20160708 rpm apotek 07.01.2016 edit 8 jan 2016 ?· 12. peraturan menteri kesehatan nomor 64 tahun...

Download 20160708 RPM Apotek 07.01.2016 edit 8 Jan 2016 ?· 12. Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 64 Tahun 2015…

Post on 08-Mar-2019

212 views

Category:

Documents

0 download

Embed Size (px)

TRANSCRIPT

RANCANGAN PERATURAN MENTERI KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA

NOMOR ..... TAHUN 2015

TENTANG

APOTEK

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

MENTERI KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang : a. bahwa untuk meningkatkan aksesibilitas,

keterjangkauan, dan kualitas pelayanan kefarmasian kepada masyarakat, perlu penataan penyelenggaraan pelayanan kefarmasian di Apotek;

b. bahwa Peraturan Menteri Kesehatan Nomor

922/Menkes/Per/X/1993 tentang Ketentuan dan Tata Cara Perizinan Apotek sebagaimana telah diubah dengan Keputusan Menteri Kesehatan Nomor 1332/Menkes/SK/X/2002 tentang Ketentuan dan Tata Cara Pemberian Izin Apotek dan Peraturan Menteri Kesehatan No. 284/Menkes/Per/III/2007 tentang Apotek Rakyat perlu disesuaikan dengan perkembangan dan kebutuhan hukum;

c. bahwa berdasarkan pertimbangan sebagaimana

yang dimaksud dalam huruf a dan huruf b, perlu menetapkan Peraturan Menteri Kesehatan tentang Apotek;

Mengingat : 1. Undang-Undang Obat Keras (St. 1937 No. 541); 2. Undang-Undang Nomor 36 Tahun 2009 tentang

Kesehatan (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2009 Nomor 144, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 5063);

3. Undang-Undang Nomor 44 Tahun 2009 tentang

Rumah Sakit (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2009 Nomor 153, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 5072);

Draft07Januari2016

2

4. Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2014 tentang Pemerintahan Daerah (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2014 Nomor 244, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 5587 sebagaimana telah diubah beberapa kali terakhir dengan Undang-Undang Nomor 9 Tahun 2015 (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2015 Nomor 58, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 5679);

5. Undang-Undang Nomor 36 Tahun 2014 tentang

Tenaga Kesehatan (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2014 Nomor 298, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 5607);

6. Peraturan Pemerintah Nomor 72 Tahun 1998

tentang Pengamanan Sediaan Farmasi dan Alat Kesehatan (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1998 Nomor 138, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 3781);

7. Peraturan Pemerintah Nomor 51 Tahun 2009

tentang Pekerjaan Kefarmasian (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2009 Nomor 124, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 5044);

8. Peraturan Presiden Nomor 35 Tahun 2015 tentang

Kementerian Kesehatan (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2015 Nomor 59);

9. Peraturan Menteri Kesehatan Nomor

889/Menkes/Per/V/2011 tentang Registrasi, Izin Praktik, dan Izin Kerja Tenaga Kefarmasian (Berita Negara Republik Indonesia Tahun 2011 Nomor 322);

Catt : Klarifikasi terkait pasal 32 poin a, pada saat peraturan ini berlaku pasal mana yang akan dicabut.

10. Peraturan Menteri Kesehatan Nomor

1796/Menkes/Per/VIII/2011 tentang Registrasi Tenaga Kesehatan (Berita Negara Republik Indonesia Tahun 2011 Nomor 603);

Catt : Peraturan ini hanya untuk tenaga non medis dan non farmasi, perlu klarifikasi.

11. Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 35 Tahun 2014

tentang Standar Pelayanan Kefarmasian di Apotek

3

(Berita Negara Republik Indonesia Tahun 2014 Nomor 1162);

4

12. Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 64 Tahun 2015 tentang Organisasi dan Tata Kerja Kementerian Kesehatan (Berita Negara Republik Indonesia Tahun 2015 Nomor 1508);

USULAN : Memasukkan UU No.35/2009 ttg Narkotika dan

UU No.5/1997 ttg Psikotropika

MEMUTUSKAN: Menetapkan : PERATURAN MENTERI KESEHATAN REPUBLIK

INDONESIA TENTANG APOTEK.

BAB I KETENTUAN UMUM

Pasal 1

Dalam Peraturan Menteri ini yang dimaksud dengan: 1. Apotek adalah fasilitas pelayanan kefarmasian tempat dilakukan

praktik kefarmasian oleh Apoteker. 2. Fasilitas kefarmasian adalah fasilitas kesehatan yang digunakan

untuk melakukan praktik kefarmasian yang terdiri atas fasilitas produksi, fasilitas distribusi dan fasilitas pelayanan kefarmasian.

3. Tenaga kefarmasian adalah tenaga yang melakukan pekerjaan kefarmasian, yang terdiri atas Apoteker dan Tenaga Teknis Kefarmasian.

4. Apoteker adalah sarjana farmasi yang telah lulus sebagai Apoteker dan telah mengucapkan sumpah jabatan Apoteker.

5. Tenaga Teknis Kefarmasian adalah tenaga yang membantu Apoteker dalam menjalankan pekerjaan kefarmasian, yang terdiri atas Sarjana Farmasi, Ahli Madya Farmasi dan Analis Farmasi.

6. Surat Tanda Registrasi Apoteker yang selanjutnya disingkat STRA adalah bukti tertulis yang diberikan oleh konsil tenaga kefarmasian kepada tenaga kefarmasian yang telah diregistrasi.

7. Surat Izin Apotek yang selanjutnya disingkat SIA adalah bukti tertulis yang diberikan oleh pemerintah daerah kabupaten/kota kepada Apoteker sebagai izin untuk menyelenggarakan Apotek

8. Surat Izin Praktik Apoteker yang selanjutnya disingkat SIP Apoteker adalah bukti tertulis yang diberikan oleh pemerintah daerah kabupaten/kota kepada Apoteker sebagai pemberian kewenangan untuk menjalankan praktik.

9. Surat Izin Praktik Tenaga Teknis Kefarmasian yang selanjutnya disingkat SIP TTK adalah bukti tertulis yang diberikan oleh pemerintah daerah kabupaten/kota kepada tenaga teknis kefarmasian sebagai pemberian kewenangan untuk menjalankan praktik.

5

10. Resep adalah permintaan tertulis dari dokter, dokter gigi, dokter hewan kepada Apoteker, baik dalam bentuk kertas maupun elektronik untuk menyediakan dan menyerahkan sediaan farmasi dan/atau alat kesehatan bagi pasien.

11. Sediaan Farmasi adalah obat, bahan obat, obat tradisional dan kosmetika.

12. Keadaan Gawat adalah kondisi dimana bilamana pasien tidak mendapatkan obat maka pasien tersebut akan mengalami gangguan kesehatan. Cocokkan dengan KBBI dan Kamus Kesehatan

13. Keadaan Darurat adalah keadaan dimana pasien kesulitan mendapatkan resep dokter. Cocokkan dengan KBBI dan Kamus Kesehatan

14. Keadaan gawat darurat adalah keadaan klinis pasien yang membutuhkan tindakan medis segera guna penyelamatan nyawa dan pencegahan kecacatan lebih lanjut.

15. Pejabat Pemberi Izin adalah Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota, atau Kepala instansi Pelayanan Perizinan Terpadu Kabupaten/Kota yang diberi kewenangan untuk memberikan izin.

16. Menteri adalah Menteri yang menyelenggarakan urusan pemerintahan di bidang kesehatan.

17. Organisasi Profesi adalah Ikatan Apoteker Indonesia

Pasal 2

Pengaturan Apotek bertujuan untuk: a. meningkatkan kualitas pelayanan di Apotek; termasuk promotif,

preventif b. memberikan perlindungan pasien dan masyarakat dalam

memperoleh pelayanan di Apotek; dan c. menjamin kepastian hukum bagi tenaga kefarmasian dalam

memberikan pelayanan di Apotek. d. menjamin ketersediaan sediaan farmasi di apotek bagi masyarakat

BAB II PERSYARATAN PENDIRIAN

Bagian Kesatu

Umum Pasal 3

(1) Apotek hanya dapat didirikan dan dipimpin oleh Apoteker. (2) Pendirian Apotek sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dapat dengan

modal sendiri, modal bersama atau modal dari pihak lain baik perorangan maupun badan usaha.

6

Pasal 4

Pendirian Apotek harus memenuhi persyaratan, meliputi: a. lokasi; b. bangunan; c. sarana, prasarana dan peralatan; dan d. ketenagaan.

Bagian Kedua Lokasi

Pasal 5

(1) Pemerintah Daerah kabupaten/kota dapat mengatur persebaran

Apotek di wilayahnya dengan memperhatikan akses masyarakat dalam mendapatkan pelayanan kefarmasian.

(2) Lokasi Apotek harus memenuhi ketentuan persyaratan kesehatan lingkungan sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.

Bagian Ketiga

Bangunan

Pasal 6

(1) Bangunan Apotek harus memiliki fungsi keamanan, kenyamanan, dan kemudahan dalam pemberian pelayanan kepada pasien serta perlindungan dan keselamatan bagi semua orang termasuk penyandang cacat, anak-anak dan orang lanjut usia.

(2) Bangunan Apotek harus bersifat permanen dan memiliki luas yang memadai.

(3) Bangunan permanen sebagaimana dimaksud pada ayat (2) dapat merupakan bagian dan/atau terpisah dari pusat perbelanjaan, apartemen, rumah toko, rumah kantor, rumah susun, dan bangunan yang sejenis.

Bagian Keempat

Sarana, Prasarana dan Peralatan

Pasal 7

7

Sarana Apotek paling sedikit terdiri atas: a. ruang penerimaan Resep; b. ruang pelayanan Resep dan peracikan (produksi sediaan secara

terbatas); c. ruang penyerahan sediaan farmasi dan alat kesehatan; d. ruang konseling; e. ruang penyimpanan sediaan farmasi dan alat kesehatan; dan f. ruang arsip. Usulan kata ruang diganti tempat

Pasal 8

Prasarana Apotek terdiri atas: a. sistem sanitasi (instalasi air bersih, instalasi pembuangan dan

pengelolaan limbah); b. instalasi listrik; c. sistem penghawaan (ventilasi atau alat sirkulasi udara); dan d. sistem proteksi kebakaran. Alat pemadam api ringan (APAR)

Pasal 9

(1) Peralatan Apotek meliputi semua peralatan yang dibutuhkan dalam pelaksanaan pelayanan kefarmasian yang harus tersedia pada setiap ruang tempat sebagaimana dimaksud dalam Pasal 7.

(2) Peralatan yang dimaksud pada ayat (1) antara lain meliputi rak obat, alat peracikan, bahan pengemas obat, lemari pendingin, meja, kursi, komputer, formulir catatan pengobatan pasien dan lain-lain sesuai dengan kebutuhan.

Pasal 10

Sarana, Prasarana dan Peralatan tertentu, a