45074422 Proposal Susi Susanti

Download 45074422 Proposal Susi Susanti

Post on 05-Jul-2015

9.966 views

Category:

Documents

7 download

Embed Size (px)

TRANSCRIPT

<p>1</p> <p>BAB I PENDAHULUHAN</p> <p>1.1 Latar Belakang Salah satu permasalahan yang selalu dihadapi di kota-kota besar adalah masalah lalu lintas. Hal ini terbukti dari adanya indikasi angka-angka kecelakaan lalu lintas yang selalu meningkat. Keadaan ini merupakan salah satu perwujudan dari perkembangan teknologi modern. Perkembangan lalulintas itu sendiri dapat memberi pengaruh, baik yang bersifat negative maupun yang bersifat positif bagi kehidupan masyarakat. Sebagaimana diketahui sejumlah kendaraan yang beredar dari tahun ke tahun semakin meningkat. Hal ini nampak juga membawa pengaruh terhadap keamanan lalu lintas yang semakin sering terjadi, pelanggaran lalu lintas yang menimbulkan kecelakaan lalu lintas dan kemacetan lalu lintas. Kecelakaan lalu lintas disebabkan oleh banyak faktor tidak sekedar oleh pengemudi kendaraan yang buruk, pejalan kaki yang kurang hati-hati, kerusakan kendaraan, rancangan kendaraan cacat pengemudi, rancangan jalan, dan kurang mematuhinya rambu-rambu lalu lintas ( Suwardjoko : 2005 :135) Lalu lintas dan pemakai jalan memiliki peranan yang sangat penting dan strategis sehingga penyelenggaraannya dikuasai oleh negara dan</p> <p>pembinaannya dilakukan oleh pemerintah dengan tujuan untuk mewujudkan lalu lintas dan pengguna jalan yang selamat, aman, cepat, lancar, tertib, dan teratur. Pembinaan di bidang lalu lintas jalan yang meliputi aspek pengaturan,</p> <p>2</p> <p>pengendalian, dan pengawasan lalu lintas harus ditujukan untuk keselamatan, keamanan, ketertiban, kelancaran lalu lintas jalan. Dalam rangka pembinaan lalu lintas jalan, sebagaimana tersebut di atas, diperlukan penetapan suatu aturan umum yang bersifat seragam dan berlaku secara nasional serta dengan mengingat ketentuan lalu lintas yang berlaku secara internasional. Salah satu permasalahan yang selalu dihadapi di kota-kota besar adalah masalah lalu lintas. Hal ini terbukti dari adanya indikasi angka kecelakaan lalu lintas yang selalu meningkat. Dewasa ini, perkembangan lalu lintas yang semakin meningkat sangat pesat, keadaan ini merupakan salah satu perwujudan dari perkembangan teknologi modern. Perkembangan lalu lintas itu sendiri dapat memberi pengaruh baik yang bersifat positif maupun bersifat negatif. Faktor penyebab timbulnya permasalahan dalam lalu lintas adalah manusia sebagai pemakai jalan, jumlah kendaraan, keadaan kendaraan, dan juga kondisi rambu-rambu lalu lintas, merupakan faktor penyebab timbulnya kecelakaan dan pelanggaran berlalu lintas (Ramdlon naming : 1983 : 23) Permasalahan-permasalahan yang muncul tidak hanya menyangkut satu segi saja, tapi membawa pengaruh pada segi sosial, ekonomi seperti pendapat Ramdlon Naning yang menyatakan ada dua pengaruh yang sosial dalam masyarakat, yaitu : 1. Satu pihak a. Terdapat penambahan penduduk.</p> <p>3</p> <p>b. Kenaikan taraf hidup rakyat, bahwa dalam hal ini kemungkinan rakyat untuk memiliki kendaraan motor pribadi atau pertambahan kebutuhan sarana Lalu Lintas, akan membawa akibat mobilitas peningkatan manusia hingga menimbulkan peningkatan frekuensi dan volume Lalu Lintas di Jalan Raya. 2. Dipihak Lain Masih ada keterbatasan sarana dan prasarana serta peralatan Lalu Lintas yang ada, dibanding dengan kemajuan dan perkembangan masyarakat. Dalam penulisan skripsi ini, ruang lingkup pembahasan yang mengenai pelanggaran terhadap fungsi Marka Jalan diadakan pembatasan. Pembahasan mengenai materi hukumnya difokuskan pada pasal 19, peraturan pemerintah No. 43 tahun 1993 tentang prasarana dan Lalu Lintas jalan. Dalam pasal 19 ayat (1) diatur Marka Jalan berfungsi untuk mengatur Lalu Lintas Jalan atau memperingatkan serta menuntun pemakai Jalan dalam berlalu lintas di jalan. Pasal 19 ayat 1, peraturan pemerintah No 43 tahun 1993 tentang prasarana dan lalulintas, jalan Marka Jalan adalah suatu tanda yang berada dipermukaan jalan atau di atas permukaan jalan yang meliputi peralatan atau tanda yang membentuk garis pembujur, garis melintang, garis serong, serta lambang lainnya yang berfungsi untuk mengarahkan atau menuntun pemakai jalan dalam berlalu lintas dijalan. Pada hakikatnya kecelakaan atau pelanggaran lalu lintas yang sering terjadi dapat dikatakan bahwa kesalahan terletak pada pemakai jalan yang</p> <p>4</p> <p>mana tidak mentaati dan mematuhi fungsi dari Marka Jalan. Latar belakang terjadinya pelanggaran terhadap Marka Jalan adalah adanya tingkat pendidikan yang heterogen atau tingkat pendidikan yang masih rendah, meskipun tidak dapat dipakai tolak ukur. Dengan tingkat pendidikan maka manusia cukup lemah dan tidak dapat menghayati makna dari peraturan lalu lintas serta norma-norma yang berlaku didalam masyarakat tertentu. Pendidikan yang dimaksud di atas, berupa pendidikan formal dan pendidikan non normal. Apabila pendidikan formal yang memiliki oleh seseorang itu rendah maka untuk memahami pendidikan non formal juga rendah. Latar belakang lain yang mengakibatkan pelanggaran lalu lintas adalah masih adanya sikap masa bodoh atau acuh terhadap Undang-Undang mengenai Marka Jalan. Berdasarkan uraian yang telah di atas, maka saya selaku penulis tertarik untuk menyusun proposal skripsi sebagai penulisan tugas akhir ini dengan judul PERANAN KEPOLISIAN DALAM MENINDAK</p> <p>PELANGGARAN</p> <p>MARKA</p> <p>JALAN</p> <p>LALU</p> <p>LINTAS</p> <p>DI</p> <p>WILAYAH POLRES KOLAKA1.2. Rumusan Masalah Untuk menghindari atau mencegah timbulnya suatu pelanggaran atau kecelakaan lalu lintas, maka dari uraian latar belakang di atas, peneliti ingin merumuskan suatu permasalahan antara lain sebagai berikut: 1. Bagaimanakah Peran kepolisian dalam menindak pelanggaran</p> <p>Marka Jalan lalu lintas di jalan raya?</p> <p>5</p> <p>2.</p> <p>Faktor-faktor apakah yang menyebabkan terjadinya</p> <p>pelanggaran</p> <p>Marka Jalan lalu lintas ? 3.1. Tujuan dan Kegunaan Penelitian Berdasarkan rumusan permasalahan yang telah disebutkan di atas, maka penulisan penelitian ini mempunyai tujuan dan kegunaan penelitian sebagai berikut: Tujuan Penelitian: a) Ingin mengetahui peran kepolisian dalam melakukan penindakan</p> <p>pelanggaran lalu lintas khususnya penyalahgunaan fungsi Marka Jalan. b) Ingin mengetahui faktor-faktor yang menyebabkan pengemudi atau pemakai jalan melakukan pelanggaran lalu lintas khususnya</p> <p>penyalahgunaan fungsi dari Marka Jalan. Kegunaan Penelitian: 1. Penelitian ini diharapkan bisa dijadikan sebagai tambahan pemikiran atau referensi bagi ilmu pengetahuan di bidang hukum khususnya yang berkaitan dengan ketertiban lalu lintas di jalan raya. 2. Penelitian ini diharapkan dapat dijadikan sebagai bahan masukan dan arahan bagi praktisi hukum di dalam membuat kebijakan dan penegakan hukum terhadap pelanggaran lalu lintas khususnya pelanggaran terhadap marka jalan yang terjadi di wilayah Polres Kolaka 3. Penelitian ini diharapkan dapat dijadikan sebagai dasar pemahaman masyarakat pada umumnya dan bagi si pemakai jalan pada khususnya</p> <p>6</p> <p>tentang arti dan fungsi dari marka jalan agar ketertiban lalu lintas di jalan raya bisa terkendali.</p> <p>7</p> <p>BAB II TINJAUAN PUSTAKA</p> <p>2.1 Pengertian Lalu Lintas dan Pelanggaran Lalu Lintas Menyadari peranan transportasi, maka lalu lintas ditata dalam sistem transportasi Nasional secara terpadu dan mampu mewujudkan tersedianya jasa transportasi yang serasi dengan tingkat kebutuhan lalu lintas yang tertib, selamat, aman, nyaman, cepat, teratur, lancar, dan dengan biaya yang terjangkau oleh masyarakat. Lalu lintas yang mempunyai karakteristik dan keunggulan tcrsendiri perlu dikembangkan dan dimanfaatkan sehingga mampu menjangkau seluruh Wilayah pelosok daratan dengan mobilitas tinggi dan mampu memadukan modal transportasi lain Pengembangan lalu lintas yang ditata dalam kcsatuan sistem dilakukan dengan mengintegrasikan dan mendominasikan unsurnya yang terdiri dari jaringan transportasi jalan kendaraan beserta pengemudinya, peraturan-peraturan dan metode sedemikian rupa sehingga terwujud suatu totalitas yang utuh dan berdayaguna dan bcrhasil. Pelanggaran lalu lintas dan angkutan jalan perlu diselenggarakan secara berkesinambungan dan terus ditingkatkan agar lebih luas daya jangkau dan pelayanan kepada masyarakat dengan memperhatikan sebesar-besarnya kepentingan umum dan kemampuan masyarakat, kelestarian lingkungan, koordinasi antara wewenang pusat, dan daerah serta unsur instansi sektor, dan antar unsur terkait serta terciptanya</p> <p>8</p> <p>keamanan dan ketertiban masyarakat dalam penyelesaian lalu lintas dan angkutan jalan, sekaligus dalam rangka mewujudkan sistem transportasi nasional yang handal dan terpadu. Untuk memahami pengertian lalu Lintas tersebut , penulis kemukakan beberapa pengertian lalu lintas baik menurut Undang-undang No .22 Tahun 2009 , maupun pendapat pakar hukum. Menurut pasal 1 angka 2 UndangUndang No.14 Tahun 1992 yang berbunyi gerak kendaraan dan orang di ruang lalu lintas jalan. Sedangkan menurut W.J.S.Poerwodarminto dalam kamus umum Bahasa Indonesia, bahwa lalu lintas adalah : 1. 2. 3. Perjalanan bolak-balik Perihal perjalanan di jalan dan sebagainya perhubungan antara sebuah tempat</p> <p>Menurut Muhammad Ali lalu Lintas adalah Berjalan, Bolak balik, perjalanan di jalan Sedangkan W.J.S. Poerwadarminta menulis yang dimaksud dengan lalu lintas adalah bolak-balik atau hilir mudik (berjalan). Ramdlon Naning juga menguraikan pengertian tentang lalu lintas adalah gerak pindah manusia dengan atau tampa alat pengerak dari satu tempat ketempat yang lainnya. . Ketertiban lalu lintas adalah salah satu perwujudan disiplin nasional yang merupakan cermin budaya bangsa karena itulah setiap insan wajib turut mewujudkannya (Pradya Paramita, : 1985 : 74). Telaah dan definisi dari definisi di atas dapat disimpulkan bahwa lalu lintas adalah setiap hal</p> <p>9</p> <p>yang ada kaitannya dalam menggunakan sarana jalan umum sebagai sarana utama untuk tujuan yang ingin dicapai. Subekti juga memberikan definisi tentang lalu lintas adalah sebagai berikut :segala penggunaan jalan umum dengan suatu pengangkutannya.. Dapat ditarik kesimpulan juga bahwa</p> <p>pengertian Lalu Lintas dalam arti luas adalah hubungan antar manusia dengan ataupun tanpa disertai alat penggerak dari satu tempat ke tempat lain dengan menggunakan jalan sebagai ruang geraknya. Seperti dipahami bahwa sebenarnya Seorang pengemudi kendaraan bermotor tidak menginginkan terjadinya gangguan kendaraan selama perjalanan. Apakah gangguan ringan, seperti mogok sampai gangguan yang terberat. Selain si pengemudi sendiri yang akan mengalami keterlambatan sampai ketujuan, gangguan tersebut dapat juga mengakibatkan timbulnya kemacetan, pelanggaran atau kemacetan lalu lintas. Tentang pengertian lalu lintas dalam kaitannya dengan lalu lintas jalan, Ramdlon Naning menegaskan bahwa apa yang dimaksud dengan pelanggaran lalu lintas jalan adalah "Perbuatan atau tindakan seseorang yang bertentangan dengan ketentuanketentuan peraturan perundang-undangan lalu lintas.</p> <p>Pelanggaran yang dimaksud tersebut adalah sebagaimana yang diatur dalam Pasal 106 Undang-Undang No.22 Tahun 2009 yang berbunyi : Setiap orang yang menggunakan Jalan wajib: a. berperilaku tertib; dan/atau</p> <p>10</p> <p>b. mencegah hal-hal yang dapat merintangi, membahayakan Keamanan dan Keselamatan Lalu Lintas dan Angkutan Jalan, atau yang dapat menimbulkan kerusakan Jalan. jika ketentuan tersebut dilanggar maka dikualifikasikannya sebagai salah satu pelanggaran yang terlibat dalam kecelakaan. Untuk memberikan penjelasan mengenai pengertian pelanggaran lalu lintas, maka perlu dijelaskan lebih dahulu mengenai pengertian pelanggaran itu sendiri. Dalam KUHP membagi tindak pidana atas kejahatan (misdrijve) dan pelanggaran (overtredingen). Mengenai kejahatan itu sendiri dalam KUHP diatur pada buku II yaitu tentang Kejahatan. Sedangkan pelanggaran diatur dalam buku III yaitu tentang Pelanggaran. Dalam ilmu pengetahuan hukum pidana terdapat dua pandangan mengenai kriteria pembagian tindak pidana, kejahatan dan pelanggaran, yaitu yang bersifat kualitatif dan yang bersifat kuantitatif. Menurut pandangan yang bersifat kualitatif. Artinya bahwa suatu perbuatan dipandang sebagai tindak pidana setelah adanya undang-undang yang mengatur sebagai tindak pidana. Sedangkan kejahatan bersifat recht delicten, artinya suatu perbuatan dipandang sebagai perbuatan yang bertentangan dengan keadilan, terlepas apakah perbuatan itu diancam pidana dalam suatu undang-undang atau tidak. Menurut pandangan yang bersifat kualitatif bahwa terhadap ancaman pidana pelanggaran lebih ringan daripada kejahatan. Menurut JM Van Bemmelen dalam bukunya Handen Leer Boek</p> <p>11</p> <p>Van Het Nederlandse Strafrecht yang dikutip Bambang Poernomo (2002 : 40) menyatakan bahwa: Perbedaan antara kedua golongan tindak pidana ini (kejahatan dan pelanggaran) tidak bersifat kualitatif, tetapi hanya kuantitatif, yaitu kejahatan pada umumnya diancam dengan hukuman lebih berat dari pada pelanggaran dan ini nampaknya didasarkan pada sifat lebih berat dari kejahatan. Apabila hal ini dihubungkan dengan kenyataan yang terjadi dalam praktek sehari-hari di mana pemberian sanksi terhadap pelaku pelanggaran ternyata memang pada umumnya lebih ringan daripada sanksi pelaku kejahatan. KUHP tidak memberikan pengertian atau definisi tentang kejahatan maupun pelanggaran. Untuk menguraikan tentang pengertian pelanggaran, maka dikemukakan beberapa pendapat sarjana hukum. Di antaranya adalah Wirjono Prodjodikoro yang menyatakan bahwa</p> <p>overtredingen atau pelanggaran berarti suatu perbuatan yang melanggra sesuatu dan berhubungan dengan hukum, berarti tidak lain daripada perbuatan melanggar hukum. Menurut Bambang Poernomo ( 2002 : 46) bahwa : Pelanggaran adalah politis-on recht dan kejahatan adalah crimineel-on recht. Politis-on recht itu merupakan perbuatan yang tidak mentaati larangan atau keharusan yang ditentukan oleh penguasa negara. Crimineel-on recht itu merupakan perbuatan yang bertentangan dengan hukum. Dari beberapa pengertian pelanggaran tersebut di atas dapat disimpulkan bahwa unsur-unsur pelanggaran adalah sebagai berikut: a.Adanya perbuatan yang bertentangan dengan undang-undang.</p> <p>12</p> <p>b.</p> <p>Menimbulkan akibat hukum. Jadi harus mempertanggungjawabkan</p> <p>atas perbuatan tersebut. Dengan berpedoman pengertian-pengertian tersebut diatas, maka yang dimaksud dengan pelanggaran lalu lintas adalah perbuatan atau tindakan seseorang yang bertentangan dengan ketentuan peraturan perundang-undangan lalu lintas dan angkutan jalan atau peraturan perundang-undangan lainnya. Syarat-syarat yang harus dipenuhi bagi seseorang pengemudi menurut pasal 106 UU No.22 Tahun 2009 adalah: (1) Setiap orang yang mengemudikan Kendaraan Bermotor di Jalan wajib mengemudikan kendaraannya dengan wajar dan penuh konsentrasi. (2) Setiap orang yang mengemudikan Kendaraan Bermotor di Jalan wajib mengutamakan keselamatan Pejalan Kaki dan pesepeda. (3) Setiap orang yang mengemudikan Kendaraan Bermotor di Jalan wajib mematuhi ketentuan tentang persyaratan teknis dan laik jalan. (4) Setiap orang yang mengemudikan Kendaraan Bermotor di Jalan wajib mematuhi ketentuan: a. rambu perintah atau rambu larangan; b. Marka Jalan; c. Alat Pemberi Isyarat Lalu Lintas; d...</p>