1pkm-p biofilter

Post on 13-Jul-2015

252 views

Category:

Documents

0 download

Embed Size (px)

TRANSCRIPT

A. JUDUL EFEKTIFITAS PENGOLAHAN TRICKLING FILTER DAN BIOFILTER 1 BATU KALI TERHADAP KADAR BOD5 AIR LIMBAH JEANS WASH DI ARBAFINA LAUNDRY KECAMATAN KEDUNGWUNI KABUPATEN PEKALONGAN B. LATAR BELAKANG Lingkungan merupakan salah satu faktor yang berpengaruh terhadap derajat kesehatan manusia, sehingga kelestarian lingkungan merupakan salah perioritas utama pembangunan. Hal ini tercermin dalam tujuan dari kementerian lingkungan hidup yaitu mewujudkan perbaikan kualitas lingkungan hidup guna mendukung tercapainya pembangunan berkelanjutan. Dari beberapa faktor yang memengaruhi derajat kesehatan manusia, faktor lingkungan memegang posisi penting karena manusia berinteraksi langsung dan secara terus-menerus berhubungan dengan manusia. Interaksi manusia dengan lingkungan hidupnya merupakan suatu proses yang wajar dan terlaksana sejak manusia dilahirkan sampai meninggal dunia. Hal ini disebabkan karena manusia memerlukan daya dukung unsur-unsur lingkungan untuk kelangsungan hidupnya. Dalam proses interaksi manusia dengan lingkungannya tidak selalu mendapatkan keuntungan tetapi juga mendapat kerugian (Soemirat, 2002:18 ) Perkembangan industri di Indonesia menunjukkan peningkatan yang pesat, baik industri migas dan non migas. Peningkatan kegiatan industri berarti akan meningkatkan limbah, bila tidak dilakukan upaya penanggulangan dengan baik akan meningkatkan pencemaran terhadap lingkungan (Kusnoputranto, 1985:5). Sektor industri yang semakin meningkat telah banyak memberikan manfaat bagi masyarakat, tetapi semakin besarnya sektor industri juga akan meningkatkan dampak negatif antara lain timbulnya pencemaraan lingkungan serta kerusakan sumber daya alam. Pencemaran lingkungan dan kerusakan alam salah satunya disebabkan oleh adanya aktivitas industri yang membuang limbah bahan sisa proses produksi belum ditangani dengan semestinya (Notoatmodjo, 2005:152). Menurut Peraturan Menteri Kesehatan RI No: 173/VII/1997, Pencemaran air adalah masuk atau dimasukkannya makhluk hidup, zat, energi dan atau komponen lain ke dalam air dan atau berubahnya tatanan atau komposisi air oleh kegiatan manusia dan proses alam, sehingga kualitas air menjadi kurang atau tidak dapat berfungsi lagi sesuai dengan peruntukkannya. Pencemaran dapat terjadi pada air, tanah dan udara. Biochemical Oxygen Demand (BOD) merupakan ukuran utama kekuatan limbah cair. BOD juga merupakan petunjuk dari pengaruh yang diperkirakan terjadi pada badan air penerima berkaitan dengan berkurangnya kandungan oksigen (Soeparman dan Suparmin, 2001:26). Kandungan bahan organik suatu limbah dinyatakan dengan parameter BOD (Biochemical Oxygen demand). Kadar BOD5 yang tinggi akan mengacam biotis air karena turunnya kadar oksigen dalam air, serta akan menjadi media distribusi penyakit menular. Peran air dalam terjadinya penyakit

menular yaitu sebagai penyebar mikroba patogen, sebagai sarang insekta penyebar penyakit dan sebagai sarang hospes sementara penyakit (Soemirat, 2002:95). Limbah yang dihasilkan dari hasil industri yang zat berbahaya diantaranya asam anorganik dan senyawa organik, zat-zat tersebut jika masuk ke perairan maka akan menimbulkan pencemaran yang dapat membahayakan makluk hidup pengguna air tersebut misalnya, ikan, bebek dan makluk hidup lainnya termasuk juga manusia. Industri yang menghasilkan limbah cair yang dapat mencemari lingkungan salah satunya adalah jeans wash atau loundry pencucian jeans sebelum menjadi produk jadi. Industri yang berskala kecil ini, mayoritas tidak mengolah limbahnya dengan benar, bahkan ada industri yang tidak memiliki instansi pengolahan air limbah (IPAL). Sehingga industri jeans wash sangat besar peranannya dalam pencemaran air sungai ( Profil Dinas Lingkungan Hidup Dan Kebersihan Kabupaten Pekalongan tahun 2008). Arbafina loundry merupakan industri jeans wash yang berada di daerah pemukiman di wilayah kecamatan Kedungwuni. Arbafina loundry belum mempunyai sistem pengolahan air limbah yang sesuai. Limbah yang dihasilkan hanya ditampung di kolam-kolam tanpa melalui suatu proses apapun. Kolam-kolam tersebut dihubungkan dengan sungai sehingga terjadi pencemaran lingkungan sekitar yaitu air menjadi keruh dan berbau. Berdasarkan hasil pengujian industri jeans wash di Arbafina loundry Kecamatan Kedungwuni Kabupaten Pekalongan pada tahun 2007 oleh Dinas Lingkungan Hidup dan Kebersihan, terdapat kandungan kadar BOD5 yang melebihi kadar maksimal yaitu 543 mg/l, sedangkan untuk kadar maksimalnya yang di perbolehkan oleh Perda Jawa Tengah No. 10 Tahun 2004 adalah 60 mg/l. Nilai yang melebihi kadar maksimal ini akan berdampak pada pencemaran lingkungan khususnya sungai, karena industri jeans wash ini membuang limbahnya ke sungaisungai terdekat. Selain itu masyarakat setempat juga mengeluhkan adanya bau tidak mengenakkan di sekitar tempat tinggalnya. Berdasarkan keadaan tersebut, pengolahan limbah yang bersifat biologis diperlukan sehingga pencemaran dapat di kurangi. Proses pengolahan limbah secara biologis digunakan untuk menurunkan kandungan bahan-bahan organik melalui mikroorganisme yang ada didalamnya. Pengolahan limbah secara biologis yang sering kita jumpai adalah trickling filter (saringan menetes) dan biofilter yang merupakan unit proses pengolahan limbah secara biologis yang sesuai untuk limbah dengan karakteristis kadar BOD tinggi, zat organik terlarut dan tersuspensi tinggi. Trickling filter dan biofilter merupakan bejana yang tersusun oleh lapisan material yang kasar, keras,dan kedap air. Pada pengolahan limbah secara trickling filter dapat menurunan kadar BOD5 Pada limbah jeans wash. Batu kali digunakan dalam trickling filter karena memenuhi syarat sebagai media filter. Batu kali merupakan jenis bahan yang terbuat dari mineral. Tekstur batu yang keras dan tidak rata dapat digunakan sebagai penyaring molekul-molekul zat yang tercampur. Volume dan ukuran garis-garis tengah yang kosong dalam batu

kali ini menjadi dasar kemampuan batu kali untuk bertindak sebagai penyaring molekul-molekul yang berukuran lebih kecil dapat masuk ke dalam pori-pori, sedangkan molekul yang berukuran besar akan tertahan di pori-pori (Hindarko, 2003: 179). Berdasarkan latar balakang diatas, maka penulis merancang penelitian yang berjudul EFEKTIFITAS PENGOLAHAN TRICKLING FILTER DAN BIOFILTER BATU KALI TERHADAP KADAR BOD5 AIR LIMBAH JEANS WASH DI ARBAFINA LAUNDRY KECAMATAN KEDUNGWUNI KABUPATEN PEKALONGAN. C. RUMUSAN MASALAH Berdasarkan urai diatas, maka rumusan masalah yang diangkat dalam penelitian ini adalah mengetahui efektifitas antara pengolahan trickling filter dan biofilter batu kali terhadap kadar BOD5 air limbah jeans wash di Arbafina laundry Kecamatan Kedungwuni Kabupaten Pekalongan. D. TUJUAN PROGRAM Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui efektifitas pengolahan trickling filter dan biofilter batu kali terhadap kadar bod5 air limbah jeans wash di arbafina laundry kecamatan kedungwuni kabupaten pekalongan. E. LUARAN YANG DIHARAPKAN Luaran yang diharapkan dalam penelitian ini yaitu dapat diketahuinya efektifitas pengolahan trickling filter dan biofilter batu kali terhadap kadar bod5 air limbah jeans wash di arbafina laundry kecamatan kedungwuni kabupaten pekalongan. F. KEGUNAAN PROGRAM Hasil program ini berguna bagi: Bagi Pemerintah Sebagai bahan kajian dalam mengembangkan unit pengolahan limbah yang efektif untuk menangani limbah jeans wash. Bagi Pengelola a) Sebagai bahan informasi untuk mengolah limbah cair yang belum dapat tertangani. b) Dapat mengurangi masalah pencemaran air yang diakibatkan dari limbah jeans wash di ARBAFINA loundry. Bagi Masyarakat a) Memberikan informasi tentang sejauh mana efektifitas pengolahan trickling filter dan biofilter batu kali terhadap kadar BOD5 air limbah jeans wash atau kondisi lingkungannya khususnya. b) Mengurangi faktor resiko terjadinya penyakit yang disebabkan oleh

1) 2)

3)

penyakit bawaan air. 4) 5) Bagi Jurusan Ilmu Kesehatan Masyarakat Penelitian ini diharapkan dapat menambah referensi pengetahuan terutama dalam bidang kesehatan lingkungan dan bahan pustaka. Bagi Peneliti a) Untuk dapat memahami proses trickling filter dan bifilter. b) Untuk mengetahui kadar penurunan BOD5 dengan pengolahan trickling filter dan biofilter.

G. TINJAUAN PUSTAKA 1. Pengertian Pencemaran Lingkungan Pencemaran lingkungan adalah perubahan yang tidak menguntungkan, sebagian karena tindakan manusia disebabkan karena penggunaan energi materi, tingkat radiasi, bahan-bahan fisika dan kimia dan jumlah organisme pembuat ini dapat mempengaruhi langsung manusia atau tidak langsung melalui air, hasil pertanian, peternakan, benda-benda perilaku dalam apresiasi dan rekreasi di alam bebas (A. Tresna S, 2000:57). Menurut undang-undang Republik Indonesia Nomor 2 tahun 1997 pasal 1 angka 12 yang disebut pencemaran lingkungan adalah masuknya atau dimasukkanya makhluk hidup, zat, energi, dan komponen lain ke dalam lingkungan oleh kegiatan manusia atau oleh proses alam, sehingga kualitas lingkungan turun sampai tingkat tertentu yang menyebabkan lingkungan menjadi kurang atau tidak berfungsi lagi sesuai peruntukannya (H.J. Mukono, 2000:14). Menurut A. Tresna S. (2000:65) pencemaran lingkungan dibagi menjadi empat yaitu pencemaran tanah, air, udara serta makanan dan obat-obatan. Sedangkan menurut H.J. Mukono (2000:14) klasifikasi pencemaran lingkungan dibagi menjadi empat yaitu berupa pencemaran udara ambient, pencemaran air, pencemaran sampah padat, dan pencemaran peptisida. 2.2 Pencemaran Air 2.2.1 Definisi Pencemaran Air Menurut peraturan Pemerintah RI no. 20 tahun 1990, pencemaran air adalah masuknya atau di masukkannya makhluk hidup, zat, energi, dan atau komponen lain kedalam air oleh kegiatan manusia, sehingga kualitar air turun sampai tingkat tertentu yang membahayakan, yang mengakibatkan air tidak berfungsi lagi sesuai dengan peruntukannya (H.J. Mukono, 2000:18). 2.2.2 Sumber Pencemar Sumber pencemar dibedakan menjadi tiga yaitu sumber domestik, industri, pertanian dan perkebunan (H.J. Muk

Recommended

View more >