50834302 tugas akhir akpem ok

Download 50834302 Tugas Akhir Akpem Ok

Post on 16-Nov-2015

214 views

Category:

Documents

0 download

Embed Size (px)

DESCRIPTION

fdfdsf df dsff

TRANSCRIPT

  • PENERAPAN SISTEM PENGENDALIAN INTERN PEMERINTAHPADA RSUD TUGUREJO SEMARANG

    LATAR BELAKANG

    Pada tanggal 28 Agustus 2008 telah dimulai babak baru pembaruan pengelolaan organisasi di instansi pemerintah dengan telah diundangkannya Peraturan Pemerintah No. 60 Tahun 2008 tentang Sistem Pengendalian Intern Pemerintah (SPIP) yang merupakan turunan Undang-Undang No. 1 Tahun 2004 tentang Perbendaharaan Negara, di mana dalam Undang-undang tersebut pasal 58 ayat (1) dan (2) dinyatakan bahwa dalam rangka meningkatkan kinerja, transparansi, dan akuntabilitas pengelolaan keuangan negara, Presiden selaku kepala pemerintahan mengatur dan menyelenggarakan sistem pengendalian intern di lingkungan pemerintahan secara menyeluruh, yang ditetapkan dengan peraturan pemerintah. Selanjutnya juga dalam Peraturan Pemerintah Nomor 8 Tahun 2006 dijelaskan bahwa untuk meningkatkan keandalan laporan keuangan dan kinerja, setiap entitas pelaporan akuntansi wajib menyelenggarakan sistem pengendalian internal sesuai dengan ketentuan dan peraturan perundang-undangan yang terkait.

    Dalam penjelasan umum PP 60 Tahun 2008, dinyatakan bahwa Undang-undang di bidang keuangan negara membawa implikasi perlunya sistem pengelolaan keuangan negara yang lebih akuntabel dan transparan. Hal ini baru dapat dicapai jika seluruh tingkat pimpinan menyelenggarakan kegiatan pengendalian atas keseluruhan kegiatan di instansi masing-masing. Dengan demikian maka penyelenggaraan kegiatan pada suatu Instansi Pemerintah, mulai dari perencanaan, pelaksanaan, pengawasan, sampai dengan pertanggungjawaban, harus dilaksanakan secara tertib, terkendali, serta efisien dan efektif. Untuk itu dibutuhkan suatu sistem yang dapat memberi keyakinan memadai bahwa penyelenggaraan kegiatan pada suatu Instansi Pemerintah dapat mencapai tujuannya secara efisien dan efektif, melaporkan pengelolaan keuangan negara secara andal, mengamankan aset negara, dan mendorong ketaatan terhadap peraturan perundang-undangan. Sistem ini dikenal sebagai Sistem Pengendalian Intern yang dalam penerapannya harus memperhatikan rasa keadilan dan kepatutan serta mempertimbangkan ukuran, kompleksitas, dan sifat dari tugas dan fungsi Instansi Pemerintah tersebut.

  • Salah satu tujuan utama dari SPIP adalah melaporkan pengelolaan keuangan negara secara andal, bebas dari segala bentuk kecurangan dan salah saji berdasarkan sistem dan prosedur yang dapat dipertanggungjawabkan. Karena dari pelaporan pengelolaan keuangan (baik laporan keuangan maupun laporan kinerja) tersebutlah dapat dilihat tingkat keberhasilan dan semua tujuan dari SPIP.

    Hasil evaluasi kinerja atas Pola Pengelolaan Keuangan Badan Layanan Umum Daerah (PPK BLUD) RSUD Tugurejo Semarang tahun buku 2009 yang penulis lakukan dengan tim, menunjukkan permasalahan utama adalah validitas data yang menjadi sumber penyusunan Laporan Keuangan maupun Laporan Kinerja. Dari hasil evaluasi diketahui data-data sumber penyusunan laporan yang dihasilkan manajemen diragukan kevalidannya, karena berbeda-beda pada setiap tingkatan/bidang yang menjadi sumber data tersebut. Hal tersebut menurut penulis erat kaitannya dengan penerapan SPIP pada RSUD Tugurejo Semarang yang belum mengacu pada PP 60 Tahun 2008, sebagaimana hasil pemetaan SPIP yang dilakukan.

    Makanya atas permasalahan di atas, penulis coba menguraikan hasil pemetaan/diagnostic assesment SPIP pada RSUD Tugurejo Semarang terkait dengan hal-hal yang menjadi permasalahan dalam evaluasi kinerja tersebut. Hasil pemetaan tersebut telah dibahas oleh tim dengan pihak RSUD Tugurejo Semarang dan telah disepakati untuk melakukan perbaikan-perbaikan.

    PERMASALAHAN

    Dari laporan audit BPK atas LKPP maupun LKPD terlihat bahwa selama ini BPK dalam melakukan pengujian dan penilaian efektivitas SPIP secara konseptual mendasarkan pada framework SPI berbasis COSO yang terdiri dari lima komponen utama yaitu: lingkungan pengendalian, penilaian risiko, aktivitas pengendalian, informasi dan komunikasi, serta monitoring.

    Berdasarkan hasil survei Tim Pengembangan SPIP pada Deputi Pengawasan Instansi Pemerintah Bidang Perekonomian BPKP di beberapa Departemen/Kementerian dan LPND, diketahui belum ada satu Departemen/Kementerian/LPND pun yang menetapkan SPIP yang berlaku di instansinya secara formal. Namun, mereka menyatakan untuk mewujudkan penyelenggaraan pemerintahan yang efektif, mereka melaksanakan pengawasan melekat yang diatur dalam Instruksi Presiden No. 15 Tahun 1983 tentang Pedoman Pelaksanaan Pengawasan dan Instruksi Presiden No. 1 Tahun

  • 1989 tentang Pedoman Pelaksanaan Pengawasan Melekat, yang telah disempurnakan melalui Keputusan Menteri PAN No. 30 Tahun 1994 tentang petunjuk Pelaksanaan Pengawasan Melekat yang diperbaharui dengan Keputusan Menteri PAN No. KEP/46/M.PAN/2004. Terminologi pengawasan melekat (waskat) dalam aturan tersebut disepadankan dengan pengendalian manajemen atau pengendalian intern. Unsur-unsur pengawasan melekat yang dimaksud adalah: pengorganisasian, personil, kebijakan, perencanaan, prosedur, pencatatan, pelaporan, supervisi dan reviu intern.

    Namun demikian penerapan SPIP yang mengacu pada Internal Control versi COSO bukanlah suatu pekerjaan yang mudah. Dari pengamatan tampak bahwa masih banyak tantangan yang harus dihadapi baik dalam membangun hard control, maupun soft control yang memadai. Saat ini, pengembangan hard control SPIP banyak yang masih sebatas formalitas belaka. Salah satu contoh adalah penerapan manajemen kinerja di sektor publik. Pengembangan manajemen kinerja yang dirintis melalui Inpres Nomor 7 Tahun 1999 masih menemui banyak kendala. Walaupun saat ini sudah banyak instansi pemerintah yang mampu menyusun LAKIP, namun belum dimanfaatkan sebagai alat dalam pengukuran kinerja dan perbaikan kebijakan publik.

    Selain itu keterbatasan SDM juga menjadi hambatan yang cukup berpengaruh. Salah satu contoh adalah saat ini terdapat kurang lebih 21.700 satuan kerja yang membutuhkan tenaga akuntansi agar dapat menyusun Laporan Keuangan. Hal ini menjadi masalah karena pemerintah membutuhkan waktu yang cukup lama untuk memenuhi kebutuhan tersebut. Demikian juga pada aspek lain seperti pengembangan sistem informasi yang handal membutuhkan SDM di bidang Information and Comunication Technology yang cukup besar.

    Sampai saat inipun, sebagai peraturan yang relatif tergolong baru, SPIP sebagaimana PP 60 tahun 2008 tersebut masih belum tersosialisasikan dengan baik ke seluruh satuan kerja pemerintah, baik pusat maupun daerah. Hal tersebut juga penulis temui ketika melakukan evaluasi kinerja pada RSUD Tugurejo Semarang atas tahun buku 2009, saat melakukan penelaahan SPIP sebagai salah satu bagian yang mendasari penilaian kinerja. Penulis dengan anggota tim sebelum menilai penerapan unsur-unsur SPIP, didahului dengan melakukan pemetaan terhadap pemahaman PP 60 tahun 2008 tentang SPIP tersebut, karena hanya bagian SPI saja yang pernah mendapatkan sosialisasi. Laporan-laporan yang dihasilkan oleh RSUD Tugurejo Semarang belum andal,

  • karena tidak didukung dengan data yang valid, yang salah satu penyebabnya menurut penulis adalah lemahnya SPIP pada RSUD Tugurejo Semarang. Permasalahan yang penulis temukan pada saat evaluasi kinerja tersebut, antara lain: Keandalan sistem informasi

    Berdasarkan evaluasi terhadap keberadaan SIM RSUD Tugurejo Semarang, sejak tahun 2003, pada dasarnya RSUD Tugurejo Semarang telah memiliki dan mengembangkan SIM-RS terkait kegiatan operasional yang meliputi: sistem operasi rekam medik, billing system, jasa pelayanan dan kinerja. RSUD belum memiliki SIM-RS terkait sistem informasi akuntansi (masih manual).Dalam implementasinya, proses input data medis dan non medis di setiap bagian/instalasi terkait belum dapat dilakukan dengan konsisten. Terkait data medik khususnya di Instalasi Rawat Jalan dan Instalasi Penunjang (Radiologi, Laboratorium), SIM-RS masih terbatas menginformasikan jumlah kunjungan pasien berdasarkan registrasi/pendaftaran dan belum memuat validasi jumlah riil kunjungan pasien yang dilakukan tindakan. Di samping itu, proses rekonsiliasi data terkait data SIM-RS belum dilakukan dengan tertib oleh masing-masing bagian/instalasi.Hal ini antara lain disebabkan:

    Masih terbatasnya jumlah SDM/administratur yang menangani SIM-RS. Belum optimalnya aplikasi SIM-RS sebagai media untuk merekam semua

    data transaksi/kegiatan rumah sakit. Kurangnya koordinasi antar bagian/instalasi dalam menginput data dan

    proses rekonsiliasi dengan tertib dan konsisten.Kondisi tersebut mengakibatkan informasi yang dihasilkan oleh SIM-RS belum akurat dan masih berbeda dengan data riil di masing-masing bagian/instalasi sehingga SIM-RS belum dapat digunakan sebagai basis pengambilan keputusan oleh manajemen.

    Ketaatan Terhadap Peraturan Berdasarkan hasil evaluasi kinerja RSUD Tugurejo Semarang tahun 2009, diketahui bahwa penyusunan RSB, RBA, Laporan Keuangan dan Laporan Kinerja tahun 2009 belum sesuai dengan pedoman yang berlaku, dengan uraian sebagai berikut:a. RSB/RBA

  • RSB/RBA yang disusun belum memuat informasi mengenai target/rencana pencapaian indikator-indikator yang telah ditetapkan pada SPM, pedoman penyusunan RBA, dan indikator penting lainnya.

    RSB/RBA kurang dikomunikasikan/disosialisasikan kepada masing-masing bidang/bagian terkait, yang antara lain ditandai dengan masih terjadinya perbedaan penyajian target/rencana utilitas dalam laporan keg