aff orif - general anestesia (ralat final)

28
BAB I STATUS UJIAN A. IDENTITAS PASIEN Nama Umur Berat Badan Jenis kelamin Alamat Pekerjaan Tanggal periksa Diagnosis : Ny. WJ : 44 tahun : 70 Kg : Perempuan : Terban GK V/446 RT/RW 15/3 YK : PNS : 27 Agustus 2012 : Post op ORIF radius sinistra B. ANAMNESIS (Dilakukan secara autoanamnesis, pada tanggal 27 Agustus 2012 di bangsal Bedah dengan melihat rekam medis pasien atas izin dokter yang merawat) 1. Keluhan utama Tidak Ada 2. Riwayat Penyakit Sekarang Pasien datang untuk kontrol dan melepas hasil operasi ORIF radius sinistra yang telah berlangsung pada tanggal 6 April 2011. 1

Upload: ndryliciouz

Post on 08-Dec-2014

184 views

Category:

Documents


19 download

DESCRIPTION

vvsf

TRANSCRIPT

Page 1: Aff Orif - General Anestesia (Ralat Final)

BAB I

STATUS UJIAN

A. IDENTITAS PASIEN

Nama                   

   Umur

Berat Badan

Jenis kelamin

Alamat

Pekerjaan         

Tanggal periksa 

Diagnosis           

: Ny. WJ

: 44 tahun

: 70 Kg

: Perempuan

: Terban GK V/446 RT/RW 15/3 YK

: PNS

: 27 Agustus 2012

: Post op ORIF radius sinistra

B. ANAMNESIS

(Dilakukan secara autoanamnesis, pada tanggal 27 Agustus 2012 di bangsal

Bedah dengan melihat rekam medis pasien atas izin dokter yang merawat)

1. Keluhan utama

Tidak Ada

2. Riwayat Penyakit Sekarang

Pasien datang untuk kontrol dan melepas hasil operasi ORIF radius sinistra

yang telah berlangsung pada tanggal 6 April 2011.

3. Riwayat Penyakit Dahulu

Riwayat Asma : disangkal

Riwayat Hipertensi : disangkal

Riyawat Penyakit Jantung : disangkal

Riwayat Diabetes Melitus : disangkal

Riwayat alergi : disangkal

Riwayat Gastristis : disangkal

4. Riwayat Keluarga

Riwayat penyakit serupa pada keluarga disangkal 

C. PEMERIKSAAN FISIK

1

Page 2: Aff Orif - General Anestesia (Ralat Final)

Keadaan Umum          : Baik

Kesadaran                   : Compos mentis

Vital Sign                  

A   : Clear, TMD > 6 cm , M II

B   : Spontan, RR : 18x/menit, vesikuler (+/+), wheezing (-/-), Ronkhi (-/-)

C   : TD = 120/80 mmHg, N = 70x/menit, S1-S2 reguler

D  : compos mentis, E4V5M6

D. PEMERIKSAAN PENUNJANG

1. Thorak Foto : Cor dan Pulmo dalam batas normal

2. Antebrachii Sinistra : Union fraktur dengan plate and screw radius ulna

sinistra

3. EKG : normal sinus rythm

4. EEG : Tidak dilakukan

5. Laboratorium : dalam batas normal

Hb : 13,1 Al : 8,94

AE : 4,90 AT : 297

HMT : 39,6 E/B/B/S/L/M : 1/0/1/75/19/4

PPT : 12,7 detik APTT : 35 detik

C. PTT : 13,2 detik C. APTT : 29,6 detik

GDS : 102 Ureum : 33

Kreatinin : 0,65 Natrium : 137,8

Kalium : 4,44 Clorida : 105,7

HbSAg : negatif

E. DIAGNOSIS KERJA

Pre Op aff ORIF radius sinistra dengan status Fisik ASA I

Rencana General Anesetesi

F. PENATALAKSANAAN

1. Persiapan Operasi

- Lengkapi Informed Consent Anestesi

2

Page 3: Aff Orif - General Anestesia (Ralat Final)

- Puasa 8 jam sebelum operasi

- Tidak menggunakan perhiasan/kosmetik

- Tidak menggunakan gigi palsu

- Memakai baju khusus kamar bedah

2. Premedikasi : Midazolam 3 mg; Fentanyl 50 µg

3. Diagnosis Pra Bedah : Post Orif radius & ulna sinistra

4. Diagnosis pasca Bedah : Aff ORIF radius & ulna sinistra

5. Jenis Anestesi : General Anestesi

6. Teknik : Semi Closed, napas spontan assist, LMA

no.3

7. Induksi : Propofol 100 mg

8. Pemeliharaan : 02, N2O, Sevoflurane

9. Obat-obat : Ondansentron 4 mg, Ketorolac 30 mg

10. Jenis Cairan : Ringer laktat

11. Kebutuhan cairan selama Operasi

MO : 140 ml

PP : 1120 cc

SO : 420 cc

Keb. Cairan jam I : 1120 cc

Keb. Cairan jam II/III : 840 cc

EBV : 4550 cc

12. Instruksi Pasca Bedah

Posisi : Head up

Infus : Ringer laktat 20 tpm

Antibiotik : Sesuai dr. Operator

Analgetik : Inj. Ketorolac 30 mg/8 jam/IV mulai jam 17.20

Anti muntah : Inj. Ondansentron 4 mg/8 jam/IV K/P mulai jam 17.20

Lain-lain : - Awasi Vital sign dan KU

- Jika sadar penuh, Peristaltik (+) , mual (-), muntah (-),

coba minum makan perlahan.

- Bed rest 24 jam post op.

13. Lama Operasi : 40 menit

3

Page 4: Aff Orif - General Anestesia (Ralat Final)

14. Maintanence anastesi

B1 (Breathing) : Suara nafas vesikuler, nafas terkontrol,

B2 (Bleeding) :Perdarahan ± 75 cc

B3 (Brain) : Pupil Isokor

B4 (Bladder) : tidak terpasang kateter

B5 (Bowel) : BU (-)

B6 (Bone) : Intak

15. Monitoring pasca Operasi

Skor Lockharte/Aldrete Pasien

  Jam I (per 15’) Jam II Jam III Jam IV

Aktivitas 1 2                            

Respirasi 1 2                            

Sirkulasi 2 2                            

Kesadaran 2 2                            

Warna kulit 2 2                            

Skor total 8 10                            

4

Page 5: Aff Orif - General Anestesia (Ralat Final)

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

A. Fraktur Radius & Ulna

1) Definisi

Fraktur adalah terputusnya kontinuitas jaringan tulang dan/atau

tulang rawan yang umumnya disebabkan oleh tekanan yang berlebihan.

Trauma yang menyebabkan fraktur dapat berupa trauma langsung dan trauma

tidak langsung. Trauma langsung menyebabkan tekanan langsung pada tulang

dan terjadi fraktur pada daerah tekanan. Trauma tidak langsung, apabila

trauma dihantarkan ke daerah yang lebih jauh dari daerah fraktur, misalnya

jatuh dengan tangan ekstensi dapat menyebabkan fraktur pada klavikula, pada

keadaan ini biasanya jaringan lunak tetap utuh. Salah satu jenis fraktur yaitu

fraktur radius ulna dimana fraktur tersebut mengenai tulang radius ulna karena

rudapaksa termasuk fraktur dislokasi proximal atau distal radioulnar joint

(Fraktur Dislokasi Galeazzi dan Montegia). Fraktur Galeazzi adalah fraktur

radius distal disertai dislokasi atau subluksasi sendi radioulnar distal

sementara. Fragmen distal angulasi ke dorsal. Pada pergelangan tangan dapat

diraba tonjolan ujung distal ulna. Fraktur dislokasi Galeazzi terjadi akibat

trauma langsung pada wrist, khususnya pada aspek dorsolateral atau akibat

jatuh dengan outstreched hand dan pronasi forearm. Pasien dengan nyeri pada

wrist atau midline forearm dan diperberat oleh penekanan pada distal

radioulnar joint

2) Patofisiologi

Mekanisme trauma pada antebrachii yang paling sering adalah

jatuh dengan outstreched hand atau trauma langsung. Gaya twisting

menghasilkan fraktur spiral pada level tulang yang berbeda. Trauma

langsung atau gangguan angulasi menyebabkan fraktur transversal pada

level tulang yang sama. Bila salah satu tulang antebrachii mengalami

fraktur dan menglami angulasi, maka tulang tersebut menjadi lebih pendek

terhadap tulang lainnya. Bila perlekatan dengan wrist joint dan humerus

5

Page 6: Aff Orif - General Anestesia (Ralat Final)

intak, tulang yang lain akan mengalami dislokasi (fraktur dislokasi

Galeazzi/ Monteggia).

3) Pemeriksaan Klinis

Gejala yang didapatkan dapat berupa:

1. Deformitas di daerah yang fraktur: angulasi, rotasi (pronasi atau

supinasi) atau shorthening

2. Nyeri

3. Bengkak

Pemeriksaan fisik harus meliputi evaluasi neurovascular dan

pemeriksaan elbow dan wrist. Dan evaluasi kemungkinan adanya

sindrom kompartemen.

4) Kontra indikasi Operasi

Keadaan umum jelek

5) Diagnosis fraktur

1) Anamnesis

Biasanya penderita datang dengan suatu trauma (traumatik,

fraktur), baik yang hebat maupun trauma ringan dan diikuti dengan

ketidakmampuan untuk menggunakan anggota gerak. Anamnesis harus

dilakukan dengan cermat, karena fraktur tidak selamanya terjadi di

daerah trauma dan mungkin fraktur terjadi pada daerah lain. Penderita

biasanya datang karena adanya nyeri, pembengkakan, gangguan fungsi

anggota gerak, krepitasi atau datang dengan gejala-gejala lain.

2) Pemeriksaan fisik

Pada pemeriksaan awal penderita, perlu diperhatikan adanya:

i. Syok, anemia atau perdarahan

ii. Kerusakan pada organ-organ lain, misalnya otak, sumsum tulang

belakang atau organ-organ dalam rongga toraks, panggul dan

abdomen

6

Page 7: Aff Orif - General Anestesia (Ralat Final)

iii. Fraktur predisposisi, misalnya pada fraktur patologis

3) Pemeriksaan lokal

Inspeksi

Bandingkan dengan bagian yang sehat

Posisi anggota gerak

Keadaan umum penderita secara keseluruhan

Ekspresi wajah karena nyeri

Adanya tanda-tanda anemia karena perdarahan

Apakah terdapat luka pada kulit dan jaringan lunak untuk

membedakan fraktur tertutup atau fraktur terbuka

Ekstravasasi darah subkutan dalam beberapa jam sampai

beberapa hari

Perhatikan adanya deformitas berupa angulasi, rotasi dan

kependekan

Lakukan survei pada seluruh tubuh apakah ada trauma pada

organ-organ lain

Perhatikan kondisi mental penderita

Keadaan vaskularisasi

Palpasi (Feel)

Palpasi dilakukan secara hati-hati oleh karena penderita biasanya

mengeluh sangat nyeri.

Temperatur setempat yang meningkat

Nyeri tekan; nyeri tekan yang bersifat superfisial biasanya

disebabkan oleh kerusakan jaringan lunak yang dalam akibat

fraktur pada tulang

Krepitasi; dapat diketahui dengan perabaan dan harus dilakukan

secara hati-hati.

Pemeriksaan vaskuler pada daerah distal trauma berupa palpasi

arteri radialis, arteri dorsalis pedis, arteri tibialis posterior sesuai

dengan anggota gerak yang terkena.

7

Page 8: Aff Orif - General Anestesia (Ralat Final)

Refilling (pengisian) arteri pada kuku, warna kulit pada bagian

distal daerah trauma , temperatur kulit.

Pengukuran tungkai terutama pada tungkai bawah untuk

mengetahui adanya perbedaan panjang tungkai.

Pergerakan (Moving)

Pergerakan dengan mengajak penderita untuk menggerakkan

secara aktif dan pasif sendi proksimal dan distal dari daerah yang

mengalami trauma. Pada pederita dengan fraktur, setiap gerakan

akan menyebabkan nyeri hebat sehingga uji pergerakan tidak boleh

dilakukan secara kasar, disamping itu juga dapat menyebabkan

kerusakan pada jaringan lunak seperti pembuluh darah dan saraf.

Pemeriksaan neurologis

Pemeriksaan neurologis berupa pemeriksaan saraf secara

sensoris dan motoris serta gradasi kelelahan neurologis, yaitu

neuropraksia, aksonotmesis atau neurotmesis. Kelaianan saraf yang

didapatkan harus dicatat dengan baik karena dapat menimbulkan

masalah asuransi dan tuntutan (klaim) penderita serta merupakan

patokan untuk pengobatan selanjutnya.

Pemeriksaan radiologis

Pemeriksaan radiologis diperlukan untuk menentukan

keadaan, lokasi serta ekstensi fraktur. Untuk menghindarkan nyeri

serta kerusakan jaringan lunak selanjutnya, maka sebaliknya kita

mempergunakan bidai yang bersifat radiolusen untuk imobilisasi

sementara sebelum dilakukan pemeriksaan radiologis.

6) Penatalaksanaan/Pengobatan

Tujuan dari penatalaksanaan/pengobatan adalah untuk menempatkan

ujung-ujung dar patah tulang supaya satu sama lain saling berdekatan dan

8

Page 9: Aff Orif - General Anestesia (Ralat Final)

untuk menjaga agar mereka tetap menempel sebagai mana mestinya. Patah

tulang lainnya harus benar-benar tidak boleh digerakkan (imobilisasi).

Imobilisasi bisa dilakukan melalui:

a. Pembidaian : benda keras yang ditempatkan di daerah sekeliling

tulang.

b. Pemasangan gips : merupakan bahan kuat yang dibungkuskan di

sekitar tulang yang patah

c. Penarikan (traksi) : menggunakan beban untuk menahan sebuah

anggota gerak pada tempatnya.

d. Fiksasi internal : dilakukan pembedahan untuk menempatkan piringan

atau batang logam pada pecahan-pecahan tulang..

7) Teknik Penanganan terapi konservatif dan operasi

Metode Penanganan Konservatif

Prinsipnya dengan melakukan traksi ke distal dan kembalikan posisi

tangan berubah akibat rotasi. Posisi tangan dalam arah benar dilihat

letak garis patahnya

1/3 proksinal posisi fragmen proksimal dalam supinasi untuk dapat

kesegarisan fragmen distal supinasi.

1/3 tengah posisi radius netral maka posisi distal netral.

1/3 distal radius pronasi maka posisi seluruh lengan pronasi,

setelah itu dilakukan immobilisasi dengan gips atas siku

Metode Penanganan Operatif

Empat eksposur dasar yang direkomendasikan:

a) Straight ulnar approach untuk fraktur shaft ulna

b) Volar antecubital approach untuk fraktur radius proximal

c) Dorsolateral approach untuk fraktur shaft radius, mulai dari

kapitulum radius sampai ¼ distal shaft radius

d) Palmar approach untuk fraktur radius 1/3 distal

9

Page 10: Aff Orif - General Anestesia (Ralat Final)

i. Posisikan pasien terlentang pada meja operasi. Meja hand sangat

membantu untuk memudahkan operasi. Tourniquet dapat digunakan

kecuali bila didapatkan lesi vaskuler.

ii. Ekspos tulang yang mengalami fraktur sesuai empat prinsip diatas.

iii. Reposisi fragmen fraktur seoptimal mungkin

iv. Letakkan plate idealnya pada sisi tension yaitu pada permukaan

dorsolateral pada radius, dan sisi dorsal pada ulna. Pada 1/3 distal

radius plate sebaiknya diletakkan pada sisi volar untuk menghindari

tuberculum Lister dan tendon-tendon ekstensor.

v. Pasang drain, luka operasi ditutup lapis demi lapis

8) Perawatan Pasca Bedah

1) Drain dilepas 24-48 jam post operatif atau sesuai dengan produksinya

2) Elevasi lengan 10 cm di atas jantung

3) Mulai latihan ROM aktif dan pasif dari jari-jari, pergelangan tangan,

siku sesegera mungkin setelah operasi

9) Follow Up

Fisioterapi aktif ROM tangan, pergelangan dan siku

Melakukan X Ray kontrol 6 minggu dan 3 bulan sesudahnya

Penyembuhan biasanya setelah 16-24 minggu, selama ini hindari olah

raga kontak dan mengangkat beban lebih dari 2 kilogram.

B. Tata Laksana Anestesi dan Reanimasi pada Aff ORIF Radius Ulna

Sinistra

1. Batasan

Tindakan anestesi yang dilakukan pada operasi penangkatan plate

dan screw dari tulang radius dan ulna

2. Masalah anestesi dan Reanimasi

Ancaman depresi nafas akibat manipulasi dada

Perdarahan luka operasi

3. Penatalaksanaan Anestesi dan Reanimasi

10

Page 11: Aff Orif - General Anestesia (Ralat Final)

Penilaian status pasien

Evaluasi status generalis dengan pemeriksaan fisik dan penunjang

yang lain sesuai dengan indikasi

4. Persiapan Pra Operatif

Persiapan rutin

Persiapan donor

5. Premedikasi

Diberikan secara intravena 30 – 45 menit pra induksi dengan obat-obat

sebagai berikut:

Midazolam : 0,05 – 0,10 mg/kgBB

Fentanyl : 1-2 µg/kgBB

6. Pilihan Anestesi

Anestesi umum inhalasi (imbang) dengan pemasangan LMA atau

pipa endotrakea.

7. Terapi Cairan dan Tranfusi

Diberikan cairan pengganti perdarahan apabila perdarahan yang

terjadi < 20 % dari perkiraan volume darah dan apabila > 20%, berikan

tranfusi darah.

8. Pemulihan Anestesi

Segera setelah operasi, hentikan aliran obat anesthesia, berikan

oksigen 100%

Berikan obat penawar pelumpuh otot

Bersihkan jalan nafas

Ekstubasi dilakukan setelah pasien nafas spontan dan adekuat serta

jalan nafas sudah bersih

9. Pasca bedah/anestesi

Dirawat diruang pulih, sesuai dengan tata laksana pasca anestesi

Perhatian khusus pada periode ini adalah ancaman depresi nafas

akibat nyeri dan kompresi luka operasi

Pasien dikirim kembali keruangan setelah memenuhi kriteria

penegeluaran

11

Page 12: Aff Orif - General Anestesia (Ralat Final)

C. General Anestesia

Tindakan anestesi dilakukan dengan menghilangkan nyeri secara

sentral disertai hilangnya kesadaran dan bersifat pulih kembali atau

reversible. Persiapan prabedah yang kurang memadai merupakan faktor

terjadinya kecelakaan dalam anestesia. Sebelum pasien dibedah sebaiknya

dilakukan kunjungan pasien terlebih dahulu sehingga pada waktu pasien

dibedah pasien dalam keadaan bugar. Tujuan kunjungan praanestesi adalah

untuk mengurangi angka kesakitan operasi, mengurangi biaya operasi dan

meningkatkan kualitas pelayanan kesehatan.

Sebelum pasien diberi obat anestesi, langkah selanjutnya adalah

dilakukan premedikasi yaitu pemberian obat sebelum induksi anestesi diberi

dengan tujuan untuk melancarkan induksi, rumatan dan bangun dari anestesi

diantaranya :

Meredakan kecemasan dan ketakutan

Mengurangi sekresi kelenjar ludah dan bronkus

Mengurang mual dan muntah pasca bedah

Mengurangi isi cairan lambung

Membuat amnesia

Memperlancar induksi anestesi

Meminimalkan junmlah obat anestesi

Mengurangi reflek yang membahayakan.

1. Obat Premedikasi

a. Midazolam

Midazolam adalah obat induksi tidur jangka pendek untuk premedikasi,

induksi dan pemeliharaan anestesi. Midazolam merupakan suatu golongan

imidazo-benzodiazepin dengan sifat yang sangat mirip dengan golongan

benzodiazepine. Dibandingkan dengan diazepam, midazolam bekerja cepat

karena transformasi metabolitnya cepat dan lama kerjanya singkat. Pada pasien

orang tua dengan perubahan organik otak atau gangguan fungsi jantung dan

pernafasan, dosis harus ditentukan secara hati-hati. Efek obat timbul dalam 2

menit setelah penyuntikan.

12

Page 13: Aff Orif - General Anestesia (Ralat Final)

Dosis premedikasi dewasa 0,07-0,10 mg/kgBB, disesuaikan dengan

umur dan keadaan pasien. Dosis lazim adalah 5 mg. Pada orang tua dan pasien

lemah dosisnya 0,025-0,05 mg/kgBB.

Efek sampingnya terjadi perubahan tekanan darah arteri, denyut nadi

dan pernafasan, umumnya hanya sedikit.

b. Fentanil

Fentanil merupakan salah satu preparat golongan analgesik opioid dan

termasuk dalam opioid potensi tinggi dengan dosis 100-150 mcg/kgBB,

termasuk sufentanil (0,25-0,5 mcg/kgBB). Bahkan sekarang ini telah

ditemukan remifentanil, suatu opioid yang poten dan sangat cepat onsetnya,

telah digunakan untuk meminimalkan depresi pernapasan residual. Opioid

dosis tinggi yang deberikan selama operasi dapat menyebabkan kekakuan

dinding dada dan larynx, dengan demikian dapat mengganggu ventilasi secara

akut, sebagaimana meningkatnya kebutuhan opioid potoperasi berhubungan

dengan perkembangan toleransi akut. Maka dari itu, dosis fentanyl dan

sufentanil yang lebih rendah telah digunakan sebagai premedikasi dan sebagai

suatu tambahan baik dalam anestesi inhalasi maupun intravena untuk

memberikan efek analgesi perioperatif.

Sebagai analgesik, potensinya diperkirakan 80 kali morfin. Lamanya

efek depresi nafas fentanil lebih pendek dibanding meperidin. Efek euphoria

dan analgetik fentanil diantagonis oleh antagonis opioid, tetapi secara tidak

bermakna diperpanjang masanya atau diperkuat oleh droperidol, yaitu suatu

neuroleptik yang biasanya digunakan bersama sebagai anestesi IV. Dosis tinggi

fentanil menimbulkan kekakuan yang jelas pada otot lurik, yang mungkin

disebabkan oleh efek opioid pada tranmisi dopaminergik di striatum. Efek ini

di antagonis oleh nalokson. Fentanyl biasanya digunakan hanya untuk anestesi,

meski juga dapat digunakan sebagai anelgesi pasca operasi. Obat ini tersedia

dalam bentuk larutan untuk suntik dan tersedia pula dalam bentuk kombinasi

tetap dengan droperidol. Fentanyl dan droperidol (suatu butypherone yang

berkaitan dengan haloperidol) diberikan bersama-sama untuk menimbulkan

analgesia dan amnesia dan dikombinasikan dengan nitrogen oksida

memberikan suatu efek yang disebut sebagai neurolepanestesia.

13

Page 14: Aff Orif - General Anestesia (Ralat Final)

c. Ketorolac

Ketorolac dapat diberikan secara oral, intramuscular atau intravena.

Tidak dianjurkan untuk intratekal atau epidural. Setelah suntikan intramuscular

atau intravena efek analgesinya dicapai dalam 30 menit, maksimal setelah 1-2

jam dengan lama kerja sekitar 4-6 jam dan penggunannya dibatasi untuk 5 hari.

Dosis awal 10-30 mg dan dapat diulang setiap 4-6 jam dan

penggunannya sesuai kebutuhan. Untuk pasien normal dosis sehari dibatasi

maksimal 90 mg dan untuk berat < 50kg, manula atau gangguan faal ginjal

dibatasi maksimal 60 mg. sifat analgetik ketorolac setara dengan opioid, yaitu

30 mg ketorolac = 12 mg morfin = 100 mg petidin, sedangkan sifat antipiretik

dan antiinflamasinya rendah. Ketorolac dapat digunakan secara bersamaan

dengan opioid.Cara kerja ketorolac adalah menghambat sintesis prostaglandin

di perifir tanpa menggangu reseptor opioid di sistema saraf pusat. Tidak

dianjurkan digunakan untuk wanita hamil, menghilangkan nyeri

persalinan,wanita sedang menyusui, usia lanjut, anal usia < 4 tahun, gangguan

perdarahan.

d. Ondansentrone

Merupakan suatu antagonis 5-HT3 yang sangat efektif yang dapat

menekan mual dan muntah karena sitostatika misalnya cisplatin dan radiasi.

Ondansetron mempercepat pengosongan lambung, bila kecepatan pengosongan

basal rendah. Tetapi waktu transit saluran cerna memanjang sehingga dapat

terjadi konstipasi. Ondansetron dieliminasi dengan cepat dari tubuh.

Metabolisme obat ini terutama secara hidroksilasi dan konjugasi dengan

glukonida atau sulfat dalam hati.5 Dosis ondansentron yang biasanya diberikan

untuk premedikasi antara 4-8 mg/kgBB. Dalam suatu penelitian kombinasi

antara Granisetron dosis kecil yang diberikan sesaat sebelum ekstubasi trakhea

ditambah Dexamethasone yang diberikan saat induksi anestesi merupakan

suatu alternatif dalam mencegah muntah selama 0-2 jam setelah ekstubasi

trakhea daripada ondansetron dan dexamethasone.

2. Obat Induksi

Profofol

14

Page 15: Aff Orif - General Anestesia (Ralat Final)

Propofol adalah obat anestesi intravena yang bekerja cepat dengan

karakter recovery anestesi yang cepat tanpa rasa pusing dan mual-mual.

Profofol merupakan cairan emulsi minyak-air yang berwarna putih yang

bersifat isotonik dengan kepekatan 1% (1ml=10 mg) dan mudah larut dalam

lemak. Profopol menghambat transmisi neuron yang dihantarkan oleh

GABA. Propofol adalah obatanestesi umum yang bekerja cepat yang efek

kerjanya dicapai dalam waktu 30 detik.

Dosis induksi 1-2 mg/kgBB. Dosis rumatan 500ug/kgBB/menit

infuse. Dosis sedasi 25-100ug/kgBB/menit infuse. Pada pasien yang

berumur diatas 55 tahun dosis untuk induksi maupun maintanance anestesi

itu lebih kecil dari dosis yang diberikan untuk pasien dewasa menyebabkan

depolarisasi, hanya menghalangi asetilkolin menempatinya, sehingga

asetilkolin tidak dapat bekerja.

Dosis awal 0,5-0,6 mg/kgBB, dosis rumatan 0,1 mg/kgBB, durasinya

selama 20-45 menit dan dapat meningkat menjadi 2 kali lipat pada suhu 250

C, kecepatan efek kerjanya 1-2 menit.

Penawar pelumpuh otot atau antikolinesterase bekerja pada

sambungan saraf-otot mencegah asetilkolin-esterase bekerja, sehingga

asetilkolin dapat bekerja. Antikolinesterase yang paling sring digunakan

ialah neostigmin dengan dosis (0,04-0,08 mg/kgBB) atau obat

antikolinergik lainnya. Penawar pelumpuh otot bersifat muskarinik

menyebabkan hipersalivasi, keringatan, bradikardia, kejang bronkus,

hipermotilitas usus dan pandangan kabur, sehingga pemberiannya harus

disertai obat vagolitik seperti atropin dosis 0,01-0,02 mg/kgBB atau

glikopirolat 0,005-0,01 mg/kgBB sampai 0,2-0,3 mg/kgBB pada dewasa.

3. Maintanance

a. N2O

N2O (gas gelak, laughling gas, nitrous oxide, dinitrogen monoksida)

diperoleh dengan memanaskan ammonium nitrat sampai 240°C (NH4 NO3

2H2O + N2O) N2O dalam ruangan berbentuk gas tak berwarna, bau manis,

tak iritasi, tak terbakar, dan beratnya 1,5 kali berat udara. Pemberian anestesi

15

Page 16: Aff Orif - General Anestesia (Ralat Final)

dengan N2O harus disertai O2 minimal 25%. Gas ini bersifat anestesik lemah,

tetapi analgesinya kuat, sehingga sering digunakan untuk mengurangi nyeri

menjelang persalinan. Pada anestesi inhalasi jarang digunakan sendirian,

tetapi dikombinasi dengan salah satu anestesi lain seperti halotan dan

sebaagainya. Pada akhir anestesi setelah N2O dihentikan, maka N2O akan

cepat keluar mengisi alveoli, sehingga terjadi pengenceran O2 dan terjadilah

hipoksia difusi. Untuk menghindari terjadinya hipoksia difusi, berikan O2

100% selama 5-10 menit. Penggunaan dalamane stesi umumnya dipakai

dalam kombinasi N2O : O2 yaitu 60% : 40%, 70% : 30%. Dosis untuk

mendapatkan efek analgesik digunakan dengan perbandingan 20% : 80%,

untuk induksi 80% : 20%, dan pemeliharaan 70% : 30%. N2O sangat

berbahaya bila digunakan pada pasien pneumothorak, pneumomediastinum,

obstruksi, emboli udara dan timpanoplasti.

b. Sevoflurane

Sevofluran (ultane) merupakan halogenasi eter. Induksi dan pulih dari

anestesi lebih cepat dibandingkan dengan isofluran. Baunya tidak menyengat

dan tidak merangsang jalan napas, sehingga digemari untuk induksi anestesi

inhalasi disamping halotan. Efek terhadap kardiovaskuler cukup stabil, jarang

menyebabkan aritmia. Efek terhadap sistem saraf pusat seperti isofluran dan

belum ada laporan toksik terhadap hepar. Setelah pemberian dihentikan

sevofluran cepat dikeluarkan oleh badan. Walaupun dirusak oleh kapur soda

(soda lime, baralime), tetapi belum ada laporan membahayakan terhadap

tubuh manusia.

16

Page 17: Aff Orif - General Anestesia (Ralat Final)

BAB III

PEMBAHASAN

Diagnosis Post op ORIF radius sinistra didapatkan dari anamnesis, catatan

rekam medic pasien dan hasil pemeriksaan penunjang untuk mengetahui keadaan

umum pasien dan memastikan apakah operasi penyambungan tulang radius dan

ulna telah layak untuk dilepas atau tidak

Status fisik pada pasien ini dimasukkan ke dalam ASA I (pasien dengan

kelainan sistemik ringan yang tidak berhubungan dengan pembedahan, dan pasien

masih dapat melakukan aktivitas sehari-hari). Teknik general anestesi inhalasi

pada pasien ini dilakukan atas pertimbangan lama waktu operasi yang relatif lama,

yaitu sekitar 1 jam.

Pada pasien ini diberikan premedikasi berupa midazolam 3 mg (0,05-0,1

mg/kgBB) intravena. Selanjutnya dilakukan tindakan preoksigenasi dengan

Oksigen masker 4 liter/menit. Induksi anestesia dilakukan dengan pemberian

propofol 100 mg (2 – 2,5 mg/kgBB) (intravena), yang segera setelah itu dilakukan

pemasangan LMA no.3. Untuk maintenance selama operasi berlangsung diberikan

N2O 50%, O2 50%, dan Sevoflurane 2 vol % dengan cara inhalasi dengan mesin

anestesia. Selama operasi berlangsung, dilakukan monitoring perioperasi untuk

membantu ahli anestesi mendapatkan informasi fungsi organ vital selama

perioperasi, supaya dapat bekerja dengan aman. Monitoring secara elektronik

membantu ahli anestesi mengadakan observasi pasien lebih efisien secara terus

menerus. Selama operasi berlangsung juga tetap diberikan cairan intravena RL.

Setelah operasi selesai, dilakukan tindakan suction dan reoksigenasi dengan

Oksigen 2-3 liter/menit.

Pasien dipindah ke ruang pemulihan dan dilakukan observasi sesuai skor

Aldrete. Bila pasien tenang dan Aldrete Score ≥ 8 dan tanpa nilai 0, pasien dapat

dipindahkan ke bangsal. Pada kasus ini Aldrete Score-nya yaitu kesadaran 1

(merespon bila nama dipanggil), aktivitas motorik 1 (dua ekstremitas dapat

digerakkan), pernapasan 2 (bernapas tanpa hambatan), sirkulasi 2 (tekanan darah

dalam kisaran <20% sebelum operasi), dan warna kulit 2 (merah muda). Jadi

Aldrete Score pada pasien ini adalah 8 sehingga layak untuk pindah ke bangsal. 

17

Page 18: Aff Orif - General Anestesia (Ralat Final)

BAB IV

KESIMPULAN

Seorang wanita, 44 tahun, denga post op ORIF radius et ulna sinistra

direncanakan operasi aff ORIF dengan teknik general anestesi inhalasi dengan

pemasangan LMA (no.3) nafas spontan bantu, dan pemeriksaan status preoperatif

pasien ASA I.

18