akbar tanjung

17
Dimensi: 13.5 x 20 cm Tebal: 432 halaman Cover: Soft Cover ISBN: 978-979-22-4861-6 Kategori: Fiksi dan Sastra / Novel / Novel Asli Tentang Pengarang: A. Fuadi A. Fuadi lahir di Bayur, Danau Maninjau tahun 1972, tidak jauh dari kampung Buya Hamka. Fuadi merantau ke Jawa, mematuhi permintaan ibunya untuk masuk sekolah agama. Di Pondok Modern Gontor dia bertemu dengan kiai dan ustad yang diberkahi keikhlasan mengajarkan ilmu hidup dan ilmu akhirat. Gontor pula yang membukakan hatinya kepada rumus sederhana tapi kuat, "man jadda wajada", siapa yang bersungguh-sungguh akan sukses. Lulus kuliah Hubungan Internasional, Universitas Padjadjaran, dia menjadi wartawan Tempo. Kelas jurnalistik pertamanya dijalani dalam tugas-tugas reportasenya di bawah bimbingan para wartawan senior Tempo. Tahun 1998, dia mendapat beasiswa Fulbright untuk kuliah S2 di School of Media and Public Affairs, George Washington University. Merantau ke Washington DC bersama Yayi, istrinya---yang juga wartawan Tempo-adalah mimpi masa kecilnya yang menjadi kenyataan. Sambil kuliah, mereka menjadi koresponden TEMPO dan wartawan VOA. Berita bersejarah seperti peristiwa 11 September dilaporkan mereka berdua langsung dari Pentagon, White House dan Capitol Hill. Tahun 2004, jendela dunia lain terbuka lagi ketika dia mendapatkan beasiswa Chevening untuk belajar di Royal Holloway, University of London untuk bidang film dokumenter. Kini, penyuka fotografi ini menjadi Direktur Komunikasi di sebuah NGO konservasi: The Nature Conservancy. or Produk 13293 Penerbit Gramedia Pengarang A. Fuadi Harga Rp. 50.000,00

Upload: zakiyah-zaakiiaah

Post on 03-Jul-2015

259 views

Category:

Documents


0 download

TRANSCRIPT

Page 1: akbar tanjung

Dimensi: 13.5 x 20 cmTebal: 432 halamanCover: Soft CoverISBN: 978-979-22-4861-6Kategori: Fiksi dan Sastra / Novel / Novel Asli

Tentang Pengarang: A. FuadiA. Fuadi lahir di Bayur, Danau Maninjau tahun 1972, tidak jauh dari kampung Buya Hamka. Fuadi merantau ke Jawa, mematuhi permintaan ibunya untuk masuk sekolah agama. Di Pondok Modern Gontor dia bertemu dengan kiai dan ustad yang diberkahi keikhlasan mengajarkan ilmu hidup dan ilmu akhirat. Gontor pula yang membukakan hatinya kepada rumus sederhana tapi kuat, "man jadda wajada", siapa yang bersungguh-sungguh akan sukses.

Lulus kuliah Hubungan Internasional, Universitas Padjadjaran, dia menjadi wartawan Tempo. Kelas jurnalistik pertamanya dijalani dalam tugas-tugas reportasenya di bawah bimbingan para wartawan senior Tempo. Tahun 1998, dia mendapat beasiswa Fulbright untuk kuliah S2 di School of Media and Public Affairs, George Washington University. Merantau ke Washington DC bersama Yayi, istrinya---yang juga wartawan Tempo-adalah mimpi masa kecilnya yang menjadi kenyataan. Sambil kuliah, mereka menjadi koresponden TEMPO dan wartawan VOA. Berita bersejarah seperti peristiwa 11 September dilaporkan mereka berdua langsung dari Pentagon, White House dan Capitol Hill.

Tahun 2004, jendela dunia lain terbuka lagi ketika dia mendapatkan beasiswa Chevening untuk belajar di Royal Holloway, University of London untuk bidang film dokumenter. Kini, penyuka fotografi ini menjadi Direktur Komunikasi di sebuah NGO konservasi: The Nature Conservancy.

 

or Produk 13293Penerbit GramediaPengarang A. Fuadi

HargaRp. 50.000,00 Rp. 47.500,00

Tanggal Publish 13 Aug 2009AKBAR TANJUNG HOME

► Selamat datang di situs gudang pengalaman ENSIKONESIA (ENSIKLOPEDI TOKOH INDONESIA) ► Thank you for visiting the

experience site  ► NANTIKAN TAMPILAN BARU TOKOHINDONESIA.COM  ► Biografi Jurnalistik  

► The Excellent Biography  ► Database Tokoh Indonesia terlengkap yang tengah dikembangkan menjadi Ensiklopedi Tokoh Indonesia online  ►

Anda seorang tokoh? Sudahkah Anda punya "rumah pribadi" di Plasa Web Tokoh Indonesia?  ► Silakan

kirimkan biografi Anda ke Redaksi Tokoh

 

Page 2: akbar tanjung

Indonesia ► Dapatkan Majalah Tokoh Indonesia di Toko Buku Gramedia, Gunung Agung, Gunung

Mulia, Drug Store Hotel-Office & Mall dan Agen-Agen atau Bagian Sirkulasi Rp.14.000 Luar

Jabotabek Rp.15.000 atau Berlangganan Rp.160.0000 (12 Edisi) ► Segenap Crew Tokoh Indonesia Mengucapkan Selamat Ulang Tahun

Kepada Para Tokoh Indonesia yang berulang tahun hari ini. Semoga Selalu Sukses dan Panjang Umur ►► Selamat datang di situs gudang pengalaman ENSIKONESIA (ENSIKLOPEDI TOKOH INDONESIA) ► Thank you for visiting the experience site  ► NANTIKAN TAMPILAN BARU TOKOHINDONESIA.COM  ► Biografi Jurnalistik   ► The Excellent Biography  ► Database Tokoh Indonesia terlengkap yang tengah dikembangkan menjadi Ensiklopedi Tokoh Indonesia online  ► Anda seorang tokoh? Sudahkah Anda punya "rumah pribadi" di Plasa Web Tokoh Indonesia?  ► Silakan kirimkan biografi Anda ke Redaksi Tokoh Indonesia ► Dapatkan Majalah Tokoh Indonesia di Toko Buku Gramedia, Gunung Agung, Gunung Mulia, Drug Store Hotel-Office & Mall dan Agen-Agen atau Bagian Sirkulasi Rp.14.000 Luar Jabotabek Rp.15.000 atau Berlangganan Rp.160.0000 (12 Edisi) ► Segenap Crew Tokoh Indonesia Mengucapkan Selamat Ulang Tahun Kepada Para Tokoh Indonesia yang berulang tahun hari ini. Semoga Selalu Sukses dan Panjang Umur ►

Google TokohIndonesia

Dr Ir Akbar Tandjung

Persaingan Pemilu 2009 Sangat Ketat

WAWANCARA: Ketentuan Undang-Undang Pemilu No.10 Tahun 2008 yang diperkuat oleh Mahkamah Konstitusi ( MK ) tentang parliamentary threshold (PT), memacu semua partai politik (Parpol) untuk mendapatkan dukungan suara sebesar-besarnya, minimal 2,5% agar dapat melampaui PT.

 

Akbar Tandjung

Kecam Kepemimpinan Jusuf Kalla

Sinar Harapan 1/9/2007: Mantan Ketua Umum Partai Golkar Akbar Tandjung

Page 3: akbar tanjung

mengecam keras kepemimpinan Partai Golkar di bawah Jusuf Kalla, karena Kalla lebih mementingkan bisnis dan urusan jangka pendek, ketimbang mengurusi partai untuk kepentingan jangka panjang.

 

Dr Ir Akbar Tandjung

Raih Doktor dari UGM

Sinar Harapan 1/9/2007: Yogyakarta - Mantan Ketua Umum DPP Partai Golkar, Akbar Tandjung, berhak menyandang gelar doktor di bidang ilmu politik setelah berhasil mempertahankan disertasinya di depan sembilan penguji, Sabtu (1/9) pagi ini. Ia berhasil meraih predikat cum laude.

 

Suara Pembaruan 1/9/2007:

"Munaslub" Akbar di UGM

Yogya: Mantan Ketua Umum Partai Golkar Akbar Tan- djung sejak Jumat (31/8) siang berada di Yogya. Tapi itu bukan berita sebenarnya, kalau hanya Akbar Tandjung dan keluarganya yang ke Yogya. Menjadi berita karena kehadiran Akbar Tandjung juga diikuti banyak tokoh dan fungsionaris Partai Golkar, di samping tokoh partai lain dan pejabat negara.

 

Kompas 1/9/2007:

Akbarian Ramai-ramai ke Yogya

BERITA: "Akbarian", begitu julukan bagi para fungsionaris Partai Golkar pendukung setia Akbar Tandjung ketika Akbar masih menjadi orang nomor satu di partai beringin. Loyalitas itu ternyata belum surut kendati Akbar sudah tiga tahun lengser karena dikalahkan Jusuf Kalla di Musyawarah Nasional Golkar, Desember 2004.

BIOGRAFI:    1   2   ==

 

           Akbar Tandjung

Hidupnya adalah

      Akbar Tandjung

Berpeluang Menang

Page 4: akbar tanjung

Dunia Politik

Mantan Ketua Umum Partai Golkar dan Ketua DPR RI menapaki jenjang karir politik dari bawah. Hidupnya adalah dunia politik. Pria kelahiran Sibolga, 14 Agustus 1945, ini kalah di kandang sendiri dalam konvensi capres Partai Golkar. Kemudian dalam Munas Partai Golkar di Bali harus rela melepas jabatan Ketua Umum dan menyerahkannya kepada Jusuf Kalla.

Konvensi

Langkah politisi ulung dan licin ini semakin mantap dalam persaingan kandidat pesiden dalam Konvensi Calon Presiden Partai Golkar, setelah Mahkamah Agung menerima permohonan kasasinya. Ia bebas dari jerat hukum dengan tuduhan korupsi Rp. 40 milyar.

lihat dalam PDF

Ringkasan Buku Negeri 5 Menara. Sebuah Novel yang Terinspirasi Kisah Nyata

Alif lahir di pinggir Danau Maninjau dan tidak pernah menginjak tanah di luar ranah Minangkabau. Masa kecilnya adalah berburu durian runtuh di rimba Bukit Barisan, bermain bola di sawah berlumpur dan mandi di air biru Danau Maninjau. Tiba-tiba saja dia harus naik bus tiga hari tiga malam melintasi punggung Sumatera dan Jawa menuju sebuah desa di pelosok Jawa Timur. Ibunya ingin dia menjadi Buya Hamka walau Alif ingin menjadi Habibie. Dengan setengah hati dia mengikuti perintah Ibunya: belajar di pondok.

Di kelas hari pertamanya di Pondok Madani (PM), Alif terkesima dengan "mantera" sakti man jadda wa jada. Siapa yang bersungguh-sungguh pasti sukses. Dia terheran-heran mendengar komentator sepakbola berbahasa Arab, anak mengigau dalam bahasa Inggris, dan terkesan melihat pondoknya setiap pagi seperti melayang di udara.

Dipersatukan oleh hukuman jewer berantai, Alif berteman dekat dengan Raja dari Medan,

Page 5: akbar tanjung

Said dari Surabaya, Dulmajid dari Sumenep, Atang dari Bandung dan Baso dari Gowa. Di bawah menara masjid yang menjulang, mereka menunggu Maghrib sambil menatap awan lembayung berarak pulang ke ufuk. Di mata belia mereka, awan-awan itu menjelma menjadi negara dan benua impian masing-masing. Kemana impian membawa mereka? Mereka tidak tahu. Yang mereka tahu adalah: Jangan pernah remehkan impian, walau setinggi apa pun. Tuhan sungguh Maha Mendengar.

Bagaimana perjalanan mereka ke ujung dunia ini dimulai? Siapa horor nomor satu mereka? Apa pengalaman mendebarkan di tengah malam buta di sebelah sungai tempat jin buang anak? Bagaimana sampai ada yang kasak-kusuk menjadi mata-mata misterius? Siapa Princess of Madani yang mereka kejar-kejar? Kenapa mereka harus botak berkilat-kilat? Bagaimana sampai Icuk Sugiarto, Arnold Schwarzenegger, Ibnu Rusyd, bahkan Maradona sampai akhirnya ikut campur? Ikuti perjalanan hidup yang inspiratif ini langsung dari mata para pelakunya. Negeri Lima Menara adalah buku pertama dari sebuah trilogi.

C © updated 20032009-08102003 ► e-ti Nama:Akbar TandjungLahir:Sibolga, 14 Agustus 1945 Jabatan:Ketua DPR-RI 1999-2004

Alamat Rumah:JI. Widya Chandra 111/No.10 Jakarta Selatan

BukuPerbandingan Komunikasi Politik Presiden IndonesiaKategori: Buku

Gambar dari kompas.com

Page 6: akbar tanjung

Judul Buku : Dari Soekarno Sampai SBY; Intrik dan Lobi Politik Para PenguasaPenulis : Prof. Dr. Tjipta Lesmana, M. A.Penerbit : Gramedia, JakartaCetakan : I Desember 2008Tebal : xxx + 396 halamanPeresensi : MG. Sungatno*)

Dalam sebuah tesisnya, Weber pernah menengarai adanya suatu perubahan sosial masyarakat. Perubahan itu tampak jelas ketika adanya suatu perbandingan yang membedakan antara masyarakat zaman sekarang dengan masyarakat sebelumnya. Menurutnya, perubahan itu tidak lepas dari perubahan intelektualitas yang dimiliki individu-individu yang terdapat dalam masyarakat itu sendiri.

Sebagai makhluk sosial, para presiden pun tidak lepas dari perbedaan antara presiden satu dengan lainnya. Termasuk dari aspek pemahaman maupun penyikapannya terhadap realitas kehidupan bangsa-negara. Memang, secara geneologis jabatan presiden yang dipikul mereka pun tidak jauh berbeda dalam tataran hukum yang mengikat dan mengatur. Namun, dalam praksisnya, pasti akan muncul sejumlah perbedaan. Dari perbedaan-perbedaan inilah yang kemudian menimbulkan sederet realitas kehidupan bangsa-negara yang tidak mesti sama.

Namun, dalam buku ini, tingkat perbedaan intelektulitas seorang presiden dengan presiden lainnya, terbukti bukan satu-satunya faktor yang mempengaruhi perubahan sosial bangsa-negara. Menurut Tjipta Lesmana, perbedaan tingkat emosional dan spiritual juga memiliki andil dalam perubahan. Artinya, tingkat perbedaan intelektualitas, emosionalitas, dan spiritulitas antara Soekarno, Soeharto, Habibie, Gus Dur, Megawati, dan SBY, berkorelasi positif dengan perbedaan pola interaksi sosial mereka. Dari perbedaan interaksi sosial yang berkaitan erat dengan pola komunikasi inilah yang akhirnya menghasilkan sesuatu yang berbeda pula. Mulai intrik, lobi politik hingga menyikapi kritik pun, mereka belum tentu sama dalam satu pola komunikasi politik.

Dalam buku ini, kajian komunikasi politik keenam presiden kita dibagi dalam enam bab. Bab I, di duduki oleh Soekarno. Dalam bab ini, presiden pertama kita ini tampak sebagai sosok yang memiliki ilmu yang dalam, piawai menganalisis situasi politik, matang dalam berpolitik, dan berani menghadapi tantangan dan tegas. Namun, ”Singa Podium” ini tak ubahnya seperti manusia biasa yang punya amarah dan salah. Dalam kemarahannya, ia sering menggebrak meja, menggedor kiri-kanan, menghardik sasaran dengan suara yang keras, menantang, memperingatkan dan mengancam (hlm.5). Semua itu sering disampaikannya dalam bahasa, meminjam istilah Edward T. Hall (1976), yang low context; jelas, tegas, dan tanpa tedeng aling-aling. Selain itu, ia sering menggunakan bahasa yang mengulang-ulang.

Berbeda dengan Soeharto, dalam bab II, yang lebih banyak mendengar dan mesem (senyum). Dalam berkata, ia sering menggunakan bahasa yang high context; tidak jelas, penuh kepura-puraan (impression management), teka-teki, rahasia, dan amat santun serta multi tafsir. Tidak jarang para menteri perlu merenungkan atau menanyakan kepada orang lain tentang arti dari kominikasi presiden terhadap mereka. Bagi yang tidak memahami komunikasi tingkat tinggi ini, perlu siap-siap menuai gebukan atau perlawanan rakyat dan lingkungan sekitar. Semisal, kasus penyerbuan massa PDI Soerjadi terhadap Kantor DPP PDI di Jalan Diponegoro pada 27 Juli 1996. Dalam kasus ini, Sutiyoso yang dianggap bertanggung jawab waktu itu, berdalih bahwa peristiwa itu berasal dari perintah ”atasan”. Sementara, Feisal Tandjung

Page 7: akbar tanjung

mengatakan bahwa Soeharto tidak pernah memerintahkan penyerbuan (hlm.67).

Uniknya, dalam kondisi marah atau tidak suka pun, ”The Smiling General” ini menggunakan bahasa high context pula. Semisal, ketika ada menteri yang laporan atau dipanggil diruang kerja presiden telah dipersilahkan meminum minuman yang tersedia, berarti diperintahkan segera untuk pamit. Meski begitu, Soeharto juga pernah menggunakan bahasa low context.

Berbeda lagi ketika Presiden BJ. Habibie marah. Dalam bab III, ia tampak menggunakan bahasa low context. Ketika marah, ia sering melototkan mata kepada yang dimarahi, raut muka memerah dan suara keras. Ia juga dikenal sebagai sosok yang temperamental. Meski cerdas, ia cepat emosi dan cepat marah, terlebih ketika ditantang, dikritik, dan didebat. ”Anehnya, tidak ada satupun menteri yang takut”, menurut informan Hendropriyono (hlm.159).

Dalam bab IV, ketika Abdurrahman Wahid (Gus Dur) marah, kadang menggebrak meja dan atau mengancam. Meski begitu, Gus Dur tidak lepas dari sifat gampang tidur dan humorisnya. Sering dalam setiap sidang kabinet yang berlangsung sejak pukul 10.00 WIB, Gus Dur melakukan ritual tidur. Ketika salah atau mendapat konfirmasi dari orang yang merasa dirugian, Gus Dur sering menanggapinya dengan santai. ”Oh, begitu, ya? Ya, Sudah. Enggak usah dipikirin...!”, jawabnya (hlm.199).

Sedangkan Megawati, dalam bab V, setiap marah suka menghardik korbannya. Semisal, ketika Megawati sedang menghadiri acara dengan sejumlah kerabatnya di restoran sebuah hotel mewah di Singapura. Dalam acara itu, Roy BB. Janis dihardik habis-habisan di depan umum akibat kedatangannya tidak diundang (hlm.283). Selain itu, ia juga terkenal pendendam. SBY merupakan salah satu contoh yang menjadi korban sifat pendendam itu. Dalam debat calon presiden 2004, misalnya, gara-gara menaruh dendam dengan SBY, Megawati mengajukan syarat kepada penyelenggara acara untuk menghapus acara jabat tangan antar calon. Dalam pelantikan Presiden SBY pun, Megawati tidak mau menghadirinya.

Dalam berkomunikasi, menurut penulis, Megawati tidak bisa efektif. Ia lebih suka diam atau menebar senyum dari pada berbicara. Selama berpidato, suaranya tampak datar, nyaris tidak ada body language sama sekali. Ia membaca kata per kata secara kaku, seolah takut sekali pandangannya lepas dari teks pidato di depannya (hlm.247). Ironisnya, dalam setiap pembicaraan dengan orang-orang dekatnya lebih banyak membicarakan shopping dari pada soal-soal yang berkaitan dengan bangsa dan negara. Dalam menghadapi kritik, ia sering tidak tahan, alergi kritik (hlm.265).

Meski tidak jarang menuai kritik, dalam bab VI, SBY tampak merasa gerah pula. Bahkan, SBY sering balas mengkritik bagi orang atau pihak yang berani mengkritiknya, termasuk kebijakan pemerintah. Namun, dalam setiap pembicaraannya, SBY tergolong cukup hati-hati. Seolah-olah setiap kata yang keluar dari bibirnya diartikulasikan secara cermat. Dalam perspektif komunikasi, SBY tergolong dalam lower high context. Ia gemar menggunakan analogi dalam menggambarkan suatu masalah dan tidak bicara secara to the point. Hanya hakikat suatu permasalahanlah yang sering disampaikannya. Dalam berbagai kesempatan, SBY seperti sengaja tidak mau memperlihatkan sikapnya yang tenang, tetapi membiarkan publik menebak-nebak sendiri.

Tidak sedikit informasi tentang komunikasi keenam presiden kita dalam buku ini. Selain

Page 8: akbar tanjung

unik, bikin tercengang, tertawa, dan kesal, buku ini memberikan berbagai wawasan terkait kepribadian beberapa presiden yang pada pemilu tahun ini hendak tampil sebagai calon presiden lagi. Namun, untuk mengetahui apakah dari sejumlah presiden itu tergolong –meminjam istilah Kurt Lewin- Authoritarian, Participative, atau Delegatif, pembaca dipersilahkan menyimpulkan sendiri.***

(MG. Sungatno/Ketua Lembah Kajian Peradaban Bangsa (LKPB) Yogyakarta) Sumber:oase.kompas.com 

Komentar Terkini (1komentar)ID : 817Bung Akbar Tanjung adalah sosok yang pada awalnya responsif menghapi kritikan. Ucapannya yang terkesan datar dengan intonasi seolah memberi pesan yang masif akan penguasaannya dalam mengatasi persoalan yang dihadapi. Ucapan dan tindakannya sungguh penuh semangat meski dengan nada datar . inilah kekuatan komunikasi Bung Akbar yang piawai dalam membesarkan Partai Golkar. Golkar dahulu sebelum berubah menjadi Partai Golkar ibarat permata hati beliau. Pada masa awal reformasi beliau tetap menunjukkan renpon komunikasi yang tidak reaktif meskipun dihujat dan digoyang oleh kaum yang mengaku reformis. Partai Golkar kini telah dinakodai oleh kaum pengusaha, paska beliau mengetuai Partai, beliau seakan terhenyak tidak percaya PG ibarat terjun bebas. Beliau mengeritik Pak JK karena konsolodasi melalui kegiatan dan pertemuan banyak diamputasi. Pak Abu Rizal Bakri sekarang memegang biduk yang juga adalah sosok pengusaha. Petikan nada komukasinya yang Low Context mulai terasa pada misinya yang tidak searah dengan Pak Akbar sebagai sosok yang tidak pendendam. Dilain sisi Gerakan Pak ARB nyata-nyata meredupkan konsolidasi PG melalui peminggiran kader terbaik hanya karena alasan tidak memberi dukungan dalam perhelatan Munas. Apakah beliau ARB banyak mengeluarkan amunisi dalam hitungan dagangnya beliau rugi, sehingga tak peka terhadap tanda jaman. Haram, itu sangat haram dalam masab politik Bung Akbar Tanjung. Saya berkeyakinan Bung Akbar tak rela PG sebagai permata hatinya tersungkur lunglai oleh permainan temannya sendiri. Bung Akbar, bulu tanganku merinding mengingat ketika Bang dengan gagahnya mengibarkan bendera Partai Golkar diatas gunung dan teriakan lantang dengan optimisme bahasa nurani , dan tetap tidak bergeming meski dilempari batu saat memberi orasi kampanye di Jawa Solo (saat kampanye 2004). Ibu-ibu, bapak-bapak, para pemuda dengan senyum menyambut sosok yang di Ilhami mengayuh sekuat tenaga seakan berpacu mengalahkan opini yang saat itu ingin merendam Golkar dalam kubangan hina. Luar biasa..., luar biasa. PG kala itu meski tidak bersama AB (ABRI dan Birokrat) tetap mencengangkan kalangan seakan tidak percaya akan hasil kontestasi perpartaian kondisi multipartai. HAti saya betul-betul sesak, manakala teringat sosok pemimpin partai sekarang melakukan "dekonsolidasi" , sangat merendahkan ... sangat mengecewakan. Datanglah kekasih kami dalam partai yang selalu memberi hati teduh, datanglah Bung Akbar , ingatkan ARB untuk melakukan pengkerdilan arti komunikasi politik gaya Bung Arbar. PAk ARB ,jangan sampai ibarat ingin merekonstruksi rumah partai dengan cara membakar pilar-pilar penguatnya. Kami kader Sulawesi Selatan, setia menjaga Partai Golkar sekuat tenaga dengan penuh kasih bagai permata hati.Perbedaan pendapat adalah ibarat mosaik lukisan yang indah dan semakin menguatkan kisi-kisi dan pilar rumah kita. Kontestasi dalam Munas 2009 telah usai, saatnya rujuk internal. Wassalam , kami memeluk

Page 9: akbar tanjung

erat-erat kekasih hati, permata hati , Partai Golkar akan selalu menyeruak dengan penuh senyum dan semangat . Bung Akbar Tanjung adalah sosok yang pada awalnya responsif menghapi kritikan. Ucapannya yang terkesan datar dengan intonasi seolah memberi pesan yang masif akan penguasaannya dalam mengatasi persoalan yang dihadapi. Ucapan dan tindakannya sungguh penuh semangat meski dengan nada datar . inilah kekuatan komunikasi Bung Akbar yang piawai dalam membesarkan Partai Golkar. Golkar dahulu sebelum berubah menjadi Partai Golkar ibarat permata hati beliau. Pada masa awal reformasi beliau tetap menunjukkan renpon komunikasi yang tidak reaktif meskipun dihujat dan digoyang oleh kaum yang mengaku reformis. Partai Golkar kini telah dinakodai oleh kaum pengusaha, paska beliau mengetuai Partai, beliau seakan terhenyak tidak percaya PG ibarat terjun bebas. Beliau mengeritik Pak JK karena konsolodasi melalui kegiatan dan pertemuan banyak diamputasi. Pak Abu Rizal Bakri sekarang memegang biduk yang juga adalah sosok pengusaha. Petikan nada komukasinya yang Low Context mulai terasa pada misinya yang tidak searah dengan Pak Akbar sebagai sosok yang tidak pendendam. Dilain sisi Gerakan Pak ARB nyata-nyata meredupkan konsolidasi PG melalui peminggiran kader terbaik hanya karena alasan tidak memberi dukungan dalam perhelatan Munas. Apakah beliau ARB banyak mengeluarkan amunisi dalam hitungan dagangnya beliau rugi, sehingga tak peka terhadap tanda jaman. Haram, itu sangat haram dalam masab politik Bung Akbar Tanjung. Saya berkeyakinan Bung Akbar tak rela PG sebagai permata hatinya tersungkur lunglai oleh permainan temannya sendiri. Bung Akbar, bulu tanganku merinding mengingat ketika Bang dengan gagahnya mengibarkan bendera Partai Golkar diatas gunung dan teriakan lantang dengan optimisme bahasa nurani , dan tetap tidak bergeming meski dilempari batu saat memberi orasi kampanye di Jawa Solo (saat kampanye 2004). Ibu-ibu, bapak-bapak, para pemuda dengan senyum menyambut sosok yang di Ilhami mengayuh sekuat tenaga seakan berpacu mengalahkan opini yang saat itu ingin merendam Golkar dalam kubangan hina. Luar biasa..., luar biasa. PG kala itu meski tidak bersama AB (ABRI dan Birokrat) tetap mencengangkan kalangan seakan tidak percaya akan hasil kontestasi perpartaian kondisi multipartai. HAti saya betul-betul sesak, manakala teringat sosok pemimpin partai sekarang melakukan "dekonsolidasi" , sangat merendahkan ... sangat mengecewakan. Datanglah kekasih kami dalam partai yang selalu memberi hati teduh, datanglah Bung Akbar , ingatkan ARB untuk tidak melakukan pengkerdilan arti komunikasi politik gaya Bung Arbar. PAk ARB ,jangan sampai ibarat ingin merekonstruksi rumah partai dengan cara membakar pilar-pilar penguatnya. Kami kader Sulawesi Selatan, setia menjaga Partai Golkar sekuat tenaga dengan penuh kasih bagai permata hati.Perbedaan pendapat adalah ibarat mosaik lukisan yang indah dan semakin menguatkan kisi-kisi dan pilar rumah kita. Kontestasi dalam Munas 2009 telah usai, saatnya rujuk internal. Wassalam , kami memeluk erat-erat kekasih hati, permata hati , Partai Golkar akan selalu menyeruak dengan penuh senyum dan semangat . Hidup Golkar, Hidup Bung Akbar, Hidup Abu Rizal Bakri, Hidup Ilham Arif Sirajuddin

Ketua MPR RI (DR.Hidayat Nur Wahid) dan Ketua Harian Yayasan Pendidikan Al-Mubarak (Ayi Muzayini)

Page 10: akbar tanjung

Tidak ada yang mustahil bagi Allah, Dialah Dzat yang Maha Kaya dan Maha Kuasa untuk memberikan keajaiban apapun untuk Anda. Jangan pernah batasi keimananmu atas Kasih, Sayang, dan segala Rezeki-Nya. Berbisnislah dengan Allah, Agar Anda Selalu Untung dan tidak akan pernah Rugi. Dr. H.M.Hidayat Nur Wahid,MA (Mantan Ketua MPR RI)

ekolah Islam Terpadu Insan Mubarak Jakarta Pimpinan KH Bukhori Yusuf,MA

Sekilas Tentang SMPIT INSAN MUBARAK Salah satu tugas utama manusia adalah membangun peradaban yang robbani (Qs. 2 : 30) yaitu bersendi pada nilai-nilai ke-Tuhanan, moralitas dan berkeadilan. Karakter ini diharapkan mampu menciptakan kehidupan manusiawi, damai dan

Page 11: akbar tanjung

sejahtera. Untuk merealisasikannya dibutuhkan SDM yang meyakini dan komitmen dengan nilai-nilai tersebut dalam kehidupan. Karenanya Yayasan Al-Mubarak menghadirkan SMPIT Insan Mubarak yang bertujuan melahirkan SDM yang dapat menjadi kontributor positif dalam membangun peradaban Islam di masa yang akan datang Insan Mubarak Secara Harfiah “Insan yang diberkahi Alloh” dan Secara Filosofis “Manusia yg berintelektual tinggi, bermoral terpuji, berhati bersih yang akan mengantarkan bangsa Indonesia meraih keberkahan” Allah Berfirman yang Artinya : Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman diantaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat." [Al-Mujaadilah:11] dan firman Allah : Sesungguhnya yang takut kepada Allah diantara hamba-hambanya, hanyalah ulama." [Al- Fathirv: 28] VISI Pendidikan Menjadi Sekolah Unggulan Nasional berbasis Al-Qur’an MISI Pendidikan Membentuk SDM yang beraqidah lurus, beribadah benar, berakhlak terpuji, berwawasan luas, mandiri dan berketerampilan. Memberikan bekal kemampuan dasar kepada siswa dalam mengembangkan kehidupannya (life skill). Membekali siswa/siswi dengan hafalan dan pemahaman Al-Qur’an yang benar. Tujuan Pendidikan Membentuk SDM yang beraqidah lurus, beribadah benar, berakhlak terpuji, berwawasan luas, mandiri dan berketerampilan. Memberikan bekal kemampuan dasar kepada siswa dalam mengembangkan kehidupannya (Life Skill). Mencetak siswa/siswi yang sehat dan kuat jasmani dan rohani. Mewujudkan pendidikan Al Mubarak sebagai sekolah unggulan berskala nasional. Membekali siswa/siswi dengan hafalan dan pemahaman Al Qur’an yang benar You are What You ChoosePilihan Anda Mencerminkan Pribadi Anda N/A

Harga : Rp 60.000,- *Ukuran : 14 x 21 cmTebal : 244 halamanTerbit : Agustus 2010Soft Cover

Pesan Sekarang         *)Semua pemesanan online akan dilayani oleh situs GramediaShop.com sebagai situs resmi milik divisi Direct Marketing Kelompok Penerbitan Kompas Gramedia.

 *)harga dapat berubah sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.

Buku ini menyuguhkan terobosan baru tentang bagaimana kita dapat memprediksi cara orang mengambil keputusan.

Setiap orang mempunyai enam TRAIT inti yang menentukan caranya mengambil keputusan, yakni time, risk, altruism, information, meToo, dan stickiness. Keenam faktor tersebut dapat menjelaskan pola-pola perilaku manusia. Misalnya: apakah seseorang mementingkan kebahagiaan sekarang atau masa depan; seberapa besar risiko yang mampu dia tanggung; apakah dia suka menyakiti orang lain atau tidak; seberapa banyak informasi yang dia kumpulkan sebelum mengambil keputusan; seberapa jauh dia mempertimbangkan pendapat orang lain; dan apakah dia lebih menyukai sesuatu yang baru ataukah yang telah terbukti kebenarannya, dsb.

Dengan memahami TRAITS Anda, Anda akan mampu membuat pilihan yang lebih baik---misalnya memilih nasihat mana yang bisa diikuti; Anda juga bisa memprediksi konsekuensi pilihan Anda dan tingkat kebahagiaan Anda atas apa yang Anda pilih. Dengan memahami TRAITS orang-orang, Anda bisa+ memprediksi keputusan-keputusan mereka dengan lebih baik+ memprediksi secara tepat berbagai pilihan produk konsumen dan bagaimana konsumen menentukan pilihan sehingga Anda dapat menyusun dan menerapkan strategi marketing yang lebih jitu.

Buku ini dahsyat dan cocok bagi para pemasar dan mereka yang ingin memahami perilaku unik individu alih-alih kelompok.

"You are What You Choose membuktikan kebenaran akan perbedaan cara orang mengambil keputusan. Uraian tentang karakteristik dan statistik populasi manusia memang penting, tetapi begitu juga kualitas-kualitas yang mendasarinya seperti aversi terhadap risiko (risk aversion), altruisme, dan loyalitas. Penulis mengembangkan pemahanan yang sangat berharga ini dengan banyak sekali contoh yang menakjubkan."

Opera Van Gontor Amroeh Adiwijaya

Harga : Rp 50.000,- *Ukuran : 13.5 x 20 cmTebal : 300 halaman

Page 12: akbar tanjung

Terbit : Agustus 2010Soft Cover

Pesan Sekarang   

     *)Semua pemesanan online akan dilayani oleh situs GramediaShop.com sebagai situs resmi milik divisi Direct Marketing Kelompok Penerbitan Kompas Gramedia.

 *)harga dapat berubah sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.

Pondok Pesantren Gontor menyimpan segudang cerita inspiratif dari para santrinya. Seperti kisah seorang anak usia tamatan SD berusia 11 tahun yang berkarakter aktif, agak-agak pemberontak, dan banyak maunya ini dalam novel Opera Van Gontor. Ia harus langsung mampu mandiri, disiplin, berdedikasi tinggi, terpisah dari keluarga, saat banyak kawan seangkatannya masih asyik bermain dan juga banyak yang putus sekolah di tengah jalan dengan berbagai sebab. Gemblengan para kiai yang disiplin dan bijaksana, menjadikan pengalaman nyantri di Gontor penuh suka duka dan keharuan.

Novel kronik pengalaman nyantri di Gontor ini ditulis apa adanya, menggelitik, dan cerdas. Inilah potret pesantren modern pada era 70-an. Suatu era ketika beberapa tokoh bangsa masa kini dilahirkan dan ditempa untuk berbakti kepada tanah air.

Buku ini merupakan pengalaman pertama (first hand) yang sangat berharga dalam sebuah tradisi penelitian. Ia merupakan suara terdalam dari seorang santri yang melihat dirinya, lingkungannya dan dunia luar. ---K.H. Hasyim Muzadi, Ketua Umum Pengurus Besar Nahdhatul Ulama (PBNU) 1999-2010