2.1 karakteristik tanaman cabai besar 2017. 4. 1.¢  2.1 karakteristik tanaman cabai besar...

Download 2.1 Karakteristik Tanaman Cabai Besar 2017. 4. 1.¢  2.1 Karakteristik Tanaman Cabai Besar Tanaman cabai

Post on 11-Dec-2020

3 views

Category:

Documents

0 download

Embed Size (px)

TRANSCRIPT

  • 9

    II. TINJAUAN PUSTAKA

    2.1 Karakteristik Tanaman Cabai Besar

    Tanaman cabai besar (Capsicum annuum L.) merupakan tanaman perdu

    semusim yang tergolong ke dalam suku terong-terongan. Tanaman ini berasal dari

    Amerika tropis seperti Meksiko dan Brazil kemudian menyebar ke berbagai

    negara tropis lainnya termasuk Indonesia. Cabai besar dapat tumbuh antara 1 m

    s.d. 1,25 m dengan panjang daun mencapai 12 cm dengan lebar antara satu

    centimeter sampai lima centimeter. Bunga tanaman menyerupai terompet

    berbentuk bintang dengan warna putih yang keluar dari ketiak daun. Buahnya

    berbentuk kerucut memanjang dengan permukaan mengkilap dan panjang buah

    mincapai hingga 17 cm. Buah yang masih muda berwarna hijau kemudian setelah

    matang akan berubah menjadi merah cerah. Menurut Rahmat (1994 dalam

    Triwidiyaningsih, 2011), klasifikasi tanaman cabai adalah sebagai berikut.

    Kingdom : Plantae

    Diviso : Spermatophyta

    Sub diviso : Angiospermae

    Kelas : Dicotyledone

    Sub Kelas : Metachlamidae

    Ordo : Tubiflorae

    Famili : Solanaceae

    Genus : Capsicum

    Spesies : Capsicum annum L.

    Kondisi yang dikehendaki dalam budidaya cabai besar meliputi suhu,

    ketinggian tempat, dan jenis tanah. Suhu yang ideal untuk budidaya cabai adalah

    24 0 C s.d. 28

    0 C. Pada suhu tertentu seperti 15

    0 C dan lebih dari 32

    0 C akan

    9

  • 10

    menghasilkan buah cabai yang kurang baik. Penyinaran yang dibutuhkan adalah

    penyinaran secara penuh dengan curah hujan yang dikehendaki yaitu 800 mm s.d.

    2.000 mm per tahun (Tjahjadi, 1991 dalam Nurfalach, 2010). Ketinggian tempat

    yang dikehendaki untuk penanaman cabai berkisar antara 0 m s.d. 1.400 m di atas

    permukaan laut, sehingga cabai dapat ditanam pada dataran rendah hingga dataran

    tinggi. Tanaman cabai dapat tumbuh dan beradaptasi dengan baik pada berbagai

    jenis tanah, mulai dari tanah berpasir hingga tanah liat. Pertumbuhan tanaman

    cabai akan optimal jika ditanam pada tanah dengan pH 6 s.d. 7 (Harpenas, 2010

    dalam Nurfalach, 2010).

    Cabai besar merupakan salah satu komoditi pertanian yang dibutuhkan

    dalam kehidupan sehari-hari. Buah cabai besar mengandung senyawa-senyawa

    serta gizi yang sangat berguna bagi tubuh. Beberapa kandungan senyawa dalam

    buah cabai besar adalah sebagai berikut.

    Tabel 2.1

    Kandungan Senyawa Kimia dalam 100 g Cabai Besar Segar

    Senyawa Kandungan

    Kalori (kal) 31,00

    Protein (g) 1,00

    Lemak (g) 0,30

    Karbohidrat (g) 7,30

    Kalsium (mg) 29,00

    Fosfor (mg) 24,00

    Serat (g) 0,30

    Zat Besi (mg) 0,50

    Vitamin A (SI) 470,00

    Vitamin B1 (mg) 0,05

    Vitamin B2 (mg) 0,03

    Vitamin C (mg) 18,00

    Niasin (mg) 0,20

    Sumber : Direktorat Gizi, Depkes RI (1981 dalam Hasrayanti, 2013)

  • 11

    Cabai besar sangat bermanfaat bagi kesehatan terutama bagi sirkulasi

    darah ke jantung dan sebagai analgesik untuk kejang otot dan rematik. Cabai

    mengandung vitamin A dan Vitamin C yang mengandung beta karoten yang

    berguna menangkal dampak radikal bebas. Kandungan kalium dan fosfor yang

    tinggi pada cabai dapat membantu pertumbuhan tulang dan sel baru. Cabai juga

    mampu memperlancar sekresi asam lambung dan mencegah infeksi pada sistem

    pencernaan. Banyaknya manfaat cabai bagi kesehatan membuat tanaman ini

    banyak digunakan sebagai bahan baku industri obat-obatan (Hasrayanti, 2013).

    2.2 Teknologi Budidaya Cabai Besar

    Beberapa tahapan yang harus dilakukan dalam melakukan usahatani cabai

    besar antara lain sebagai berikut.

    1. Pengadaan bibit

    Pengadaan bibit dapat dilakukan dengan dua cara, yakni membuat sendiri atau

    membeli bibit yang telah siap tanam. Pengadaan bibit dengan cara menbeli

    akan lebih praktis, sedangkan pengadaan bibit dengan cara membuat sendiri

    memerlukan perhatian khusus dan mutunya belum tentu terjamin bagus.

    Anjuran penggunaan benih per hektar dalam budidaya cabai besar berkisar

    antara 150 g s.d. 300 g atau sekitar 10.000 sampai dengan 20.000 pohon per

    hektar (Cahyono, 2003 dalam Nurfalach, 2010).

    2. Pengolahan tanah

    Pengolahan tanah diperlukan agar tanah-tanah yang padat bisa menjadi

    longgar, sehingga pertukaran udara di dalam tanah menjadi baik, gas-gas

    oksigen dapat masuk ke dalam tanah, gas-gas yang meracuni akar tanaman

    dapat teroksidasi, dan asam-asam dapat keluar dari tanah. Selain itu, dengan

  • 12

    longgarnya tanah maka akar tanaman dapat bergerak dengan bebas meyerap

    zat-zat makanan di dalamnya (Nurfalach, 2010).

    3. Penanaman

    Cabai ditanam dengan pola segitiga, jarak tanamnya adalah 50 cm s.d. 60 cm

    dari lubang satu ke lubang lainnya. Jarak antar barisan berkisar antara 60 cm

    s.d. 70 cm. Kedalaman lubang tanam dibuat antara 8 cm s.d. 10 cm dengan

    diameter lubang sesuai ukuran polibag bibit cabai. Bibit cabai yang siap

    dipindah ke areal tanam adalah yang telah berumur 15 hari s.d. 17 hari atau

    telah memiliki tiga sampai empat helai daun. Penanaman sebaiknya dilakukan

    pada sore hari untuk mengurangi paparan sinar matahari berlebih terhadap bibit

    yang baru ditanam (Dermawan, 2010 dalam Nurfalach, 2010).

    4. Pemeliharaan tanaman

    Menurut Hewindati (2006 dalam Nurfalach, 2010), bibit cabai yang telah

    ditanam harus selalu dipelihara agar dapat tumbuh dengan baik. Beberapa

    macam pemeliharaan yang dapat dilakukan antara lain sebagai berikut.

    a. Penyulaman, yakni kegiatan mengganti bibit yang rusak dengan bibit yang

    baru agar jumlah tanaman tetap terjaga.

    b. Penyiangan, yakni membersihkan segala jenis gulma yang tumbuh di sekitar

    tanaman agar zat hara tanah dapat diserap tanaman secara optimal

    c. Pemangkasan, yakni pemotongan terhadap beberapa tunas yang tidak

    dikehendaki. Biasanya dilakukan antara 17 s.d. 21 hari setelah tanam (HST)

    untuk di dataran rendah atau 25 s.d. 30 HST di dataran tinggi.

    d. Pemupukan, yakni pemberian tambahan unsur hara tanah baik organik

    maupun anorganik. Pupuk yang sering diberikan pada tanaman cabai

  • 13

    meliputi pupuk kandang, Urea, SP-36, KCL, dan NPK. Dosis penggunaan

    pupuk kandang adalah 20 ton/ha, SP-36 400 kg/ha, urea 100 s.d. 150 kg/ha,

    ZA 300 s.d. 400 kg/ha, KCL 200 s.d. 250 kg/ha, dan NPK 300 s.d. 500

    kg/ha (Balai Pengkaji dan Pengembangan Teknologi Pertanian Republik

    Indonesia, 2003).

    e. Penyiraman diperlukan untuk menjaga kadar kelembabapan tanah disekitar

    tanaman. Penyiraman biasanya dilakukan dengan cara penggenangan

    ataupun penyemprotan dengan frekuensi sesuai dengan kondisi tanaman.

    f. Pengendalian hama penyakit merupakan strategi untuk meminimalkan

    kerusakan tanaman akibat serangan hama dan penyakit (Harpenas, 2010

    dalam Nurfalach, 2010). Pengendalian hama dan penyakit pada tanaman

    cabai biasanya dilakukan dengan menggunakan pestisida nabati maupun

    kimia. Dosis penggunaan pestisida kimia bervariasi sesuai dengan

    kandungan bahan aktif yang dimiliki. Penggunaan pestisida berbentuk

    bubuk atau Wettable Powder (WP) misalkan dianjurkan penggunaannya

    agar tidak melebihi 3.000 gram per hektar (BPTP Sumatra Utara, 2012).

    5. Panen

    Pemanenan buah cabai menurut Nurfalach (2010) adalah pada saat tanaman

    cabai berumur 75 s.d. 85 HST yang ditandai dengan buahnya yang padat dan

    warna merah menyala. Umur panen cabai tergantung varietas yang digunakan,

    lokasi penanaman dan kombinasi pemupukan yang digunakan serta kesehatan

    tanaman. Cabai dapat dipanen setiap dua sampai lima hari sekali tergantung

    dari luas penanaman dan kondisi pasar. Rata-rata hasil panen cabai besar untuk

    lahan usahatani seluas satu hektar berkisar antara delapan ton sampai 12 ton.

  • 14

    2.3 Nilai Strategis Cabai Besar

    Cabai besar merupakan salah satu komoditi strategis yang memiliki nilai

    ekonomis cukup tinggi. Besarnya kebutuhan akan cabai membuat tingginya

    konsumsi terhadap cabai besar di Indonesia. Konsumsi cabai di Indonesia

    didominasi oleh rumah tangga dan industri. Konsumsi cabai besar di perkotaan

    diperkirakan sebesar 0,219 ons per kapita per minggu, sedangkan konsumsi di

    pedesaan sekitar 0,150 ons per kapita per minggu dengan peningkatan sekitar

    7,5% per tahun (BP2TP, 2003). Beberapa produk industri yang menggunakan

    cabai sebagai bahan baku diantaranya manisan cabai, abon cabai, sambal cabai,

    bubuk cabai, koyo cabai, dan produk lainnya.

    Perkembangan harga cabai besar di pasaran sangat bervariasi dan

    mengalami fluktuasi dari waktu ke waktu. Harga cabai akan tinggi pada musim

    hujan, sedangkan pada musim kemarau harganya akan rendah. Rata-rata harga

    cabai besar di Bali tahun 2014 adalah sebagai berikut.

    Tabel 2.2

    Harga per kg Cabai Besar di Bali Tahun 2014

    Bulan Harga Cabai (Rp)

    Januari 18.893

    Februari 19.036

    Maret 17.393

    April 9.786

    Mei 6.000

    Juni 5.068

    Juli 4.986

    Ag

Recommended

View more >