· web viewberdasarkan apa yang disampaikan abu bakar dalam pidato perdananya setelah dilantik...

Click here to load reader

Post on 19-Mar-2019

229 views

Category:

Documents

0 download

Embed Size (px)

TRANSCRIPT

120

119

BAB V

KEBIJAKAN POLITIK

EMPAT KHULAFA AL-RASYIDIN

Dalam konteks ini akan disampaikan beberapa penjelasan tentang sosok dan kepribadian, serta kebijakan-kebijakan politik para Khulafa al-Rasyidin, yaitu Abu Bakar, Umar bin Khattab, Utsman bin Affan dan Ali bin Abi Thalib. Keempat-empat senior Sahabat Nabi ini dari sisi kedekatan kepada Nabi tidak diragukan lagi, karena Abu Bakar dan Umar keduanya menjadi mertua Nabi, sementara Utsman dan Ali bin Abi Thalib, keduanya adalah menantu Nabi, dan dari sisi perjuangan dalam menegakkan Islam dan kebenaran keempat-empat Sahabat Nabi tersebut paling terdepan. Berikut ini penjelasan tentang sosok, kepribadian dan kebijaka-kebijakan mereka dalam politik kenegaraan, sebagai berikut;

1. Abu Bakar al-Siddiq dan Kebijakan Politik

Setelah resmi menjadi khalifah, Abu Bakar memerintah selama dua 2 tahun tiga 3 bulan sepuluh 10 hari (632 634 M.), maka Abu Bakar menjadi khalifah pertama pasca Nabi Muhammad saw. Khalifah adalah pemimpin yang diangkat oleh umat Islam untuk menggantikan posisi Nabi sebagai pemimpin umat yang bertugas melanjutkan perjuangan Nabi dalam rangka menciptakan kedamaian, memberikan perlindungan, mendakwahkan agama, memastikan ajaran Islam dipraktikan dalam kehidupan sehari-hari, serta mengelola kehidupan masyarakat dengan baik.

Setelah resmi diangkat menjadi khalifah, Abu Bakar menyampaikan pidato perdananya (pidato kenegaraan) di depan umat, antaranya sebagai berikut;

Wahai manusia (umat), Aku telah diangkat untuk mengelola ( memenej ) urusan kalian, padahal Aku bukanlah orang yang terbaik di antara kalian, maka ketika Aku melaksanakan tugasku dengan baik, bantulah aku, tetapi jika Aku berbuat salah, betulkanlah aku. Kejujuran itu amanah ( al-sidqu amanah ), berbohong itu penghianatan (al-kizbu khianah ). Orang yang kalian pandang lemah, aku pandang dia kuat, sehingga aku dapat mengembalikan hak kepadanya. Sementara orang yang kalian pandang kuat, aku pandang dia lemah, sehingga aku dapat mengambil hak darinya. Umat Islam agar tetap mempertahankan agama Allah. Jika tidak, maka akan terjadi malapetaka kehinaan ( al-dzulli ). Upayakan agar tindak kejahatan tidak merebak di tengah-tengah masyarakat, karena jika tindak kejahatan merebak, maka Allah akan menurunkan bencana. Taatlah ( loyal ) kepada-ku selama aku taat kepada Allah dan Rasul-Nya. Jika aku melanggar aturan Allah dan Rasul-Nya, maka tidak perlu kalian taat kepada-ku. Dirikanlah shalat, maka Allah akan menurunkan rahmat kepada kalian.[footnoteRef:1] [1: . Lihat Ibnu Hisyam, al-Sirah al- Nabawiyyah, Juz 4, h. 1520. Lihat juga Ibnu Qutaibah al-Dainuriy, al-Imamah wa al-Siyasah, h. 22 - 23]

1.1. Dasar Politik Abu Bakar

Berdasarkan apa yang disampaikan Abu Bakar dalam pidato perdananya setelah dilantik sebagai Khalifah, dapat disampaikan bahwa dasar politik Abu Bakar berlandaskan pada karakter dan sikap jujur, adil dan tegas yang sudah tertanam pada jiwa dan kepribadiannya, dan ini sebagai keberhasilan pendidikan yang diajarkan Nabi Muhammad saw. kepadanya. Karakter jujur, adil dan tegas dari kepemimpinan Abu Bakar tercermin pada pidato pertamanya setelah pelantikannya sebagai khalifah. Dalam pidatonya ini terdapat beberapa pernyataan politik yang mendasari berbagai kebijakannya. Dasar pemikiran politik tersebut menekankan pada aspek pembangunan mentalitas dan sifat-sifat terpuji sebagai langkah awal dalam strategi pembangunan yang menjadi agenda utama sepanjang pemerintahannya, antaranya sebagai berikut;

1. Sikap tawadhu`; yaitu sikap yang tidak memperlihatkan kelebihan atau keistimewaan yang dimiliki Abu Bakar, meskipun Abu Bakar orang kesatu setelah Nabi Muhammad saw. tetapi Abu Bakar tidak mengklaim dirinya lebih baik dari pada yang lainnya.

2. Terbuka atau transparan; yaitu sikap terbuka menerima masukan dan kritikan membangun dan tidak ada yang ditutup-tutupi. Abu Bakar sebagai manusia biasa bisa saja benar dan salah dalam melaksanakan tugasnya sebagai pemimpin umat. Oleh karena itu Abu Bakar meminta kepada rakyatnya agar selalu memberikan motivasi dan kerjasama mereka jika Abu Bakar benar dalam perintah dan kebijakannya. Tetapi jika Abu Bakar salah, rakyatnya diminta agar senantiasa menyampaikan teguran dan kritikan yang membangun.

3. Tulus dan Jujur (al-shidqu / integrity); yaitu sikap yang penuh dengan kejujuran dan ketulusan, baik dalam tindakan atau pun ucapan. Dalam hubungan ini Abu Bakar menegaskan bahwa kejujuran itu amanah, sedangkan bohong itu khianat ( al-sidqu amanah wal-kizbu khiyanah ), maka keadilan dalam berbagai aspek kehidupan, baik yang terkait dengan sosial politik, sosial ekonomi, hukum, pendidikan dan sebagainya harus ditegakkan kepada siapa saja, meskipun kepada orang kuat tetapi salah, justeru orang yang lemah harus dilindungi jika dia berada pada posisi yang benar.

4. Komitmen dengan ajaran agama. Dalam hubungan ini Abu Bakar menegaskan bahwa umat Islam agar tetap memepertahankan agama dengan penuh komitmen untuk melaksanakan ajarannya. Jika tidak, maka akan berdampak buruk terhadap kehidupan umat.

5. Upaya meminimalisir tindak kejahatan dan tindak kriminal. Dalam hubungan ini Abu Bakar berpesan kepada rakyatnya agar senantiasa berusaha mencegah supaya tindak kejahatan atau kriminal tidak merebak atau meluas di tengah-tengah masyarakat. Jika itu yang terjadi, maka akan berdampak munculnya berbagai virus masalah sosial ( social problems ).

6. Komitmen rakyat untuk mendukung dan selalu loyal (taat setia) kepadanya dalam hal kebenaran. Dalam hubungan ini Abu Bakar berpesan agar masyarakat Islam (rakyatnya) untuk tetap loyal ( taat setia ) kepadanya, selama Abu Bakar taat kepada Allah dan Rasul-Nya, dalam arti menjalankan semua perintah dan meninggalkan semua yang dilarang. Tetapi jika Abu Bakar tidak taat menjalankan perintah dan meninggalkan apa yang dilarang Allah dan Rasul-Nya, maka umat Islam diingatkan oleh Abu Bakar untuk tidak memberikan loyalitas kepadanya. Ini artinya siapapun pemimpin yang sudah menyimpang atau sudah menyalah gunakan wewenang yang dimandatkan kepadanya dari garis ketentuan dan peraturan, maka rakyat (umat Islam) tidak perlu memberikan loyalitas kepadanya.

7. Lebih khusus Abu Bakar menekankan pesannya agar umat Islam ( rakyatnya ) tetap komitmen melaksanakan ibadah shalat, karena shalat merupakan tiang agama, siapa saja yang melaksanakan shalat berarti dia telah memperkuat agama, dan jika dia meninggalkan shalat berarti dia telah meruntuhkan agama dari dalam dirinya. Allah akan selalu memberikan rahmat kepada orang-orang yang mendirikan shalat.

1.2. Konsolidasi Terciptanya Integrasi

Abu Bakar Siddiq menjabat khalifah dalam waktu yang relatif singkat, yaitu; 2 tahun 3- bula 10-hari. Dalam waktu yang relatif singkat ini Abu Bakar telah melakukan banyak hal, berbagai upaya pembenahan dan penataan pemerintahannya telah dilakukan, antaranya; Abu Bakar melakukan penumpasan terhadap gerakan separatis yang melakukan pemberontakan. Gerakan ini dilakukan oleh beberapa suku (Qabilah) Arab yang berupaya memisahkan diri dan tidak lagi loyal kepada pemerintah yang dipimpin Abu Bakar. Hal ini karena mereka beranggapan bahwa perjanjian damai (al-`ahd) dan pengakuan terhadap kepemimpinan yang berpusat di Madinah itu dilakukan dengan Nabi Muhammad, maka ketika Nabi Muhammad telah wafat menurut anggapan mereka secara otomatik perjanjian itu tidak berlaku lagi dan tidak ada kesepakatan perpanjangan perjanjian baru antara ke dua belah pihak. Oleh karena itu mereka menentang kekuasan Abu Bakar.

Gerakan separatis ini umumnya dipimpin oleh orang-orang yang mengaku dirinya nabi ( nubuwwah ) yang muncul di beberapa wilayah di sekitar Semenangjung Arabia. Pengakuan kenabian ini sebenarnya hanya klaim-klaim saja tanpa berdasarkan bukti-bukti hakikat kenabian yang sebenarnya, oleh karenanya dapat dipastikan bahwa pengakuan kenabian tersebut hanya upaya politisasi dari pihak-pihak yang menentang kekuasaan Abu Bakar untuk mengelabuhi masyarakatnya. Beberapa orang yang mengaku dirinya nabi, antaranya adalah Musailimah al-Kazzab dan Thulaihah bin Khuwailid, tetapi kedua gerakan separatis berhasil ditumpas oleh pasukan Tentara yang dipimpin Khalid bin Walid. Thulaihah berhasil lolos dan melarikan diri ke Syam (Syiria). Menurut salah satu riwayat dia kemudian masuk Islam kembali, dan ketika kepemimpinan umat berganti kepada Umar bin Khattab, Thulaihah berbai`at kepada Umar sebagai Khalifah, bahkan Thulaihah banyak melibatkan diri dalam upaya perluasan wilayah (al-fath). Selain dua orang tersebut di atas yang mengaku nabi, muncul gerakan sparatis di wilayah Bahrain, tetapi kemudian gerakan separatis ini berhasil dihancurkan oleh pasukan Tentara yang dipimpin al-`Ala al-Hadhramiy.[footnoteRef:2] [2: . Muhammad Jalal Syaraf dan `Ali Abdul Mu`thi Muhammad, al-Fikr al-Siyasi Fiy al-Islam, Shakhshiyyat wa Mazahib, h. 110 - 111]

Dalam menyikapi kondisi ini Abu Bakar merasa bertanggung jawab untuk menjaga persatuan dan kesatuan umat, menjaga agama dan kedaulatan pemerintahan, maka Abu Bakar sebenarnya pada langkah awal mengambil kebijakan terhadap persoalan ini melalui upaya diplomasi dengan teguran melalui surat yang dikirim kepada para pelaku gerakan separatis, dan jika upaya ini menemui kegagalan, maka solusi akhir adalah perang, dan ternyata upaya diplomasi menemui kegagalan, maka jalan akhir adalah perang. Perang ini dikenal dalam sejarah Perang Riddah, yaitu menumpas gerakan orang-orang yang melakukan separatis dengan menggunakan isu murtad, yaitu orang yang menyatakan diri keluar dari agama Islam dan kembali kepada agama atau kepercayaan dahulu. Pasukan yang dikirim untuk menumpas gerakan sparatis ini dipimpin oleh Khalid bin Walid; salah seorang panglima perang yang sukses.[fo