156 perbandingan akurasi penggunaan skala likert

Download 156 PERBANDINGAN AKURASI PENGGUNAAN SKALA LIKERT

Post on 14-Jan-2017

216 views

Category:

Documents

2 download

Embed Size (px)

TRANSCRIPT

  • 156

    PERBANDINGAN AKURASI PENGGUNAAN SKALA LIKERTDAN PILIHAN GANDA UNTUK MENGUKUR SELF-REGULATED LEARNING

    Heri RetnawatiFakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Negeri Yogyakarta

    email: retnawati.heriuny1@gmail.com

    AbstrakPenelitian ini bertujuan untuk membandingkan akurasi penggunaan skala Likert dan bentuk

    pilihan ganda untuk mengukur self-regulated learning (SRL). Instrumen pengukur SRL denganformat Likert dan pilihan ganda yang diskor berjenjang dikembangkan dengan kisi-kisi yang sama.Responden penelitian yaitu 125 mahasiswa Pendidikan Matematika Fakultas Matematika dan IPAUniversitas Negeri Yogyakarta. Karakteristik butir instrumen dianalisis dengan graded responsemodel menggunakan TESTFACT. Dengan menggunakan karakteristik butir-butir penyusun skala,nilai fungsi informasi perangkat dan kesalahan pengukuran standar diestimasi. Semakin tingginilai fungsi informasi perangkat, semakin tinggi akurasinya untuk mengukur SRL. Semakin kecilkesalahan pengukuran standar, semakin tinggi akurasinya untuk mengukur SRL. Hasil analisisdengan menggunakan nilai fungsi informasi dan kesalahan pengukuran standar menunjukkan bahwaperangkat menggunakan skala Likert lebih akurat dibandingkan dengan menggunakan pilihan ganda.

    Kata kunci: pilihan ganda, self-regulated learning (SRL), skala Likert

    THE COMPARISON OF THE ACCURACY OF LIKERT SCALEAND MULTIPLE CHOICE FOR MEASURING SELF-REGULATED LEARNING

    AbstractThis study was aimed at comparing the accuracy of Likert scale and multiple choices for

    measuring self-regulated learning (SRL). Instruments for measuring SRL in Likert scale and multiple-choice were developed using the same blueprint. The respondents were 125 students of mathematicseducation in Mathematics and Sciences Faculty of Yogyakarta State University. Characteristics of theinstrument items were analyzed by graded response model using TESTFACT. Using the characteristicsof the items in instruments, the value of information function of every instrument and standard error ofmeasurement were estimated. The higher the value of the device information function, the higher theaccuracy of measuring SRL. The smaller the standard measurement errors, the higher the accuracyof measuring SRL. Results of analysis using information function values and standard measurementerror indicate that the Likert scale is more accurate than using multiple choices to measure SRL.

    Keywords: Likert scale, multiple choice, self-regulated learning (SRL)

    PENDAHULUANPeningkatan kualitas sumber daya

    manusia dapat ditingkatkan melalui pen-didikan. Pedidikan ini berupa pendidikanformal, informal, dan nonformal, dalamberbagai jenjang pendidikan. Jenjangpendidikan tersebut meliputi pendidikan

    dasar, pendidikan menengah, dan pen-didikan tinggi. Masing-masing jenjangini memiliki karakteristik khusus, yangmenuntut peserta didik untuk menyikapi-nya secara berbeda.

    Pendidikan tinggi berbeda denganpendidikan dasar dan menengah. Pen-

  • 157

    didikan tinggi biasanya menggunakanpendekatan pembelajaran orang dewasa.Pada pembelajaran ini, tidak semua pesertadidik menjadi pebelajar yang sukses.Hal ini disebabkan oleh berbagai hal, diantaranya peserta didik memiliki keyakinanyang salah mengenai kemampuan, belajar,dan motivasi, kekurangpeduliannyadengan kegiatan belajar yang tidak efektif,gagal mempertahankan belajar yangefektif sebagai suatu strategi motivasi,juga ketidaksiapan mengubah kegiatanbelajarnya (Dembo, 2004).

    Mahasiswa merupakan siswa yangbelajar di perguruan tinggi, yang telahdianggap sebagai orang dewasa. Dewasaini dapat dikategorikan karena umurnya,dan juga karena tuntutan kemandirianbelajar selama di pergurun tinggi. Bagimahasiswa, mengelola diri untuk belajarmerupakan suatu yang mendukungkeberhasilannya belajar di perguruantinggi. Kemampuan mengelola diri dalambelajar ini sering disebut dengan selfregulated learning.

    Self-regulated Learning (SRL)merupakan tindakan dan proses yangmengarahkan informasi dan keterampilanyang melibatkan persepsi agensi, tujuan,dan peralatan oleh pebelajar (Zimmerman,1989; 1990). SRL terkait dengan akti-vasi tujuan diri, proses monitoringdan informasi, dan strategi pengaturandiri dengan menciptakan peluang dantantangan. Menurut Pintrich, regulasidiri atau SRL merupakan suatu prosesaktif-konstruktif dimana siswa mengesettujuan dan berusaha memantau, mengatur,dan mengontrol kognisi, motivasi, danperolakunya, memandu dan membatasitujuannya (Schunk, 2005).

    Teori kognitif sosial dari Bandura(Kivinen, 2003) menyajikan dasar teoridari pengembangan model SRL dalamdiri seseorang, dimana faktor-faktor

    kontekstual dan perilaku berinteraksidalam suatu ara yang memberikankeuntungan kepada siswa untuk mengaturbelajarnya dimana pada waktu yangsama siswa mengatur dirinya sendiri.Suatu perspektif kognitif sosial berbedadari sudut pandang interaksi personal,perilaku dan linkungannya yang seringdisebut proses triadic dari Bandura.

    Regulasi diri merupakan proses siklis,karena masukan dari kemampuan awaldigunakan untuk membuat keputusanuntuk mengulangi usaha-usaha yangtelah dilakukan. Upaya pengulangan-pengulangan ini diperlukan karena orang,lingkungan, dan perilaku selaluu berubahselama pembelajaran yang selalu diobser-vasi dan dipantau (Zimmerman, 2000).Hal tersebut juga diperkuat oleh Kivinen(2003). Pembicaraan SRL mencakup tigafase, meliputi fase pemikiran, fase controlkinerja, dan fase refl eksi diri (Zimmerman,2000).

    Pada fase pemikiran, ada dua halyang sangat terkait yakni analisis tugasdan keyakinan dan motivasi diri. Fasecontrol kehendak atau kinerja meliputipengendalian diri dan pengamatan yangkhusus. Fase refleksi diri terdiri dariperkembangan diri, dan reaksi diri. Ke-tiga fase ini saling terkait dan salingmempengaruhi yang membentuk siklus.Fase-fase yang disampaikan Zimerman(2000) tersebut disempurnakan olehPintrich (2004) menjadi empat fase, denganperbedaan fase kontrol kinerja dipecahmenjadi dua fase yaitu monitoring danmengontrol seleksi dan adaptasi (Pintrich,2004).

    Pada fase pemikiran, dapat diklasi-fi kasikan menjadi dua hal yakni analisistugas (meliputi tujuan pengaturan diri,perencanaan strategis) dan keyakinanmotivasi diri (keyakinan diri dan orientasitugas). Fase control kinerja meliputi

    Heri R.: Perbandingan Akurasi Penggunaan...

  • 158

    pengendalian diri (instruksi diri, fokusperhatian, strategi penyelesaian tugas).Refleksi diri terdiri dari pertimbangandiri (evaluasi diri dan atribusi) dan jugareaksi diri (kepuasan diri dan adaptivitas).Untuk mengetahui skala SRL, Wolkers,Pintrich, & Karabenick (2009) mengatakanbahwa perlunya dikembangkan butirterlebih dahulu untuk mengukur pengaturankognisi, diikuti dengan regulasi, motivasi,dan perilaku. Ketiga hal ini perlu diukurdalam konteks akademik.

    Beberapa penelitian menunjukkanbahwa SRL sangat terkait dengan motivasi(Vrieling, Bastiaens, & Stijnend, 2012).Strategi belajar dapat menjadi mediatoryang potensial bagi ketertarikan maha-siswa dengan capaian akademiknya (Soric& Palekcic, 2009). SRL ini dapat diperkuatoleh pendidik dalam proses pembelajarandengan menyiapkan tugas-tugas yangmendukung peningkatan SRL (Zumbrunn,Tadlock, & Danielle, 2011).

    Terkait dengan pentingnya sumbanganSRL terhadap keberhasilan pendidikandi perguruan tinggi, SRL mahasiswaperlu diukur. Untuk mengetahui skalaSRL yang dimiliki seseorang, Wolkers,Pintrich, & Karabenick (2003) mengatakanbahwa perlunya dikembangkan butirterlebih dahulu untuk mengukur pengaturankognisi, diikuti dengan regulasi, motivasi,dan perilaku. Ketiga hal ini perlu diukurdalam konteks akademik.

    Hasil pengukuran SRL dapat diinter-pretasikan untuk tindak lanjut. Tindak lanjutberupa upaya untuk mempertahankan ataumeningkatkannya. Untuk itu perlu perludikembangkan instrumen pengukur SRLyang valid, berdasarkan langkah-langkahpengembangan instrumen yang tiap langkahdapat dipertanggungjawabkan. Langkah-langkah pengembangan instrumen pengu-kur SRL terdiri dari beberapa tahap.Tahap tersebut yakni menyusun kisi-

    kisi berdasarkan konstruk teori yangtepat, menyusun butir, membuktikanvaliditas isi, mengujicobakan instrumenkepada responden yang bersesuaian,mengestimasi reliabilitas, mengetahuikarakteristik butir, merakit kembali butir-butir yang baik menjadi instrumen yangsiap digunakan.

    Salah satu instrumen yang dapatdigunakan untuk mengukur SRL adalahmenggunakan kuisioner. Butir-butirdalam kuisioner bentuknya bermacam-macam, diantaranya pertanyaan dikotomi,pertanyaan pilihan ganda, urutan bertingkat(rank ordering), rating scale, dan pertanya-an terbuka (Cohen, Manio, & Morrison,2011). Masing-masing bentuk memilikiciri khas yang tersendiri, yang disajikansebagai berikut.

    Pertanyaan dikotomi dalam angkethanya memuat dua pilihan jawaban jawabansaja. Pertanyaan ini digunakan jika penelitiingin menanyakan kepada respondenterkait dengan variabel yang hanya memuatdua jawaban saja. Sebagai contoh jeniskelamin (laki-laki atau perempuan, ya atautidak, benar atau salah, dan lain-lainnya.Pertanyaan kuisioner pilihan ganda padadasarnya seperti pilihan ganda pada soaluraian. Pada pilihan ganda ini, respondenbiasanya diperkenankan memilih salah satujawaban saja. Penskoran dapat dilakukandengan benar-salah saja, atau bertingkat.Jika penskoran dilakukan bertingkat,kondisi ideal perlu menjadi pertimbanganpenyusun kuisioner. Model angket yangpaling sering digunakan di Indonesiaberbentuk rating scale atau lebih dikenaldengan model Likert.

    Angket dengan Skala Likert biasanyamenyajikan pernyataan yang disertaidengan pilihan. Pilihan pada skala Likertberupa frekuensi (selalu, sering, jarang,tidak pernah) atau persetujuan (sangatsetuju, setuju, netral, tidak setuju, sangat

    JURNAL KEPENDIDIKAN, Volume 45, Nomor 2, November 2015, Halaman 156-167

  • 159

    tidak setuju). Pilihan jawaban dengan skalain