1 statement kebijakan moneter - bi.go.id · komoditas internasional yang masih terus menurun, ......

of 23/23

Post on 01-Apr-2019

258 views

Category:

Documents

0 download

Embed Size (px)

TRANSCRIPT

|1

STATEMENT KEBIJAKAN MONETER

Rapat Dewan Gubernur (RDG) Bank Indonesia pada 18 Juni 2015 memutuskan untuk mempertahankan BI Rate sebesar 7,50%, dengan suku bunga Deposit Facility 5,50% dan Lending Facility pada level 8,00%. Keputusan tersebut sejalan dengan upaya untuk menjaga agar inflasi berada pada sasaran inflasi 41% di 2015 dan 2016, serta mengarahkan defisit transaksi berjalan ke tingkat yang lebih sehat dalam kisaran 2,5-3% terhadap PDB dalam jangka menengah. Bauran kebijakan Bank Indonesia tetap fokus pada upaya menjaga stabilitas makroekonomi di tengah berlanjutnya ketidakpastian ekonomi global, serta menjaga momentum pertumbuhan ekonomi melalui penerbitan ketentuan terkait dengan pelonggaran kebijakan makroprudensial. Bank Indonesia juga terus memperkuat koordinasi dengan Pemerintah dalam mengendalikan inflasi dan defisit transaksi berjalan, serta dalam mempercepat stimulus fiskal guna mendorong pertumbuhan ekonomi. Untuk itu, Bank Indonesia mendukung upaya Pemerintah Pusat dan Daerah untuk mempercepat realisasi pencairan anggaran termasuk proyek-proyek infrastruktur dan melanjutkan berbagai kebijakan struktural guna mendorong perbaikan prospek ekonomi Indonesia ke depan.

Pertumbuhan ekonomi global cenderung bias ke bawah dari perkiran semula disertai dengan masih tingginya risiko di pasar keuangan global. Potensi bias ke bawah tersebut terutama didorong oleh perkiraan pertumbuhan ekonomi AS yang tidak sekuat proyeksi sebelumnya, seiring dengan revisi ke bawah realisasi PDB AS pada triwulan I 2015. Tekanan terhadap perekonomian AS dipengaruhi oleh penguatan dolar AS yang berdampak pada menurunnya kinerja sektor eksternal serta melemahnya investasi, khususnya di bidang energi. Hal ini mendorong terus berlanjutnya ketidakpastian kenaikan suku bunga Fed Fund Rate (FFR) di AS baik dari sisi waktu maupun besarannya. Perlambatan ekonomi juga dialami Tiongkok, meskipun telah dilakukan berbagai kebijakan pelonggaran untuk menahan perlambatan ekonominya. Sebaliknya, perekonomian Eropa diperkirakan membaik ditopang pelonggaran kondisi moneter dan keuangan yang cukup efektif, meskipun dibayangi risiko terkait dengan tingginya kekhawatiran kondisi negosiasi fiskal Yunani (Grexit). Perekonomian dunia yang melambat berdampak pada harga komoditas internasional yang masih terus menurun, meskipun harga minyak dunia mulai meningkat secara gradual. Sejalan dengan risiko Grexit dan ketidakpastian kenaikan suku bunga FFR di AS, risiko di pasar keuangan global masih cukup tinggi, yang berpotensi mendorong tekanan pembalikan modal portofolio dari emerging markets, termasuk dari Indonesia.

Pertumbuhan ekonomi Indonesia pada triwulan II 2015 diprakirakan masih terbatas dan akan membaik pada triwulan-triwulan mendatang. Dari sisi eksternal, ekspor diperkirakan masih tertekan sejalan dengan perekonomian global dan harga komoditas yang masih rendah. Investasi diperkirakan masih tumbuh terbatas, seiring dengan masih lemahnya impor barang modal dan perkembangan realisasi infrastruktur yang belum secepat perkiraan. Sementara itu, konsumsi diperkirakan membaik, terindikasi dari indeks keyakinan konsumen yang meningkat pada Mei 2015. Bank Indonesia memperkirakan pertumbuhan ekonomi pada semester II 2015 akan membaik, didukung

TINJAUAN KEBIJAKAN MONETER TINJAUAN KEBIJAKAN MONETER

1

|2

oleh meningkatnya konsumsi dan investasi pemerintah sejalan dengan semakin meningkatnya implementasi proyek-proyek infrastruktur dan meningkatnya penyaluran kredit perbankan. Secara keseluruhan tahun, pertumbuhan ekonomi diperkirakan berada pada kisaran 5,0-5,4% pada 2015. Konsistensi untuk mendorong percepatan realisasi belanja Pemerintah, termasuk untuk implementasi proyek-proyek infrastruktur, serta perbaikan iklim investasi akan memiliki peranan penting dalam mendorong pertumbuhan ekonomi di 2015.

Neraca perdagangan Indonesia pada Mei 2015 kembali mencatat surplus, terutama ditopang oleh kenaikan surplus neraca nonmigas. Surplus neraca perdagangan tercatat sebesar 0,95 miliar dolar AS, lebih tinggi dibandingkan surplus pada bulan sebelumnya sebesar 0,48 miliar dolar AS. Surplus neraca perdagangan nonmigas meningkat dari bulan sebelumnya, dipengaruhi oleh penurunan impor nonmigas yang lebih tajam dibandingkan dengan penurunan ekspor nonmigas. Sementara itu, kinerja neraca perdagangan migas juga membaik, dengan defisit yang menurun dari bulan sebelumnya. Penurunan defisit tersebut dipengaruhi oleh penurunan impor migas yang lebih dalam dari penurunan ekspor migas. Dari neraca finansial, meskipun aliran modal masuk asing mengalami tekanan akibat meningkatnya ketidakpastian di pasar keuangan global, secara akumulatif aliran masuk portofolio asing ke pasar keuangan Indonesia hingga Mei 2015 mencapai 3,2 miliar dolar AS. Dengan perkembangan tersebut, cadangan devisa pada akhir Mei 2015 tercatat sebesar 110,8 miliar dolar AS atau setara dengan 7,1 bulan impor atau 6,8 bulan impor dan pembayaran utang luar negeri Pemerintah, serta berada di atas standar kecukupan internasional sekitar 3 bulan impor. Untuk triwulan II 2015, Bank Indonesia memperkirakan defisit transaksi berjalan akan berada di sekitar 2,5% dari PDB, lebih baik dari periode yang sama tahun sebelumnya sebesar 3,9% dari PDB.

Nilai tukar rupiah mengalami depresiasi seiring penguatan dolar AS terhadap hampir semua mata uang dunia. Pada Mei 2015, rupiah secara rata-rata melemah sebesar 1,5% (mtm) ke level Rp13.141 per dolar AS. Penguatan dolar AS ditopang kebijakan Quantitative Easing ECB dan dinamika negosiasi fiskal Yunani. Selain itu, tekanan terhadap rupiah juga disebabkan kekhawatiran terhadap melambatnya ekonomi domestik, meskipun tertahan oleh peningkatan outlook rating Indonesia oleh S&P. Ke depan, Bank Indonesia terus menjaga stabilitas nilai tukar rupiah sesuai dengan fundamentalnya, sehingga dapat mendukung terjaganya stabilitas makroekonomi dan sistem keuangan.

Tekanan inflasi di bulan Mei 2015 meningkat didorong oleh gejolak harga bahan makanan. Inflasi IHK Mei 2015 tercatat sebesar 0,50% (mtm) atau 7,15% (yoy), lebih tinggi dari inflasi pada bulan sebelumnya sebesar 0,36% (mtm) atau 6,79% (yoy), terutama disebabkan oleh peningkatan inflasi bahan makanan bergejolak (volatile food). Peningkatan inflasi volatile food terutama disebabkan oleh berkurangnya pasokan, terutama akibat gangguan cuaca. Selain itu, tekanan inflasi juga terjadi pada kelompok harga barang yang dikendalikan oleh Pemerintah (administered prices), terutama didorong oleh kenaikan tarif listrik dan tarif angkutan udara. Namun, tekanan inflasi inti masih terjaga di level yang cukup rendah yakni sebesar 0,23% (mtm), sejalan dengan kegiatan perekonomian domestik yang cenderung tumbuh moderat dan ekspektasi inflasi yang terkendali. Ke depan, Bank Indonesia akan terus mencermati berbagai risiko yang memengaruhi inflasi, khususnya perkembangan harga minyak dunia, nilai tukar, penyesuaian administered prices, faktor musiman selama Ramadhan dan menjelang Lebaran, serta gejolak harga pangan terkait dengan kemungkinan terjadinya El Nino. Bank Indonesia juga terus memperkuat koordinasi kebijakan pengendalian inflasi di tingkat pusat dan daerah, melalui forum Tim Pengendalian Inflasi (TPI) dan Kelompok Kerja Nasional Tim Pengendalian Inflasi

|3

Daerah (Pokjanas TPID), termasuk langkah-langkah strategis dalam mengendalikan tekanan harga pangan khususnya menjelang Ramadhan dan Lebaran, terutama dengan memastikan kecukupan pasokan. Dengan perkembangan tersebut, Bank Indonesia meyakini bahwa target inflasi 2015 sebesar 41% masih dapat dicapai.

Stabilitas sistem keuangan tetap solid ditopang oleh ketahanan sistem perbankan dan relatif terjaganya kinerja pasar keuangan. Ketahanan industri perbankan tetap kuat dengan risiko kredit, likuiditas dan pasar yang cukup terjaga, serta dukungan modal yang kuat. Pada April 2015, rasio kecukupan modal (Capital Adequacy Ratio/CAR) masih tinggi, sebesar 20,5%, jauh di atas ketentuan minimum 8%. Sementara itu, rasio kredit bermasalah (Non Performing Loan/NPL) tetap rendah dan berada di kisaran 2,5% (gross). Dari sisi fungsi intermediasi, pertumbuhan kredit tercatat 10,4% (yoy), menurun dari bulan sebelumnya sebesar 11,3%. Sementara itu, pertumbuhan DPK pada April 2015 tercatat sebesar 14,2% (yoy), menurun dari bulan sebelumnya sebesar 16,0% (yoy). Ke depan, sejalan dengan meningkatnya aktivitas ekonomi dan upaya BI untuk melonggarkan kebijakan makroprudensial, pertumbuhan kredit diperkirakan akan meningkat.

|4

PERKEMBANGAN EKONOMI DAN KEBIJAKAN MONETER

Perkembangan Ekonomi Global

Pemulihan ekonomi global terus berlanjut dengan potensi pertumbuhan ekonomi yang bias ke bawah serta risiko di pasar keuangan global yang masih tinggi. Potensi bias ke bawah tersebut terutama didorong oleh perkiraan pertumbuhan ekonomi AS yang tidak sekuat proyeksi sebelumnya, seiring dengan revisi ke bawah realisasi PDB AS pada triwulan I 2015. Realisasi PDB AS pada triwulan I 2015 sebesar 2,7 persen, lebih rendah dibandingkan prakiraan sebelumnya sebesar 3 persen. Tekanan terhadap perekonomian AS tersebut dipengaruhi oleh penguatan dolar AS yang berdampak pada menurunnya kinerja sektor eksternal (Grafik 2.1). Ekspor mengalami perlambatan, terutama terjadi pada beberapa komoditas utama nonminyak dan ekspor minyak. Penurunan ekspor nonminyak cenderung persisten, sementara penurunan ekspor minyak juga akan berlangsung cukup lama seiring harga minyak dunia yang masih rendah. Di sisi lain, impor juga meningkat, terutama didorong oleh apresiasi dolar AS dan antisipasi kenaikan penjualan ritel pada triwulan II 2015. Selain penurunan kinerja eksternal, pelemahan ekonomi AS juga didorong oleh melemahnya investasi, terutama di sektor perminyakan. Hal ini sejalan dengan terus menurunnya jumlah rig (Grafik 2.2). Namun, perkembangan indikator terkini AS menunjukkan bahwa ekonomi AS membaik. Hal ini antara lain tercermin dari meningkatnya non farm payroll yang berada di atas ekspektasi pasar. Perkembangan ini mendorong terus berlanjutnya ketidakpastian waktu dan besarnya kenaikan suku bunga Fed Fund Rate (FFR) di AS.

Grafik 2.1. Pertumbuhan Ekspor dan Indeks Dolar

Grafik 2.2. Jumlah Rig dan Harga Minyak

Sementara itu, perlambatan ekonomi juga dialami oleh Tiongkok sejalan dengan masih lemahnya ekspor dan permintaan domestik. Permintaan ekspor dari AS yg lebih rendah dari ekspektasi sebelumnya memberikan dampak langsung dan tidak langsung terhadap ekspor Tiongkok. Pelemahan ekspor tersebut juga diakibatkan oleh apresiasi yuan dan penurunan harga komoditas ekspor yang masih terus berlanjut. Permintaan domestik juga melemah, baik dari konsumsi maupun produksi. Di sisi konsumsi, pelemahan tersebut tercermin dari menurunnya pertumbuhan penjualan ritel dan mobil. Di sisi produksi,

2

|5

melemahnya permintaan domestik terindikasi dari indeks produksi automobiles dan semen yang belum membaik serta rendahnya pertumbuhan investasi properti dan konstruksi rendah. Berbagai kebijakan pelonggaran telah dilakukan untuk menahan perlambatan ekonomi, di antaranya dengan menurunkan suku bunga deposito dan pinjaman sebesar 25 bps. Meskipun demikian, dampak kebijakan tersebut terhadap ekonomi riil masih terbatas seiring keengganan bank untuk menyalurkan kredit akibat masih tingginya risiko kredit.

Sebaliknya, perekonomian Eropa diperkirakan membaik ditopang pelonggaran kondisi moneter dan keuangan yang cukup efektif. Tingkat pengangguran terus mengalami penurunan, sejalan dengan indeks produksi yang tumbuh positif. Seiring dengan indikasi perbaikan ekonomi, ekspektasi inflasi juga mulai meningkat. Ke depan, tingkat keyakinan konsumen terhadap perbaikan ekonomi Eropa masih tinggi, meskipun dibayangi risiko terkait dengan tingginya kekhawatiran kondisi negosiasi fiskal Yunani (Grexit).

Perekonomian Jepang tumbuh sesuai perkiraan, sementara pertumbuhan ekonomi India diperkirakan bias ke atas. Perekonomian Jepang didorong oleh permintaan domestik, khususnya konsumsi. Hal ini tercermin dari pertumbuhan ritel dan penjualan department store yang tinggi. Indikasi perbaikan ekonomi juga tercermin dari pengeluaran rumah tangga yang mulai meningkat. Pertumbuhan ekonomi India yang diperkirakan bias ke atas didukung oleh berjalannya reformasi struktural yang dilakukan. Hal ini terindikasi dari meningkatnya tingkat keyakinan bisnis di negara tersebut. Selain itu, kondisi tersebut juga sejalan dengan perbaikan di sisi konsumsi dan investasi. Konsumsi India membaik, tercermin dari meningkatnya penjualan mobil. Tren investasi terus meningkat baik yang bersumber dari pemerintah maupun dari pihak swasta.

Perekonomian dunia yang melambat berdampak pada harga komoditas internasional yang masih terus menurun. Penurunan harga terbesar terutama terjadi pada komoditas timah, nikel, dan batubara. Penurunan tersebut dipengaruhi oleh perkembangan sektor industri dan konstruksi Tiongkok yang melemah. Ke depan, peningkatan harga terutama pada triwulan II 2015 diperkirakan masih terbatas sejalan dengan masih rendahnya pertumbuhan ekonomi Tiongkok. Di sisi lain, harga minyak dunia mulai meningkat secara gradual.

Risiko di pasar keuangan global masih tinggi. Hal ini sejalan dengan risiko Grexit dan terus berlanjutnya ketidakpastian waktu dan besarnya kenaikan suku bunga FFR di AS. Normalisasi the Fed diprakirakan terjadi paling cepat September 2015 atau paling lambat Desember 2015 dengan kenaikan FFR diperkirakan sebesar 25 bps. Kondisi ini berpotensi mendorong tekanan pembalikan modal portfolio dari emerging markets.

Pertumbuhan Ekonomi

Di sisi domestik, pertumbuhan ekonomi pada triwulan II 2015 diprakirakan masih terbatas dan akan membaik pada triwulan-triwulan mendatang. Konsumsi diperkirakan membaik, terindikasi dari indeks keyakinan konsumen yang meningkat pada Mei 2015. Sementara itu, investasi diperkirakan masih tumbuh terbatas, seiring dengan masih lemahnya impor barang modal dan perkembangan realisasi infrastruktur yang belum secepat perkiraan. Di sisi lain, ekspor diperkirakan masih tertekan sejalan dengan perekonomian global dan harga komoditas yang masih rendah. Bank Indonesia memperkirakan pertumbuhan ekonomi pada semester II 2015 akan membaik, didukung oleh meningkatnya konsumsi dan investasi pemerintah sejalan dengan semakin

|6

meningkatnya implementasi proyek-proyek infrastruktur dan meningkatnya penyaluran kredit perbankan. Secara keseluruhan tahun, pertumbuhan ekonomi diperkirakan berada pada kisaran 5,0-5,4% pada 2015. Konsistensi untuk mendorong percepatan realisasi belanja Pemerintah, termasuk untuk implementasi proyek-proyek infrastruktur, serta perbaikan iklim investasi akan memiliki peranan penting dalam mendorong pertumbuhan ekonomi di 2015.

Konsumsi triwulan II 2015 diperkirakan membaik, terindikasi dari indeks keyakinan konsumen (IKK) yang meningkat pada Mei 2015 (Grafik 2.3). Survei konsumen Bank Indonesia menunjukkan bahwa keyakinan konsumen pada Mei 2015 menguat, setelah mengalami pelemahan pada dua bulan sebelumnya. Penguatan IKK tersebut didorong oleh peningkatan keyakinan konsumen terhadap kondisi ekonomi saat ini dan optimisme terhadap kondisi ekonomi enam bulan mendatang. Perbaikan konsumsi terindikasi dari meningkatnya sejumlah indikator penjualan eceran pada triwulan II 2015. Pertumbuhan penjualan eceran yang meningkat tersebut terutama didorong oleh peningkatan penjualan kelompok makanan dan minuman, serta perlengkapan rumah tangga (Grafik 2.4). Sementara itu, konsumsi pemerintah berpotensi tumbuh terbatas, sejalan dengan realisasi belanja barang yang masih lambat.

Grafik 2.3. Indeks Keyakinan Konsumen Grafik 2.4. Indeks Penjualan Eceran BI

Kinerja investasi pada triwulan II 2015 diperkirakan masih tumbuh terbatas, seiring dengan masih lemahnya impor barang modal dan perkembangan realisasi infrastruktur yang belum secepat perkiraan. Kinerja investasi nonbangunan belum menunjukkan perbaikan yang signifikan. Kondisi tersebut tercermin dari investasi mesin yang masih lemah (Grafik 2.5), serta impor barang modal dan penjualan alat berat yang masih mencatat kontraksi (Grafik 2.6). Sementara itu, kinerja investasi bangunan diprakirakan tumbuh terbatas seiring dengan mundurnya realisasi proyek infrastruktur pemerintah. Mundurnya realisasi proyek infrastruktur tercermin dari penjualan alat berat dan semen yang masih terkontraksi (Grafik 2.7).

Grafik 2.5. Investasi Mesin Grafik 2.6. Indikator Investasi Nonbangun

|7

Grafik 2.7. Penjualan Semen

Dari sisi eksternal, ekspor triwulan II 2015 diperkirakan masih tertekan, sejalan dengan perekonomian global dan harga komoditas yang masih rendah (Grafik 2.8). Pertumbuhan ekonomi global yang tidak secepat perkiraan sebelumnya, berdampak pada permintaan dunia yang masih lemah, tercermin pada volume perdagangan dunia. Selain itu, harga komoditas ekspor baik pertanian, pertambangan, dan manufaktur juga masih tertekan.

Impor diprakirakan masih tumbuh terbatas pada triwulan II 2015, merespons kinerja investasi yang tumbuh terbatas dan ekspor yang masih tertekan. Hingga April 2015, penurunan impor terjadi di semua komponen (Grafik 2.9), termasuk impor bahan baku yang sebelumnya tumbuh positif. Impor barang modal terkontraksi semakin dalam, khususnya impor barang modal di luar alat transportasi. Sementara itu, penurunan impor bahan baku terjadi pada kelompok bahan baku processed untuk industri. Impor barang konsumsi juga turun tajam dalam bentuk impor makanan dan minuman baik primary maupun processed untuk keperluan rumah tangga.

Grafik 2.8. Indeks Harga Ekspor Nonmigas

Grafik 2.9. Pertumbuhan Impor Nonmigas Riil

Dari sisi sektoral (lapangan usaha), pertumbuhan ekonomi yang terbatas pada triwulan II 2015 terjadi pada sebagian besar sektor ekonomi. Dorongan permintaan global dan domestik yang tidak sekuat sebelumnya berdampak pada lebih rendahnya kinerja sektoral, terutama pada sektor industri pengolahan, sektor pertambangan, dan sektor konstruksi. Sektor industri pengolahan terindikasi masih melambat, sebagaimana tercermin dari penurunan output pada survei Purchasing Manager Index (PMI), penurunan volume produksi otomotif serta penurunan penggunaan listrik sektor industri. Melemahnya permintaan global juga berdampak pada kinerja sektor pertambangan, antara lain komoditas batubara. Harga yang terus turun mendorong produsen batubara memangkas produksinya hingga -19,4% (yoy) untuk periode Jan-Mei 2015. Sementara itu, realisasi

|8

belanja pemerintah pusat yang masih rendah, termasuk untuk proyek infrastruktur sampai dengan triwulan II 2015, berdampak pada lebih rendahnya kinerja sektor konstruksi.

Bank Indonesia memperkirakan pertumbuhan ekonomi pada semester II 2015 akan membaik, didukung oleh meningkatnya konsumsi dan investasi pemerintah sejalan dengan semakin meningkatnya implementasi proyek-proyek infrastruktur dan meningkatnya penyaluran kredit perbankan. Secara keseluruhan tahun, pertumbuhan ekonomi diperkirakan berada pada kisaran 5,0-5,4% pada 2015. Konsistensi untuk mendorong percepatan realisasi belanja Pemerintah, termasuk untuk implementasi proyek-proyek infrastruktur, serta perbaikan iklim investasi akan memiliki peranan penting dalam mendorong pertumbuhan ekonomi di 2015.

Neraca Pembayaran Indonesia

Neraca perdagangan Indonesia pada Mei 2015 kembali mencatat surplus, terutama ditopang oleh kenaikan surplus neraca nonmigas. Surplus neraca perdagangan tercatat sebesar 0,95 miliar dolar AS, lebih tinggi dibandingkan surplus pada bulan sebelumnya sebesar 0,48 miliar dolar AS (Grafik 2.10). Kenaikan surplus neraca perdagangan tersebut terutama didorong oleh kenaikan surplus neraca perdagangan nonmigas dari bulan sebelumnya yang dipengaruhi oleh penurunan impor nonmigas yang lebih tajam dibandingkan dengan penurunan ekspor nonmigas. Sementara itu, kinerja neraca perdagangan migas juga membaik, dengan defisit yang menurun dari bulan sebelumnya. Penurunan defisit tersebut dipengaruhi oleh penurunan impor migas yang lebih dalam dari penurunan ekspor migas.

Surplus neraca perdagangan nonmigas tercatat sebesar 1,66 miliar dolar AS, naik dari 1,36 miliar pada bulan sebelumnya. Ekspor nonmigas terkontraksi karena turunnya ekspor lemak dan minyak hewan/nabati, bahan bakar mineral, mesin/peralatan listrik, karet dan barang dari karet, dan kendaraan & bagiannya. Penurunan lebih lanjut tertahan oleh perbaikan kinerja ekspor beberapa komoditas, terutama bijih, kerak, dan abu logam, benda-benda dari besi dan baja, dan bahan kimia anorganik. Penurunan kinerja ekspor tersebut diiringi oleh penurunan impor nonmigas yang lebih tajam terutama karena penurunan impor mesin dan peralatan mekanik, mesin dan peralatan listrik, serta besi dan baja.

Kinerja neraca perdagangan migas juga membaik dengan defisit yang menurun menjadi 0,71 miliar dolar AS dari 0,88 miliar dolar AS pada bulan sebelumnya. Penurunan defisit tersebut dipengaruhi oleh penurunan ekspor migas sebesar 6,0% (mtm) yang disertai dengan penurunan impor migas yang lebih dalam sebesar 10,9% (mtm). Ekspor migas periode Mei 2015 tercatat sebesar 1,37 miliar dolar AS, lebih rendah dibanding periode sebelumnya sebesar 1,46 miliar dolar AS, sejalan dengan berkurangnya ekspor hasil minyak dan gas. Sementara itu, impor migas turun dari 2,34 miliar dolar AS pada bulan sebelumnya menjadi 2,08 miliar dolar AS, terutama disebabkan oleh turunnya impor minyak mentah, hasil minyak dan gas.

Bank Indonesia memandang bahwa tren surplus neraca perdagangan Mei 2015 ini sangat positif dalam mendukung kinerja transaksi berjalan triwulan II-2015. Untuk keseluruhan tahun 2015, defisit transaksi berjalan diperkirakan berada di sekitar 2,5% PDB, lebih baik dari tahun sebelumnya.

|9

Grafik 2.10. Neraca Perdagangan Grafik 2.11. Aliran Dana Nonresiden Pada Aset Rupiah

Dari neraca finansial, aliran modal asing masih tercatat positif. Meskipun aliran modal masuk asing mengalami tekanan akibat meningkatnya ketidakpastian di pasar keuangan global, secara akumulatif aliran masuk portofolio asing ke pasar keuangan Indonesia hingga Mei 2015 mencapai 3,2 miliar dolar AS (Grafik 2.11). Dengan perkembangan tersebut, cadangan devisa pada akhir Mei 2015 tercatat sebesar 110,8 miliar dolar AS atau setara dengan 7,1 bulan impor atau 6,8 bulan impor dan pembayaran utang luar negeri Pemerintah, serta berada di atas standar kecukupan internasional sekitar 3 bulan impor.

Nilai Tukar Rupiah

Nilai tukar rupiah mengalami depresiasi seiring penguatan dolar AS terhadap hampir semua mata uang dunia. Pada Mei 2015, rupiah secara rata-rata melemah sebesar 1,5% (mtm) ke level Rp13.141 per dolar AS dari bulan sebelumnya sebesar Rp.12.944 per dolar AS. Sejalan dengan itu, secara point-to-point (ptp) Rupiah terdepresiasi sebesar 1,98% dan ditutup pada level Rp.13.224 per dolar AS (Grafik 2.12). Meskipun demikian, pelemahan rupiah relatif masih moderat dibandingkan dengan mata uang Brasil, Jepang, Korea Selatan, Malaysia, Afrika Selatan, Thailand dan Singapura (Grafik 2.13).

Grafik 2.12. Pergerakan Nilai Tukar

Rupiah Grafik 2.13. Nilai Tukar Kawasan

Tekanan terhadap rupiah terutama didorong oleh faktor eksternal. Dari eksternal, tekanan depresiasi dipicu oleh penguatan dolar AS yang ditopang oleh kebijakan Quantitative Easing ECB dan dinamika negosiasi fiskal Yunani (Grafik 2.14). Selain itu, dari sisi internal, tekanan terhadap rupiah disebabkan oleh kekhawatiran terhadap

|10

melambatnya ekonomi domestik, meskipun tertahan oleh peningkatan outlook rating Indonesia dari stable menjadi positif oleh Standard & Poors (S&P).

Volatilitas rupiah pada Mei 2015 mengalami peningkatan, meskipun relatif lebih rendah dibandingkan negara peers. Kenaikan volatilitas Rupiah terutama terjadi di awal bulan menyusul pelemahan rupiah pasca rilis data PDB triwulan I 2015 yang melambat. Volatilitas kemudian relatif lebih terkendali hingga akhir bulan. Dibandingkan dengan mata uang negara peers, volatilitas Rupiah masih relatif lebih rendah dibandingkan dengan Real Brasil, Lira Turki, Baht Thailand, Rand Afrika Selatan, Ringgit Malaysia, dan Dolar Singapura (Grafik 2.15).

Grafik 2.14. Dolar-Asia Dolar Index Grafik 2.15. Volatilitas Nilai Tukar

Negara Peers Ke depan, Bank Indonesia terus menjaga stabilitas nilai tukar rupiah sesuai dengan fundamentalnya, sehingga dapat mendukung terjaganya stabilitas makroekonomi dan sistem keuangan.

Inflasi

Tekanan inflasi di bulan Mei 2015 meningkat didorong oleh gejolak harga bahan makanan. Inflasi IHK Mei 2015 tercatat sebesar 0,50% (mtm) atau 7,15% (yoy), lebih tinggi dari inflasi pada bulan sebelumnya sebesar 0,36% (mtm) atau 6,79% (yoy), terutama disebabkan oleh peningkatan inflasi bahan makanan bergejolak (volatile food). Peningkatan inflasi volatile food terutama disebabkan oleh berkurangnya pasokan, terutama akibat gangguan cuaca. Selain itu, tekanan inflasi juga terjadi pada kelompok harga barang yang dikendalikan oleh Pemerintah (administered prices), terutama didorong oleh kenaikan tarif listrik dan tarif angkutan udara. Namun, tekanan inflasi inti masih terjaga di level yang cukup rendah yakni sebesar 0,23% (mtm), sejalan dengan kegiatan perekonomian domestik yang cenderung tumbuh moderat dan ekspektasi inflasi yang terkendali (Grafik 2.16). Inflasi kelompok volatile food terutama disebabkan oleh kenaikan harga aneka cabai dan aneka bawang. Kelompok volatile food tercatat inflasi sebesar 1,52% (mtm) atau 8,10% (yoy), meningkat dibandingkan bulan sebelumnya sebesar -0,91% (mtm) atau 6,25% (yoy) (Grafik 2.17). Kenaikan harga aneka cabai didorong oleh penurunan pasokan akibat gangguan cuaca dan peningkatan permintaan menjelang Ramadhan. Di sisi lain, kenaikan harga bawang merah disebabkan oleh penurunan pasokan akibat gangguan cuaca, sementara kenaikan harga bawang putih disebabkan oleh penurunan impor seiring penurunan produksi bawang putih di Tiongkok yang masih terus berlangsung (Tabel 2.1).

|11

Grafik 2.16. Perkembangan Inflasi Grafik 2.17. Pola Inflasi/DeflasiVolatile Food

Tabel 2.1. Penyumbang Inflasi/Deflasi Kelompok Volatile Food

No. VolatileFood (%,mtm) Kontribusi(%,mtm)

1 Cabai Merah 26.49 0.102 DagingAyamRas 5.04 0.063 TelurAyamRas 6.32 0.044 BawangMerah 5.84 0.035 BawangPutih 8.96 0.026 IkanSegar 0.56 0.027 TomatSayur 7.47 0.018 Cabai Rawit 6.25 0.01

Deflasi1 Beras (0.90) 0.042 MinyakGoreng (0.58) 0.01

Inflasi

Inflasi administered prices meningkat pada Mei 2015 terutama bersumber dari kenaikan tarif listrik dan tarif angkutan udara. Pada Mei 2015, kelompok administered prices tercatat mengalami inflasi sebesar 0,38% (mtm) atau 13,35% (yoy) (Grafik 2.18). Tarif listrik meningkat akibat depresiasi Rupiah dan kenaikan harga minyak dunia dua bulan lalu, sejalan dengan penerapan kebijakan tariff adjustment sejak awal tahun ini. Komoditas lain yang yang menyumbang inflasi pada bulan ini adalah bensin, rokok, dan angkutan udara (Tabel 2.2).

Tabel 2.2. Penyumbang Inflasi/Deflasi

Kelompok Administered Prices

No. AdministeredPrices (%,mtm) Kontribusi(%,mtm)

1 TarifListrik 0.67 0.022 Bensin 0.36 0.013 RokokKretekFilter 0.57 0.014 RokokKretek 1.04 0.015 AngkutanUdara 0.99 0.01

Inflasi

Grafik 2.18. Pola Inflasi/Deflasi Administered Prices

|12

Inflasi inti stabil sejalan dengan pelemahan ekonomi domestik dan penurunan harga komoditas global nonminyak. Inflasi inti pada Mei 2015 stabil sebesar 0,23% (mtm) atau 5,04% (yoy). Stabilnya inflasi inti didorong oleh penurunan inflasi akibat pelemahan ekonomi domestik dan penurunan harga komoditas global nonminyak yang dapat mengimbangi dampak tekanan inflasi yang bersumber dari faktor eksternal khususnya depresiasi. Dampak pelemahan ekonomi domestik ditunjukkan oleh penurunan inflasi inti non-traded pada Mei 2015 (Grafik 2.19). Sementara itu, tekanan inflasi inti pada Mei 2015 yang bersumber dari sisi eksternal, khususnya depresiasi, ditunjukkan oleh peningkatan inflasi inti traded (Grafik 2.20).

Grafik 2.19. Inflasi Inti Nontraded Grafik 2.20. Inflasi Inti Traded dan Faktor Eksternal

Inflasi inti yang stabil juga didukung oleh terkendalinya ekspektasi inflasi. Consensus Forecast bulanan edisi April 2015 menunjukkan bahwa ekspektasi inflasi tahun 2015 stabil di tingkat 6,0% (rata-rata), atau sama dengan bulan sebelumnya (Grafik 2.21). Sementara itu dalam jangka pendek, hasil Survei Penjualan Eceran dan Survei Konsumen untuk 3 bulan yang akan datang menunjukkan penurunan sejalan dengan koreksi harga pasca hari raya Idul Fitri (Grafik 2.22).

Grafik 2.21. Ekspektasi Inflasi Consensus Forecast (Bulanan)

Grafik 2.22. Ekspektasi Harga Pedagang Eceran

Secara spasial, tekanan inflasi yang meningkat pada Mei 2015 bersumber dari kenaikan inflasi di hampir seluruh daerah. Berdasarkan kawasan, kenaikan inflasi di kawasan Sumatera lebih tinggi dibandingkan kawasan lainnya. Meningkatnya tekanan inflasi di berbagai daerah di Sumatera ini dipicu oleh kenaikan harga aneka bumbu, terutama cabai merah. Di sisi lain, Kepulauan Bangka Belitung merupakan satu-satunya daerah yang mengalami deflasi pada bulan ini, didorong antara lain oleh koreksi harga

|13

pada komoditas bahan makanan (ikan segar). Sementara itu, inflasi di Kawasan Timur Indonesia (KTI) juga tercatat cukup tinggi, terutama di Sulawesi, Maluku, dan Maluku Utara (Gambar 2.1). Inflasi di beberapa daerah di Sulawesi dan Maluku lebih disebabkan oleh kenaikan harga yang cukup tinggi pada komoditas ikan segar.

Gambar 2.1 Peta Sebaran Inflasi IHK (%, mtm)

Ke depan, Bank Indonesia akan terus mencermati berbagai risiko yang memengaruhi inflasi, khususnya perkembangan harga minyak dunia, nilai tukar, penyesuaian administered prices, faktor musiman selama Ramadhan dan menjelang Lebaran, serta gejolak harga pangan terkait kemungkinan terjadinya El Nino. Bank Indonesia juga terus memperkuat koordinasi kebijakan pengendalian inflasi di tingkat pusat dan daerah, melalui forum Tim Pengendalian Inflasi (TPI) dan Kelompok Kerja Nasional Tim Pengendalian Inflasi Daerah (Pokjanas TPID), termasuk langkah-langkah strategis dalam mengendalikan tekanan harga pangan khususnya menjelang Ramadhan dan Lebaran, terutama dengan memastikan kecukupan pasokan. Dengan perkembangan tersebut, Bank Indonesia meyakini bahwa target inflasi 2015 sebesar 41% masih dapat dicapai.

Perkembangan Moneter

Kondisi likuiditas di Pasar Uang Antar Bank dan perbankan relatif terjaga. Sejalan dengan perkembangan tersebut, suku bunga deposito dan kredit mengalami penurunan meskipun penurunan suku bunga kredit tertahan oleh meningkatnya risiko kredit. Selain karena masih lemahnya prospek perekonomian, tertahannya penurunan suku bunga kredit kemudian menyebabkan pertumbuhan kredit melambat. Sejalan dengan pertumbuhan kredit yang melambat, disertai operasi keuangan pemerintah yang terkontraksi, likuiditas perekonomian dalam arti luas (M2) tercatat melambat.

Suku bunga PUAB O/N menurun seiring dengan terjaganya likuiditas di Pasar Uang Antar Bank. Pada Mei 2015, suku bunga PUAB O/N mengalami penurunan menjadi 5,61% dari 5,73% pada bulan sebelumnya. Dengan demikian, suku bunga PUAB O/N kembali mendekat ke DF rate di level 5.50%. Penurunan ini terutama terjadi pada suku bunga PUAB dengan tenor sampai dengan 1 minggu. Sementara itu, suku bunga PUAB

Inflasi Nasional: 0,50% (mtm)

|14

untuk tenor yang lebih panjang cenderung mengalami peningkatan terkait dengan potensi pengetatan likuiditas berupa penarikan uang kartal menjelang bulan puasa dan lebaran. (Grafik 2.23).

Likuiditas di Pasar Uang Antar Bank (PUAB) tetap terjaga. Terjaganya likuiditas PUAB terindikasi dari spread suku bunga max-min di PUAB yang menurun menjadi 101 bps dibandingkan bulan sebelumnya yang sebesar 106 bps. Secara nominal, volume rata-rata PUAB total pada Mei 2015 tercatat turun menjadi Rp10,00 triliun dari Rp15,17 triliun pada bulan sebelumnya. Penurunan volume PUAB total lebih dikontribusi oleh turunnya volume PUAB O/N yang turun dari Rp 10,39 triliun menjadi Rp5,17 triliun (Grafik 2.24).

3

4

5

6

7

8

9

Jan13

Feb13

Mar13

Apr13

May13

Jun13

Jul13

Aug13

Sep13

Oct13

Nov13

Dec13

Jan14

Feb14

Mar14

Apr14

May14

Jun14

Jul14

Aug14

Sep14

Oct14

Nov14

Dec14

Jan15

Feb15

Mar15

Apr15

May15

%

rPUABON BIRate DFRate LFRate

(5)1535557595115135155175

3,0

4,0

5,0

6,0

7,0

8,0

9,0

Feb13

May13

Aug13

Nov13

Feb14

May14

Aug14

Nov14

Feb15

May15

VolDFO/N(RHS) VolPUABO/N(RHS)rBIRate rPUABO/N

RpT%

AvgPosisi DF : Rp101,99TRRTVolPUAB :Rp10.00 T

rPUAB :5.61%

Grafik 2.23. Suku Bunga PUAB O/N Grafik 2.24. Suku Bunga PUAB O/N & Vol DF O/N

Suku bunga simpanan perbankan terus melanjutkan tren menurun. Pada April 2015, rata-rata tertimbang suku bunga deposito mengalami penurunan -23 bps menjadi 8,39% dengan penurunan terbesar terjadi pada deposito jangka waktu 1 bulan dan 3 bulan. Penurunan suku bunga deposito ini didorong oleh perbaikan kondisi likuiditas perbankan seiring dengan pertumbuhan DPK yang lebih tinggi daripada pertumbuhan penyaluran kredit. Sementara itu, suku bunga kredit juga menurun, meskipun tertahan terkait dengan meningkatnya risiko kredit. Rata-rata tertimbang suku bunga kredit hanya menurun -1 bps menjadi 12,98%, utamanya didorong oleh penurunan suku bunga KMK. Di sisi lain, suku bunga KI dan KK masih meningkat (Grafik 2.25). Pada April 2015, suku bunga KMK mengalami penurunan -7 bps, sementara suku bunga KI dan KK sama-sama tercatat naik 5 bps. Penurunan suku bunga deposito yang lebih besar daripada penurunan suku bunga kredit membuat spread suku bunga perbankan meningkat dari 437 bps menjadi 459 bps (Grafik 2.26).

12.75

12.32

13.73

12.98

11.0

11.5

12.0

12.5

13.0

13.5

14.0

14.5

Jan13

Feb13

Mar13

Apr13

May13

Jun13

Jul13

Aug13

Sep13

Oct13

Nov13

Dec13

Jan14

Feb14

Mar14

Apr14

May14

Jun14

Jul14

Aug14

Sep14

Oct14

Nov14

Dec14

Jan15

Feb15

Mar15

Apr15

SbKMK SbKI SbKK SbKreditRp

%

5.0

5.5

6.0

6.5

7.0

7.5

8.0

8.5

9.0

9.5

10.0

Jan13

Feb13

Mar13

Apr13

May13

Jun13

Jul13

Aug

13

Sep13

Oct13

Nov13

Dec13

Jan14

Feb14

Mar14

Apr14

May14

Jun14

Jul14

Aug

14

Sep14

Oct14

Nov14

Dec14

Jan15

Feb15

Mar15

Apr15

%RRT 1Bln 3Bln

6Bln 12Bln 24Bln

BIRATE LPS

Grafik 2.25. Suku BungaKMK, KI dan KK

Grafik 2.26. Selisih Suku Bunga Perbankan

|15

Likuiditas perekonomian dalam arti luas (M2) tumbuh melambat dibandingkan bulan sebelumnya. Pada April 2015, posisi M2 tercatat sebesar Rp4.274,9 triliun, atau tumbuh 14,9% (yoy), lebih rendah dibandingkan pertumbuhan Maret 2015 yang sebesar 16,3% (yoy). Berdasarkan komponennya, perlambatan pertumbuhan M2 tersebut bersumber dari komponen M1 (Uang Kartal dan Giro Rupiah) maupun komponen Uang Kuasi (Simpanan Berjangka dan Tabungan baik dalam rupiah maupun valas serta Simpanan Giro Valuta Asing) (Grafik 2.27). M1 dan Uang Kuasi masing-masing tumbuh 9,0% (yoy) dan 16,7% (yoy), melambat dari 12,2% (yoy) dan 17,6% (yoy) pada bulan sebelumnya (Grafik 2.28).

6,3

9,0

10,93

5

0

5

10

15

20

25

30

Jan12

Apr12

Jul12

Okt12

Jan13

Apr13

Jul13

Okt13

Jan14

Apr14

Jul14

Okt14

Jan15

Apr15

COB M1 GiroRp

PertumbuhanM1(%yoy)

Grafik 2.27. Pertumbuhan M2 dan Komponennya

Grafik 2.28. Pertumbuhan M1 dan Komponennya

Berdasarkan faktor yang mempengaruhi, melambatnya pertumbuhan M2 terutama dipengaruhi oleh turunnya pertumbuhan kredit yang disalurkan. Pada April 2015, kredit yang disalurkan oleh perbankan mencapai Rp3.747,3 triliun, atau tumbuh 10,3% (yoy)1, melambat dibandingkan pertumbuhan bulan sebelumnya sebesar 11,1% (yoy). Sementara itu, operasi keuangan pemerintah juga mengalami kontraksi yang tercermin dari pertumbuhan tagihan bersih kepada Pempus sebesar 32,9% (yoy), turun dari pertumbuhan bulan sebelumnya sebesar 38,2% (yoy) (Grafik 2.29).

Grafik 2.29. Pertumbuhan M2 dan

Faktor-faktor yang Memengaruhinya

1 Perhitungan pertumbuhan penyaluran kredit sebesar 10,3% (yoy) pada April 2015 menggunakan konsep moneter, yaitu pinjaman rupiah dan valas yang diberikan oleh Bank Umum dan BPR (tidak termasuk kantor cabang bank yang beroperasi di luar wilayah Indonesia) kepada penduduk (tidak termasuk Pemerintah Pusat). Sementara itu, pertumbuhan kredit menggunakan konsep perbankan pada April 2015 tercatat sebesar 10,42% (yoy). Kredit menurut konsep perbankan adalah pinjaman rupiah dan valas yang diberikan oleh Bank Umum (termasuk kantor cabang yang beroperasi di luar wilayah Indonesia) kepada penduduk (termasuk Pemerintah Pusat) dan bukan penduduk.

|16

Industri Perbankan

Stabilitas sistem keuangan tetap terjaga ditopang oleh industri perbankan yang solid. Risiko kredit, risiko likuiditas dan risiko pasar di industri perbankan relatif stabil dan terkendali. Selain itu, kondisi permodalan juga masih kuat untuk memelihara industri perbankan secara keseluruhan.

Pertumbuhan kredit pada April 2015 melambat. Seiring dengan masih lemahnya prospek ekonomi, pertumbuhan kredit pada April 2015 masih melambat dengan tumbuh 10,42% (yoy)2, lebih rendah dibandingkan 11,28% (yoy) pada bulan sebelumnya. Kredit Modal Kerja (KMK) dan Kredit Investasi (KI) tumbuh masing-masing sebesar 9,14% (yoy) dan 11,21% (yoy) atau lebih rendah dibandingkan pertumbuhan bulan sebelumnya yang sebesar 9,95% (yoy) dan 13,54% (yoy). Di sisi lain, Kredit Konsumsi (KK), dengan pangsa 27,85% dari total kredit, tercatat tumbuh meningkat menjadi 11,93 (yoy) dari bulan sebelumnya sebesar 11,56% (yoy) (Grafik 2.30).

Secara sektoral, pertumbuhan kredit April 2015 di sektor-sektor utama mengalami perlambatan. Perlambatan pertumbuhan kredit sektoral tersebut seiring dengan perlambatan pertumbuhan ekonomi. Penyaluran kredit di Sektor PHR, yang memiliki pangsa 22% dari total kredit, tumbuh melambat menjadi 10,8% (yoy) dari 11,9% (yoy) pada bulan sebelumnya. Pertumbuhan kredit Sektor Industri Pengolahan dan Sektor Pertanian juga melambat masing-masing menjadi 16,1% (yoy) dan 14,1% (yoy) dari 17,5% (yoy) dan 16,4% (yoy) pada bulan sebelumnya. Di sisi lain, kredit kepada Sektor Pertambangan dan Sektor Lainnya mencatat peningkatan. Sementara itu, penyaluran kredit ke Sektor Jasa-Jasa dan Sektor Listrik, Air dan Gas masih terus tumbuh negatif (Grafik 2.31).

5

0

5

10

15

20

25

30

35

40

45

Jan12

Apr12

Jul12

Okt12

Jan13

Apr13

Jul13

Okt13

Jan14

Apr14

Jul14

Okt14

Jan15

Apr15

Total KMK KI KK%yoy

14.1

7.1

16.1

7.9

27.8

10.8

4.1

5.8

13.7

12.6

16.4

6.7

17.5

4.8

28.3

11.9

6.2

4.7

15.6

12.4

10 0 10 20 30 40

Pertanian

Pertambangan

IndustriPengolahan

Listrik,AirdanGas

Konstruksi

Perdagangan

Pengangkutan

JasaDuniaUsaha

JasaSosial

Lainnya

Mar15 Apr15

%

Grafik 2.30. Pertumbuhan Kredit Menurut Penggunaan

Grafik 2.31. Pertumbuhan Kredit Menurut Sektor Ekonomi

Pada April 2015, pertumbuhan DPK juga menurun. DPK tumbuh 14,15% (yoy) pada April 2015, turun dibandingkan pertumbuhan Maret 2015 yang sebesar 16,04% (yoy). Penurunan pertumbuhan terjadi pada seluruh jenis simpanan. Deposito, giro, dan tabungan masing-masing tumbuh sebesar 22,3% (yoy), 12,9% (yoy), dan 3,3% (yoy), lebih rendah dibandingkan pertumbuhan bulan sebelumnya yang sebesar 23,68% (yoy), 17,66% (yoy) dan 3,99% (yoy) (Grafik 2.32).

2 Kredit menurut konsep perbankan.

|17

5

10

15

20

25

30

35

5

10

15

20

25

30

35

Jan10

Apr10

Jul1

0Okt10

Jan11

Apr11

Jul1

1Okt11

Jan12

Apr12

Jul1

2Okt12

Jan13

Apr13

Jul1

3Okt13

Jan14

Apr14

Jul1

4Okt14

Jan15

Apr15

DPK(RHS) Giro Tab Deposito%,yoy

PerApr2015

Grafik 2.32. Pertumbuhan DPK

Di tengah aktivitas ekonomi yang melambat, ketahanan perbankan yang tercermin dari unsur permodalan bank tetap terjaga, diiringi risiko kredit yang relatif terkendali. Pada April 2015, rasio kecukupan modal (Capital Adequacy Ratio/CAR) masih tinggi, yaitu sebesar 20,54%, jauh di atas ketentuan minimum 8%. Angka ini sedikit lebih rendah dibandingkan dengan CAR pada akhir bulan sebelumnya yang sebesar 20,73%. Kondisi ini mencerminkan daya tahan perbankan yang masih tinggi untuk mengatasi tekanan dan gejolak di perekonomian. Sementara itu, rasio kredit bermasalah (Non Performing Loan/NPL) tetap rendah dan berada di kisaran 2,50% (Tabel 2.3).

Tabel 2.3. Kondisi Umum Perbankan

Jan Feb Mar Apr Mei Jun Jul Agust Sep Okt Nop Des Jan Feb Mar AprTotal Aset (T Rp) 4,880.5 4,888.8 4,933.0 5,008.1 5,097.5 5,198.0 5,121.1 5,218.9 5,418.8 5,445.7 5,511.1 5,615.1 5,622.0 5,683.2 5,784.0 5,792.7DPK (T Rp) 3,594.7 3,603.6 3,618.1 3,694.8 3,763.5 3,834.5 3,778.4 3,855.9 3,995.8 4,011.4 4,054.7 4,114.4 4,105.9 4,151.4 4,198.6 4,217.6Kredit* (T Rp) 3,258.4 3,267.8 3,306.9 3,361.3 3,403.1 3,468.2 3,495.0 3,498.4 3,561.3 3,558.1 3,596.6 3,674.3 3,634.3 3,665.7 3,679.9 3,711.6LDR* (%) 90.65 90.68 91.40 90.98 90.43 90.45 92.50 90.73 89.13 88.70 88.70 89.30 88.52 88.30 87.65 88.00NPLsBruto(%) 1.90 1.99 2.00 2.05 2.18 2.16 2.24 2.31 2.29 2.35 2.36 2.16 2.35 2.43 2.40 2.48CAR (%) 19.63 19.78 19.83 19.35 19.47 19.37 19.26 19.32 19.40 19.64 19.62 19.38 20.84 21.09 20.73 20.54NIM (%) 4.1 4.1 4.3 4.3 4.1 4.1 4.1 4.2 4.2 4.2 4.2 4.1 4.1 4.0 5.1 5.1ROA (%) 2.8 2.7 2.9 2.9 2.9 2.9 2.8 2.8 2.8 2.8 2.8 2.8 2.7 2.4 2.6 2.5* tanpa channeling

Indikator Utama

2014 2015

Pasar Saham dan Pasar Surat Berharga Negara

Pasar saham domestik selama Mei 2015 tercatat menguat yang didorong oleh sejumlah sentimen positif. IHSG pada akhir Mei 2015 mencapai level 5.216,38 atau naik 130 poin (+2,55%) dibandingkan posisi akhir bulan sebelumnya (Grafik 2.33). Penguatan IHSG ini dipengaruhi oleh sentimen positif terhadap rilis beberapa indikator ekonomi yang membaik seperti inflasi April masih sesuai dengan perkiraan serta neraca perdagangan dan defisit transaksi berjalan April yang lebih baik dari ekspektasi. Sentimen positif juga muncul dari pengumuman BI rate yang masih sesuai ekspektasi disertai dengan pelonggaran kebijakan LTV untuk KPR dan kendaraan bermotor. Selain itu, keputusan S&P untuk menaikkan outlook credit rating Indonesia juga memperoleh respon positif di bursa.

|18

Kinerja IHSG pada Mei 2015 tercatat lebih baik dibandingkan dengan bursa saham di kawasan (Vietnam, Filipina, Thailand, Malaysia dan Singapura). Pertumbuhan IHSG sebesar 2,55% merupakan yang tertinggi di antara negara-negara kawasan yang sebagian besar mengalami penurunan kinerja. Pelemahan bursa negara kawsan berada pada kisaran -1,7% sampai -3,9% dengan penurunan terbesar terjadi pada bursa saham Malaysia.

Pada Mei 2015, harga saham pada sebagian besar sektor ekonomi mengalami penguatan. Penguatan terbesar terjadi pada sektor pertanian (+15,6%), diikuti oleh sektor industri dasar (+7,4%) dan sektor infrastruktur (+5,1%). Penguatan di sektor pertanian dipengaruhi oleh optimisme investor terhadap perbaikan kinerja emiten yang bergerak di bidang pertanian. Sektor yang mengalami koreksi pada Mei 2015 hanyalah sektor perdagangan yang turun -0,7% (Grafik 2.34).

2,55%

1,3%2,0%1,7%

3,9%2,7%

3,8%2,5%

3,0%0,3%

5,3%1,0%

1,8%0,6%

5% 3% 1% 1% 3% 5%

Indonesia(IHSG)Vietnam

Thailand(SET)Philippine

KualaLumpur(KLCI)StraitTimes(STI)

Shanghai(SHCOMP)HongKong(HangSeng)

India(SENSEX)England(FTSE)Japan(Nikkei)

US(DowJones)EMASIAWorld

2,55%

5,1%

0,3%

1,9%

7,4%

4,9%

0,9%

0,7%

15,6%

0,3%

5% 0% 5% 10% 15% 20%

IHSG

Infrastruktur

Pertambangan

Keuangan

IndustriDasar

AnekaIndustri

Konsumsi

Perdagangan

Pertanian

Properti

Grafik 2.33. IHSG dan Indeks Bursa Global

Grafik 2.34. Indeks Sektoral Maret 2015

Selama Mei 2015, di tengah kenaikan IHSG, investor non residen membukukan net jual didorong oleh sentimen negatif global dan kekhawatiran perlambatan ekonomi Indonesia. Investor non residen membukukan net jual sebesar Rp3,46 triliun pada Mei 2015, berbalik arah dibandingkan bulan sebelumnya yang mencatat net beli sebesar Rp5,90 triliun (Gambar 2.35). Aksi jual investor non residen terutama dipengaruhi oleh sentimen negatif global terkait kebijakan normalisasi the Fed yang kemungkinan akan dilakukan dalam waktu dekat mengingat membaiknya rilis data perekonomian AS. Selain itu, sentimen negatif juga muncul dari masalah penundaan pembayaran utang Yunani kepada IMF. Dari sisi domestik, tekanan jual dipengaruhi oleh kekhawatiran terhadap perlambatan ekonomi Indonesia. Namun demikian, di tengah tekanan jual oleh investor non residen, pasar saham domestik masih tumbuh positif akibat aksi beli investor domestik yang memanfaatkan strategi buy on weakness. Hingga Mei 2015, posisi kepemilikan saham oleh non residen mencapai 47,1% atau turun dibandingkan bulan sebelumnya yang sebesar 45,3%.

Berbeda dengan kinerja pasar saham, kinerja pasar SBN melemah dengan yield yang meningkat di seluruh tenor. Turunnya kinerja di pasar obligasi dipengaruhi oleh sejumlah sentimen negatif global. Kekhawatiran terhadap rencana kenaikan FFR, yang diperkirakan akan terjadi dalam waktu dekat, menyebabkan tekanan jual di pasar SBN terutama oleh investor non residen. Selain itu, investor juga mengkhawatirkan kemungkinan penundaan pembayaran utang Yunani ke IMF yang pada akhirnya mendorong tren kenaikan yield di pasar SBN. Pada Mei 2015, yield SBN naik 37 bps dari

|19

7,74% menjadi 8,10%. Yield jangka pendek, menengah dan panjang masing-masing naik sebesar 32 bps, 42 bps dan 32 bps menjadi 7,77%, 8,15% dan 8,47% (Grafik 2.36).

(3,46)

(25,0)

(20,0)

(15,0)

(10,0)

(5,0)

5,0

10,0

15,0

20,0

4000

4200

4400

4600

4800

5000

5200

5400

5600

5800

Mei13

Jul13

Sep13

Nop13

Jan14

Mar14

Mei14

Jul14

Sep14

Nop14

Jan15

Mar15

Mei15

NetBeli/JualAsing(RHS) IHSG

IHSG NetBeli/JualAsing(T)

Grafik 2.35. Kinerja IHSG dan Net Beli/Jual Asing

Grafik 2.36. Perubahan Yield Bulanan (mtm)

Di tengah kenaikan yield, investor non residen melakukan pembelian SBN. Selama Mei 2015, investor non residen tercatat membukukan net beli sebesar Rp6,31 triliun, meningkat dari net beli Rp4,31 triliun pada bulan sebelumnya (Grafik 2.37). Kenaikan yield SBN ternyata justru dimanfaatkan oleh investor non residen untuk melakukan pembelian. Tekanan jual sempat terjadi di pekan awal Mei 2015, namun sentimen positif domestik mendorong investor non residen untuk kembali masuk ke pasar. Secara umum, kepemilikan asing di pasar SBN pada Mei 2015 turun dibandingkan dengan bulan sebelumnya yaitu dari 37,50% menjadi 37,40%. Kepemilikan SBN oleh asuransi dan BI masing-masing turun dari 11,81% dan 6,76% menjadi 11,80% dan 6,43%. Sementara kepemilikan lain oleh bank meningkat dari 25,67% menjadi 26,14% dan dana pensiun stabil di 3,34%.

6,31

30

20

10

0

10

20

30

40

50

4

5

6

7

8

9

10

May13

Jul1

3

Sep13

Nov13

Jan14

Mar14

May14

Jul1

4

Sep14

Nov14

Jan15

Mar15

May15

NetBeli/Jual(RHS) YieldSBN10Tahun

% NetBeli/JualAsing(RpT)

Grafik 2.37. Yield SBN dan

Jual/Beli Asing Neto Bulanan

Pembiayaan Non Bank

Pembiayaan ekonomi non bank pada Mei 2015 tercatat meningkat dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Selama Mei 2015, total pembiayaan melalui penerbitan saham perdana, right issue, obligasi korporasi, medium term notes (MTN), promissory notes, negotiable certificate of deposits (NCD) dan instrumen keuangan lainnya tercatat sebesar Rp11,7 triliun, lebih tinggi dibandingkan dengan Mei 2014 yang sebesar Rp9,9 triliun. Berdasarkan komponennya, pembiayaan nonbank pada Mei 2015 masih didominasi oleh penerbitan obligasi korporasi (Tabel 2.4) yang diikuti oleh penerbitan MTN dan NCD.

|20

Tabel 2.4. Pembiayaan Non Bank

RpTrillion

Jan Feb Mar Apr May Jun Jul Aug Sept Okt Nov Des Total Jan Feb Mar Apr Mei TotalNonbank 2.9 2.8 12.5 2.1 9.9 27.2 1.7 0.8 5.7 9.9 18.8 15.8 110.1 3.3 8.8 10.2 9.3 11.7 43.2Saham 2.2 0.0 6.4 1.1 0.6 16.0 0.0 0.0 0.0 2.4 13.6 5.2 47.6 0.0 0.2 4.5 0.4 2.0 7.1o/wEmitenSektorKeuangan 2.2 0.0 3.3 0.0 0.0 4.1 0.0 0.0 0.0 0.0 1.8 1.3 12.8 0.0 0.0 0.0 0.0 0.0 0.0Obligasi 0.0 2.8 5.2 0.4 7.3 9.8 1.5 0.0 5.3 4.3 2.1 8.7 47.5 3.0 4.9 4.9 6.6 6.0 25.3o/wEmitenSektorKeuangan 0.0 1.1 4.4 0.4 7.3 1.8 1.5 0.0 4.0 3.2 1.6 5.0 30.3 3.0 4.6 4.5 3.5 2.1 17.7MTNdanPromissoryNotes+NCD 0.6 0.1 0.9 0.5 2.0 1.3 0.2 0.8 0.4 3.1 3.1 1.9 14.9 0.3 3.7 0.8 2.3 3.7 10.8o/wEmitenSektorKeuangan 0.6 0.0 0.6 0.3 1.8 1.1 0.2 0.8 0.2 1.3 0.6 1.6 9.2 0.0 2.6 0.7 2.2 3.4 8.9Sumber:OJKdanBEI(diolah)

20152014

|21

RESPONS KEBIJAKAN MONETER

Rapat Dewan Gubernur (RDG) Bank Indonesia pada 18 Juni 2015 memutuskan untuk mempertahankan BI Rate sebesar 7,50%, dengan suku bunga Deposit Facility 5,50% dan Lending Facility pada level 8,00%. Keputusan tersebut sejalan dengan upaya untuk menjaga agar inflasi berada pada sasaran inflasi 41% di 2015 dan 2016, serta mengarahkan defisit transaksi berjalan ke tingkat yang lebih sehat dalam kisaran 2,5-3% terhadap PDB dalam jangka menengah. Bauran kebijakan Bank Indonesia tetap fokus pada upaya menjaga stabilitas makroekonomi di tengah berlanjutnya ketidakpastian ekonomi global, serta menjaga momentum pertumbuhan ekonomi melalui penerbitan ketentuan terkait dengan pelonggaran kebijakan makroprudensial. Bank Indonesia juga terus memperkuat koordinasi dengan Pemerintah dalam mengendalikan inflasi dan defisit transaksi berjalan, serta dalam mempercepat stimulus fiskal guna mendorong pertumbuhan ekonomi. Untuk itu, Bank Indonesia mendukung upaya Pemerintah Pusat dan Daerah untuk mempercepat realisasi pencairan anggaran termasuk proyek-proyek infrastruktur dan melanjutkan berbagai kebijakan struktural guna mendorong perbaikan prospek ekonomi Indonesia ke depan.

3

|22

Tinjauan Kebijakan Moneter (TKM) dipublikasikan secara bulanan oleh Bank Indonesia setelah Rapat Dewan Gubernur (RDG) pada setiap bulan Januari, Maret, April, Juni, Juli, September, Oktober dan Desember. Laporan ini dimaksudkan sebagai media bagi Dewan Gubernur Bank Indonesia untuk memberikan penjelasan kepada masyarakat luas mengenai evaluasi kondisi moneter terkini atas asesmen dan prakiraan perekonomian Indonesia serta respons kebijakan moneter Bank Indonesia yang dipublikasikan dalam Laporan Kebijakan Moneter (LKM) secara triwulanan pada setiap bulan Februari, Mei, Agustus, dan November. Secara rinci, TKM menyampaikan hasil evaluasi atas perkembangan terkini mengenai inflasi, nilai tukar, dan kondisi moneter selama bulan laporan, serta keputusan respons kebijakan moneter yang ditempuh Bank Indonesia.

Untuk informasi lebih lanjut hubungi:Divisi Pengaturan dan Komunikasi Kebijakan Grup Kebijakan Moneter Departemen Kebijakan Ekonomi dan Moneter Telp: +62 21 2981 6836/5726 Fax: +62 21 345 2489 Email: [email protected] Website: http//www.bi.go.id

Dewan Gubernur Agus D.W. Martowardojo Gubernur Mirza Adityaswara Deputi Gubernur Senior Ronald Waas Deputi Gubernur Perry Warjiyo Deputi Gubernur Hendar Deputi Gubernur Erwin Rijanto Deputi Gubernur