akhlaq pribadi terdidik ilaahi rabbi

Download Akhlaq Pribadi Terdidik Ilaahi Rabbi

Post on 19-Mar-2016

224 views

Category:

Documents

9 download

Embed Size (px)

DESCRIPTION

psycology of development

TRANSCRIPT

  • Akhlaq Pribadi Terdidik Ilaahi Rabbi

    Kajian Pengantar Ukuran (Pasti) Kepribadian Manusia

    2

    Apa dan siapakah yang menyebabkan kerusakan bumi

    pertiwi Indonesia? Hancurnya akhlaq dan mereka

    yang tak berakhlaq.

    Apa dan siapakah yang menyebabkan kerusakan bumi

    pertiwi Indonesia? Hancurnya akhlaq dan mereka

    yang tak berakhlaq.

    Ki Moenadi MS Kajian Budaya Ilmu 1431H

  • 3

    Artikel ini merupakan penulisan ulang yang dikerjakan oleh Taufik Thoyib da-

    ri Muqaddimah buku Ukuran (Pasti) Kepribadian Manusia (terbitan Yaya-

    san Badiyo, Malang, 1422H) buah pena Ki Moenadi MS almarhum, se-

    moga ridha Allah tercurah kepadanya, amin. Konsep visual dikerjakan oleh

    Glagah Nuswantara Admin

    http://kajianbudayailmu.blogspot/com.

  • 4

    Akhlaq Pribadi Terdidik Ilaahi Rabbi Kajian Pengantar Ukuran (Pasti) Kepribadian Manusia

    Ki Moenadi MS Kajian Budaya Ilmu 1431H

  • 5

    Sesungguhnya Allah Taalaa tidak memandang postur tubuhmu dan tidak pula pada kedudukan mau-

    pun harta kekayaanmu, tetapi Allah memandang pada hatimu. Barang

    siapa memiliki hati yang shaleh, maka Allah menyukainya. Bani

    Adam yang paling dicintai Allah ia-lah yang paling bertaqwa. (HR Ath-

    Thabrani dan Muslim)

  • Akhlaq: Ukuran Pertama Kepribadian Manusia

    ampak makin bersemarak dibicarakan di berbagai jenis media massa belakangan ini, topik-topik tentang

    kepribadian manusia. Namun sepertinya, belum ada satu pun yang dapat dija-dikan ukuran baku, karena masing-masing pandangan dan pendapat lahir dari rekayasa untuk memperoleh balas jasa.

    6

  • Bagi yang berpandangan, berpendapat, atau menilai kepribadian dengan ukuran materi, bisa saja di balik teorinya, sebenarnya mempunyai maksud tersembunyi untuk kepentingan dan

    keuntungan yang diraih atau datang kepadanya. Pamrih itu misalnya kedudukan, uang, atau ketenaran nama.

    Maka yang perlu direnungkan untuk dipertanyakan, dapatkah pandangan-pendapat yang berbeda karena sesuatu pamrih dijadikan suatu tolok-

    ukur pasti? Dari manakah dan apakah yang menjadi ukuran kepribadian manusia? Jika materi yang menjadi ukuran berkepribadian, berapa banyak manusia kaya-raya yang tampil menarik-pikat dipandang mata, namun dalam kehidupan diri sen-diri, keluarga rumah-tangga, maupun kehidupan masya-rakatnya, ternyata

    7

  • penuh dengan permasalahan yang tidak teratasi? Dapatkah keadaannya dikatakan berkepribadian?

    Untuk itu marilah kita renung-ulang kembali ukuran kepribadian yang selama ini muncul. Kata kepribadian mengandung makna adanya sesuatu yang khusus dan istimewa melekat pada diri manusia, yang bersifat indah-terpuji. Hal ini seirama dengan pernyataan Rasulullah Muham-mad s.a.w. bahwa: Aku Muhammad diutus tidak lain dalam rangka menyempurnakan akhlaq manusia. Kesempurnaan akhlaq akan membu-ahkan antara lain:

    Ruh yang senantiasa menjaga hubungan baik sampai pada tingkat dekat-aqrab dengan Allah. Itulah salah satu bentuk pengabdian murni kepada Allah. Artinya, tidak ada unsur berpamrih dalam peng-abdian kepada Allah, kecuali mengharap keridhoan-Nya. Bukan keridhoan dan bu-kan pula pengabdian murni, jika di saat melangsungkan pengabdian itu dirasakan oleh nafsu manis, maka nafsu menyambut-

    8

  • hangat. Sebaliknya jika dirasakan pahit-pedih, maka keridhoan nafsu tinggallah kata-kata tanpa bukti.

    Rasa yang lembut-halus, mampu bergetaran menjangkau kehidupan alam getaran-ketenagaan. Artinya, perasaannya dapat tampil sebagai jembatan-emas selaku alat penyeberangan dari kehidupan masy-arakat alam lingkungan terbuka-fenomena menuju kehidupan masyarakat alam getaran-ketenagaan di balik fenomena. Perasaan yang lembut ini sangat peka membaca getaran sesuatu.

    Hati yang melahirkan keilmuan yang berketepat-bijak-pastian, atau disebut dengan keilmuan murni terpadu bersifat Qurani. Kerjasama yang baik antara perasaan dan hati melahirkan kematangan spritual atau ruhaniyah.

    Aqal yang melahirkan kecerdikan tingkat tinggi sehingga mampu membaca tata bahasa getaran yang ditangkap dari perasaan hati.

    9

  • Nafsu yang tampil dengan sifat keindahan dan keterpujian, sehingga dapat dibawa menuju kehidupan berketauhid murni dan dapat dibawa menuju puncak persaksian nyata; di saat itulah haqeqat nafsu bersyahadat kepada Allah.

    Ke 5 butir tersebut di atas mutlak menjadi ukuran berkepribadian-tidaknya seseorang. Dengan demikian, dapat dikatakan akhlaq menjadi ukuran pertama bagi kepribadian manusia. Alangkah piciknya jika kepribadian diukur hanya sebatas nilai materi-lahiriyah maupun pengetahuan yang dimiliki manusia, sedangkan perilaku bathiniyah tumpang-tindih dihimpit permasalahan. Belum lagi keadaan nafsu bebas-liar tanpa kendali Al Quran. Semakin jelaslah ukuran yang banyak berkembang atas dasar nafsu tersebut pasti subjektif, atau mempunyai pamrih.

    Sangat berbeda jika ukuran kepribadian manusia disusun menurut sorotan-pandangan Al-Quran. Pasti tidak ada pamrih, unsur kepentingan maupun keuntungan yang dilangsungkan Allah selaku Ar-Rahmaan terhadap manusia. Justru

    10

  • keuntungan mutlak diserahkan penuh kepada manusia dan kehidupan berkesemestaan. Dalam sorot-pandang Al-Quran, kepribadian manusia diukur dari tingkat kemurnian manusia melang-sungkan pengabdian kepada Allah. Makna kepri-badian itu sendiri sangat dekat artinya dengan abdi. Hamba yang mencapai pengabdian murni kepada Allah mendapat julukan-panggilan ibadur-rahman dari Allah, yaitu hamba kesayangan Allah, yang ciri-cirinya antara lain disebutkan dalam firman Allah QS.25:63-73. Seseorang yang kehidupan bathiniyahnya tidak menentu, dihanyutkan berbagai gelombang rasa khawatir-ragu, cemas-gelisah, kecewa-putus-asa, tentu tidak mempunyai ukuran kepastian hidup. Ia belum dapat dikatakan telah berkepribadian, meskipun materi yang dimilikinya tak berlebih bahkan tidak dapat menunjang tampilan lahiriyah untuk menarik-pikat mata kepala. Jadi, nilai kepribadian manusia tidak dapat dilepaskan dari perilaku bathiniyah maupun perilaku dzat ketenagaan hidup bakat-potensi di dalam diri yang diutarakan di atas (ruh, rasa, hati, aqal dan

    11

  • nafsu). Hal itu sesuai dengan yang tersirat dalam sebuah hadits pembuka tulisan ini.

    Bahkan lewat Surah Asy-Syu'ara Ayat 89, Al-Qur-an memperjelas-tegaskan bahwa keselamatan manusia bukan diukur dari materi-lahiriyah atau pengetahuan yang ia miliki, melainkan diukur dari bersih atau sehat-tidaknya keadaan hati:

    kecuali orang-orang yang menghadap Allah

    dengan hati yang bersih. (QS.26:89) Munculnya berbagai ragam tolok ukur kepribadian manusia yang tidak tetap, tidak tepat, dan tidak pasti, tentu akan mempersulit manusia untuk menumbuh-kembangkan kepribadian. Oleh kare-na itu perlu adanya suatu ukuran yang tetap-tepat dan pasti, sehingga dapat dijadikan suatu pe-doman, landasan, atau azas yang bersifat tetap. Tolok ukur yang disusun dengan rekayasa untuk suatu kepentingan dan keuntungan, pasti tidak dapat dijadikan ukuran baku kepribadian.

    12

  • 13

    mdpe

  • 14

    Tolok ukur

    manakah yang ipakai sebagai edoman kaum

    muslim?

  • dalam bentuk apa saja yang Dia kehendaki, Dia

    menyusun tubuhmu. (QS.82:8)

    15

  • Kepastian Kepribadian Manusia Hanya Dapat Diukur dengan Al-Quran

    l Qur'an ialah ide Allah,

    semesta sei-sinya termasuk manusia adalah re-alisasi

    atau perwujudan ide tersebut. Maka, mau tidak mau ukuran kepribadian

    yang harus ditam-pilkan manusia adalah ukuran kepribadian qurani.

    Tanpa kecuali, seluruh bagian tubuh

    16

  • manusia merupakan terapan dari kei-lmuan Al-Quran. Bahkan tidak sedikit dari bagian tubuh manusia yang telah

    cukup jelas, merupakan rangkaian dari huruf-anka Al-Quran. Itulah sebabnya dengan sentilan halus Allah mengajak

    manusia merenung dan berfikir tentang bentukan-kejadian tubuhnya. Hal ini

    sekaligus mengisyaratkan bahwa jum-lah terbesar manusia banyak tidak sadar, apalagi mengerti rangkaian

    tubuh yang ada pada dirinya sendiri. Hal itu diisyaratkan oleh Surah Al

    Infithaar Ayat 8 di atas.

    Al-Quran tidak berfihak pada suatu pandangan-pendapat manusia, justru Al-Quran memberikan penyelesaian

    atas berbagai silang pendapat yang terjadi untuk kesetimbangan semua fihak, dengan cakupan kesemestaan pula. Ukuran kepastian kepribadian

    manusia dari Al-Quran akan mempermudah dan menghantarkan

    manusia meraih jenjang

    17

  • kesempurnaan hidup. Sebaliknya, ukuran kepribadian manusia yang tidak-pasti, pasti cenderung membawa hidup dan kehidupan manusia pada tingkat kehinaan bahkan merusak tatanan ketenagaan hidup semesta. Haqiqat kepribadian itu adalah bagian dari wujud kesempurnaan dan kemuliaan yang dianugerahkan Allah kepada manusia.

    Manusia belum dapat dikatakan selaku makhluq paling sempurna, jika pada dirinya tidak tumbuh-berkembang nilai kepribadian Qurani. Sedangkan kesempurnaan itu sendiri merupakan bagian dari fithrah manusia. Siapapun manusianya, ia pasti ingin menampilkan suatu kepribadian. Sayangnya, penumbuh-kembangan nilainya banyak yang bersandar pada pandangan-pendapat dari hasil olahan-rekayasa kaum materialistis. Padahal jauh sebelum berkembang berbagai macam buah pemikiran tentang

    18

  • kepribadian manusia, Al-Quran lebih dahulu memberikan ukuran pasti tentang kepribadian manusia. Bahkan Al-Quranlah yang mula-pertama mengajak manusia tampil berkepribadian sekaligus berbudaya. Tegasnya, Islamlah yang melahirkan nilai kepribadian dan budaya pada manusia. Sejarah membuktikan sebelum Al-Quran diturunkan dan Nabi Muhammad s.a.w. diutus, m