aktivitas komunikasi verbal dan non verbal dalam...

Click here to load reader

Post on 09-Mar-2021

3 views

Category:

Documents

0 download

Embed Size (px)

TRANSCRIPT

  • AKTIVITAS KOMUNIKASI VERBAL DAN NON

    VERBAL DALAM PEMBINAAN KEAGAMAAN ANAK

    YATIM DAN DHUAFA DI PANTI ASUHAN ANAK AN-

    NAJAH PETUKANGAN SELATAN PESANGGRAHAN

    JAKARTA SELATAN

    Skripsi

    Diajukan Kepada Fakultas Ilmu Dakwah dan Ilmu Komunikasi Untuk Memenuhi

    Persyaratan Memperoleh Gelar Sarjana Komunikasi Islam (S. Kom. I)

    Oleh

    DARWIS FITRA MAKMUR

    NIM. 109051000090

    PROGRAM STUDI KOMUNIKASI DAN PENYIARAN ISLAM

    FAKULTAS ILMU DAKWAH DAN ILMU KOMUNIKASI

    UIN SYARIF HIDAYATULLAH

    JAKARTA

    1435 H./2014 M.

  • LEMBAR PERNYATAAN

    Dengan ini saya menyatakan bahwa :

    1. Skripsi ini merupakan karya asli saya yang diajukan untuk memenuhi

    salah satu persyaratan memperoleh gelar strata satu (S1) Universitas Islam

    Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta.

    2. Semua sumber yang saya gunakan dalam penulisan ini telah saya

    cantumkan sesuai dengan ketentuan yang berlaku di UIN Syarif

    Hidayatullah Jakarta.

    3. Jika di kemudian hari terbukti bahwa karya ini merupakan hasil plagiat

    atau hasil jiplakan karya orang lain, maka saya bersedia menerima sanksi

    yang berlaku di UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.

    Jakarta, Februari 2014

    Penulis

    Darwis Fitra Makmur

  • AKTfVITAS KOMUNIKASI VERBAL DAN NON VERBAL

    DALAM PEMBINAAII KEAGAMAAN ANAK YATIM DAII

    DHUAFA DI PAI\TI ASUHAN ANAK AII.NAJAH PETUKAi\GAII

    SELATAN PESANGGRAHAN JAKAR'TA SELATA]Y

    Skripsi

    Diaj ukan untuk Memenuhi Persyaratan Memperoleh

    Gelar Sarjana Komunikasi Islam (S.Kom.I)

    Peneliti

    Darwis Fitra Makmur

    NIM: 109051000090

    Dosen Pembimbing

    PROGRAM STUDI KOMUNIKASI DAN PEIYYIARAN ISLAM

    FAKULTAS ILMU DAKWAII DAI\ ILMU KOMUNIKASI

    UNIVERSITAS ISLAM NEGERI

    SYARIF I{IDAYATULLAII

    JAKARTA

    1435H.n014 M.

    Wafi Nilamsari. M.Si.

    MP: 19710520 199903 2 A02

  • PENGESAHAN PANITIA UJIAN

    Skripsi berjudul AKTIVITAS KOMUNIKASI VERBAL DAI\ NONVERBAL DALAM PEMBINAAN KEAGAMAAN ANAK YATIM DANDHUAX'A DI PAT{TI ASUHAN ANAK AN.NAJAH PETT'KAhIGANSELATAIY PESANGGRAHAII JAKARTA SELATAN telah diujikan dalamsidang munaqasyah Fakultas Ilmu Dakwah dan Ilmu Komunikasi UIN SyarifHidayatullah Jakarta pada 25 Februari 2014. Skripsi ini telah diterima sebagaisalah satu syarat memperoleh gelar Sarjana Ilmu Komunikasi Islam (S.Kom.I.)pada Jurusan Komunikasi dan Penyiaran Islam.

    Jakart4 25 Februari20l{

    Sidang Munaqasyah

    Ketua Sidang Sekretaris Sidang

    NIP: 19630515 199203 1006

    Anggota,Penguji I Penguji II

    NIP: 1971081

    Nunung Khairivah. M.ANIP: 19730725 3007012 018 19710816

    10520 1999032

  • i

    ABSTRAK

    Darwis Fitra Makmur

    Aktivitas Komunikasi Verbal dan Non Verbal dalam Pembinaan Keagamaan

    Anak Yatim dan Dhuafa di Panti Asuhan Anak An-Najah

    Komunikasi merupakan alat untuk berdakwah untuk menyampaikan ide atau

    gagasan dan pesan dakwahnya kepada khalayak dengan tujuan agar khalayak

    memahami dan mengamalkan ide atau gagasan dan pesan dakwah yang disampaikan.

    Komunikasi dalam pendidikan adalah proses komunikasi yang melibatkan banyak

    kompenen yang terdiri atas semua kompenen yang ada di lingkungan sekolah seperti

    guru, murid, kepala sekolah dan sebagainya. Khususnya dalam proses pembelajaran,

    maka pengajar berfungsi sebagai komunikator dan murid sebagai komunikan.

    Kemampuan menggunkan komunikasi verbal dan non verbal secara efektif sangat

    penting bagi seorang guru dan murid. Dengan adanya komunikan tersebut

    memungkinkan pengidentifikasian tujuan, pengembangan pembelajaran dan tingkah

    laku untuk mencapai tujuan. Dalam hal ini adalah pencapaian tujuan untuk

    meningkatkan prestasi anak asuh.

    Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bagaimana bentuk komunikasi verbal

    dan non verbal yang dilakukan pengajar dalam pembinaan keagamaan anak yatim

    piatu dan dhuafa di Panti Asuhan Anak An-Najah. Adapun teori yang digunakan

    dalam komunikasi verbal adalah teori operant conditioning, teori kognitif dan teori

    mediating dan bentuk komunikasi non verbal.

    Metode yang digunakan adalah pendekatan kualitatif dengan metode analisis

    deskriptif. Subjek penelitian yang dipilih dengan menggunakan purposive sampling

    yaitu pengasuh, pengajar, dan empat anak asuh dilihat dari tingkat pendidikan.

    Dengan teknik pengumpulan data melalui pengamatan lapangan (observasi),

    wawancara, dan dokumentasi di Panti Asuhan Anak An-Najah. Kemudian dengan

    teknik analisis data dan teknik keabsahan data.

    Bentuk komunikasi verbal yang dilakukan pengasuh dan pengajar dalam

    pembinaan keagamaan anak yang diterapkan di Panti Asuhan Anak An-Najah ini

    yaitu memberikan wadah untuk share, memberikan teguran dan nasehat, serta

    memberikan apresiasi kepada anak asuh yang berprestasi. Bentuk komunikasi non

    verbal yang dilakukan pengasuh dan pengajar dalam pembinaan keagamaan anak

    yang diterapkan di Panti Asuhan Anak An-Najah ini mengedepankan akhlak dan

    keteladanan. Itulah yang membuat anak asuh nyaman dan suka kepada pengajar dan

    pengasuhnya, sehingga terdapat kasih sayang yang menimbulkan kedekatan antara

    pengasuh dan pengajar dengan anak asuh serta menerapkan kedisiplinan yang

    diadakan peraturan dan sanksi bagi yang melanggar.

  • ii

    KATA PENGANTAR

    Bismillahirrahmanirrahim,

    Assalamu’alaikum Wr. Wb.

    Dengan mengucapkan rasa syukur ke hadirat Allah SWT, yang telah

    memberikan rahmat, taufik, dan hidayah-Nya, sehingga penulis dapat menyelesaikan

    penulisan skripsi ini. Shalawat serta salam semoga Allah SWT limpahkan kepada

    Nabi Muhammad SAW, beserta keluarga, para sahabat dan pengikutnya.

    Sekalipun skripsi yang berjudul “Bentuk Komunikasi Verbal dan Non Verbal

    dalam Pembinaan Keagamaan Anak Yatim Piatu dan Dhuafa di Panti Asuhan Anak

    An-Najah Petukangan Selatan Pesanggrahan Jakarta Selatan” ini masih jauh dari

    sempurna, namun ini merupakan suatu usaha yang maksimal, karena dalam proses

    penyelesaiannya tidak sedikit kesulitan dan hambatan dalam penyusunan skripsi ini.

    Namun berkat pertolongan Allah SWT yang memberikan nikmat-Nya dan

    kesungguhan kepada penulis serta bantuan yang penulis terima dari berbagai pihak

    yang telah membantu dalam penulisan skripsi ini.

    Untuk itu penulis mengucapkan terima kasih kepada:

    1. Bapak Dr. H. Arief Subhan, M.A, Dekan Fakultas Ilmu Dakwah dan Ilmu

    Komunikasi. Bapak Dr. Suparto, M. Ed, Pudek I, Bapak Drs. Jumroni, M.Si,

    Pudek II dan juga Bapak Drs. Wahidin Saputra, MA, Pudek III.

    2. Bapak Rachmat Baihaky, MA, Ketua Jurusan Komunikasi dan Penyiaran Islam,

    dan Ibu Umi Musyarrofah, MA, Sekretaris Jurusan Komunikasi dan Penyiaran

    Islam.

  • iii

    3. Ibu Wati Nilamsari, MA, Pembimbing yang selalu memberikan arahannya guna

    mencapai hasil skripsi yang lebih baik.

    4. Seluruh Dosen dan Staff Fakultas Ilmu Dakwah dan Ilmu Komunikasi yang telah

    membantu mempermudah segala urusan dalam rangka menyelesaikan skripsi ini.

    5. Pengurus dan Staff di Perpustakaan Utama UIN Syarif Hidayatullah yang banyak

    membantu peneliti dalam mendapatkan bahan skripsi.

    6. Pengurus Perpustakaan Fakultas Ilmu Dakwah dan Ilmu Komunikasi yang telah

    memberikan kemudahan kepada peneliti dan memberikan tempat yang nyaman

    bagi peneliti demi kelancaran skripsi ini.

    7. Bapak M. Ansor sebagai pengasuh dan Bapak M. Guntur sebagai pengajar Panti

    Asuhan Anak An-Najah serta adik-adik asuh di Panti yaitu Fauzan, Katrin, Arya

    dan Qona’ah yang telah meluangkan waktu untuk peneliti dalam membantu dan

    menyelesaikan skripsi ini.

    8. Orang tua, ayahanda dan ibunda, No’om Rinan dan Kholillah, serta kakak-kakak

    Omah Maria, Ida Wati, Sakillah, Sukiyanti Indayani, dan Yohani Anggia Sari

    yang telah memberikan dukungannya, tanpa dukungan dan doa dari kalian

    peneliti bukanlah apa-apa.

    9. Abang Jaka Lelana, SE yang telah memberikan doa, bantuan dan dukungannya

    selama ini.

    10. Revina Septhiani, Kekasih merangkap sebagai sahabat, teman cerita, yang selalu

    mendoakan dan mengantarkan peneliti dalam penyelesaian skripsi ini.

    11. Sahabat-sahabat, Ahmad Zaky, Priyan Arga, Hasbul dan Abdullah yang

    memberikan banyak motivasi kepada peneliti.

  • iv

    12. Teman-teman seperjuangan KPI C 2009 yang memberikan dukungannya kepada

    peneliti.

    13. Teman-teman futsal dakwah, kawan-kawan KKN Dedication dan kawan-kawan

    lainnya yang tidak bisa peneliti sebutkan namanya satu per satu.

    Akhir kata, peneliti mohon maaf jika dalam penulisan skripsi ini masih

    terdapat kesalahan dan kekurangan. Namun, peneliti berharap saran serta kritik dalam

    rangka perbaikan perbaikan penulisan skripsi ini. Terima kasih.

    Wassalamu’alaikum Wr. Wb.

    Jakarta, Februari 2014

    Darwis Fitra Makmur

  • v

    DAFTAR ISI

    ABSTRAK…………………………………………………………………………… i

    KATA PENGANTAR………………......………………………………………….. ii

    DAFTAR ISI………………..……………………………………………….……… v

    DAFTAR TABEL………………………………...……………………………….. vii

    BAB I PENDAHULUAN

    A. Latar Belakang..…………………………………………………. 1 B. Batasan dan Perumusan Masalah……………..…………………. 8 C. Tujuan dan Manfaat Penelitian……………..…………………… 9 D. Metodolgi Penelitian…………..…………..…………………… 10

    1. Pendekatan Penelitian………..……..……………………… 10 2. Subjek dan Objek Penelitian………..…..………………….. 11 3. Lokasi dan Waktu Penelitian………..…………..…………. 14 4. Teknik Pengumpulan Data……………………………….... 14 5. Teknik Analisis Data……..………………………………… 16 6. Teknik Keabsahan Data…………………………………….. 16

    E. Tinjauan Pustaka……………………………..…………………. 17 F. Sistematika Penulisan………………………………………..…. 19

    BAB II TINJAUAN TEORI

    A. Pengertian Aktivitas…………………………………………… 23 B. Ruang Lingkup Komunikasi

    1. Definisi Komunikasi………………………………….……. 24 2. Unsur-unsur Komunikasi………………………………….. 27 3. Fungsi Komunikasi………………………………………… 30 4. Tujuan Komunikasi………………………………………… 30

    C. Bentuk-bentuk Komunikasi 1. Komunikasi Verbal…….....………………………………… 31

    a. Teori Operant conditioning……..………………………. 32 b. Teori Kognitif………………….……………………….. 32 c. Teori Mediating (Penengah)…….……………………… 33

    2. Komunikasi Non Verbal………...…………………….……. 35 D. Pembinaan Keagamaan

    1. Pengertian Pembinaan Keagamaan..……………………….. 39 2. Tujuan Pembinaan Keagamaan…….………………………. 40 3. Metode Pembinaan Keagamaan……..……………………... 42

  • vi

    E. Anak Yatim dan Dhuafa 1. Pengertian Anak……………….…………………………… 44 2. Pengertian Yatim……..………….…………………………. 45 3. Pengertian Dhuafa………………..………………………… 46

    a. Ruang Lingkup Kaum Dhuafa.………………………… 47 b. Langkah-langkah Membantu Pengembangan Kaum

    Dhu’afa…………………..…….……………………….. 48

    F. Panti Sosial Asuhan Anak 1. Pengertian Panti Sosial Asuhan Anak………………...……. 50 2. Sifat-Sifat Pelayanan Panti Asuhan…………………..……. 50

    BAB III GAMBARAN UMUM PANTI ASUHAN ANAK AN-NAJAH

    A. Sejarah Berdirinya PAA ANNAJAH……...………………….... 54 B. Visi, Misi dan Tujuan PAA ANNAJAH……...………………... 56 C. Struktur Organisasi PAA ANNAJAH …………………....……. 57 D. Program-program Kegiatan PAA ANNAJAH.…………..…….. 58 E. Proses Perekrutan dan Persyaratan Anak Asuh…..…………….. 59 F. Sumber dan Penggunaan Dana Panti Asuhan…...……………… 60 G. Sarana dan Pra-Sarana yang dimiliki Panti Asuhan…...……….. 60 H. Pelayanan Pengasuhan Anak Asuh……………………...……… 61 I. Pembinaan Keagamaan di Panti Asuhan………………..…….... 63 J. Keadaan Anak Asuh di Panti Asuhan…………………………. 66

    BAB IV TEMUAN HASIL PENELITIAN

    A. Bentuk Komunikasi Verbal Dalam Pembinaan Keagamaan Anak Yatim Piatu Dan Dhuafa ……………………………………..… 70

    B. Bentuk Komunikasi Non Verbal Dalam Pembinaan Keagamaan Anak Yatim Piatu Dan Dhuafa………………………….……… 83

    BAB V PENUTUP

    A. Kesimpulan………………………………………..…………..... 87 B. Saran…………………………………..……………………...… 89

    DAFTAR PUSTAKA……………………..……………………….. 90

    LAMPIRAN

  • vii

    DAFTAR TABEL

    1. Tabel 1 Kerangka Sampe Penelitian.…………...…………………………… 13 2. Tabel 2 Jumlah Anak Asuh PAA An-Najah…………………………..…….. 67 3. Tabel 3 Keadaan Anak Asuh PAA An-Najah Menurut Usia………….……. 67 4. Tabel 4 Keadaan Anak Asuh Menurut Tingkat Pendidikan.………………... 68 5. Tabel 5 Keadaan Anak Asuh PAA An-Najah Menurut Status...……………. 69

  • 1

    BAB I

    PENDAHULUAN

    A. Latar Belakang Masalah

    Setiap manusia yang hidup dalam masyarakat tidak akan pernah lepas

    dari komunikasi. Komunikasi merupakan proses aktivitas dasar manusia.

    Komunikasi dapat terjadi apabila ada komunikator (orang yang menyampaikan

    pesan atau informasi) dan komunikan (orang yang menerima pesan).

    Komunikasi pada dasarnya adalah penyampaian atau pengiriman pesan

    yang berupa pikiran atau perasaan oleh seseorang (komunikator) untuk

    memberitahu guna mengubah sikap, pendapat dan perilaku baik secara langsung

    atau tidak, dan yang terpenting dalam proses penyampaian pesan itu harus jelas,

    agar tidak terjadi salah paham. Adapun perasaan bisa keyakinan, keraguan,

    kekhawatiran, kemarahan, keberanian dan lain-lain yang timbul dari hati.1

    Komunikasi mempunyai peranan yang sangat penting, karena dengan

    berkomunikasi seorang anak bisa mencurahkan isi hatinya begitu juga dengan

    orang tua bisa memberikan kasih sayang. Dengan komunikasi manusia mencoba

    mengekspresikan keinginannya dan dengan komunikasi pula manusia

    melaksanakan kewajibannya. Itulah sebabnya Wilbur Schraam yang dikutip oleh

    Toto Asmara dalam bukunya Komunikasi Dakwah, memberikan predikat kepada

    1 Onong Uchjana Effendy, Ilmu Komunikasi Teori dan Praktek, (Bandung: PT Remaja

    Rosdakarya, 205), cet. Ke-19, h. 11

  • 2

    manusia sebagai The communication Animal, artinya tanpa komunikasi manusia

    akan jatuh derajatnya pada tingkat yang rendah.2

    Komunikasi dalam pendidikan adalah proses komunikasi yang

    melibatkan banyak komponen yang terdiri atas semua komponen yang ada di

    lingkungan sekolah seperti guru, murid, kepala sekolah dan sebagainya.

    Khususnya dalam proses pembelajaran, maka pengajar berfungsi sebagai

    komunikator dan murid sebagai komunikan.

    Perlu disadari, bahwa peran komunikasi sangat diperlukan dalam

    kehidupan bersosialisasi, bahkan pada bidang pendidikan. Seorang guru harus

    dibekali ilmu komunikasi agar apa yang disampaikannya dapat menjadi efektif

    dan siswa dapat memahami pelajaran dengan mudah. Telah disepakati, bahwa

    fungsi komunikasi adalah menyampaikan informasi, mendidik, menghibur dan

    mempengaruhi. Dalam komunikasi istilah pendidikan dan pengajaran adalah dua

    komponen yang saling melibatkan antara pengajar sebagai komunikator dan

    pelajar sebagai komunikan.3

    Berkomunikasi dapat dilakukan secara verbal dan non verbal.

    Komunikasi verbal adalah komunikasi yang menggunakan simbol-simbol atau

    kata-kata baik yang dinyatakan secara oral atau lisan maupun secara tulisan.4

    Sedangkan komunikasi non verbal adalah penciptaan pesan melalui gerak tubuh,

    2 Toto Asmara, Komunikasi Dakwah, (Jakarta: Gaya Media Pratama, 1997), cet. Ke-2, h. 6

    3 Fitriani, Bentuk Komunikasi Antara Guru dan Orang Tua Dalam Membantu Pembelajaran

    Agama di SDI Al-Izhar Pondok Labu, (Jakarta: Skripsi UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, 2011), h. 3 4 Djuarsa Sendjaja, Teori Komunikasi, (Jakarta: Universitas Terbuka, 2005), h. 63.

  • 3

    sikap tubuh, vokal yang bukan kata-kata, kontak mata, ekspresi muka dan

    sentuhan.5

    Kemampuan menggunakan komunikasi verbal dan non verbal secara

    efektif sangat penting bagi seorang guru dan murid. Dengan adanya komunikasi

    tersebut memungkinkan pengidentifikasian tujuan, pengembangan pembelajaran

    dan tingkah laku untuk mencapai tujuan. Dalam hal ini adalah pencapaian tujuan

    untuk meningkatkan prestasi.

    Komunikasi merupakan proses penyampaian seseorang berupa gagasan

    atau pesan-pesan kepada orang lain. Jelas bahwa komunikasi melibatkan

    sejumlah orang, di mana seseorang menyatakan sesuatu kepada orang lain. Jadi,

    yang terlibat dalam komunikasi itu adalah manusia. Karena itu, komunikasi yang

    dimaksudkan di sini adalah komunikasi manusia atau dalam bahasa asing human

    communication, yang sering kali pula disebut komunikasi sosial atau social

    communication.6

    Komunikasi dalam proses pembinaan di lembaga sosial yang dilakukan

    oleh pengajar kepada anak asuhnya. Termasuk ke dalam komunikasi kelompok

    karena komunikasi ini dilakukan dari tiga atau lebih individu dalam situasi tatap

    muka. Dilihat dari segi tujuan, komunikasi di lembaga sosial adalah mentransfer

    dan meningkatkan pengetahuan anak termasuk juga pengetahuan agama Islam.

    Dari pernyataan di atas terlihat jelas bahwa komunikasi itu dapat

    dijadikan alat dalam pembinaan keagamaan anak-anak yang berbentuk verbal

    5 Deddy Mulyana, Ilmu Komunikasi Suatu Pengantar, (Bandung: Remaja Rosdakarya, 2003),

    h. 97 6 S. Djuarsa Sendjaja, Teori Komunikasi, (Jakarta: Universitas Terbuka, 2005), Cet. Ke-9

  • 4

    dan non verbal, khususnya bagi anak yatim dan dhuafa dalam kegiatan sehari-

    harinya di panti asuhan.

    Menurut Soerjono Sukanto, keadaan kaya dan miskin secara

    berdampingan tidak merupakan masalah sosial sampai saatnya perdagangan

    berkembang dengan pesat dan timbulnya nilai-nilai sosial yang baru. Dengan

    berkembangnya perdagangan keseluruh dunia dan ditetapkannya taraf kehidupan

    tertentu sebagai suatu kebiasaan masyarakat, kemiskinan muncul sebagai

    masalah sosial.7

    Soerjono Sukanto menyatakan kemiskinan terjadi karena tidak adanya

    pembagian kekayaan yang merata. Hal ini bisa dilihat di kota-kota besar di

    Indonesia seperti Jakarta, seseorang dianggap miskin karena tidak memiliki

    radio, televisi, dan mobil. Kecenderungan yang semakin tidak merata tersebut

    dalam pendistribustian pendapatan, akan semakin luas pula terjadinya

    kemiskinan dan kesenjangan sosial, sehingga lama kelamaan benda-benda

    sekunder tersebut dijadikan ukuran bagi keadaan sosial-ekonomi seseorang, yaitu

    apakah dia miskin atau kaya.8

    Orang tua (keluarga) memegang peranan penting dalam pengasuhan anak

    agar anak mendapat perhatian dan terpenuhinya hak-hak anak sehingga terhindar

    dari keterlantaran. Keterlantaran pada anak bukan saja berdampak pada

    7 Sukanto Soerjono, Sosiologi Suatu Pengantar, (Jakarta: PT Raja Grafindo Persada, 2003),

    cet ke-35. h. 364 8 Sukanto Soerjono, Sosiologi Suatu Pengantar, h.366

  • 5

    keberadaan anak itu sendiri tetapi juga terkait dengan masa depan bagsa dan

    dampak sosial yang ditimbulkannya.9

    Keluarga sebagai unit terkecil dalam tatanan masyarakat merupakan

    unsur penentu pertama dan utama keberhasilan pembinaan anak sebagai generasi

    penerus cita-cita perjuangan bangsa. Posisi strategis ini hanya dapat diwujudkan

    apabila keluarga mampu melaksanakan fungsi dan perannya secara serasi dalam

    kehidupan keluarga dan sebagai unsur yang aktif partisipasi dalam usaha

    pembinaan lingkungan sosial yang tentram dan sejahtera.

    Seorang anak sangat mendambakan perhatian dan sentuhan kasih sayang

    dari orang tuanya dan mendapat kehidupan yang layak bagi mereka. Akan tetapi,

    ketika salah satu dari mereka (orang tua) anak terutama seorang ayah meninggal,

    maka si anak merasa ada sesuatu yang kurang dan merasa kehilangan seorang

    sosok bapak yang menjadi figuran dan teladan baginya.

    Apa lagi jika kedua orang tuanya meninggal, maka ia akan merasa

    kesepian dan hidup sebatang kara tanpa adanya lagi perhatian dan kasih sayang

    dari orang tuanya, serta mereka tidak akan lagi mendapat kehidupan yang layak

    bagi mereka yang harus kita penuhi. Maka disini anak mempunyai hak adalah

    mendapatkan nama yang bagus dan baik mendapatkan pendidikan, pembiayaan

    serta pemenuhan kebutuhan dan dinikahkannya.

    9 Modul Pelayanan Sosial Anak Terlantar Luar Panti Melalui Penguatan Ekonomi Keluarga

    Dalam Bentuk Kelompok Usaha Bersama (KUBE, 2011).

  • 6

    Dengan demikian jelas bahwa letak persoalan bukan pada korban yakni

    pada kaum dhuafa dan anak yatim melainkan sistem sosial dan budaya yang

    membawa akibat pada kemiskinan terjadi pada kebijakan-kebijakan pemerintah

    tidak memihak pada kaum dhuafa.10

    Anak-anak dhuafa dan anak yatim yang ada di Indonesia merupakan

    bagian dari komponen masyarakat yang mempunyai hak dan kewajiban yang

    sama dengan komponen masyarakat yang lainnya yang tidak boleh

    termarjinalkan, karena hal tersebut merupakan tindakan dokumentasi masalah

    yang timbul seputar anak-anak kaum dhuafa dan anak yatim yang merupakan

    tanggung jawab kita bersama sebagai sesama makhluk sosial terlebih lagi Negara

    sebagai institusi yang mengatur hubungan manusia yang satu dengan yang

    lainnya dalam konteks hidup bernegara dan bermasyarakat.

    Anak yatim dan dhuafa merupakan permasalahan yang terkait dengan

    keberadaan masa depan anak secara umum sebagai penerus generasi bangsa.

    Oleh karena itu penanganan anak yatim dan dhuafa (terlantar) menjadi tanggung

    jawab bersama agar di dapatkan upaya yang lebih efektif dan optimal. Anak

    yatim and dhuafa merupakan masalah sosial yang banyak ditemukan di

    masyarakat.11

    Panti asuhan adalah sebagai salah satu sarana yang sangat efektif dalam

    menjawab permasalahan yang terjadi dalam proses berkomunikasi, karena

    10

    Abul Laits Assamrqondi, H. Salim Bahreis, Tanbihul Ghofilin, (Jakarta: Sa‟diyah Putra,

    1984), Jilid 2, h. 543. 11

    Modul Pelayanan Sosial Anak Terlantar Dalam Panti (PSBR, 2010)

  • 7

    melalui komunikasi di panti asuhan dapat mengetahui bagaimana proses

    komunikasi verbal dan non verbal dari pengajar kepada anak asuh yang dapat

    berguna untuk anak-anak yang ada di panti.

    Panti asuhan sebagai tempat tinggal bagi anak-anak yang kurang mampu

    dan terlantar serta yatim sebagai tempat bimbingan. Panti asuhan juga bergerak

    dalam pembinaan dan melahirkan sumber daya manusia yang baik dan

    berkualitas dengan sifat-sifat pelayanan yang ada di panti asuhan.

    Maka dengan adanya panti asuhan disini sangat membantu mereka dalam

    menyelesaikan masalah-masalah yang mereka hadapi di dalam kehidupan ini

    sehingga mereka dapat menjalani hidup yang tidak dibedakan dengan anak-anak

    yang taraf ekonominya lebih baik dan yang masih punya orang tua.12

    Panti Asuhan anak “ANNAJAH” adalah suatu panti sosial yang

    menampung anak-anak yatim, orang duafa dan anak-anak yang orang tuanya

    sakit sakitan, di panti ini anak-anak dibina dan belajar hingga tamat SMA. Panti

    Sosial Asuhan Anak Annajah terletak di Jalan Kemajuan No. 10 Petukangan

    Selatan Pesanggrahan Jakarta Selatan.

    Panti sosial Asuhan Anak An-Najah sebagai lembaga sosial yang

    membantu anak-anak fakir miskin dan yatim, sarana dan prasarana yang dimiliki

    panti asuhan tersebut sangat menunjang dalam terbentuknya komunikasi verbal

    dan non verbal.

    12

    Depsos RI, Petunjuk Teknis Pelaksanaan Penyantunan dan Pengentasan Anak Terlantar

    Melalui Panti Asuhan Anak, (Jakarta: Binkesos, 1989), h. 3

  • 8

    Panti sosial Asuhan Anak An-Najah merupakan salah satu lembaga sosial

    masyarakat yang berada di wilayah Petukangan Selatan yang peduli terhadap

    nasib anak-anak kurang mampu, dan anak yatim. Panti ini juga sudah memiliki

    cirri-ciri panti sosial pada umumnya yaitu adanya visi, misi lembaga, program,

    pengurus, serta klien yang ditangani, kemudian sarana dan prasarana yang

    mendukung terjadinya komunikasi di panti ini dirasakan cukup.13

    Berkaitan dengan hal tersebut, akhirnya peneliti berkesimpulan dan

    merasa perlu membahas mengenai aktivitas komunikasi verbal dan non verbal

    pengasuh di Panti Asuhan „Anak‟ An-Najah Petukangan Selatan Pesanggarahan

    Jakarta Selatan. Khususnya terhadap anak yatim dan dhuafa yang mengikuti

    pembinaan keagamaan. Maka untuk menjawab semua persoalan tersebut peneliti

    mengambil judul: “Aktivitas Komunikasi Verbal dan Non Verbal Dalam

    Pembinaan Keagamaan Anak Yatim dan Dhuafa Di Panti Asuhan Anak An-

    Najah Petukangan Selatan Pesanggrahan Jakarta Selatan”

    B. Pembatasan dan Perumusan Masalah

    1. Pembatasan Masalah

    Agar penelitian ini lebih terarah dan fokus antara masalah yang

    dikemukakan dengan pembahasan dan analisis, maka perlu diberikan

    pembatasan masalah yang akan diteliti. Maka penelitian ini dibatasi pada

    13

    Wawancara pribadi dengan M. Ansor (Pengasuh Panti Asuhan „Anak‟ An-Najah), Jakarta,

    10 Oktober 2013

  • 9

    aktivitas komunikasi verbal dan non verbal dalam pembinaan keagamaan

    anak yatim dan dhuafa di Panti Asuhan Anak Petukangan Selatan

    Pesanggrahan Jakarta Selatan.

    2. Perumusan Masalah

    Agar dalam pembatasannya lebih terarah dan terfokus, maka peneliti

    perlu membuat perumusan masalah, yang tersusun dalam kerangka

    pertanyaan sebagai berikut:

    a. Bagaimana aktivitas komunikasi verbal yang dilakukan pengajar dalam

    pembinaan keagamaan anak yatim dan dhuafa di Panti Asuhan Anak

    An-Najah Petukangan Selatan Pesanggrahan Jakarta Selatan ?

    b. Bagaimana aktivitas komunikasi non verbal yang dilakukan pengajar

    dalam pembinaan keagamaan anak yatim dan dhuafa di Panti Asuhan

    Anak An-Najah Petukangan Selatan Pesanggrahan Jakarta Selatan ?

    C. Tujuan dan Manfaat Penelitian

    1. Tujuan Penelitian

    a. Untuk mengetahui aktivitas komunikasi verbal yang dilakukan pengajar

    dalam pembinaan keagamaan anak yatim dan dhuafa di Panti Asuhan

    Anak An-Najah Petukangan Selatan Pesanggrahan Jakarta Selatan.

    b. Untuk mengetahui aktivitas komunikasi non verbal yang dilakukan

    pengajar dalam pembinaan keagamaan anak yatim dan dhuafa di Panti

    Asuhan Anak An-Najah Petukangan Selatan Pesanggrahan Jakarta

    Selatan.

  • 10

    2. Manfaat Penelitian

    a. Secara Akademis

    Penelitian ini diharapkan dapat menambah dan khazanah

    keilmuan tentang aktivitas komunikasi verbal dan non verbal pengajar

    dalam pembinaan keagamaan. Di samping itu, penelitian ini juga

    diharapkan dapat digunakan sebagai alat bantu untuk menemukan dan

    mengembangkan teori-teori tentang komunikasi.

    b. Secara Praktis

    Hasil penelitian ini diharapkan dapat menjadi contoh panti

    asuhan atau lembaga swasta lainnya dengan melihat dan

    mengaplikasikan komunikasi verbal dan non verbal yang baik untuk

    pembinaan keagamaan anak yatim dan dhuafa.

    D. Metodologi Penelitian

    1. Pendekatan Penelitian

    Penelitian ini menggunakan pendekatan penelitian kualitatif, yaitu

    metode penelitian yang dihasilkan dari suatu data-data yang dikumpulkan

    berupa kata-kata, dan merupakan suatu penelitian ilmiah. Bogdan dan Taylor

    yang dikutip oleh Lexy J. Moleong mendefinisikan metodologi kualitatif

    sebagai prosedur penelitian yang menghasilkan data deskriptif berupa kata-

    kata tertulis atau lisan dari orang-orang dan perilaku yang diamati. 14

    14

    Lexy J. Moleong, Metodologi Penelitian Kualtatif (Bandung: PT. Remaja Rosda Karya,

    2009), cet. ke-26, h. 4

  • 11

    Dengan menggunakan pendekatan kualitatif, peneliti berupaya untuk

    menghimpun data, mengolah data dan menganalisis data dengan tujuan

    dapat memperoleh gambaran atau informasi yang luas dan mendalam

    tentang aktivitas komunikasi verbal dan non verbal yang menjadi objek

    penelitian.

    2. Subjek dan Objek Penelitian

    Sesuai dengan karakteristik penelitian kualitatif, teknik pemilihan

    informan yang digunakan dalam penelitian ini adalah sampel bertujuan

    (purpossive sampling).15

    Dalam menentukan subjek penelitian ini, peneliti

    memilih subyek penelitian yang menurut peneliti dapat memberikan data

    yang dibutuhkan.

    Adapun subjek utama penelitian ini adalah Panti Asuhan Anak An-

    Najah yang meliputi pengasuh panti yaitu M. Ansor dan pengajar

    Muhammad Guntur. Pemilihan subyek ini dilakukan karena mereka

    memiliki perhatian, pengetahuan serta perannya dalam pembinaan

    keagamaan anak yatim dan dhuafa. Sedangkan subyek pendukung dalam

    penelitian ini adalah anak asuh atau anak yatim dan dhuafa yang berada di

    Panti Asuhan Anak An-Najah. Jumlah anak asuh yang berada di Panti

    Asuhan Anak An-Najah berjumlah 25 orang.

    Dengan menggunakan purposive sampling, hal ini dilakukan

    berdasarkan kategori usia dan pendidikan. Di dapat 25 orang berdasarkan

    kategori usia (9-19 tahun) dan pendidikan (SD, SMP, SMA, Kuliah). Dari

    15

    Ibid. , h. 5.

  • 12

    sinilah peneliti memilih empat orang anak asuh yang terdiri dari satu orang

    berumur 9 tahun, pendidikan SD. Satu orang berumur 15 tahun, pendidikan

    SMP. Satu orang berumur 18 tahun, pendidikan SMA dan satu orang

    berumur 19 tahun, pendidikan kuliah semester 3.

    Pemilihan tersebut dimaksudkan untuk mengetahui bagaimanakah

    aktivitas komunikasi yang dilakukan antar pendidikan yaitu SD, SMP ,SMA

    dan Perguruan Tinggi . Sedangkan untuk objek penelitian ini adalah aktivitas

    komunikasi verbal dan non verbal pengasuh dalam pembinaan keagamaan

    anak yatim dan dhuafa di Panti Asuhan Anak An-Najah.16

    Tabel berikut ini merinci tentang subyek pendidikan :

    16

    Wawancara Pribadi dengan M. Ansor (Pengasuh Panti Asuhan Anak An-Najah), Jakarta,

    12 September 2013.

  • 13

    Tabel 1

    Kerangka Sampel Penelitian

    No. Jenis Data Subjek Penelitian Nama Subjek Kedudukan Data yang dicari

    1. Primer

    Utama

    Panti Asuhan Anak An-Najah 1. M. Ansor

    2. Muhammad

    Guntur

    Pengasuh panti

    asuhan anak

    annajah

    Pengajar panti

    asuhan anak

    annajah

    Aktivitas komunikasi anak-anak

    asuh dalam pembinaan keagamaan

    yang didapat di Panti Asuhan

    Anak An-Najah.

    2.

    Primer

    Pendukung

    Anak Asuh Panti Asuhan

    Anak An-Najah

    1. Fauzan

    2. Katrin

    3. M. Arya

    4. Qona‟ah

    SD

    SMP

    SMA

    Kuliah

    Cara pengasuh dan pengajar

    memberikan pembelajaran dalam

    pembinaan keagamaan dan

    dampak kepada masing-masing

    anak asuh di Panti Asuhan Anak

    An-Najah.

  • 14

    3. Lokasi dan Waktu Penelitian

    Penelitian ini dilaksanakan di Panti Asuhan Anak An-Najah, yang

    beralamat di Jalan Kemajuan No. 10 Petukangan Selatan Pesanggrahan

    Jakarta Selatan. Pemilihan lokasi Petukangan didasarkan pada 4 D dalam

    penelitian, yaitu data, date, daya dan dana.17

    Pertama, data atau informasi mudah untuk didapatkan karena sudah

    mempunyai link dan izin dari panti asuhan tersebut. Selanjutnya date atau

    waktu penelitian yang tersedia sesuai dengan waktu yang dibutuhkan.

    Ketiga, daya yang ditempuh tidak terlalu jauh dan ini memudahkan peneliti

    untuk melakukan penelitian. Keempat, dana yang dibutuhkan untuk

    penelitian tidak terlalu besar karena jangkauan tempat yang mudah dicapai

    sehingga memberikan keringanan bagi peneliti. Adapun waktu penelitian

    berlangsung kurang lebih selama empat bulan dari bulan September 2013

    sampai Januari 2014.

    4. Teknik Pengumpulan Data

    a. Observasi

    Observasi berarti pengamatan dan pencatatan dengan sistematik

    terhadap fenomena yang diselidiki. 18

    Observasi yang dilakukan oleh

    peneliti adalah observasi partisipan yaitu peneliti melakukan

    pengamatan langsung terhadap objek pembinaan keagamaan anak yatim

    17

    Jumroni dan Suhaimi, Metode-metode Penelitian Komunikasi (Jakarta: UIN Press, 2006),

    cet ke-1. h. 123. 18

    Sutrisno Hadi, Metodologi Research (Yogyakarta: Andi Offset, 1992), cet ke-2, h. 129.

  • 15

    dan dhuafa dan terlibat langsung mengikuti salah satu acara

    muhadhoroh di Panti Asuhan Anak An-Najah.

    b. Wawancara

    Wawancara adalah percakapan dengan maksud tertentu.

    Berbentuk tanya jawab lisan antara dua orang atau lebih secara

    langsung. Pewawancara disebut interviewer yaitu yang mengajukan

    pertanyaan, sedangkan orang yang diwawancarai disebut interviewe

    yang memberi jawaban atas pertanyaan-pertanyaan itu.19

    Dalam hal ini

    peneliti melakukan wawancara dengan pengasuh di Panti Asuhan Anak

    An-Najah yaitu M. Ansor dan pengajar Panti Asuhan Anak An-Najah

    Muhammad Guntur.

    Wawancara dilakukan dengan menggunakan pedoman wawancara

    agar pertanyaannya terarah. Adapun pertanyaan dalam wawancara yang

    dilakukan yaitu terkait program pembinaan keagamaan anak yatim dan

    dhuafa yang diterapkan pengasuh termasuk didalamnya tentang aktivitas

    komunikasi verbal dan non verbal.

    c. Dokumentasi

    Dokumentasi adalah teknik pengumpulan data yang diperoleh

    melalui dokumen-dokumen. Ini dilakukan untuk memperoleh data-data

    mengenai hal yang akan diteliti, dan juga yang berhubungan dengan

    objek penelitian. Adapun dokumen yang peneliti peroleh yaitu dari buku

    19

    Lexy J. Moleong, Metode Penelitian Kualitatif (Bandung: PT. Remaja Rosdakarya, 2007),

    h. 186.

  • 16

    bacaan tentang anak yatim dan dhuafa, profil Panti Asuhan Anak An-

    Najah, dan foto-foto terkait anak yatim dan dhuafa di Panti Asuhan

    Anak An-Najah.

    5. Teknik Analisis Data

    Analisis data adalah proses penyederhanaan data ke dalam bentuk

    yang lebih mudah di baca dan diinterpretasikan. Dalam menganalisa data,

    peneliti mengolah data dari hasil observasi dan wawancara, data tersebut

    disusun dan dikategorikan berdasarkan hasil wawancara, dokumen maupun

    laporan, yang kemudian dideskripsikan ke dalam bentuk bahasa yang mudah

    dipahami.20

    Teknik analisis data dilakukan dengan cara sebagai berikut:

    a. Tahap pertama adalah reduksi data, peneliti mencoba memilah data

    yang relevan dengan aktivitas komunikasi verbal dan non verbal dalam

    pembinaan keagamaan anak yatim dan dhuafa.

    b. Tahap kedua adalah penyajian data, setelah data mengenai aktivitas

    komunikasi verbal dan non verbal dalam pembinaan keagamaan anak

    yatim dan dhuafa diperoleh, maka data tersebut di susun dan disajikan

    dalam bentuk narasi, visual gambar, tabel dan sebagainya.

    c. Tahap ketiga adalah penyimpulan atas apa yang disajikan.

    6. Teknik Keabsahan Data

    Keabsahan data merupakan konsep penting dalam sebuah penelitian

    kualitatif. Untuk menentukan keabsahan data diperlukan teknik pemeriksaan.

    20

    Suharsimi Arikunto, Prosedur Penelitian: Suatu Pendekatan Praktik (Jakarta: PT. Rineka

    Cipta, 1998), cet ke-2, h. 78.

  • 17

    Pelaksanaan teknik pemeriksaan didasarkan atas sejumlah kriteria tertentu.

    Ada empat kriteria yang digunakan, yaitu derajat kepercayaan, keteralihan,

    kebergantungan, dan kepastian.21

    Adapun kredibilitas dilakukan dengan

    menggunakan teknik triangulasi, hal ini dapat dicapai dengan jalan:

    a. Membandingkan data hasil pengamatan dengan hasil wawancara,

    misalnya untuk mengetahui perasaan anak yatim dan dhuafa setelah

    mengikuti program yang ada di Panti Asuhan Anak An-Najah dengan

    cara sharing atau menanyakan langsung pada anak yatim dan dhu‟afa.

    b. Membandingkan keadaan perspektif seseorang dengan pendapat atau

    pandangan orang lain, misalnya peneliti membandingkan jawaban yang

    diberikan pengasuh panti asuhan anak An-Najah dengan jawaban yang

    diberikan oleh ketua panti asuhan anak annajah.

    c. Membandingkan hasil wawancara dengan hasil dokumen yang berkaitan

    dengan pembinaan keagamaan anak yatim dan dhuafa.

    E. Tinjauan Pustaka

    Sebelum peneliti mengadakan penelitian ini lebih lanjut kemudian

    menyusunnya menjadi suatu karya ilmiah, maka langkah awal yang penulis

    tempuh adalah dengan mengadakan tinjauan pustaka terlebih dahulu melalui

    beberapa hasil penelitian yang membahas tentang bentuk komunikasi. Maksud

    tinjauan pustaka ini, disamping untuk memperoleh informasi mengenai penelitian

    21

    Lexy J. Moleong, Metode Penelitian Kualitatif, (Bandung: PT. Remaja Rosadakarya,

    2007), h. 324

  • 18

    yang topiknya sejenis juga untuk mengetahui bahwa apa yang penulis teliti

    berbeda dengan penelitian terdahulu.

    Dari beberapa hasil penelitian yang ditemukan diantaranya adalah karya

    Bisyrul Hafi Al-Khairi Nurjamilah jurusan Komunikasi dan Penyiaran Islam

    Fakultas Dakwah dan Komunikasi UIN Syarif Hidayatullah Jakarta tahun 2012

    dengan judul Bentuk Komunikasi Verbal dan non Verbal guru Di Pondok

    Pesantren Miftahul Ulum Gandaria Jakarta Selatan. Skripsi tersebut membahas

    tentang komunikasi verbal dan non verbal yang diaplikasikan guru dalam

    meningkatkan prestasi belajar santri di Pondok Pesantren Miftahul Ulum

    Gandaria Jakarta Selatan. Teori komunikasi verbal yang digunakan guru adalah

    teori operant conditioning dan teori penengah, sedangkan komunikasi non verbal

    yang dilakukan adalah membudayakan senyum.

    Selanjutnya karya Maghfiroh jurusan Komunikasi dan Penyiaran Islam

    Fakultas Dakwah dan Komunikasi UIN Syarif Hidayatullah Jakarta tahun 2012

    dengan judul Bentuk Komunikasi Pengasuh dalam Membangun Potensi Diri

    Santri Yatim di Pondok Pesantren As-Syafi‟iyah. Skripsi tersebut membahas

    tentang program pesantren yang disediakan untuk menambah pemahaman para

    santri terhadap ilmu agama Islam. Diantaranya halaqoh, musyawarah,

    muhadatsah, muhadarah dan pendidikan lainnya seperti keterampilan, rekreasi,

    dan bimbingan konseling. Bentuk komunikasi yang dilakukan di Pesantren

    khusus yatim As-syafi‟iyah adalah bentuk komunikasi antar pribadi, komunikasi

    kelompok dan komunikasi instruksional.

  • 19

    Kemudian hasil penelitian karya Fitriani, jurusan Komunikasi dan

    Penyiaran Islam, Fakultas Dakwah dan Komunikasi UIN Syarif Hidayatullah

    Jakarta tahun 2011 dengan judul “Bentuk komunikasi Antara Guru Agama dan

    Orangtua Dalam Membantu Pembelajaran Agama Di SDI Al-Izhar Pondok Labu.

    Skripsi tersebut membahas tentang bentuk komunikasi yang dilakukan antara

    guru dan orang tua murid dalam meningkatkan pembelajaran agama di SDI Al-

    Izhar Pondok Labu sudah tercipta dengan cukup baik, terbukti dengan banyaknya

    murid-murid yang menerapkan nilai-nilai aqidah, syari‟at dan akhlak dengan

    menggunakan teori Harold Lasswell bahwa komunikasi adalah proses

    penyampaian pesan oleh komunikator kepada komunikan melalui media yang

    menimbulkan efek.

    Adapun pada penelitian ini membahas tentang aktivitas komunikasi

    verbal dan non verbal dalam pembinaan keagamaan anak yatim dan dhuafa di

    Panti Asuhan Anak An-Najah.

    F. Sistematika Penulisan

    Skripsi ini disusun dalam lima bab yang masing-masing bab terdiri dari

    sub bab. Lima bab tersebut disusun secara berurutan guna menjelaskan isi skripsi

    dengan lebih jelas, sistematis dan mendetail. Berikut gambaran mengenai

    penyususnan bab dalam skripsi ini:

  • 20

    BAB I PENDAHULUAN

    Terdiri atas latar belakang masalah, pembatasan dan

    perumusan masalah, tujuan dan manfaat penelitian, metodologi

    penelitian, tinjauan pustaka, dan sistematika penulisan.

    BAB II KAJIAN TEORI

    Berisi tentang: Pertama pengertian aktivitas, ruang lingkup

    komunikasi yang terdiri dari definisi komunikasi, unsur-unsur

    komunikasi, fungsi komunikasi, tujuan komunikasi, kedua sifat

    komunikasi yang terdiri dari komunikasi verbal dan

    komunikasi non verbal, ketiga pembinaan keagamaan yang

    terdiri dari pengertian pembinaan keagamaan, tujuan

    pembinaan keagamaan, metode pembinaan keagamaan,

    keempat anak yatim dan dhuafa yang terdiri dari pengertian

    anak, pengertian yatim dan dhuafa yang terdiri dari pengertian

    dhuafa, ruang lingkup kaum dhuafa, langkah-langkah

    membantu pengembangan kaum dhuafa, kelima panti sosial

    asuhan anak yang terdiri dari pengertian Panti Sosial Asuhan

    Anak dan sifat-sifat pelayanan panti asuhan anak.

  • 21

    BAB III GAMBARAN UMUM PANTI ASUHAN ANAK AN-

    NAJAH

    Bab ini memuat tentang profil Panti Asuhan Anak An-Najah

    yang terdiri dari Sejarah berdirinya Panti Asuhan Anak AN-

    Najah, Visi, Misi dan Tujuan Panti Asuhan „Anak‟ An-Najah,

    Struktur Kepengurusan Panti Asuhan „Anak‟ An-Najah,

    Program-program Kegiatan Panti Asuhan „Anak‟ An-Najah,

    Proses Perekrutan dan Persyaratan Anak Asuh, Sumber dan

    Penggunaan Dana Panti Asuhan „Anak‟ An-Najah, Sarana dan

    Pra-Sarana yang dimiliki Panti Asuhan „Anak‟ An-Najah,

    Pelayanan di Panti Asuhan „Anak‟ An-Najah, dan Keadaan

    Anak Asuh di Panti Asuhan Anak An-Najah (Periode 2013-

    2014)

    BAB IV ANALISIS DATA

    Berisi tentang program yang diterapkan pengasuh dalam

    pembinaan keagamaan anak yatim dan dhuafa, aktivitas

    komunikasi verbal dan non verbal dalam pembinaan

    keagamaan anak yatim dan dhuafa dan aktivitas komunikasi

    yang paling efektif dalam pembinaan keagamaan anak yatim

    dan dhuafa di Panti Asuhan Anak An-Najah Petukangan

    Selatan Pesanggrahan Jakarta Selatan.

  • 22

    BAB V PENUTUP

    Berisi kesimpulan dan saran-saran berkaitan dengan aktivitas

    komunikasi verbal dan non verbal dalam pembinaan

    keagamaan anak yatim dan dhuafa di Panti Asuhan Anak An-

    Najah Petukangan Selatan Pesanggrahan Jakarta Selatan.

  • 23

    BAB II

    TINJAUAN TEORITIS

    A. Pengertian Aktivitas

    Aktivitas menurut kamus besar Indonesia adalah keaktifan, kegiatan-

    kegiatan, kesibukan, atau bisa juga berarti kerja atau salah satu kegiatan kerja

    yang dilaksanakan tiap bagian dalam tiap suatu organisasi atau lembaga. Atau

    dapat diartikan sebagai segala bentuk keaktifan dan kegiatan.1

    Sedangkan menurut kamus besar Ilmu pengetahuan aktivitas berasal dari

    kata activity yang berarti aktivitas, bertindak, yaitu tindakan pada diri setiap

    eksistensi atau makhluk yang membuat atau menghasilkan sesuatu dengan

    aktivitasnya, ini menandai bahwa hubungan khusus antara manusia dengan

    dunia.

    Ada dua jenis aktivitas: eksternal dan internal, (eksternal, jika operasi

    manusia terhadap objek-objek yang menggunakan lengan, tangan, jari-jari dan

    kaki) maka pada internal menggunakan tindakan mental dalam bentuk

    gambaran-gambaran dinamis. Aktivitas internal merencanakan eksternal.2

    Menurut ilmu sosiologi, aktivitas diartikan segala bentuk kegiatan yang ada

    di masyarakat seperti gotong-royong atau kerja bakti yang disebut sebagai

    1 Departemen Pendidikan Nasional, Kamus Besar Bahasa Indonesia, (Jakarta: Balai Pustaka,

    2002) 2 Ave M. Dagun, Kamus Besar Ilmu Pengetahuan, (Jakarta: Lembaga Pengkajian

    Kebudayaan Nusantara PKN, 1997) Cet.ke-7, h.25

  • 24

    aktivitas-aktivitas sosial, baik yang berdasarkan hubungan tetangga ataupun

    hubungan kekerabatan.3

    Seseorang yang ingin mendalami ilmu agama dan ingin membangun atau

    berinteraksi dengan masyarakat yang Isami misalnya, tentu ia harus melakukan

    aktivitas yang membantu tercapainya keinginan tersebut. Seperti membaca buku-

    buku keagamaan, mengikuti pengajian-pengajian atau melakukan diskusi-diskusi

    tentang keagamaan dan kemasyarakatan.

    B. Ruang Lingkup Komunikasi

    1. Definisi Komunikasi

    Komunikasi menurut bahasa atau etimologi dalam “Ensiklopedi

    Umum” diartikan dengan “Perhubungan”, sedangkan yang terdapat dalam

    buku komunikasi berasal dari perkataan Latin, yaitu:

    a. Communicare, yang berarti berpartisipasi ataupun memberitahukan.

    b. Communis, yang berarti milik bersama ataupun berlaku dimana-mana.

    c. Communis Opinion, yang berarti pendapat umum ataupun pendapat

    mayoritas.

    d. Communico, yang berarti membuat sama.

    e. Demikian juga Communication berasal dari kata latin Communicatio

    yang juga bersumber dari kata Communis yang berarti sama. Sama

    disini maksudnya makna.

    3 Sojogyo dan Pujiwati Sajogyo, Sosiologi Pedesaan Kumpulan Bacaan, (Yogyakarta: Gajah

    Mada University Press, 1999).

  • 25

    Pengertian komunikasi secara etimologi ini memberi pengertian

    bahwa komunikasi yang dilakukan hendaknya dengan lambang-lambang

    atau bahasa yang mempunyai kesamaan arti antara orang yang memberi

    pesan dengan orang yang menerima pesan.4

    Sedangkan secara termionolog, komunikasi berarti proses

    penyampaian pesan suatu pernyataan oleh seseorang kepada orang lain.5

    Dari pengertian itu jelas bahwa komunikasi melibatkan sejumlah orang, di

    mana seseorang menyatakan sesuatu kepada orang lain. Jadi, yang terlibat

    dalam komunikasi itu adalah manusia.6

    Jadi peneliti menyimpulkan komunikasi adalah proses penyampaian

    suatu pesan oleh seseorang kepada orang lain untuk memberi tahu atau untuk

    mengubah sikap, pendapat, atau perilaku, baik langsung secara lisan,

    maupun tak langsung melalui media.

    Wilbur Schram mengatakan bahwa komunikasi sebagai proses

    berbagai (sharing process), Schram menguraikan demikian: komunikasi

    berasal dari kata (bahasa Latin) communis yang berarti umum (common)

    atau bersama. Dari uraian Schram itu dapat disimpulkan bahwa sebuah

    komunikasi yang efektif adalah komunikasi yang berhasil melahirkan

    4 Roudhonah, Ilmu Komunikasi, (Jakarta: UIN Press, 2007), h. 19

    5 T.A Latief Rosyidy, Dasar-dasar Retorika Komunikasi dan Informasi, (Medan: 1985), h. 48

    6 Onong Uchjana Effendy, Dinamika Komunikasi, (Bandung: PT Remaja Rosdakarya, 2004), h. 4

  • 26

    kebersamaan (commonness), kesepahaman antara sumber (source) dengan

    penerima (audience receiver) nya.7

    Sementara Harold Lasswell, seorang Profesor di Universitas Yale

    Amerika Serikat, merumuskan bahwa komunikasi itu merupakan jawaban

    terhadap Who says what in which channel to whom with what effect (siapa

    berkata apa dengan media apa kepada siapa dan dampaknya apa). Jadi

    menurut Harold Lasswell, ada lima unsur yang harus ada agar komunikasi

    berjalan lancer, yakni8:

    a. Who (siapa) yang disebut juga komunikator / sender (pengirim pesan)

    b. What (apa) yang disebut message / pesan

    c. Whom (kepada siapa) yang disebut komunikan / receiver (penerima

    pesan).

    d. Channel (media)

    e. Effect (dampak komunikasi)

    Berbeda dengan Lasswell, Steven justru mengajukan sebuah definisi

    yang lebih luas bahwa komunikasi terjadi kapan saja suatu organisme

    memberi reaksi terhadap suatu objek atau stimuli, apakah itu berasal dari

    seseorang atau lingkungan sekitarnya. Misalnya seorang berlindung pada

    suatu tempat karena diserang badai, atau kedipan mata seseorang sebagai

    reaksi terhadap sinar lampu juga merupakan peristiwa komunikasi.9

    7 Tommy Suprapto, Pengantar Teori Komunikasi, (Yogyakarta: Media Pressindo, 2006), h. 5

    8 Onong Uchjana Effendy, Ilmu Komunikasi Teori dan Praktek, h. 9.

    9 Hafied Cangara, Komunikasi Politik : Konsep, Teori dan Strategi, (Jakarta: PT RajaGrafindo Persada,

    2009), h. 19.

  • 27

    Dalam „bahasa‟ komunikasi pernyataan dinamakan pesan orang yang

    menyampaikan disebut komunikator sedangkan orang yang menerima

    pernyataan disebut komunikan. Untuk tegasnya, komunikasi berarti proses

    penyampaian pesan oleh komunikator kepada komunikan. Jika dianalisis,

    pesan komunikasi terdiri dari dua aspek, pertama isi pesan (the content of the

    message), kedua lambang (symbol). Konkretnya isi pesan tersebut adalah

    pikiran atau perasaan, lambang adalah bahasa.10

    2. Unsur-unsur Komunikasi

    Dari pengertian komunikasi sebagaimana diuraikan di atas, tampak

    adanya sejumlah komponen dan unsur yang dicakup dan merupakan

    persyaratan terjadinya komunikasi. Unsur-unsur atau komponen-komponen

    itu adalah:

    a. Komunikator (Penyampai Pesan)

    Komunikator atau penyampai pesan dapat berupa indivdu yang

    sedang berbicara atau menulis, kelompok orang, organisasi komunikasi

    seperti surat kabar, radio, televisi, film, dan sebagainya. Komunikator,

    dalam menyampaikan pesan kadang-kadang dapat menjadi komunikan,

    sebaliknya komunikan dapat menjadi komunikator.11

    Semua peristiwa komunikasi akan melibatkan sumber sebagai

    pembuat atau pengirim informasi. Dalam komunikasi antar manusia,

    sumber bisa terdiri dari satu orang, tetapi bisa juga dalam bentuk

    10

    Onong Uchjana Efendy, Ilmu Teori dan Filsafat Komunikasi, (Bandung: PT Citra Aditya Bakti,

    2003), h. 28 11

    A.W. Widjaya, Komunikasi Dan Hubungan Manusia, (Jakarta: PT. Bumi Aksara, 2002), h. 12

  • 28

    kelompok, misalnya partai, organisasi, lembaga atau Negara. Sumber

    sering disebut pengirim, komunikator, atau dalam bahasa Inggris

    dikenal dengan sebutan source, sender atau encoder.12

    b. Pesan

    Pesan adalah keseluruhan dari apa yang disampaikan oleh

    komunikator. Pesan dapat disampaikan dengan cara tatap muka atau

    melalui media komunikasi. Isinya bisa berupa ilmu pengetahuan,

    hiburan, informasi, nasihat atau propaganda. Dalam bahasa Inggris

    pesan biasanya diterjemahkan dengan kata message, content atau

    information.13

    Pesan dalam proses komunikasi adalah sesuatu yang

    disampaikan pengirim kepada penerima. Pesan dapat disampaikan

    dengan cara tatap muka atau melalui media komunikasi. Isinya bisa

    berupa ilmu pengetahuan, hiburan, informasi, nasihat atau propaganda.14

    c. Channel (Saluran / Media)

    Saluran komunikasi selalu menyampaikan pesan yang dapat

    diterima melalui panca indera atau menggunakan media. Media yang

    dimaksud di sini ialah alat yang digunakan untuk memindahkan pesan

    dari sumber kepada penerima.15

    12

    Hafied cangara, Komunikasi Politik : Konsep, Teori dan Strategi, h. 20 13

    Hafied Cangara, Pengantar Ilmu Komunikasi, (Jakarta: PT Raja Grafindo Persada, 2007), h. 24 14

    Hafied Cangara, Komunikasi Politik : Konsep, Teori dan Strategi, h. 21 15

    Hafied Cangara, Pengantar Ilmu Komunikasi, h. 25.

  • 29

    Bentuk-bentuk media yang dapat disebutkan antara lain: media

    cetak, yaitu surat kabar, majalah, tabloid, buku; media elektronik, yaitu

    flm, radio, televisi, computer, internet; media format kecil, yaitu leaflet,

    brosur, selebaran, stiker, kalender, kantong, bulletin; media luar ruang

    (outdoor), yaitu baliho, spanduk, reklame.

    Elektronik board, yaitu bendera, jumbai, pin, logi, topi, rompi,

    kaos oblong, iklan mobil; saluran komunikasi kelompok, yaitu partai

    politik, organisasi profesi, ikatan alumni, organisasi sosial keagamaan,

    karang taruna, kelompok pengajian ibu-ibu, kelompok tani dan nelayan,

    dan semacamnya.

    Saluran komunikasi publik, misalnya aula kota, balai desa,

    pameran, alun-alun, panggung kesenian, pasar, sekolah, kampus;

    saluran komunikasi sosial, yaitu pesta perkawinan, acara khitanan,

    arisan dan semacamnya.16

    d. Komunikan (Penerima Pesan)

    Penerima adalah pihak yang menjadi sasaran pesan yang dikirim

    oleh sumber. Penerima bisa terdiri dari satu orang atau lebih, bisa dalam

    bentuk kelompok, partai atau Negara. Komunikan mempunyai fungsi

    sebagai decorder, menerjemahkan lambang-lambang pesan ke dalam

    konteks pengertiannya sendiri.17

    16

    Hafied Cangara, Komunikasi Politik : Konsep, Teori dan Strategi, h. 21 17

    A.W Widjaya, Ilmu Komunikasi Pengantar Studi, (Jakarta: PT Raja Grafindo Persada, 2003), h. 32

  • 30

    e. Efek / Pengaruh

    Efek adalah hasil akhir dari suatu komunikasi, yakni sikap dan

    tingkah laku orang, sesuai atau tidak dengan yang diharapkan. Pengaruh

    bisa juga diartikan perubahan atau penguatan keyakinan pada

    pengetahuan, sikap dan tindakan seseorang sebagai akibat penerimaan

    pesan.18

    3. Fungsi Komunikasi

    a. Mass Information, yaitu untuk memberi dan menerima informasi kepada

    khalayak

    b. Mass Education, yaitu untuk memberi pendidikan. Biasanya fungsi ini

    dilakukan oleh guru kepada muridnya untuk meningkatkan

    pengetahuan.

    c. Mass Persuasion, yaitu untuk mempengaruhi. Hal ini bisa dilakukan

    oleh setiap orang atau lembaga.

    d. Mass Entertainment, yaitu untuk menghibur. Biasanya dilakukan oleh

    amatir radio, televisi, ataupun orang yang mempunyai professional

    menghibur.19

    4. Tujuan Komunikasi

    Pada umumnya komunikasi dapat mempunyai beberapa tujuan antara

    lain:

    a. Supaya apa yang disampaikan itu dapat dimengerti

    18

    Hafied Cangara, Pengantar Ilmu Komunikasi, h. 27 19

    Roudhonah, Ilmu Komunikasi, h. 54

  • 31

    b. Memahami orang lain

    c. Supaya suatu gagasan dapat diterima orang lain

    d. Menggerakkan orang lain untuk melakukan sesuatu.20

    Secara khusus tujuan komunikasi adalah:

    1) Social Change, perubahan sosial. Seseorang mengadakan komunikasi

    dengan orang lain, diharapkan adanya perubahan sosial dalam

    kehidupannya.

    2) Attitude Change, perubahan sikap

    3) Opinion Change, perubahan pendapat

    4) Behaviour Change, perubahan perilaku

    C. Sifat Komunikasi

    1. Teori Komunikasi Verbal

    Komunikasi verbal yaitu komunikasi yang menggerakkan simbol-simbol

    atau kata-kata, baik yang dinyatakan secara lisan maupun secara tulisan. Simbol

    verbal bahasa merupakan pencapaian manusia paling impresif. Menurut Paulette

    J. Thomas, komunikasi verbal adalah penyampaian dan penerimaan pesan

    dengan menggunakan bahasa lisan dan tulisan. Lambang verbal adalah semua

    lambang yang digunakan untuk menjelaskan pesan-pesan dengan memanfaatkan

    kata-kata (bahasa).21

    Dalam proses belajar mengajar komunikasi verbal dapat dilangsungkan

    dengan kata-kata, seperti: bercerita, berdiskusi, dan lain-lain, dapat juga

    20

    A.W. Widjaya, Komunikasi dan Hubungan Manusia, h. 10 21

    Roudhonah, Ilmu Komunikasi, h. 93

  • 32

    dilangsungkan dengan menggunakan tulisan surat, buku, majalah, Koran dan

    lain-lain.

    Menurut para ahli. Ada tiga teori sehingga orang bisa memiliki

    kemampuan verbal.

    1) Teori Operant Conditioning.

    Adalah suatu proses penguatan perilaku yang dapat mengakibatkan

    perilaku tersebut dapat berulang kembali atau menghilang sesuai keinginan.

    Teori ini diteliti oleh Pavlov dan dikembangkan oleh Burrhus Federic

    Skinner. Skinner berpendapat setiap suatu tindakan yang telah dibuat ada

    konsekuensinya, penghargaan untuk tindakan yang benar, hukuman untuk

    yang salah. Tindakan yang ingin mendapat penghargaan akan menjadi suatu

    kebiasaan, dan secara tidak disadari kebiasaan lama akan hilang.22

    2) Teori Kognitif

    Jean Piaget terkenal dengan teori kognitifnya yang berpengaruh

    penting terhadap perkembangan konsep kecerdasan. Piaget menyatakan

    bahwa perkembangan kognitif bukan hanya hasil kematangan organisme,

    bukan pula pengaruh lingkungan semata, melainkan hasil interaksi diantara

    keduanya. Jean Piaget mengatakan bahwa anak dapat membangun secara

    aktif dunia kognitif mereka sendiri, terdapat dua proses yang mendasari

    perkembangan dunia individu yaitu pengorganisasian dan penyesuaian

    (adaptasi).23

    22

    Prasetyani, Belajar Behavioristik dan Teori Belajar Humanistik (Yogyakarta: 2007), h. 77 23

    Ratna Wilis Dahar, Teori-teori Belajar dan Pembelajaran. (Jakarta: Erlangga, 2011). h. 56

  • 33

    3) Teori Penengah

    Teori penengah atau mediating ini dipopulerkan oleh Charles

    Osgood. Teori ini menekankan bahwa manusia dalam mengembangkan

    kemampuannya berbahasa, tidak saja bereaksi terhadap stimulus

    (rangsangan) dari luar tetapi juga dipengaruhi oleh proses internal yang

    terjadi dalam dirinya. Dalam hal ini respon (gerak balas) dan stimulus

    (rangsangan) terjadi pada otak (organ) manusia. Menurut Osgood makna

    merupakan hasil proses pembelajaran dan pengalaman seseorang yang

    merupakan suatu proses penengah untuk melambangkan sesuatu. 24

    Dengan demikian peneliti menyimpulkan bahwa dalam kemampuan

    komunikasi verbal terdapat 3 teori yaitu teori operant conditioning yaitu suatu

    tindakan yang telah dibuat ada konsekuensinya seperti mendapatkan

    penghargaan untuk yang benar dan hukuman untuk yang salah. Kemudian teori

    kognitif yaitu perkembangan anak bukan hanya pengaruh dari lingkungan

    semata, tetapi dalam pengorganisasian dan penyesuaian (adaptasi) juga. Dan

    teori penengah yaitu anak dapat bereaksi terhadap stimulus bukan hanya dari

    luar, tetapi dipengaruhi juga oleh proses internal yang terjadi dalam dirinya.

    Komunikasi verbal mempunyai karakteristik tersendiri, karakteristik

    komunikasi verbal antara lain:

    a. Pesan dalam komunikasi dikirimkan oleh sumber dengan sengaja dan

    diterima oleh sumber dengan sengaja dan diterima pesan secara sengaja pula.

    24

    Chaer Abdul. Psikolinguistik (Kajian Teoritik). (Jakarta: Rineka Cipta, 2003). h. 73

  • 34

    b. Komunikasi verbal bersifat intensional dan harus dibagi diantara orang-

    orang yang terlibat dalam tindak komunikasi

    c. Bahasa dalam komunikasi verbal bersifat lebih spesifik, artinya dapat

    dipakai untuk membedakan hal-hal yang sama dalam sebuah cara yang

    berubah-ubah.

    d. Komunikasi verbal lebih eksplisit, artinya isyarat-isyarat verbal dapat

    didefinisikan melalui sebuah kamus yang eksplisit.

    e. Kata-kata simbol dalam komunikasi verbal mempunyai titik awal dan akhir

    yang pasti.

    f. Komunikasi verbal sangat terstruktur dan mempunyai prinsip-prinsip,

    hukum atau aturan tata bahasa yang dibuat oleh manusia.

    g. Bahasa dalam komunikasi verbal sudah diatur pemberian maknanya.

    h. Komunikasi verbal dapat mengekspresikan peristiwa komunikasi dimasa lalu

    atau dimasa sekarang, serta dapat menciptakan pemahaman mengenai

    konteks dimana interaksi tersebut terjadi.25

    Komunikasi verbal dapat dibedakan atas komunikasi lisan dan tulisan.

    Komunikasi lisan dapat mendefinisikan sebagai proses dimana seseorang

    berbibacara berinteraksi secara lisan dengan mendengar untuk mempengaruhi

    tingkah laku penerima. Misalnya seorang guru menyampaikan penjelasan suatu

    materi kepada muridnya dengan menyajikan penjelasan dalam bentuk kata-kata

    25

    S. Djuarsa Sendjaja, Teori Komunikasi Verbal dan Nonverbal, (Jakarta: Unuversitas Terbuka,

    2004), h. 5-8

  • 35

    yang diungkapkan secara langsung kepada muridnya. Para muridnya merespon

    terhadap penjelasan yang disampaikan tersebut.

    Sedangkan komunikasi tulisan adalah penjelasan yang disampaikan oleh

    guru tersebut disandikan dalam simbol-simbol yang dituliskan pada papan tulis,

    kertas atau tempat lain yang bisa dibaca, kemudian dikirimkan pada murid yang

    dimaksudkan.26

    2. Teori Komunikasi Non verbal

    Komunikasi non verbal sama pentingnya dengan komunikasi verbal

    karena keduanya itu saling bekerja dalam proses komunikasi. Dengan

    adanya komunikasi non verbal dapat memberikan pekaan, pengulangan,

    melengkapi dan mengganti komunikasi verbal, sehingga lebih mudah

    ditafsirkan maksudnya.

    Komunikasi non verbal adalah penciptaan dan pertukaran pesan

    dengan menggunakan gerak tubuh, sikap tubuh, vokal bukan kata-kata,

    kontak mata, ekspresi muka, kedekatan jarak dan sentuhan. Atau dapat juga

    dikatakan bahwa semua kejadian di sekeliling situasi komunikasi yang tidak

    berhubungan dengan kata-kata yang diucapkan atau dituliskan.27

    Komunikasi nonverbal sebagai proses pertukaran pikiran dan

    gagasan dimana pesan yang disampaikan berupa isyarat ekspresi wajah,

    pandangan mata, gerakan tubuh, sentuhan dan diam. Komunikasi nonverbal

    juga dapat diartikan sebagai komunikasi tanpa kata-kata.

    26

    Arni Muhammad, Komunikasi Organisasi, (Jakarta: Bumi Aksara, 2005), h. 95-95 27

    Deddy Mulyana, Ilmu Komunikasi Suatu pengantar, h. 97

  • 36

    Definisi ini mengandung pengertian bahwa komunikasi nonverbal

    disampaikan dengan tidak mempergunakan kata-kata dalam bahasa.28

    Dengan demikian peneliti menyimpulkan bahwa komunikasi non

    verbal dapat melengkapi komunikasi verbal sehingga lebih mudah

    ditafsirkan maksudnya.

    Ada beberapa bentuk perilaku non verbal yakni:

    1) Kinesik, yang berkaitan dengan bahasa tubuh, yang terdiri dari posisi

    tubuh, orientasi tubuh, tampilan wajah, gambaran tubuh, dll. Tampaknya

    ada perbedaan antara arti dan makna dari gerakan-gerakan tubuh atau

    anggota tubuh yang ditampilkan tersebut.

    2) Okulesik, adalah studi tentang gerakan mata dan posisi mata.

    3) Haptik, adalah tentang perabaan atau memperkenankan sejauh mana

    seseorang memegang dan merangkul orang lain.

    4) Proksemik, adalah tentang hubungan antar ruang, antar jarak, dan waktu

    berkomunikasi.

    5) Kronemik, adalah tentang konsep waktu

    6) Tampilan, adalah cara bagaimana seorang menampilkan diri telah cukup

    menunjukkan atau berkolerasi sangat tinggi dengan evaluasi tentang

    pribadi.

    7) Posture, adalah tampilan tubuh waktu sedang berdiri dan duduk

    8) Pesan-pesan paralinguistic antarpribadi adalah pesan komunikasi yang

    merupakan gabungan antarperilaku verbal dan nonverbal.29

    28

    Alex H. Rumondor, Komunikasi Antar Budaya, (Jakarta: PT Rineka Cipta, 2000)

  • 37

    Meskipun komunikasi verbal dan nonverbal berbeda dalam banyak

    hal namun kedua bentuk komunikasi itu sering kali bekerja sama. Atau

    dengan kata lain komunikasi nonverbal ini mempunyai fungsi tertentu dalam

    proses komunikasi. Adapun fungsi utamanya adalah:

    a. Pengulangan (Repetisi)

    Banyak orang menggunakan pengulangan terhadap apa yang

    telah dikatakan secara verbal, pengulangan yang demikian biasa terjadi

    pada aktivitas sehari-hari. Seperti seorang guru berusaha menenangkan

    muridnya, ia mendekati dengan meletakkan telunjuk bersilang pada

    bibir sambil mengatakan „sssstttt‟.30

    Atau misalnya setelah seseorang

    menjelaskan penolakannya terhadap suatu hal, ia akan menggelengkan

    kepalanya berulang kali untuk menjelaskan penolakannya.31

    b. Pengganti (Substitusi)

    Pesan nonverbal sering digunakan pada tempat pesan verbal.

    Penggantian demikian umum dilakukan apabila pembicaraan tidak

    memungkinkan, tidak diinginkan atau tidak tepat diucapkan. Seperti

    seorang pengatur jalur pesawat di Bandara menggunakan tanda-tanda

    dengan tangannya untuk memberi isyarat kearah mana seharusnya

    pesawat tersebut parkir.32

    Atau misalnya tanpa sepatah katapun seorang

    29

    Alo Liliweri, Dasar-dasar Komunikasi Antarbudaya, (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2007), h. 34. 30

    Arni Muhammad, Komunikasi Organisasi, h. 133 31

    Jalaludin Rakhmat, Psikologi Komunikasi, (Bandung: PT Remaja Rosdakarya, 2008), h. 286 32

    Arni Muhammad, Komunikasi Organisasi, h. 133

  • 38

    berkata, ia dapat menunjukkan persetujuan dengan mengangguk-

    anggukan kepala.33

    c. Pelengkap (Komplemen)

    Tanda-tanda nonverbal dapat digunakan untuk melengkapi suatu

    pesan verbal. Seperti seorang karyawan pada waktu masuk kantor

    mengucapkan selamat pagi kepada teman-temannya yang diiringi

    senyuman hangat sambil memandang mereka. Senyuman dan

    pandangan berfungsi sebagai pelengkap yang akan mempermudah

    penyampaian dari pesan tersebut.34

    Atau misalnya air mata seseorang

    menunjukkan tingkat penderitaan yang tidak terungkap dengan kata-

    kata.

    d. Kontradiksi

    Komunikasi nonverbal memiliki fungsi untuk menolak pesan

    verbal atau memberikan makna yang lain terhadap pesan verbal.

    Misalnya seseorang memuji prestasi rekannya dengan mencibirkan

    bibirnya sambil berkata: “hebat, kau memang hebat”.

    e. Aksentuasi

    Komunikasi nonverbal mempunyai fungsi untuk menegaskan

    pesan verbal atau menggaris bawahinya. Misalnya seseorang

    mengungkapan kejengkelannya sambil memukul mimbar.35

    33

    Jalaludin Rakhmat, Psikologi Komunikasi, h. 286 34

    Arni Muhammad, Komunikasi Organisasi, h. 133 35

    Jalaludin Rakhmat, Psikologi Komunikasi, h. 287

  • 39

    D. Pembinaan Keagamaan

    1. Pengertian Pembinaan Keagamaan

    Pembinaan telah dibakukan kedalam bahasa Indonesia menjadi

    “bina” kata pembinaan yang mendapat akhiran “an” berasal dari “bina” yang

    berarti bangun memperbaiki atau memperbaharui.36

    Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia “pembinaan” mengandung

    arti penyempurnaan, pembaharuan usaha, tindakan dan kegiatan yang

    dilakukan secara berdaya guna dan berhasil guna untuk memperoleh hasil

    baik.37

    Keagamaan berasal dari kata “agama” yang telah diberi awalan (ke)

    dan akhiran (an). Kata agama berasal dari bahasa sangsakerta. Suatu

    pendapat mengatakan bahsa agama terdiri dari dua suku kata yaitu “a” yang

    berarti tidak dan “gam” yang berarti pergi. Jadi agama, berarti tidak pergi,

    tetapi ditempat atau diwarisi turun-temurun. Pendapat lain mengatakan

    agama berarti teks atau kitab suci, karena setiap agama memang mempunyai

    kitab suci. Ada juga mengatakan agama berarti tuntunan, karena

    mengandung ajaran-ajaran yang menjadi tuntunan hidup bagi penganutnya.38

    Menurut Khodijah Salim sebagaimana dikutip Mujahid Abdul

    Manaf, agama adalah peraturan Allah SWT, yang diturunkan kepada

    Rasulnya yang telah lalu, yang berisikan suruhan, larangan dan lain

    36

    Departement Pendidikan dan Kebudayaan, Kamus Besar Bahasa Indoensia, (Jakarta: Balai Pustaka,

    1988) h. 117 37

    W.J.S. Purwadaminta, Kamus Umum Bahasa Indonesia, (Jakarta, Bulan Bintang, 1979) Cet ke-3, h.

    23 38

    Harun Nasution, Islam ditinjau dari Beberapa Aspek, (Jakarta: UI Press, 1987) Cet ke-5. H. 59

  • 40

    sebagainya yang wajib ditaati manusia dan menjadi pedoman serta pegangan

    hidup agar selamat dunia akhirat.39

    Dari beberapa definisi diatas disimpulkan bahwa agama adalah suatu

    kepercayaan yang dianut oleh manusia dalam usahanya mencari hakikat diri

    hidupnya dan yang mengajarkan kepadanya dengan tuhan. Sedangkan

    keagamaan merupakan suatu kegiatan yang berhubungan dengan agama.

    Dengan demikian peneliti menyimpulkan bahwa pembinaan

    keagamaan adalah kegiatan yang berhubungan dengan agama yang

    diarahkan pada peningkatan pemahaman dan kesadaran tentang nilai-nilai

    agama, baik dari segi akhlak, syariah, maupun aqidah.

    2. Tujuan Pembinaan Keagamaan

    Menurut Zakiyah Darajat, ada beberapa fungsi agama dalam

    kehidupan manusia.40

    “Pertama: memberikan bimbingan dalam hidup. Ajaran agama

    memberi bimbingan mulai dari kehidupan pribadi, keluarga, masyarakat,

    ataupun berhubungan dengan tuhan. Bagi orang yang tingkah lakunya sesuai

    dengan apa yang diajarkan dalam agama, maka dalam menjalankan

    hidupnya ia bersikap wajar, tenang dan tidak melanggar hukum dan

    peraturan masyarakat di mana ia tinggal. Dan tidak akan mau mengambil

    hak orang lain yang jelas-jelas bukan haknya.

    39

    Mujahid Abdul Manaf, Sejarah Agama-agama (Jakarta: PT Raja Grafindo Persada, 1996) Cet ke-2

    h. 2 40

    Zakiyah Darajat. Peranan Agama Dalam Kesehatan Mental, (Jakarta: PT Gunung Agung, 1996),

    Cet ke-15, h. 32

  • 41

    Kedua: penolong dalam mengahadapi kesukaran, jika orang agama

    mengalami kesukaran, maka dia akan menghadapinya dengan tabah dan

    tenang serta tidak merasa putus asa. Karena ia berkeyakinan bahwa

    kesukaran yang dihadapi sebagai cobaan Tuhan kepada hambanya yang

    beriman. Tetapi, jika ia orang yang tidak beragama, maka ia akan

    menghadapi masalah itu dengan panik, dan bingung bahkan putus asa.

    Ketiga: menentramkan batin. Banyak orang yang tidak menjalankan

    perintah agama, selalu merasa gelisah dalam hidupnya. Tetapi setelah

    menjalankan perintah agama, ia mendapatkan ketenangan hati bahkan agama

    dapat member jalan penenang hati bagi jiwa yang sedang gelisah.41

    Setiap agama memiliki ajaran dan cara membahasakan diri yang

    berbeda dalam kehidupan sehari-hari. Meskipun demikian secara umum

    dapat dikatakan bahwa setiap agama pada dasarnya ingin menciptakan

    kebahagiaan bagi pengikutnya. Karena itulah agama sering disebut sebagai

    “jalan” (the way).42

    Yang harus djalani oleh setiap orang yang menginginkan

    kebahagiaan di dunia dan akhirat.

    “pembinaan keagamaan pada haikaktnya adalah sebuah upaya untuk

    menginternalisasikan nilai-nilai agama dalam rangka membentuk,

    memelihara dan meningkatkan kondisi jiwa dan memperbaiki moral dan

    41

    Zakiyah Darajat. Peranan Agama Dalam Kesehatan Mental, (Jakarta: PT Gunung Agung, 1996),

    Cet ke-15, h. 11

    42

    Dalam Islam disebut Surat al-mustaqim atau (jalan lurus): lihat surat al-fatihah

  • 42

    budi pekerti yang luhur”.43

    Hal ini sebagaimana diungkapkan oleh Zakiyah

    Derajat.

    “Jika dalam kepribadian itu tidak ada nilai-nilai agama, akan

    mudahlah orang melakukan seseuatu menurut dorongan dan keinginan

    jiwanya, sudah mengenal batas-batas hukum dan norma-norma. Tetapi jika

    dalam kepribadian seseorang terdapat nilai-nilai agama, maka segala

    keinginan dan kebutuhannya akan dipenuhi dengan cara yang tidak

    melanggar hukum-hukum agama karena dengan itu akan mengalami

    keguncangan jiwa, sebab tindakannya tidak sesuai dengan kepribadian.44

    Dengan demikian pembinaan keagamaan bertujuan untuk

    membangun jiwa agar mampu mengendalikan diri dan mengatur sikap,

    gerak dan tindakan sesuai dengan ajaran dan nilai-nilai yang terkandung

    dalam agama.

    3. Metode Pembinaan Keagamaan

    Metode yang digunakan dalam pembinaan keagamaan secara garis

    besar dapat dikelompokkan sebagai berikut:

    a. Dengan Lisan

    Metode yang dapat disampaikan dengan cara

    1) Tatap muka (face to face). Dalam teknik ini pembinaan dilakukan

    dengan cara wawancara secara individual yang bersifat tatap muka

    antara petugas pembinaan dan sasaran.

    43 Zakiyah Darajat, Peranan Agama Dalam Kesehatan Mental, h. 11

    44 Zakiyah Darajat, Peranan Agama Dalam Kesehatan Mental, h. 12

  • 43

    2) Bimbingan kelompok (group guidance). Dalam teknik ini

    pembinaan dilakukan melalui kegiatan kelompok atau masa,

    seperti; ceramah, diskusi, symposium, loka karya, seminar atau

    dinamika kelompok. Dalam metode ini diharapkan ada komunikasi

    timbal balik antara pembinaan dan sasaran dan dapat melakukan

    hubungan interpersonal satu sama lain.45

    b. Dengan Tulisan

    Metode ini dapat dilakukan dengan cara:

    1) Menerbitkan buku atau majalah

    2) Membuat selembaran atau bacaan ringan (folder, seperti bulletin),

    brosur.

    3) Menyelenggarakan perpustakaan yang dilengkapi dengan buku dan

    bacaan-bacaa yangbernafaskan Islami.

    c. Dengan suara

    metode ini dapat dilakukan dengan memasang sound sistem di

    tempat-tempat yang strategs dengan sumber suara yang disentralisir. Isi

    siaran dapat berupa bacaan-bacaan ayat suci al-quran dan terjemahannya

    atau siraman rohani.

    45

    M. Arifin. Pedoman Pelaksana Bimbingan dan Penyuluhan Agama, (Jakarta: Golden rayon Press,

    1991) h. 43

  • 44

    d. Dengan audio vidual

    Metode ini dapat dilaksanakan antara lain dengan jalan

    pemasangan pesawat televisi dan lebih sempurna apabila dilengkapi

    dengan pesawat video.46

    E. Anak Yatim dan Dhuafa

    1. Pengertian Anak

    Anak adalah seorang yang berusia dibawah 18 tahun (Undang-

    Undang Perlindungan Anak nomor 23 tahun 2002).

    Kemudian istilah anak dalam bahasa arab disebut tifl makna dari tifl

    adalah anak dalam masa (usia) sejak dilahirkan sampai dengan masa akil

    baligh. Istilah al-tifl dan al-tiflah keduanya bermakna anak kecil yang belum

    menginjak akil baligh.47

    Selanjutnya pengertian anak sebagaimana tertulis dalam Kamus Besar

    Bahasa Indonesia diartikan sebagai keturunan kedua. Di samping itu, anak

    juga mengandung pengertian sebagai manusia yang masih kecil.48

    Selain itu,

    terdapat pengertian lain bahwa anak pada hakekatnya adalah seorang yang

    berada pada suatu masa perkembangan tertentu dan mempunyai potensi

    untuk menjadi dewasa.49

    Dari sini dapat dipahami bahwa anak adalah seseorang yang masih

    berada dalam tahap perkembangan menuju dewasa. Adanya pertahapan

    46

    M. Arifin, Pedoman Pelaksana Bimbingan dan Penyuluhan Agama, h. 44 47

    Al Nawawi, Tahrir Alfaz Al-Tanbih, di- tahqiq oleh Abd al-Gani al-Daqr (Damaskus: Daar El-

    Qolam, 1408 H), h. 260 48

    Anton M. Moelino, Kamus Besar Bahasa Indonesia (Jakarta: Balai Pustaka, 1998), cet. Ke-1, h. 30-

    31. 49

    Wasty Soemanto, Psikologi Pendidikan (Jakarta: Rineka Cipta, 1990), cet Ke-3, h. 166.

  • 45

    menunjukan anak sebagai sosok manusia dengan kelengkapan-kelengkapan

    dasar dalam dirinya baru mencapai kematangan hidup melalui beberapa

    proses seiring dengan pertambahan usianya. Oleh karena itu, anak

    memerlukan bantuan, bimbingan dan pengarahan dari orang dewasa (orang

    tua dan pendidik pada umumnya). 50

    2. Pengertian Yatim

    Secara etimologis, yatim berasal dari bahasa Arab yaitu “yataama

    yatiimu yatiiman”, yang artinya menyendiri.51

    Kemudian pengertian yatim menurut istilah adalah anak yang tidak

    memiliki bapak, tetapi sebagian orang memakai kata yatim untuk anak yang

    bapaknya meninggal.52

    Adapun anak yatim dalam pengertian bahasa dan hukum syariat

    adalah mereka yang kehilangan bapak termasuk mereka yang ditinggal

    bapaknya tanpa meninggalkan harta apapun yang mencukupi kebutuhan

    nafkahnya, dan juga mereka yang bapaknya dibatasi kebebasan pribadinya

    oleh hukum, yang menyebabkan mereka kehilangan sumber kehidupan pada

    masa hukuman ini.53

    Para ahli dan ulama berbeda pendapat tentang pengertian ank yatim

    diantaranya sebagai berikut:

    50

    Khasanah Sya‟idah, Pemikiran Pendidikan Anak “Abdulah Nashih „Ulwan”, Program Pascasarjana

    UIN Syarif Hidayatullah Jakarta 1425 H/2005 M. h. 32 51

    M. Bin Abu Bakar bin Abdul Qodir Arrazi, Muhtarus Shihab, h. 741. 52

    Peter Salim dan Yeni Salim, Kamus Bahasa Indonesia Kontemporer (Jakarta: Modern English,

    1991), h. 1727 53

    Muhammad Abu Zahrah, Membangun Masyarakat Islam (Jakarta: PT Pustaka Firdaus, 1994), cet

    ke-1, h. 120

  • 46

    a. Hasan Ayub mengatakan: “anak yatim, anak yang telah ditinggalkan

    ayahnya sebelum mencapai kedewasaannya, dan jika sudah dewasa

    maka tidak disebut lagi yatim piatu.54

    b. Sri Suhardjati Sukri mengatakan : “yatim adalah anak yang ditinggal

    mati ayahnya.55

    c. H. Ahmad Zurzani Djunaidi mengatakan : “anak yatim adalah seorang

    yang masih kecil, lemah dan belum mampu berdiri sendiri yang

    ditinggalkan oleh orang tua yang menanggung biaya penghidupannya.56

    d. Rudi Setiadi mengatakan : “anak yatim adalah anak yang ditinggal mati

    ayah selagi ia belum mencapai umur baligh.57

    e. Drs. Moch. Ngajenan berpendapat: “yatim adalah yang ayahnya sudah

    meninggal ketika ia masih kecil.58

    f. Syeikh Othman Bin Syeikh Salim, B.A. mengtakan : “yatim adalah anak

    yang kematian kedua orang tuanya.59

    3. Pengertian Dhuafa

    Makna dhuafa dalam kosa kata Al-Qur‟an merupakan bentuk jamak

    dari kata “dha‟if”. Kata ini berasal dari akar kata “dha‟afa atau dha‟ufa-

    54

    Hasan Ayub, Etika Islam: Menuju Islam Yang Hakiki (Bandung, Trigenda Karya, 1994), cet. Ke-1,

    h. 362 55

    Sri Suhadjati Sukri, “Menyantuni Anak Yatim Psikologis” , dalam Suara Merdeka, 21 November

    2003, h. 1. 56

    Ahmad Zurzani Djunaidi dan Ismail Mulana Syarif, Sepuluh Inti Perintah Allah (Jakarta: PT

    Fikhati Aneska, 1991), cet. Ke-1. h.199. 57

    Rudi Setiadi, “Menyantuni Anak Yatim”, dalam Renungan Jum‟at, 10 Desember 2004, h. 1. 58

    Muhammad Ngajenan, Kamus Etimologi Bahasa Indonesia (Semarang: Dahara Prize, 1992), cet.

    Ke-1, h. 139. 59

    Md. Nor. Bin Hj. Ab. Ghani, B. A., Kamus Dewan Edisi Baru (Slangor Darul Ehsan: Dewan Bahasa

    dan Pustaka Lot 1037, 1991), cet. Ke-1, h. 1469.

  • 47

    yadh‟ufu-dhu‟afan atau dha‟fan”.60

    yang secara umum mengandung dua

    pengertian, lemah dan berlipat ganda. Menurut al-Ashfahani perkataan

    dhu‟fu merupakan lawan dari quwwah yang berarti kuat.61

    a. Ruang Lingkup Kaum Dhu‟afa

    Timbulnya komunitas dhuafa bukanlah timbul dengan

    sendirinya. Fenomena ini merupakan pengejawean dari sunnatullah,

    layaknya sunnatullah seperti adanya siang dan malam.

    Kondisi ini yang kerap mendapatkan perlakuan tak layak

    dikalangan masyarakat bukanlah suatu yang hina dan ajang berputus asa

    karena boleh jadi yang kita sekarang akan mendatangkan kebahagiaan.

    Al-Qur‟an ketika menyinggung masalah ini menyebutkan beberapa

    kelompok yang tergolong orang-orang yang lemah atau dhu‟afa, yaitu:

    - Orang Fakir

    - Orang Miskin

    - Orang Yatim

    - Ibnu Sabil

    - Tawanan Perang

    - Kaum Cacat

    - Al-Gharim / orang-orang yang berhutang

    - Al-Abdu wa Al-Riqad / hamba sahaya dan budak

    60

    Asep Usman Ismail, Pengamalan Al-Qur‟an tentang pemberdayaan dhu‟afa (Jakarta: Dakwah

    Press, 2008), h. 94 61

    Asep Usman Ismail, Pengamalan Al-Qur‟an tentang pemberdayaan dhu‟afa. h. 11

  • 48

    Pada dasarnya setiap individu yang lahir kedunia tidak ingin

    dilahirkan dalam keadaan miskin atau lemah, namun keduanya akan

    timbul melalui serentetan sebab musabab.

    Secara garis besar faktor-faktor yang menyebabkan terjadinya

    kemiskinan dibagi menjadi 3 macam, yaitu:

    1. Faktor internal manusia, yaitu faktor yang muncul dari manusia itu

    sendiri, seperti: sifat malas, kurang disiplin, lemah etos kerja dan

    lain-lain.

    2. Faktor non-individu, yaitu kemiskinan yang terjadi berasal dari

    faktor luar individu seperti penyelenggaraan pemerintah yang korup

    dan sejenisnya atau sistem ekonomu yang otoriter, yang hanya

    menguntungkan pemilik modal saja.

    3. Faktor visi teologi atau refresif, faktor ini terlihat berkembang luas

    di tengah masyarakat yang beragama yaitu adanya kecenderungan

    umat beragama memperlakukan kemiskinan sebagai suratan takdir

    dari Tuhan.62

    b. Langkah-langkah Membantu Pengembangan Kaum Dhu‟afa

    Kaum dhuafa adalah orang yang benar-benar dalam keadaan lemah,

    menderita, sengsara tak berdaya bahkan tertindas, mereka yang lemah dalam

    ekonomi, sosial, politik, hukum, pendidikan, kebudayaan bahkan agama.

    62

    Syahrini Harahap, Islam : Konsep dan Implementasi Pemberdayaan (Yogyakarta, PT. Tiara

    Wacana. 1999), h. 86a

  • 49

    Akibatnya mereka mudah didzolimi, diperdaya, dieksploitasi dan

    diperlakukan sewenang-wenang.

    Mereka membutuhkan bantuan, perhatian, pertolongan, perlindungan

    dan pembelaan. Prinsip-prinsip yang diperlukan dalam mencegah masalah

    dan membantu kaum dhuafa agar kehidupan mereka tidak lemah, sengsara

    dan menderita. Secara global Islam mengajarkan cara memberikan bantuan

    antara lain: Memberikan pendidikan, Bantuan Sosial, Memberikan

    Perlindungan Pemberdayaan dan Jaminan Sosial.

    i. Memberikan Pendidikan

    Pendidikan merupakan hal yang paling penting bagi manusia

    demikian juga bagi kaum dhuafa untuk menanggulangi kebodohan dan

    keterbelakangan mereka.

    Al-Qur‟an telah mejelaskan kewajiban orang-orang yang

    memiliki kelebihan dan kelapangan harta untuk memberikan pendidikan

    termasuk kepada kaum dhuafa.

    ii. Bantuan Pemberdayaan

    Bantuan pemberdayaan perlu di beritakan bagi kaum dhuafa agar

    mereka dapat keluar dari masalah kehidupan yang mereka hadapi. Ada

    beberapa manfaat yang akan mereka peroleh yaitu:

    1. Menjadikan mereka hidup mandiri, sehingga tidak bergantung

    kepada orang lain dan belas kasih orang lain. Dengan kemudian

    kemandirian mereka dapat mengatasi masalahnya sendiri.

  • 50

    2. Mengurangi dan bahkan dapat menghilangkan kelemahan,

    penderitaan, kesengsaraan, ketidakberdayaan dan keterbatasan

    mereka.

    3. Agar mereka menjadi orang yang berguna dan bermanfaat bagi

    orang lain bahkan mereka dapat memberikan bantuan kepada orang

    yang membutuhkan.63

    F. Panti Sosial Asuhan Anak

    1. Pengertian Panti Sosial Asuhan Anak

    Panti Sosial Asuhan Anak adalah panti sosial yang mempunyai tugas

    memebrikan bimbingan dan pelayanan bagi anak yatim, piatu, yatim dan

    piatu yang kurang mampu, terlantar, agar potensi dan kapasitas belajarnya

    pulih kembali dan dapat berkembang secara wajar.64

    2. Sifat-Sifat Pelayanan Panti Asuhan

    Sifat-sifat pelayanan panti asuhan yaitu:

    a. Bersifat preventif yaitu bahwa panti asuhan berusaha memberikan

    tindakan preventif/ pecegahan berbagai masalah yang ada pada anak

    sehingga masalah tersebut tidak menambah persoalan baru bagi

    lingkungan anak.

    b. Bersifat kuratif dan rehabilatif yaitu bahwa panti asuhan mengusahakan

    penyembuhan dan pemecahan masalah yang di alami oleh anak asuh,

    63

    MK muhsin, Menyayangi Dhu‟afa (Jakarta: Gema Insani Press, 1) h. 146 64

    Badan Pendidikan dan