan yang dilakukan tergantung metode yang dipakai.

335

Contoh: Asuransi Takaful”X” mengumumkan laba periode 2007 sebesar Rp300.000.000,00

Metode Biaya Tidak ada jurnal Metode Ekuitas Penyertaan pada entitas lain Rp 60.000.000,00 Pendapatan dividen Rp 60.000.000,00 Bila perusahaan rugi Rp 50.000.000,00 Rugi dividen Rp 10.000.000,00 Penyertaan pada entitas lain Rp 10.000.000,00

saat penerimaan dividen

Dividen yang dibagikan dari laba periode 2007 sebesar Rp 400,00 per lembar

Metode Biaya

Kas Rp 40.000.000,00 Pendapatan Dividen Rp 40.000.000,00 Metode Ekuitas Kas Rp 40.000.000,00 Penyertaan pada entitas lain Rp 40.000.000,00

saat pelepasan sebagian/seluruh saham

Bank menjual 20.000 lembar saham Asuransi Takaful “X” pada nilai nominal

336

Kas Rp 400.000.000,00

Investasi pada entitas lain Rp 400.000.000,00 Dalam pelepasan Penyertaan pada entitas lain sering terjadi terjual tidak pada nilai nominal, tetapi lebih besar atau lebih kecil. Cara pencatatannya sama dengan pelepasan saham biasa dengan mengakui adanya laba atau rugi yang timbul. m. Aset Tetap dan akumulasi penyusutan

Pengertian Aktiva Tetap yaitu aktiva berwujud yang diperoleh dalam bentuk siap pakai atau dibangun terlebih dahulu yang digunakan dalam operasi dan tidak akan dijual dalam jangka pendek dan mempunyai masa manfaat lebih dari satu tahun. . Aktiva Tetap dicatat sebesar Harga Perolehan. Dalam industri Perbankan kelompok Aktiva Tetap dijadikan satu dengan Inventaris (ATI) yang menurut aturan Bank Indonesia maksimum sebesar 5 % dari Total Asset.

Cara perolehan Aktiva Tetap bermacam-macam

- Pembelian Tunai

Contoh: Bank Syariah “Artha Sentosa” Cabang Malang membeli tanah seluas 500 meter seharga Rp 1.500.000,00 /m2. Biaya yang dikeluarkan agar tanah siap dibangun sebesar Rp 2.500.000,00, komisi makelar 5 % dari harga tanah, sedangkan biaya notaris untuk pengurusan surat-surat tanah Rp 10.0000.000,00 Harga Perolehan Tanah yang harus dicatat terdiri dari: Harga Tanah Rp 750.000.000,00 Komisi makelar (5%) Rp 37.500.000,00 Biaya perataan tanah Rp 2.500.000,00 Biaya notaris Rp 10.000.000,00 Rp 800.000.000,00 Jurnalnya: Aktiva Tetap & Inventaris- Tanah Rp 800.000.000,00

Kas Rp 800.000.000,00

337

Bila aktiva tetap berasal dari sumbangan: BPRS ”X” menerima sumbangan dari Dinas Koperasi berupa sepeda motor yang mempunyai harga wajar Rp 8.000.000,00 sebagai sarana untuk operasi dari dana program Dinkop untuk KOPONTREN yang dipercayakan kepada BPRS untuk mengelolanya.

Aktiva tetap Rp xxx

Modal Sumbangan Rp xxx

Perlakuan untuk pertukaran aktiva, pembebanan penyusutan termasuk metodenya, perbaikan/reparasi total, penghentian, penjualan dll perlakuannya sama dengan aktiva yang dimiliki Bank Konvensional ataupun perusahaan pada umumnya.

n. Aktiva Lain-lain

adalah aktiva yang tidak dapat secara layak digolongkan dalam pos-pos sebelumnya dan tidak cukup material disajikan sebagai pos tersendiri.

Komponen Aktiva lain-lain antara lain:

1. Aktiva tetap yang tidak digunakan 2. Beban dibayar dimuka 3. Beban yang ditangguhkan 4. Agunan yang diambil-alih 5. Emas batangan 6. Commemorative coin 7. Uang muka pajak

Contoh perlakuan Akuntansi dari Aktiva tetap yang tidak digunakan. 1. Sebuah kendaraan Kijang milik Bank Syariah “Amanah” sudah tidak

digunakan lagi karena dianggap boros bahan bakar. Harga perolehan mobil ini Rp 100.000.000,00 dan sudah disusutkan sebesar Rp55.000.000,00. Harga pasar mobil ini hanya Rp 35.000.000,00. Jurnalnya:

Aktiva lain-lain Rp 35.000.000,00 Akumulasi penyusutan Rp 55.000.000,00 Beban penurunan nilai aktiva Rp 10.000.000,00 Aktiva Tetap (kendaraan) Rp 100.000.000,00

338

Satu bulan kemudian bank memutuskan untuk menjual mobil tersebut dan ternyata laku senilai Rp 30.000.000,00.

Kas Rp 30.000.000,00 Rugi penjualan aktiva Rp 5.000.000,00 Aktiva lain-lain Rp 35.000.000,00 2. Bank telah menyita rumah dan bangunan yang berharga wajar

Rp 200.000.000,00 milik seorang nasabah dengan akad pembiayaan murabahah yang sudah jatuh tempo 3 tahun lalu. Piutang nasabah yang tersisa masih sebesar Rp 350.000.000,00 dan marjinnya Rp75.000.000,00

(kolektibilitas macet) Jurnalnya: Agunan yang diambil-alih Rp 200.000.000,00 Marjin murabahah yang ditangguhkan Rp 75.000.000,00 Penyisihan kerugian piutang murabahah Rp 75.000.000,00 Piutang murabahah Rp 350.000.000,00 Bila aktiva tetap ini dijual dan laku hanya Rp 190.000.000,00

Jurnalnya: Kas Rp 190.000.000,00 Rugi penjualan agunan yg diambil alih Rp 10.000.000,00 Aktiva lain-lain- agunan yg diambil alih Rp 200.000.000,00

Akuntansi Kewajiban

Kewajiban Bank terdiri dari:

a. Kewajiban segera b. Simpanan: - giro wadiah

- tabungan wadiah c. Simpanan dari bank lain:

- giro wadiah - tabungan wadiah

d. Kewajiban lain: i. utang salam ii. utang isthisna

e. Kewajiban kepada Bank lain f. Pembiayaan yang diterima g. Keuntungan yg sdh diumumkan tetapi

blm diberikan h. Utang Pajak

i. Utang lainnya j. Pinjaman subordinasi

339

Kewajiban segera

Adalah kewajiban bank kepada pihak lain yang sifatnya wajib segera dibayarkan sesuai dengan perintah pemberi amanat atau perjanjian yang ditetapkan sebelumnya. Kewajiban segera disajikan sebesar jumlah kewajiban Bank

Contohnya : a. Dana transfer/kiriman uang masuk/keluar, b. penerimaan pajak melalui Bank yg masih harus disetor, c. saldo rekening tabungan atau giro yang sudah jatuh tempo tetapi

belum diambil oleh pemilik rekening, d. kewajiban yang sudah jatuh tempo tetapi belum diambil oleh

nasabah seperti deposito mudharabah, setoran jaminan, bagi hasil yang belum diambil shahibul maal (pemilik dana).

Transfer uang

Contoh:

Tuan Amat mentransfer uang lewat Bank Syariah “Amanah” ke saudaranya yang mempunyai rekening di Bank Syariah “Aminah” sebesar Rp 15.000.000,00

- Pada saat menerima dana untuk transfer uang

Kas/ rekening …../kliring Rp 15.000.000,00 Kewajiban segera-kiriman uang Rp 15.000.000,00

- Pada saat dilakukan pembayaran kiriman uang

Kewajiban segera-kiriman uang Rp 15.000.000,00 Kas/ rekening …../kliring Rp 15.000.000,00

Titipan Pajak Nasabah

CV ”Barokah” menyetorkan uang senilai Rp 20.000.000,00 untuk membayar pajak tahun 2007 melalui Bank Syariah ”Ghoniya”.

340

Pada saat diterima dana untuk penyetoran pajak: Kas/ rekening …../kliring Rp 20.000.000,00

Kewajiban segera-pajak nasabah Rp 20.000.000,00

Pada saat kewajiban pajak disetor Kewajiban segera- pajak nasabah Rp 20.000.000,00 Kas/ rekening …../kliring Rp 20.000.000,00

Bagi hasil deposito yang belum diambil oleh shahibul maal

Deposito mudharabah Tuan Santosa senilai Rp 100.000.000,00 jangka waktu 3 bulan yang sudah jatuh tempo. Bagi hasil yang belum diambil senilai Rp 3.000.000,00

Jurnalnya: Pada saat pengakuan bagi hasil:

Beban bagi hasil deposito Rp 3.000.000,00 Kewajiban segera - bagi hasil deposito Rp 3.000.000,00 Mudharabah jatuh tempo

Pada saat bagi hasil deposito Mudharabah jatuh tempo diambil shahibul maal

Kewajiban segera- bagi hasil deposito Rp 3.600.000,00

Mudharabah jatuh tempo Kas/ rekening …../kliring Rp 3.000.000,00

Kewajiban segera-pajak nasabah (20%) Rp 600.000,00

Penutupan Rekening giro wadiah /tabungan Mudharabah

Tuan Avatar menutup tabungannya yang bernilai Rp 25.000.000,00.

Saat penutupan rekening giro wadiah /tabungan Mudharabah oleh nasabah atau Bank lain

341

Tabungan Avatar Rp 25.000.000,00 Kewajiban segera-penutupan rekening Rp 25.000.000,00

Saat penyelesaian rekening yang ditutup Kewajiban segera-penutupan rekening Rp 25.000.000,00 Kas/ rekening …../kliring Rp 25.000.000,00

AK

☺ ☺☺

KUNKO

☺ Peng

☺Akuntans

☺ Akuntan☺ Akuntan

342

NTANONSIN

gertian Pen☺ MetodeMetode Ti

si oleh Pennsi oleh Kosi Jika Ada☺ Contoh

2

NSI uNYA

njualan Kone Terpisah dak Terpis

ngamanat misioner (Ca Barang yh Transaksi

untuASI

nsinyasi

sah (ConsignoConsigneeyang Tersis

:

uk

or) e) a

343

AKUNTANSI UNTUK KONSINYASI

Setiap perusahaan selalu berusaha mencapai laba yang optimal. Berbagai upaya dilakukan untuk mencapai tujuan tersebut. Salah satu cara untuk menaikkan volume penjualan adalah melalui penjualan konsinyasi. PENGERTIAN PENJUALAN KONSINYASI

Konsinyasi adalah penjualan dengan cara pemilik menitipkan barang kepada pihak lain untuk dijualkan dengan harga dan syarat yang telah diatur dalam perjanjian. Perjanjian konsinyasi berisi mengenai hak dan kewajiban kedua belah pihak. Pihak-pihak yang terlibat dalam konsinyasi adalah:

344

1. pengamanat (consignor) adalah pihak yang menitipkan barang atau pemilik barang. Pengamanat akan tetap mencatat barang yang dititipkannya sebagai persediaan selama barang yang dititipkan belum terjual atau menunggu laporan dari komosioner.

2. komisioner (consignee) adalah pihak yang menerima titipan barang

Baik pengamanat (consignor) maupun komisioner (consignee) mendapat keuntungan dengan adanya konsinyasi ini. Bagi pengamanat (consignor) melalui konsinyasi secara tidak langsung dapat dijadikan sebagai sarana promosi produknya dan menaikkan omzet penjualan serta memperluas daerah pemasaran . Bagi komisioner (consignee) akan mendapat komisi bila berhasil menjualkan barang konsinyasi. Selain itu komisioner (consignee) tidak perlu menambah modal kerja untuk membeli persediaan barang dagangan dan tidak menanggung resiko kerugian bila barang yang dititipkan tidak laku karena dapat dikembalikan kepada pengamanat (consignor).

AKUNTANSI PENJUALAN KONSINYASI Metode pencatatan yang dapat dipakai baik oleh pengamanat (consignor) maupun komisioner (consignee) ada dua , yaitu: 1. Metode Terpisah 2. Metode Tidak Terpisah

1. Metode Terpisah

Dalam metode terpisah laba atau rugi dari penjualan konsinyasi disajikan secara terpisah dengan laba atau rugi penjualan biasa atau penjualan lainnya. Hal ini dilakukan dengan tujuan agar pada akhir periode dapat diketahui berapa laba atau rugi yang diperoleh dari penjualan konsinyasi dan berapa laba atau rugi yang diperoleh dari penjualan lainnya.

2. Metode Tidak Terpisah Dalam metode tidak terpisah laba atau rugi dari penjualan konsinyasi tidak dipisahkan dengan laba atau rugi dari penjualan biasa atau penjualan lainnya. Hal ini akan mengakibatkan pada akhir periode perusahaan tidak dapat mengetahui berapa laba atau rugi yang diperoleh dari penjualan konsinyasi dan berapa laba yang diperolah dari penjualan biasa atau penjualan lainnya. Untuk tujuan pengendalian intern sebaiknya perusahaan tidak menggunakan metode ini.

345

Untuk mengetahui bagaimana perlakuan akuntansi terhadap barang konsinyasi baik yang diselenggarakan oleh pihak pengamanat (consignor) maupun pihak komisioner (consignee), maka berikut ini dijelaskan Akuntansi yang diselenggarakan oleh masing-masing pihak. Pembahasan dimulai dengan penerapan pencatatan dengan:

1. metode terpisah oleh: a. pengamanat (consignor) maupun b. komisioner (consignee)

2. metode tidak terpisah oleh: a. pengamanat (consignor) maupun b. komisioner (consignee)

a. Akuntansi oleh Pengamanat (Consignor)

Setiap transaksi yang berhubungan dengan penjualan konsinyasi baik menyangkut pendapatan maupun biaya dicatat dalam rekening barang konsinyasi atau consigment out. Pengamanat (consignor) mencatat/menjurnal pada saat:

1. menitipkan barang ke komisioner (consignee) dan 2. menerima laporan konsinyasi serta uang dari komisioner

(consignee).

Transaksi yang berhubungan dengan pengiriman barang konsinyasi dan biaya-biaya penjualan konsinyasi akan didebit, misalnya: - Saat mengirimkan barang ke komisioner (rekening barang konsinyasi) - Biaya pengiriman barang ke komisioner - Biaya komisi - Biaya-biaya yang dikeluarkan oleh komisioner tetapi diganti oleh

pengamanat.

Transaksi yang berhubungan dengan hasil penjualan barang konsinyasi dan pendapatan konsinyasi akan di kredit, yaitu:

- Saat mencatat pendapatan konsinyasi - laba konsinyasi. - Saat menerima laporan tentang hasil penjualan barang konsinyasi

(rekening barang konsinyasi) Jadi rekening barang konsinyasi (consigment out) dicatat baik didebit maupun dikredit. Di debit saat Barang dikirim ke pengamanat dan dikredit

346

saat barang yang dititipkan tersebut benar-benar sudah terjual berdasarkan laporan dari pihak consignee (komisioner) b. Akuntansi oleh Komisioner (Consignee)

Bagi Consignee setiap transaksi pendapatan yang berhubungan dengan penjualan konsinyasi dimasukkan ke dalam rekening barang komisi atau consignment in.

Komisioner hanya membuat jurnal saat:

a. menjual barang konsinyasi, b. mengeluarkan biaya-biaya yang berhubungan dengan konsinyasi c. mencatat pendapatan komisi dan d. pengiriman uang ke pengamanat (consignor)

Sesaat sebelum melaporkan ke pengamanat (consignor), komisioner terlebih dahulu menghitung pendapatan komisi.

Kemungkinan- kemungkinan yang berhubungan Laporan Konsinyasi:

a. Komisioner dapat hanya mengirim laporan konsinyasi saja ke pengamanat, sedangkan uangnya dikirim beberapa waktu kemudian. Jadi saat mengirim laporan pada komisioner timbul utang pengamanat.

b. Komisioner bisa langsung mengirim laporan konsinyasi beserta uang

ke pengamanat. Transaksi yang berhubungan dengan biaya-biaya penjualan konsinyasi, akan didebit, misalnya: - Biaya-biaya yang dikeluarkan komisioner tetapi akan diganti oleh

pengamanat. - Pendapatan komisi yang belum diterima - Melaporkan penjualan konsinyasi kepada pengamanat - Membayar uang kepada pengamanat Transaksi yang berhubungan dengan pendapatan konsinyasi akan dikredit yaitu mencatat hasil penjualan barang komisi.

Jadi rekening barang komisi (consigment in) dicatat baik didebit maupun dikredit. Di debit saat barang komisi diterima dari pengamanat dan dikredit saat barang komisi terjual kepada pihak lain.

347

Contoh :

Pada tanggal 1 Juli 2007 Karoseri ”Maju Sekali” yang baru beberapa bulan beroperasi menitipkan 5 buah bak truk ke karoseri ”Mapan Sekali” untuk dijualkan dengan harga pokok bak truk senilai Rp 10.000..000,00 per buah. Dalam perjanjian karoseri ”Mapan Sekali” memperoleh komisi 20% dari penjualan dan biaya-biaya yang dikeluarkan oleh karoseri ”Mapan Sekali” akan diganti oleh Karoseri ”Maju Sekali”.

1. Metode Terpisah Pencatatan/jurnal yang harus dibuat baik oleh Karoseri ”Maju Sekali” sebagai pihak Pengamanat maupun karoseri ”Mapan Sekali” sebagai Komisioner diringkas dalam tabel berikut:

Keterangan Pengamanat/Maju Sekali (dalam ribuan rupiah)

Komisioner/ Mapan Sekali (dalam ribuan rupiah)

1 Juli 2007 Memo Pengiriman 5 buah bak

truk ke komisioner dengan harga pokok

Rp 10.000.000,00/buah

Barang konsinyasi 50.000 Persediaan 50.000

(Menerima titipan 5 buah bak truk dengan harga pokok Rp 10.000.000,00 perbuah, komisi 20% dari hasil penjualan)

Biaya pengiriman ke komisioner Rp 1.000.000,00

Barang Konsinyasi 1.000 Kas 1.000

1 Juli - 20 Desember Penjualan 5 bh bak truk

dengan harga jual Rp 14.000.000,00 per

buah

Kas 70.000 Barang Komisi 70.000

Ongkos angkut ke pembeli akhir sebesar Rp

2.500.000,00

Barang Komisi 2.500 Kas 2.500

21 Desember 2007 Komisioner melaporkan hasil penjualan barang komisi ke pengamanat Pendapatan Komisi:

20%xRp 70.000.000,00 = Rp 14.000.000,00

Brg Komisi 14.000 Pendptn Komisi 14.000

Mengirim laporan hasil penjualan

Nilai Brg Komisi = 70.000–2.500–14.000 = 53.500

Piutang Mapan Sekali 53.500 Brg Konsinyasi 16.500

Barang Konsinyasi 70.000 Barang Konsinyasi 19.000

Laba Konsinyasi 19.000

Brg Komisi 53.500 Utang Maju Sekali 53.500

Mengirim uang yg menjadi hak Karoseri Maju Sekali

Kas 53.500 Piut. Mapan Sekali 53.500

Utang Maju Sekali 53.500 Kas 53.500

348

Bentuk laporan yang dikirim oleh komisioner kepada pengamanat tidak ada standar yang pasti. Pada prinsipnya laporan tersebut berisi pertanggung jawaban pihak komisioner terhadap barang yang sudah dititipkan oleh pihak pengamanat. Di bawah ini diberikan laporan yang disesuaikan dengan contoh kasus

Karoseri Bak Truk ” Mapan Sekali” Jl Bali Km 5 Malang

No. 007 Kepada Yth: Karoseri ”Maju Sekali” Jl. Lombok Km 7 Malang

Tanggal Keterangan Jumlah (dlm ribuan rp)

1 Juli – 20 Desember 2007

Penjualan 5 bh Bak Truk 70.000

Biaya-biaya: - Biaya-biaya: Bi. Angkut 2.500 Biaya Komisi 14.000 Jumlah (16.500) 53.500 Dibayar 53.500 Sisa 0

Tertanda

(Ir Supriyono) Direktur Pemasaran

2. Metode Tidak Terpisah

Akuntansi yang diselenggarakan oleh masing-masing pihak sebagai berikut:

a. Akuntansi Oleh Pengamanat Karena pencatatannya tidak dipisahkan dengan penjualan biasa atau penjualan lainnya maka tidak ada perbedaan dalam membuat jurnalnya. Dengan demikian pendapatan dan biaya dari penjualan konsinyasi dicatat seperti halnya pendapatan dan biaya yang diperoleh dari penjualan biasa atau penjualan lainnya.

349

Pengamanat membuat jurnal saat:

mengeluarkan biaya pengiriman ke komisioner, menerima laporan konsinyasi dan menerima uang dari komisioner.

b. Akuntansi Oleh Komisioner Seperti halnya pencatatan yang dilakukan oleh Pengamanat, pada buku komisioner bila penjualan barang komisi tidak dipisahkan dengan penjualan biasa dan penjualan lainnya, jurnal yang dibuat juga sama caranya sehingga tidak ada keistimewaan. Pendapatan dan biaya yang berhubungan dengan kegiatan komisioner dicatat seperti halnya pendapatan dan biaya yang berhubungan dengan penjualan biasa atau penjualan lainnya. Komisioner membuat jurnal:

• saat mengeluarkan biaya yang berhubungan dengan kegiatan komisioner,

• saat penjualan barang komisi dan • saat mengirimkan laporan konsinyasi ke pengamanat serta • saat mengirimkan uang kepada pengamanat.

Contoh: Pada tanggal 1 Juli 2007 Karoseri ”Maju Sekali” yang baru beberapa bulan beroperasi menitipkan 5 buah bak truk ke karoseri ”Mapan Sekali” untuk dijualkan dengan harga pokok bak truk senilai Rp 10.000..000,00 per buah. Dalam perjanjian karoseri ”Mapan Sekali” memperoleh komisi 20% dari penjualan dan biaya-biaya yang dikeluarkan oleh karoseri ”Mapan Sekali” akan diganti oleh Karoseri ”Maju Sekali”

Keterangan Pengamanat/Maju Sekali (dalam ribuan rupiah)

Komisioner/ Mapan Sekali (dalam ribuan rupiah)

1 Juli 2007

Memo

Pengiriman 5 buah bak truk ke komisioner dengan harga pokok Rp 10.000.000,00/buah

(Menitipan 5 buah bak truk dengan harga pokok Rp 10.000.000,00 per buah komisi 20% dari hasil penjualan)

(Menerima titipan 5 buah bak truk dengan harga pokok Rp10.000.000,00 perbuah, komisi 20% dari hasil penjualan)

Biaya pengiriman ke ko-misioner Rp 1.000.000,00

Ongkos kirim 1.000 Kas 1.000

-

350

1 Juli - 20 Desember

Penjualan 5 bh bak truk dengan harga jual Rp 14.000.000,00 per buah

Kas 70.000 Barang Komisi 70.000

Pembelian 56.000 Utg Maju Sekali 56.000

Ongkos angkut ke pembeli akhir sebesar Rp2.500.000,00

Utg Maju Sekali 2.500 Kas 2.500

21 Desember 2007

Mengirim laporan hasil penjualan

Piutang Mapan Sekali 53.500 Bi. Komisi 14.000 Bi. Kirim 2.500

Penjualan 70.000

-

Mengirim uang yang menjadi hak Karoseri Maju Sekali

Kas 53.500 Piutang Mapan Sekali 53.500

Utang Maju Sekali 53.500 Kas 53.500

Bentuk laporan transaksi barang konsinyasi yang dikirimkan komisioner kepada pengamanat baik menggunakan metode terpisah maupun metode tidak terpisah adalah sama. Bagaimana kalau barang yang dititipkan (barang konsinyasi) masih tersisa?

Contoh yang diberikan di bagian sebelumnya adalah apabila komisioner berhasil menjual semua barang konsinyasi. Dalam praktek, hal ini jarang terjadi. Pada akhir periode tertentu, seringkali masih terdapat barang konsinyasi yang tersisa. Bila hal ini terjadi maka hal-hal yang perlu diperhatikan:

a. hanya barang yang terjual saja yang dilaporkan oleh komisioner ke

pihak pengamanat. Selama barang konsinyasi tetap berada di pihak komisioner, maka tidak ada pencatatan yang perlu dibuat, baik oleh pengamanat maupun komisioner. Bila barang konsinyasi ditarik, maka pengamanat akan menambah nilai persediaannya sebesar harga pokok barang konsinyasi yang ditarik tersebut dan dilain pihak komisioner akan membuat memo atas barang yang ditarik tersebut.

b. Ongkos angkut dibebankan secara proporsional ke barang konsinyasi

351

c. Pengamanat harus mencatat berapa harga pokok yang melekat pada barang konsinyasi yang belum terjual

Berikut ini adalah contoh apabila barang konsinyasi tidak semuanya laku terjual.

Toko elektronik ”CC” di Surabaya pada tanggal 15 Maret 2006i menitipkan 5 buah kulkas dan 10 buah Tape Compo ke toko elektronik ”DD” di Malang untuk dijualkan. Harga pokok Kulkas Rp 4.000.000,00/buah sedangkan Tape Compo berharga pokok Rp 2.000.000,00/buah. Komisi penjualan sesuai kesepakatan sebesar 10 % dan barang konsinyasi dijual dengan harga masing-masing Rp 5.000.000,00 untuk kulkas dan Rp 2.500.000,00 untuk Tape Compo. Jurnal yang dibuat komisioner (Toko ”DD”) dan Pengamanat (Toko ”CC”) adalah sebagai berikut: Metode Terpisah

Keterangan Pengamanat (Toko “CC”) (dlm ribuan rupiah)

Komisioner (Toko”DD”)(dlm ribuan rupiah)

15 Maret 2006 Pengiriman ke komisioner 5 buah kulkas dan 10 buah Tape Compo dengan harga pokok Rp 4.000.000,00 dan Rp 2.000.000,00

Brg konsinyasi 40.000 Persediaan 40.000

Biaya pengiriman ke komisioner Rp 450.000,00

Brg konsinyasi 500 Kas 500

15 Maret- 30 Nopember Penjualan 3 bh kulkas dan 8 buah tape compo dengan komisi 10%

Kas 35.000 Barang Komisi 35.000

Ongkos angkut ke pembeli berjumlah Rp 1.100.000,00

Brg Komisi 1.000 Kas 1.000

1 Desember 2006 Komisioner melaporkan hasil penjualan barang komisi ke pengamanat beserta uang. Perhitungan komisi: 10%xRp 35.000.000,00 = Rp 3.500.000,00

Kas 30.400 Brg Konsinyasi 4.600

Barang Konsinyasi 35.000 Brg Konsinyasi 2.290

Laba Konsinyasi 2.290

Barang Komisi 3.500 Pendptn Komisi 3.500

Barang Komisi 30.500 Kas 30.500

352

Perhitungan:

(dlm Rp 000,00)

(dlm Rp000,00)

(dlm Rp 000,00)

Penjualan: Kulkas 3 x 5.000 = 15.000 Tape Compo 8 x 2.500 = 20.000 35.000 Harga Pokok Pen-jualan

Kulkas Tape Compo

3 x 4.000 = 8 x 2.000 =

12.000 16.000

(28.000) Biaya-biaya Ongkos angkut dr pengamanat ke

komisioner 11/15 x 450 = 330

dr komisioner ke pembeli

1.100

1.430 Biaya komisi 10 %x35.000 3.500 (4.830) Laba 2.170

Kas yang diterima/dikirim= Rp 35.000.000 - Rp1.100.000 - Rp3.500.000 = Rp 30.400.000

Metode Tidak Terpisah

Keterangan Pengamanat (Toko “CC”) (dlm ribuan rupiah)

Komisioner (Toko”DD”) (dlm ribuan rupiah)

15 Maret 2006 Memo Memo Pengiriman ke

komisioner 5 buah kulkas dan 10 buah Tape

Compo dengan harga pokok Rp 4.000.000,00 dan Rp 2.000.000,00

Biaya pengiriman ke komisioner Rp

450.000,00

Memo Memo

15 Maret- 30 Nopember

Penjualan 3 bh kulkas dan 8 buah tape compo

dengan komisi 10%

Kas 35.000 Penjualan 35.000

BPP 28.000 Utg toko “CC " 28.000

Ongkos angkut ke pembeli berjumlah Rp

1.100.000,00

Utg toko “CC " 1.100

Kas 1.100

353

1 Desember 2006 Komisioner melaporkan hasil penjualan barang komisi ke pengamanat

beserta uang. Perhitungan komisi:

10%xRp 35.000.000,00 = Rp 3.500.000,00

Kas 30.400 Bi. Angkut 330 Bi. Komisi 3.500 Persediaan Brg Kms 770

Penjualan 35.000

Utg toko “CC " 30.400 Kas 30.400

Berikut ini adalah alokasi Beban pokok penjualan dan biaya-biayanya lainnya ke barang yang terjual dan barang yang masih berada di komisioner.

Keterangan Total Biaya

(dlm ribuan rupiah)

Biaya yg Melekat pd Brg yg Terjual (dlm Rp 000,00)

Harga Pokok yg melekat pada brg

yg blm terjual (dlm Rp 000,00)

Biaya-2 yg dikirimkan oleh pengamanat

- BPP 50.000 35.000 15.000 - Bi. Kirim 450 330 120

Biaya-2 yg dikeluar-kan oleh komisioner

- Bi. Angkut 1.100 1.100 - Bi. Komisi 3.500 3.500 - Total 55.050 39.930 15.120 Saldo rekening barang konsinyasi pada tanggal 1 Agustus 2007, 31 Oktober 2007 dan 1 November 2007 adalah sebagai berikut:

354

Barang Konsinyasi Toko Mekar

1 Agustus 2007 (dlm Rp000,00)

30 Oktober 2007 (dlm Rp000,00)

Pengiriman 5 bh almari Harga Pokok @ Rp 500.000,00

2.500 Penjualan 3 bh 2.400

1 Agustus 2007 30 Oktober 2001 Biaya Kirim 100 - Harga Pokok 2 bh 31 Oktober 2007 @ Rp 500.000,00 1.000 Dikeluarkan oleh komisioner: - Biy. Kirim - Bi Angkut Rp 200.000,00 2/5x100.000 40 - Bi Komisi Rp 480.000,00 680 - Biy. Angkut 30 Oktober 2007 2/5x 200.000 80 Laba penjualan 3 buah almari 240 Saldo 1.120 Jumlah 3.520 Jumlah 3.620 1 November 2007 Biaya 2 buah almari Bentuk laporan yang dikirim oleh komisioner kepada pengamanat adalah sebagai berikut:

Toko Jaya Jl. Dr. Sutomo No. 14 Yogyakarta

Tanggal 1 November 2007 Kepada Yth: Toko Mekar Jl. Gadjah Mada No. 5

Yogyakarta No. 53746 Tanggal Keterangan Jumlah

(dalam ribuan rupiah) 1 Agustus-31 Oktober Penjualan: 3 bh almari@

Rp 800.000,00 2.400

Sisa 2 bh almari Biaya-biaya: - Bi Angkut 200 - Bi Komisi 480 (680) Jumlah 1.720 Dibayar 1.720 Sisa 0

Tanda tangan

(Usman SE) Direktur Pemasaran

355

SOAL DAN PENYELESAIAN Soal Berikut ini adalah laporan dari komisioner kepada pengamanat: Toko Mekar Electronic Jl. Pemuda No. 40 Yogyakarta Kepada Yth: Toko Maju Jl. Sukarno Hatta No. 11 Jakarta

Tanggal Keterangan Jumlah (dlm ribuan rupiah)

15-9-2007 s/d 31-12-2007

Penjualan: 7 bh televisi@ Rp 2.000.000,00

14.00

Sisa 3 bh televisi Biaya-biaya: - Bi Angkut 1.000 - Bi Komisi 10% dari penjualan 1.400 (2.400) Jumlah 11.600 Dibayar (11.600) Sisa 0

Yogyakarta, 21-12-2007

Tanda tangan

(Usman SE) Direktur Pemasaran

Harga pokok televisi per buah adalah Rp. 1.100.000,00 Diminta: Buat jurnal yang ada di komisioner dan pengamanat, apabila menggunakan metode: a) Terpisah; dan b) Tidak terpisah Penyelesaian Di halaman berikutnya

356

a. Metode terpisah

Keterangan Pengamanat (dlm ribuan rupiah)

Komisioner (dlm ribuan rupiah)

Pengiriman barang dagangan ke komisioner 10 bh x Rp 1.100.000,00=Rp

11.000.000,00

Barang konsinyasi 11.000 Peng. Brg Kom 11.000

Memo

Penjualan oleh komisioner 7 bh x Rp 2.000.000,00 =

Rp 14.000.000,00

Kas 14.000 Brg. Komisi 14.000

Biaya yang dikeluarkan oleh komisioner

Brg. Komisi 1.000 Kas 1.000

Pengiriman laporan dan uang dari komisioner ke

pengamanat

Kas 11.600 Brg. Konsinyasi 2.400

Barang konsinyasi 14.000

Brg. Komisi 1.400 Pndptn Komisi 1.400

Brg. Komisi 11.600 Kas 11.600

b. Metode tidak terpisah

Keterangan Pengamanat (dlm ribuan rupiah)

Komisioner (dlm ribuan rupiah)

Pengiriman barang dagangan ke komisioner 10 bh x Rp 1.100.000,00=Rp

11.000.000,00

Memo Memo

Penjualan oleh komisioner 7 bh x Rp 2.000.000,00 =

Rp 14.000.000,00

Kas 14.000 Penjualan 14.000

Pembelian 12.600 Utang Tk Maju 14.600

Biaya yang dikeluarkan oleh komisioner

Utang Tk Maju 1.000 Kas 1.000

Pengiriman laporan dan uang dari komisioner ke

pengamanat

Kas 11.600 Biaya Angkut 1.000 Biaya komisi 1.400

Penjualan 14.000

Utang Tk. Maju 11.600 Kas 11.600

PAK

PENJ

☺ Pe

☺ C

KUNJUAL

☺ Peng☺ Perhitung

☺ Per☺ Pemb

enjualan An

Contoh Tra

357

NTANLAN

gertian Pengan Bungarlakuan Akbatalan Pengsuran unBarang Tidnsaksi dan

7

NSI u ANG

njualan Ana dan Penckuntansi Laenjualan Antuk Barandak Bergern Laporan K

untuGSUR

ngsuran catatannyaainnya ngsuran g Bergerakrak Keuangan

:

uk RAN

a

k dan

nya

N

358

AKUNTANSI untuk PENJUALAN ANGSURAN

(Installment Sales)

1. PENGERTIAN PENJUALAN ANGSURAN Penjualan menurut akuntansi, dikelompokkan menjadi 2 (dua),

yaitu penjualan biasa dan penjualan angsuran. Penjualan biasa terdiri dari penjualan tunai dan penjualan kredit. Penjualan tunai adalah penjualan yang pembayarannya langsung lunas (diterima sekaligus). Penjualan kredit adalah penjualan yang pembayarannya tidak diterima sekaligus (tidak langsung lunas) pembayarannya bisa diterima melalui 2 (dua) tahap atau lebih. Penjualan angsuran adalah penjualan yang pembayarannya tidak diterima sekaligus (tidak langsung lunas), tetapi pembayarannya diterima melalui lebih dari 2 (dua) tahap. Istilah penjualan angsuran dengan penjualan kredit hampir sama, tetapi penjualan kredit yang dibayar hanya 2 X pembayaran bukan merupakan penjualan angsuran.

359

Untuk menghindari resiko karena pembeli tidak membayar dan supaya penjual tidak mengalami kerugian, maka biasanya saat membeli ada beberapa perjanjian, antara lain:

1. Pada saat membeli disertai dengan meninggalkan jaminan ke

penjual. 2. Hak kepemilikan barang berpindah ke pembeli, kalau pembayarannya

sudah lunas.

2. PERHITUNGAN BUNGA (Interest) pada PEN-JUALAN ANGSURAN dan PENCATATANNYA Dalam setiap penjualan angsuran ada bunga yang ditanggung

oleh pembeli. Dengan demikian setiap angsuran yang dibayarkan pembeli terdiri dari angsuran pokok pinjaman dan bunga yang diperhitungkan. Macam-macam perhitungan bunga yang dapat dipakai dalam penjualan angsuran yaitu:

1. Bunga dihitung dari pokok pinjaman 2. Bunga dihitung dari sisa pinjaman 3. Sistem anuitas (bunga semakin menurun dan angsuran pokok

pinjaman meningkat) Penjelasannya adalah sebagai berikut: 1. Bunga dihitung dari pokok pinjaman/sistem bunga tetap dan angsuran

pokok tetap.

Dalam metode ini besarnya bunga dihitung dari pokok pinjaman sehingga besarnya bunga adalah tetap.

2. Bunga dihitung dari sisa pinjaman/Sistem bunga menurun dan angsuran pokok pinjaman tetap.

Besarnya bunga dihitung dari saldo pinjaman awal periode, tergantung periodenya bulanan atau tahunan. Kalau angsuran bulanan, bunga didasarkan pada saldo awal bulan. Kalau angsuran tahunan, maka bunga didasarkan pada saldo awal tahun. Jumlah bunga semakin lama semakin turun.

3. Sistem anuitas

Besarnya bunga dihitung menggunakan rumus anuitas. Dengan menggunakan rumus anuitas jumlah angsuran tetap tetapi jumlah bunga semakin menurun, sedangkan angsuran pokok semakin meningkat.

360

Contoh serta perlakuan akuntansinya Pada tanggal 5 April 2007, dealer “Dwijaya” menjual sebuah sepeda motor Suzuki dengan harga Rp 15.000.000 dan cara pembayaran adalah: - Uang muka Rp 7.000.000,00. - Sisanya sebesar Rp 8.000.000,00 diangsur sebanyak 4 kali setiap

bulan yaitu setiap tanggal 5. Angsuran pertama dimulai pada tanggal 5 Mei 2007.

- Bunga yang dibebankan sebesar 5% per bulan. Bunga Dihitung dari Pokok Pinjaman

Besarnya bunga, pokok pinjaman, dan jumlah kas yang diterima dalam setiap angsuran adalah sebagai berikut:

Tanggal Angsuran Pokok

Pinjaman (Rp) (1) = 8.000.000 : 4

Bunga (Rp)(2)=5 % x 8.000.000

Kas yg Diterima/

Dibayar (Rp)

(3)= (1) + (2)

Sisa Pinjaman (4) = (4)

awal – (1)

5-4-07 - 7.000.000 8.000.0005-5-07 2.000.000 400.000 2.400.000 6.000.0005-6-07 2.000.000 400.000 2.400.000 4.000.0005-7-07 2.000.000 400.000 2.400.000 2.000.0005-8-07 2.000.000 400.000 2.400.000

Jumlah 8.000.000 1.600.000 16.600.000

Jurnal yang harus dibuat Pembeli dan Penjual adalah:

Keterangan Jurnal Yang Dibuat Pembeli Jurnal Yang Dibuat Penjual 5 April 2007 Pembelian 15.000.000 Kas 7.000.000 Saat Jual-Beli Utg Pembelian

Angsuran 8.000.000 Piut. Penj. Angs 8.000.000

Kas 7.000.000 Penj. Angs 15.000.0005 Mei 2007 Utg Pembelian Angs 2.000.000 Kas 2.400.000 Angsuran 1 Biaya bunga 400.000 Piut Penj Angs 2.000.000 Kas 2.400.000 Pendapatan bunga 400.000 5 Juni 2007 Utg Pembelian Angs 2.000.000 Kas 2.000.000 Angs. Kedua Biaya bunga 400.000 Piut Penj Angs 2.000.000 Kas 2.400.000 Pendapatan bunga 400.000

361

Untuk angsuran ke 3 dan ke 4 cara membuat jurnal adalah sama.

Bunga dihitung dari sisa pinjaman Pada tanggal 5 April 2007, dealer “Dwijaya” menjual sebuah sepeda motor Suzuki dengan harga Rp 15.000.000 dan cara pembayaran adalah: - Uang muka Rp 7.000.000,00 - Sisanya sebesar Rp 8.000.000,00 diangsur sebanyak 4 kali setiap

bulan yaitu setiap tanggal 5. Angsuran pertama dimulai pada tanggal 5 Mei 2007

- Bunga yang dibebankan sebesar 5% per bulan Besarnya bunga, pokok pinjaman, jumlah kas yang diterima/dibayar setiap angsuran adalah sebagai berikut:

Tanggal Angsuran

Pokok Pinjaman (Rp)

(1) = 8.000.000 : 4

Bunga (Rp) (2)=5 % x (4)

awal

Kas yg Diterima/Dibayar

(Rp) (3)= (1) + (2)

Sisa Pinjaman

(4) = (4) awal – (1)

5-4-2007 - 7.000.000 8.000.0005-5-2007 2.000.000 400.000 2.400.000 6.000.0005-6-2007 2.000.000 300.000 2.300.000 4.000.0005-7-2007 2.000.000 200.000 2.200.000 2.000.0005-8-2007 2.000.000 100.000 2.100.000 -

Jumlah 8.000.000 800.000 16.000.000

Jurnal yang harus dibuat adalah:

Keterangan Jurnal Yang Dibuat Pembeli (dlm Rp,00) Jurnal Yang Dibuat Penjual (dlm Rp,00)

5 April 2007 Pembelian 15.000.000 Kas 7.000.000 Saat Jual-Beli Utg Pembelian Angs 8.000.000 Piut. Penj. Angs 8.000.000 Kas 7.000.000 Penj. Angs 15.000.0005 Mei 2007 Utg Pemb Angs 2.000.000 Kas 2.400.000 Angsuran I Biaya bunga 400.000 Piut Penj Angs 2.000.000 Kas 2.400.000 Pendapatan bunga 400.000 5 Juni 2007 Utg Pemb. Angs 2.000.000 Kas 2.300.000 Angsuran II Biaya bunga 300.000 Piut Penj Angs 2.000.000 Kas 2.300.000 Pendapatan bagi 300.000

Sistem Anuitas Bila menggunakan sistem anuitas, maka jumlah kas yang diterima/ dibayar setiap bulan dicari dengan rumus sebagai berikut:

362

NA = Pan

SP>

Keterangan: NA = Nilai angsuran per periode SP = Sisa penjualan semula an>P = Nilai tunai dari Rp 1,00 yang akan diterima setiap periode selama

‘n' periode yang akan datang dengan tingkat bunga ‘p%’ per periode. Nilai ini dapat dilihat pada tabel bunga atau dihitung sendiri dengan memakai rumus deret ukur menurun.

Pada tanggal 5 April 2007, dealer “Dwijaya” menjual sebuah sepeda motor Suzuki dengan harga Rp 15.000.000 dan cara pembayaran adalah: - Uang muka Rp 7.000.000,00 - Sisanya sebesar Rp 8.000.000,00 diangsur sebanyak 4 kali setiap

bulan yaitu setiap tanggal 5. Angsuran pertama dimulai pada tanggal 5 Mei 2007

- Bunga yang dibebankan sebesar 4% per bulan Besarnya bunga, pokok pinjaman, dan jumlah kas yang diterima/dibayar setiap angsuran adalah sebagai berikut:

Tanggal Kas yang diterima/dibayar Bunga

Angsuran pokok pinjaman Sisa Pinjaman

5-4-2007 2.000.000 - - 8.000.000 5-5-2007 2.203.860 320.000 1.883.860 6.116.140 5-6-2007 2.203.860 244.650 1.959.210 4.156.930 5-7-2007 2.203.860 166.280 2.037.580 119.350 5-8-2007 2.203.860 84.770 2.119.090 -

Jumlah 16.815.440 815.700 8.000.000 - Jurnal yang dibuat adalah sebagai berikut:

Keterangan Jurnal Yang Dibuat Pembeli (dlm Rp,00) Jurnal Yang Dibuat Penjual 5 April 2007 Pembelian 15.000.000 Kas 7.000.000 Saat Penjualan Utg Pemb. Angs - 8.000.000 Piut. Penj. Angs 8.000.000 Kas - 7.000.000 Penj. Angs 15.000.0005 Mei 2007 Utg Pemb Angs 2.000.000 Kas 1.103.860 Angsrn ke 1 Biaya bunga 320.000 Piut Penj Angs 1.883.860 Kas 2.203.860 Pendapatan bunga 320.0005 Juni 2007 Utg Pemb. Angs 1.959.210 Kas 2.203.860 Angsrn ke 2 Biaya bunga 244.650 Piut Penj Angs 1.959.210 Kas - 2.203.860 Pendapatan bunga 244.650 Jurnal untuk angsuran ke 3 dan ke 4 dicatat dengan cara yang sama

363

3. PERLAKUAN AKUNTANSI LAINNYA Perlakuan Akuntansi Penjualan Angsuran yang lain kecuali masalah penentuan bunga adalah: a. Pengakuan Laba Kotor b. Tukar- tambah ( trade in) c. Pembatalan Penjualan Angsuran a. Pengakuan Laba Kotor

Dasar pengakuan laba yang dapat dipakai dalam penjualan angsuran adalah: 1. Dasar Penjualan (Accrual Basis) 2. Dasar tunai (Cash Basis)

Penjelasannya adalah sebagai berikut

1. Dasar Penjualan (Accrual Basis) Bila menggunakan dasar ini, laba kotor diakui pada saat penjualan angsuran terjadi tanpa memperhatikan apakah pembayarannya sudah diterima atau belum. Cara ini sama dengan pencatatan penjualan kredit biasa. Metode ini dapat digunakan bila memenuhi 3 kondisi: - Jangka waktu pembayaran relatif pendek - Kemungkinan terjadinya pembatalan sangat kecil - Biaya-biaya yang berhubungan dengan penjualan angsuran bisa

ditaksir dengan teliti Contoh : Pada tanggal 7 januari 2007 terjadi transaksi penjualan angsuran di PT “Anugerah” senilai Rp 70.000.000,00 dengan syarat pembayaran sebagai berikut: - Uang muka Rp 20.000.000 dibayar pada saat transaksi penjualan

364

- Sisanya dibayar sebanyak 5 kali angsuran tahunan, setiap akhir tahun.

- Beban pokok penjualan Rp 50.000.000,00 Laba kotor yang sudah diakui dari penjualan angsuran tersebut dan dicatat pada tahun 2007 oleh PT”Anugerah” sebesar Rp 20.000.000,00 (Rp70.000.000,00 - Rp 50.000.000,00). Tabel penerimaan pembayaran dari penjualan angsuran ini adalah sebagai berikut:

Tanggal Keterangan Jumlah 7-1-2007 Uang muka Rp 20.000.000,00

31-12-2007 Angsuran ke 1 Rp 10.000.000,00 31-12-2008 Angsuran ke 2 Rp 10.000.000,00 31-12-2009 Angsuran ke 3 Rp 10.000.000,00 31-12-2010 Angsuran ke 4 Rp 10.000.000,00 31-12-2011 Angsuran ke 5 Rp 10.000.000,00

Jumlah

Rp 70.000.000,00

2. Dasar tunai (Cash Basis)

Dalam metode ini laba kotor diakui saat pengumpulan kas. Setiap pengumpulan kas terdiri dari: a. pembayaran atas beban pokok penjualan dan b. pembayaran atas laba kotor Ada 3 metode untuk memperlakukan penerimaan piutang penjualan angsuran, yaitu:

1. Harga pokok kemudian laba kotor (cost recovery method)

Dalam metode ini penerimaan kas pertama dianggap sebagai penutup beban pokok penjualan dahulu, setelah beban pokok penjualan tertutup, baru penerimaan kas berikutnya diakui sebagai laba kotor.

365

2. Laba kotor kemudian harga pokok

Dalam metode ini penerimaan kas pertama dianggap sebagai perolehan laba kotor dahulu, setelah laba kotor tercapai baru sisa penerimaan kas berikutnya diakui sebagai penutup harga pokok.

3. beban pokok penjualan dan laba kotor diakui secara

proporsional (metode penjualan angsuran)

Perbandingan pemakaian ketiga metode di atas dapat dilihat pada contoh berikut:

Pada tanggal 7 Januari 2007 terjadi transaksi penjualan angsuran di PT “Anugerah” senilai Rp 70.000.000,00 dengan syarat pembayaran sebagai berikut: - Uang muka Rp 20.000.000 dibayar pada saat transaksi penjualan. - Sisanya dibayar sebanyak 5 kali angsuran tahunan, setiap akhir

tahun. - Beban pokok penjualan Rp 50.000.000,00 Tabel penerimaan pembayaran dari penjualan angsuran ini adalah sebagai berikut:

Tanggal Keterangan Jumlah 7-1-2007 Uang muka Rp 20.000.000,00

31-12-2007 Angsuran ke 1 Rp 10.000.000,00 31-12-2008 Angsuran ke 2 Rp 10.000.000,00 31-12-2009 Angsuran ke 3 Rp 10.000.000,00 31-12-2010 Angsuran ke 4 Rp 10.000.000,00 31-12-2011 Angsuran ke 5 Rp 10.000.000,00

Jumlah Rp 70.000.000,00

Penjelasan penggunaan masing-masing metode di atas adalah sebagai berikut:

Metode 1:

366

Perusahaan akan mencatat penerimaan tanggal 7 Januari 2007 sampai 31 Desember 2009 sebagai pembayaran beban pokok penjualan (totalnya Rp 50.000000,00), sedangkan penerimaan tanggal 31 Desember 2010 dan 31 Desember 2011 dicatat sebagai laba atas penjualan angsuran (Rp 20.000.000,00). Metode 2: Perusahaan akan mencatat penerimaan tanggal 7 Januari 2007 (Rp 20.000.000,00) sebagai laba atas penjualan angsuran, sedangkan penerimaan 31 Desember 2007 sampai 31 Desember 2011 diakui sebagai pembayaran beban pokok penjualan angsuran ( totalnya Rp 50.000000,00) Metode 3: Dalam metode ini setiap penerimaan kas dari piutang penjualan angsuran terdiri dari pembayaran beban pokok penjualan dan laba kotor yang diakui secara proporsional sesuai dengan perbandingan beban pokok penjualan dan laba kotor. Dari contoh di atas dapat dihitung perbandingan beban pokok penjualan dengan laba kotor yaitu:

BPP : Laba Kotor = 50.000.000 : 20.000.000 BPP : Laba Kotor = 5 : 2

Dari contoh di atas dapat dibuat tabel besarnya beban pokok penjualan dan laba kotor yang diakui dari setiap penerimaan pembayaran penjualan angsuran

Tanggal Keterangan Pembayaran (Rp,00)

Harga Pokok Penjualan (Rp,00)

Laba Kotor (Rp,00)

7-1-2007 Uang muka 20.000.000 14.285.719,29 5.714.285,71 31-12-2007 Angsuran ke 1 10.000.000 7.142.859,64 2.857.140,35 31-12-2008 Angsuran ke 2 10.000.000 7.142.859,64 2.857.140,35 31-12-2009 Angsuran ke 3 10.000.000 7.142.859,64 2.857.140,35 31-12-2010 Angsuran ke 4 10.000.000 7.142.859,64 2.857.140,35 31-12-2011 Angsuran ke 5 10.000.000 7.142.842,15 2.857.140,35

Jumlah 70.000.000 50.000.000,00 20.000.000,00

367

Dalam metode ini setiap periode penerimaan kas diakui adanya pembayaran beban pokok penjualan dan realisasi laba kotor.

Dari ketiga metode di atas, yang paling banyak dipakai adalah perlakuan yang ketiga, yaitu beban pokok penjualan dan laba kotor diakui secara proporsional setiap menerima kas. Tukar Tambah atau Trade In

Tukar tambah adalah penjualan dimana pembeli menyerahkan barangnya sebagai uang muka (down payment/DP) kekurangannya dibayar secara angsuran. Dalam penjualan angsuran sering terjadi cara tukar tambah untuk menarik pembeli. Dalam tukar tambah, barang yang diserahkan sebagai uang muka dicatat berdasar realisasi bersihnya dengan syarat: nilai realisasi bersih tidak boleh melebihi nilai pokok pengganti (current replacement cost). Nilai realisasi bersih adalah taksiran harga jual barang dikurangi biaya perbaikan, biaya pemasaran, dan biaya-biaya lain serta taksiran laba yang diharapkan. Selisih antara harga yang disepakati dengan nilai realisasi bersih dimasukkan ke rekening cadangan kelebihan harga. Pada akhir periode rekening cadangan kelebihan harga mengurangi rekening penjualan angsuran. Jadi harga penjualan angsuran sebenarnya adalah sebesar rekening penjualan dikurangi cadangan kelebihan harga. Contoh: Pada awal tahun 2007 toko elektronik “Metrika” menjual mesin cuci “Electrolux” secara angsuran sebesar Rp 7.500.000. Cara pembayarannya adalah sebagai berikut:

- Sebagai uang muka diterima sebuah mesin cuci merk “ Yamoto”

dengan nilai yang disepakati sebesar Rp 2.000.000,00 - Sisanya diangsur sebanyak 10 kali angsuran bulanan, masing-masing

Rp 550.000,00 Mesin cuci yang diterima diperkirakan membutuhkan biaya perbaikan sebesar Rp 500.000,00 . Setelah diperbaiki diperkirakan dapat dijual dengan harga Rp 2.400.000,00. Dalam penjualan mesin cuci “Electrolux” perusahaan memperhitungkan laba normal sebesar 10% dari harga jual. Harga perolehan mesin cuci “Electrolux” sebesar Rp 5.600.000,00

368

Perhitungan:

Harga yang disepakati Rp 2.000.000,00 Harga jual mesin cuci “Yamoto” Rp2.400.000,00

.

Biaya perbaikan Rp 500.000,00 Laba normal 10% x Rp 46.000.000,00 Rp 240.000,00 (Rp 740.000,00) Taksiran nilai realisasi bersih (Rp1.660.000,00) Kelebihan harga Rp 340.000,00 Jurnal yang dibuat adalah sebagai berikut: Untuk mencatat penjualan Piutang penjualan angsuran

Rp5.500.000,00

Persediaan Barang Dagangan (mesin cuci “Yamoto”)

Rp1.660.000,00

Cadangan kelebihan harga Rp 340.000,00 Penjualan angsuran Rp 7.500.000,00 Untuk mencatat beban pokok penjualan angsuran Beban pokok penjualan angsuran

Rp5.600.0000,00

Persediaan Barang Dagangan Rp 5.600.0000,00 Pembatalan Penjualan Angsuran Dalam penjualan angsuran kadangkala pembeli tidak dapat melunasi angsurannya sehingga terjadi pembatalan penjualan angsuran. Beberapa hal yang perlu dilakukan oleh penjual adalah: 1. Barang yang sudah dijual dimiliki kembali

Penjual harus menilai kembali barang tersebut. Dalam penilaian kembali harus dipertimbangkan cadangan untuk perbaikan dan laba normal yang diharapkan apabila barang tersebut dijual lagi (nilai realisasi bersih).

2. Piutang penjualan angsuran yang belum dibayar dibatalkan.

369

3. Mencatat laba atau rugi pembatalan penjualan angsuran Tergantung metode pengakuan laba kotor yang digunakan (laba kotor diakui saat penjualan atau laba kotor diakui secara proporsional dengan penerimaan kas).

Laba Kotor Diakui Saat Penjualan Pada metode ini laba kotor diakui saat penjualan sehingga saldo piutang penjualan angsuran merupakan beban pokok penjualan yang belum diterima pembayarannya. Jadi selisih antara nilai realisasi bersih atas barang yang diterima kembali dengan saldo piutang penjualan angsuran merupakan laba atau rugi pembatalan penjualan angsuran.

Laba Kotor Diakui Secara Proporsional dengan Penerimaan Kas Pada metode ini laba kotor diakui secara proporsional dengan penerimaan kas, sehingga saldo piutang penjualan angsuran terdiri dari laba kotor yang belum direalisasi dan beban pokok penjualan angsuran. Jadi selisih antara nilai realisasi bersih atas barang yang diterima kembali dengan saldo piutang penjualan angsuran dan laba kotor belum direalisasi merupakan laba atau rugi pembatalan penjualan angsuran. Contoh : PT Mawar menjual barang dagangannya secara angsuran. Pada tahun 2006 terjadi pembatalan atas penjualan angsuran yang terjadi pada akhir periode sebelumnya. Informasi penjualan angsuran yang dibatalkan adalah sebagai berikut: - Penjualan semula Rp 30.000.000,00 - Beban pokok penjualan angsuran Rp 22.500.000,00 - Tingkat laba kotor 25% dari harga jual - Piutang penjualan angsuran yang sudah terkumpul Rp 15.000.000,00 - Taksiran nilai realisasi bersih atas harga yang diterima kembali Rp

14.000.000,00

Laba kotor diakui saat penjualan Perhitungan:

370

(dlm ribuan Rp) (dlm ribuan Rp) Harga jual 30.000 Piutang yang sudah ditagih 15.000 Piutang yang belum ditagih 15.000 Taksiran nilai realisasi bersih 12.000 Rugi pembatalan penjualan angsuran 3.000 Jurnal:

Persediaan barang dagangan 14.000 Rugi pembatalan angsuran 1.000

Piutang penjualan angsuran 15.000

Laba kotor diakui secara proporsional dengan penerimaan kas Perhitungan: (dlm ribuan

rupiah)(dlm ribuan

rupiah) Harga jual 30.000 Piutang yang sudah ditagih 15.000 Piutang yang belum ditagih 15.000 Laba kotor belum direalisasi 25% x Rp 15.000.000,00 = 3.750 Beban pokok penjualan yang belum dibayar 11.250 Taksiran nilai realisasi bersih 14.000 Laba pembatalan penjualan angsuran 2.750 Jurnal:

Persediaan barang dagangan

14.000

Laba kotor belum direalisasi 3.750 Piutang penjualan angsuran 15.000 Laba pembatalan angsuran 2.750

Laporan Keuangan

Perusahaan yang menjual barangnya secara angsuran Laporan

Keuangannya sama seperti pada perusahaan umumnya, yaitu: a. Neraca b. Laporan Laba-rugi dan c. Laporan perubahan modal/saldo laba

Di antara ketiga jenis laporan tersebut, hanya Neraca dan Laporan Laba Rugi yang berbeda, sedangkan Laporan perubahan modal/saldo laba sama. Seperti pada perusahaan yang tidak menjual secara angsuran.

371

Perbedaan tersebut disebabkan karena di Neraca dan Laporan Laba Rugi terdapat rekening yang berhubungan dengan penjualan angsuran. Di Neraca rekening yang berhubungan dengan penjualan angsuran adalah:

- Piutang penjualan angsuran

Piutang penjualan angsuran disajikan dalam Neraca sebagai elemen Aktiva Lancar setelah Piutang Usaha

- Laba kotor yang belum direalisasi Laba kotor yang belum direalisasi perlakuannya sama dengan pendapatan yang ditangguhkan. Cara penyajian yang lazim adalah: a. Disajikan di kelompok Aktiva sebagai pengurang Piutang

Penjualan Angsuran b. Disajikan di kelompok Pasiva sebagai Pendapatan Yang

Ditangguhkan Sebelum diberikan ulasan lebih detil dan contoh tentang penyusunan

Laporan Keuangan, maka terlebih dahulu akan diberikan ulasan tentang Penjualan angsuran untuk barang bergerak dan barang tidak bergerak.

Penjualan Angsuran Untuk Barang Tidak Bergerak dan Barang Bergerak

Dalam praktek penjualan angsuran dapat dipakai baik untuk

barang bergerak maupun barang tidak bergerak. Dalam penjualan angsuran pada umumnya laba kotor diakui secara proporsional dengan penerimaan kas. Hal ini disebabkan ada kemungkinan terjadi pembatalan penjualan angsuran. Dengan metode ini bila terjadi pembatalan penjualan angsuran di catatan perusahaan tidak timbul rugi, tetapi mencatat keuntungan. Tetapi untuk penjualan angsuran barang-barang tidak bergerak tetap ada yang mengakui laba kotor pada periode penjualan.

Metode pencatatan untuk penjualan barang tidak bergerak

berbeda dengan metode pencatatan untuk penjualan barang bergerak. Pada penjualan barang tidak bergerak, saat penjualan, nama barang yang bersangkutan langsung dikredit sebesar beban pokok penjualan. Selisih antara harga jual dan beban pokok penjualan langsung diakui sebagai laba kotor belum direalisasi.

372

Pada penjualan barang bergerak, laba kotor yang belum direalisasi belum diakui pada saat terjadi transaksi penjualan. Laba kotor yang belum direalisasi baru dihitung pada akhir periode. Hal ini disebabkan

Berikut ini adalah contoh penjualan angsuran untuk barang tidak

bergerak dan penjualan angsuran untuk barang bergerak. Untuk penjualan angsuran barang tidak bergerak diberi contoh 2 metode pencatatan, yaitu laba diakui dalam periode penjualan dan laba diakui secara proporsional dengan penerimaan kas. Untuk penjualan barang bergerak hanya diberi contoh 1 metode pencatatan yaitu laba diakui secara proporsional dengan penerimaan kas. Karena pada umumnya untuk penjualan angsuran barang bergerak, laba diakui secara proporsional dengan penerimaan kas.

Penjualan Barang Tidak Bergerak Contoh : PT. Graha Sentosa adalah suatu perusahaan yang bergerak di bidang jual beli barang tidak bergerak. Pada tanggal 29 September 2006. PT. Graha Sentosa menjual rumah kepada Bapak Irfan. Harga pokok rumah saat dijual adalah Rp 140.000.000,00 sedangkan harga jualnya adalah Rp 200.000.000,00. Beberapa ketentuan yang diatur didalam kontrak penjualan antara lain: - Pembayaran pertama (down payment) sebesar Rp 40.000.000,00 - Untuk menjamin keamanan kepemilikan rumah tersebut PT. Graha

Sentosa dan Bapak Irfan setuju untuk menghipotikkan rumah tersebut dari Bapak Irfan kepada PT. Graha Sentosa sebesar Rp 160.000.000,00. Akte hipotik ditandatangani pada tanggal 1 November 2006 dibayar 10 kali angsuran dengan pembayaran tiap kuartal @ Rp 16.000.000,00. Bunga hipotik sebesar 15% per tahun yang dihitung dari sisa pinjaman hipotik yang belum dibayar.

- Komisi dan biaya-biaya lainnya guna menyelesaikan akte hipotik sejumlah Rp 7.000.000,00 telah dibayar tunai oleh PT. Graha Sentosa. Angsuran pokok dan bunga hipotik untuk pertama kali dimulai pada tanggal 5 Januari 2007

Berikut ini adalah jurnal yang dibuat oleh PT Graha Sentosa

373

Keterangan Laba diakui dalam periode

penjualan (dalam ribuan rupiah)

Laba diakui secara proporsional dengan

pembayaran yang diterima (dalam ribuan rupiah)

29-9-2006 Dijual sebuah rumah dengan harga Rp 200 juta harga pokok rumah Rp 160.000.000,00

Piutang 200.000 Piutang 200.000 Rumah 140.000 Rumah 160.000 Laba penj. rmh

60.000 Laba penj. Rmh

40.000

Penerimaan pembayaran pertama Rp 40 juta dan hipotik untuk saldo yang belum dibayar Rp 160 juta

Kas 40.000 Kas 75.000 Hipotik 160.000 Hipotik 125.000

Piutang 200.000 Piutang 200.000

Biaya yang dikeluarkan Biaya penj. 7.000 Biaya penj. 7.000 Kas 7.000 Kas 7.000 31-12-2006 Bunga yang masih harus diterima atas hipotik 15% untuk jangka waktu 3 bulan Rp 160jutax15%x3/12=Rp4.000.000,00

Piutang bunga

6.000 Piutang Bunga

6.000

Pend. Bunga

6.000 Pendp. Bunga

6.000

%LK ase = Rp 60 jt/ Rp200jt x 100%= 30 %. Penerimaan kas tahun 2006 Rp 40jt. Jadi LKD 30%xRp 40jt=Rp 12jt

LKBD 12.000 LKD 12.000

Menutup rekening nominal Laba 12.000 LKD 12.000 Pendp Bunga

6.000 Pendp Bunga

6.000

Bi Penj. 7.000 Bi penj. 7.000 Laba/Rugi 11.000 Laba/Rugi 11.000

1-1-2007 (Penyesuaian kembali)

Pendp. Bunga

6.000 Pendp bunga

6.000

Piut. Bunga 6.000 Piut. Bunga

6.000

5-1-2007 Diterima pembayaran angsuran hipotik sebesar Rp 16 jt & bunga hipotik sebesar 160 juta x15% x4/12 = Rp4.000.000,00

Kas 24.000 Kas 24.000 Hipotik 16.000 Hipotik 16.000 Pendp bunga

8.000 Pendp bunga

8.000

5-5-2007 Diterima pembayaran angsuran hipotik sebesar Rp 16 jt & bunga hipotik sebesar 144 jt rb x15% x4/12 = Rp7.200.000,00

Kas 23.200 Kas 23.200 Hipotik 16.000 Hipotik 16.000 Pendp bunga

7.200 Pendp bunga

7.200

5-9-2007 Diterima pembayaran angsuran hipotik sebesar Rp 16 jt & bunga hipotik sebesar Rp 128 jutax15%x4/12 =Rp 6.400.000,00

Kas 22.400 Kas 22.400 Hipotik 16.000 Hipotik 16.000 Pendp bunga

6.400 Pendp bunga

6.400

31-12-2007 Bunga yang masih harus diteirma atas hipotik 15% untuk jangka waktu 4 bulan Rp112 jutax15%x4/12=Rp 5.600.000

Piut. Bunga 5.600 Piut. Bunga 5.600

Pend. Bunga

5.600 Pend. Bunga

5.600

menutup rekening nominal ke laba atau rugi . Penerimaan kas tahun 2007 Rp 69.,6juta. Jadi LKD 40%xRp 69,6juta= Rp 9.600.000,00

LKD 9.600 Pendpt. Bunga

27.200 Piut. Bunga 27.200

Laba/rugi 27.200 Laba/rugi 36.800 1-1-2008 (Penyesuaian kembali)

Pdp. Bunga 5.600 Pdp bunga 5.600 Piut. Bunga

5.600 Piut. Bunga

5.600

5-1-2008 Diterima pembayaran angsuran hipotik sebesar Rp 16 jt & Rp112 jutax15%x4/12=Rp 5.600.000

Kas 23.600 Kas 23.600 Hipotik 16.000 Hipotik 16.000 Pendp bunga

5.600 Pendp bunga

5.600

374

Keterangan: LKD : Laba Kotor Direalisasi LKBD :Laba Kotor Belum Direalisasi

Dalam praktek, kemungkinan dapat terjadi pembatalan penjualan angsuran baik untuk barang tidak bergerak maupun barang bergerak. Apabila dalam contoh di kasus ini terjadi pembatalan piutang penjualan angsuran pada tanggal 5 Mei 2008 karena pembeli tidak dapat mengangsur lagi, maka rumah tersebut dikembalikan kepada PT Graha Sentosa. Seandainya harga rumah saat dikembalikan adalah Rp 100.000.000,00. Besarnya Laba/Rugi yang timbul karena pembatalan ini akan tergantung pada metode yang digunakan:

Keterangan Laba diakui dlm periode penjualan (dlm Rp 000,00)

Laba diakui proporsional dgn pembayaran yg

diterima (dalam Rp 000,00)

Total pembayaran UM dan Hipotik yg telah diterima {40.000 + ( 4 x 16.000)}

104.000 104.000

Kerugian penurunan nilai rumah

Harga pokok rumah saat dijual 140.000

Harga pasar rumah saat dimiliki Kembali (86.000)

(54.000) (40.000)

Laba bersih 50.000 64.000

Laba yang telah diakui sebelum pemilikan kembali rumah

(60.000) 31.200

Laba (rugi) pemilikan kembali rumah (10.000) 32.800

Jurnal yang dibuat saat pembatalan dan pemilikan kembali rumah adalah sebagai berikut: Laba Diakui Dalam Periode Penjualan

(dalam Rp 000,00) Laba Diakui Proporsional dg Pembayaran

yg Diterima (dlm Rp 000,00) Rumah 86.000 Rumah 100.000 Rugi pemilik kembalikan 10.000 LKBD 28.800 Piut. Penj. Angs 96.000 Piut. Penj. Angs 96.000 Lb pemilikan kembali 32.800

375

Nilai Laba Kotor yg belum Direalisasi (LKBD) adalah (dlm Rp 000,00)

Harga Jual Rumah 200.000 Uang Muka 40.000

Hipotik = 4 x 16.000 64.000 104.000 96.000 Laba Kotor yg Blm Direalisasi : 30 % x 96.000 28.800

Laba yang telah diakui sebelum terjadi pembatalan penjualan angsuran: Laba kotor dari uang muka = 30% x Rp 40.000.000,00 = Rp 12.000.000 Laba kotor angsuran Hipotik = 30% x Rp 64.000.000,00 = Rp 19.200.000

Rp 31.200.000

Penjualan Barang Bergerak Dalam praktek, selain penjualan biasa (reguler) perusahaan juga melakukan penjualan angsuran. Tujuan perusahaan juga menjual secara angsuran adalah untuk menaikkan omzet penjualan. Bila hal ini yang terjadi dalam perusahaan, maka dalam menyusun Laporan Keuangan harus dipisahkan antara piutang penjualan reguler dan piutang penjualan angsuran. Contoh : Berikut ini adalah neraca PT “Sari” 1 Januari 2008:

PT Sari Neraca

Per 1-1-2008 (dalam ribuan rupiah)

Kas 96.500 Utang dagang 45.500 Persedian barang dagangan 300.000 LKBD th 2006 15.000 Piutang dagang 100.000 LKBD th 2005 8.500 Piutang Penjualan Th 2006 60.000 Modal saham 350.000 Piutang Penjualan angs. Th 2005 42.500 Laba yang ditahan 180.000 Total Aktiva 599.000 Total Aktiva 599.000

Sedangkan transaksi-transaksi yang terjadi selama tahun 2007 di PT Sari adalah sebagai berikut:

376

(dlm Rp 000,00) Penjualan tunai sebesar Rp 70.000 Penjualan kredit sebesar 230.000 BPP 130.000 Penjualan angsuran sebesar 500.000 BPP angsuran 350.000 Pembelian barang dagangan secara kredit 550.000 Penerimaan kas diperoleh dari: Piutang dagang 120.000 Piutang penjualan angsuran 2007 300.000 Piutang penjualan angsuran 2006 50.000 Piutang penjualan angsuran 2005 40.000 Pengeluaran kas untuk: Pembayaran utang dagang 300.000 Biaya operasi 75.000 Berdasar data di atas, Jurnal yang harus dibuat adalah sebagai berikut:

(dalam ribuan rupiah) Keterangan Jurnal

Saat penjualan Kas 70.000 Piut dagang 230.000 Penjualan 300.000 Piut Penj. Angs’07 500.000 Penj. Angs 500.000 Saat pembelian barang dagangan Pembelian 550.000 Utang dagang 550.000 Penerimaan kas Kas 510.000 Piutang dagang 120.000 Piut. Penj. Angs’05 300.000 Piut. Penj. Angs’04 50.000 Piut. Penj. Angs’03 40.000 Pengeluaran kas Utang dagang 300.000 Biaya operasi 75.000 Kas 375.000 31 Desember 2005 BPP angsuran 350.000 Penyesuaian penjualan angsuran Peng.penj. Angs 350.000 Menutup penjualan angsuran Penj. Angs 500.000 BPP angsuran 350.000 LKBD 150.000 Mencatat laba kotor direalisasi LKD 07 = 30% x 300.000 = 90.000 LKBD tahun 2007 90.000 LKD 06 = 25% x 50.000 = 12.500 LKBD tahun 2006 12.500 LKD 05 = 20% x 40.000 = 8.000 LKBD tahun 2005 8.000 LKD 2005-2007 110.500

377

Menutup persediaan awal, pembelian dan Laba/rugi 500.000 penjualan angsuran ke laba/rugi Penj. Angs 350.000 Pembelian 550.000 Persediaan awal 300.000 Menutup pesediaan akhir Rp 24 juta ke Laba/rugi

Persediaan akhir 470.000

Laba/rugi 470.000 Menutup penjualan reguler ke Laba/rugi Penjualan 300.000 Laba/rugi 300.000 Menutup LKD Laba/rugi LKD 110.500 Laba/rugi 110.500 Menutup biaya operasi ke Laba/rugi Laba/rugi 75.000 Biaya operasional 75.000 Mencatat biaya pajak penghasilan 15% Biaya Pjk Penghasilan 45.825 Utang PPh 45.825 Menutup PPh ke Laba/rugi Laba/rugi 45.825 Biaya PPh 45.825 Menutup Laba/rugi ke laba yang ditahan Laba/rugi 259.675 Saldo laba 259.675 Perhitungan persentase Laba Kotor masing-masing tahun dihitung sebagai berikut:

Tahun 2005 = 8.500/42.500 x 100 % = 20 % Tahun 2006 = 15.000/ 60.000 x 100 % = 25 % Tahun 2007 = 150.000/500.000 x 100 % = 30 %

Perhitungan Persediaan akhir:

Persediaan awal 300.000 Pembelian 550.000

Barang siap dijual 850.000 Persediaan Akhir ( x )

Beban pokok penjualan BPP Penjualan reguler 130.000 BPP Penjualan Angsuran 350.000 380.000

Persamaan: 850.000 – x = 380.000 850.000 – 380.000 = x x = 470.000

378

LAPORAN KEUANGAN

Jika Perusahaan Melakukan Penjualan Reguler dan Penjualan Angsuran Seperti dijelaskan sebelumnya bahwa disamping menjual secara reguler, perusahaan menjual secara angsuran dengan tujuan untuk meningkatkan omzet penjualan. Apabila hal ini terjadi, maka dalam neraca harus dijelaskan secara rinci : a. saldo piutang penjualan angsuran dari masing-masing periode

penjualan angsuran b. saldo dari laba kotor belum direalisasi dari masing-masing periode

penjualan angsuran Dalam laporan laba atau rugi harus dipisahkan antara penjualan, biaya dan laba atau rugi dari penjualan reguler dan dari penjualan angsuran. Sedangkan laba atau rugi yang dicantumkan dalam laporan laba atau rugi adalah laba/rugi yang direalisasi selama satu periode tersebut (termasuk laba yang direalisasi dari penjualan angsuran periode-periode sebelumnya). Di bawah ini diberikan ilustrasi Laporan Keuangan apabila perusahaan disamping menjual secara reguler juga menjual secara angsuran.

PT “Siliwangi” Neraca

Per 31 Desember 2007 (dalam ribuan rupiah) Aktiva Pasiva

Kas 167.000 Piutang dagang 70.000 Piutang penjualan angsr: Utang dagang 350.000 Th. 2007 300.000 Utang PPh 9.500 Th.2006 35.000 Th. 2005 10.000. Pendapatan ditangguhkan 345.000 LKBD Pers. Barang Dagangan 600.000 Th. 2007 175.000 Th.2006 26.000 Aktiva Tetap (bersih) 1.000.000 Th.2005 5.000 Total Utang Lancar 206.000 Hutang Obligasi 400.000 Total Hutang 965.500 Modal saham 1.000.000 Agio saham 150.000 Saldo laba 166.500

Total modal 1.316.500 Total aktiva 2.182.000 Total pasiva 2.182.000

379

PT” Brawijaya” Laporan Laba Rugi

Untuk Periode yg Berakhir 31 Desember 2007

Penjln angs. (dlm Rp000,00)

Penjln reguler (dlm Rp 000,00)

Total (dlm Rp000,00)

Penjualan 200.000 190.000 390.000 Beban pokok penjualan: Pers 1-1-2005 120.000 Pembelian 400.000

Tersedia untuk dijual 520.000 Persd 31 Des 2005 (240.000) (150.000) (130.000) (280.000) Laba kotor 50.000 60.000 110.000 LKBD dari penjualan th. 2007 30.000 30.000 LKD dari penjualan th. 2007 20.000 60.000 80.000 LKD dari 2005-2007 16.150 Total LKD 96.150 Biaya operasi 50.000 Laba sebelum pajak 46.150 Pajak penghasilan 4.615 Laba setelah pajak 41.535

Pajak penghasilan: 10%xRp 46.150.000,00=Rp4.615.000,00

PT Brawijaya Laporan Perubahan Laba Yang Ditahan

Untuk Periode yang Berakhir Tahun 2007 (dalam ribuan rupiah)

Saldo laba per 1 Januari 2005 60.000 Laba bersih setelah pajak penghasilan 41.535 101.535 Pembagian dividen 0 Saldo laba per 31 Desember 2005 101.535

380

SOAL DAN PENYELESAIAN Soal Berikut ini adalah informasi dari PT. Arjuna:

Tahun Persentase Laba

Saldo Piut. Penj. Angs.

1-1-2007 (dlm 000,00)

Pengumpulan Piut Selama

th. 2007 (dlm 000,00)

Saldo Piut. Penj. Angs. 31-12-2007

(dlm 000,00) 2005 35% 750.000 750.000 0 2006 40% 1.250.000 850.000 400.000 2007 45% 150.000 1.250.000

Diminta: 1. Hitung saldo laba kotor belum direalisasi tanggal 1 Januari 2007 2. Hitung saldo laba kotor belum direalisasi tanggal 31 Desember 2007 3. Hitung saldo laba kotor direalisasi tanggal 31 Desember 2007 4. Buat jurnal untuk menyesuaikan laba kotor belum direalisasi ke laba

kotor direalisasi pada tanggal 31 Desember 2007 Penyelesaian 1. Saldo laba kotor belum direalisasi tanggal 1 Januari 2007 adalah

sebagai berikut: Dari penjualan tahun 2005: 35% x Rp 750.000.000,00 = Rp 262.500.000,00 2006: 40% x Rp 1.250.000.000,00 = Rp 500.000.000,00 Jumlah Rp 762.500.000,00 2. Saldo laba kotor belum direalisasi tanggal 31 Desember 2007 adalah

sebagai berikut: Dari penjualan tahun 2005: 35% x Rp 400.000.000,00 = Rp 140.000.000,00 2006: 40% x Rp 1.250.000.000,00 = Rp 500.000.000,00 Jumlah Rp 640.000.000,00 3. Saldo laba kotor belum direalisasi tanggal 31 Desember 2007 adalah

sebagai berikut: Dari penjualan tahun

381

2005: 35% x Rp 750.000.000,00 = Rp 262.500.000,00 2006: 40% x Rp 850.000.000,00 = Rp 340.000.000,00 2007: 45% x Rp 150.000.00,00 = Rp 67.500.000,00 Jumlah Rp 670.000.000,00 4. Jurnal untuk mencatat penyesuaian laba kotor belum direalisasikan

ke laba kotor direalisasikan pada tanggal 31 Desember 2007 adalah sebagai berikut:

LKBD tahun 2005 Rp 262.500.000,00 LKBD tahun 2006 Rp 340.000.000,00 LKBD tahun 2007 Rp 67.500.000 ,00 LKD tahun 2005-2007 Rp 670.000.000,00

Keterangan: LKBD = laba kotor belum direalisasi LKD = laba kotor direalisasi

AKKAKA

KUNANTOANT

☺☺ A

☺ Meto☺ Lapo

382

NTANOR PTOR

AkuntansiAkuntansi Kode Pencaoran Keua☺ Contoh

2

NSI uPUSA CAB Kantor Ag

Kantor Cabatatan Persngan Kons

h Transaksi

untuAT daBANG

gen bang sediaan solidasi

uk an G

383

AKUNTANSI untuk KANTOR PUSAT dan

KANTOR CABANG

Perusahaan-perusahaan besar atau yang sedang berkembang, selalu berusaha meningkatkan volume penjualannya. Aspek pemasaran merupakan aspek penting dalam usaha pencapaian tujuan ini. Oleh karena itu bagian pemasaran merupakan ujung tombak keberhasilan suatu perusahaan. Dalam rangka memperluas daerah pemasaran, perusahaan melakukan pemetaan wilayah sehingga dapat diketahui pasar potensial bagi produk atau jasa yang dihasilkan/ditawarkan. Dengan cara ini dapat

384

diketahui market share (bagian pasar yang dapat dimasuki) dari produk atau jasa yang dihasilkan/ditawarkan perusahaan. Beberapa cara yang dapat digunakan untuk menangkap peluang dari market share yang sudah diketahui ini antara lain dengan cara membuka kantor agen atau bahkan membuka kantor cabang. Pada dasarnya kantor agen berbeda dengan kantor cabang. Kantor agen hanya berfungsi mencarikan pembeli atau memperoleh order. Penjualan kepada konsumen dilakukan langsung oleh kantor pusat. Pembayarannya juga diterima langsung dari konsumen ke kantor pusat. Kantor cabang mempunyai wewenang yang lebih luas dibandingkan kantor agen, karena selain berfungsi mencari pembeli kantor cabang dapat melakukan transaksi penjualan secara langsung kepada konsumen. Wewenang yang lebih besar lagi adalah kantor cabang dapat membeli barang dagangan dari luar. AKUNTANSI KANTOR AGEN Perbedaan paling mendasar pencatatan yang dilakukan Kantor Cabang dan Kantor Agen berhubungan dengan kewenangan masing-masing dalam menangani konsumen akhir. Kantor Cabang mempunyai kewenangan penuh sehubungan dengan transaksi penjualan termasuk menerima pembayaran secara langsung dari konsumen akhir, sedangkan Kantor Agen tidak mempunyai kewenangan melakukan transaksi penjualan. Pencatatan akuntansi hanya dilakukan oleh Kantor Pusat. Kantor Cabang melaksanakan pembukuan tersendiri karena Kantor Cabang mempunyai kewenangan dalam melakukan transaksi penjualan.

Kantor Agen dalam melakukan kegiatannya memperoleh fasilitas dari Kantor Pusat. Salah satu fasilitas tersebut adalah berupa uang yang merupakan modal kerja bagi Kantor Agen. Oleh karena itu pencatatan yang dilakukan oleh Kantor Agen hanya sebatas pertanggung jawaban atas modal kerja dari Kantor Pusat. Karena modal kerja dari Kantor Pusat diterima dalam bentuk uang tunai, maka dalam pengelolaannya seperti mengelola kas kecil dengan sistem imprest. Bukti-bukti pemakaian modal kerja harus dikumpulkan oleh Kantor Agen karena laporan ke Kantor Pusat dibuat berdasarkan bukti-bukti yang dikumpulkan tersebut.

Metode yang dapat dipakai oleh Kantor Pusat dalam melakukan

pencatatan sehubungan dengan kegiatan di Kantor Agen, yaitu:

1. Laba atau rugi Kantor Agen tidak dipisahkan dengan laba atau rugi Kantor Pusat.

385

2. Laba atau rugi kantor agen dipisahkan dengan laba atau rugi kantor pusat.

Untuk tujuan pengendalian intern dan penilaian kinerja Kantor Pusat , sebaiknya digunakan metode yang kedua yaitu Laba atau Rugi Kantor Agen dipisahkan dengan Laba atau Rugi yang diperoleh Kantor Pusat sendiri. Apalagi bila kantor Agennya lebih dari satu. Dalam praktik yang sering digunakan adalah metode yang pertama atau laba /rugi kantor agen tidak dipisahkan dengan laba atau rugi Kantor Pusat. Penjelasan dari ke dua metode adalah sebagai berikut: 1. Laba atau rugi kantor agen tidak dipisahkan dengan laba atau

rugi kantor pusat Dalam metode ini pendapatan dan biaya kantor agen tidak dipisahkan dengan pendapatan dan biaya kantor pusat. Sehingga tidak bisa diketahui laba atau rugi kantor agen secara tersendiri. Bila metode ini yang digunakan, Kantor Pusat hanya dapat mengetahui laba atau rugi secara total/keseluruhan. 2. Laba atau rugi Kantor Agen dipisahkan dengan laba atau rugi

Kantor Pusat Dalam metode ini pendapatan dan biaya kantor agen dipisahkan dari pendapatan dan biaya kantor pusat. Sehingga laba atau rugi kantor agen bisa diketahui secara individual. Apabila metode ini yang dipakai maka diperlukan rekening tersendiri. Rekening-rekening yang dibutuhkan bila digunakan metode ini antara lain: a. Modal kerja kantor agen b. Penjualan kantor agen c. BPP kantor agen d. Biaya pemasaran kantor agen e. Biaya administrasi dan umum kantor agen

Apabila Kantor Pusat mempunyai Kantor Agen lebih dari satu, maka dapat digunakan salah satu dari cara berikut:

a. rekening masing-masing Kantor Agen disendirikan atau diberikan

kode berbeda b. Kantor Pusat hanya memakai satu rekening buku besar untuk seluruh

Kantor Agen, sedangkan untuk masing-masing Kantor Agen hanya dibuatkan rekening pembantu

386

Contoh: PT. Singgasana berkedudukan di Malang bergerak dalam bidang alat-alat kesehatan Pada awal tahun 2007 membuka Kantor Agen di Kediri. Ikhtisar transaksi keuangan selama tahun 2007 adalah sebagai berikut: 1. Kantor Pusat mengirim kas senilai Rp 10.000.000,00 sebagai modal

kerja awal di Kantor Agen. 2. Kantor Pusat mengirim barang dagangan sebagai sampel dengan

harga pokok Rp 2.500.000,. 3. Kantor Pusat membeli barang dagangan untuk mengisi persediaan

seharga Rp 400.000.000,00 secara kredit. 4. Transaksi penjualan selama tahun 2007 terdiri dari :

- Penjualan langsung ke Kantor Pusat Rp 500.000.000,00 sedangkan beban pokok penjualan Rp 300.000.000,00

- Penjualan melalui Kantor Agen Rp 200.000.000,00 dengan beban pokok penjualan Rp 160.000.000,00

5. Piutang yang berhasil ditagih Rp 350.000.000,00 6. Pelunasan utang dagang Rp 200.000.000,00 7. Biaya-biaya yang dikeluarkan adalah sebagai berikut:

- Biaya pemasaran kantor pusat Rp 40.000.000,00 - Biaya pemasaran kantor agen Rp 12.000.000,00 - Biaya administrasi dan umum kantor pusat Rp 16.000.000,00 - Biaya administrasi dan umum kantor agen Rp 3.000.000,00

8. Depresiasi gedung yang menjadi beban tahun ini adalah: - Kantor pusat Rp 7.500.000,00 - Kantor agen Rp 3.000.000,00

9. Persediaan sampel tinggal Rp 30.00.000,00

Jurnal yang dibuat oleh kantor pusat dalam satu periode untuk masing-masing metode disajikan dalam tabel pada halaman berikut (asumsi pencatatan persediaan dengan metode perpetual).

387

Keterangan L/R Kantor Agen Tidak Dipisahkan (dlm ribuan rupiah)

L/R Kantor Agen Dipisahkan(dlm ribuan rupiah)

1. Mencatat pembentukan modal kerja Modal kerja K. Agen 10.000 Modal Kerja K. Agen 10.000 Kas 10.000 Kas 10.000

2. Mencatat pengiriman barang sampel Persed sampel K. Agen 2.500 Persed sampel K. Agen 2.500 Persed. Brg. Dg 2.500 Persed Brg Dgg 2.500

3. Mencatat Pembelian Persed Brg Dg 400.000 Persed Brg Dgg 400.000 Utang Dagang 400.000 Utang Dg 400.000

4. Mencatat penjualan Piutang Dagang 700.000 Piutang Dagang 700.000 Penjualan 700.000 Penjualan K. Pusat 500.000 Penjualan K. Agen 200.000

5. Mencatat BPP BPP 460.000 BPP K. Pusat 300.000 Persed Brg 460.000 BPP K. Agen 160.000 Persediaan Barang Dg 460.000

6. Mencatat pelunasan piutang Kas 350.000 Kas 350.000 Piutang Dagang 350.000 Piutang Dagang 350.000

7. Mencatat pelunasan utang dagang Utang Dagang 200.000 Utang Dagang 200.000 Kas 200.000 Kas 200.000

8. Mencatat pembebanan biaya operasional Bi. Pemasaran 52.000 Bi. Pemasaran K. Pusat 40.000 Bi. Adm & Umum 19.000 Bi. Pemasaran K. Agen 12.000

Kas 71.000 Bi. Adm & Umum K. Pusat 16.000 Bi. Adm & Umum K. Agen 3.000 Kas 71.000

9. Mencatat Penyusutan depresiasi gedung Bi. Depresiasi Gd. 10.500 Bi. Depre Gd. K. Pusat 7.500 Akum. Depresiasi Gd. 10.500 Bi. Depre Gd. K. Agen 3.000

Akum Depre 10.500 10. Mencatat pserdiaan sampel yang sudah

dipakai Bi. Pemasaran 2.500 Bi. Pemasaran K. Agen 2.500

Persed. Sampel K. Agen

2.500 Persed sampel K. Agen 2.500

11. Mengakui L/R K. Agen (Jurnal Penutup) Penjualan K. Agen 200.000 BPP K. Agen 160.000

Bi. Pemasaran K. Agen 12.000 Bi. Adm & Umum K. Agen 3.000 L/R K. Agen 25.000

12. Mengakui L/R Perusahaan Secara Keseluruhan

Penjualan 700.000 Penjualan 500.000 BPP 460.000 L/R K. Agen 25.000

Bi. Pemasaran 52.000 BPP 300.000 Bi. Adm & Umum 19.000 Bi. Pemasaran 40.000 L/R 169.000 Bi. Adm & Umum 16.000 L/R 169.000

388

AKUNTANSI KANTOR CABANG

Seperti dijelaskan di bagian sebelumnya bahwa Kantor Cabang mempunyai kewenangan dalam melakukan transaksi penjualan. Oleh karena itu Kantor Cabang melaksanakan pembukuan tersendiri . Jadi baik Kantor Pusat maupun Kantor Cabang menyelenggarakan pencatatan akuntansi sendiri-sendiri. Pencatatan ini hanya berguna untuk pihak intern Kantor Pusat maupun Kantor Cabang. Untuk kepentingan pihak ekstern Kantor Pusat menyiapkan laporan konsolidasi yaitu laporan keuangan yang berisi Kinerja Keuangan Gabungan dari Kantor Pusat dan Kantor Cabang.

Berbeda dengan investasi kantor Pusat di kantor Agen yang

hanya berupa modal kerja awal saja, investasi yang ditanamkan oleh Kantor Pusat ke Kantor Cabang meliputi semua kebutuhan awal kantor Cabang . Oleh karena itu dapat dikatakan bahwa kantor Pusat bertindak sebagai Investor (pihak penyandang dana ) dan Kantor Cabang sebagai Investee (pihak penerima dana). Oleh karena itu diperlukan rekening yang bersifat Resiprokal (timbal balik) antara Kantor Pusat dan Kantor Cabang untuk menampung transaksi yang bersifat resiprokal ini, Kantor Pusat menggunakan nama rekening Kantor Cabang, sebaliknya Kantor Cabang menggunakan rekening Kantor Pusat. Rekening kantor cabang merupakan hak kantor pusat sedangkan rekening kantor pusat merupakan kewajiban kantor cabang. Dalam membuat laporan konsolidasi rekening resiprokal harus dieleminasi Contoh transaksi yang mengakibatkan timbulnya rekening timbal balik/resiprokal ditampakkan pada contoh jurnal di bawah ini.

Keterangan Kantor Pusat (KP) Kantor Cabang (KC)

1. Pengiriman kas atau aktiva selain barang dengan dari KP ke KC, pengiriman kas atau aktiva selain barang dengan dari KC ke KP

KC laba atau rugi xxx Kas (aktiva) xxx Kas (akv) xxx KP xxx

Kas (akv)laba atau rugi KP xxx KClaba atau rugi Kas (aktiva) xxx

2. Pengiriman barang dagang dari KP ke KC

Sistem Fisik Sistem Fisik KC xxx Pengiriman brg ke KP xxx

Pengiriman brg ke KC xxx KP xxx Sistem Perpetual Sistem Perpetual KC xxx Persed Brg Dg xxx

Persed Brg Dg xxx KP xxx Pengembalian Brg Dgg

dari KC ke KP Sistem Fisik Sistem Fisik Pengiriman brg ke KC xxx KP xxx KC xxx Pengiriman Brg dari KP xxx Sistem Perpetual Sistem Perpetual Persed Brg Dg xxx KP xxx

KP xxx Persediaan Brg dr KP xxx

389

3. Pengakuan Laba KC KC xxx L/R xxx

L/R KC xxx KP xxx

Pengakuan Rugi KC L/R KC xxx KP xxx KC xxx L/R xxx

Contoh : Berikut ini adalah contoh transaksi-transaksi yang ada di kantor cabang dari PT. ”Dewi Ratih” berkedudukan di Malang dan bergerak dalam bidang alat-alat kesehatan, pada awal tahun 2007 membuka Kantor Cabang di Jember. Ikhtisar transaksi keuangan selama tahun 2007 diringkas sebagai berikut: 1. Kantor Cabang menerima uang Rp 150.000.000,00 dari kantor pusat 2. Kantor Cabang membeli peralatan secara tunai senilai Rp

75.000.000,00. Peralatan ini mempunyai umur ekonomis 5 tahun 3. Menerima barang dagangan senilai Rp 115.000.000,00 dari kantor

pusat 4. Membeli barang dagangan dari supplier luar Rp 30.000.000,00

secara tunai 5. Menjual barang dagang seharga Rp 200.000.000,00 secara tunai 6. Mengembalikan barang dagang yang diterima dari kantor pusat

seharga Rp 7.500.000,00 karena barang tersebut rusak. 7. Biaya-biaya yang dikeluarkan oleh kantor cabang sebagai berikut:

- Gaji Rp 30.000.000,00 - Bunga Rp 25.000.000,00 - Lain-lain Rp 15.000.000,00

8. Mengirim uang Rp 100.000.000,00 ke kantor pusat 9. Pada akhir tahun diketahui utang gaji sebesar Rp 7.000.000,00 dan

biaya depresiasi Rp 15.000.000,00 10. Persediaan barang dagangan yang diterima dari kantor pusat pada

akhir tahun Rp 6.000.000,00. Persediaan barang dagangan yang dibeli dari supplier luar pada akhir tahun Rp 35.000.000,00

Metode pencatatan persediaan secara fisik Dari data di atas, berikut ini adalah jurnal yang dibuat kantor pusat dan kantor cabang:

390

Keterangan

Kantor Pusat (dlm ribuan rupiah)

Kantor Cabang (dlm ribuan rupiah)

1. Menerima uang dari KP Rp 150.000.000

KC 150.000 Kas 150.000 Kas 150.000 KP 150.000

2. Membeli Peralatan seharga Rp 75.000.000,00

Peralatan 75.000 Kas 75.000

3. Menerima barang dagang dari KP seharga Rp 115.000.000,00

KC 115.000 Pengiriman Brg dr 115.000 Pengir. Brg ke KC 115.000 KP 115.000

4. Membeli barang dagang dari Supplier luar Rp 30.000.000,00 secara tunai

Pembelian 30.000 Kas 30.000

5. Mengembalikan barang dagang KP Rp 7.500.000,00 secara tunai

Pengir. Brg ke KC 7.500 KP 7.500 KC 7.500 Pengir. brg dr KP 7.500

6. Menjual barang dagang sehrg Rp 200.000.000,00 secara tunai

Kas 200.000 Penjualan 200.000

7. Biaya-biaya yang dikeluarkan oleh KC - Gaji Rp 30.000.000,00 - Bunga Rp 25.000.000,00 - Lain-lain Rp 15.000.000,00

- Bi. Gaji 30.000 Bi. Bunga 25.000 Bi. Lain-lainn 15.000 Kas 70.000

8. Mengirim uang ke KP Rp 100.000.000,00

Kas 100.000 KP 100.000 KC 100.000 Kas 100.000

9. Membuat jurnal penyesuaian - Utang gaji Rp 7.000.000,00 - Depresiasi Rp 15.000.000,00

Bi. Gaji 7.000 Utang Gaji 7.000 Bi. Depresiasi 15.000 Akum Depresiasi 15.000

10. Jurnal Penutup Penjualan 200.000 Persediaan akhir 6.000 Pengiriman dr KP 107.500 Pembelian 30.000 Bi. Gaji 30.000 Bi Bunga 25.000 Bi Lain-lain 15.000 Bi.Depresiasi 15.000 KP 16.50011. Jurnal Penyesuaian KC 16.500 Laba KC 16.500

Laporan Keuangan Konsolidasi Dipandang dari segi ekonomi Kantor Pusat dan Kantor Cabang adalah satu kesatuan ekonomi. Disamping itu bagi pihak eksternal menganggap bahwa Kantor Pusat dan Kantor-kantor Cabangnya hanya merupakan satu perusahaan. Oleh karena itu sesuai dengan konsep enterprise (satu kesatuan ekonomi) Kantor Pusat harus menyusun Laporan Keuangan Konsolidasi (Consolidated Income Statement) yang