142853616 laporan praktikum biologi perilaku 1

Click here to load reader

Post on 26-Dec-2015

40 views

Category:

Documents

2 download

Embed Size (px)

DESCRIPTION

laporan

TRANSCRIPT

  • LAPORAN PRAKTIKUM BIOLOGI PERILAKU

    PERILAKU AGONISTIK IKAN CUPANG (Betta splendens)

    BANI NUGRAHA

    1210702008

    BIOLOGI / VI A

    Kelompok 3

    Tanggal Praktikum : 27 Februari 2013

    Tanggal Pengumpulan : 06 Maret 2013

    JURUSAN BIOLOGI

    FAKULTAS SAINS DAN TEKNOLOGI

    UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SUNAN GUNUNG DJATI

    BANDUNG

    2013

  • BAB I

    PENDAHULUAN

    1. 1 . Latar Belakang

    Di Indonesia,ikan banyak dimanfaatkan sebagai makanan, hobi,

    maupun dalam hal pertandingan atau perlombaan. Disini, akan kami coba

    untuk mengambil salah satu jenis ikan, dan melakukan pengamatan ikan

    secara agonistik. Perilaku agonistik ialah salah satu bentuk konflik yang

    menunjukan perilaku atau postur tubuh atau penampilan khas yang

    melibatkan mengancam, perkelahian, melarikan diri dan diam antara

    individu dalam populasi.

    Pemilihan Ikan cupang ini karena ikan cupang memiliki sikap

    keagresifan yang cukup tinggi. Sehingga dalam pengamatannya akan lebih

    terlihat dengan jelas dalam kurun waktu yang cukup singkat, baik secara

    instinctive maupun perilaku terlatih, ikan cupang memiliki karakteristik

    respon agresif. Dalam suhu air yang berkisar antara 24-29oC, ikan cupang

    merupakan ikan yang sangat aktif.

    2 . Tujuan

    Mengamati perilaku agonostik pada ikan cupang (Betta splendens)

    3 . Hipotesis

    Untuk ikan cupang dianggap memiliki tingkat agonistik yang

    cukup tinggi. Setiap hitungan waktu yang singkat, kita dapat dengan

    mudah mengamati setiap perubahan gerakan yang terjadi. Ikan cupang

    terbagi atas ikan cupang hias dan ikan cupang adu, Perbedaan diantara

    ikan cupang tersebut, dapat terlihat secara morfologinnya. Perbedaan

    diantara 2 jenis ikan cupang, sangat berpengaruh terhadap gerakan

    agonistic tiap individu. Perbedaan agonistik pada ikan cupang, dapat pula

    kita lihat dari jenis kelamin ikan cupang

  • BAB II

    TINJAUAN PUSTAKA

    Perilaku agonistik adalah perilaku yang berhubungan dengan

    konflik, termasuk berkelahi (fighting), melarikan diri (escaping), dan diam

    (freezing). Perilaku agonistik meliputi pula beragam ancaman atau

    perkelahian yang terjadi antar individu dalam suatu populasi. Perilaku

    agonistik berkaitan erat dengan agresivitas, yaitu kecenderungan untuk

    melakukan serangan atau perkelahian. Bentuk-bentuk perilaku tersebut

    dapat berupa postur tubuh maupun gerakan yang diperlihatkan oleh

    individu pemenang maupun individu yang kalah dalam kontes perkelahian

    (Djuanda, 2002).

    Ikan cupang adu (Betta spendens) merupakan anggota dari famili

    Anabantidae. Anabantidae merupakan satu-satunya famili yang mencakup

    seluruh ikan berlabirin. Betta splendens memiliki tubuh yang lonjong

    dengan bagian depan sedikit membulat dan memipih pada bagian

    belakang. Mulutnya dapat disembulkan dengan lubang mulut terletak

    serong pada bagian depan kepala. Badan dan kepala bersisik kasar. Ikan

    betina berwarna kusam, tetapi ikan jantan mempunyai warna metalik yang

    mengkilat. Ikan cupang jantan maupun betina memiliki sisik gurat sisi

    berjumlah 29-33 keping (Campbell, 2003).

    Sirip dorsal terletak lebih ke belakang, memiliki jari-jari keras dan

    8-9 jari-jari lunak. Sirip anal panjang dan lebar, dimulai dari belakang anus

    dan berakhir di belakang dekat pangkal sirip kaudal, memiliki 1-4 jari-jari

    keras dan 21-24 jari-jari lunak. Ujung sirip anal berbentuk lancip. Sirip

    perut berukuran kecil, terletak di bawah sirip dada, memiliki 1 jari-jari

    keras dan 5 jari-jari lunak. Satu dari jari-jari lunak berukuran lebih panjang

    dari yang lainnya. Sirip dada bentuknya membulat, memiliki 12-13 jari-

    jari lunak. Beberapa perilku agonistic cupang yang diketahui antara lain :

    Approach (Ap) : mendekat, berenang cepat kemudian berhenti di

    dekat bayangannya / ikan lain

  • Bite(Bt) : menggigit lawan

    Chase (Ch) : mengejar lawan yang melarikan diri

    Frontal threat (FT) : mengancam dari depan dengan membuka

    operculum, dagu direndahkan dan melebarkan sirip dada saat

    berhadapan dengan lawan

    Side Threat (ST) : mengancam dari pinggir dengan membuka

    operculum, dagu direndahkan kea rah lawan dan semua sirip

    dikembangkan

    Mouth to mouth contact (MC) : Kontak mulut ke mulut yaitu dua

    individu akan saling mendorong, menarik, dan mencengkram

    dengan mulut

    Flight (Fl) : melarikan diri

    Tail flagging (TF) : mengibaskan ekor

    Circle (Cl) : bergerak memutar arah setelah mendekati lawan

    Explore (Ex) : menjelajah area tanpa arah yang jelas

    Perilaku agonistik merupakan salah satu bentuk konflik yang

    menunjukkan perilaku atau postur tubuh atau penampilan yang khas

    (display) yang melibatkan mengancam (threat), perkelahian

    (fighting), melarikan diri (escaping), dan diam (freezing) antar individu

    dalam populasi atau antarpopulasi. Invidu yang aggressive dan mampu

    menguasai arena perkelahian (teritori) akan memunculkan individu yang

    kuat (dominan) dan lemah (submissive/ subordinat). PopulasiUntuk

    mengetahui perilaku agonistik ini digunakanlah ikan cupang adu sebagai

    hewan uji. Cupang adu (Betta splendens) merupakan jenis ikan laga,

    individu jantan dapat sangat agresiv terhadap jantan lainnya dalam sebuah

    arena bertarung. Dengan adanya akuarium sebagai media bertarung, maka

    diharapkan dapat dengan mudah diamati perilaku agonistik diantara ikan

    cupang jantan (Campbell, 2003).

    Ada sifat yang ditimbulkan dari ikan cupang jantan. Dimana, pada

    ikan cupang jantan ini, memiliki sifat daya perhatiannya terhadap ikan

    cupang betina cukup tinggi. Sinyal yang ditimbulkan saat ikan cupang

  • jantan berhadapan dengan ikan cupang betina, yaitu dengan mengibaskan

    ekor sirip derngn frekuensi yang cepat (Amauri, 2007).

    Keagresifan lain pada ikan cupang ini, dipisahkan menjadi

    appetitive, kawin dan pasca kawin. Komponen yang appetitive ini,

    ditandai dengan perilaku kejenuhan warna tubuh, ereksi penutup

    overculum, atau insang, orientasi dan gerakan karakteristik. Komponen

    termasuk menggigit, mengunci rahang antara lawan dan mencolok ekor.

    Respon yang ditunjukan oleh ikan cupang dari tiap individu, yang

    berkaitan dengan pembuahan, dapat kita amati dengan uji menggunakan

    model subjek dalam aquarium yang diberi sekat cermin. Dengan

    memperhitungkan durasi, dan frekuensi demonstrasi merupakan presiktor

    dan perkelahian yang nyata (Dewantor, 2001).

    Kegemaran berkelahi Ikan cupang adu akan semakin memuncak

    apabila ikan cupang diletakkan di baskom, akuarium, toples, atau tempat

    pemeliharaan lain. Hal ini dikarenakan ikan cupang telah terbiasa hidup di

    tempat yang lebih nyaman bila dibandingkan dengan selokan atau tempat

    lainnya. Ketika melakukan pertarungan, ikan cupang jantan menghampiri

    lawan tandingnya. Kemudian ikan cupang jantan mempertontonkan sirip

    pada musuhnya. Sirip yang semula terlihat lemas dalam hitungan detik

    akan mengembang. Tidak hanya sirip yang dipertontonkan, tetapi sirip

    cadangan lain yaitu membrana branchiostegi dan tutup insang pada

    lengkungan leher juga ikut mengembang (Darmawat, 2003).

    Taksonomi ikan cupang

    adu (Betta spendens) adalah

    sebagai berikut :

    Filum : Chordata

    Subfilum : Craniata

    Superkelas : Gnathostomata

    Kelas : Osteichthyes

    Subkelas : Actinopterygii

    Superordo : Teleostei

    Ordo : Percomorphoidei

    Subordo : Anabantoidei

    Famili : Antibantidae

    Genus : Betta

    Spesies : Betta splendens

  • BAB III

    METODE KERJA

    3. 1. Alat dan Bahan

    Alat Bahan

    Aquarium (45x25x45 cm3 ) Berisi air Betta splendens (Ikan Cupang)

    4 Ekor

    Cermin

    Botol kecil, penyimpanan ikan

    Stop Wacth

    Alat penanda (Tiip-Ex)

    3. 2. Cara Kerja

    1 Pengamatan Morfologi

    Amati masing-masing individu ikan cupang adu.

    Kenali dan catat perbedaan fisik, antara lain warna tubuh, bentuk sirip (dada,

    punggung, perut, dubur, ekor) dan cirri khas lainnya (mulut, operculum, gurat sisi,

    bentuk tubuh) tiap individu .

    2 Persiapan dan Tagging

    Aquarium yang telah berisi air bagian dibagi menjadi dua bagian oleh

    sebuah cermin sekat pemisah sebagai kompartemen (a) dan kompartemen (b), dan

    tiap kompartemen diisi oleh seekor ikan Betta Spelendens yang telah

    diidenttifikasi cirri-cirinya dan jika memungkinkan diberi penandaan pada bagian

    toraks terlebih dahulu. Beri penamaan untuk setiap individu (misalnya individu a,

    individu b,dst) berdasarkan cirri-ciri yang sudah dikenal. Ukur pula masig-masing

    luasan kedua kompartemen.

    3 Pengamatan I

  • Pada salah satu kompartemen yang berisi cermin (misalnya kompartemen (a))

    amati perilaku individu Betta Spelendens (a) dan catat semua perilku yang tampak

    saat individu ikan (a) tersebut melihat bayangannya sendiri di dalam cermin.

    Lakukan pegamatan I selama 10 menit. Setelah selesai, lakukan hal yang sama

    dengan individu ikan (b) yang berada dalam kompartemen (b) dengan cara

    membalikan cermin kearah kompartemen (b) selama 10 menit

    4 Pengamatan II

    Setelah pengamatan I selesai, angkat dinding pemisah/cermin dari aquarium.

    Saat cermin diangkat dan tidak ada lagi pembatas diantara kedua kompartemen (a)

    dan (b) catatlah waktunya sebagai waktu ke-0 (t=0). Lakukan pengamatan segera

    setelah waktu ke-0 tersebut terhadap perkelahian sebenarnya diantara kedua

    individu cupang selama 15 menit. Cata dan hitung semua perilaku yang tampak

    (frekuensi kemunculan untuk tiap perilaku yang berbeda). Berdasarkan hasil

    pengamatan dan pencatatan sementara, dapatkah anda menemukan individu yang

    memenangkan pertarungan (dominan) dan individu yang kalah

    (submissive/subordinat).

    5 Pengamatan III

    Angkat individu cupang (a) dan (b) dari aquarium, kemudian masing-masing

    ikan disimpan dalam botol kaca kecil untuk diistirahatkan. Ulangi pengamatan I

    (percobaan pada cermi) pada individu ikan cupang lainnya, individu (c) dan (d),

    ds masing-masing selama 10 menit

    6 Pengamata IV

    Ulangi pengamatan II (percobaan perilaku agonistic) pada individu cupang

    lainnya yaitu individu ikan (c) dan ikan (d). berdasarkan hasil pengamatan dan

    pencatatan semenara, dapatkah anda menemukan individu yang memenagkan

    pertarungan (dominan) dan individu yang kalah (submissive/subordiat).

    7 Pengamatan V

  • Angkat kembali individu cupang (c) dan (d) dari aquarium, kemudian masing-

    masing ikan disimpan dalam botol kaca kecil untuk diistirahatkan selama 15

    menit. Setelah itu dilakukan pengamatan perilaku antagonistic antara dua ikan

    cupang dominan hasil pengamatan pertarungan I da II selama 15 menit. Dapatkah

    anda menentukan diantara kedua ikan supang tersebut indiviu yang palng

    domunan yang mampu mendominasu individu lainnya?

    8 Pengamatan VI

    Angkat kembali kedua individu cupang pada pengamatan V dari aquarium

    kemudian masing-masing ikan disimpan dalm botol kaca kevil untuk

    diistirahatkan kembali. Setelah itu dilakukan pengamatan agonistic antara dua

    ikan cupang submissive/subordinat hasil pengamatan pertarungan I dan II selama

    15 menit.

    BAB IV

    HASIL PENGAMATAN DAN PEMBAHASAN

    Morfologi Ikan Cupang

    Literatur (Maulana, 2007) Hasil Pengamatan

    ekor

    sirip punggung sirip dada

    sirip anal sirip perut

  • Warna Sirip : Merah

    Dada: Biru

    Punggung: iru

    Perut: biru, merah

    Ekor: biru, merah

    Bentuk sirip: memanjang rapat

    Warna tubuh: Biru kemerahan

    Guratan sisi: Berwarna Biru Tua

    Bentuk tubuh: Lonjong

    Warna Sirip : Biru

    Dada: Biru

    Punggung: Biru

    Perut: Biru, Merah

    Ekor: Merah

    Bentuk sirip: Memanjang Mengembang

    Warna tubuh: Biru

    Guratan sisi: Berwarna Biru

    Bentuk tubuh: Lonjong

    Warna Sirip : Merah

    Dada: Biru

    Punggung: iru

    Perut: biru, merah

    Ekor: biru, merah

    Bentuk sirip: memanjang rapat

    Warna tubuh: Biru kemerahan

    Guratan sisi: Berwarna Biru Tua

    Bentuk tubuh: Lonjong

  • Warna Sirip : Biru

    Dada: Biru

    Punggung: Biru

    Perut: Biru, Merah

    Ekor: Biru

    Bentuk sirip: Memanjang Mengembang

    Warna tubuh: Biru

    Guratan sisi: Berwarna Biru

    Bentuk tubuh: Lonjong

    Tabel 1. MIS Tests of Between-Subjects Effects

    Dependent Variable: Frekuensi

    Source

    Type III Sum of

    Squares Df Mean Square F Sig.

    Corrected Model 6792.658a 39 174.171 9.183 .000

    Intercept 4189.008 1 4189.008 220.862 .000

    individu 487.492 3 162.497 8.568 .000

    perilaku 4693.742 9 521.527 27.497 .000

    individu * perilaku 1611.425 27 59.682 3.147 .000

    Error 1517.333 80 18.967

    Total 12499.000 120

    Corrected Total 8309.992 119

    a. R Squared = ,817 (Adjusted R Squared = ,728)

  • Grafik 1. MIS

    Tabel 2. A vs B Tests of Between-Subjects Effects

    Dependent Variable: Frekuensi

    Source

    Type III Sum of

    Squares Df Mean Square F Sig.

    Corrected Model 1460.267a 19 76.856 6.945 .000

    Intercept 897.067 1 897.067 81.060 .000

    Individu .267 1 .267 .024 .877

    Perilaku 807.267 9 89.696 8.105 .000

    individu * perilaku 652.733 9 72.526 6.554 .000

    Error 442.667 40 11.067

    Total 2800.000 60

    Corrected Total 1902.933 59

  • Grafik A vs B

    Tabel 3. C vs D Tests of Between-Subjects Effects

    Dependent Variable: Frekuensi

    Source

    Type III Sum of

    Squares Df Mean Square F Sig.

    Corrected Model 682.850a 19 35.939 2.995 .002

    Intercept 522.150 1 522.150 43.513 .000

    Individu 4.817 1 4.817 .401 .530

    Perilaku 448.683 9 49.854 4.154 .001

    individu * perilaku 229.350 9 25.483 2.124 .050

    Error 480.000 40 12.000

    Total 1685.000 60

    Corrected Total 1162.850 59

    a. R Squared = ,587 (Adjusted R Squared = ,391)

  • Tabel 4. Kalah vs Kalah (A vs D) Tests of Between-Subjects Effects

    Dependent Variable:frekuensi

    Source

    Type III Sum of

    Squares Df Mean Square F Sig.

    Corrected Model 266.000a 19 14.000 14.237 .000

    Intercept 106.667 1 106.667 108.475 .000

    Individu 9.600 1 9.600 9.763 .003

    Perilaku 229.667 9 25.519 25.951 .000

    individu * perilaku 26.733 9 2.970 3.021 .008

    Error 39.333 40 .983

    Total 412.000 60

    Corrected Total 305.333 59

    a. R Squared = ,871 (Adjusted R Squared = ,810)

    Grafik C vs D

  • Grafik Kalah vs Kalah (A vs D)

    Tabel 5. Menang vs Menang (C vs B) Tests of Between-Subjects Effects

    Dependent Variable:frekuensi

    Source

    Type III Sum of

    Squares Df Mean Square F Sig.

    Corrected Model 406.933a 19 21.418 1.310 .231

    Intercept 589.067 1 589.067 36.029 .000

    Individu 2.400 1 2.400 .147 .704

    Perilaku 349.267 9 38.807 2.374 .030

    individu * perilaku 55.267 9 6.141 .376 .940

    Error 654.000 40 16.350

    Total 1650.000 60

    Corrected Total 1060.933 59

    a. R Squared = ,384 (Adjusted R Squared = ,091)

  • Grafik Menang vs Menang (C vs B)

    Pembahasan

    Praktikum kali ini, membahas perilaku agonistik ikan cupang. Uji

    yang dilakukan, yaitu dengan mengamati secara morfologi dan setiap

    perilaku yang ditimbulkan ikan cupang dalam waktu 3 menit dalam sebuah

    aquarium. Ada dua jenis Ikan cupang yang diamati, yaitu ikan cupang adu

    dan ikan cupang hias. Ikan cupang adu (Betta Splendens) merupakan

    anggota dari family antabantidae. Antabantidae ini, merupakan satu-

    satunya family yang mencakup ikan berlabirin. memiliki tubuh lonjong

    bagian depan sedikit membulat dan memipih pada bagian belakang.

    Mulutnya dapat disembunyikan dengan lubang mulut terletak pada bagian

    depan kepala. Badan dan kepala bersisik kasar, Ikan betina berwarna

    kusam, tetapi ikan jantan punya warna tubuh yang metalit. Ikan cupang

    jantan maupun betina betina, punya gurat sisik gurat sisi 29-33 keping

    (Djuhanda, 2001).

  • Pengamatan Morfologi

    Setelah diamati bagian tubuh ventral, dorsal maupun anal, terlihat

    bahwa ikan cupang pada bagian ventral memiliki sirip dada, sirip perut.

    Sedangkan pada bagian dorsal, memiliki sirip punggung. Dan dibagian

    belakang, terdapat sirip ekor. Pada setiap ikan cupang yang kami amati,

    ada sedikit perbedaan diantara semuanya, yaitu bentuk guratan sisi pada

    ikan cupang semuanya berbeda.

    Secara morfologi, bentuk sirip ikan cupang hias lebih lebar dan

    besar. Ikan cupang hias pun memiliki warna yang lebih mencolok daripada

    ikan cupang adu. Ikan cupang memiliki tubuh lonjong dibagian depan

    sedikit membulat dan memipih di bagian belakang. Badan dan kepala

    bersisik. Tubuh terdiri dari sirip ventral, sirip dorsal, sirip anal, sirip

    kaudal dan sirip pectoral (Susanto, 1997).

    1. MIS

    Dari hasil yang didapat, diolah dalam bentuk statistik

    menggunakan uji anova 1 arah. ternyata menghasilkan nilai signifikan

    0.000 ( kurang dari 0,05). Itu artinya terdapat perbedaan nyata, dan perlu

    dilakukan uji lanjut. Uji yang dilakukan selanjutnya, yaitu melakukan uji

    Duncan, karena dalam uji ini, akan terlihat secara detail perbedaan yang

    jelas dari setiap perlakuan (Linke, 1994).

    2. Perkelahian yang sebenarnya

    a. Dari hasil data table maupun grafik yang kami dapatkan

    antara A vs B. Ternyata B memiliki tingkat agonistik yang lebih tinggi

    dari pada A. Di tunjukan dari keagresifan ikan cupang B. Dimana, terlihat

    adanya perilaku Frontal threat, atau menyerang yang cukup banyak pada

    ikan cupang B. sedangkan pada ikan cupang A, dominan melakukan

    perilaku mengibaskan ekor, melarikan diri, jaln-jalan. Untuk mengusir

    individu lain. Dari perkelahian ini, dominan B menguasai populasi yang

    ada.

  • b. Dari pertandingan C vs D, dimenangkan oleh ikan cupang C

    Dari pertandingan kelompok kami antara C vs D, dimenangkan

    oleh ikan cupang C. Dengan di tunjukan dari keagresifan ikan cupang C.

    Dimana, terlihat adanya perilaku Frontal threat yang cukup banyak pada

    ikan cupang D terhadap ikan cupang C. sedangkan pada ikan cupang D,

    dominan melakukan perilaku melarikan diri. Untuk menghindar dari

    serangan individu lain. Dari perkelahian ini, dominan C menguasai

    populasi yang ada. Perkelahian selanjutnya, yaitu menandingkan antara

    ikan cupang yang menang dengan yang menang( B vs C) dan yang kalah

    dengan yang kalah (A vs D).

    a. Dari pertandingan antara B vs C, dimenangkan oleh ikan cupang B.

    Dengan di tunjukan dari lebih agresifnya ikan cupang B. Dimana, terlihat

    adanya perilaku Frontal threat, atau menyerang individu lain yang cukup

    banyak pada ikan cupang B. sedangkan pada ikan cupang C, dominan

    melakukan perilaku melarikan diri. Untuk menghindar dari serangan

    individu lain. Dari perkelahian ini, dominan B menguasai populasi yang

    ada.

    b. Dari pertandingan antara A vs D, dimenangkan oleh ikan cupang D.

    Dengan di tunjukan dari lebih agresifnya ikan cupang D. Dimana, terlihat

    adanya perilaku Frontal threat, chase, atau menyerang individu lain yang

    cukup banyak pada ikan cupang D. sedangkan pada ikan cupang A,

    dominan melakukan perilaku melarikan diri, mengibaskan ekor. Untuk

    menghindar dari serangan individu lain. Dari perkelahian ini, dominan D

    menguasai populasi yang ada.

    Diantara seluruh pertandingan, ikan cupang B, dapat

    memenangkan kompetisi. Dari data grafik pun, menunjukan, kalo ikan

    cupang B, cukup signifikan banyk melakukan prilaku menyerang

    dibandingkan yang lain. Sedangkan, perilaku menghindar, mengibaskan

    ekor untuk mengusir individu lain. Banyak dilakukan oleh ikan cupang A.

  • Perilaku yang sering muncul itu Tail flagging. Menurut literature,

    kecenderungan ikan cupang melakukan Tail Flagging ( mengibaskan

    ekor), merupakan bentuk ketidak nyamanan terhadap situasi. Dan berusaha

    untuk mengusir sesuatu yang dianggap pengganggu (Djuanda, 2002). Dari

    hasil pengamatan secara keseluruhan, kurang agresifnya ikan cupang

    terhadap lingkungan. Cupang yang ada sebagian besar itu cupang hias.

    Bila dibandingkan dengan literature,Menurut (Amaouri, 2007) kegemaran

    berkelahi Ikan cupang adu akan semakin memuncak apabila ikan cupang

    diletakkan di baskom, akuarium, toples, atau tempat pemeliharaan lain.

    Hal ini dikarenakan ikan cupang telah terbiasa hidup di tempat yang lebih

    nyaman bila dibandingkan dengan selokan atau tempat lainnya. Ketika

    melakukan pertarungan, ikan cupang jantan menghampiri lawan

    tandingnya. Kemudian ikan cupang jantan mempertontonkan sirip pada

    musuhnya. Sirip yang semula terlihat lemas dalam hitungan detik akan

    mengembang.

    BAB V

    KESIMPULAN

    Dari hasil praktikum kali ini dapat disimpulkan, ikan cupang B,

    merupakan super ordinat. Karena ikan cupang ini memiliki kecenderungan

    agonistik yang tertinggi terhadap penyerangan dari ikan yang lainnya. Sedangkan

    pada ikan cupang A, merupakan subordinat. Karena, setelah dilakukan

    perkelahian dengan ikan yang lainnya, selalu memiliki tingkat argonistik yang

    rendah dalam melawan, bahkan cenderung banyak menghindar. Invidu

    yang aggressive dan mampu menguasai arena perkelahian (teritori) akan

    memunculkan individu yang kuat (dominan) dan lemah (submissive/subordinat).

  • DAFTAR PUSTAKA

    Amauri, 2007. Affects Trophic Poisoning With Methyl Mercury On The Appetitive

    Elements Of The Agonistic Sequence In Fighting-Fish.London

    Campbell, Reece dan Mitchell. 2003. Biologi Jilid 1. Erlangga: Jakarta.

    Djuanda, T. 2002. Dunia Ikan. Armico: Bandung.

    Dewantor, gema. 2001. Fekunditas Dan Produksi Larva pada ikan Cupang.

    Kottelat, Whitten, J.A., Wirjoatmodjo, S. & Kartikasari.1996 dalam Yustina,

    Arnentis dan Darmawati. 2003. Daya Tetas dan Laju Pertumbuhan Larva

    Ikan Hias Betta splendens di Habitat Buatan. Jurnal Nature Indonesa.

    Universitas Riau

    Susanto, H. dan Lingga, P. 1997. Ikan Hias Air Tawar. Penebar Swadaya :

    Jakarta.

    Linke, H. 1994. Eksplorasi Ikan Cupang di Kalimantan. Trubus. No.297.

    Agustus. hal. 86-89.