agatha christie - pasangan detektif

Download Agatha Christie - Pasangan Detektif

If you can't read please download the document

Post on 24-Nov-2015

232 views

Category:

Documents

63 download

Embed Size (px)

DESCRIPTION

a mystery novel

TRANSCRIPT

  • PARTNERS IN CRIME - PASANGAN

    DETEKTIF

    By Agatha Christie

    Alihbahasa: Mareta

    Penerbit: PT Gramedia Januari 1991

    DJVU: BBSC

    Edit & Convert: inzomnia

    http://inzomnia.wapka.mobi

    1. Peri di Dalam Rumah

    NYONYA Thomas Beresford menggeser duduknya sedikit dan

    memandang ke luar jendela flatnya dengan sedih. Pemandangan di

    depannya bukanlah pemandangan yang menarik. Yang terlihat hanya

    satu blok kecil yang terletak di seberang jalan. Nyonya Beresford

    menarik napas panjang dan menguap.

    "Mudah-mudahan akan terjadi sesuatu," katanya.

    Suaminya memandang tidak setuju.

    "Hati-hati, Tuppence. Keinginanmu akan sensasi kotor ini membuatku

    cemas." Tuppence menarik napas dalam-dalam dan menutup matanya.

    "Jadi Tommy dan Tuppence menikah," katanya seperti orang

    mendongeng. "Mereka pun hidup bahagia. Dan enam tahun kemudian

    mereka tetap hidup bahagia. Memang luar biasa," katanya. "Apa yang

    terjadi selalu lain dengan apa yang kita angankan."

    http://inzomnia.wapka.mobiKoleksi ebook inzomnia

  • "Sebuah pemikiran yang dalam, Tuppence. Tapi tidak orisinil.

    Penyair-penyair terkenal, bahkan orang-orang terkenal lainnya,

    pernah mengucapkan hal itu-dan, maaf-mereka mengucapkannya

    lebih baik."

    "Enam tahun yang lalu," lanjut Tuppence, "aku bisa bersumpah bahwa

    dengan uang cukup untuk membeli keperluan sehari-hari dan

    mempunyai suami kau, hidupku bisa seperti sebuah lagu yang indah,

    seperti kata salah seorang penyair yang kelihatannya kaukenal baik."

    "Sekarang apa yang membuatmu bosan? Aku atau uang?" tanya

    Tommy dengan suara dingin.

    "Bosan bukanlah kata yang tepat," kata Tuppence dengan manis.

    "Aku hanya merasa terbiasa dengan berkat-berkat ini. Itu saja.

    Seperti orang yang tak pernah berpikir betapa bahagianya dia dapat

    bernapas melalui hidung sampai dia kena penyakit flu pada suatu

    saat."

    "Apa sebaiknya aku bersikap tidak terlalu mempedulikanmu?" usul

    Tommy. "Bagaimana kalau aku kencan dengan wanita lain dan pergi ke

    nite club?"

    "Tak ada gunanya," jawab Tuppence. "Kau pasti akan melihatku di

    tempat itu dengan lelaki lain. Dan aku tahu pasti bahwa kau

    sebetulnya tidak tertarik pada wanita itu. Sedang kau sendiri pasti

    tidak tahu apakah aku benar-benar tertarik pada laki-laki itu atau

    tidak. Wanita biasanya lebih teliti dari laki-laki."

    "Angka tertinggi yang bisa dicapai seorang lelaki memang dalam hal

    kerendahan hati," gumam Tommy. "Sebenarnya kenapa sih kau? Apa

    yang membuatmu tidak puas?"

    "Aku tak tahu. Aku hanya ingin mengalami sesuatu. Sesuatu yang

    mendebarkan. Apa kau tak ingin mengejar-ngejar mata-mata Jerman

    lagi, Tom? Bayangkan pengalaman kita di hari-hari yang

    mendebarkan itu. Tentu saja aku sadar bahwa kau bekerja di Dinas

    Rahasia sekarang. Tapi yang kaulakukan kerja kantoran."

    http://inzomnia.wapka.mobiKoleksi ebook inzomnia

  • "Kau ingin agar mereka mengirimku ke pelosok Rusia sana dan

    menyamar sebagai seorang aktivis Bolshevik atau semacamnya?"

    "Itu nggak enak," kata Tuppence. "Mereka tak akan membolehkan

    aku pergi menemanimu, padahal akulah yang ingin melakukan sesuatu.

    Sesuatu untuk dilakukan. Itulah yang aku inginkan dari tadi." "Dunia

    wanita," kata Tommy sambil mengibaskan tangannya.

    "Kerja dua puluh menit setelah sarapan sudah membuat flat ini

    kelihatan rapi. Tak ada yang tak beres, kan?" "Tugas-tugas rumahmu

    terlalu sempurna, Tuppence, hampir monoton."

    "Aku suka mendengar orang berterima kasih," kata Tuppence.

    "Memang kau punya pekerjaan," lanjutnya, "tapi apa tak timbul

    sedikit keinginan pun dalam dirimu-untuk melakukan sesuatu yang

    mendebarkan?"

    "Tidak," jawab Tommy. "Aku rasa tidak. Memang asyik

    mengharapkan dan membayangkan akan terjadi sesuatu. Tapi yang

    datang tidak selalu hal yang menyenangkan."

    "Laki-laki memang selalu hati-hati," kata Tuppence sambil menarik

    napas. "Apa kau tak pernah diam-diam punya keinginan untuk-

    bertualang-dalam hidup ini?"

    "Apa yang baru saja kaubaca, Tuppence?" tanya Tommy.

    "Bayangkan, betapa akan mendebarkan seandainya kita mendengar

    ketukan keras di pintu-lalu kita membukanya -dan ternyata ada

    seorang laki-laki sempoyongan yang mati."

    "Kalau dia mati tak akan sempoyongan," kata Tommy dengan kritis.

    "Ah, kau kan ngerti apa yang kumaksud," kata Tuppence. "Mereka

    selalu sempoyongan sebelum mati dan jatuh di depan kita sambil

    mengucapkan beberapa patah kata yang membingungkan, misalnya

    Macan Tutul Bertotol, atau yang semacam itu."

    "Sebaiknya kau ikut kursus Schopenhauer atau Emmanuel Kant,"

    kata Tommy. "Itu akan bagus buatmu," jawab Tuppence. "Kau

    http://inzomnia.wapka.mobiKoleksi ebook inzomnia

  • menjadi gemuk dan keenakan." "Mana bisa," kata Tommy marah. "Kau

    sendiri selalu berolah-raga supaya langsing."

    "Semua orang kan berolahraga," kata Tuppence. "Aku mengatakan

    kau gemuk tadi kan kiasan saja. Kau tambah makmur dan rapi dan

    enak."

    "Aku tak tahu apa yang terjadi padamu," kata suaminya.

    "Semangat bertualang," gumam Tuppence. "Itu kan lebih baik

    daripada keinginan untuk membuat affair. Walaupun aku juga

    melakukannya. Aku membayangkan bertemu dengan seorang laki-laki.

    Laki-laki yang sangat tampan...." "Kau kan sudah bertemu denganku,"

    kata Tommy. "Apa itu belum cukup?"

    "Seorang laki-laki tegap berkulit kecoklatan dan kuat. Dia bisa

    menunggang apa saja dan bisa menangkap kuda-kuda liar dengan

    lasso.... "

    "Dan memakai celana kulit kambing dan topi koboi," sahut Tommy

    dengan sinis.

    "...dan pernah tinggal di daerah-daerah berbahaya," sambut

    Tuppence. "Aku bayangkan diajatuh cinta padaku. Dan tentu saja aku

    menolaknya, dan setia pada sumpah perkawinanku. Tapi diam-diam

    hatiku pergi bersamanya."

    "Ah," kata Tommy. "Aku juga suka membayangkan bertemu dengan

    seorang gadis yang sangat cantik. Gadis berambut jagung yang jatuh

    cinta padaku. Tapi rasanya aku tidak akan menolak dia-aku yakin itu."

    "Wah," kata Tuppence. "Kau nakal juga, ya?"

    "Kau kenapa sih, Tuppence? Tak pernah kau berkata seperti ini."

    "Memang. Tapi perasaan itu telah lama kupendam dan rasanya sudah

    mendidih di dalam," kata Tuppence. "Tahu, enggak? Sangat

    berbahaya kalau kau selalu mendapat sesuatu yang kauinginkan-

    termasuk uang untuk membeli macam-macam. Dan memang banyak

    topi dijual orang."

    http://inzomnia.wapka.mobiKoleksi ebook inzomnia

  • "Kau sudah punya empat puluh topi," kata Tommy. "Dan semua

    kelihatan sama."

    "Topi sih memang begitu," jawab Tuppence. "Sebetulnya tidak semua

    sama, ada nuansa pada warna-warnanya. Aku lihat ada topi bagus di

    Violette tadi pagi."

    "Kalau tak ada lagi yang kaukerjakan kecuali membeli topi, kau tak

    perlu..."

    "Persis," kata Tuppence. "Memang itu yang kumaksud. Kalau ada hal

    lain yang lebih baik yang bisa kulakukan. Rasanya aku memerlukan

    sebuah pekerjaan yang baik. Oh, Tommy, aku benar-benar

    mengharapkan akan terjadi sesuatu yang mendebarkan. Aku merasa-

    aku benar-benar merasa bahwa hal itu akan baik untuk kita.

    Seandainya kita bisa menemukan sesosok peri..."

    "Ah!" kata Tommy. "Aneh benar perkataanmu!"

    Dia berdiri dan melangkah ke sisi lain ruangan itu. Lalu membuka laci

    meja tulisnya, mengambil sebuah foto dan memberikannya pada

    istrinya.

    "Oh!" kata Tuppence. "Rupanya sudah dicetak, ya? Ini yang mana,

    yang kauambil atau yang kuambil?" "Yang kuambil. Yang kau ambil

    rusak. Kurang cahaya. Seperti biasa." "Bagus juga kau bisa

    melakukan sesuatu lebih baik dariku," kata Tuppence.

    "Komentar tolol," kata Tommy. "Tapi biar saja untuk sementara.

    Yang ingin kutunjukkan padamu ini."

    Dia menunjuk sebuah noda putih kecil pada foto.

    "Itu kan guratan pada film," kata Tuppence.

    "Bukan," jawab Tommy. "Itu gambar peri."

    "Tommy, kau memang tolol."

    "Lihat saja."

    Dia memberikan kaca pembesar. Tuppence memperhatikan dengan

    baik. Noda putih itu memang kelihatan seperti sebuah makhluk

    bersayap yang sedang hinggap di atas penutup perapian.

    http://inzomnia.wapka.mobiKoleksi ebook inzomnia

  • "Ada sayapnya!" seru Tuppence. "Lucu, ya. Ada peri hidup di flat

    kita. Kita surati Conan Doyle, yuk. Oh, Tom, apa dia akan

    mengabulkan keinginan kita?"

    "Nanti juga kita tahu," jawab Tommy. "Keinginanmu kan cukup

    menggebu-gebu dari tadi."

    Pada saat itu pintu mereka terbuka dan seorang anak laki-laki

    jangkung berumur lima belasan masuk dengan ragu-ragu. Dia

    bertanya dengan amat sopan.

    "Apa Nyonya ada di rumah? Bel depan berbunyi."

    "Ah, mudah-mudahan Albert tidak nonton," kata Tuppence setelah

    anak itu keluar lagi. "Dia sedang praktek menirukan kepala pelayan

    dari Long Island. Untunglah aku bisa mengubah kebiasaannya

    meminta kartu nama tamu dan membawanya masuk dengan nampan."

    Pintu terbuka lagi dan Albert berkata, "Tuan Carter," dengan nada

    seseorang yang menyebutkan gelar kebangsawanan.

    "Bos," kata Tommy terkejut.

    Tuppence meloncat berdiri dengan gembira dan menyalami seorang

    lelaki tinggi berambut abu-abu dengan mata tajam dan senyum letih.

    "Tuan Carter-senang sekali bertemu dengan Anda."

    "Bagus, Nyonya Tommy. Sekarang coba jawab pertanyaan saya.

Recommended

View more >