agregat planing

25
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Kata agregat tersebut menyatakan bahwa rencana dibuat pada tingkat kasar untuk memenuhi total kebutuhan semua produk yang akan dihasilkan (bukan perindividu produk) dengan menggunakan sumber daya yang ada. Dalam sistim manufaktur, faktor-faktor yang dipertimbangkan dalam pembuatan perencanaan agregat adalah semua sumber daya yang berupa kapasitas mesin yang tersedia, jumlah tenaga kerja yang ada, tingkat persediaan yang ditentukan, dan penjadwalannya. Sebagai gambaran perencanaan, agregat perencanaan disuatu pabrik cat akan dinyatakan dalam beberapa liter cat yang akan diproduksi meskipun permintaan produksi cat tersebut berdasarkan warna, kualitas, dan ukuran kaleng yang berbeda. Demikian juga perencanaan agregat kebutuhan tenaga kerja, agregatnya akan dinyatakan berapa jumlah total tenaga kerja yang akan dibutuhkan, tanpa harus merinci jenis keterampilan tenaga kerja apa yang dibutuhkan (tinggi, sedang ataupun rendah). Dengan demikian perencanaan agregat akan dimulai dengan langkah menyamakan satuan kuantitas dari total jenis item yang akan diproduksi (unit grup produk, ton, liter, dan sebagainya), (Dian retno Sari Dewi,2003) Laporan Praktikum SCM – Agregat Planning

Upload: ricky-kristiyanto

Post on 02-Jan-2016

369 views

Category:

Documents


7 download

DESCRIPTION

Laporan Praktikum

TRANSCRIPT

Page 1: Agregat Planing

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Kata agregat tersebut menyatakan bahwa rencana dibuat pada tingkat kasar

untuk memenuhi total kebutuhan semua produk yang akan dihasilkan (bukan

perindividu produk) dengan menggunakan sumber daya yang ada. Dalam sistim

manufaktur, faktor-faktor yang dipertimbangkan dalam pembuatan perencanaan

agregat adalah semua sumber daya yang berupa kapasitas mesin yang tersedia,

jumlah tenaga kerja yang ada, tingkat persediaan yang ditentukan, dan

penjadwalannya. Sebagai gambaran perencanaan, agregat perencanaan disuatu

pabrik cat akan dinyatakan dalam beberapa liter cat yang akan diproduksi

meskipun permintaan produksi cat tersebut berdasarkan warna, kualitas, dan

ukuran kaleng yang berbeda. Demikian juga perencanaan agregat kebutuhan

tenaga kerja, agregatnya akan dinyatakan berapa jumlah total tenaga kerja yang

akan dibutuhkan, tanpa harus merinci jenis keterampilan tenaga kerja apa yang

dibutuhkan (tinggi, sedang ataupun rendah). Dengan demikian perencanaan

agregat akan dimulai dengan langkah menyamakan satuan kuantitas dari total

jenis item yang akan diproduksi (unit grup produk, ton, liter, dan sebagainya),

(Dian retno Sari Dewi,2003)

Rencana produksi akan menjadi dasar bagi pembentukan anggaran produksi

dan operasi dalam membuat membuat keperluan tenaga kerja serta keperluan

tenaga kerja baik untuk tenaga kerja biasa maupun tenaga kerja lembur.

Selanjutnya tenaga kerja tersebut digunakan untuk menetapkan keperluan

peralatan dan tingkat persediaan yang diharapkan.

Laporan Praktikum SCM – Agregat Planning

Page 2: Agregat Planing

1.2 Batasan praktikum

Agar tidak menyimpang dari tujuan praktikum, maka kami perlu membatasi

masalah dalam laporan ini. Adapun hal-hal yang dibahas dalam laporan ini

adalah:

1. Data yang dikelolah pada praktikum ini berdasarkan data permintaan

yang telah disediakan.

2. Adapun metode yang digunakan dalam perencanaan aggregate adalah

metode Chase Strategy (tenaga kerja berubah-ubah), dan Level

Strategy (tingkat produksi rata-rata)

1.3 Tujuan Praktikum

Melalui praktikum ini diharapkan mahasiswa/i untuk dapat :

1. Menghitung besarnya total biaya yang dikeluarkan perusahaan dengan

menggunakan metode Level Strategy dan Chase Strategy

2. Menentukan metode terbaik yang digunakan untuk perencanaan

produksi yang datanya diperoleh dari peramalan masa lalu.

3. Mengetahui nilai terkecil dari hasil metode-metode pengolahan data

yang digunakan dalam perencanaan agregat

1.4 SistematikaPenulisan

BAB I PENDAHULUAN

Berisikan tentang latar belakang praktikum, batasan praktikum,

tujuan praktikum, dan sistematika penulisan.

BAB II BAB II LANDASAN TEORI

Menguraikan semua teori dasar serta prinsip dasar yang digunakan

untuk membahas masalah yang diangkat.

BAB III PENGUMPULAN DAN PENGOLAHAN DATA

Mengumpulkan data dari hasil peramalan yang terpilih serta

menguraikan semua kapasitas produksi serta perhitungan ongkos

produksi yang berkaitan dengan peramalan yang terpilih.

Laporan Praktikum SCM – Agregat Planning

Page 3: Agregat Planing

BAB V ANALISA

Menganalisa semua data yang telah diolah dari hasil peramalan

yang terpilih berdasarkan biaya teroptimal.

BAB VI PENUTUP

Berisi tentang kesimpulan dan saran dari hasil praktikum yang

telah dilakukan

Laporan Praktikum SCM – Agregat Planning

Page 4: Agregat Planing

BAB II

LANDASAN TEORI

2.1. Pengertian Agregat Planning

Aggregate Planning (AP) adalah suatu aktivitas operasional untuk

menentukan jumlah dan waktu produksi pada waktu dimasa yang akan datang.AP

juga didefinisikan sebagai usaha untuk menyamakan antara supply dan demand

dari suatu produk atau jasa dengan jalan menentukan jumlah dan waktu input,

transformasi, dan output yang tepat. Dimana keputusan AP dibuat untuk produksi,

staffing, inventory, dan backorder level.

Perencanaan Agregat (agregat planning) juga dikenal sebagai Penjadwalan

Agregat adalah Suatu pendekatan yang biasanya dilakukan oleh para manajer

operasi untuk menentukan kuantitas dan waktu produksi pada jangka menengah

(biasanya antara 3 hingga 18 bulan ke depan). Perencanaan agregat dapat

digunakan dalam menentukan jalan terbaik untuk memenuhi permintaan yang

diprediksi dengan menyesuaikan nilai produksi, tingkat tenaga kerja, tingkat

persediaan, pekerjaan lembur, tingkat subkontrak, dan variabel lain yang dapat

dikendalikan. Keputusan Penjadwalan menyangkut perumusan rencana bulanan

dan kuartalan yang mengutamakan masalah mencocokkan produktifitas dengan

permintaan yang fluktuatif. Oleh karenanya perencanaan Agregat termasuk dalam

rencana jangka menengah.

Proses perencanaan dapat digolongkan dalam tiga tingkatan yaitu

1. Long Range Plans

Merupakan perencanaan lebih dari setahun yang menyangkut perencanaan

produk baru,biaya perluasan dan sebagainya. Long Range Plans ditetapkan

oleh manajer pucak.

2. Intermediete Range Plans

Merupakan rencana atara 3 sampai 18 bulan, menyangkut rencana

penjualan, rencanaproduksi, rencana inventory, anggaran tenaga kerja dan

sebagainya. Intermediate range plans ditetapkan oleh Manajer Operasi.

Laporan Praktikum SCM – Agregat Planning

Page 5: Agregat Planing

3. Short Range Plans

Merupakan rencana kurang dari tiga bulan yang menyangkut job

assignment, ordering, Job scheduling. Short Range Plans ditetapkan oeh

Manajer Operasi bersama dengan supervisor dan operator.

Dalam tiga tingkatan proses perencanaan tersebut, perencanaan agregat

berada pada tingkatan kedua yaitu Intermediate plans yang menyangkut rencana

produksi / operasi perusahaan.

Perencanaan agregat membentuk keterkaitan antara perencanaan fasilitas di

satu pihak dan penjadwalan dipihak lain. Perencanaan fasilitas membatasi

keputusan perencanaan agregat.penjadwalan berkenaan dengan jangka waktu

yang pendek (beberapa bulan atau kurang) dan dibatasi oleh keputusan

perencanaan agregat. Perencanaan agregat berkaitan dengan perolehan sumber

daya, sedangkan penjadwalan berkaitan denngan pengalokasian sumber daya yang

tersedia terhadap pekerjaan dan pesanan tertentu. Jadi perbedaan dasar harus

dilakukan antara perolehan sumber daya melalui penjadwalan.

2.2. Fungsi Perencanaan Agregat

Pada dasarnya perencanaan produksi agregat merupakan suatu proses

penetapan tingkat output/kapasitas produksi secara keseluruhan guna memenuhi

tingkat permintaan yang diperoleh dari peramalan dan pesanan dengan tujuan

meminimalkan total biaya produksi.

Beberapa fungsi perencanaan agregat yaitu :

1. Menjamin rencana penjualan dan rencana produksi konsisten terhadap

rencana strategi perusahaan

2. Alat ukur performansi proses perencanaan produksi

3. Menjamin kemampuan produksi konsisten terhadap rencana produksi

4. Memonitor hasil produksi aktual terhadap rencana produksi dan membuat

penyesuaian

5. Mengatur persediaan produk jadi untuk mencapai target dan membuat

penyesuaian

6. Mengarahkan penyusunan dan pelaksanaan jadwal induk produksi.

Laporan Praktikum SCM – Agregat Planning

Page 6: Agregat Planing

2.3. Tujuan Perencanaan Agregat

Pada dasarnya tujuan dari perencanaan agregat adalah berusaha untuk

memperoleh suatu pemecahan yang optimal dalam biaya atau keuntungan pada

periode perencanaan. Namun bagaimanapun juga, terdapat permasalahan strategis

lain yang mungkin lebih penting daripada biaya rendah. Permasalahan strategis

yang dimaksud itu antara lain mengurangi permasalahan tingkat ketenagakerjaan,

menekan tingkat persediaan, atau memenuhi tingkat pelayanan yang lebih tinggi.

Bagi perusahaan manufaktur, jadwal agregat bertujuan menghubungkan sasaran

strategis perusahaan dengan rencana produksi, tetapi untuk perusahaan jasa,

penjadwalan agregat bertujuan menghubungkan sasaran dengan jadwal pekerja.

Ada empat hal yang diperlukan dalam perencanaan agregat antara lain:

1. Keseluruhan unit yang logis untuk mengukur penjualan dan output

2. Prediksi permintaan untuk suatu periode perencanaan jangka menengah

yang layak pada waktu agregat.

3. Metode untuk menentukan biaya

4. Model yang mengombinasikan prediksi dan biaya sehingga keputusan

penjadwalan dapat dibuat untuk periode perencanaan

2.4. Strategi Perencanaan Agregat

Strategi perencanaan agregat diperlukan untuk menghadapi permintaan yang

tidak tetap (fuktuatif) yang mengakibatkan beban kerja tidak tetap. Dalam kondisi

semacam ini diperlukan perencanaan dengan mengatur variabel-variabel yang

dapat dikendalikan agar tetap diperoleh biaya minimal dan hasil yang optimal.

Ada beberapa strategi yang dapat digunakan dalam perencanaan agregat

yang dibedakan dalam 2 Opsi/pilihan, yaitu :

1. Opsi Kapasitas ( Capacity Options ).

Yaitu melakukan pengaturan terhadap tingkatan yang ada dengan cara :

a. Variasi Tingkat Persediaan ( changing inventory levels ).

Pada strategi ini tingkat produksi dibuat tetap, kelebihan produksi saat

permintaan rendah disimpan sebagai persediaan untuk menutup

kekurangan produksi saat permintaan tinggi. Kelemahan strategi ini

Laporan Praktikum SCM – Agregat Planning

Page 7: Agregat Planing

menimbulkan tingginya biaya penyimpanan persediaan yang

meliputi : sewa gudang, asuransi, kerusakan material, bertambahnya

modal dan sebagainya. Kelebihannya dapat terhindar dari kehilangan

penjualan karena pada saat permintaan tinggi permintaan pelanggan

tetap dapat dipenuhi sehingga kepuasan pelanggan tetap dapat dijaga.

b. Variasi Jumlah Tenaga Kerja ( varying workforce ).

Yaitu bila permintaan tinggi dilakukan penambahan tenaga kerja

(hiring), sedang saat permintaan rendah dilakukan pengurangan

tenaga kerja (layoffs).Biaya yang muncul meliputi, biaya pengadaan

tenaga Kerja dan pesangon bagi tenaga kerja yang diberhentikan.

c. Variasi Jam Kerja (varying production rates through overtime or idle

time).

Strategi ini mempertahankan jumlah karyawan tetap pada tingkat

produksi tertentu, bila permintaan naik maka dilakukan kerja lembur

(over time) untuk meningkatkan produksi, sedangkan bila permintaan

turun dilakukan pengurangan jam kerja (under time).

d. Strategi Sub Kontak ( subcontracting).

Strategi ini lakukan bila permintaan tinggi tetapi kapasitas produksi

tidak mencukupi, sedangkan perusahaan tidak ingin kehilangan

permintaan.Subkontraktor yang dipilih adalah yang memenuhi standar

yang diisyaratkan dan dapat memenuhi jadwal pengiriman.

Kerugiannya : harga pokok produksi lebih tinggi, memberi

kesempatan pesaing untuk maju, tidak bisa langsung mengontrol

kualitas produk.

e. Menggunakan karyawan paruh waktu ( using part-time workers).

Banyak digunakan sektor jasa yang banyak membutuhkan TK yang

berketerampilan rendah, mis : toko swalayan, restoran, dsb.

Kelebihannya: biaya relatif rendah, fleksibel. Kelemahannya :

perputaran tenaga kerja tinggi, biaya pelatihan tinggi dan

mempengaruhi konsistensi mutu produk.

Laporan Praktikum SCM – Agregat Planning

Page 8: Agregat Planing

2. Opsi Permintaan ( Demand Options ).

Yaitu mempengaruhi tingkat permintaan (demand) agar meningkat dengan

cara :

a. Strategi Mempengaruhi Permintaan (Influencing Demand).

Bila permintaan rendah perusahaan dapat mencoba meningkatkan

permintaan dengan cara: iklan (advertising), promosi, personel selling,

potongan harga dan sebagainya yang tujuannya untuk mendongkrak

permintaan agar meningkat.

b. Pemesanan tertunda saat permintaaan tinggi (Back Order during

highdemand periods).

Back order adalah pesanan barang atau jasa yang diterima tetapi baru

dipenuhi kemudian setelah persediaan tersedia. Back order biasa

terjadi untuk perusahaan Mail Order atau perusahaan yang

memproduksi barang yang kompleks dan bernilai tinggi, misal :

pesawat terbang. Strategi ini jarang diterapkan untuk barang

konsumsi.

2.5. Metode Perencanaan Agregat

Berikut beberapa teknik yang digunakan untuk mengembangkan rencana

agregat yang lebih sesuai dan bermanfaat :

1. Metoda Grafis Dan Tabel

Teknik grafis dan tabel sangat dikenal karena mudah digunakan. Pada

dasarnya, rencana tersebut menggunakan beberapa variabel secara

bersamaan agar perencana dapat membandingkan permintaan yang

diramalkan dengan kapasitas ada. Pendekatan tersebut merupakan

pendekatan trial-and-error yang tidak menjamin suatu rencana produksi

yang optimal, dan membutuhkan perhitungan yang terbatas. Berikut

adalah lima tahapan dalam metoda grafis:

1) Tentukan permintaan pada setiap perioda.

2) Tentukan kapasitas waktu reguler, lembur, dan subkontrak pada

setiap perioda.

Laporan Praktikum SCM – Agregat Planning

Page 9: Agregat Planing

3) Temukan biaya tenaga kerja, merekrut dan mem-PHK, dan biaya

menahan persediaan.

4) Pertimbangkan kebijakan perusahaan yang dapat diterapkan pada

pekerja atau tingkat persediaan.

5) Buat rencana alternatif dan kaji biaya total mereka.

2. Metoda Transportasi Pemrograman Linier

Ketika permasalahan perencanaan agregat dipandang sebagai cara untuk

mengalokasikan kapasitas produksi untuk memenuhi permintaan yang

diramalkan, maka perencanaan agregat tersebut dapat dirumuskan dalam

bentuk pemrograman linier. Metoda transportasi pemrograman linier

menghasilkan rencana optimal untuk mengurangi biaya. Metoda

transportasi tersebut juga fleksibel dalam menetapkan produksi reguler dan

lembur pada setiap perioda waktu, jumlah unit yang di-subkontrak, shift

tambahan, dan persediaan yang terbawa dari perioda ke perioda

berikutnya.

3. Model Koefisien Manajemen

Model koefisien manajemen Bowman2 membentuk sebuah model

keputusan formal yang bergantung kepada pengalaman dan kinerja

manajer. Asumsi yang digunakan adalah bahwa kinerja manajer masa lalu

baik, sehingga dapat digunakan sebagai dasar untuk keputusan masa

depan. Teknik tersebut menggunakan sebuah analisis regresi masa lampau

dari keputusan produksi masa lalu yang dibuat oleh manajer. Lini regresi

menyajikan hubungan antara variabel (seperti permintaan dan tenaga

kerja) untuk keputusan masa depan. Menurut Bowman, defisiensi manajer

sering tidak konsisten dalam pengambilan keputusan.

2.5.1. Chase Strategy

Chase Strategy diartikan juga sebagai suatu strategi perencanaan dalam AP

dengan jalan melakukan penyesuaian kapasitas terhadap demand, perencanaan

output untuk suatu periode dibuat sesuai dengan permintaan yang diperkirakan

pada periode tersebut.

Laporan Praktikum SCM – Agregat Planning

Page 10: Agregat Planing

2.5.2. Level Strategy

Level strategy merupakan salah satu strategi dalam perencanaan agregat,

yang perencanaan produksinya konstan, dimana meskipun memperhatikan

dinamika permintaan namun rencana produksinya tidak mengikuti naik turunnya

permintaan dengan memperhitungkan konsekuensi yang ada.

Laporan Praktikum SCM – Agregat Planning

Page 11: Agregat Planing

BAB III

PENGUMPULAN DAN PENGOLAHAN DATA

3.1 Pengumpulan data

PT. Fisher Teknik adalah sebuah perusahaan yang bergerak di bidang

packaging produk mainan..Berikut diketahui data permintaan tahun 2011 dan

peramalan untuk tahun 2012 :

Tabel Permintaan

BulanPermintaa

nPeramala

nJanuary 13965 11932

February 12878 11937March 11915 11942April 12245 11946May 9025 11951June 10650 11956July 9240 11961

August 10145 11965Septembe

r 15465 11970October 14100 11975

November 12495 11980

December 11370 11984

Worker

Cycle time 8 minutesWorkers 15Productive time 7 hoursRest time 1 hours

Biaya

Hire cost Rp200,000/ orangFire Cost Rp200,000/ orangRegular salary Rp8,000/ jam/ orangOver time Rp10,000/ jam / orangHolding cost Rp500/ unit/ bulan

Laporan Praktikum SCM – Agregat Planning

Page 12: Agregat Planing

Hari Kerja Efektif

Hari Efektif 2012Januari 23Februari 19Maret 20April 24Mei 25Juni 25Juli 22Agustus 21September 23Oktober 20November 24Desember 26

Inventory

Kode Keterangan Lot size leadtime

SS OH

Schdl Rec at time: (M)

FG Finish good       300    

3.2 Pengolahan Data

Dalam menentukan strategi agregat planning, kami menggunakan 2 metode

yaitu Chase Strategy dan Level Strategy. Berikut perhitungan dari masing-masing

metode tersebut.

3.2.1. Chase Strategy

Chase strategy merupakan salah satu strategi perencanaan agregat dimana

tingkat produksi dari waktu ke waktu mengikuti permintaan. Dari keterangan

pengumpulan data diatas, didapatkan perhitungan produksinya adalah sebagai

berikut :

Laporan Praktikum SCM – Agregat Planning

Page 13: Agregat Planing

TABLE CHASE STRATEGY

Laporan Praktikum SCM – Agregat Planning

Page 14: Agregat Planing

3.2.2. Level Strategy

Level strategy merupakan salah satu strategi dalam perencanaan agregat,

yang perencanaan produksinya konstan, dimana meskipun memperhatikan

dinamika permintaan namun rencana produksinya tidak mengikuti naik turunnya

permintaan dengan memperhitungkan konsekuensi yang ada. Dari keterangan

pengumpulan data diatas, didapatkan perhitungan produksinya adalahsebagai

berikut :

Laporan Praktikum SCM – Agregat Planning

Page 15: Agregat Planing

TABLE LEVEL STRATEGY

Laporan Praktikum SCM – Agregat Planning

Page 16: Agregat Planing

BAB IV

ANALISA DATA

4.1. Analisa Data

Chase Strategy

Jumlah pekerja disesuaikan dengan banyaknya permintaan kepada

perusahaan. Jumlah pekerja pada awal periode sebanyak 15 pekerja, maka

dengan strategi Chase jika perusahaan mengalami penurunan permintaan

jumlah pekerja pun harus dikurangi dengan menghentikan beberapa

pekerja. Sebaliknya jika permintaan kepada perusahaan bertambah, maka

penambahan jumlah pekerja dilakukan dengan menggunakan biaya

penambahan pekerja.Karena tingkat produksi disesuaikan dengan

banyaknya permintaan, maka tidak ada biaya tambahan untuk inventory

(penyimpanan) maupun biaya keterlambatan pemenuhan permintaan.Total

biaya dari perencanaan chase strategi ini adalah Rp. 184.576.000,00

Level Strategy

Dengan strategi level, meskpun permintaan kepada perusahaan

meningkat atau menurun, perusahaan tidak mengubah unit produksi.

Jumlah pekerja yang digunakan di dalam proses produksi tidak berubah

dari awal sampai akhir periode perencanaan yaitu 15 orang pekerja.

Sehingga biaya firing cost maupun hiring cost dapat dihemat.Namun

dengan metode ini, mengakibatkan dimana terjadinya surplus sehingga

menyebabkan terjadinya inventory cost akibat terjadinya penyimpanan

kelebihan hasil produksi.Total biaya dari perencanaan level strategi ini

adalah Rp. 481.795.000,00

4.2. Bagan BOM (Bill Of Material)

Laporan Praktikum SCM – Agregat Planning

Page 17: Agregat Planing

Studi Kasus :Proses ProduksiBarang 1, 2, 3 masing masing dimasukkan ke dalam Plastik dan kemudian masukkan buku kedalam plastik tersebut bersama-sama. Kemudian setelah dirapatkan plastiknya, masing-masing barang tersebut dimasukkan ke dalam kotak karton printed 1, 2 dan 3 sesuai dengan masing-masing jenis produk. Kemudian masukkan ke dalam plastik transparan bag. 1 plastik transparan bag harus diisi dengan Produk 1,2 dan 3 masing-masing 1 buah.

Bagan BOM Proses Produksi PT. Fisher Teknik

BAB V

PENUTUP

Laporan Praktikum SCM – Agregat Planning

Page 18: Agregat Planing

5.1. Kesimpulan

Berdasarkan pembahasan dan perhitungan yang telah dilakukan,

diperoleh kesimpulan bahwa :

1. Dari kedua metode di atas, dibandingkan dengan Strategi Chase dan Level,

maka didapatkan

Chase Strategi Level Strategy

Rp 184,576,000.00 Rp 481,795,000.00

2. Metode yang menghasilkan biaya paling murah adalah metode pertama,

dengan Chase Strategi. Sehingga didapatkan biaya Rp184,576,000.00

5.2. Saran

Setelah berakhirnya praktikum ini praktikan mengaharapkan adanya

perbaikan baik dari segi fasilitas maupun dari segi penyampaian

materi,berupa :

1. Ketersediaan perangkat computer,mengingat tidak semua praktikan

memilki Notebook/Laptop.

2. Laboratorium praktek hendaknya di bekali dengan Infocus/Proyektor,Agar

teman-teman pembimbing tidak merasa kesulitan dalam menerangkan

kepada setiap praktikan.

3. Dalam penggunaan software hendaknya digunakan versi yang telah

terupdate,karena versi yang terupdate sudah pasti lebih baik jika di

bandingkan dengan bersi sebelumnya

4. Dalam peyampaian materi setidaknya diberikan juga modul sebagai sarana

pembantu untuk praktikan dalam menyelesaikan tugas kasus yang di

berikan.

Demikian saran yang di berikan,mohon maaf jika ada kata-kata yang

kurang berkenan.Harapan kedepanya semoga praktikum untuk angkatan-

angkatan selanjutnya lebih baik.

Laporan Praktikum SCM – Agregat Planning