2011-1011 aw bahasa

of 48 /48
11 - 2011 Warta Gereja Advent Karunia Menyembuhkan 26 Sepanjang Hidupmu 20 Umur More an Menyerahkan Segalanya 11 D eep * * Satu ungkapan dalam Bahasa Inggris yang artinya ada dijelaskan pada halaman 17. Skın

Author: adventist-world-magazine

Post on 27-Mar-2016

274 views

Category:

Documents


21 download

Embed Size (px)

DESCRIPTION

2011-1011 AW bahasa official

TRANSCRIPT

  • 11 - 2011

    W a r t a G e r e j a A d v e n t

    KaruniaMenyembuhkan

    26SepanjangHidupmu

    20 Umur

    More Than

    MenyerahkanSegalanya

    11

    Deep **Satu ungkapan dalam Bahasa Inggris yang artinya ada dijelaskan pada halaman 17.

    Skn

  • P E K E R J A A N G E R E J A

    Pandangan Sedunia ....... 3

    Laporan Sedunia3 Berita & Pandangan10 One-Day Church

    Panorama Sedunia8 Satu Tahun untuk Mengubah Dunia

    P E R T A N YA A N A L K I T A B

    KaruniaMenyembuhkan ........... 26Oleh Angel Manuel Rodrguez

    P E L A J A R A N A L K I T A B

    Mengatasi RasaKhawatir dan Takut ..... 27Oleh Mark A. Finley

    W O R L D E X C H A N G E

    29 Surat30 Ruang Doa31 Pertukaran Ide

    Lokasi Masyarakat ....... 32

    Warta GMAHKse-Indonesia ............ 33-48

    C E R I T A S A M P U L

    More Than Skin DeepOleh Chantal and Gerald Klingbeil .............................................. 16Sejarah Helderberg College mengandung pelajaran untuk sekarang ini.

    T A M P I L A N K H U S U S

    Memberikan Segalanya Oleh Penny Brink ......................... 11Apakah penatalayanan itu tentang pengorbanan atau tentangkedermawanan?

    R E N U N G A N

    Dosa dan Pengorbanan Oleh Michael Mxolisi Sokupa...... 14Suatu transaksi dengan Allah: dosa-dosa kita untuk kasih karunia-Nya.

    K E P E R C A Y A A N D A S A R

    Sepanjang Hidupmu Oleh Lael Caesar ............................... 20Masa depan kita bukanlah kesuraman dan malapetaka;melainkan kemenangan dan keagungan.

    R O H N U B U A T

    Buku Kisah Para Rasul Oleh Tim Poirier ............................................................................ 22Selama 100 tahun menceritakan kisah Gereja Kristen mula-mula.

    K E H I D U P A N A D V E N T

    Operation Global Rain Oleh Janet Page .............................. 24Apa yang terjadi ketika umat Allah berdoa?

    Ed

    wa

    rd

    a

    .

    ap

    po

    ll

    is

    11 - 2011

    2 Adventist World | 11- 2011

  • Lebih dari 800 mahasiswa dan pega- wai Union College di Lincoln, Nebraska, Amerika Serikat, bergabung dengan Ted N.C. Wilson, Ketua Gereja Masehi Ad-vent Hari Ketujuh, General Confe rence; istrinya, Nancy; dan para pemimpin lain pada satu hari yang berfokus pada la-yanan masyarakat yang diadakan oleh se-kolah milik gereja itu.

    Sekarang saya bisa melihat mengapa Project Impact itu merupakan satu peris-tiwa besar tiap tahunorang muda se-nang berpartisipasi, kata Wilson setelah

    L A P O R A N S E D U N I A

    acara itu. Semua orang berpartisipasistaf pengajar, staf, bahkan kantor Uni Amerika Tengah. Senang sekali melayani Tuhan; memberitahu orang-orang ten-tang Union College dan Gereja Masehi Advent Hari Ketujuh; dan memiliki pengalaman yang mempererat.

    Wilson berkata kepemimpinan siswa dalam acara itu memberinya kesan: Ini memperlihatkan kepada para pemimpin di gereja bahwa mereka dapat memper-cayakan orang muda untuk mengatur se-gala sesuatu dan tidak mesti mengurus

    PA N DA N G A N S E D U N I A

    Keluarga Wilson Bergabung dengan Mahasiswa Advent di Hari Layanan Masyarakat

    Un

    io

    n

    Co

    ll

    Eg

    E

    Batu-batu yang HidupSaya terbangun oleh dentingan lem-

    but alat pahat logam yang memukul-mukul batulama-kela-maan saya menyadari ada tujuh detik di antara setiap pukulan. Tepat dibalik dinding wisma tamu tempat saya tinggal, seorang pekerja yang bersemangat bangun pagi dini hari Minggu di Ke-nya. Batu gunung lembut yang sedang dibentuknya dengan li-hai menggunakan seperangkat alat pahat akan segera dibawa ke bawah perbukitan untuk membangun struktur bangunan yang lain.

    Saya berjalan keluar untuk memperhatikannya dari dekat saat ia membentuk balok merah dengan mudahnya. Ia menye-nandungkan beberapa lagu sambil bekerja, bercanda tawa ber-sama para rekan kerjanya. Satu per satu, sebuah batu per jam, potongan-potongan rumah baru terbentuk.

    Saya memperhatikan dengan terkagum-kagun, memandang bangunan tempat saya menginap semalam. Karena tiba saat hari sudah gelap, saya tidak memperhatikan strukturnya, tidak sabar menemukan tempat tidur setelah perjalanan yang jauh. Tetapi sekarang saya melihat lebih jelas: Masing-masing balokada 1.080, setelah saya menghitungnyajuga telah dibentuk dengan metode yang sama. Masing-masing batu diselesaikan dengan indahnya, dan kekaguman saya justru semakin bertam-bah ketika memperhatikan betapa eratnya satu sama lain ber-dampingan. Rumah ini dibangun sedikit demi sedikit, dengan

    sabar, dengan metode-metode yang tidak lagi tampak pada bu-daya saya yang menghasilkan beton curah yang dihasilkan se-cara besar-besaran.

    Kiasan indah dari rasul Petrus segera terlintas dalam benak saya: Dan biarlah kamu juga dipergunakan sebagai batu hidup untuk pembangunan suatu rumah rohani, bagi suatu imamat kudus, untuk mempersembahkan persembahan rohani yang karena Yesus Kristus berkenan kepada Allah (1 Petrus 2:5). Pe-lajaran tambahan yang dapat dipetik juga sama pentingnya: di-perlukan waktu, dan pembentukan, serta bantuan, untuk berga-bung bersama saudara-saudara kita menjadi bagian dari rumah rohani agar Tuhan dapat tinggal. Saya tidak bisa mempertahan-kan keistimewaan dan pada saat bersamaan mengaku menjadi bagian dari dinding penopang yang kuat itu. Untuk dipasang-kan ke dalam satu struktur yang membawa kemuliaan kepada Allah saya perlu memberi kepada tetangga dan anggota di sebe-lah sayadan oleh penyerahan dan kerendahan hati ini maka injil terus-menerus memanggil saya.

    Kerajaan Allah sedang dibangunkadang pelan-pelan, na-mun terus-meneruskita dibentuk menjadi batu-batu hidup oleh Roh Tuhan yang menghidupkan. Sekarang berdoalah un-tuk bagian yang dipercayakan Allah bagi Anda di gereja yang membawa kemuliaan bagi-Nya.

    Bill Knott

    PAGAR LAPANGAN BERMAIN: Ketua Gene ral Conference, Ted N.C. Wilson membantu me-masang pagar lapangan bermain sebagai ba-gian dari program Project Impact, satu acara layanan masyarakat yang sudah berusia 30 ta-hun dari Union College, di Lincoln, Nebraska, Amerika Serikat.

    Pekerjaan Gereja

    11 - 2011 | Adventist World 3

  • L A P O R A N S E D U N I A

    hal-hal kecil saja. Tuhan telah memberi-kan kecerdasan dan kreativitas luar biasa kepada mereka. Memberikan mereka ka-runia besar dan membiarkan mereka menjalankannya.

    Bagi para mahasiswa yang berpartisi-pasi dalam proyek pembersihan, pembu-atan lahan, dan pengecatan di rumah-ru-mah dan lembaga-lembaga di kota, tuju-annya sederhana saja: Kami ingin men-jadi tangan dan kaki Allah, kata Anna Coridan, jurusan keperawatan dan koor-dinator Project Impact 2011.

    Turut serta bersama Wilson dalam acara itu adalah Dekan Hubbard, mantan rektor Union College yang berperan pen-ting dalam merintis layanan tahunan itu di tahun 1981.

    Pada awalnya diberi nama Project BRUSH (Beautifying Residences Using Student Help atau memperindah tempat tinggal dengan bantuan siswa), hari libur sekolah itu dimaksudkan untuk mendo-rong para mahasiswa keluar dari kampus dan masuk ke dalam komunitas Lincoln. Project BRUSH mengecat lebih dari 100 rumah dalam kurun waktu 10 tahun. Di-gerakkan oleh keinginan seisi kampus untuk melakukan lebih banyak lagi, maka Project BRUSH menjadi Project Im-pact, satu hari yang dipusatkan untuk membantu lebih dari peragenan Lincoln yang melayani komunitas sepanjang ta-hun.

    Project Impact mengalihkan fokus dari diri sendiri selama satu hari, kata Coridan. Sehari penuh untuk menyadari kebutuhan orang lain.

    Tiap tahun lebih dari 80 persen kelu-arga kampus berpartisipasi dalam Project Impact, satu acara yang direncanakan, di-atur, dan dilaksanakan oleh para maha-siswa. Sejak permulaan, sekitar 17.500 re-lawan telah melayani Lincoln dengan le-bih dari 111.000 jam bekerja sukarela se-lama 30 tahun terakhir. Menurut riset yang tersedia, Project Impact adalah hari layanan mahasiswa yang paling lama di-jalankan, dengan persentase tinggi ke-

    ikutsertaan kampus, di Amerika SerikatRyan Teller, Direktur Komunikasi, Union College.

    Pendidik Kelahiran Jamaika Memimpin NCU

    Trevor Gardner, pendidik kelahiran Jamaika dan yang sekarang menjabat Rektor University of the Southern Carib-bean (USC) milik Gereja Advent di Trin-idad dan Tobago, dipilih menjadi Rektor Northern Caribbean University (NCU). Penunjukkannya dilakukan selama per-temuan dewan pemimpin universitas di Mandeville, Jamaika.

    Posisi rektor jadi kosong, ketika Her-bert Thompson pensiun bulan Juni 2011.

    Gardner akan sepenuhnya meme-gang jabatan tersebut pada tanggal 1 Ja-nuari 2012, kata pemimpin gereja.

    Gardner tidak asing bagi NCU, ketika ia melayani sebagai wakil ketua untuk urusan akademis selama transisi lembaga itu dari perguruan tinggi (college) ke uni-versitas. Ia ditunjuk sebagai Ketua USC di tahun 2004, dan ia memelopori penga-

    lihannya dari Caribbean Union College menjadi status universitas di tahun 2006. Selama periode kepemimpinannya, USC telah menyaksikan lebih dari tiga kali penambahan penerimaan siswa dari 1.200 siswa menjadi sekitar 4.000 siswa.

    Gardner berkata NCU telah meng-ukir jalan yang sangat bernilai bagi orang-orang di seluruh dunia dan khu-susnya kepada mereka yang ada di wila-yah Karibia. Saya berharap saat kita me-langkah menuju masa depan, warisan ini akan terus berlanjut.

    Gardner memegang gelar Ph.D da-lam bidang administrasi pendidikan dan memiliki pengalaman lebih dari 40 tahun dalam bidang akademis. Pengalamannya dalam waktu 10 tahun terakhir berada di institusi-institusi Advent di Karibia.

    NCU sama-sama dijalankan dan di-miliki oleh Jamaica Union Conference of Seventh-day Adventist (JAMU) dan At-lantic Caribbean Union Mission of Sev-enth-day Adventist (ACUM).Nigel Coke, Divisi Inter-Amerika.

    Penghuni Penjara Australia Menginjil dengan Menggunakan Materi Pelajaran Advent

    Seorang yang sudah lama menjadi siswa pelajar Alkitab yang diajar oleh Gereja Advent, Matthew J. Baronet, te-lah menjadi seorang penginjil dari dalam sel penjaranya selama masa pelayanan di Wolston Correctional Centre di Queen-sland, Australia. Modalnya: Bahan pela-jaran yang disediakan oleh Adventist Dis-covery Centre, satu pelayanan Australia dari Divisi Pasifik Selatan.

    Dalam waktu enam tahun belajar di Discovery Centre, Matthew telah mere-krut hampir 150 siswa dan telah meng-adakan kelompok-kelompok doa /belajar dari dalam selnya, dan melalui waktunya dibalik jeruji ia telah memulai pelayanan JAILMAIL. Mulai dengan pelayanan

    PEMIMPIN UNIVERSITAS: Trevor Gardner baru-baru ini dipilih men-jadi Rektor Northern Caribbean Uni-versity.

    ni

    gE

    l

    Co

    kE

    Pekerjaan Gereja

    4 Adventist World | 11- 2011

  • persahabatan yang sederhana, pelayanan JAILMAIL dalam waktu 11 minggu per-tama menyebar luas ke tujuh penjara di Queensland dan penjara lain di New South Wales.

    Saya berpikir bahwa penjara itu ada-lah lahan pelatihan Allah, dan di sana ada banyak sekali pekerjaan yang harus dilakukan di balik dinding-dinding ka-wat tajam ini, kata Baronet. Banyaknya jiwa-jiwa yang menderita, sakit, dan ter-luka dan orang-orang yang rusak di sini merupakan tanda sejati dari pekerjaan Setan. Saya telah melihat secara langsung kuasa Tuhan Yesus bekerja di rumah baru saya ini.

    Baronet memandang pelayanan JAIL-MAIL sebagai satu jalan membawa keba-hagiaan dan dukungan dalam kehidupan orang-orang baik dari dalam penjara maupun di luar penjara. Tuhan yang baik memberkati pekerjaan saya di dalam penjara ini, dan saya merasakan hu-bungan yang dekat dengan tim di Disco-very, tambahnya.Tammy Zyderveldt, Divisi Pasifik Sela-tan

    Orang Advent Yahudi Memperingati Satu Dasawarsa di Argentina

    Hari Sabat tanggal 27 Agustus 2011 menandai satu peringatan penting bagi Komunitas Advent Yahudi di Buenos Ai-res, Argentina: kelompok itu merayakan 10 tahun sebagai satu jemaat.

    Sekitar 100 orang menghadiri acara akhir pekan di mana tonggak bersejarah dirayakan dengan rasa syukur kepada Allah atas kemajuan mereka.

    Sejak mula pertama Adventist Jewish Community di Buenos Aires, para pe-mimpin bekerja mempersiapkan sebuah buku doa yang mencerminkan penga-laman keagamaan orang Advent Yahudi. Bersamaan dengan peringatan kesepuluh itu, edisi kedua dari buku doa, yang dike-nal dalam Bahasa Ibrani sebagai sidur, di-terbitkan. Itu disertai dengan edisi lem-bar musik tiga volume, yang berisi sekitar 1.000 lembaran musik yang disusun un-

    tuk piano atau gitar. Para pemimpin je-maat berkata versi bahasa Inggrisnya se-dang dipersiapkan.

    Pendeta Armando Miranda, seorang wakil ketua umum gereja dunia, me-nyampaikan pesan rohani yang menan-dai peringatan tersebut selama kebaktian Sabat. Bilamana kita bekerja bagi Allah, katanya, kita tidak boleh lupa bahwa kita hanyalah ciptaan yang melayani Bapa kita dan bahwa ini melindungi kita dari kekecewaan.

    Bersama Miranda, tamu lain terma-suk Pendeta Reinaldo Siqueira, direktur komunitas Yahudi, yang mewakili Divisi Amerika Selatan; Pendeta Carlos Gill, Ketua Uni Argentina; dan Horacio Cay-rus dan David del Valle, anggota staf uni. Paduan suara River Plate Adventist Uni-versity, yang dipimpin oleh Deny Luz, menyediakan musik istimewa pada ke-sempatan itu.Claudio Graf, Divisi Amerika Selatan

    MANUSIA BARU: Penghuni tahanan Australia, Matthew J. Baronet adalah seorang penginjil di dalam rumah ta-hanan yang menyampaikan bahan pe-lajaran Alkitab dari Gereja Advent.

    PEMBICARA TAMU: Pendeta Armando Miranda, seorang Wakil Ketua Gereja Masehi Advent Hari Ketujuh, berceramah di hadapan para peribadat pada acara peringatan kesepuluh Adventist Jewish Community di Buenos Aires, Argentina.

    Cl

    aU

    di

    o

    gr

    af

    s o U t h p a C i f i C d i v i s i o n

    11 - 2011 | Adventist World 5

  • L A P O R A N S E D U N I A

    Orang-orang percaya Advent di Jerman tertarik dengan peka-baran Advent, turut berbagi de-ngan orang lain, dan ingin mengerti be-tul tentang pengalaman kebangunan dan reformasi yang sedang terjadi melalui persekutuan global kita.

    Itulah kabar baik yang muncul dari satu perlawatan baru-baru ini ke Jerman yang saya bawa serta bersama dengan be-berapa anggota tim pimpinan General Conference, termasuk Pendeta Mike Ry-

    yakni sekitar 53,5 juta penduduk, secara resmi mengaku Kristen, namun banyak golongan populasinya, termasuk banyak orang mudanya, sekular dalam penam-pilan mereka. Sebenarnya, 80 persen penduduk di negara bagian timur Jer-man, Saxony-Anhalt, di mana Martin Lu-ther lahir, secara resmi terdaftar tidak menganut keagamaan mana pun.

    Bersaksi bisa merupakan satu tan-tangan dalam suasana budaya yang de-mikian, tetapi kebutuhan hati setiap orang tetap sama. Saya percaya orang-orang Advent, di Jerman dan di mana pun juga, memiliki pekabaran Alkitabiah yang unik untuk dibagikan yang meme-nuhi kebutuhan batin yang sama dengan begitu banyak orang sekarang ini.

    Di Jerman, di Eropa, dan di wilayah Anda, dan di seluruh planet ini, kita ha-rus mengangkat Kristus sebagai Firman yang hidup dalam kehidupan kita sendiri dan dalam kesaksian kita kepada orang lain. Ketika kita membagikan kebenaran Alkitab yang berharga, melalui tuntunan

    fokus pada aktivitas-aktivitas umum.Dalam mempertahankan satu fokus

    kuat dalam membaca Alkitab, para pe-mimpin General Conference Anda meng-ingatkan para anggota gereja tentang wa-risan ganda unik mereka: sebagai orang Advent yang menjunjung tinggi Alkitab, dan sebagai orang Jerman yang setiap ha-rinya dikelilingi oleh warisan Martin Lu-ther dan Reformasi Protestan.

    Selagi berada di Jerman kami menda-pat keistimewaan untuk mengunjungi beberapa tempat bersejarah yang berhu-bungan dengan Luther dan Reformasi Protestan. Mengenai gereja di Witten-berg, di mana Martin Luther memaku-kan ke-95 dalilnya, menyenangkan sekali berada di tempat di mana kebenaran dan kasih karunia Kristus diunggulkan mela-wan kepalsuan hikmat manusia dan ke-selamatan oleh perbuatan.

    Hal penting lain adalah satu kun-jungan ke Wartburg Castle, di mana Lu-ther bersembunyi dari bahaya selama se-kitar 10 bulan. Ellen G. White, dalam The

    Kunjungan ke Jerman MenghubungkanPara Pemimpin, Kaum Awam, Pendeta

    Fokus Kebangunanan, Mark Finley, dan Williams Costa, Jr. Istri saya, Nancy juga turut bersama kami.

    Kunjungan selama 10 hari itu mem-bawa kami pada beberapa tempat berse-jarah yang berhubungan dengan kehi-dupan dan pekerjaan Pembaru Protestan Martin Luther. Kehidupan kerjanya tidak hanya membuat Alkitab bisa diterima di seluruh Jermah, tetapi juga merupakan pelopor yang hebat sekali bagi kelahiran dan pertumbuhan pergerakan Advent kita.

    Jadwal kami padat dan bervariasi: Bersama dengan sekitar 3.500 orang per-caya, kami menghadiri satu perjamuan spesial yang digelar oleh Bavarian Con-ference di Augsburg. Kami berpartisipasi dalam satu pertemuan kependetaan isti-mewa di Darmstadt, yang diatur oleh Uni Jerman Selatan dan Uni Jerman Utara, dengan banyak pendeta kita di Jerman. Kami menghabiskan waktu di Stimme der Hoffnung, atau Voice of Hope, pusat media divisi, memberi wejangan tentang

    dalamWilson memimpin pertemuan untuk melihat kembali perjalanan

    hidup seorang pembaru,Martin Luther Oleh Ted N. C. Wilson,

    Ketua Gereja Masehi Advent Hari Ketujuh, General Conference

    rencana-rencana penginjilan masa depan dan berpartisipasi dalam berbagai wa-wancara. Dan kami bergabung dalam ak-tivitas-aktivitas akhir pekan di Frieden-sau University, bertemu muka dengan mahasiswa, staf dosen, pensiunan, dan banyak anggota gereja. Satu pertemuan besar sepanjang hari Sabat diatur oleh Uni Jerman Utara, dengan sekitar 1.500 anggota yang hadir.

    Jerman sekarang ini merupakan satu paradoks: sekitar 65 persen populasinya,

    Roh Kudus, kita dapat menemukan ba-nyak orang yang tertarik dengan kebe-naran. Hubungan persahabatan dengan keyakinan lain ada tempatnya sendiri, te-tapi ini tidak boleh menggantikan inti dari aktivitas Kristen itu, yakni memba-gikan injil dan pekabaran tiga malaikat kepada mereka yang perlu mendengar. Selama perlawatan kami di Jerman, pene-kanan diberikan pada kebutuhan untuk fokus pada kebenaran-kebenaran Alkitab yang nyata dari orang Advent dan tidak

    Pekerjaan Gereja

    6 Adventist World | 11- 2011

  • Great Controversy (hlm. 169) berkata Allah juga melindungi Martin Luther dari kesombongan selama periode ini, karena begitu banyak orang memuji dia atas kepemimpinannya melawan kekua-saan Roma.

    Pada waktu ia berada di Wartburg itulah ia menerjemahkan Perjanjian Baru dari Bahasa Ibrani ke dalam Bahasa Jer-man dalam waktu 10 minggu dengan menggunakan 16 dialek Jerman, yang se-cara efektif mempersatukan bahasa Jer-man. Sumbangsih besar Johannes Guten-berg dalam sastra, baru disadari hampir 60 tahun lalu, dan teknologi baru yang diberikan untuk penyebar luasan Firman Allah secara besar-besaran diserahkan ke tangan orang-orang biasa. Saya merasa-kannya sebagai satu pengalaman yang menggugah berdiri di sebuah ruangan di mana aktivitas-aktivitas penerjemahan itu dulu terjadi.

    Bahkan dengan warisan yang kaya

    dan kokoh dari pemikiran sejati Protes-tan ini, orang-orang Advent sekarang di Jerman mendapati penambahan anggota itu kadang kala sulit menghadapi tekanan sekular dan serangan intelektual tentang kebenaran Kitab Suci. Para pemimpin General Conference yang bersama saya mendorong para anggota gereja untuk te-rus membaca Alkitab dengan cara seder-hana dan terus terang, meskipun ada te-kanan bertubi-tubi dari dunia akademis untuk menganjurkan metode-metode penafsiran baru dan lebih subyektif yang bertentangan dengan pendekatan penaf-siran Alkitab Advent. Orang Advent mendukung pendekatan sejarah Alkitab-iah, atau sejarah tatabahasa, yang mem-biarkan Alkitab menafsirkan dirinya sen-diri.

    Saya juga menyuarakan satu pang-gilan untuk bersatu dengan keluarga ge-reja sedunia: Kita tidak memiliki Gereja Advent Jerman atau Gereja Advent Bra-

    sil, atau Gereja Advent Filipina, tetapi kita memiliki Gereja Masehi Advent Hari Ketujuh di Jerman, di Brasil, dan di Fili-pina. Ini adalah keluarga sedunia yang dipimpin oleh Allah.

    Selama salah satu dari berbagai sesi tanya jawab yang diadakan di Jerman, se-orang anggota bertanya berapa banyak dari 28 kepercayaan dasar yang harus di-percaya seseorang agar ia dianggap seo-rang Advent. Pertanyaan seperti itu, me-nurut saya, didasarkan atas pemikiran yang keliru. Permasalahannya adalah bu-kan kepercayaan dasar mana yang harus dibuang atau dipelihara, tetapi lebih ke-pada, dari mana kepercayaan dasar kita berasal? Kepercayaan dasar kita bukan kumpulan pernyataan yang bisa berubah-ubah yang ditaati hanya untuk menunjukkan kesetiaan kepada satu ge-reja; semua itu hanya merupakan penje-lasan luas dari kebenaran-kebenaran yang ditemukan di seluruh Kitab Suci. Tidak satu pun bagian dari Alkitab atau dari kepercayaan dasar kita yang tidak penting.

    Selama kunjungan kami ke Jerman saya berseru kepada mereka sudah jauh dari gereja, dan jauh dari Tuhan, untuk memperbarui hubungan dengan Allah dan gereja melalui belajar Alkitab, ber-doa, dan membaca Roh Nubuat. Saya mendesak mereka yang kecewa untuk menemukan penghiburan di dalam ge-reja dan kebenaran Allah dan berpartisi-pasi dalam misi penginjilan gereja untuk menjangkau orang Jerman sambil me-nantikan kedatangan Kristus yang akan segera tiba.

    Merupakan satu keistimewaan me-ngunjungi Jerman dan bertemu dengan begitu banyak rekan orang percaya. Rasa-nya bahagia mengetahui bahwa ada ba-nyak sekali anggota gereja yang rindu melihat Yesus datang, percaya bahwa Ge-reja Masehi Advent Hari Ketujuh adalah gereja umat sisa Allah, ingin menjadi ba-gian dari keluarga gereja Advent, mene-rima Alkitab sebagaimana terbaca, menghargai Roh Nubuat, dan turut serta dalam misi gerakan Advent sedunia me-ngabarkan pekabaran tiga malaikat. n

    Mark A. Kellner, Editor berita Adven-tist World.

    Atas: DIJAMAH ALLAH. Di bawah spanduk berisi kata-kata dalam bahasa Jerman Touched by God atau dijamah oleh Allah, orang Ad-vent berkumpul di

    Augsburg, Jerman, ruang konvensi untuk mendengar Ted N.C. Wilson, Ketua General Conference. Kiri: BERBICARA BERSAMA-SAMA: Pendeta Raner Wanitschek, kiri, Ketua Gereja Advent di Bavaria, bersama Pendeta Wilson di atas mimbar di Augsburg. El

    i

    di

    Ez

    -p

    ri

    da

    11 - 2011 | Adventist World 7

  • PA N O R A M A S E D U N I A

    Editor Adventist World Bill Knott baru-baru ini duduk bersama Pendeta Ted Wil-son, Ketua General Conference, untuk berbicara tentang memanfaatkan karunia jutaan orang muda dewasa di gereja.

    Setiap pemimpin memimpikan hal-hal yang mereka bisa bantu wujud-kan sementara melayani umat Allah. Saya sudah mendengar Anda beberapa kali mengacu pada satu mimpi yang kedengarannya sangat besartujuan untuk membangun satu budaya pelayanan di tengah orang-orang muda dewasa Advent. Apa maksud Anda dengan itu?Salah satu ajaran paling jelas dari Perjan-jian Baru adalah bahwa Yesus memberi-kan karunia kepada semua orang yang mengikut Dia dalam baptisan dan men-jadi bagian dari gereja-Nya yang setia. Sesederhana itu saja: Jika Anda menjadi bagian dari umat sisa Allah, maka Roh Kudus telah memberikan Anda karunia untuk digunakan bagi kepentingan selu-ruh gereja. Karunia itu tidak terbatas ke-pada mereka yang berada di usia tertentu atau tingkat pendidikan tertentu. Berbi-cara tentang kebangunan besar yang Allah akan berikan kepada umat-Nya, nabi Yoel berkata: Kemudian dari pada itu akan terjadi, bahwa Aku akan mencu-rahkan Roh-Ku ke atas semua manusia, maka anak-anakmu laki-laki dan perem-puan akan bernubuat; orang-orangmu yang tua akan mendapat mimpi, teruna-terunamu akan mendapat penglihatan-penglihatan (Yoel 2:28).

    Inisiatif kebangunan dan reformasi sedunia memperjelas bahwa ada ratusan ribusebenarnya jutaanorang muda Advent yang telah Allah berikan karunia hebat untuk membantu menyelesaikan pekerjaan gereja-Nya. Saya ingin Gereja Advent merencanakan satu cara untuk memperlihatkan kreativitas dan energi yang luar biasa yang sudah diberikan Allah kepada orang-orang ini dengan memberikan karunia kepada orang muda yang setia.

    Saya tahu bahwa Anda sudah me-ngenal betul dengan inisiatif-

    inisia tif gereja yang sudah lama ada seperti program Misionaris Pe-lajar, Angkatan Kerja (Taskforce), Relawan Advent (Adventist Volun-teer Service), gerakan 1000 misio-naris (the 1000 Misionary Move-ment), dan pionir misi global (Glo-bal Mission Pioneers). Bagaimana-kah Anda berpikir lebih dari apa yang bahkan sudah dilakukan pro-gram-program itu?Program-program itu merupakan berkat yang tak ternilai bagi gereja, dan puluhan ribu orang muda telah memberikan pela-yanan yang indah melaluinya. Saya me-

    ngetahui nilai dari program-program ini secara pribadi: Salah seorang putri kami menghabiskan waktu satu tahun menjadi seorang misionaris pelajar. Tanggung ja-wab besar ditanggungkan atas dia untuk mengajarkan mata pelajaran yang tidak disangka-sangkanya, jadi ia benar-benar harus berusaha keras, menantang dirinya sendiri, dan bertumbuh dalam kemam-puannya. Tahun itu sangat mempertajam kemampuannya, membuatnya bahkan menjadi seorang guru sekolah menengah atas yang lebih baik ketika ia lulus kuliah. Karena sejarah keluarga kami, maka ia dibesarkan di lingkungan misi. Tetapi ta-

    Pekerjaan Gereja

    8 Adventist World | 11- 2011

    SatuTahununtuk

    Mengubah Dunia

  • hun itulah yang telah memperkuatnya, dan kehidupan tidak akan pernah jadi sama lagi. Ketiga putri kami telah men-jalani berbagai macam proyek misi, dan mereka menyukai pengalaman itu.

    Pengalaman putri saya serupa dengan puluhan ribu orang lainnya yang telah menemukan sukacita besar apakah yang diperoleh dari membalas budi kepada ge-reja yang telah membentuk dan memeli-hara dan mengajar tentang Yesus. Mem-berikan sembilan sampai 12 bulan di awal tahap kehidupan Andaketika An-da melampaui masa remaja namun ke-tika Anda belum tiba pada komitmen be-rumah tangga atau mendapatkan penga-laman profesionalakan membentuk kembali seluruh sudut pandang dunia Anda. Satu hal yang saya janjikan: Anda tidak akan pernah sama lagi!

    Apakah Anda sedang menjelaskan sesuatu yang nantinya dalam be-berapa pengertian akan bersifat wajib bagi setiap orang dewasa muda?Tidak, sebuah gereja yang secara konsis-ten menyoroti pentingnya kuasa memilih tidak akan pernah mendikte orang muda apa yang harus mereka lakukan untuk mematangkan iman mereka. Tetapi Ge-reja Advent memiliki kewajiban untuk menghadapkan orang mudanya pada satu visi menggairahkan tentang kehi-dupan yang penuh pengabdian dan pe-muridan serta pelayanan. Di bawah tun-tunan Roh Kudus, saat mereka mende-ngar panggilan pribadi untuk keba-ngunan dan reformasi, mereka akan me-nyadari bahwa Allah telah memberikan karunia dan talenta yang dipercayakan kepada mereka. Yesus tidak meminta mereka untuk meninggalkan semua mimpi yang telah diberikan kepada me-reka. Tidak, Ia meminta mereka memim-pikan mimpi yang lebih besar daripada hanya mendapatkan pendidikan yang baik dan membesarkan keluarga yang kuat. Ada satu dunia untuk dimenangkan bagi Kristus, dan gereja Allah memerlu-kan setiap karunia yang Ia telah tempat-kan di dalam diri orang-orang muda un-tuk menjangkau orang yang tersesat.

    Perkiraan terbaik menunjukkan bahwa kemungkinan 25.000 orang

    muda dewasa Advent di seluruh dunia sekarang memberikan satu tahun hidup mereka untuk mela-yani sebagaimana yang Anda jelas-kan. Bagaimanakah kita menarik bukan hanya orang-orang yang sa-ngat termotivasi dan yang luar bi-asa dan membuat ini lebih meru-pakan norma bagi pemuda Ad-vent? Bagaimanakah kita mencip-takan harapan bahwa 2 sampai 3 juta pemuda akan membangun hi-dup mereka di seputar kesem-patan ini?Tentunya ini memerlukan rencana yang matang dan terkoordinasi yang melibat-kan semua departemen pelayanan gereja, juga lembaga pendidikan dan pelayanan pemudanya. Kebanyakan kita mengajar-kan orang muda untuk berorientasi pada tujuan: menyelesaikan sekolah menengah atas, menyelesaikan kuliah dalam waktu sesingkat-singkatnya, lalu melanjutkan ke pengalaman profesional. Mengajak orang muda untuk menyela jalur yang sangat terfokus itu berarti membantu memba-ngun struktur pada tingkat paling dasartermasuk di sekolah-sekolah ki-tasehingga mudah dan alamiah bagi orang muda kita memilih satu tahun pe-layanan sebelum penamatan.

    Kita harus mulai membicarakan ten-tang pelayanan pada setiap kesempat-antidak hanya menunggu sampai satu minggu perekrutan misi tiba di pergu-ruan tinggi. Sejak pengalaman pelatihan kita yang mula-mula bersama anak-anak, kita harus memegang tujuan bahwa anak-anak itu suatu hari kelak harus me-lakukan suatu pekerjaan yang paling me-nyenangkan yang bisa dibayangkanmemberikan satu tahun pelayanan untuk membantu menyebarkan pekabaran tiga malaikat di suatu tempat di dunia.

    Suatu pemikiran bahwa hal seluas ini tidak bisa bergantung pada General Conference saja, bukan?Tidak, tentu tidak! Kita juga harus mem-bangun satu budaya dalam ratusan ribu jemaat Advent setempat yang akan mem-bantu mereka menyadari berapa banyak yang harus mereka perolehdalam se-gala caramulai dari menampung orang muda yang sedang melayani, dan mengi-rimkan anak-anak muda mereka sendiri

    pada satu tahun pelayanan. Kita harus berseru kepada semua gereja lokal untuk membantu membiayai inisiatif sebesar ini: Tidak ada superfund di General Conference yang cukup besar untuk me-lakukan ini semua sendirian!

    Gereja-gereja lokal mau menyokong orang muda mereka sendiri yang mem-buat satu tahun komitmen pelayanandan mereka ingin memanggil orang muda lain dari tempat lain ke rumah-ru-mah mereka kalau mau datang melayani. Tidak ada cara yang lebih baik untuk me-numbuhkan karakter dan kematangan rohani seorang pemuda yang Anda pe-dulikan daripada membantu mendukung mereka ketika mereka membuat satu ko-mitmen untuk memberikan satu tahun hidup mereka melayani gereja Allah.

    Anda mengatakan bahwa nilai dari pemikiran ini bukan hanya peker-jaan misionaris yang dilakukan oleh para orang muda ini: Tetapi juga pertumbuhan karakter yang terjadi sementara mereka melaku-kannya.Tepat sekali. Sebenarnya ada dua manfaat besar bagi gereja dari pemikiran seperti ini. Yang pertama adalah dorongan besar, kemajuan yang luar biasa, yang akan di-temukan gereja ketika ia mendorong ra-tusan ribu orang mudanya untuk mem-berikan pelajaran Alkitab, bekerja seba-gai para misionaris medis, membantu para pendeta, mengadakan kampanye penginjilan publik, dan melayani orang muda lain. Gelombang talenta dan krea-tivitas dari tahun seperti itu akan mem-buat gereja mengadopsi struktur dan aturan yang cukup longgar untuk me-nampung karunia yang Allah telah beri-kan kepada kita dalam diri orang muda itu.

    Tetapi manfaat keduaapa yang ter-jadi pada orang muda itu secara priba-dibarangkali yang memberi dampak paling bertahan lama. Jika Anda mem-bantu orang muda memberikan satu ta-hun pelayanan kepada gereja Allah, maka Anda membantu membesarkan mereka dalam pelayanan seumur hidupnya, ka-rena pelayanan akan menjadi cara hidup-nya. Dan Yesus memberitahu kita bahwa cara pelayanan itu adalah cara sukacita dan kebahagiaan yang abadi. Dalam cara

    11 - 2011 | Adventist World 9

  • SebuahOne -Day ChurchSlo Dios

    PA N O R A M A S E D U N I A

    yang sama, Allah tidak memerlukan ma-nusia untuk mengabarkan Injil Yesus: malaikat bisa melakukannyabahkan bebatuan bisa menyerukannya! Tetapi Allah mengetahui bahwa melayani orang lain mengubah segala sesuatu di dalam diri kitatujuan kita, mimpi-mimpi kita, bagaimana kita membesarkan keluarga kita, bagaimana yang kita rasakan ten-tang gereja umat sisa ini.

    Sudah seberapa dekatkah kita be-rada pada titik di mana inisiatif itu menjadi satu kenyataan bagi Ge-reja Masehi Advent Hari Ketujuh sedunia?Saya harap tidak lebih dari satu tahun. Departemen Sekretariat gereja kitadi General Conference dan tingkatan beri-kutnyaharus bekerja keras dengan me-reka yang ada di Departemen Pemuda dan Departemen Pendidikan untuk me-rancang satu program yang cukup seder-hana dan cukup jelas untuk menangkap imajinasi jutaan orang muda yang Allah panggil untuk melayani Dia. Jemaat ha-rus berubah dan beradaptasi untuk membuat satu inisiatif seperti ini dapat berguna. Tetapi berkat-berkat yang me-reka terima semuanya akan melebihi apa yang mereka lakukan sendiri. Perguruan tinggi dan universitas kita akan tersalut oleh semangat yang menyala-nyala be-gitu orang-orang mudanya kembali dari satu tahun pelayanan di beberapa komu-nitas dan bertanya, Jadi apakah yang Allah inginkan terjadi di sini?

    Allah sedang melakukan pekerjaan-Nya: Roh-Nya menggerakkan hati ba-nyak orang, mengumpulkan tenaga, memberikan karunia, memperlengkapi orang muda. Sudah waktunya bagi gere-ja-Nya melakukan tugasnya dan mene-mukan satu cara untuk menjaring po-tensi luar biasa yang Allah tempatkan di tengah-tengah kita. n

    Ted N. C. Wilson adalah Ketua GMAHK, Gen-eral Conference di Silver Spring, Maryland, U.S.A.

    Penatalayanan adalahsatu komitmen total

    Pekerjaan Gereja

    10 Adventist World | 11- 2011

    Tidak seorang pun bisa menanam kopi di sisi pegunungan ini; tidak satu pun.

    Di seberang bukit? Tidak masalah.Di bawah bukit? Tidak apa-apa.Di atas sini? Jangan pernah coba! Anginnya begitu kuat meniupkan

    pucuk-pucuk bunganya, lalu tidak akan ada buahnya! Hanya Allah yang bisa menumbuhkan kopi di sini! Slo Dios!

    Itulah tempat yang disebut semua orang sebagaiSlo Dios (Hanya Allah).

    Seorang petani muda Advent mendengar semua kata-kata yang mengecilkan hati itu, tetapi tetap datang juga. Ia mendaki bukit, membangun sebuah rumah, dan mulai bercocok tanam di bukit yang banyak anginnya itu. Tetapi gantinya menanam kopi, ia menanam buah sitrus dan cabe. Dan Slo Dios menjadi satu komunitas yang suksesdengan jemaat yang bertambah-tambah sehingga memadati dua bangunan gereja.

    Gereja pertama memiliki lantai tanah, dinding berlumpur, jendela botol, dan pemandangan yang indah. Yang kedua memiliki dinding batang kayu, lantai berlumpur, bangku seadanya, pemandangan yang menakjubkan, dan air kehidupan yang selalu menetes melalui atap berlubang. Saatnya untuk gereja yang baru.

    Hal itu membuat para remaja dari Maranathas Ultimate Workout menaiki jalan setapak yang sempit ke atas pegunungan Chiapas ini, siap membangun gereja ketigaOne Day Worship Center sisi pegunungan dengan lantai beton, tiang baja, atap baja, dan dinding batu bata dari beton.

    Para remaja itu tidak hanya membangun sebuah gerejamereka bermain bersama anak-anaknya; membagi-bagikan ratusan kilo beras, kacang, dan mangga; memimpin Vacation Bible School yang mantap; dan bernyanyi mulai matahari terbit sampai kelihatan bintang-bintang di langit.

    Slo Dios adalah satu tempat ibadah yang penuh tawa ceria dan bahagia. Hanya Allah yang bisa membangun satu gereja di atas sini!

    Ia telah melakukan pekerjaan yang hebat!

    Program One-Day Church adalah usaha kerja sama antara Gereja Masehi Advent Hari Ketujuh, Adventist-laymens Service and Industries (ASI), dan Maranatha Volunteers International. Kisah-kisah ini berasal dari juru cerita Maranatha, Dick Duerksen.

  • Saat di VanuatuJill dan Alastair McGillivray, relawan

    misionaris kawakan, adalah para penata-layan Allah yang baik. Di kepulauan Va-nuatu, Pasifik Selatan, mereka mengem-balikan, dengan mengajarkan keahlian dan talenta yang Allah berikan kepada mereka, untuk memenuhi kebutuhan da-sar dari Ni Vanuatu. Mereka berkomit-men untuk membagikan kasih Allah ke-pada orang lain.

    Kepariwisataan menggerakkan eko-nomi di Vanuatu, tetapi hanya sedikit dari kekayaan itu sampai kepada seba-

    T A M P I L A N K H U S U S

    gian besar populasi setempat. Banyak permasalahan sosial dan praktik-praktik keagamaan di kepulauan itu sekarang ini membuktikan kurangnya pendidikan Kristen. Rasa lapar fisik jarang terjadi ka-rena ada banyak buah-buahan, tetapi Ni Vanuatu kurang pendidikan dalam hal keahlian yang berguna. Di Listair Insti-tute, para siswa McGillivray lulus dengan harapan yang lebih baik bagi kehidupan mereka dan diperlengkapi dengan lebih baik untuk merawat keluarga mereka. Yang paling baik, banyak yang sudah ber-gabung dengan keluarga Allah di Listair.

    Ayah Alastair membawa keluarga itu dari Skotlandia ke Australia di tahun 1950-an dalam usaha memelihara Sabat dan tetap bekerja. Bukan hanya aksen Skotlandia Alastair dan senyumnya yang menawan yang menjadi karakteristiknya yang menonjol. Ia juga merupakan seni-man andal, dengan keahlian hampir di setiap bidang pekerjaan praktisdan se-orang yang menyukai kesempurnaan.

    Jill mendapati bahwa ia telah menja-lani mimpi masa kecilnya yang diinspira-si oleh cerita-cerita yang didengarnya se-waktu kecil di sekolah Sabat dan dari bu-ku-buku di perpustakaan gereja yang di-kelola oleh ibunya.

    Kesetiaan generasi-generasi yang te-lah lalu telah memainkan peran dalam pilihan-pilihan mereka. Jill dan Alistair keduanya dididik di Avondale College, te-tapi mereka pertama kali bertemu selagi mengajar di Carmel College di Australia Barat. Pasangan ini bisa saja memiliki ja-lur yang berbeda, tetapi mereka meres-pons pada panggilan untuk mengabdi-kan diri mereka sendiri pada pekerjaan misi dan relawan. Mereka menikah bulan Mei 1972, dan tahun berikutnya mereka berada di Samoa Barat.

    Selama 11 tahun mengajar di Samoa

    Oleh Penny Brink

    Allah mempercayakan kita dengan karunia dan berkat yang berkelimpahan. Ke-tika kita mengembalikan waktu, talenta, dan harta benda kita kepada Allah, maka itu arti-nya kita mengerti bahwa segala sesuatu adalah karunia-Nya kepada kita sejak mula pertama. Seiring semakin dekatnya Sabat Penatalayanan pada tanggal 3 De-sember 2011, bacalah dua kisah yang menginspirasikan tentang para penatala-yan yang mengerti konsep ini dengan sa-ngat baik.

    p h o t o s s U b m i t t E d b y J i l l a n d a l a s t a i r m a C g i l l i v r a y

    MemberikanSegalanyaPenatalayanan adalahsatu komitmen total

    11 - 2011 | Adventist World 11

    Atas: KUNJUNGAN KELUAR-GA: Mengorbankan tahun-tahun pensiun untuk hidup

    dan bekerja Vanuatu, Jill dan Alastair Macgillivray menik-

    mati saat yang langka de-ngan mengunjungi para cucu mereka.

    Kanan: Para Siswa Listair Institute di Vanu-atu memperbaiki perahu besar, bekerja

    di bawah the lambung kapal yang besar.

  • T A M P I L A N K H U S U S

    dan Tonga, Jill dan Alistair membawa empat dari enam anak mereka ke dunia. Setelah beberapa tahun kembali di Aus-tralia untuk keperluan medis dalam kelu-arga 12 tahun yang lalu, mereka sekali lagi merasakan panggilan ladang misi. Kali ini divisi mengajak mereka ke Aore Academy di Vanuatu. Ketika ayah Alastair meninggal dunia, ia membawa uang warisannya sendiri untuk membeli mesin-mesin, dan pelatihan pun dimulai.

    Sekolah itu dan industri perabotan-nya mempunyai nama yang harum di ko-munitas itu, dan para siswanya terus mendapatkan pekerjaan yang terbaik. Akhirnya keluarga McGillivrays merasa bahwa ada lebih banyak keterampilan yang harus diajarkan. Visi dari sekolah berdedikasi dengan infrastruktur tersedia di Santo Island, Vanuatu ini, disadari ke-tika Listair Institute membuka pintunya di tahun 2002.

    Kini, para siswa Listair mengambil kursus terakreditasi dalam pembuatan perabotan, mendirikan bangunan, dan membuat perahu. Akreditasi masa depan termasuk kursus-kursus dalam mekanik, pemasangan listrik rumah, pemasangan pipa leding, dan jahit-menjahit. Para siswa yang unggul di Listair disiapkan untuk menjadi para instruktur masa de-pan lembaga mereka. Nelson, seorang siswa berkata, Di rumah saya tidak bisa melakukan apa pun yang bergunatidak ada keterampilan. Sekarang saya ingin menyelesaikan kuliah dan menjadi seo-

    rang guru dan membantu anak muda yang lain.

    Yang terbaik dari semuanya adalah, Jill dan Alastair melakukan ini tanpa apa pun! Allah mengetahui apa yang kami perlukan, kata Jill, dan Ia menyedia-kan! Misalnya, waktu lalu ketika ia me-merlukan sayur kol untuk makan malam, Allah sediakan! Strategi pendanaan Listair satu-satunya ada dalam hubungan para pemimpin dengan Penyedia mereka.

    Bagaimanakah orang-orang memba-yar persepuluhan sedangkan mereka ti-dak memperoleh apa pun? Kami mem-bayar dengan apa pun yang ada, Jill ber-kata sesuai fakta, berbicara tentang pen-jualan perabotan, dan Alastair memper-luas makna mendasar ini terhadap pena-talayanan: Kita ini milik Allah, segala sesuatu adalah milik Allahwaktu kita, sumber daya kita, energi kita, talenta kita. Sebaiknya menyerahkan segalanya kem-bali pada-Nya.

    Waktu yang paling berharga adalah waktu senja di Listair. Jill dan Alastair menyelesaikan pekerjaan tata usaha se-mentara para siswa mengerjakan tugas rumahnya di ruangan yang sama. Dalam suasana akrab ini para siswa merasa be-bas mengajukan pertanyaan penting ten-tang kehidupan, dan kehidupan kekal. Mereka adalah keluarga kami! kata Jill. Kami kehilangan waktu bersama cucu-cucu kami yang berada jauh dari kami, tetapi kami akan menggantikannya di masa kekekalan kelak, ia dengan teguh

    mempercayainya.Alastair dengan percaya diri mene-

    gaskan bahwa, kami merasa lebih baik melakukan apa yang sudah diberikan Tu-han di hadapan kami untuk dilakukan.

    Pada hari-hari Sabat mereka semua duduk bersebelahan di bangku-bangku buatan sendiri sementara hati yang ber-syukur memberi pujian kepada Allah. Moli, siswa lain berkata, Aku belajar le-bih dari sekadar perniagaan di Listairaku belajar tentang Yesus, Penebusku.

    Ladang TuhanBayangkan halaman berpagar penuh

    dengan hewan ternak. Kawanan ternak yang padat melewati jalur berpagar me-nyebabkan debu beterbangan. Seorang pria berjaga-jaga dengan tongkat gem-bala di tangan.

    Ini adalah peternakan di Bostwana, di mana sekelompok orang dan satu orang wanita dengan saksama mengawasi se-mentara pria itu menghitung: 1, 2, 3, 4, 5, 6, 7, 8, 9, 10. Tongkat pun jatuh, secara simbolis menandai bahwa hewan ter-tentu sebagai persepuluhan Allah. He-wan itu diberi tanda dan dituntun ke kandang yang terpisah. Ini terus berlan-jut sampai sore, karena sudah musimnya, dan Mum Kegalale Gasennelwe, seo-rang dokter medis, sedang membayar persepuluhannya!

    Hewan hidup adalah semacam perse-puluhan yang amat nyataterutama di Afrika ini, di mana ternak mencakup

    Penatalayanan Kristen adalah cara ajaib di mana Allah mengembangkan iman kita di dalam Dia saat kita menguji janji-Nya untuk kehidupan sehari-hari. Roh Kudus membantu kita untuk lebih memahami penggunaan waktu, talenta, dan sumber daya kita bagi misi nubuatan gereja. Dalam melakukannya, kita belajar bersandar sepenuhnya kepada Tuhan dan melihat berkat-berkat-Nya bertambah di hadapan mata kita. Sungguh satu keistimewaan untuk percaya mutlak kepada janji Allah dan kuasa-Nya seraya melihat kehidupan rohani kita matang menantikan kedatangan Kristus yang segera tiba, ketika hasil-hasil dari penatalayan Kristen akan sepenuhnya disadari.Ted N.C. Wilson, Ketua Gereja Masehi Advent Hari Ketujuh Sedunia.

    Penatalayanan itu tentang bagaimana kita baik sebagai individu maupun sebagai komunitas iman mengatur semua sumber daya pemberian Allah. Mulai dari keuangan, sampai waktu, talenta, kesehatan kita, lingkungan, dan tanggung jawab sosial kitabagaimana kita menggunakan sumber daya kita mencerminkan komitmen rohani kita dan tanggung jawab kita kepada gereja.Kirsten Oster-Lundqvist, pendeta di Newbold Seventh-day Adventist Church, Inggris.

    Penatalayanan adalah satu penyerahan total yang berasal dari pengenalan tentang Allah sebagai Pencipta dan Pemelihara. Menjadi seorang penatalayan adalah mendedikasikan semua yang menjadi milik kitawaktu, talenta, dan sumber dayauntuk mencapai kehendak Allah.Kleber Faye, mahasiswa tingkat empat di Brazil Adventist University, dari Recife-Pernambuco, Brazil.

    Mengusahakan sesuatu untuk kebaikan orang lain adalah cara di mana kebahagiaan sejati bisa ditemukan.Ellen G. White, Counsels on Stewardship, hlm. 24, 25.

    Penatalayanan Itu?Apakah

    12 Adventist World | 11- 2011

  • simbolisme dan manfaat dalam kehi-dupan sehari-hari. Kami menggunakan ternak untuk membayar Lobola untuk pernikahan, membajak sawah, menarik kereta, menyediakan bahan bakar untuk api dan bahan bangunan atau dekorasi, Gasennelwe menjelaskan. Ternak ini menyediakan susu, makanan, pakaian, dan selimut. Sapi ini adalah substansi ke-kayaan dan status keluarga.

    Tetapi memberi persepuluhan dalam hal ternak di masa pensiunannya bukan satu-satunya cara dia mengembalikan berkat kepada Allah. Ia menjalani kehi-dupan memberi selama ini. Sesungguh-nya, sejak kecil sampai kepada posisi ke-pemimpinan di negaranya, apa yang ia capai adalah untuk kebaikan orang lain.

    Ini sepertinya menjadi pola dari me-reka yang suka memberi. Memberi itu membangun kepercayaan, kepercayaan membangun kemurahan hati, dan kehi-dupan yang berpusat kepada orang lain. Gasennelwe suka melibatkan anak-anak serta cucu-cucunya di musim persepu-luhan ini, sambil berharap bahwa suatu hari kelak itu akan diturunkan sebagai warisan keluarga kepada generasi-gene-rasi mendatang.

    Warisan ini mulai dari ayah Gasen-nelwe, yang menekankan pentingnya pe-duli dengan mereka yang kurang berun-tung. Ia tidak pernah mengecap pendi-dikan sekolah, tetapi ia membaca Alki-tabnya dua kali sehari. Penafsirannya da-lam bentuk yang paling sederhana, misi Kristus adalah agar kita mengurus janda-janda dan anak yatim piatu. Gasennelwe

    ingat ketika ibunya memasak makanan untuk anak-anak di komunitas setempat, memberikan satu teladan yang serupa. Sebenarnya, tradisi lama di Bostwana adalah bahwa bila tetangga Anda kesu-litan mengurus keluarganya, maka Anda wajib membantu dengan meminjamkan ternak kepada mereka. Kepala sukunya mungkin akan turut terlibat untuk me-mastikan bahwa Anda melakukan tugas Anda.

    Pengaruh masa kanak-kanak dan bu-daya ini telah membuat Gasennelwe te-rus memahami kebutuhan orang-orang di sekitarnya. Ia adalah Mum bagi ba-nyak orang muda setempat, dan ini memberikannya satu perasaan puas yang besar. Ia secara teratur pergi ke desa-desa sekitar bersama pelayanan jangkauan luar Advent di tempatnya, membantu di mana ada kebutuhan. Yang menonjol tiap tahun adalah pesta yang digelarnya un-tuk anak-anak komunitas, dengan ba-nyak sekali makanandan mereka se-mua suka kepadanya karena itu!

    Secara profesional, dalam pelayanan pendidikan dan kesehatan pemerintah di Bostwana, Gasennelwe memiliki satu re-putasi yang agak disukainya. Ia mengakui tidak ada yang lebih saya sukai daripada berada pada posisi di mana saya bisa me-mastikan bahwa uang tertuju langsung kepada orang-orang yang dimaksudkan untuk dibantu!

    Segalanya tidaklah selalu mudah. Ga-sennelwe mengalami kehilangan suami yang terlalu cepat, dan kemudian putra semata wayangnya. Pasti ada maksud,

    ia yakin, dan daripada menanyakan se-suatu yang tidak pernah kita dapati ja-wabnya, saya percaya saja bahwa Allah yang berkuasa.

    Gesennelwe percaya bahwa Tuhan menepati janji-Nya (Mal. 3:10). Ia me-mang menepati janji, tegasnya, Me-mang benar. Kita tidak selalu memiliki sapi-sapi ini, jelasnya. Kami mulai ber-henti memberi persepuluhan berupa kambingyang dibantu pemerintah! Suami saya mendengar bahwa para pen-deta lokal memerlukan bantuan, dan ia merasa bahwa memberikan persepu-luhan itu penting. Sekarang semua di pe-ternakan ini milik Allah, bukan hanya sa-pi-sapi. Semuanya!

    Memberi persepuluhan berkaitan dengan kepedulian kepada orang lain, tambah Gesennelwe. Jika Anda tidak dapat memberikan kepada Allah, maka Anda tidak bisa memberi kepada orang lain, dan jika Anda tidak dapat memberi kepada orang lain, maka Anda tidak da-pat memberi kepada Allah.

    Itulah kemurahan hati dan itulah yang membuatnya tetap tersenyum! n

    Kiri: PANGGILAN SAPI: Ternak Tuhan dihi-tung dan ditandai sebagai bentuk perse-puluhan di peternakan Kegalale Gasen-nelwe di Bostwana. Kanan: DI LADANG:

    Kegalale Gasennelwe, dikenal luas di Bostwana atas keahli-annya dan bekerja untuk pemerintah dalam bidang pendi-dikan dan kesehatan, juga merupakan Ibu bagi banyak orang muda setempat. Di sini, Gasennelwe sedang

    bercakap-cakap dengan Sekretaris Konferens Bostwana Selatan, Kago Rammidi.

    pa

    ko

    E

    .

    mo

    kg

    wa

    nE E

    ri

    ka

    p

    Un

    i

    Penny Brink adalah Asisten Direktur Penatala-yanan General Confe-rence, di Silver Spring,

    Maryland, Amerika Serikat.

    11 - 2011 | Adventist World 13

  • R E N U N G A N

    Waktu itu saya sedang mengunjungi sepupu saya di daerah New Cross Roads di Cape Town. Tiba-tiba saya mendengar sesuatu yang mula-mula seperti ra-dio nyaring di kejauhan. Setelah menyimak baik-baik, ternyata bukan hanya saya yang mendengar suara musik dan orang-orang yang bersukaria di bagian belakang itu; yang lain dalam ruangan itu juga mendengarnya. Nyanyiannya jadi semakin nyaring dan nyaring, dan saya mengenali lagu yang biasanya di-nyanyikan bila orang muda kembali dari masa permulaan seko-lah. Sekelompok anak laki-laki pulang ke rumah setelah bebe-rapa minggu masa pengenalan di hutan. Dalam suasana pedu-sunan dari mana ritual ini berasal biasanya ada tempat yang memadai. Garis lingkaran suci untuk taman itu, halaman ge-dung, dan bangunan lain untuk memasak, tidur, penyimpanan atau kebutuhan hidup yang biasa, menyediakan tempat yang luas.

    Namun penduduk di New Cross Roads tinggal dalam kon-disi yang amat padat. Mereka tidak memiliki ruangan untuk se-buah lapangan, belum lagi larangan bangunan dari pemerin-tahan setempat. Keadaan ini memaksa orang-orang untuk mengadakan perjalanan panjang ke desa asal mereka untuk

    dosa ditanggulangi melalui sistem pengorbanan. Namun setelah korban Yesus, sistem pengorbanan sebagai cara mengatasi dosa sekarang jadi tidak berlaku. Buku Ibrani ditulis dengan orang-orang Yahudi dan Kristen Yahudi di Diaspora sebagai para pembaca utama. Mereka tercerai berai dan khawatir karena jauh dari bait suci. Mereka tidak bisa berpartisipasi dalam upa-cara harian bait suci. Beberapa orang bahkan tidak sanggup mengadakan perjalanan sekali setahun untuk merayakan Pas-kah, yang merupakan salah satu perayaan utama orang Yahudi. Penulis mengingatkan orang-orang Kristen yang telah mene-rima Kristus ini bahwa mereka sekarang bisa masuk ke bait ku-dus surgawi melalui Kristus di mana pun mereka berada.

    menjalani ritual ini. Akan tetapi, ada orang-orang yang sudah kehilangan jejak rumah aslinya. Mereka masih melakukan upa-cara ini di kota. Banyak yang mendirikan lapangan sementara, terutama dengan maksud menyembelih korban persembahan, dan supaya membangun kembali suasana semula.

    Obat DosaKetika Adam dan Hawa berdosa di Taman Eden, seekor

    domba disembelih agar kulitnya bisa dipakaikan kepada mere-ka.1 Allah memperkenalkan ide korban untuk pertama kalinya melalui tindakan ini. Ia menetapkan korban sebagai obat dosa. Ibrani 9:1-9 menggambarkan bait suci dunia dan bagaimana

    DosaPengorbanan

    Masalah dan Penanganan

    &Oleh Michael Mxolisi Sokupa

    n i n a a l d i n t h U n E14 Adventist World | 11- 2011

  • Sementara versus PermanenSatu hal yang saya pelajari ketika mengikuti kursus perto-

    longan pertama untuk memenuhi tuntutan kelas Pemimpin Utama (Master Guide) adalah bagaimana menangani kasus ter-gigit ular. Sambil menunggu penangkal racunnya (yang meru-pakan solusi permanen melawan gigitan ular), seseorang harus mencoba mencegah racun itu menyebar ke seluruh tubuh. Jika seekor ular menggigit kaki, seseorang harus sebisa mungkin menjaga agar kaki itu tidak bergerak dan berada di bawah jan-tung, untuk meminimalkan kembalinya darah ke jantung dan organ tubuh lain. Ularnya harus diketahui agar penangkalnya bisa dicari. Waktu sangat penting di sini, karena seseorang tidak bisa menunggu berjam-jam atau berhari-hari sebelum mencari bantuan medis.

    Ketika umat manusia jatuh ke dalam dosa, Allah memulai rencana pertolongan pertama, sistem korban. Ini bukan untuk berlangsung selamanya, karena itu tidak diperuntukkan sebagai solusi permanen untuk masalah dosa. Oleh karena itu setelah genap waktunya, maka Allah mengutus Anak-Nya, yang lahir dari seorang perempuan dan takluk kepada hukum Taurat. Ia diutus untuk menebus mereka, yang takluk kepada hukum Tau-rat, supaya kita diterima menjadi anak (Galatia 4:4, 5).

    Bait Kudus DuniawiAda berbagai kategori dosa yang ditangani di bait kudus du-

    niawi. Jika seorang imam, seorang pemimpin, seorang awam, atau seluruh komunitas berdosa tanpa sengaja, ada korban yang ditetapkan harus dipersembahkan (Im. 4:1-3, 13, 22, 27). Kate-gori dosa yang lain yang dibawakan ke bait suci untuk pember-sihan individu atau kelompok termasuk dosa-dosa kelalaian (Im. 5:1, 5, 6) dan kenajisan tubuh (Bil. 19:13, 20). Sekali seta-hun dua ekor kambing dipersembahkan di bait suci, dan setelah membuang yang satu, yang lainnya akan dikorbankan untuk dosa (kambing Tuhan) dan sang imam akan menaruh tangan di atas kambing yang hidup itu dan mengakui semua kejahatan dan pemberontakan Bangsa Israel (Im. 16:7,9, 21). Ini member-sihkan bait suci dari kecemaran dosa-dosa yang diakui maupun yang tidak diakui. Maksud dari Hari Pendamaian bukan untuk memberikan pengampunan kepada mereka yang dalam pembe-rontakan mengabaikan obat yang ditawarkan. Tetapi menun-jukkan rencana Allah membersihkan bait kudus dari semua ke-jahatan dan pemberontakan yang diarahkan kepada solusi yang lebih besar. Kesetiaan kepada Allah yang diperlihatkan dengan menerima obat yang Ia sediakan, diharapkan dari semua orang yang turut dalam perjanjian dengan-Nya.

    Bait Kudus SurgawiKorban Kristus memperkenalkan satu perintah baru. De-

    ngarkan penulis Ibrani mengatakannya: betapa lebihnya darah Kristus, yang oleh Roh yang kekal telah mempersembahkan di-ri-Nya sendiri kepada Allah sebagai persembahan yang tak ber-cacat, akan menyucikan hati nurani kita dari perbuatan-per-buatan yang sia-sia, supaya kita dapat beribadah kepada Allah yang hidup! (Ibr. 9:14). Korban perlu agar pengampunan ter-jadi, satu poin lebih jauh dijelaskan pada pasal yang sama. Dan

    hampir segala sesuatu disucikan menurut hukum Taurat de-ngan darah, dan tanpa penumpahan darah tidak ada pengam-punan (ayat 22). Ketika seseorang dibawa ke rumah sakit sete-lah digigit ular, semua pembalut dibuka, dan bantuan pertama atau tim paramedis memberi jalan bagi dokter. Bila si korban meminta paramedis melanjutkan apa yang mereka sedang laku-kan maka itu artinya bunuh diri. Dokternya sekarang ada di sini, dan ia berjanji menyelesaikan masalah itu selamanya. Jadi, saudara-saudara, oleh darah Yesus kita sekarang penuh kebera-nian dapat masuk ke dalam tempat kudus, karena Ia telah mem-buka jalan yang baru dan yang hidup bagi kita melalui tabir, ya-itu diri-Nya sendiri, dan kita mempunyai seorang Imam Besar sebagai kepala Rumah Allah. Karena itu marilah kita mengha-dap Allah dengan hati yang tulus ikhlas dan keyakinan iman yang teguh, oleh karena hati kita telah dibersihkan dari hati nu-rani yang jahat dan tubuh kita telah dibasuh dengan air yang murni (Ibr. 10:19-22). Allah meminta kesetiaan hanya kepada Dia.

    Tidak Ada Tempat untuk Kesetiaan yang TerbagiJanji Allah dalam Ibrani 10:17 itu jelas: Aku tidak lagi

    mengingat dosa-dosa dan kesalahan mereka. Bila dosa-dosa kita telah diampuni, maka tuntutan hukum Allah itu digenapi. Kita bisa menyatakan kebenaran Kristus sebagai milik kita. Oleh karenanya, tidak perlu lagi dipersembahkan korban ka-rena dosa (ayat 18). Kesetiaan kita kepada Kristus tidak mem-buat kita tetap dalam aturan yang lama. Baru-baru ini saya ber-peran serta dalam mengusir roh jahat. Ketika masuk ke dalam ruangan di mana korban roh jahat dipegang oleh dua pria kuat dari kedua sisi dengan para pendeta berada di sekelilingnya, ia meronta. Kami berdoa sampai ia tenang. Kami tiba pada titik di mana kami harus memastikan bahwa ia sadar, dan kami me-minta dia untuk berdoa dan memanggil nama Yesus sendiri. Dalam melakukan itu ia menyatakan kesetiaannya kepada Allah dan mengusir roh jahat yang mengendalikan hidupnya. Paulus di Efesus mengingatkan orang-orang percaya untuk menang-galkan manusia lama dan mengenakan manusia baru (Ef. 4:22-24). Setelah Allah telah mengubah kita dengan cara ini, maka tidak akan ada lagi tempat bagi kesetiaan yang terbagi.

    Allah ingin kita bersungguh-sungguh kepada-Nya. Ia telah menyediakan satu-satunya solusi permanen kepada masalah dosa. Setan juga tertarik dengan kesetiaan kita. Ia tidak kebe-ratan berbagi kesetiaan dengan Allah. Tetapi Allah kita adalah Tuhan dari segalanya atau bukan Tuhan sama sekali. Ia me-minta kesetiaan yang utuh kepada rencana yang Ia telah tetap-kan sejak permulaan dunia ini. n1 Ini disinggung dalam Kejadian 3:21.

    Michael Mxolisi Sokupa, Ph.D., adalah seorang dosen New Testament di Helderberg College, Afrika Selatan. Ia menikah dengan Zanele dan memiliki tiga orang anak.

    11 - 2011 | Adventist World 15

  • Apartheid di Afrika SelatanBagi siapa pun yang lahir di Afrika Selatan setelah Perang

    Dunia II, apartheid merupakan paradigma hidup yang menca-kup segala kehidupan, yang bertujuan untuk benar-benar memilah-milah ras yang berbeda dan memisahkannya. Ini di-mulai secara resmi pada tahun 1948 ketika Partai Nasional me-menangkan pemilihan di Afrika Selatan dan mulai memaksa-kan satu aturan pemisahan, atau apartheid, yang pada intinya berisi ideologi keunggulan orang kulit putih. Peraturan itu se-cara formal berakhir pada tahun 1994 setelah pemilihan multi-rasial yang pertama kali.

    Tentu saja pemisahan ras itu bukan merupakan penemuan Afrika Selatan yang baru. Pemisahan ras itu merupakan ciri yang menonjol bahkan sebelum era penjajahan dan merupakan satu realitas di banyak bagian dunia. Namun demikian apar-theid sebagai peraturan resmi, yang membentuk dasar untuk menguasai satu bangsa, merupakan satu hal yang baru. Perun-dang-undangan mengelompokkan populasi ke dalam empat ke-lompok ras, termasuk Native atau Kulit Hitam, Kulit Putih,

    C E R I TA S A M P U L

    Jadi ke manakah kita harus pergi?

    Sepertinya satu pertanyaan yang cukup sederhana, tetapi bagi sekelompok mahasiswa kelihatannya berusaha men-cari sesuatu untuk dilakukan di luar kampus di tahun 1989 merupakan satu situasi yang canggung. Helderberg College, berlokasi di Cape Province yang indah di Afrika Selatan, di sisi pegunungan Helderberg dan memberikan satu pemandangan yang menakjubkan dari Samudera India. Jadi perjalanan me-nuju pantai atau berjalan-jalan di Helderberg Nature Reserve merupakan pilihan alam bagi aktivitas Sabat sore. Akan tetapi, kami mendapat satu masalahkami adalah kelompok maha-siswa campurankebanyakan berkulit putih, dengan beberapa coloureds (campuran), seorang kulit hitam, dan seorang India. Meskipun apartheid sudah lama sirna, beberapa hal masih sulit hilang. Plang tanda di Strand Beach masih menyatakan Bagi Kulit Putih Saja.

    p h o t o s b y E d w a r d a . a p p o l l i s

    C o U r t E s y h E l d E r b E r g C o l l E g E

    16 Adventist World | 11- 2011

    More ThanDeep*SknPelajaran untuk dipelajari

    dari bangku kuliah dalam hal transformasi

    Oleh Chantal and Gerald Klingbeil

  • kolah itu melayani hanya komunitas Advent berkulit putih saja. Seberapa dalamnya nilai-nilai apartheid tertanam dalam hati dan pikiran para anggota terlihat jelas. Ketika pada tahun 1960-an Alwun du Preez, mahasiswa tidak berkulit putih pertama, masuk ke Helderberg College, ia tidak diperkenankan tinggal di kampus dan tidak bisa menggunakan fasilitas perkuliahan se-lain ruangan kelas dan perpustakaan. Ia juga tidak diizinkan untuk menghadiri upacara penamatan atau berfoto bersama de-ngan kelas lulusan.

    Banyak anggota dan pengurus barangkali percaya bahwa hukum apartheid yang keras tidak memberikan mereka pilihan lain dalam menjalankan satu perguruan tinggi di Afrika Sela-tan. Seberapa jauhnya Helderberg College bisa secara sah men-jalankan model persaudaraan Kristen tidak pernah diuji. Fakta bahwa mungkin ada lebih banyak pilihan untuk menjadi para pemimpin dan bukan pengikut diperlihatkan dalam pertukaran tempat yang mengejutkan antara Helderberg College dan otori-tas pendidikan pemerintah. Pada tahun 1971 Robert Hall, seo-rang mahasiswa kulit hitam dari negara tetangga, Zimbabwe, diizinkan untuk menyelesaikan gelar pendidikannya di Helder-berg College di bawah kondisi yang sama seperti du Preez. Ke-tika mengajukan izin khusus untuk mengakui Hall, perguruan itu mendapat jawaban penegasan yang mengejutkan juga be-rupa penjelasan bahwa tidak ada aturan pemerintah untuk tu-rut campur dalam pelatihan para pendeta dari denominasi mana pun. 2

    Pada saat ini perubahan sosial yang luar biasa terjadi di Af-rika Selatan. Demonstrasi-demonstrasi dan kerusuhan meng-goncang fondasi sistem apartheid. Perubahan sosial dan situasi perekonomian yang merosot mempengaruhi Helderberg Col-lege, dan sejak tahun 1972 ada gerakan-gerakan yang bersifat sementara ke arah mengintegrasikan coloured students (siswa campuran) belajar teologi. Coloured students pertama masuk di tahun 1974. Mereka juga tidak bisa diterima di kampus, dan di-larang ke perpustakaan dan ruangan kelas, tetapi mereka diizin-kan lulus bersama rekan sekelas.

    Selama tahun 1970-an dan 1980-an apartheid membangun diri kembali karena tekanan-tekanan internal dan internasional yang meningkat, juga kesulitan ekonomi. Sebuah parlemen tri-cameral yang mengizinkan perwakilan suku campuran dan orang Asia dibentuk pada tahun 1983, dan hukum yang dibenci itu dihapuskan pada tahun 1986. Ini juga merupakan masa ke-kerasan politik terburuk.

    Coloureds, (atau campuran), dan Orang Asia atau India. Daerah-daerah penduduk, pendidikan, perawatan medis, pan-tai-pantai, dan layanan publik lainnya dipisah-pisahkan. Mulai pada tahun 1970, orang kulit hitam mencabut kewarganegaraan mereka dan secara sah menjadi warga negara salah satu dari 10 daerah kesukuan yang berdiri sendiri. Pergerakan populasi kulit hitam dibatasi karena memerlukan izin khusus menemukan pe-kerjaan di kota-kota. Ini artinya bahwa keluarga-keluarga se-ringkali dipisahkan bila ayah mereka pergi bekerja di kota-kota dan para istri beserta anak-anak harus hidup di kampung hala-man karena aturan kependudukan.

    Helderberg College Selama ApartheidSesuatu yang mencakup segala bidang seperti apartheid

    ini mau tidak mau membuat dampak besar bagi Gereja Ma-sehi Advent Hari Ketujuh. Selama tahun 1890-an ketika orang Advent memulai misi mereka di Afrika Selatan, ma-syarakat sudah secara tidak resmi terbagi-bagi dalam batas-batas ras.

    Kendati dengan lingkungan sosial demikian, para pio-nir dan pendidik Advent mula-mula tampaknya sudah memiliki visi awal yang lebih luas daripada kebanyakan

    masyarakat. Catatan menunjukkan bahwa sedikitnya seorang mahasiswa kulit hitam dan beberapa coloured students (siswa campuran) terdaftar di Claremont Union College, salah satu dari dua institusi pendidikan pendahulu dari Helderberg College, yang didirikan tahun 1892. Setelah sekolah ini dipindahkan ke lokasi terpencil dan diubah namanya menjadi Spion Kop Col-lege, para mahasiswa juga diajarkan Bahasa Zulu, salah satu dari dua bahasa daerah paling menonjol di Afrika Selatan. Para pe-ngajarnya pasti memiliki satu pandangan yang tertuju pada mi-si.1

    Spion Kop College ternyata terlalu terpencil dan hanya melu-luskan 32 mahasiswa. Satu tempat baru diperlukan bagi pendi-dikan Advent di Afrika Selatan, dan pada tahun 1928 Helder-berg College membuka pintunya di kampus yang berlokasi ideal sekarang ini.

    Perguruan itu memiliki rumah baru dan lagu tema baru. Lagu itu didahului dengan baris kata Hail Helderberg, the Light of Africa. Ini adalah satu tugas yang serius bagi staf pengajar dan mahasiswa. Sebelum pecahnya Perang Dunia II, alumni Helderberg melayani di seluruh Afrika.

    Dengan penerapan sangsi internasional di Afrika Selatan, Helderberg College tidak bisa lagi melatih dan mengirim para misionaris Afrika. Tanpa misi ini, fokus pergerakan dan masya-rakat dan politik secara halus menjadi norma-norma yang ber-laku di perguruan itu. Gantinya menjadi terang bagi Afrika, se-

    Dari Kiri ke Kanan: DULU: Claremont Union College di ta-hun 1917. Merupakan pendahulu Helderberg College. KE-LAS TAHUN 2010: anggota kelas tamatan tahun 2010 ber-pose dalam foto kelompok sebelum meninggalkan kam-pus untuk melayani dalam nama Kristus. CIRI KHAS KAM-PUS: Gereja Helderberg College adalah lokasi kampus yang dikenal baik.

    *More Than Skin Deep adalah ungkapan dalam Bahasa Inggris yang berarti tindakan atau penilaian kita janganlah hanya sekadar atau dikulitnya saja (tidak murni), tetapi harus lebih dalam, sepenuhnya, murni/sejati. Harus lebih dalam dari kulit!

    11 - 2011 | Adventist World 17

    More ThanDeep*

  • Perubahan NyataBulan Februari tahun 1990 Presiden Afrika Selatan F.W. de

    Klerk mengumumkan pelepasan Nelson Mandela dari penjara, dan proses yang pelan dalam membongkar sistem apartheid resmi dimulai. Pada tanggal 27 April 1994, diadakan pemilihan demokrasi yang pertama kalinya di Afrika Selatan, dengan me-reka yang dari segala ras, diperbolehkan memberikan suara.

    Di tengah perubahan luar biasa ini The Theology Depart-ment of Bethel College (mis., the Black Adventist College) ditutup tahun 1991, dan semua mahasiswa teologi dipindahkan sebagai mahasiswa penuh ke Helderberg College.

    Kenangan tentang antrean panjang orang yang dengan sa-bar menunggu memberikan suara untuk pertama kalinya pada tahun 1994 saat semua ras memilih, itu masih jelas. Sejak saat itu, negara itu dan Gereja Masehi Advent Hari Ketujuh telah membuat langkah-langkah besar, mencoba mengubah ke-nyataan-kenyataan politis, sosial, dan ekonomi yang sudah lama berakar.

    Transformasi juga telah memindahkan Helderberg College. Integrasi dari beraneka ragam etnis staf pengajar menjadi satu prioritas penting. Pada tahun 2005 Gerald du Preez menjadi rektor pertama dengan ras campuran di sekolah itu, diikuti pada tahun 2010 oleh Tankiso Letseli, rektor kulit hitam per-tama di Helderberg College. Ketika Letseli menerima panggilan untuk menjadi ketua baru di Southern Africa Union Conference di awal tahun 2011, Paul Shongwe menjadi rektor berkulit hi-tam kedua dari Helderberg College.

    Hampir 18 tahun setelah pemilihan bersejarah pertama itu, sekolah ini melanjutkan proses tranformasinya. Kini sekolah tersebut membanggakan staf pengajar internasional yang bera-neka ragam dalam tiga fakultas (seni, bisnis dan teologi). Salah satu tantangan yang terus dihadapi sekolah itu adalah masalah kepemilikan. Sekolah itu mencoba menyelesaikan masalah pe-nerimaan oleh konstituensinya yang beraneka ragam dan ko-munitas melalui dinamika cakupan pelajaran akademis yang baru yang ditawarkan untuk memenuhi kebutuhan yang dipan-dang perlu. Penerimaan siswa bertambah ketika badan kema-

    hasiswaan semakin mencerminkan demografis negara itu.Sambil menyediakan pendidikan berkualitas, Helderberg

    College juga melayani, sebagai contoh peran dinamis untuk ber-gabungnya institusi-institusi yang telah berkembang secara ter-pisah. Meskipun memang benar bahwa kerangka pemikiran dan sikap yang ditanamkan selama beberapa generasi tidak bisa diubahkan dalam semalam, Helderberg College melatih orang muda Advent untuk melihat dibalik perbedaan warna kulit dan ras dan melihat orang-orangnya. Sekolah itu tidak berusaha menjadi tempat penyatuan budaya. Tetapi diri sendiri, baik staf maupun siswa sebagai para penyinggah dalam satu perjalanan pencarian yang menjangkau lebih jauh dari akademis. Sebagian dari pendidikan Advent adalah belajar melihat dan menghargai budaya yang berbeda-beda. Juga melibatkan pengenalan diri karena masing-masing memiliki kesempatan untuk lebih menghargai aspek-aspek positif mereka dan menyadari titik le-mah budaya mereka sendiri. Di atas semua ini melibatkan pe-nemuan tentang kuasa kasih Allah yang bisa mengikat semua orang dalam satu tujuan dan misi yang sama.

    Pelajaran-pelajaran yang Bisa DipetikPerubahan tidak terjadi hanya di Afrika Selatan. Perubahan

    adalah satu kenyataan di seluruh dunia. Apa yang bisa dilaku-kan lembaga-lembaga Advent saat mendapati diri mereka sen-diri di lautan perubahan sosial ini? Apa yang bisa kita pelajari dari perjalanan Helderberg College?

    1. Bacalah instruksinya lebih dahulu: Banyak orang tidak membaca instruksi. Mereka merasa sudah cukup mengetahui apa kegunaan produknya, lalu berlalu begitu saja. Seringkali mereka terpaksa memungut lembaran instruksinya dari tempat sampah. Kadang-kadang sudah terlalu terlambat untuk mem-perbaiki.

    Yesus pernah memberitahukan satu kisah yang serupa. Bu-kan tentang instruksitetapi tentang fondasi. Ingat orang yang membangun di pasir (Mat. 7:24-27)? Sayangnya, kita semua se-ring ikut membangun di fondasi berpasir ketika antusiasme kita melampaui tugas penting menemukan tuntunan apa yang Allah

    18 Adventist World | 11- 2011

    Dari Kiri ke Kanan: BADAN SISWA: Para siswa Claremont College pada acara tamasya di tahun 1917. TUAN PRESIDEN: Paul Shongwe, Rektor Helderberg College, adalah orang kulit hitam kedua yang melayani di posisi itu. JANG-KAUAN KELUAR KOMUNITAS: Para mahasiswa dari Helderberg College mengunjungi komunitas ini sebagai bagian dari Mfu-leni Transforming Outreach.

  • telah sediakan bagi institusi dan usaha kita. Kita memerlukan teologi yang jelas dan visi yang jelas sebelum mulai masuk ke dalam bangunan atau mengelola restoran vegetaris, pusat komunitas, per-cetakan, kelompok pemuda, sekolah dasar, klinik, atau universitas.

    Pada kasus Helderberg College, kepemimpinan dan kaum awam tentunya akan berdiri lebih teguh membuat keputusan selama era apartheid jika me-reka mempertanyakan kecenderungan sosial saat itu dan menyelidik Firman Allah dan meminta nasihat mendetil dari Roh Nubuat. Jika kita tidak secara aktif mencoba menemukan kehendak Allah, maka kita se-cara alamiah mengikuti arus. Ideologi yang saat itu di-anut masyarakat akan menjadi norma-norma pelaksa-

    naan kita.2. Proaktifbukan reaktif: Jika kita ingin proaktif, maka kita

    perlu memiliki satu pemahaman yang jelas tentang kehendak Allah bagi hidup kita. Sebenarnya, Yesus mengingatkan tentang panggilan kita untuk menjadi garam dunia (Mat. 5:13).

    Di Afrika Selatan, Gereja Masehi Advent Hari Ketujuh se-cara struktur terbagi menurut garis ras sebelum pengenalan resmi apartheid di tahun 1948 dan mencerminkan apa yang se-dang terjadi dalam masyarakat pada saat itu.

    Letseli mengatakannya seperti ini: Jangan tunggu ling -kung an mendikte Anda, karena Anda akan terbawa oleh peris-tiwa-peristiwa. Adakan transformasi. Dunia itu senantiasa ber-ubah. Saya percaya pendidikan kita harus menyiapkan kita un-tuk menjadi agen-agen perubahan, bukan hanya merespons pada model-model yang berlaku.

    3. Jangan lupa misi kita: Menjadi seorang Advent atau men-jalankan institusi Advent dalam iklim politik tertentu bisa men-jadi satu tindakan penyeimbang yang halus. Kadang-kadang ke-bijaksanaan dan akomodasi besar diperlukan untuk menghin-dar dari ditutupnya pekerjaan dengan mengambil langkah kon-troversial. Di lain pihak, kita tidak ingin berhenti mengajarkan Injil karena takut dengan reaksi politik atau sosial.

    Pengaruh kepemimpinan tidak boleh berlebihan. Philip Wessels, seorang pionir Advent Afrika Selatan, menulis kepada Ellen White di tahun 1893: Ada garis warna kulit yang jelas se-kali terlihat di dalam masyarakat ini. Saya sendiri tidak peduli. Saya bisa berjabat tangan dengan orang-orang berwarna dan la-innya. Tetapi pergaulan kami dengan mereka akan mengganggu pengaruh kami kepada orang lain yang tidak terbiasa dengan hal-hal ini .... Untuk memiliki pengaruh dengan golongan atas, kita harus menghargai perbedaan ini.3

    Wessels memutuskan daripada mengambil sikap moral ten-tang persamaan ras, ia akan mempertahankan setidaknya dari luar, nilai-nilai budaya sekitarnya supaya bisa menjangkau ba-gian masyarakat tertentu kepada Injil. Sayangnya, arah kepe-mimpinan ini menjadi patokan bagi pekerjaan Advent di Afrika Selatan.

    Kita tidak boleh lupa misi kita untuk menjangkau semua orang. Ini berarti berjalan di garis tipis antara berbagai kelom-pok atau kesatuan politik yang mengasingkan diri. Dalam bebe-rapa hal dengan tidak membicarakan dalam menentang bebe-

    rapa praktik budaya yang telah diterima, dapat berarti membi-carakannya dengan sikap diam kita.

    Transformasi adalah Urusan HatiOrang Advent mengerti bahwa transformasi itu erat berka-

    itan dengan pertobatan. Yang tidak benar dinyatakan benar. Orang berdosa menjadi anak Allah. Yang hilang ditemukan. Itu adalah proses hati. Hal itu tidak pernah menjadi urusan politik karena pikiran kita harus diperbarui. Sistem politik datang dan pergi. Nilai-nilai masyarakat terus berubah-ubah. Sikap me-mentingkan diri, prasangka ras, kesombongan, penyalahguna-an, kecemburuan, dan ketamakan akan menemukan bentuk ekspresi baru yang secara politik benar saat iklim sosial beru-bah. Transformasi di bawah tuntunan Roh Kudus bukanlah satu proses yang terjadi oleh paksaan, ancaman, atau kekerasan. Gerald du Preez mengingatkan kita, Kita harus menyadari bahwa untuk masing-masing kita, di mana kita mendapati diri dalam transformasi, perlu waktu sejenak bagi kita untuk sampai di sana. Yang lain harus sabar dengan kita saat kita bergerak ke mana kita berada sekarang. Kita harus memberikan kesabaran yang sama kepada orang lain.

    Selama upacara penamatan tahun 2007, transformasi tam-pak dikuatkan di Helderberg College. Alwyn du Preez dan Ro-bert Hall, yang tidak pernah diizinkan secara resmi lulus, me-langkah di lorong Anderson Hall dan menerima diploma me-reka dan disambut meriahhampir 40 tahun setelah mereka menyelesaikan gelar. Yang salah telah dibuat jadi benar secara publik. Transformasi telah menjadi nyatadan telah menyatu-kan satu komunitas baru.

    Paul Shongwe, Rektor Helderberg College saat ini, menggu-nakan kiasan berguna ini: Semakin dekat kita datang kepada Allah, maka akan semakin baik kita berhubungan satu sama lain... Allah menjadi pusatnya. Transformasi Alkitab benar-be-nar berpusat kepada Allah dan melibatkan perubahan pemi-kiran. Yehezkiel meringkaskannya dengan baik: Kamu akan Kuberikan hati yang baru, dan roh yang baru di dalam batinmu dan Aku akan menjauhkan dari tubuhmu hati yang keras dan Kuberikan kepadamu hati yang taat (36:26). n1 Ringkasan dari sejarah mula-mula Helderberg College bisa ditemukan dalam D.F. Neufield, ed., Seventh-day Adventist Encyclopedia (Washingtong, D.C.: Review and Herald Publishing Association, 1996), vol. 10, hlm. 686-688.2 I.F. du Preez dan Roy H. du Pre, A Century of Good Hope: A History of the Good Hope Conference, Its Educational Institutions and Early Workers, 1893-1993 (London Timur: Western ResearchGroup/ Southern History Association, 1994), hlm. 109-113. Kita mendapat manfaat dari membaca Jeff Crocombe, :The Seventh-day Adventist Church in Southern AfricaRace Relations and Apartheid (paper presented at Associatioon of Seventh-day Adventist Historians meeting, Oakwood College, 2007).3 Phillip Wessels kepada Ellen G. White, 14 Jan. 1893.

    Chantal dan Gerald Klingbeil menulis dari Silver Spring, Maryland, AS., di mana Gerald melayani seba-gai Associate Editor Adventist World

    sementara Chantal mengajar ketiga putri mereka di rumah. Helderberg College memiliki tempat istimewa di hati mereka, karena mereka pertama kali bertemu di kampus itu dan menikah di Afrika Selatan. Mereka masih ingat memberikan suara pada pemilihan suara pertama yang mencakup semua ras di tahun 1994.

    11 - 2011 | Adventist World 19

  • K E P E R C A Y A A N D A S A R

    Tanggal 21 Mei, 2011, pukul 6 pe-tang, dunia tidak ingin meng-akhir inyasuatu hal dramatis yang meninggalkan banyak ruang bagi para peramal baru, juga para pelanggar.*

    Orang-orang Advent, diajar dan di-bentuk oleh peristiwa-peristiwa tahun 1830-1861, dan yang tidak melupakan cara Tuhan menuntun dalam sejarah kita, masih memiliki sesuatu untuk di-ajarkan, secara spesifik, kepada sesama orang Kristen. Satu kebenaran bagi se-mua orang tentang Mayday terakhir adalah bahwa kita semua masih harus berencana untuk hari esok kita.

    Peristiwa-peristiwanya penting atau kurang penting, atau sangat penting. Se-lingan hidup yang tidak penting (rasa es krim dan gaya rantai kunci) dan yang mendesak (jadwal-jadwal pulang pergi, persiapan pernikahan akhir, atau hadiah yang sangat perlu bagi orang-orang yang kita lupakan, yang mengingat kita pada Natal) sebenarnya mungkin penting. Te-tapi di balik hal-hal sepele, dan bahkan di balik kejamnya hal yang mendesak itu, ada yang sangat diperlukan. Itulah apa yang Yesus ingin agar kita fokuskan ke-tika Ia meminta kita untuk menyerahkan beban jiwa kita (Mat. 16:16; Mrk. 8:36). Kekristenan bukanlah isapan jempol be-laka. Itu artinya mempelajari pasar masa depan, memikirkan tentang hari esok, dan mengamankan milik Anda sekarang.

    Nasihat Akhir ZamanTragisnya, beberapa pemikiran Kris-

    ten yang terdidik telah mengurangi apa yang tadinya bersifat mendasar menjadi hal yang kurang penting. Kita telah membaca nasihat Yesus tentang persi-apan dan menguranginya untuk kese-nangan akademis dengan angka kecil dan besar. Menjawab pertanyaan murid-mu-rid-Nya tentang Yerusalem yang mereka kasihi, Yesus mendapatkan berita penda-hulu tentang bagaimana orang-orang di tahun 2011 bisa mengamankan masa de-pan mereka. Ini karena bagi-Nya masa depan yang aman itu selalu merupakan hal penting. Ia berulangkali menjanjikan hari esok yang hebat, dan bahkan seka-rang ini, bagi semua orang yang mau me-milih Dia hari ini: Kehidupan kekal

    (Yoh. 3:16), kerajaan sorga (Mat. 5:10), masa ini juga menerima seratus kali lipatdengan penganiayaandan pada zaman yang akan datang akan me-nerima hidup yang kekal (Mrk. 10:30).

    Tetapi apa yang sebagian besar kita ingat Yesus katakan tentang persiapan untuk hari esok adalah bahwa akan ada tanda-tanda dari sorga, dan kesulitan du-nia, dan penipuan keagamaan, dan orang-orang yang ketakutan sebagai bukti bahwa kedatangan-Nya sudah de-kat (Mat. 24:5-14, 29; Lukas 21:25, 26). Beberapa orang bersikeras bahwa menu-rut ramalan ini, bencana-bencana alam di bumi semakin banyak mendekati ak-hir zaman. Sementara itu, yang lain me-nolak pernyataan apa pun bahwa pola maupun alasan dapat ditemukan dalam kegalauan elemen-elemen yang meng-goncang hidup dan dunia kita.

    Menilai dari semua ini, maksud Yesus untuk memberikan nasihat-Nya tentang hari esok adalah untuk menarik anak-anak-Nya kepada permainan kecil pen-jumlahan dan pengurangan, menghitung jumlah, intensitas, dan penyebar luasan bencana alam, untuk membuktikan ada 10 yang cukup besar sekarang ini diban-dingkan dengan sembilan setengah di hari esok! 20.000 korban tsunami Jepang

    lebih banyak dari 300 korban tornado di Tennessee. Percekcokan umat Kristen yang aneh ini, tentang besarnya, jumlah-nya, dan intensitas tsunami, topan, dan peledakan bom mungkin bisa menuntun pada, atau berdasar pada, pemikiran yang diperoleh Allah atau orang Kristen dari memperdebatkan kekerasan relatif dan bencana modern, atau kekejaman kuno Bangsa Asiria dan Sadam modern, Hitler, dan Stalin. Sepertinya tidak mungkin Yesus maksudkan permainan-permainan perhitungan ini untuk men-jadi bagian dari rencana kita untuk hari esok. Atau bahwa belajar Alkitab ber-sama dengan membaca koran dirancang untuk mengilhami argumen tentang be-rapa banyak lagi yang harus mati atau yang seharusnya mati, berapa banyak bala kelaparan, pedofilia, atau pemerasan sebelum Yesus kembali.

    Akhir yang Berfokus pada Kristus

    Gantinya, kata-kata Yesus mengarah kepada penderitaan di seputar dan di da-lam diri kita sebagai bukti yang bisa dite-mukan di mana-mana tentang situasi manusia yang menyedihkan. Semua itu memberikan bukti yang meyakinkan ten-tang kefanaan umat manusia dan alam

    SepanjangUmur

    Hidupmu

    PA S A L 2 5

    Merencanakan kenyataan hari esokOleh Lael Caesar

    20 Adventist World | 11- 2011

  • yang menyedihkan bila berada di luar dari Dia. Maksud Yesus adalah agar kita meraih keunikan-Nya sebagai satu-satu-nya pengharapan umat manusia. Karena Dialah satu-satunya yang bisa menyela-matkan masa depan kita. Kita ini fana; Dia kekal. Kita lemah; Ia menakjubkan. Kita putus asa; Ia pertolongan kita di masa kesukaran. Kita bukan siapa-siapa; Ia adalah segalanya. Dan Ia berkata ke-pada kita, Anak-anak-Ku, biarkan Aku selamatkan masa depanmu. Kapan pun kau melihat ke sekitarmu, bukan hanya selalu, tetapi lebih dari sebelumnya de-ngan berlalunya waktu dan kegenapan waktu nubuatan, ketika kau melihat ke-kacauan di alam, kepanikan bangsa-bangsa sebelum segala sesuatu yang akan datanghal-hal fisik, hal-hal militer, hal-hal ekonomiApabila semuanya itu mu-lai terjadi, bangkitlah dan angkatlah mu-kamu, sebab penyelamatanmu sudah de-kat [Lukas 21:28]. Jadi angkat sangka-kala dan bunyikan dengan nyaring, Yesus akan datang lagi! Itulah hari esok kita; itulah pengharapan kita; itulah investasi terbaik kita; itulah keselamatan kita.

    Ini hanyalah suatu hal yang Yesus su-ruh agar disampaikan oleh Paulus dan Yohanes berabad-abad sebelum kege-napan ramalan 2300 hari dalam buku

    Daniel (1 Tes. 4:13-18; Wahyu 22:6-10). Kegenapan nubuatan tidak secara tiba-ti-ba membenarkan untuk memandang ke-pada Yesus dan menjauhi diri. Tetapi, nu-buatan yang diramalkan memperlihatkan kepada para pengamat jujur, tentang ke-benaran mutlak dari Firman Allah yang tangan-Nya memegang waktu dan mu-sim, yang mata-Nya melihat akhir dari permulaan, yang hati-Nya peduli tentang hari esok saya, hari esokmu, dan hari esok semua orang. Kita selalu diharapkan memandang kepada Dia dan menjauhi diri kita sendiri. Hari esokmu itu Saya, kata-Nya. Hatimu tidak boleh khawatir sementara yang lain gagal karena takut; kau percaya kepada Allah, percaya bahwa Aku layak. Pastikan kau menyelamatkan masa depanmu sekarang, selama hari ke-selamatan itu [2 Kor. 6:2]. Akulah TU-HAN dan tidak ada juruselamat selain dari pada-Ku [Yes. 43:11]. Dan Aku kem-bali untuk menerimamu agar kita bisa se-lalu bersama-sama!

    Semua analisis khotbah Yesus tentang akhir zaman dalam Matius 24 dan Lukas 21 harus menyertakan segala hubungan menyeluruh ini antara ramalan-ramalan-Nya tentang bencana alam, ekonomi, po-litik, dan rohani, dan kejadian iklim dari kedatangan-Nya yang kedua kali. Yesus

    tidak menganjurkan penghitungan jum-lah kejadian dan kekacauan sebagai pe-nandanya. Gantinya, Dia yang mengha-puskan noda masa lalu kita memastikan masa depan kita dan mendesak semua orang untuk menyelamatkan masa depan mereka, dengan berinvestasi di dalam Dia sekarang, untuk hari esok, dan sela-ma-lamanya. Itu jauh lebih berguna dan lebih bermanfaat daripada berkutat di se-putar berapa banyak yang tidak mati dan yang mati dari amukan Setan yang terak-hir. Dan begitu pentingnya bagi sisa hi-dup kita. n

    *Saat saya menulis, beberapa menunggu tanggal akhir dunia (IIoward CampingOctober 21 end-of-the-world date). Lihat http://www.nytimes.com/2011/05/24/us/24rapture.html

    Lael Caesar adalah seorang associate editor yang baru-baru ini ber-gabung dengan kelu-

    arga editor Adventist World setelah lebih dari 15 tahun melayani sebagai profesor agama di Andrews University, AS

    Maksud Yesus adalah agar kita merangkul keunikan-Nya sebagai satu-satunya pengharapan umat manusia.

    11 - 2011 | Adventist World 21

    Kedatangan Kristus yang kedua kali adalah pengharapan berkat dari gereja, puncak Injil yang agung. Kedatangan Juruselamat itu bersifat harfiah, pribadi, terlihat, dan di seluruh dunia. Ketika Ia kembali, orang benar yang telah mati akan dibangkitkan. Dan bersama-sama dengan orang benar yang hidup akan dimuliakan dan dibawa ke surga, tetapi orang yang tidak benar akan mati. Kegenapan dari hampir semua baris nubuatan yang mendekati sempurna, serta kondisi dunia yang sekarang ini, mengindikasikan bahwa kedatangan Kristus sudah dekat. Waktu kejadian itu tidak dinyatakan, dan oleh karenanya kita didesak untuk siap kapan pun juga. (Titus 2:13; Ibr. 9:28; Yoh. 14:1-3; Kis. 1:9-11; Mat. 24:14; Why. 1:7 Mat. 24:43, 44; 1 Tes. 4:13-18; 1 Kor. 15:51-54; 2 Tes. 1:7-10; 2:8; Why. 14:14-20; 19:11-21; Mat. 24; Mrk. 13; Luk. 21; 2 Tim. 3:1-5; 1 Tes. 5:1-6).

    Kedatangan Kristuske d ua ka l i

  • R O H N U B U A T

    Aku mengirimkan buku ini kepadamu dengan harapan agar catatan tentang pelayanan yang tak kenal lelah di dalamnya memberikan keberanian kepadamu untuk bertahan sampai konflik berakhir. Demikian tulis Ellen White saat ia merayakan ulang tahunnya yang ke delapan puluh empat dengan mengirimkan salinan buku Kisah Para Rasul yang baru diterbitkan, kepada beberapa teman dekat dan rekan kerja.

    Menjawab Satu KebutuhanSelama lebih dari satu dasawarsa Ellen White memiliki ke-

    inginan untuk merevisi Sketches From the Life of Paul yang su-dah dicetak tahun 1883. Kisah dari Kisah Para Rasul membawa kita kembali kepada buku dengan 334 halaman itu dan sejarah-nya.

    Pelajaran sekolah Sabat kita di tahun 1881 dan 1882 me-nampilkan kehidupan Kristus, dan pada triwulan kedua tahun 1883 dijadwalkan untuk dipindahkan ke dalam kitab Kisah Para

    KisahBukuRasul ParaHadiah berumur 100 tahun

    E l l E n g . w h i t E E s t a t E

    22 Adventist World | 11- 2011

    Top: HADIAH ULANG TAHUN: Salinan surat Ellen White yang di-kirim kepada putranya yang menyuruh dia untuk memberikan sa-linan buku terbarunya kepada teman-teman dan koleganya.Bawah: Masing-masing buku disertai dengan tanda tangan pada halaman terdepan.

  • Rasul dan pelayanan Paulus. Para pemimpin gereja menyaran-kan komentar terkenal dari W.J. Conybeare dan J.S. Howson se-bagai bantuan bagi para anggota dalam pembelajarannya. Ellen White sendiri telah menggunakan karya mereka dalam tulisan permulaannya tentang para rasul, dan sudah cukup jauh memi-kirkan untuk memberikan rekomendasinya sendiri dalam Signs of the Times: The Life of St. Paul, tulisan Conybeare dan How-son, saya anggap buku yang sangat baik, dan hal bermanfaat yang jarang ada bagi pelajar yang sungguh-sungguh terhadap sejarah Perjanjian Baru.1

    Namun dalam waktu dekat putra Ellen White, W.C. White kemudian mengenang, para guru Sekolah Sabat dan kaum awam mengeluh bahwa karya [764 halaman] ini terlalu besar dan terlalu berat, dan bahwa tulisan-tulisan Ny. White, dalam kesederhanaannya, akan lebih membantu bagi kebanyakan umat kita; dan dianjurkan agar Ny. White mengeluarkan satu buku yang bisa berguna sebagai bantuan pelajaran.2

    Ellen White bersama para asistennya bekerja dengan cepat untuk menghimpun apa yang ia sudah tuliskan tentang sejarah ini, di mana ia menambahkan banyak materi tambahan.3 Bulan Juni 1883, Sketches From the Life of Paul dicetak, dan salinan-salinan sedang dalam proses untuk memenuhi permintaan per-temuan kamp yang akan datang. Menurut W.C. White, dua edisi dari 5.000 salinan masing-masing dicetak sebelum habis pada pertengahan tahun 1890-an. Ketika Ellen White ditanya-kan tentang mencetak ulang buku itu, ia menolak saran itu, sambil mengungkapkan keinginannya untuk memperluas pe-nyajiannya lebih jauh dalam edisi yang sudah diperbarui.4

    Namun, sambil menunggu penyelesaian maksud Ellen White, diselesaikanlah Kerinduan Segala Zaman (1898), Mem-bina Kehidupan Abadi (1900), Pendidikan (1903), dan Membina Keluar ga Sehat (1905), di tengah karya lainnya. Baru pada akhir tahun 1910 ia bisa memberikan perhatian yang lebih baik untuk mengerjakan naskah yang sudah direvisi itu.

    Menariknya, sama seperti pelajaran Sekolah Sabat di tahun 1883 telah menggerakkan buku pertamanya tentang kehidupan Paulus, demikian pula jadwal penelitian kitab kisah para rasul untuk pelajaran Sekolah Sabat tahun 1911, yang mendesak pe-nyelesaian edisi yang sudah direvisi.

    W.C. White menjelaskan bagaimana para asisten Ellen White pertama kali memerlukan sekitar lima bulan mencari apa yang telah ditulisnya tentang kehidupan dan ajaran sang ra-sul sebelum mulai menata ke dalam bab-bab. Hari demi hari naskah-naskah itu diberikan untuk dibaca Ellen White, dan ia menandai naskah itu dengan bebas, memisah-misahkan dan menambahkan kata-kata, ungkapan, dan kalimat untuk mem-buat pernyataan itu lebih jelas dan kuat. Ia mencatat, Ibu se-ring memberi instruksi pada kami mengenai poin-poin penting dan yang diketahuinya telah dia tulis dan yang ia harap agar kami berusaha mencarinya dalam tulisan-tulisannya.5

    MemadukannyaKarena mengetahui bahwa buku itu tidak dapat diselesaikan

    pada waktunya untuk memulai pelajaran, staf Ellen White me-

    nyerahkan artikel-artikel yang cocok untuk warta gereja, yang diambil dari karya yang sedang dikerjakan.

    Menulis kepada putranya W.C. White di pertengahan bulan Februari 1911, Ellen White menguraikan harapannya tentang dampak rohani buku itu kepada para pembacanya:

    Sejak kau pergi, saya benar-benar sibuk menyiapkan bahan untuk Kehidupan Paulus. Kami mencoba bukti-bu